DISCLAIMER :

Semua karakter yang digunakan adalah milik Masashi Kisimoto (karakter Naruto) dan Ichiei Ishibumi (karakter high school DxD) kesamaan dalam unsur cerita adalah suatu kebetulan. Isi fic ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun

RATING : M

GENRE : hurt / comfort , supernatural

AUTHOR : RyuzakiMisaki (last_lotus)

Lite Lust

Cerita sebelumnya :

Uzumaki Naruto, seorang anggota kepolisian menyamar menjadi seorang siswa guna menuntaskan misinya. Pengalaman supernatural terjadi, Naruto pusing dibuatnya.

Distrik 10

Naruto berjalan pelan menyusuri trotoar. Matanya sesekali terpejam, Ia kembali memikirkan kejadian p tadi. Gadis itu benar-benar membuatnya penasaran, bagaimana bisa ada orang yang dapat hadir dalam ruangan itu tanpa Ia sadari. Bagaimanapun Naruto adalah orang yang terlatih. Pikiran parno Naruto timbul, mungkinkah dia hantu? Wajah Naruto berubah menjadi masam ketika memikirkan hal itu.

"Aku akan dipecat.", gumamnya kecil.

"Dipecat dari apa Namikaze? Kun.", seorang gadis dengan anggun menyusul langkah Naruto. Aroma lavender tipis perlahan menyergap.

"Eh, Kau?", Naruto tak dapat menyembunyikan kagetnya. Ia berhenti dan menatap intens mata gadis itu. Seolah ada daya tarik kuat dari mata itu.

"Ya, ini Aku.", tersenyum tipis, "Kenapa kau terlihat ketakutan?"

"Apa kau Hantu? Kau datang tanpa diundang dan kau pergi tanpa diantar ", dengan polos kalimat itu keluar dari mulut Naruto.

'eh?' "Apa aku terlihat seperti Hantu hm? Akan kujawab jujur apabila kau juga menjawab pertanyaanku tadi", wajah halus gadis itu tak berubah.

Mata Naruto membulat, sadar dari tatapannya Naruto kembali berjalan, "Ahaha aku hanya sedang mengkhayall lupakan saja." Wajahnya menoleh ke kiri mencoba mencari sesuatu.

"Kau bukan pembohong yang baik.", gadis itu tetap tersenyum walau anda bicaranya menjadi sedikit sinis.

'Deg' "Apa kau dapat membaca pikiran em?", Naruto berbalik mengamati gadis lavender ini.

Rambut indigo panjang, seragam yang sama dengannya, Naruto tak berani menatap mata gadis itu. Ia berjongkok dan menyentuh sepatu pantofel sang gadis. 'jelas bukan hantu' pikir Naruto. Kembali berdiri Naruto mengamati pin kecil pada dada gadis itu.

'H. Hinata' mata Naruto membaca pin yang nampaknya identitas sang lavender.

"Namikaze-Kun, tak kusangka kau adalah orang yang mesum." Kekehan kecil gadis itu menyadarkan Naruto dari aktifitasnya.

"Eh ano, aku hanya sedang membaca pin ini.", dengan polos Naruto menyentuh pin itu, oh betapa bodohnya kau Naruto.

"Kau lebih mesum dari yang kuduga.", gadis itu menyentil dahi Naruto.

"Alibi, kau bisa bertanya apabila kau ingin namaku."

Sadar dari kekonyolannya Naruto bergegas meneruskan langkahnya. Tunggu dari mana gadis itu mengetahui nama Naruto? Lebih-lebih nama marahnya. Bila diingat Hinata memanggil Naruto dengan nama Namikaze kan?

"ehehe, gomen ne, Hinata. Aku benar-benar kebingungan dengan sekolah ini.", Naruto berjalan santai. Ia berpikir barang kali Ia dapat mencari informasi darinya.

Hinata berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan Naruto. Sepertinya ada sesuatu yang menganggu pikirannya. 'kenapa aku merasakan ada Youkai di sekitar sini?'

"Ne? Kau tak mendengarku Hinata?"

"Kau sendiri belum menjawab pertanyaanku, setidaknya tunjukan martabatmu sebagai po-", mata Hinata melebar aroma lavender menguat.

'Gadis macam apa kau Hinata' Naruto sadar betul bahwa Hinata hendak mengatakan martabat polisi. Namun apa yang menyebabkan Ia berhenti. Naruto menoleh seiring menguatnya aroma lavender Hinata. Insting polisinya menajam, dilihatnya taring Hinata memanjang.

"Hinata, apa yang-", Naruto ambruk sedetik setelah menoleh. Nampaknya mata Naruto menatap manik Hinata yang telah melebar. Hipnotis mata kah?

Hinata melihat Naruto dengan tatapan datar. Dengan cepat Hinata menyandarkan tubuh Naruto ke dinding jalan.

