"Hyung! Yah, Jung Hoseok Hyung!" panggil Taehyung di suatu hari yang sangat mendung. Ia berlari-lari ke arah Hoseok yang sedang berjalan ke arah motornya di tempat parkir. Yang dipanggil pun menoleh dan menunggu hingga Taehyung sampai di hadapannya.

"Kenapa, Taehyung? Mau nebeng pulang?"

Adik tingkatnya itu mengatur napas terlebih dahulu sebelum menjawab, "Bukan, Hyung."

"Jadi?" Hoseok mengangkat sebelah alisnya sambil tertawa pelan. Taehyung terlihat lucu dengan peluh yang ada di wajahnya. Masih pakai pakaian formal pula. Hoseok mengelap peluh itu dengan saputangannya yang kebetulan sedang ia pegang.

"Hari Senin aku sudah UAS, Hyung. Tolong ajari aku ya? Ya, ya, ya?! Jebaaaalllll!" Taehyung merengek seperti anak SD. Tingkah Taehyung yang sangat menggemaskan—di mata Hoseok—membuat Hoseok geram. Ingin sekali ia men—. Lupakan. Hoseok pun berniat mengerjai Taehyung yang beberapa waktu terakhir selalu menghabiskan waktu bersamanya itu.

"Hmmm.." Hoseok bergumam dengan gaya sok berpikir keras. Sebelah tangannya di pinggang, sebelah lagi menggosok-gosok dagunya. "Apa aku harus mengajarimu? Aku ini sibuk, kau tahu kan?"

"Harus, Hyung! Harus! Hehe." Taehyung berseru dengan antusias dan memasang senyum lebarnya yang khas. Kedua matanya berbinar penuh harap.

"Dih, maksa banget! Kalau begitu, aku tidak bersedia! Hari Senin aku juga UAS, kau tahu?!"

"Kau bisa belajar di hari Sabtu besok, Hyung. Kemudian, kau akan mengajariku di hari Minggu. Bagaimana?" Taehyung menawarkan solusi. Taehyung sudah berharap tinggi kepada Hoseok karena ia tahu Hoseok merupakan mahasiswa yang 'dewa'. Hubungan pertemanan mereka juga sangat baik, jadi Taehyung berpikir pasti Hoseok bersedia mengajarinya.

Dasar.

Tiba-tiba, hujan deras mengguyur mereka berdua tanpa ada gerimis terlebih dahulu. Keduanya langsung berlari ke bawah atap tempat parkir kampus untuk berteduh.

"Hyung, bagaimana?" pancing Taehyung lagi setelah mereka menyingkirkan butiran air hujan yang ada di sekujur tubuh mereka sebelum semuanya terserap oleh pakaian.

Hoseok menahan senyum. "Maaf, Taehyung-ah. Di hari Minggu aku harus mengurus sesuatu. Kau belajar bersama temanmu yang lain saja ya?"

Binar di mata Taehyung langsung redup, begitu pula dengan senyumnya yang memudar. Hal itu membuat raut wajahnya datar seperti pertama kali mereka bertemu.

Hoseok jadi merasa bersalah. Sebenarnya, ia tadi berbohong. Ia memiliki banyak waktu luang di hari Minggu. Namun, sebuah rencana sudah tersusun di kepalanya.

"Ya sudah. Tidak apa-apa, Hyung." Taehyung berusaha tersenyum. "Aku mungkin akan meminta tolong Jeongguk. Semoga urusanmu di hari Minggu berjalan lancar, Hyung. Hehe."

Hoseok tersenyum kalem. "Maaf, ya." Ia menyingkirkan butiran air dari rambut Taehyung dengan tangannya. "Kau terlihat seperti gelandangan basah-basah begini."

Taehyung memutar kedua bola matanya. "Gelandangan itu cenderung dekil, Hyung. Bukan basah. Kau sendiri terlihat seperti bebek tenggelam. HAHA."

Hoseok melotot dan langsung berkaca ke salah satu kaca spion di dekatnya, memeriksa penampilannya. "Sembarangan kalau bicara! Walaupun basah, aku masih ganteng, tahu!"

"Tempe! Bwek~ Bebek tenggelam~" ejek Taehyung sambil menjulurkan lidah dan tubuhnya dicondongkan ke Hoseok yang sedang menyamping dan membungkuk menghadap kaca spion.

Merasa kesal, Hoseok berbalik cepat untuk membalas ejekan Taehyung. "Dasar gem—"

Sebuah kata yang ingin dilontarkan Hoseok terputus.

