Bohemian Rhapsody adalah lagu yang akhir-akhir ini sering ia dengar. Secara tidak langsung lagu itu menggambarkan keadaan dirinya sekarang.

Dihantui rasa berdosa karena telah membunuh puluhan orang yang tak dikenal maupun yang ia tak dendam. Ia selalu menekan pelatuk yang ada ditangannya lalu darah memuncrat keluar seperti batu yang sengaja dilempar kedalam air. Tidak peduli orang yang ia bunuh itu baik atau buru, hitam atau putih, laki-laki atau perempuan, cantik atau jelek. Semua nya juga pasti akan mati lalu kembali kesana. Ia merasa sangat berdosa karena telah membunuh orang-orang itu namun lama kelamaan seiring dengan berjalannya waktu dosa yang terus-terusan menumpuk itu bagaikan hal sepele yang dengan mudahnya diabaikan begitu saja.

Saat malam tiba, ia menjadi seorang pembunuh. Saat pagi datang kembali dia hanyalah seorang pelajar biasa dan juga seorang 'anjing penjaga' Katsuki Yuuri, anak dari bosnnya. Itulah kehidupan ganda yang Victor jalani untuk sekarang ini.

Tapi alasan apa yang membuat bosnya menyuruh dia menjaga sekaligus mengawasi anaknya. Hal itu tidak pernah ia pikirkan. Ia hanya menjalankan tugas seperti layaknya seekor anjing yang tak mempunyai keraguan sama sekali dengan perintah majikannya.

Dari kejauhan saat istirahat tiba, ia selalu mengawasi Yuuri. Meskipun ia sedang berkumpul dengan temannya dimeja yang sama maupun disaat kebetulan kelas mereka sama-sama keluar untuk melakukan sesuatu. Satu hal yang Victor sadari saat melihat Yuuri. Dia tidak pernah terlihat bergaul dengan satupun temannya. Ia hanya berbicara kepada gurunya dan— terakhir kali ia melihat dia berbicara saat Victor sendiri tak sengaja menemukannya dibalik semak-semak dan saat mengajaknya main. Ia tidak pernah menyangka kalau Yuuri adalah anak yang benar-benar pendiam. Ia kira selama ini dia adalah anak yang ceria dan juga manja.

Victor tidak pernah membututi Yuuri karena dia tau sendiri batasannya dalam merecoki kehidupan pribadi seseorang dan jika seandainya hal itu dilakukan maka pasti akan banyak orang yang menaruh curiga kepadanya. Jika terpaksa, dia baru akan melewati garis pembatas itu.

"is this the real life?"

" is this just fantasy?"

"V-!"

Victor terfokus membaca lirik lagu yang ada dilayar handphone miliknya dan ditambah lagi suara dari headset yang begitu kencang membuat otaknya fokus dengan bacaan didepannya. Ia bernyanyi dengan suara yang sengaja dikecilkan, takut mengganggu yang lain.

"Victor!" teriak gadis yang ada dihadapnya sembari mencabut headsetnya kasar. Victor terperanjat kaget dan menatap gadis itu dengan tatapan kesal.

"...Apa?" tanya Victor dengan nada kesal.

"Ada yang mencari mu." Perempuan itu menoleh kearah pintu masuk dan diikuti oleh Victor. Disana seorang laki-laki yang ia kenal tengah bersembunyi dibalik pintu masuk. Hal itu menarik perhatian anak perempuan yang ada didalam kelas karena kelucuannya dan juga banyak suara yang bertanya-tanya siapa anak itu, kenapa dia mencari Victor?.

Victor melepaskan headset dan meletakkan handphonenya begitu saja diatas meja lalu menghampiri Yuuri. Bertanya-tanya dalam hati kenapa Yuuri mencariku disaat seperti ini?

"Ada apa?" tanyanya ramah.

Yuuri tidak memberi jawaban justru menatapnya terus menerus, dia kebingungan. Victor mencengkram kedua lengan atas Yuuri seolah meyakinkan tidak terjadi apa-apa. Tapi Yuuri tetap diam saja. Ia menyerah dan menghela nafas panjang.

