"Pacar?" celetuk Taehyung refleks. Untungnya suara dia hanya berupa bisikan, jadi tak terdengar oleh Hoseok maaupun Nari.

"Oppa, di mana rumah noonamu? Bolehkah aku berkunjung?" tanya Nari manja sambil menggelayut di tangan Hoseok.

Taehyung tersenyum miris pada dirinya sendiri. Ia merasa bodoh. Begitu gampangnya ia menerima ajakan Hoseok tadi dan ujung-ujungnya malah melihat pemandangan yang membuatnya semakin membenci pria di hadapannya.

Ia menghela napas kemudian bangkit. "Hyung, aku baru ingat ada yang harus dilakukan di kafe. Silahkan nikmati waktu kalian berdua. Aku pergi dulu, Nari. " Dan Taehyung pun keluar dari kedai itu dengan cepat sebelum dadanya semakin sakit.

"Taehyung-ah!" panggil Hoseok. Ia ingin mengejar Taehyung, namun ditahan oleh Nari. "Aish! Ini semua gara-gara kau, Park Nari!"

Nari terkikik geli. "Sepertinya ia terpancing, Oppa. Jelas sekali ia masih berharap padamu."

Hoseok menarik tangannya dari Nari dengan kasar. "AH! Kenapa kau harus ke kedai juga sih? Dasar penguntit ga jelas!"

Nari tersenyum sedih. "Tidak apa-apa aku dibilang penguntit asalkan kau kembali pada—"

"Nari, dengar! Kita sudah selesai. END! Dan aku tidak pernah menyukaimu," tukas Hoseok dengan nada paling tegas yang ia miliki. Kemudian, ia pergi dari sana, meninggalkan Nari yang menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk.

"Kalau memang tidak pernah menyukaiku, mengapa kau menerimaku waktu itu, Jung Hoseok?" bisik Nari.


Tring!

Pintu kafe milik Taehyung terbuka dan masuklah sang empu yang langsung disambut oleh karyawan-karyawannya. Namun, mereka tak ia acuhkan dan langsung melangkah cepat ke ruangannya.

"Kalau ada yang mencariku, tolong sampaikan bahwa aku sedang tidak bisa diganggu."

Hal itu membuat mereka bertanya-tanya: ada apa dengan bos mereka yang selalu tersenyum?

Setelah menutup pintu, Taehyung bersandar sambil menengadah ke langit-langit ruangannya. Berhubung ia tak menyalakan lampu, satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu hanyalah sinar mentari senja yang masuk lewat jendela, menerangi barang-barang yang tersusun rapi di atas meja kerjanya. Taehyung melangkah ke sana perlahan, kemudian mengitari meja. Di sisi kiri meja, berdiri beberapa buah bingkai foto kecil. Ia mengangkat salah satunya dan menatap sendu. Di sana ada delapan lelaki yang saling merangkul pundak dan tersenyum bahagia. Di tengah, Jung Hoseok sedang memutar bola basket dengan jari telunjuk kanannya, sedangkan Taehyung yang di sebelahnya memegang sebuah piala besar di tangan kirinya. Di belakang mereka terbentang barisan kursi penonton yang terisi penuh di auditorium olahraga kampusnya dulu.

Taehyung ingat kejadian di hari mereka mengambil foto itu.

Oktober 2014

Hoseok berlari sambil men-dribble bola basket menuju ring lawan. Kemudian, suara gesekan antara sepatu para pemain dan lantai auditorium mendominasi ruangan ketika Hoseok ingin mengoper bola ke teman setimnya, sementara anggota-anggota tim lawan berusaha merebut bola darinya dari arah depan dan belakang.

"Waktu tersisa dua puluh detik lagi!" seru pembawa acara. "Saat ini skor seri untuk kedua tim. Siapa yang akan menang hari ini?"

Hoseok melirik sana-sini untuk mencari celah sambil menjaga genggamannya pada bola itu, bola yang akan menentukan siapa pemenang untuk kejuaraan kali ini. Di arah jam sepuluh relatif terhadap pandangan Hoseok, Taehyung melambai-lambaikan kedua tangannya agar Hoseok mengoper bola ke arahnya.

Bagus, posisi Taehyung sangat aman. Hoseok pun segera melempar bola kuat-kuat, yang hampir mematahkan hidung Taehyung kalau Taehyung tidak dapat menahan momentum dari benda bulat itu. Taehyung pun berlari ke arah ring lawan sambil men-dribble bola. Sebelum sempat dihadang oleh anggota tim lawan, Taehyung men-shoot bola ke ring. Bola berputar mengitari sisi ring. Pendukung universitas mereka berteriak heboh, berharap bola masuk ke ring dan meluncur mulus melalui jaring-jaring. Namun, napas kecewa lolos ketika bola malah jatuh ke samping.