Taehyung juga begitu. Wajah senangnya yang puas meledek Hoseok berubah menjadi raut terkejut.

Bagaimana tidak? Jarak wajah mereka kini sangat dekat. Hoseok menelan salivanya. Wajahnya terasa sangat panas sekarang. Melihat Taehyung dari jarak sedekat ini tak pernah terbayangkan oleh Hoseok sebelumnya.

Tak ada bedanya dengan Taehyung yang wajahnya lebih merah padam. Kalau ia tidak tersentak sedikit ke belakang tadi, mungkin … Astaga! Apa yang aku pikirkan? Batinnya. Mengapa jantungku berdegup kencang sekali?

Perlahan, Taehyung menarik tubuhnya sambil tertawa canggung. Hoseok mengikutinya. Kemudian, mereka terdiam sambil melihat keadaan di luar batas atap.

Hujan semakin deras. Taehyung menjadi cemas karena masih ada satu kelas lagi yang harus dihadiri hari itu. "Hyung," panggilnya.

"Hm?"

"Apa kau punya payung?"


Hari Minggu pun tiba. Taehyung mulai panik karena Sungjae tiba-tiba membatalkan janji mereka untuk belajar bersama karena ada tamu mendadak di rumahnya.

Taehyung sudah mulai belajar dari Jumat malam, namun ada beberapa topik yang masih tidak ia pahami. Tutorial di internet sudah ia coba pelajari, tetapi sia-sia saja. Salahnya sendiri ia bolos pada saat topik itu dibahas oleh dosennya. Ia pun mulai putus asa. Apa jadinya kalau ia tidak bisa mengerjakan ujian besok?

Taehyung mengempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruang tamu apartemennya. Mungkin ia harus pasrah saja.

Ting tong! Bel apartemennya berbunyi. Ia langsung terduduk dan mengernyitkan kening. Siapa yang datang? Tidak mungkin Sungjae kan?

Dengan malas, ia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu masuk. Ia melihat siapa yang datang melalui intercom. Di layar, terlihat Jung Hoseok sedang melihat ke arahnya. "Surprise! Kena tipu deh, Taehyung-ie," serunya sambil tersenyum jahil.

Taehyung bingung harus berekspresi seperti apa. Antara bahagia karena Hoseok datang dan kesal karena seniornya itu membohonginya waktu itu. Ia pun membuka pintu dan mendapati Hoseok dengan sebuah kantung berisi entah-apa.

"Apa itu?" tanya Taehyung sambil menunjuk kantung plastik itu.

"Kau tidak menyuruhku masuk dulu?" tanya Hoseok balik.

"Ah, iya. Silahkan masuk, Hyung."

"Bercanda. Ini kubawakan makanan masakan ibuku untuk makan siang nanti. Kau pasti rindu masakan rumahmu."

Kedua amta Taehyung langsung berbinar. Sambil menutup pintu, ia berseru senang, "Ibumu masak apa, Hyung? Itu buatku semua kan?" Ia berlari ke arah Hoseok yang sudah sampai duluan di dapur apartemen Taehyung.

Hoseok membuka ikatan kain berwarna merah yang membungkus setumpuk kotak makanan di atas meja. Di balik tutupnya terdapat banyak uap air yang menandakan bahwa makanan tersebut masih hangat. Hoseok menyusunnya di atas meja dan melipat kembali kain untuk dimasukkan ke dalam plastik tadi. "Kau seperti orang yang tak makan berhari-hari, Kim Taehyung." Hoseok tertawa melihat Taehyung yang melongo melihat makanan rumahan yang dibawanya.

Taehyung menelan ludah. "Memang, Hyung. Akhir-akhir ini aku hanya makan seadanya."

"Nanti siang kita panaskan, oke?" ujar Hoseok.

Taehyung mengacungkan jempol kanannya senang. Hoseok sudah pernah beberapa kali membawakannya masakan ibunya. Pernah sekali pula makan malam di rumah Hoseok bersama ayah dan ibunya. Hal itu membuat Taehyung tak sabar untuk cepat-cepat menyudahi UAS dan pulang ke Busan untuk bertemu orangtuanya. Bertemu kasurnya, apalagi.

"Terima kasih banyak, Hyung." Taehyung berucap tulus.

Hoseok tersenyum hangat. Oh, Taehyung suka sekali senyum itu, yang seolah-olah mengisi kembali semangatnya yang sudah pudar. "Santai. Ibuku sengaja memasak lebih untukmu lho."

"Benarkah? Aku harus meneleponnya! Boleh minta nomor ibumu, Hyung?"