"Manusia lemah"

Hinata berlalu meninggalkan Naruto , dengan cepat Ia berbelok ke arah gang Hinata mendongakkan kepala, terlihat wajah anggunnya menjadi sedikit angkuh. Dihadapannya terlihat dua gadis yang tak asing lagi. Matanya yang tajam dan taring sedikit memanjang Hinata nampak membuka mulutnya.

"Apa yang kalian inginkan? Bagaimana bisa seekor Uzumaki mengawal pendeta tengil?"

"Kau monster!", Tayuya berlari menyambut Hinata, tangannya terlihat lebih besar dari ukuran manusia normal lebih lebih dengan bulu dan cakar terhunus.

"Ironi sekali, kau memerlukan cermin di kandangmu!", dengan tenang Hinata melompat menghindari sergapan Tayuya. Kini Ia melayang mendekati Shion yang sedari tadi sibuk merapalkan Do'a.

'srak' tubuh Hinata tersungkur, tepat setelah mendarat di depan Sbion Ia kehilangan keseimbangan.

'Sial! Aku lupa peraturannya!', Hinata menatap benci kearah Shion.

"Byakugan!" mata Hinata nampak menajam, otot di pelipis matanya membengkak. Aroma lavender menyeruak. Hal sama yang menimpa Naruto.

Shion terpaku, dalam mulutnya keluar gumaman repetisi Tuhan tolong Aku.Tayuya segera berlari mendekati Hinata yang kini berusaha bangkit.

"Shion-Sama! Keluarkan pasak itu, Vampir ini harus segera dibasmi!", Tayuya berteriak seraya mengayunkan cakarnya pada punggung Hinata.

Tak menjawab Shion kini balik tersungkur. Dengan tendangan memutar Hinata menghantam perut Tayuya. Terpental beberapa meter, Hinata memanfaatkan kesempatan itu untuk melompat pergi. Luka di punggungnya lumayan serius. Makhluk macam apa yang dapat berbuat demikian?

Segera bangkit Tayuya berlari mengejar Hinata, kini kaki yang ia gunakan tak lagi mencirikan kaki manusia, tubuhnya sedikit membungkuk. Ia mirip sekali seperti serigala raksasa yang mampu berdiri. Langkahnya yang mantab terhenti, Ia mengurungkan niatnya. Kini Hinata sudah tak terlihat. Tayuya menunduk mendekati Shion. Tergeletak tanpa daya, Shion memandang jijik kearah temannya itu. Apa yang salah?

Klinik kepolisian pusat

Naruto terbaring lemah. Ia sudah tiga kali dipindahkan dari rumah sakit distrik sepuluh hingga akhirnya Ia sampai disini. Matanya kini terbuka, serba putih dan hijau. Naruto mencoba duduk dan mendapati cahaya terlalu terang untuk matanya.

"Namikaze, ceritakan apa yang terjadi padamu! Kami menjemputmu dari rumah sakit pusat konoha, nyawamu hampir tak tertolong!", suara tinggi Danzo menyeruak ketika Naruto berhasil duduk.

"Entahlah", Naruto menunduk "Aku tidak tau apa yang terjadi.", suaranya lirih. Ia memberanikan diri menatap Danzo.

"Danzo-Sama, misi yang kau berikan itu dan sekolah itu-", Naruto mencoba berargumen, namun Danzo dengan keras menggebrak meja tempat obat.

"Aku tak mau mendengar misi itu! Kau keluar! Kau tamat!",

Mata Naruto membulat, respon yang sangat tak terduga.

"Aku hanya ingin mendengar apa yang terjadi padamu hari itu! Hari dimana kau gagal dalam tugasmu!"

Gagal? Apa maksudnya gagal? Apa Naruto membuat suatu kesalahan? Naruto kini bangkit, berjalan tenang turun dari ranjang. Ia memberi hormat kecil pada Danzo.

"Laporanku, sore itu aku berjalan pulang dari sekolah, aku berjumpa dengan seorang gadis, sepertinya Ia mengetahui identitasku. Aku hendak menanyakan darimana Ia tau hal itu, namun ketika aku berbalik aku sudah terbangun dan berada disini, komandan memecatku dan sekarang aku akan mengemasi barangku", nada datar Naruto menceritakan detail kejadian hari itu.

Danzo sempat tersenyum kecut ketika mendengar laporan anak buahnya itu. "Kau pingsan selama tiga hari Naruto, aku menerima laporan tak masuk akalmu itu. Namun aku tak menyangka misi rahasia ini bocor. Dan gadis yang menghipnotismu itu, sepertinya Ia anggota Yakuza, wajar apabila Ia tau tentang misi ini dan ingin menyingkirkan polisi sepertimu." Danzo mengulurkan sebuah amplop yang kita tau berisi surat pemutusan hubungan kerja Naruto.