"TIGA!"

Sebelum menyentuh tangan siapapun, bola sudah ditangkap kembali oleh Hoseok dan-

"DUA!"

Bola meluncur mulus di dalam ring.

"MASUK! WAKTU HABIS! SELAMAT UNTUK UNIVERSITAS XX!"

Pendukung tim universitas XX berteriak senang. Apalagi tim yang menang. Mereka saling berpelukan dan ber-highfive riang. Hoseok mengacak-acak rambut Taehyung gemas sambil tertawa senang, kemudian saling melingkarkan tangan di leher masing-masing. Setelah menerima piala, mereka tak lupa mengabadikan momen itu.

Merayakan kemenangan dengan makan besar tentulah hal yang sudah biasa di negeri Ginseng. Setelah berpesta makan dan sedikit bir hingga larut malam, mereka kembali ke kediaman masing-masing. Dan seperti biasa, Taehyung pulang dengan Hoseok. Karena agak mabuk, Taehyung harus menggantikan Hoseok di bagian kemudi.

"Woah, Tae! Kau lihat tadi aku hampir saja menabrak lawan yang tubuhnya sangat besar itu? Untung aku kecil, jadi bisa lebih lincah darinya dan GOAL! Aku berhasil membawa kemenangan untuk kita!" Hoseok berseru penuh bangga di perjalanan menuju apartemen Taehyung.

Taehyung tertawa. "Hyung, kau sudah menceritakan itu sepuluh kali hari ini!" ujar Taehyung. Angin cukup kencang malam itu, membuatnya harus sedikit berteriak.

"Aku akan menceritakannya berulang-ulang walaupun kalian sudah bosan."

"Ya, kuakui kau hebat, Hyung. Aku bahkan tak melihat kau menghindarinya karena badanmu pendek."

"Ya! Kalau kau berdiri di sampingnya, kau juga jauh lebih pendek."

Motor Hoseok berhenti di tempat parkir gedung apartemen Taehyung. Dengan agak kewalahan, Taehyung memapah Hoseok ke kamarnya. Kalau pulang ke rumah Hoseok, orangtua Hoseok pasti akan murka melihat anaknya mabuk.

"Ah, Tae. Aku mau muntah." Seniornya yang mukanya sudah sangat merah itu langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.

Taehyung hanya tertawa geli melihat seniornya itu. Sembari menunggu Hoseok, ia menyiapkan sesuatu di kamar tamu dan membereskan meja ruang tamunya yang dipenuhi buku-buku mata kuliah. Beberapa saat kemudian, Hoseok keluar dari kamar mandi sambil mengelus-elus perutnya. "Ah, leganya," kata Hoseok yang masih sempoyongan. Alkohol masih mengganggu kesadarannya.

"Kau tidur duluan saja, Hyung. Jangan lupa ganti bajumu, oke? Aku sudah siapkan baju ganti untukmu di atas kasur di kamar sebelah."

Alih-alih menuju kamar kosong yang terletak di sebelah kamar Taehyung, Hoseok malah melangkah gontai ke ruang tamu dan duduk di lantai, di samping Taehyung yang sedang berlutut.

"Duh, Hyung. Jangan duduk di lantai, nanti kau masuk angin," tegur Taehyung sambil mengangkatnya ke atas sofa. Keduanya terduduk bersamaan di atas sofa karena Hoseok mendadak jadi berat sekali di tangan Taehyung yang mengangkatnya. "Huft. Hyung, sudah kubilang tadi jangan minum-minum."

Setelah meletakkan buku-buku di rak buku, Taehyung kembali memapah Hoseok menuju kamar tamu. "Ganti bajumu sebelum tidur, oke, Hyung? Kau tahu aku tidak suka ada orang yang pulang-pulang langsung tidur sebelum ganti baju terlebih dahulu, bukan?"

"Ngg," gumam Hoseok tak jelas.

"Ya sudah. Selamat malam, Hyung," ujar Taehyung. Ketika ia ingin beranjak, Hoseok menarik pinggangnya dan membuat mereka dalam posisi berpelukan. Taehyung tentunya terkejut.

"Taehyung, aku merindukanmu setiap hari. Sejak pertama kali kita bertemu."

"Hah?"

Hoseok memberi jarak di antara mereka. Ia menatap Taehyung dengan mata hampir terpejam seluruhnya.

