Taehyung menatap ke luar jendela kafe miliknya. Setelah kekacauan di kafe dibereskan, Hoseok segera mengantar kakak laki-lakinya pulang, kemudian kembali lagi ke kafe untuk menemui Taehyung. Dan kini, mereka sedang duduk berhadapan di pojok kafe, tepat di belokan jalan. Dari tadi belum ada yang memulai percakapan.
"Taehyung." Hoseok memanggil.
Taehyung tak bergeming.
"Taehyung-ah," panggil Hoseok lagi. Taehyung tersadar dari lamunannya dan menatap seniornya dulu itu.
"Eh. Maaf, Sunbae. Tadi ada kucing lucu lewat. Hehe."
Bohong, batin Hoseok. Ia tersenyum tipis. "Apa kabarmu?"
"Baik. Kau sendiri?"
"Baik juga. Maaf atas kejadian tadi. Aku akan mengganti—"
"Tidak apa-apa," potong Taehyung. "Tidak ada kerusakan berat kok."
Hening lagi. Hanya terdengar alunan musik lembut dari speaker yang terpasang di setiap sudut ruangan kafe.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu teman-teman?" tanya Hoseok telak. Taehyung merasakan perutnya seakan ditimpa batu raksasa.
Aku harus jawab apa?
Taehyung mengangkat kedua bahunya. "Aku ingin membuka bisnis dan pindah jurusan. Busan lebih nyaman di Banding Seoul, menurutku."
Hoseok mengangguk-angguk.
"Sunbae, kenapa kau ada di Busan?" tanya Taehyung.
"Ah, aku sedang mengunjungi noona-ku yang sudah menikah dan pindah ke sini. Yang tadi itu sebenarnya kakak iparku."
Taehyung agak terkejut. "Kau punya kakak? Kakak kandung?"
"Eung!" Hoseok mengiyakan dengan semangat. "Bukannya aku pernah memberitahukannya padamu? Noona-ku sangat cantik. Kau harus menemuinya."
Taehyung tampak berpikir. "Lupa. Hehe."
Hoseok tertawa pelan. "Dari dulu kau tak pernah berubah, selalu pelupa ya. Apa kau pernah lupa menggaji karyawanmu di sini?"
"Kalau itu tidak pernah dong." Taehyung berdecak sebal, membuatnya tampak menggemaskan di mata Hoseok. Taehyung selalu menggemaskan di mata Hoseok.
Hoseok tertawa lagi. "Hei, bagaimana kalau kau menceritakan kehidupan kuliahmu di sini? Tadi katamu pindah jurusan ya? Bukankah dulu kau ingin jadi aktuaris ya? Kita kan pernah berjanji untuk menjadi aktuaris bersama-sama dan bekerja di tempat yang sama."
Deg! Taehyung merasa tertohok. Ingin rasanya ia pergi dari sana dan mengurung dirinya di ruangan manajer.
Kenapa Hoseok harus mengungkit-ungkit hal itu lagi? Kenapa Hoseok selalu mengatakan hal yang menghantam hatinya begitu keras? Hoseok bukan hanya suka ceplas-ceplos, namun juga bla bla bla. Taehyung mengeluh di dalam hatinya. Ia sering tidak tahan dengan sikap Hoseok yang seperti ini.
Hoseok yang melihat raut sedih di wajah Taehyung jadi merasa bersalah. "Maaf. Maafkan aku, Taehyung-ah. Aku memang tak berhak ikut campur. Ini mungkin memang pilihan terbaikmu untuk kembali ke Busan. Aku ikut senang jika kau senang dengan kegiatan barumu." Terang Hoseok.
Taehyung bisa mendengar ketulusan dari penjelasan Hoseok. Kedekatan mereka dulu membuat keduanya sudah saling mengenal satu sama lain. Berapa tahun pun mereka tak bertemu tak akan mengubah hal itu.
"Maafkan aku yang telah mengingkari janji itu, Sunbae," ujar Taehyung dengan berat hati. Ia tak berani menatap sepasang mata yang sering membuatnya terhipnotis dulu.
"Lihat aku, Kim Taehyung," pinta Hoseok hati-hati. Ia tersenyum ketika Taehyung mengangkat kepalanya. Taehyung tampak sehat. Pipinya lebih tembam daripada saat di Seoul dulu. Namun, Hoseok bisa melihat kesedihan yang terpancar dari kedua mata mantan juniornya itu. Ia tak tahu mengapa. Ia datang ke sini untuk mencari tahu.
