DISCLAIMER :
Semua karakter yang digunakan adalah milik Masashi Kisimoto (karakter Naruto) dan Ichiei Ishibumi (karakter high school DxD) kesamaan dalam unsur cerita adalah suatu kebetulan. Isi fic ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun
RATING : M
GENRE : hurt / comfort , supernatural
AUTHOR : RyuzakiMisaki (last_lotus)
Lite Lust
Cerita sebelumnya :
Uzumaki Naruto, remaja yang direkrut oleh pihak kepolisian. Mendapat misi untuk membongkar kasus pada suatu sekolah, namun ditengah misi ia mendapat pengalaman supernatural yang membuatnya harus kehilangan pekerjaannya. Kini Ia menjalani kehidupannya seperti saat dia bertugas mengawasi sekolah untuk menutupi kecurigaan para yakuza?
Menjalani kehidupan normal Naruto berusaha. Namun hal itu sirna. Malam itu Naruto pulang dari makan malamnya. Berpapasan dengan suatu gerombolan yakuza membuat nafsu Naruto bangkit. Apalagi dalam gerombolan tadi terdapat Hinata, gadis yang membuatnya dipecat. Naruto mengejar mereka namun hal yang terjadi, kejadian diluar nalar manusia menimpa!
Act II
CHAPTER V
"Namikaze, bangunlah", Hinata menggeliat lemas. Wajahnya yang pucat berusaha menggapai leher Naruto.
Bukit lapang dengan hamparan rumput. Langit malam bertabur bintang terlihat damai. Hinata masih berusaha menggapai leher Naruto. Well setidaknya hanya itu yang dapat ia lakukan. Darah? Vampir membutuhkan darah untuk hidup. Nyaris sama dengan manusia membutuhkan nutrisi. Bedanya? Entahlah, lagipula itu tak penting.
Naruto nampak kacau dengan wajah yang gelisah. Matanya terpejam, namun nafasnya yang teratur menjadi tanda bahwa Ia baik-baik saja. Kontras dengan Hinata yang nafasnya makin melemah. Kini Hinata terlihat seperti sedang sekarat. Gigi taring mulai memanjang kini Ia sampai pada batas nya. Ia kembali pingsan.
Untuk ukuran vampir sekarat Ia cukup menjunjung tinggi martabat kaumnya. Vampir dapat menghisap darah korbannya dari manapun, namun aturan formal menyatakan bahwa leher adalah tempat terhormat untuk menyesap darah. Hampir sama dengan makan menggunakan tangan kanan. Ini tatakrama bung.
"ugh"
Naruto terbangun, aroma lavender membuai hidungnya. Sepertinya ia ingin kembali ke dunia mimpi.
'Srak'
Terduduk, Naruto membuat Hinata jatuh dari pelukannya. Ia segera menggoyang-goyangkan tubuh Hinata.
"Hinata, bangunlah dan jelaskan apa yang terjadi disini!"
"Namikaze-Kun", suara Hinata lirih hampir tak terdengar.
"Ne, kau seperti orang sekarat? Apa kau baik-baik saja?", Naruto mendekatkan telinganya pada mulut Hinata.
'Amph' dengan lemah Hinata membenamkan wajah putihnya pada leher Naruto.
"Akh! Apa yang kau-", protes Naruto sepertinya terpotong.
Tak berlangsung lebih dari dua detik, Naruto ambruk dengan wajah pusat pasi. Sepertinya Hinata menghisap darahnya dengan sedikit bernafsu atau mungkin terlalu bernafsu. Dia sekarat, apa yang kau harapkan dari vampir sekarat lebih-lebih kau menyuguhkan leher dengan polos.
Tak lebih dari lima detik, Hinata menjauhkan wajahnya dari leher Naruto. Tindakan yang sepertinya tak mungkin dilakukan vampir yang sedang butuh darah. Ia membiarkan Naruto hidup! Biasanya vampir tak akan menyisakan darah milik korbannya.
"Darah terbaik yang pernah kuminum", Hinata menyeka sedikit darah pada bibirnya.
Hinata bangkit dan mengambil posisi duduk bersimpuh. Ia menarik Naruto dan menyandarkan kepala Naruto pada pahanya. Naruto menatap heran pada Hinata. Gadis itu dengan kejam menarik Naruto, namun dengan lembut menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Naruto. Aku harus bilang apalagi? Begitulah posisi meraka saat ini.