Taehyung ingin segera pergi dari sana, namun jantungnya sudah berdetak tak karuan. Bernapas pun rasanya sulit.

"Taehyung-ie," panggil Hoseok lembut sambil menyisir poni Taehyung ke samping dengan jari tangan kanannya sementara tangan kirinya masih di pinggang Taehyung. Kedua mata Taehyung berkedip-kedip. Bari kali ini dia dipanggil dengan nada seperti itu oleh Hoseok.

Sebelum Taehyung pingsan (yang ia tak tahu kenapa bisa demikian), ia harus kabur dari kamar itu. Namun, gerakan Hoseok lebih cepat. Dalam sekejap mata, Hoseok sudah mengecupnya di sudut bibir. Sekali. Si marga Kim makin tak bergeming, sedangkan pria di depannya tersenyum manis hingga lesung pipitnya terbentuk sempurna. Hoseok kembali mengecupnya, namun kali ini tepat di bibirnya yang ranum. Lama.

Taehyung menghitung dalam hati. Selama 60 detik Hoseok menggerakkan bibirnya pelan, tak menuntut balasan. Kemudian, Hoseok jatuh tertidur di pundak Taehyung.


2016

Taehyung tersenyum tipis mengingat kejadian hari itu. ciuman pertamanya diambil oleh pria sialan bernama Jung Hoseok, yang esok paginya menanyakan apakah ia berbuat aneh semalam. Ia berkata bahwa setiap kali ia mabuk, ia melakukan hal-hal random seperti membakar celana atau tidur di kamar mandi. Dan siangnya di kampus, Hoseok memperkenalkan kekasihnya kepada Taehyung di kantin. Namanya Park Nari. Dan ia merupakan seorang model yang sangat cantik.

Setetes air mata mengalir di pipi, yang segera ia seka dengan lengan baju.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Kim Taehyung tidak bisa berhenti menangis sepanjang hari itu sampai kafenya tutup.

Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah mencintai seseorang itu harus semenyakitkan ini?


Park Jimin lagi-lagi mengunjungi kafe milik sobatnya. Dengan senyum merekah di bibirnya, ia masuk ke dalam kafe dan memesan minuman. Yang melayaninya adalah Jeongguk, pelayan yang suka diusilinya. "Ke mana Taehyung?"

"Ia sedang tidak ingin diganggu katanya," jawab Jeongguk.

Jimin mengernyit bingung. "Apa ada masalah dengannya?"

"Sepertinya begitu, Hyung. Pria yang itu," Jeongguk menunjuk pria yang duduk di sudut ruangan, "dari tadi menunggu Taehyung Hyung keluar dari ruangannya. Ia pernah mengobrol dengan Taehyung Hyung di sini beberapa hari yang lalu."

Jimin mengenali sosok itu, Jung Hoseok. Ia kelihatan gelisah dan mukanya kusut. Di sekeliling minumannya tergenang air dari uap es. Dan isi gelasnya masih penuh. Jimin tebak Hoseok pasti terlarut dalam lamunannya hingga ia lupa minum minuman di depannya.

Setelah membayar minuman, Jimin memutuskan untuk duduk di tempat biasa, meja di samping konter. Ia menyalakan laptopnya dan mulai mengerjakan tugas. Sambil mengganggu Jeongguk tentunya.

"Permisi," ujar seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Jimin. Jimin menengok ke arah orang itu, Hoseok. "Park Jimin?"

"Ah, Hoseok-ssi!"

"Ternyata kau ingat padaku. Tadi kita baru kenalan di kampus, kan?

Jimin tersenyum. "Iya hehe. Tentu saja aku ingat."

"Ah, benar," kata Hoseok sambil mengusap leher belakangnya. "Taehyung banyak bercerita tentangmu."

"Haha." Jimin tersipu. "Tentu saja. Dia pasti bangga punya sahabat sepertiku."

"Benar. Ngomong-ngomong, apa kau punya waktu sebentar? Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

"Baiklah. Tapi, mungkin sebaiknya tidak di sini, Jung Hoseok-ssi."

"Jadi begitu, Jimin," Hoseok menyelesaikan ceritanya. Mereka memutuskan agar Hoseok tidak berbicara terlalu formal dengan Jimin. "Dan Taehyung langsung pergi begitu saja. Aku sudah sangat frustasi. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi untuk menemui Taehyung. Dan ternyata di kafe aku bertemu denganmu. Aku bersyukur bahwa alam tidak membiarkanku menyerah."

"Jadi kau menerima Nari karena kau sedang kalut?" tanya Jimin.

