"Hoi, Taehyung!" panggil seorang pria berambut agak berantakan. Ia berdiri di depan meja kasir sebuah kafe.

Kafe itu sungguh apik dengan gaya eropa modern. Desainnya serba putih gading dan cokelat tua. Di setiap sudut diletakkan vas yang berisi bunga matahari dan dandelion. Di pintu masuk yang terbuat dari kaca, bingkai atasnya digantung papan persegi panjang hitam bertuliskan "Selamat Datang" di bagian depan dan "Terima Kasih" di bagian belakang. Lantai kafe pun dibangun dengan susunan kayu jati yang mengilap dan kokoh, menghasilkan suara ketukan setiap kali orang berjalan di atasnya.

Namun, suara itu tidak mengganggu, malah menjadi keunikan tersendiri yang membuat nyaman pengunjung. Meja-meja berbentuk bulat dan berwarna hitam dengan diameter sembilan puluh cm. Kursi-kursi yang menemaninya memiliki warna senada dan berbantal empuk. Ada pula meja panjang yang bisa diisi lebih dari empat orang. Tidak ketinggalan, tiga sisi kafe dikelilingi kaca tembus pandang dengan berbagai tulisan-tulisan mengenai kopi dan style anak muda jaman sekarang.

Yang dipanggil, Taehyung, sedang asyik meracik kopi di belakang meja konter. Dengan kemeja biru laut dan celana bahan hitam saja alih-alih seragam kafe itu, ia terlihat seperti bukan pelayan.

"Taehyung!" panggil pria tadi lagi. Kali ini Taehyung mendongak, kemudian tersenyum.

"Hei, Jimin. Mau pesan apa?" tanya Taehyung sebelum menyesap kopi buatannya sendiri.

"Pesan.. pesan.. Uang saja yang ada di pikiranmu!" cibirnya.

"Kalau aku tak memikirkan uang, aku tak bisa mengembalikan modal orangtuaku untuk membangun kafe ini, bodoh!" Taehyung balik mencibir.

Jimin memutar kedua matanya, yang tak terlalu kelihatan ia melakukan itu karena sipit. "Oke, oke. Aku pesan yang biasa."

"Yes!" seru Taehyung senang. Ia menaruh cangkirnya dan segera membuat pesanan Jimin. "Tambah 900 Won ya."

Jimin terkejut. "APA? Baru tiga bulan yang lalu kau menaikkan semua harga pesanan di sini, Kim Taehyung!" geramnya.

"Hei, ini toko punyaku. Terserah aku dong mau kuapakan. Lagipula, dollar naik, Bung. Harga sembako juga makin mahal. Dan yang terpenting, langgananku makin banyak. HAHA." Taehyung tertawa dengan rasa bangga yang meluap-luap sebelum memberi sentuhan terakhir ke pesanan Jimin, cokelat panas dengan whipped cream ekstra dan saus karamel."Ini pesananmu, Sayang."

Jimin misuh-misuh dan mengeluarkan dompet dari kantung celana jinsnya. "Nih, aku bayar pakai kartu saja."

"Anda melakukannya di saat yang tepat, Saudara Park Jimin! Selama dua bulan ke depan, kami sedang mengadakan promo untuk pelanggan yang menggunakan Crystal Card dimana mereka akan mendapatkan 15 poin untuk menu apa saja. Berlaku kelipatan! Jumlah poin yang terkumpul dapat ditukar dengan hadiah yang akan diinformasikan bulan berikutnya." Taehyung menjelaskan program promo tersebut seperti sales sejati.

"Dasar pebisnis," Jimin tertawa. "Tapi, lumayanlah. Aku akan sering-sering ke sini loh! Siapkan hadiah yang menarik, oke? Awas saja kalau tidak sebanding dengan uang yang sudah kukeluarkan."

"Baiklah, Tuan-Yang-Tak-Pernah-Mau-Rugi-Untuk-Sahabatnya-Sendiri." Taehyung menyodorkan pesanan Jimin dan kartu pembayaran khusus untuk kafe miliknya itu. "Selamat menikmati."

"Thanks." Jimin mengambil kedua benda itu. "Ngomong-ngomong, mana anak-anakmu?"