'ini jelas bukan neraka, sepertinya Naruto ikut masuk kedalam portal sehingga membuat perpindahan dimensi sedikit kacau' Hinata dengan anggun mengamati wilayah sekitarnya.
'sepertinya Byakugan belum dapat kugunakan, aku harus menghemat tenaga disini'
"Kau monster!" Naruto mendesis pada Hinata.
"Secara teknis aku adalah vampir, namun kau boleh memanggilku monster bila kau suka." Dengan dingin Hinata menanggapi Naruto.
"Baiklah nona penghisap darah, apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi disini?"
Naruto mencoba bangun dari pangkuan Hinata, namun kepalanya masih terlalu berat untuk digerakkan. Ia kehilangan banyak darah.
"Sepertinya kita berpindah dimensi, tapi entahlah aku juga tidak tau. Tempat ini terlihat sangat asing, sepertinya kita terjebak disini." Hinata memandang sekitar, nampaknya ia memikirkan sesuatu.
"Kita! Kau lah yang membuat semua ini terjadi! Pekerjaanku! Kehidupan normalku! Kau mengambil semua yang kumiliki, bahkan kau mengambil darahku." Dengan benci Naruto menjatuhkan dirinya dari pangkuan Hinata.
"Sebenarnya kau yang terlalu mencampuri urusan kami Namikaze, kau yang mendekati kami, kau bahkan melompat kedalam altar dengan kesadaranmu.", Hinata menyipitkan matanya, tak mau kalah dengan lawan bicaranya.
"Kau monster! Pergilah dariku, tinggalkan aku sendiri!"
Naruto mencoba bangun, dengan terhuyung-huyung ia berdiri. Tangannya meraba leher tempat Hinata menyesap darah. Sensasi rasa sakit menyerang sekujur tubuhnya, Ia terjatuh lagi. Hinata datang menghampirinya.
"Kau yakin? Manusia lemah sepertimu tak akan bertahan lama di dunia asing seperti ini.", Hinata berbisik tepat dibelakang telinga Naruto.
"Lagipula aku berhutang dua nyawa padamu, aku harus membalasnya kan?", Hinata memapah Naruto, membantunya berdiri dan berjalan menuruni bukit.
Naruto menghela nafas dengan lesu. Bagaimanapun yang dikatakan Hinata benar. Tubuhnya masih terlalu lemah, bahkan untuk berjalan sendiri. Hinata dan Naruto menuruni bukit, jalan setapak membawa mereka keluar dari bukit kecil tadi menuju sebuah jalanan kota.
"Apa rencananya Hinata?", Naruto dengan tertatih melepaskan diri dari Hinata.
"Dengan keadaan kita yang seperti ini, bertahan hidup adalah yang paling utama. Kita perlu suatu tempat untuk beristirahat dan memikirkan rencana kita lagi." Hinata mengangkat kepalanya melihat langit malam.
"Bagaimana kalau tempat ibadah! Mereka pasti mau menampung kita!", Naruto menatap Hinata yang kini tersenyum kecut.
"Apa kau ingin menyiksaku Namikaze? Lebih baik pasak suci menghujam jantungku daripada harus kesana!"
Benar juga, Hinata adalah vampir. Pastinya ia akan mengalami kesakitan luar biasa apabila mendekati simbol-simbol agama. Kini mereka duduk berdampingan disebuah kursi panjang.
"Bagaimana kalau menyewa sebuah rumah?" Hinata membuka mulut. Pandangannya tertuju pada sebuah agensi penyewaan dan penjualan rumah di seberang jalan.
"Memangnya bagaimana caranya? Maaf saja tapi aku tidak membawa sepeserpun uang", Naruto tertunduk lesu, Hinata berpikir dengan tidak logis. Lagipula jika ada uang, mata uang tempat ini belum pasti sama kan?
"Tunggulah disini Namikaze, aku akan membeli rumah termahal dikota ini!", Hinata bangkit dan berjalan memasuki bangunan di seberang jalan.
Naruto terkekeh pelan, "Agensi properti eh? Apa rencanamu Hinata?"
Naruto memandang jalanan sepi dengan sedikit sedih. Ia teringat oleh konoha, bagimana cara kembali kesana? Namun beberapa menit lamunannya buyar. Hinata keluar dari tempat tadi dengan tersenyum angkuh.