"Iya. Aku bodoh, ya? Aku menerima perasaannya karena aku takut Taehyung mengiraku aneh karena sudah menciumnya tanpa ijin. Dan aku benar. Sejak saat itu, ia terus menghindariku, Jimin."

"Hyung, percayalah padaku. Taehyung menghindarimu bukan karena menganggapmu aneh."

"Jadi, karena apa?"

"Maaf, aku tidak bisa memberitahumu banyak, Hyung. Dan maaf juga aku tidak bisa membantu banyak, apalagi memberikan solusi. Menurutku, yang perlu kalian lakukan sekarang adalah menjelaskan kondisi masing-masing."

"Bagaimana aku bisa menjelaskannya ketika ia tak mau mengangkat telepon dariku?"

"Yaah, kita harus tunggu sampai Taehyung reda dulu. Kau kenal Taehyung kan?"

Mereka terdiam beberapa saat. Angin malam membelai wajah keduanya, cukup menyejukkan untuk sekedar menenangkan hati Hoseok dan membantu Jimin berpikir. "Hyung," panggil Jimin, "aku punya rencana."


September 2014

Taehyung merasa dirinya mau pingsan akibat demam tinggi yang menyerangnya. Sehari sebelumnya, perutnya terasa sangat tidak enak. Selesai kelas, ia langsung naik taksi menuju apartemennya. Leher belakangnya terasa sangat pegal, sakit kalau ditekan. Ia juga terus berkeringat dingin. Sesampainya di kamar, ia langsung jatuh tertidur.

Malamnya, keadaannya tak tambah membaik. Ia memutuskan untuk memasak bubur ala kadarnya. Ketika ia mencuci beras, tubuhnya langsung gemetar hebat dan ia jatuh ke lantai. Giginya bergemeletuk kencang sekali. Dengan susah payah, Taehyung berjalan ke kamarnya dan menyelimuti dirinya dengan selimut tertebal miliknya. Namun apa daya, usahanya tak membuat getaran pada tubuhnya berhenti apalagi menghangatkan dirinya. Ingin sekali ia menelepon ibunya, namun beliau tak akan sampai dalam waktu dekat.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia berjalan tertatih-tatih ke ruang tamu untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.

Hoseok Hyung

"Ha-lo?" sapa Taehyung sambil menggigil.

"Halo, Tae? Kau sedang di mana? Kenapa tidak datang latihan?"

"Aku ssss.. sedang tidak ekh enak badan, Hyuuungg," jawab Taehyung payah. Bahkan ia mengambil napas setiap satu kata.

"Kau terdengar sangat tidak beres, Tae. Kau di apartemen?"

"I-ya." Taehyung mengatupkan matanya, tak tahan dengan tubuhnya yang menggigil hebat. Ingin rasanya ia masuk ke dalam sauna saat itu juga.

"Kau mau aku ke sana? Hei!"

Taehyung sudah tidak tahan. Tanpa memutuskan sambungan telepon, ia kembali ke kamarnya karena di sanalah tempat yang paling tidak dingin.

"Taehyung-ah! Ya! Aish."

Tut.

Pria berambut coklat itu berusaha untuk tidur agar mengurangi penderitaan. Kendati demikian, menggigil hebat merupakan penghalang yang sangat ampuh. Sudah memakai minyak angin, kaus kaki, dan berlapis-lapis selimut pun tidak ada efeknya sama sekali. Yang hanya bisa ia lakukan hanyalah meringkuk di dalam selimut sambil berdoa.

Hoseok tiba di depan gedung apartemen setelah mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dengan bantuan resepsionis, ia dapat membuka pintu apartemen adik tingkatnya itu.

"Taehyung-ah!" panggil Hoseok panik dan khawatir. Peluh mengalir di wajahnya dan sudah membasahi rambutnya. Ia berlari ke kamar Taehyung, dan menemukannya dalam kondisi yang sudah sangat pucat. "Astaga, Tae! Mbak, tolong panggilkan ambulans!" serunya ke petugas resepsionis yang membukakan pintu apartemen Taehyung.

"Kami punya tim khusus untuk membawanya ke rumah sakit. Saya panggilkan dahulu," tukas wanita berumur 30-an itu seraya mengambil walkie talkie miliknya.