"Jika kau ada masalah, aku akan siap mendengarkan. Jangan pergi begitu saja. Jangan pergi lagi, Taehyung-ah. Aku.. aku merindukanmu."
Sesuatu berdesir kencang sekali dari dada ke perut Taehyung. Hoseok kembali membuatnya seperti ini. Melambung tinggi, kemudian biasanya jatuh lagi. Kali ini, Taehyung menahan untuk melebarkan dan mengibaskan sayapnya untuk terbang ke atas lagi karena seorang pria bernama Jung Hoseok. Sudah cukup apa yang diperbuatnya sewaktu mereka sekampus dulu.
"Merindukanku?" tanya Taehyung pura-pura bingung.
"Siapa yang tidak merindukan temannya yang telah menghilang selama setahun?"
"Teman?" tanya Taehyung sarkas. Ia sudah tak tahan lagi. "Semua yang dulu kau lakukan padaku karena kau menganggapku teman?"
Hoseok tertegun. "Maksudmu apa, Taehyung? Bukankah kita memang berteman baik? Apa aku telah menyakitimu?"
IYA! Ingin sekali Taehyung meneriakkan satu kata itu di depan wajah Hoseok. Namun ia mengurungkan niatnya itu. Ia tahu kalau ia terlalu baper. Ia tak mau Hosoek menganggapnya berlebihan.
"Sunbae."
"Sudah kubilang dari dulu untuk memanggilku Hyung saja." Hoseok memelas.
"Iya, Hyung. Maaf, mood-ku sedang tidak begitu bagus."
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Taehyung-ah."
"Lupakan saja, Hyung. Dan maaf, aku harus kembali bekerja. Kami kekurangan karyawan."
"Aku bisa membantu."
"Tidak, terima kasih. Noona-mu pasti menunggumu pulang. Sampai jumpa di lain kesempatan, Hyung." Taehyung berusaha tersenyum. Rasanya menyakitkan.
"Oh iya! Aku mau makan malam bersama keluarga kakak iparku." Hoseok menepuk jidatnya. "Baiklah, Taehyung. Senang bertemu denganmu lagi!"
"Oke."
Keduanya bangun dan Taehyung mengantar Hoseok ke luar kafe. Langit sudah mulai gelap dan cuaca sangat mendung.
"Kau bawa payung, Hyung?" tanya Taehyung.
"Umm.. rumah baru noona dekat dari sini kok. Tak sampai setengah jam aku sudah sampai."
"Oh, begitu ya."
"Kau ini dari dulu pelit kata-kata ya!" Hoseok tertawa sambil mengacak-acak rambut Taehyung. Sang empu rambut hitam itu menghindar dan mencak-mencak betapa susah menata rambutnya dengan gel.
"Eh, ngomong-ngomong, Taehyung-ah. Sebelum aku kembali, boleh aku minta nomor barumu?"
Tiga tahun yang lalu.
Penerimaan mahasiswa baru Universitas XX.
"Halo! Namaku Jung Hoseok, satu tahun di atasmu. Siapa namamu?" Hoseok menyapa Taehyung dengan ceria.
"Apa kabar? Namaku Kim Taehyung," jawab Taehyung datar. Mengapa senior ini terlalu bersemangat?
"Apa kabarmu hari ini?"
"Baik."
"Oke. Salam kenal, Taehyung-ssi. Aku ditugaskan untuk mengenalkan daerah fakultas kepadamu. Apa kau keberatan?"
"Tidak, Sunbae."
"Baiklah. Selagi menunggu teman-teman barumu yang lain, bagaimana kalau kita duduk dulu di sini?" Hoseok menunjuk tikar yang terbentang di sebelah kaki mereka. Di tengah-tengah ada palang yang bertuliskan nama jurusannya, "MATEMATIKA". Ia memang sengaja ke sini setelah diberitahu pihak kampus tadi setelah registrasi ulang.
Mereka berdua pun duduk berhadapan di atas tikar. Omongan biasa terjadi antara senior-junior yang baru kenal.
"Kau datang dari mana, Taehyung-ssi?"
"Dari apartemenku."
"Apartemen ya. Berarti kau dari luar Seoul?
"Ya. Busan."
"Wah, serius? Noona-ku sekarang tinggal di sana, ikut suaminya."