"...Bagaimana kalau kita pergi ketaman."

Ajak Victor. Dia berharap disana sepi dan juga Yuuri mau berbicara dengannya empat mata. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba sekali dia mencari dirinya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres— pikirnya. Setelah duduk disalah satu bangku yang kosong mereka baru melanjutkan pembicaraan. Yuuri menoleh kekanan dan kekiri memastikan tidak ada orang lalu mulai berbicara dengan Victor.

"Aku takut... aku ingin pulang."

"Pulang? Kenapa?"

Yuuri tidak menjawab. Kepalanya tertunduk. Badannya gemetar. Victor mengelus pelan kepalanya.

"Baiklah akan kutelpon dulu..."

Dari kantung celana ia mengambil handphone jadul yang selama ini ia sembunyikan, menekan tombol yang ada disana baru menaruhnya tepat disamping telinga.

"Ada apa Vitya? Sekarang aku sedang sibuk!"

"Yuuri ingin pulang. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak mau bilang alasannya ingin pulang jadi bisa kah kau menjemputnya sekarang?"

"...Tahan sebentar.— ...Baik akan kujemput dia sekarang dan kau akan pulang jalan kaki, tidak masalahkan itu?"

"Ya tidak masalah, terima kasih Yakov."

Ia mematikan handphonenya lalu melirik Yuuri.

"Aku sudah menelponnya. Kau hanya perlu menunggu mereka datang saja."

Berselang beberapa menit kemudian bel tanda selesai istirahat berbunyi. Victor menyuruh Yuuri untuk kembali kekelas sembari menunggu Yakov datang menjemput namun Yuuri menolak perintah Victor.

"Yuuri, kumohon... aku masih ada pelajaran—"

"Jangan tinggalkan aku! A-Aku takut!"

Victor mengerjap. Kaget mendengar Yuuri berbicara seperti itu. Ia menghela nafas panjang dan menyerah. Ia memeluk tubuh kecil itu lalu mengelus kepalanya lagi, mencoba menenangkannya. Sebenarnya ia tidak paham dengan hal seperti ini tapi mengingat ia pernah diperlakukan seperti ini oleh ibunya maka tak ada salah mencoba mempraktekannya. 15 menit lamanya Yuuri dalam dekapan Victor hingga handphonenya berbunyi lagi.

"Victor, dimana kau!"

"Di taman bersama Yuuri."

Berselang beberapa menit kemudian, Yakov datang menghampiri mereka. Yakov mengajak Yuuri untuk pulang namun ia menolak karena Victor tidak turut ikut. Ia sekali lagi membujuk Yuuri untuk pulang bersamanya dan meninggalkan Victor disekolah. Lagi, Yuuri menolak. Ia tetap memeluk erat Victor yang sudah memasang wajah kewalahan. Akhirnya mau tak mau Victor harus ikut pulang juga.

Selama diperjalanan, Yuuri terus mendekap Victor. Ia sama sekali tidak mau melepaskannya hingga akhirnya mereka kembali kemansion. Sejujurnya Victor sudah jengkel dan ingin sesegera mungkin anak itu melepaskan pelukannya. Rasanya ingin sekali dia mendorong anak itu namun ia memilih menahan hasratnya dari pada nanti harus berurusan dengan bosnya. Menahan kesal, ia pergi menuju kamar. Setelah sampai ia menaruh barang-barangnya dan juga barang-barang Yuuri lalu berjalan menuju kasur. Yuuri menatapnya dengan tatapan takut namun ia sudah sedikit lebih rileks.

"Yuuri bisa lepaskan aku? Aku ingin merebahkan diri." Anak itu melepaskan pelukannya, membiar kan Victor merebahkan diri. Lalu anak itu ikut merebahkan dirinya disamping Victor.

Ya ampun anak ini menggangu sekali!

