Chapter 2
A/N : Hola guys! Happy New Year! Telat banget ^^' Kita bertemu lagi. Gila, sudah satu bulan lebih aku menghilang. ^^ Maaf lama. Laptop saya sedang bermasalah, jadi updatenya molor dah. T_T
Ngomong-ngomong, fic ini ada sedikit perubahan. Di chap sebelumnya, saya tulis golongan Knight dan Elemental. Untuk yang elemental, ada yang kurang 'srek'. Akhirnya saya ganti dari Elemental menjadi Mage.
Pengennya update fic Angel, tapi masih belum selesai. Soalnya saya buat lebih panjang. Jadi, bagi yang menunggu fic 'Angel' atau 'Silver Petals' mohon bersabar ya. Masih dalam perjalanan. Jangan khawatir. Saya tidak akan menelantarkan fics begitu saja.
Dan terima kasih untuk kalian semua yang telah read/review/fav/follow fanfic saya. Usaha kalian membuat saya sangat bersemangat untuk terus menulis. ^^
Enjoy!
.
.
Title : You are My Knight
Pairing : KanamexZero, IchiruxYuuki, etc
Genre : Supernatural
Disclaimer : I don't own Vampire Knight
Warnings : AU, boyxboy/slash, rated M, typo(s), AU, OOC,
.
.
~You're My Knight~
.
Normal POV
Zero bosan. Bertopang dagu dengan tangannya yang bertumpu pada meja, dia hanya bisa menatap sosok yang kini menjelaskan tentang entah apa itu. Pikiran pemuda silver tersebut saat ini sedang melayang jauh. Karena pada awalnya dia tidak ada niat sama sekali mengikuti kelas ini. Tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya saat ini.
Fokus matanya kini kembali pada sosok Kaname Kuran yang mengaku sebagai guru itu. dahinya mengerut kesal megingat kembali bagaimana pemuda berambut coklat tersebut berhasil menyeretnya masuk dalam kelas dengan paksa.
Wali kelas? Bagaimana bisa orang seperti Kaname bisa menjadi menjadi guru? Lihat saja penampilannya. Zero berani bertaruh umur pemuda tersebut tidaklah jauh dari umurnya saat ini. Mungkin hanya beberapa tahun diatasnya.
"...Zero Kiryuu!" pemilik nama yang bersangkutan mengerjap kedua matanya beberapa kali. Baru menyadari bahwa Kaname memanggil namanya beberapa kali.
Dari depan, Kaname menatap Zero tajam. Sepertinya, Zero berhasil membuat guru tersebut kesal.
"Apa?" respon Zero yang terkesan santai membuat beberapa murid dalam kelas tersebut menatapnya kaget.
Berbeda dengan Kaname. Bukannya tersinggung, dia hanya memamerkan seringaian kecil miliknya. "Melamun di dalam kelas pada hari pertama, Kiryuu-kun?"
"Cih. Aku tidak ada niat untuk mengikuti kelas ini, Kuran-sensei." Zero memberi penekanan pada akhir kata. Air mukanya masih menunjukkan kemalasan yang berarti. Tidak peduli dengan tatapan murid lain yang kini menatapnya tajam.
Bagus sekali. Zero sudah memberi kesan buruk pada mereka di hari pertama. Ini tidak seperti Zero peduli saja.
Kaname menatap Zero sedikit lama. Seringaiannya telah hilang. "Oh. Apa pengajaran ini benar-benar membosankan untukmu, Kiryuu-kun?"
Zero hanya bergumam tidak jelas. Pandangannya kini beralih untuk menatap jendela.
Sampai salah satu murid Mage akhirnya mulai meledak, tidak tahan dengan sikap Zero terhadap Kaname. "Hei! Apa kau tidak punya sopan santun pada gurumu sendiri? Kau dari Klan Kiryuu, kan? Aku tidak menyangka klan yang menyandang sebagai The Best Knights itu memiliki orang yang brengs-"
Brakk!
Telapak tangan Kaname membentur keras pada permukaan meja. Tatapannya kembali menajam.