"Kecuali Minhee, yang lain sedang mengambil cuti. Biasalah, sedang masa ujian akhir semester," jawab Taehyung santai. Ia tipe bos yang tidak akan memaksa karyawannya bekerja di masa-masa seperti ini. Malah, ia yang menyuruh para pegawainya untuk mengambil cuti tetapi harus kembali bekerja setelah ujian.

Jimin menggeleng-gelengkan kepala dengan takjub. "Wah, wah. Sahabatku sungguh baik hati. Eh, dia kan pernah kuliah tapi keluar karena tak sanggup peras otak ya."

Taehyung langsung menatapnya tajam, ingin memarahi sahabatnya itu. "Maaf, Tuan. Di belakang Anda masih ada yang mengantri."

Jimin pun langsung salah tingkah. Ia segera mencari tempat duduk yang kosong di dalam sana, kafe yang sudah menjadi tempat tongkrongannya sehari-hari bersama Taehyung maupun teman-teman yang lain. kalau sedang sendirian seperti ini, biasanya ia akan mengerjakan tugas kuliah atau mengajak Taehyung mengobrol. Namun, ia tak membawa tas kali ni, dimana artinya ia hanya ingin mengobrol dengan sahabatnya itu.

Jimin hanya bisa menunggu dengan sabar karena Taehyung sibuk melayani pelanggan yang terus berdatangan. Ia sudah memberi saran kepada Taehyung untuk mencari pelayan sementara, tapi ia tak mau. Taehyung sangat memercayai para karyawannya yang sekarang.

Tring!

Pintu kafe terbuka dan masuklah seorang laki-laki yang kira-kira berumur 19 tahun. Ia memakai seragam sekolah dan menyandang ransel berwarna merah. Rambutnya hitam legam, matanya bulat, berhidung mancung, dan bibir merah. Saat ia masuk, ia membungkuk ke arah Taehyung dan Jimin seraya tersenyum lebar, menunjukkan barisan giginya yang sungguh rapi dan putih bersih.

"Eoh, Jeongguk-ah!" seru Taehyung setelah memberi segelas espresso ke pelanggan yang mengantri paling akhir.

"Hyung." Balas Jeongguk sambil menghampiri konter.

"Ngapain ke sini? Bukannya kau belum selesai UAS?" tanya Taehyung heran. Pasalnya, Jeongguk adalah salah satu karyawannya yang masih bersekolah.

"Ujiannya diundur lusa, Hyung. Boleh aku ganti baju dulu?"

Taehyung langsung menunjuk pintu di belakangnya dengan dagu. "Ya sudah."

"Wah," ujar Jimin, "dia rajin sekali ya?"

"Begitulah." Taehyung menyetujui. Jeongguk adalah salah satu karyawan kesayangannya karena ia selalu bersemangat ketika bekerja. Kerjanya juga sangat rapi dan terstruktur.

Beberapa saat kemudian, Jeongguk pun keluar dari ruangan khusus karyawan dengan seragam barista. Sekilas, ia tak kelihatan seperti anak sekolahan. "Biar aku saja, Hyung," ia menawarkan diri.

"Ya, Jeongguk-ah. Kau ini sudah tingkat akhir dan akan masuk universitas. Seharusnya kau belajar," tutur Jimin.

Jeongguk hanya terkekeh.

Taehyung menimpali, "Diam, Jim. Kau sendiri sudah mau skripsi, masih saja nongkrong di sini!"

"Ey," sahut Jimin, "sudahlah, tak usah dibahas itu, Tae."

Taehyung tertawa lepas. "Aku tinggal sebentar ya. Jeongguk, titip konter ya."

"Siap, Hyung!"

Sepeninggal Taehyung ke atas, ke kantornya, pintu kafe terbuka dan masuk seorang pelanggan lagi. Jeongguk menyambutnya ramah. Entah kebetulan atau bagaimana, pelanggan kerap berdatangan hingga antriannya menghalangi pintu masuk.

"Duh, kenapa lama sekali ya?" keluh seorang pria di tengah kesal. Mukanya sangat merah, kelihatannya ia mabuk. Wanita di depannya sampai harus menutup hidungnya karena bau napas yang menyengat dari pria berjanggut itu.

"Mohon menunggu ya, Tuan," balas Jeongguk sopan.

"Jangan senyum-senyum, dasar bocah ingusan!" sahut pria itu lagi. Ia memajukan tubuhnya hingga menabrak antrean di depannya.