Taehyung hanya mengangguk-angguk malas. Seniornya ini terlalu kepo, menurutnya. Ia pikir Hoseok akan memukulnya karena sudah agak tak sopan, namun seniornya itu malah mengoceh betapa enak makanan di kampus.
Begitulah pertemuan pertama antara Taehyung dan Hoseok.
Setelahnya mereka sering bertemu karena Taehyung bergabung dengan klub basket di jurusannya, di mana Hoseok adalah ketua klubnya pada saat itu. Mereka juga satu klub lagi di pemrograman matematika keuangan, tentunya dengan ketua yang berbeda.
Suatu malam di mana latihan basket dilaksanakan, Taehyung segera berpamitan dengan semua anggota klub untuk pulang lebih dulu. Ia pun berjalan dari auditorium ke gerbang kampusnya.
Baru dua puluh meter ia berjalan dari gerbang, suara klakson motor berbunyi di belakangnya. Ia juga dapat melihat cahaya lampu motor yang mendekat ke arahnya. Sebuah motor pun berhenti di sebelahnya. Taehyung menoleh dan mendapati Hoseok yang sedang menatapnya di balik helm.
"Hei, di mana apartemenmu?"
"Di sebelah hotel Gingsan Group, Sunbae."
"Kebetulan. Rumahku searah denganmu. Ayo, naik!" Hoseok menunjuk jok belakang dengan dagunya.
"Wah. Apa tidak merepotkan, Sunbae?"
"Panggil aku 'Hyung' saja. Hehe. Tidak merepotkan kok. Ayo!"
"Baiklah," kata Taehyung. Ia mengambil helm yang diberikan Hoseok dan memakainya, kemudian naik ke belakang Hoseok.
Di perjalanan, mereka berbicara banyak hal. Dari hal yang tidak terlalu penting seperti permen mentos rasa baru sampai hal-hal berbau politik. Ketika menyinggung bisnis, Taehyung sangat bersemangat.
"Memangnya kau mau mengambil peminatan aktuaris ya?"
"Yap!"
"Sama dong!"
"Mari berjuang, Hyung! Kalau kau sudah lulus dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan sebagai aktuaris, rekomendasikan aku ke bosmu, ya!"
Tawa Hoseok yang merdu mengalahkan suara lalu lintas dicampur angin malam yang cukup kencang pada saat itu. "'Kalau' kan?"
"Yak!" Taehyung spontan memukul bahu Hoseok.
Hoseok tertawa lagi. "Oke. Call!"
Akhirnya, mereka sampai di depan apartemen Taehyung. Taehyung turun dan membuka helm yang dikenakannya.
"Whoa. Apartemen ini kan paling bergengsi di sini. Kau pasti hidup dengan baik, Taehyung-ah." Hoseok memperhatikan apartemen dua gedung yang masing-masing memiliki 40 lantai tersebut dari ujung ke ujung.
Taehyung hanya menggaruk bagian belakang lehernya. "Tidak juga. Terima kasih, Hyung, sudah mengantarkanku pulang."
"Sama-sama! Mulai sekarang aku mau jadi ojek pribadimu. Boleh tidak?"
"Hah?" Taehyung mengernyit bingung. "Tidak perlu. Aku bisa naik bis."
"Hahaha. Baiklah, Kim Taehyung. Sampai jumpa besok!" Hoseok menepuk lengan Taehyung.
"Ya. Hati-hati, Hyung!"
"Besok aku jemput kau di sini jam 7.30 ya! Annyeong!" Hoseok melajukan motornya.
"Mweo?"
"Aku tak menerima penolakan!" teriak Hoseok yang sudah melaju di depan.
"Senior aneh," gerutu Taehyung. "Tak apalah. Bisa menghemat ongkos. Wkwkwk." Ia pun masuk ke dalam apartemen untuk segera beristirahat.
Sementara di motornya, Hoseok senyam-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala. "Aku pasti sudah gila," gumamnya.
tbc
haloo ^^
maaf kalo saya updatenya lama ._.
makasih banyak buat yg udah baca, review, fav, follow cerita ini :* saya seneng baca review kalai loh :D
pada penasaran yaa sama masalallu hoseok dan taehyung? hohoho
maaf kalo chapter ini tidak memuaskan.. buatnya dalam hampir 3 jam dan ga ada edit2 lagi hehe
mind to review again?