"Aidou, kembali ke tempat dudukmu."
Murid bernama Aidou itu terlihat masih ingin protes, tapi akhirnya menuruti perintah Kaname dan kembali duduk.
Kedua iris mata Kaname kembali pada Zero yang masih menatapnya bosan. "Baiklah Kiryuu-kun. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika kau bisa menjawab pertanyaan ini dengan benar," ujarnya seraya menunjuk pada sebuah soal yang tertulis di papan.
Salah satu alis Zero terangkat menatap soal yang tertera di papan tersebut. Sebelum sebuah seringaian muncul di wajahnya. "Itu tidak seru, Kuran-sensei. Bagaimana jika kau memberiku sebuah soal yang lebih sulit? Jika aku berhasil menjawabnya dengan sempurna, aku tidak perlu lagi harus mengikuti kelasmu. Bagaimana?"
Kedua mata Kaname yang mengeras kini menatap Zero tajam. Buku yang berada di tangannya kini tergeletak di atas meja.
"Apa kau ingin menguji kesabaranku, Kiryuu-kun?"
'Oppss!' batin Zero girang. Sepertinya dia berhasil membuat gurunya marah.
"Hehh..apa kau takut aku bisa melampaui kepintaranmu, Kuran-sensei?"
Ruang kelas menjadi terasa sesak. Tidak ada murid lain yang berani bersuara. Mereka menunggu Kaname mengeluarkan respon.
Kaname mendekat perlahan menuju bangku Zero yang berada dibaris nomor dua dari belakang dekat jendela. Begitu berada dihadapannya Zero, Kaname mendekatkan wajah mereka berdua
"...baiklah. Tapi aku memberi pertanyaan padamu tidak hanya satu. Bukankah itu terlalu mudah? Aku akan memberimu tiga pertanyaan. Jika kau menjawabnya dengan sempurna, aku akan melepaskanmu. Tapi itu hanya untuk hari ini saja, Kiryuu-kun." Menangkup dagu pemuda silver tersebut, Kaname menyeringai lebar. "Jika kau ingin hal itu berlaku setiap hari, maka kau harus melakukan hal ini secara rutin."
Zero mengernyit mendengar usulan tersebut. Tapi, jika itu bisa membuatnya bebas, Zero menerimanya. Menepis tangan Kaname dari dagunya, dia segera beranjak berdiri. Menatap guru di depannya, Zero tersenyum angkuh.
"Siapa takut?"
.
.
Zero tersenyum sumringah. Dia berjalan menyusuri lorong yang kini masih sepi. Mengingat semua murid masih mengikuti jam pelajaran. Tapi itu membuat suasana hatinya semakin cerah. Hanya ada ketenangan.
Pemuda silver tersebut dengan mudah menjawab ketiga pertanyaan yang diberikan oleh Kaname. Meskipun ada sedikit kesulitan, dia bisa menjawabnya dengan sempurna. Guru berambut coklat tersebut melepaskannya dengan mudah begitu saja.
Ada hal yang membuat Zero merasa aneh. Perlakuan Kaname padanya terasa...melewati batas. Guru itu seperti berusaha untuk mendapat keuntungan mendekatinya. Mengingat kembali tangan Kaname yang menyentuhnya saat pertama kali bertemu membuatnya merinding. Apalagi adegan saat di kelas tadi. Wajah mereka berdua sangatlah dekat, hampir bersentuhan. Zero tidak tahu. Tapi, dia selalu merasa aneh saat berhubungan kontak dengan Kaname. Itu akan menjadi catatan peringatan pertama untuknya.
Jauhi Kaname Kuran.
Menggeleng keras, Zero berusaha mengusir pikiran tentang gurunya itu. Fokusnya kini kembali pada jalan yang sedang dia tapaki. Karena masih belum mengetahui jelas tempat di sekolahan ini, hal pertama yang Zero pikirkan adalah loteng atap sekolah. Disana adalah tempat yang pas untuk tidur. Tempat yang sangat pas untuk mengistirahatkan diri.