"Hyung, sudahlah," ujar seorang pria yang lebih muda di belakangnya sambil mencoba merangkul pria di depannya itu untuk dibawa ke luar. "Sebaiknya kita pulang."

Ia menepis tangan pria yang lebih muda itu dengan kasar. "Tidak mau! Aku mau minum kopi di sini. Tapi lihat! Antriannya begitu panjang. Aku tidak suka menunggu!" oceh pria itu panjang lebar. Pelanggan-pelanggan lain jadi terganggu dan mulai berbisik-bisik.

Pria mabuk itu semakin hilang kendali. Ia menerobros antrian dan sampailah ia di hadapan Jeongguk. "Kau tahu apa yang biasa kupesan kan?"

"Ya. Tapi, mohon mengantre, Pak."

"PAK?" geramnya. "DUA PULUH DELAPAN! Umurku masih dua puluh delapan tahun dan kau memanggilku dengan panggilan 'Pak'?"

Jeongguk jadi bingung sendiri. Pria itu memang sering ke kafe dan memesan minuman yang sama terus-menerus, namun tak pernah marah ketika dipanggil 'Pak'. Pria yang agak gempal itu mengambil kotak tisu dari salah satu meja dan menghambur-hamburkan isinya ke segala arah. Bahkan, ada yang masuk ke minuman pelanggan lain.

"Kau!" ia menunjuk Jeongguk. Buat pesananku sekarang atau kululuhlantakkan tempat ini, huh?" ancamnya.

"Hei!" tegur seorang pria lain yang juga sedang mengantre. "Di mana sopan santunmu? Lebih baik kau pulang saja!"

Si pria gempal tersenyum miring dan berjalan menuju pria yang jauh lebih tinggi dan berotot darinya itu. "Sopan santun? Apa itu sopan santun? Coba kau jawab!" ia mengongakkan kepalanya sambal memandang orang baru itu dengan tatapan merem-merem-mengancam. Mana ada orang mabuk yang bisa melotot?

"Aish!" marah si pria jangkung dan mendorong pria gempal. Bau alkohol dari mulutnya sangat tidak enak. Bikin mau muntah.

"Anu, maafkan kakakku. Ia memang seperti itu kalau sudah mabuk," ujar pria yang tadi membujuk si gempal untuk pulang. "Aku akan membawanya pulang."

Si gempal tak terima ia didorong-dorong, apalagi dihalangi jalannya. Oleh adiknya sekalipun. "Minggir!" ia mendorong adiknya ke samping.

Bugh!

Pria jangkung tadi ditinju di bagian rahang dan ia pun tersungkur. Beberapa pelanggan berteriak kaget.

"Astaga!" seru Jimin dan Jeongguk bersamaan. Jimin segera menahan pria jangkung yang ingin membalas pukulan itu, sedangkan Jeongguk dan sang adik menahan pria gempal itu agar tidak melayangkan pukulan selanjutnya.

Dari pintu sebelah ruang karyawan, Taehyung masuk dan langsung terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya. Ia segera berlari ke kerumunan untuk turun tangan. "Jeongguk-ah! Ada a—" Ia tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.

Pria yang sedang membantu Jeongguk menahan pria gemuk itu.

Masa lalunya yang kelam.

Alasannya pulang ke Busan.

Alasannya menutup diri dari teman-temannya yang lama di Seoul.

Alasannya menghilang.

Alasannya menjadi pengecut.

Sontak, semua kenangan melintas di benaknya bagai film hitam-putih.

"Taehyung." Pria itu menatapnya dalam.

Taehyung seolah-olah merasakan sebuah aura yang tak dikenalinya.

"Hoseok Sunbae."

Dari lubuk hatinya yang terdalam, Taehyung merindukannya lebih dari siapa pun.


tbc


hai :3 akhirnya saya memutuskan untuk update walaupun reviewnya ga sesuai target haha :") karena daku tahu galaunya nungguin update ff...

maaf banget kalo chapt ini pendek dan absurd.. soalnya saya ga rencana bikin panjang2 kayak ff saya yang lain.. hehe

saya ngepost ini di masa2 UTS..

semoga setelah UTS saya bisa ngelanjutin lagi kwkwk

yg lagi UTS juga, semangat ya belajarnya! kalo belum UTS, siap-siap belajar aja dari sekarang biar ga susah-sush entar pas UTS nya haha

makasih banyak buat yang udah mau baca dan meninggalkan jejak :*

mind to review again?