"Terima kasih," jawab Hoseok. "Taehyung-ah, bertahanlah! Sebentar lagi kami akan membawamu ke rumah sakit, oke?" Hoseok mengusap-usap rambut Taehyung yang sudah basah oleh keringat. Tak lupa Hoseok mengabari timnya tentang Taehyung, kemudian mengambil tisu untuk mengelap peluh teman setimnya itu. Ia terus melakukannya hingga petugas medis datang dengan sebuah tandu dan membawanya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Hoseok hanya bisa menunggu selagi dokter menangani Taehyung. Ia tidak bisa duduk tenang, jadinya ia mondar-mandir. Selama hampir setengah jam, dokter yang menangani Taehyung akhirnya keluar dari ruang UGD.

"Dok, bagaimana keadaan Kim Taehyung?"

"Kami belum bisa memastikan apa-apa sampai hasil tes darahnya keluar sejam lagi. Ia sudah tidak mengigil lagi. Apa kamu walinya?"

"Saya temannya, Dok. Orangtuanya sudah saya hubungi, mereka sedang menuju kemari dari Busan."

"Baiklah. Temanmu sudah dipindahkan ke ruang ICU. Kamu bisa ke sana sekarang. Tolong jaga dia agar tetap terjaga ya. Saya permisi."

"Terima kasih, Dok."

"Hai, Hyung," panggil Taehyung sambil nyengir lemah ketika Hoseok menghampirinya.

"Hai hai hai, lagi! Kau bikin orang panik setengah mati, tahu?" celoteh Hoseok.

"Maaf. Aku sudah jauh lebih baik kok."

"Tidak. Hasil tes darahmu belum keluar, Tae. Lagipula, wajahmu sangat pucat. Apa yang terjadi? Kau punya penyakit yang suka kambuh? Salah makan?"

"Entahlah, Hyung. Sekarang lidahku terasa sangat tebal."

Hoseok mengernyit bingung. "Tebal bagaimana?"

"Yah, gitu deh. Seolah-olah papila di lidah menebal semua, Hyung," tukas Taehyung.

"Ya, ya. Istirahatlah, Taehyung. Jangan banyak bergerak kalau tidak mau darahmu masuk ke selang infus. Yang penting, kau harus tetap sadar, oke?"

"Iya, Hyung. Hyung ini kenapa tiba-tiba jadi cerewet sekali?" Taehyung jadi cemberut.

"Bagaimana aku tidak cerewet? Sebulan lagi kita akan bertanding melawan universitas sebelah. Peranmu sangat penting di tim kita, ingat?" Ya, itu yang keluar dari mulut Hoseok. Padahal di dalam hatinya tidak seperti itu. Ia takut ia akan semakin merindukan adik tingkat favoritnya itu kalau ia tak ada di kampus.

Sedangkan Taehyung sedikit kecewa mendengar jawaban Hoseok. Jadi ia hanya dianggap pemain yang perannya sangat penting hingga tak bisa digantikan? Bukan karena mereka teman baik? Duh, jangan baper, Taehyung. "Iya, Hyung. Aku akan cepat sembuh dan latihan lagi kok." Taehyung memberikan senyum kotak terbaiknya.

Satu jam kemudian, hasil tes darah pun keluar. Taehyung didiagnosa terkena penyakit tifus. "Dengan antibiotik dan makan yang benar, ia akan sembuh dalam waktu dua sampai tiga hari," kata dokter.

Dan kini Taehyung sudah terlelap, Hoseok yang menyuruhnya tidur selagi ia menunggu sampai orangtua Taehyung sampai di rumah sakit. Setelah memastikan Taehyung tertidur, pria bermarga Jung itu menggenggam tangan Taehyung yang tidak dipasangi infus. "Cepat sembuh, Tae. Hari-hariku sepi tanpamu." Kemudian, atas dorongan dari dirinya sendiri, Hoseok mengecup kening Taehyung penuh sayang. "Selamat malam."


tbc~


lagi-lagi saya telat update. maaf yaa :((

semoga chapt kali ini ga ngebosenin ya.

btw beberapa adegan di sini terinspirasi dr adegan di drama Cinderella and Four Knights dan pengalaman saya sendiri pas kena tifus hehe

makasih banyak buat yang udah menunggu cerita ini :") rencananya sih abis uas saya langsung tamatin ini cerita hehe soalnya ga panjang kok ceritanyaa.

btw adakah NamJin shipper di sini? whehehe.. saya ad bikin ff mereka nih judulnya Grey Town (horor, misteri) dan The Object In Front of Your Apartment (romance). dua2nya udah tamat :3 /promosi/

daan 1 lg castnya Tae-Suga-Rapmon-JK judulnya Curseas Island (horor, fantasi, friendship, oneshot) boleh dibaca di waktu senggang xD /promosi lagi/

mind to review again?