"Zero?" Suara yang cukup familiar membuat Zero berhenti sejenak saat berada di lantai tiga. Kakinya yang akan menaiki tangga pun terpaksa turun. Menoleh kebelakang, Zero mendapati pria tinggi menatapnya dengan ekspresi wajah yang keras.
"Kaito?" Atau memang wajahnya sudah seperti itu sejak lahir.
Berjalan mendekat, pria bernama Kaito tersebut merangkul pundak Zero dari samping. "Oh, man! Tidak menyangka kau benar-benar sekolah disini."
Zero memutar kedua bola matanya. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan disini?"
Kaito melepas rangkulannya dan menatap Zero. "Tsk. Apa kau tidak bisa lihat dari penampilanku saja. Aku disini sebagai guru, kau tahu." Seringaian kecil muncul di bibirnya. "Kebanyakan murid memanggilku Takamiya-sensei. Tapi, khusus untukmu, kau boleh memanggilku Kaito-sensei, Zero-chan."
Wajah yang bersangkutan mulai mengerut kesal. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Bakaito."
Kaito mencibir pelan. "Jangan sampai juga kau memanggilku seperti itu di depan yang lain, Zero." Pemuda silver tersebut mendengus pelan. "Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau mengikuti jam pelajaran O-Class?" tanya Kaito.
Zero memalingkan wajahnya dan menggerutu tidak jelas. Melihat itu, Kaito salah satu alisnya dan tersenyum mengejek. Tangannya memegang puncak kepala pemuda silver tersebut dan memutarnya untuk menatapnya, tangannya yang lain terangkat untuk menjentik keras dahi Zero.
"Ohhh..apa ini? Membolos dihari pertama? Yang benar saja!" Zero mendecakkan lidahnya, mulai sedikit kesal. Mengusap dahinya yang sedikit terasa sakit, dia menatap Kaito tajam.
"Ck. Itu bukan urusanmu. Lagipula, kau sendiri juga kenapa disini? Bukankah kau seharusnya berada di kelas untuk mengajar, Kaito-sensei?" sembur Zero dengan nada sarkastis pada saat menyebut nama teman yang berprofesi sebagai guru itu.
"Hei, jangan ikut campur urusan seorang guru. Aku memiliki kesibukan tersendiri. Ah, sudahlah. Aku sangat terlambat. Kita bicara lagi nanti." Dengan begitu, Kaito melambai tangan dan berjalan menjauh.
Menggeleng pelan, Zero kembali lanjut menaiki tangga menuju lantai atap. Sampai di ujung tangga atas, dia bisa melihat sebuah pintu yang tidak lain akan membawanya menuju tempat yang tenang dan nyaman.
Zero mengernyit begitu melihat pintu tersebut tertempel dengan sebuah kertas putih di tengah dengan tulisan yang sangat asing baginya. Berpikir itu hanyalah mainan iseng saja, pemuda tersebut mengabaikannya. Memegang gagang pintu yang sedikit berkarat, dia mencoba membukanya, tapi tidak berhasil. Mengerut bingung, Zero mencoba membukanya lagi. Pintu tersebut terbuka pelan dengan suara deritan kecil. Membuka lebar pintu tersebut, dia perlahan masuk melewati pintu tersebut.
Dan satu hal yang Zero pastikan setelahnya. Tidak seharusnya dia membuka pintu itu begitu saja.
.
.
Suasana gedung sekolah kini lebih ramai setelah bel istirahat berbunyi. Banyak siswa siswi berkeliaran di lorong dan kantin. Beberapa memilih untuk menetap di kelas dan berbincang.
Disalah satu kelas, Kaname tengah menata bukunya yang berserakan di meja setelah pelajaran tadi. Menghela napas, dia mendudukkan diri sejenak. Pikirannya kembali melayang pada sosok Kiryuu yang merupakan anak baru di kelasnya. Rambut silver, iris mata amethyst disertai lentik mata yang lembut namun tajam. Ditambah lagi kulit putih pucat yang lembut saat disentuh. Pendapat pertama yang muncul tentang pemuda tersebut adalah 'menarik'. Entah kenapa dia tidak bisa membuang pikiran tentang sosok silver tersebut. Dan sifatnya yang sangat pemberontak membuat Kaname semakin tertarik.