"Kita dapatkan rumahnya, jaraknya hanya dua blok dari sini." Hinata memamerkan kunci kepada Naruto.
"A-Apa? Bagaimana bisa? Kau menghipnotis petugasnya?", Naruto bangkit dengan terkejut, Ia segera menghampiri Hinata dan merebut kunci itu.
"Ah, tebakan yang beruntung, Namikaze-kun", Hinata terkekeh pelan. Berjalan di depan Hinata memimpin Naruto.
"Ne panggil aku Naruto saja, em Hinata? Apa kau bisa menghipnotis mesin minum itu? Aku sangat haus.", tangan Naruto menunjuk sebuah mesin minum otomatis dibawah lampu jalan.
"Baka ne, ini hanya mempan pada makhluk hidup Namikaze,", Hinata melemparkan dompet kebelakang.
"Ambil saja sesukamu", sambung Hinata.
Naruto menangkap dompet itu dan berlari kearah mesin minum, "Dari mana kau mengambilnya Hinata!"
"Anggap saja itu bonus dari penjual rumah tadi.", dengan dingin Hinata meninggalkan Naruto yang sibuk mengambil beberapa kaleng minuman.
Great Apartement
Mulut Naruto terbuka, kakinya melangkah masuk dan mengelilingi ruangan. Hinata tertawa kecil melihat tingkah Naruto. Apa manusia selalu antusias pada hal-hal baru? Batin Hinata.
"Ne dimana ucapan terimakasihnya? Namikaze-kun?", Hinata merebahkan badannya pada sebuah sofa besar.
"Sudah kubilang panggil aku Naruto saja, hnnh tidak ada kata terimakasih! Lagipula ini tak sebanding bahkan dengan tiap tetes darah yang kau ambil!", Naruto terlihat sungkan untuk mengucapkan terima kasih.
Hinata membuka jaketnya kaos hitam polos terlihat ketat membungkus badannya. Kontras sekali dengan warna kulitnya yang hitam. Naruto mengalihkan pandangannya. Ia tak mau terlihat memerah. Langkahnya meninggalkan Hinata mencoba mencari dapur.
"Manusia aneh", Hinata tersenyum simpul melihat respon Naruto.
Hinata bangkit dan mencoba menyusul Naruto. Langkahnya anggun tak mengeluarkan suara.
"Naruto, berikan aku sedikit darahmu", Hinata tersenyum kecil, Ia mencoba menggoda Naruto.
"A-apa? Pergi kau monster!", Naruto tergagap ketika mengetahui Hinata mencoba mendekatinya.
"Ayolah Naruto, setetes saja~", Hinata memandang sayu Naruto yang ketakutan.
Naruto beringsut ia mundur dan kini terpojok pada dinding dapur.
"Hinata, sadarlah! Kau membuatku takut!",
"pffft , Ayolah Naruto aku hanya bercanda, seharusnya kau lihat wajahmu tadi", Hinata tak kuasa menahan tawanya.
"Apa! Kau!" Naruto melempar pandangan kesal pada Hinata.
Melangkah berlalu Hinata membelakangi Naruto, "Bagaimana bisa kepolisian mempunyai anggota penakut sepertimu.", Hinata terkekeh, Ia membuka kaosnya sembari berjalan membelakangi Naruto.
"Aku ingin mandi dulu, kau mau ikut?"
"Hei lepas pakaianmu di kamar mandi Hinata!", Naruto membuang mukanya yang memerah.
Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Naruto berjalan menuju kamar tidur di lantai atas. "Sepertinya aku akan memilih kamar ini.", Naruto memasuki kamarnya sambil menggerutu. Ia masih tak percaya Hinata mengerjainya hingga ia ketakutan setengah mati.
Kamar Naruto mempunyai interior yang sangat mewah. Kamar mandi didalam ruangan terdengar bergemericik. Sepertinya Naruto terlalu lelah untuk menyadarinya. Ia dengan lemah merebahkan tubuhnya pada kasur besar berwarna ungu.
Matanya tertutup sepertinya Ia mulai tertidur.
'Cekrek'
Hinata keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk melilit tubuhnya ia berjalan anggun. Matanya menangkap Naruto sedang berbaring di kasur.