"Tak perlu repot mengemasinya Naruto, aku sudah memindahkannya di markas distrik sepuluh. Tepatnya rumah persembunyianmu, Aku ingin kau menjalani hidup normal disana dan menuntaskan sekolahmu! Aku tak mau ambil resiko dengan membuat para Yakuza curiga"

Naruto mengangkat sebelah alisnya. Bila dipikir benar juga perintah Danzo. Apalagi Hinata tau akan profesinya sebagai polisi. Memulai kehidupan baru dengan latar belakang yang sama. Tentu tak akan ada yang curiga dan semuanya akan terlihat wajar.

"Dan bila aku menolak?" Naruto angkat bicara, walau sebenarnya Ia membenci distrik sepuluh lebih lebih rumah kuno itu. Namun rasa penasaran akan kebenaran membuatnya ingin kembali kesana.

"Dimana martabatmu! Aku melakukan ini untukmu juga, ambil rumah itu! Dalam surat ini aku sudah memberinya dengan dokumen lengkap, anggap saja hadiah dari kepolisian atas jasamu.", Danzo melempar amplop phk Naruto.

"Lebih tepatnya kebaikan nama baikmu eh?", Naruto berlalu dengan masih mengenakan pakaian pasien.

Distrik 10

Malam di distrik sepuluh, semakin larut semakin berkelap. Naruto nampak mengendarai sepeda barunya. Mengitari komplek rumahnya, bagaimanapun ia harus hapal dengan area sekitar kan? Suasana semakin ramai. Naruto menyingkirkan pikiran paranoid tentang rumahnya yang seram.

"Memulai hidup baru katanya, yang benar saja. Lebih baik aku pulang ke distrik tempat Ayah", Naruto menggerutu. Baginya Ia tak mau merepotkan Ayahnya akan tetapi tinggal sendiri ditempat menyeramkan juga bukanlah hal yang menyenangkan.

Memarkirkan sepeda, Naruto masuk kedalam sebuah kedai. Raut wajahnya terang ketika Ia melihat menu favoritnya terpampang. 'Ramen' Ya, hanya Ramen. Namun hanya dengan satu kata itu Naruto dapat tersenyum.

"Ramen dua porsi Jii-San", Naruto duduk menghadap meja sederhana milik kedai itu. Sebenarnya Naruto sedikit curiga. Bagaimana bisa ada sebuah kedai sederhana di distrik sepuluh. Namun hal itu nampaknya tak Ia pedulikan. Apalagi ketika ramen panas terhidang segar di hadapannya. 'tinggal disini sepertinya tidak terlalu buruk' Batin Naruto berkata.

Hyuuga Great Mansion

Sebuah bangunan megah nampak mewah dengan sebuah gerbang besar di depannya. Halaman depan yang luas dihiasi pancuran dan taman, membuat elegan dan nampak klasik. Mansion dengan gaya eropa ini adalah tempat tinggal dari pimpinan klan Hguuga. Klan terpandang di konoha, termasuk klan paling tua sejajar dengan Uchiha dan Uzumaki.

"Hinata-Sama, katakan padaku siapa yang berani menyentuh anda!", pemuda dengan rambut panjang terlihat emosi ketika memasuki ruangan tengah mansion itu.

"Sudahlah Neji, kau tidak perlu berlebihan. Lagipula luka ini sudah sembuh total." Hinata terlihat sedang duduk dan menikmati sirup merah pada cangkirnya.

Hamparan meja besar dengan lilin klasik. Hinata menaruh cangkirnya. Wajahnya yang putih bersih terlihat segar.

"Aku malah berpikir untuk menyudahi konflik ini, sudah saatnya kita hidup dalam damai." Hinata tersenyum kecil ketika mengatakan damai.

"Maksudmu kita akan berdamai dengan mereka? Dengan Youkai dan para pemburu setan!", Neji menggeram tanda tak setuju. Matanya melotot memamerkan urat-urat disekitar pelipisnya.

"Cih, apa kau tak dengar? Pahamilah kata menyudahi Neji dan siapkan pasukan! Keinginan ayah akan terwujud." , Hinata dengan taringnya yang memanjang menatap lukisan seorang pria dengan pakaian tradisional jepang.

End of Chapter III

Author Note :

Demikianlah chapter tiga, aku harap pertanyaan kalian terjawab :D mungkin peminat fic ini sangat sedikit. Aku maklum sih :D dan kalian yang jadi peminat tolong berikan review dong, sekedar penyemangat atau kritik dan saran itu akan sangat membantu. :D

Bila kalian menyukai fic ini silahkan review, follow, dan masukan pada list favorit kalian. Jaa-ne

Lotus-Out