Menopang beberapa buku disalah satu tangannya, Kaname segera beranjak berdiri. Menyungging senyuman pada murid yang berada di kelas, dia berjalan keluar kelas. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat sosok pemuda silver muncul dari pintu. Kaname berpikir bahwa dia adalah Zero Kiryuu. Tapi dia segera membuang asumsi itu begitu melihat perbedaan model rambut murid tersebut. Ditambah lagi, senyuman ramah yang terulas di wajah siswa itu.
Pemuda silver itu bahkan membungkuk begitu melihat Kaname. Mengangkat alis, Kaname menatap pria tersebut dalam-dalam.
"Ahh..iya. maaf. Perkenalkan. Namaku-"
"Ichiru!" Bersamaan dengan teriakan itu, derap langkah cepat itu terdengar semakin mendekat sebelum sosok lain muncul di belakang sosok Kiryuu.
"Yuuki?" Kaname cukup kaget begitu melihat adiknya memukul pelan lengan pemuda yang ternyata bernama Ichiru itu. Begitu tersadar siapa yang memanggilnya tadi, Yuuki segera mengulas senyuman lebar dan berjalan mendekat, menggeret Ichiru bersamanya yang hanya protes karena diperlakukan seperti itu.
"Kaname-nii!"
Dahi Kaname mengerut melihat kedekatan mereka berdua.
"Kalian saling mengenal?"
"Duhh, Kaname-nii. Kami sekelas. Tentu saja kami saling mengenal."
Tapi tetap saja kedekatan mereka berdua terlihat tidak wajar. Untuk saat ini, Kaname mengikutinya saja.
"Perkenalkan kakakku, Kaname Kuran. Dia menjabat sebagai guru disini. Dan ini Ichiru Kiryuu. Dia baru saja pindah kesini hari ini. Aku dengar, dia memiliki kakak kembar di kelas ini."
'Sangat mirip. Hanya berbeda rambut saja.' Beberapa murid di kelas tersebut pun ikut memandang. Melihat sosok wajah yang sama dengan Zero Kiryuu membuat mereka tertarik untuk mendengar percakapan mereka. Apalagi sifatnya yang berbanding terbalik.
Ichiru yang sedari tadi melirik seluruh penjuru ruangan tersebut akhirnya menggeleng pelan. "Sepertinya Nii-chan tidak ada disini," gumamnya pelan. Sedikit kecewa melihat kakaknya yang sudah menghilang. Padahal, Ichiru sudah menyuruh Zero menunggunya saat jam istirahat untuk makan bersama.
Mendengus pelan, Kaname mengibas tangannya pelan. "Dia sudah tidak ada disini sejak pagi tadi."
Tentu saja itu membuat Ichiru kaget. "Hah?"
"Sebenarnya, tadi pagi aku memaksanya untuk mengikuti kelasku. Tapi, sepertinya dia tidak pernah berniat untuk masuk kelas sejak awal. Aku melepaskannya begitu saja setelah dia berhasil menjawab tiga pertanyaan yang aku beri padanya."
Sepertinya itu berhasil membuat Ichiru frustasi. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Ichiru nyengir pelan.
"Maaf. Dia memang seperti itu. Selalu membuat masalah."
"Tidak perlu meminta maaf. Dia sangat menarik," gumam Kaname dengan seringaian kecil di wajahnya.
"Apa?"
"Tidak ada."
Mengabaikan itu, Ichiru mendengus kesal. "Bagus. Sekarang, kemana aku harus mencarinya?"
"Kantin?" saran Kaname yang ditanggapi gelengan pelan dari Ichiru.
"Dia tidak mungkin kesana. Tempat yang sangat ramai sudah pasti bukan tempat favoritnya." Untuk sejenak, Ichiru terlihat berpikir dengan keras, sebelum sebuah jawaban muncul dipikirannya. "Ah, lantai atap."