"Naruto, ini kamarku pilih! Keluarlah dan pilih kamar lain!", Hinata berkata pelan mencoba membangunkan Naruto.
"huh, sepertinya aku akan mmengalah.", Hinata keluar dari kamarnya dan memasuki kamar lain.
Apartemen ini lumayan besar, dengan empat kamar tidur, dapur, ruang bersantai, dan beberapa ruang lain. Terlalu besar untuk mereka berdua, perabot beserta bahan sandang pangan juga tersedia, apartemen siap huni?
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Naruto terbangun dengan damai, keluar kamar ia berusaha mencari penghidupan perutnya. Ia mengacak-acak dapur.
"Ramen, ramen, dimana kalian menyimpan makanan bermutu tinggi ini yaa?"
Naruto tampaknya tidak bisa menemukan yang ia cari. Semua bahan makanan ini masih mentah. Sejenak Naruto diam, ide jahil terlintas Naruto mengambil satu siung bawang. Senyum kemenangan tergambar diwajahnya.
"Kali ini kubalas kau vampir nakal!", Naruto berkeliling mencari Hinata. Kamar satu, kamar tiga, kamar empat, ruang tengah, ruang santai?
'Bingo'
Hinata sedang mengutak-atik laptop kecil dipangkuannya, "Apa maumu Naruto?", Hinata sepertinya sadar akan tindak tanduk Naruto yang mengendap-endap mencurigakan.
"hahaha, aku hanya mau menyapa selamat pagi", tawa Naruto jelas dibuat-buat.
"lemparkan bawang itu dan kau mati di tempat!", dengan tajam Hinata menatap Naruto.
'glek'
Naruto dengan pasrah membuang bawangnya ke lantai.
"Namikaze Naruto! Buang bawang itu keluar, jauh dari sini!"
'glek'
Dengan bersungut-sungut Naruto membawa bawang itu kembali ke dapur. Setelah itu ia kembali menghampiri Hinata. Ia berusaha melihat apa yang sedang dibaca Hinata.
"Darimana kau dapat benda itu Hinata? Apa yang kau baca?"
Yang ditanya hanya diam saja. Naruto memutuskan ikut membaca bacaan Hinata.
"Naruto, apa kau tak punya kesibukan lain? Aku sedang sibuk disini", Hinata merasa terganggu dengan ulah Naruto yang menurutnya rusuh itu.
"Huh, aku menggangu?", Naruto beranjak pergi menuju pintu rumah.
"Aku akan pergi mencari makan apa kau mau titip Hinata?", Naruto sedikit berteriak. Ia terlihat menghitung isi dompet sisa semalam.
"Bawakan aku obat penambah darah saja, beli yang banyak.", Hinata keluar dari ruang santai sembari membawa laptopnya tadi.
"Obat tambah darah? Baiklah.", Naruto keluar dan menyusuri jalan kota. Selain berbelanja ia juga ingin menjelajahi tempat ini seperti kebiasaannya pada rumah sebelumnya.
Jalan kota itu nampak ramai, lalu-lintas berjalan lancar dan gerai-gerai dipadati pengunjung. Naruto nampaknya tidak kesulitan untuk menemukan departemen store. Hal itu tak aneh katana palang pengenal terpampang jelas di atasnya.
Great Apartement
Hinata sedang berkonsentrasi mengendalikan Byakugannya. Sepertinya ia sedang mempelajari keadaan sekitar. Byakugannya menyipit,
"Apa-apaan tempat ini? Aura yang sangat semrawut, Iblis? Malaikat? Aku pikir mereka hanya bualan?", Hinata memejamkan matanya.
'sepertinya tempat ini tidak beres? Tunggu! Naruto sedang keluar! Tidak aman membiarkannya berkeliaran sendiri!', Hinata segera bangkit dan keluar dari apartemen.
Mengedarkan pandangan ia mencoba mencari Naruto.
End of Chapter V
Author Note :
Terimakasih bagi kalian yang telah menyuntikkan semangat kepadaku :D
Jangan sungkan untuk memberi kritik padaku yaa, di chapter berikutnya fic akan menjadi lebih panjang, jadi mohon dukungannya yaa.
Bila kalian membaca fic ini, sempatkan untuk mengisi kolom review, percayalah aku butuh itu :D update akan teratur apabila kalian memberi support :D
Lotus out