Selagi Taehyung menelepon ibu Hoseok, ia menuju ruang tamu dimana buku-buku dan kertas berserakan di atas meja. Sebuah laptop berwarna putih sedang menyala dan menunjukkan laman sebuah situs belajar online di monitor. "Rajin sekali," gumamnya. Ia duduk di depannya dan iseng menelusuri situs tersebut sampai Taehyung selesai menelepon.

Dan begitulah. Hoseok mulai mengajari Taehyung untuk ujian akhir semester besok.

"Oh, ternyata begini saja, Hyung? Sesederhana ini? Kenapa aku baru mengerti sekarang ya? Ini mah anak SMA juga pasti bisa dong."

Hoseok memukul pelan kepala Taehyung dengan ujung pulpen. "Kau saja yang tidak memperhatikan! Makanya, fokus!"

Taehyung memutar kedua bola matanya. "Kalau tidak salah, ketika materi ini aku bolos, Hyung. Ingat tidak ketika kau menarikku ke toko buku secara tiba-tiba karena buku baru karya penulis favoritmu terbit cetakan pertama?"

Hoseok agak terkejut. "Oh. Hehe. Maaf. Ternyata waktu itu kau sedang belajar materi ini, Taehyung-ah."

Taehyung mencibir. "Makanya, kau harus mengajariku materi ini sebaik mungkin, Hyung. Kalau aku dapat nilai jelek, aku akan menuntutmu."

"Enak saja kau bicara ya. Kenapa jadi aku yang salah? Kau 'kan seharusnya bisa minta temanmu ajari."

"Aish, kau tahu aku mahasiswa apatis, Hyung," Taehyung tertawa.

"Apatis, apatis. Sampai-sampai kau hanya mau berteman denganku saja. Get a life, buddy. Dunia tidak seru kalau kau berteman dengan orang yang itu-itu saja."

"Hyung, kita mau belajar matematika atau filsafat?"

Kini giliran Hoseok yang memutar kedua bola matanya. "Yang mancing juga siapa, yang protes siapa! Lama-lama aku angkat kaki juga dari sini."

Taehyung menatapnya tak percaya. "Eh, jangan Hyuuunggg. Masih banyak materi yang belum aku mafhum benar."

Wajah memelas itu lagi. Hoseok sangat menyukainya. Apakah kalian tahu bahwa sebenarnya ia sengaja memancing Taehyung agar bisa melihat ekspresi menggemaskan itu? Ia tersenyum dalam hati.

"AWW!" seru Taehyung kesakitan ketika Hoseok mendekap leher Taehyung di bawah ketiaknya. "Hyung, kau mau mematahkan leherku ya? Lepaskaaannn!"

"Berhenti memasang wajah memelas seperti itu. Itu membuatku gem—geram!"

"Oke! Oke!"


2016

"Baiklah, kelas hari ini sampai di sini dulu. Sampai ketemu lusa."

"Gamsahabnida!"

Kelas Taehyung baru saja selesai. Ia segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan beranjak ke luar kelas bersama teman-temannya.

"Taehyung-ssi, aku dengar kau membuka kafe di dekat sini. Bolehkah kami mampir?" tanya gadis yang bernama Kim Yoojeong. Beberapa temannya yang lain ikut menatap penuh harap.

Taehyung tersenyum lebar. "Tentu saja! Aku memberi diskon untuk mahasiswa sini kok."

"Benarkah? Yes!" Yoojeong dan teman-temannya bersorak kegirangan. "Kalau begitu, kami duluan. Daah!"

"Oke! Kutunggu kedatangan kalian," balas Taehyung. Ia pun berjalan di koridor sambil bersiul. Tiba-tiba ada yang melompat ke punggungnya dengan seenak jidat. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya?

"Yak, Park Jimin!"

"Yah Kim Taehyung! Kau makin populer saja di antara para gadis, eoh? Kau mau menyaingiku ya?"

"Berisik. Urus dulu skripsimu sana! Dan tolong, turun dari punggungku."

Jimin melompat turun dan merangkul Taehyung. "Yuk, ke tempatmu!"

Mereka berdua pun berjalan ke gerbang kampus sambil mengobrol seru dan bercanda. Sesekali beberapa kelompok gadis menyapa dan melambai ke arah mereka, lalu buru-buru ngacir sambil cekikikan. Taehyung hanya balas tersenyum, sedangkan Jimin sampai melayangkan flying kiss dan gerakan tebar pesona lainnya.

"Dasar genit," cibir Taehyung.