Begitu kata tempat tersebut keluar dari bibir Ichiru, semua orang yang ada di dalam kelas tersebut membeku. Pemuda silver yang menyadari perubahan suasana tersebut mengernyit bingung. Ditambah lagi murid lain yang mulai bergumam dan berbisik tidak jelas.
"Yang benar lantai atap?"
"Bukankah tempat itu dilarang?"
Ichiru menatap Kaname dan Yuuki seakan meminta penjelasan. Desas desus tidak jelas dari murid dalam kelas tersebut membuatnya semakin khawatir.
Yuuki hanya membuang muka seraya menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sudah jelas memancarkan sedikit kesedihan. Kaname memandang adiknya sejenak, kekhawatiran terpancar di kedua matanya. Sebelum pada akhirnya dia memejamkan mata dan kembali menatap Ichiru.
"Aku sarankan jangan pernah mendekati tempat itu."
.
.
Zero's POV
Berat. Kepalaku terasa sakit. Bahkan tubuhku tidak ada yang mau bekerja sama. Entah apa yang terjadi. Hal terakhir yang aku ingat adalah...dingin. Aura yang sangat dingin. Dan sampai saat ini, sesuatu yang dingin itu masih menyelimutiku. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri seperti ini.
Berusaha mengembalikan semua fungsi tubuhku, aku mencoba mengepalkan kedua tangannya perlahan. Sedikit kaku, tapi berhasil. Dengan susah payah, aku coba membuka kedua mataku. Masih terasa buram, aku memejamkan mataku sejenak dan kembali membukanya.
Es. Tempat ini tertutupi kristal es.
Setelah merasa pening di kepalaku hilang, aku mencoba untuk duduk. Mengusap kepalaku pelan, aku melihat sekelilingku. Ada sedikit kabut, tapi tidak terlalu tebal untuk bisa menghalangi penglihatanku. Ini seperti terkurung dalam barrier es. Meskipun dikelilingi oleh es, aku tidak merasa terlalu dingin.
Dan tidak ada pintu yang aku gunakan untuk masuk sebelumnya.
Mendesah pelan, aku memilih untuk segera beranjak berdiri. Aku tidak mungkin berdiam disini terus menerus. Sudah jelas ini pekerjaan Akuma tipe es. Kemungkinan Akume level Mid. Untuk bisa keluar dari sini, yang akan aku lakukan hanyalah mencari dan menghancurkannya.
Ya, menghancurkannya.
Tanpa Ichiru.
"Sial!" gerutuku pelan. Baru menyadari hal tersebut membuatku semakin kesal.
Karena aku tidak bisa menghancurkan Akuma tanpa Ichiru.
Dan itu adalah batas kemampuanku yang paling aku benci. Itu membuatku terlihat terus bergantung pada orang lain.
Semua lamunanku buyar seketika saat aku merasakan sesuatu yang dingin mulai menggantung di sepatuku. Menoleh cepat, kedua mataku terbelalak begitu melihat lapisan es tipis mulai merambat hingga ujung celana panjangku. Menarik kakiku cepat, lapisan es tersebut langsung retak begitu saja.
Lapisan es itu masih tipis. Bagaimana jadinya jika es itu mulai menebal?
Aku segera mundur menjauh, tapi langsung terjatuh kebelakang begitu kakiku menabrak sebuah bongkahan es besar. Menggerutu, aku berusaha melihat lebih baik bongkahan tersebut. Tapi mataku mengerut seketika begitu bongkahan kristal dihadapanku saat ini tidaklah biasa.
Tentu saja tidak biasa.
Karena di dalam bongkahan es tersebut ada manusia. Seorang wanita.
Lebih tepatnya seorang Siswi Knight dari sekolah ini setelah dilihat dari seragam hitam yang dikenakannya.
Melihat itu saja sudah cukup membuatku tercengang. 'What the fuck? Jadi, ada juga yang pernah terjebak disini?' mendecih kesal, aku hanya bisa mengacak rambutku. Satu masalah lagi. Tidak mungkin kan aku meninggalkan gadis ini begitu saja.