"M-Maafkan aku... kak... karena telah membuatmu repot—" Katanya pelan. Matanya melirik seprai putih.

"A-Aku tidak—"

"Tenang saja Yuuri! Aku sama sekali tidak keberatan!" Balasnya bohong.

"...Maaf merepotkan—"

Ia tertidur sebelum akhirnya ia tertidur pulas. Disaat Yuuri tertidur, Victor gunakan kesempatan itu untuk memeriksa Yuuri. Hal ini adalah inisiatifnya sendiri karena sedari tadi ia menyadari gelagat aneh dari Yuuri. Saat seragamnya dibuka ia melihat memar hampir disekujur tubuhnya. Setelah puas ia memasang seragamnya kembali, menyelimutinya lalu pergi melapor kebos. Bos yang mendengar penjelasan Victor terdiam.

"...Bisa kah kau mencari siapa pelakunya? Tapi kau hanya perlu mengawasinya saja. Jika yang melakukan itu anak seumurannya lapor saja dia keguru namun jika pelakunya orang dewasa. Bawa dia kepolisi, apapun caranya."

"Kenapa tidak kubunuh saja dia?"

"Aku hanya ingin mencari aman supaya kau tidak begitu dicurigai. Dan untuk dua hari kedapan aku memintamu untuk beristirahat. Yakov yang akan menggantikanmu." Bosnya menghela nafas panjang. Raut wajahnya tersirat perasaan was-was dan juga lelah.

Setelah selesai memberi laporan ia kembali kekamar dengan mood yang buruk. Pekerjaannya bertambah lagi. Ia ingin menolak tapi tidak bisa. Menolak sama saja dengan mati. Tapi disatu sisi ia bersyukur karena pekerjaannya digantikan oleh Yakov.

Victor mencoba menerima kenyataannya pelan-pelan. Ia mengambil handphone, memasang headset lalu mendengarkan kembali lagu Bohemian Rhaspody yang sempat tertunda.

"Caught in a landslide. No escape from reality"—

Terjebak realita.

Victor sudah tidak pernah bermimpi dan berangan-angan lagi.

Kematian orangtua nya selalu ia kenang. Dan pekerjaannya sebagai pembunuh membuat dia tidak pernah berangan-angan lagi semenjak saat itu. Dendam menggerogoti hatinya dan Dosa membuat hatinya terasa berat, tapi ia tidak menyadarinya.

Melihat Yuuri yang begitu dekat dengan ayahnya membuat Victor iri. Ia rindu sekali bagaimana mereka saling bercengkraman satu sama lain tapi kini dia sudah mati. Victor tidak bisa berbuat apa-apa.

Ia melirik Yuuri. Menghela nafas panjang.

Beruntung sekali anak itu—

Tiba-tiba setelah ia memikirkan anak itu, Yuuri menggeliat dan terbangun. Ia terdiam beberapa saat, menoleh kekanan lalu memperhatikan Victor yang sedang merebahkan dirinya disebelahnya. Ia mengerjap lalu mendekati Victor seperti seekor kucing yang ingin bermanja. Victor mengabaikannya dan tetap mendengarkan lagu.

"...Kak—"

Victor melirik anak itu.

"Laki-laki itu selalu menghantuiku— A-Aku takut sekali... Apalagi saat dia melakukan hal itu— Tapi... jika aku melaporkan hal ini ke ayah maka— dia akan mati. Aku tidak mau dia mati! Jadi karena itu... Tolong aku..."

"Dia siapa?" Tanya Victor penasaran.

"...Dia—" Tiba-tiba Yuuri memeluk erat Victor. Badannya gemetaran lagi.

"Tenang-tenang, kakak ada disini, jangan takut... aku akan melindungimu."

"Benarkah?"

"Un! Aku janji!"

Victor ingin tertawa jika mengetahui kenyataan kalau ayahnya tidak akan membunuh orang itu. Ia menahan tawanya dan berusaha tersenyum didepan Yuuri. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya ia menangkap laki-laki itu.

00000000