"Oh, ayolah. Nikmati masa-masa mudamu, Nak."

"Aku tidak tertarik, Jimin."

"Oh, kau masih belum bisa move on dari seniormu itu ya? Eh-ups. Maafkan aku."

"Tsk. Aku sudah tak peduli lagi," bohong Taehyung.

"Ey, jangan sok tidak peduli." Jimin mengacak-acak rambut Taehyung.

"Aish! Rambutku!" gerutu Taehyung. Ia kurang suka kalau rambutnya diacak-acak oleh orang. Itu hanya akan mengingatkan dirinya pada Hoseok.

Tuh, kan. Kepikiran lagi.

"Taehyung-ah!" sebuah suara familier memanggilnya dari arah gerbang. Sosok seorang pria sedang bersandar ke motor besar hitam miliknya.

"Siapa itu, Taehyung? Kau mengenalnya?" tanya Jimin. Taehyung tak menjawab lantaran pandangannya terlanjur terpaku ke pria itu. Terlalu kaget.

Sedang apa dia di sini?

Pria itu berjalan ke arah mereka sambil tersenyum. "Taehyung."

"Hoseok-ie Hyung."

Mendengar nama itu, Jimin melebarkan matanya karena terkejut. "Tae—"

"Hyung, ini Jimin. Jimin, ini Jung Hoseok. Seniorku di Seoul dulu."

"Halo," sapa Hoseok riang, "senang bertemu denganmu, Jimin."

"Senang bertemu denganmu juga, Hoseok-ssi. Err, Taehyung-ah. Maaf, aku baru ingat ada yang harus kuurus. Sampai jumpa nanti malam!" Jimin menepuk pundak Taehyung, kemudian mengangguk ke arah Hoseok sebelum melarikan diri dari suasana canggung itu.

Di dalam hati, Taehyung sudah berencana untuk memberi Jimin pelajaran karena sudah meninggalkannya tiba-tiba. Sahabat macam apa kau, Jimin? Tolong akuuuuuu!

"Hyung sedang apa di sini?" tanya Taehyung.

"Aku menunggumu dari tadi, ingin mengajakmu makan. Apa kau punya waktu?"

"Ya." Taehyung merutuki dirinya sendiri dalam hati. Seharusnya ia menolak ajakan Hoseok! Namun, ia tak bisa. Kerinduannya terhadap pria itu menang.

Tunggu. Kerinduan?

"Ayo. Tadi aku melewati sebuah tempat yang menunya kelihatan enak-enak."

"Baiklah."

Di atas motor, Hoseok dan Taehyung tak saling berbicara. Entah karena Hoseok yang sibuk memerhatikan jalan atau Taehyung yang tidak ingin memulai percakapan seperti di kafe kemarin.

Argh. Aku benci suasana ini, batin Taehyung.

"Taehyung-ah. Tolong arahkan aku ya. Sepertinya kita salah jalan."

"Hah? Memangnya nama tempatnya apa, Hyung?" Hoseok menyebutkan nama tempat yang tidak asing. "Ah, yang itu ya. Setelah ini belok kiri, Hyung. Kita tak salah jalan kok."

"Oke. Kau sudah pernah ke sana?" tanya Hoseok.

"Belum. Itu baru dibuka seminggu yang lalu."

"Begitu ya. Noonaku merekomendasikan tempat ini. Karena ia sedang sibuk, ia tak bisa menemaniku. Jadi, aku mengajakmu saja."

Ketika sampai dan memarkirkan motor, Hoseok dan Taehyung disambut pelayan yang ramah di kedai sederhana. Selagi melihat-lihat menu, tiba-tiba ada yang memanggil Hoseok.

"Hoseok Oppa!"

Hoseok dan Taehyung menoleh ke arah suara. Taehyung mengenali gadis itu. Gadis yang suka membuatnya panas sewaktu di Seoul dulu.

Gadis itu menghampiri Hoseok dan memeluk lengannya. "Oppa! Kenapa tidak bilang padaku kalau kau ke Busan? Apa kau menemui noonamu? Ah, Taehyung-ie! Apa kabar?"

"Nari, lepaskan," ujar Hoseok pelan.

"Wae? Apa aku tidak boleh memeluk pacarku sendiri? Ya kan, Taehyung?"

"Pacar?"


tbc


aaah :" maafkan saya yang telat update sampe 3 bulan gini

kesibukan saya benar-benar tidak bisa diganggu hiks

makasih baanyak buat yang udah baca, fav, follow, apalagi review :*

mind to review again?