Tapi, mengingat gadis tersebut adalah seorang Knight, itu memunculkan sedikit harapan untuk Aku.
"Ayolah, satu senjata saja. Apapun senjata itu." Aku mulai meraba dan mencari di lantai berlapiskan es tersebut. Berharap menemukan senjata milik gadis yang membeku tersebut.
Wanita itu tidak mungkin membeku begitu saja tanpa perlawanan kan? Semua knight pasti bisa mengeluarkan senjata. Mungkin saja gadis itu menjatuhkan senjatanya disekitar sini. Meskipun kemungkinan itu sangat kecil.
Tidak sepertiku. Meskipun seorang knight, aku tidak bisa mengeluarkan senjata dengan sendirinya.
Menggeleng pelan, aku kembali fokus pada pencarianku. Tak jauh dari tempatku mencari, aku bisa melihat sesuatu yang silau. Tanpa berpikir panjang, aku segera menghampiri benda tersebut. Aku tersenyum menyeringai begitu melihat sebuah senjata berwarna emas.
Anak panah.
"Oh, keberuntunganku."
Aku segera mengambil anak panah itu. begitu berada dalam genggamanku, benda tersebut mulai mengeluarkan cahaya silver. Tidak hanya itu, anak panah tersebut mulai berubah bentuk.
Berubah menjadi sebuah pistol silver. Bloody Rose.
"Aku memang tidak bisa mengeluarkan senjata." Kembali beranjak berdiri, aku berjalan kembali menuju bongkahan kristal yang melingkup gadis tadi. Mengarahkan pistol di tanganku ke arah bongkahan tersebut, jari telunjukku siap untuk menarik pelatuk.
"Tapi setidaknya, aku bisa menyentuh senjata milik Knight lain dan mengubahnya sesuka hatiku."
Dorr!
End Zero's POV
.
.
Normal POV
Ichiru menatap Kaname tajam. "Memangnya kenapa?" Pernyataan Kaname untuk menjauhi lantai atap membuatnya sedikit resah.
Suasana menjadi hening. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Kaname terlihat sedikit canggung untuk bisa menjawabnya. Sedari tadi matanya bergerak menuju Yuuki yang hanya terdiam menunduk.
Melihat mereka yang tidak ada merespon membuat Ichiru semakin frustasi.
"Aku akan mengecek Nii-chan ke lantai atap." Sebelum Ichiru bisa mengambil langkah keluar dari kelas, Yuuki menahan tangannya.
Menoleh, Ichiru mengernyit bingung begitu melihat kesedihan terpancar di wajah Yuuki. "Yuuki?"
"Jangan kesana."
"Memang kenapa?" Ichiru merasa sedikit lelah telah mengulang pertanyaan tersebut. Meski hanya dua kali, itu sudah membuatnya jengah.
Menegak ludah dalam-dalam, Yuuki mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Ichiru.
"Tempat itu berbahaya. Ada sesuatu disana yang mungkin tidak bisa kita lawan."
"Yuuki-"
"Tidak, Kaname-nii. Aku harus menceritakannya."
Itu membuat Ichiru semakin gelisah. "Apa maksudmu?"
Menarik napas dalam-dalam, Yuuki mengangkat wajahnya untuk menatap Ichiru. "Dulu tempat itu sering dikunjungi banyak murid. disana adalah tempat yang sangat nyaman untuk istirahat dan berkumpul bersama. Tapi itu tidak lagi."
Ichiru mengernyit pelan, tapi memilih untuk dian saja dan membiarkan Yuuki melanjutkan penjelasannya.
"Beberapa dari murid yang berada disana mulai merasa sesuatu yang aneh. Ada yang tiba-tiba merasa hawakan dingin disana. Lalu, ada juga yang pernah melihat pintu tiba-tiba menghilang begitu saja. Tapi pintu itu kembali lagi muncul begiu ada murid lain yang membukanya dari luar. Hari kedepannya, ada juga yang kesusahan membuka pintu dari luar."
"Beberapa orang berpikir bahwa itu hanya halusinasi belaka. Tapi itu cukup membuat orang lain takut untuk memasukinya. Murid yang berkunjung ke lantai atap mulai berkurang hingga tidak ada sama sekali."
"Tapi, salah satu temanku dari golongan Knight pergi kesana dan terkunci. Aku sudah mencoba membukanya, tapi tidak pernah berhasil. Beberapa guru terhebat disini bahkan tidak bisa berkutik saat mencoba untuk menghancurkan pintunya. Sekuat apapun serangan itu tidak memberikan satu gores kecil pada pintu itu. Untuk singkatnya, temanku terjebak disana. Satu bulan hingga sekarang."
"Ohh." Itu membuat Ichiru diam tidak berkutik. Dia baru bisa mengerti arti kesedihan yang Yuuki tunjukkan tadi. "Kenapa tidak mencobanya lewat luar sekolah?"
Yuuki menggeleng. "Dari luar, itu hanya seperti lantai atap biasa."
Ichiru terdiam sejenak. "Maaf." Yuuki sedikit tersentak mendengar perkataan maaf tersebut, tapi kemudian tersenyum.
"Tidak apa-apa. Jangan kau pikirkan."
"Setidaknya itu cukup meyakinkanmu kalau kakakmu tidak kesana. Dia tidak mungkin bisa membuka pintunya, kan?" sambung Kaname.
Ichiru tertawa kaku. "Ya, tentu saja." Tapi mengingat masa lalu Zero yang sering membuat masalah membuat Ichiru gelisah. 'semoga saja.'
"Ichiru?" Tiga orang yang berada di dekat pintu segera menoleh, mendapati Kaito yang kini bersandar di sisi pintu.
"Kaito!"
"Hei, Kaito-sensei untukmu, Ichiru. Aku seorang guru disini."
"Kalian saling kenal?" tanya Kaname dengan dahi berkerut.
"Ya. Apa itu masalah untukmu, Kuran?" tanya Kaito menyeringai seraya menyampirkan tangannya ke bahu Ichiru. Kaname hanya memutar bola matanya dan mengangkat bahu.
"Apa itu berarti, kau juga kenal dengan Kakak Ichiru?" tanya Yuuki
Seakan mengingat sesuatu Kaito segera melepas rangkulannya dan menjentikkan tangannya. "Ah, iya. Aku bertemu dengan Zero tadi."
"Benarkah? Dimana?" tanya Ichiru mendesak, merasa lega kakaknya baik-baik saja.
"Aku bertemu dengannya saat pertengahan jam pertama O-Class di lantai tiga. Aku ingin mengambil sesuatu di lantai satu. Sepertinya Zero akan naik ke tangga atas." Penjelasan itu membuat ketiganya membeku seketika.
"A-apa kau bertanya kemana dia?" tanya Ichiru mulai gelisah kembali.
"Tidak, aku tidak bertanya. Aku pikir dia menuju lantai atap." Melihat ekspresi suram Ichiru membuat Kaito semakin bingung. "Memang kenapa?"
"Kau tahu kan kalau lantai atap tidak bolah ada yang mendekati."
"Hei, ini tidak seperti Zero bisa membuka pintu itu. Dia tidak mungkin bisa membukanya."
Kedua mata Kaname menajam. "Well, apa kau bertemu dengannya lagi saat kau kembali naik menuju lantai tiga."
Kaito menjengit kaget. Memalingkan wajahnya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya, setelah kau mengatakannya, aku baru juga menyadari kalau aku tidak bertemu dengan Zero saat naik lagi."
"Oh, shit!"
.
.
TBC.
.
.
A/N : Fiuhh! Akhirnya selesai juga. Bagaimana? Aneh kah? Membosankan? Kurang bagus? Kurang menarik? Saran? Atau mungkin ada yang ditanyakan?
Silahkan tekan 'Review' dan tulis uneg-uneg kalian disana, oke? ^^
Jaa nee!
