DISCLAIMER :

Semua karakter yang digunakan adalah milik Masashi Kisimoto (karakter Naruto) dan Ichiei Ishibumi (karakter high school DxD) kesamaan dalam unsur cerita adalah suatu kebetulan. Isi fic ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun

RATING : M

GENRE : hurt / comfort , supernatural

AUTHOR : RyuzakiMisaki (last_lotus)

Lite Lust

Cerita sebelumnya :

Uzumaki Naruto, remaja yang direkrut oleh pihak kepolisian. Mendapat misi untuk membongkar kasus pada suatu sekolah, namun ditengah misi ia mendapat pengalaman supernatural yang membuatnya harus kehilangan pekerjaannya. Kini Ia menjalani kehidupannya seperti saat dia bertugas mengawasi sekolah untuk menutupi kecurigaan para yakuza?

Menjalani kehidupan normal Naruto berusaha. Namun hal itu sirna. Malam itu Naruto pulang dari makan malamnya. Berpapasan dengan suatu gerombolan yakuza membuat nafsu Naruto bangkit. Apalagi dalam gerombolan tadi terdapat Hinata, gadis yang membuatnya dipecat. Naruto mengejar mereka namun hal yang terjadi, kejadian diluar nalar manusia menimpa!

Hinata mengedarkan pandangannya, jelas sekali bahwa ia dalam keadaan panik.

Act II

Chapter VI

Great Apartement

Tunggu, panik? Hinata mengusap matanya, 'untuk apa aku mengkhawatirkan Naruto? Bodohnya aku'

Sejurus dengan itu Hinata kembali masuk ke apartemen. Hari itu matahari bersembunyi dengan malu. Di belakang mega mendung, cahaya kecil sesekali menerobos awan itu. Hinata terlihat sedang duduk di ruang santai. Pikirannya terbang mengingat kejadian tempo hari.

Ia tak menyangka, pertarungan kemarin dapat dimenangkan pihak Youkai. Lebih tepatnya Youkai yang dibantu fraksi pendeta. Lebih dari itu, semua anggota klannya tewas.

"Setidaknya, para Youkai juga telah musnah", Hinata tersenyum kecut. Ia teringat perlawanan terakhirnya sebelum terlempar ke dimensi ini.

"Sekarang, apa yang harus kulakukan? Ayah?", mata Hinata terpejam. Entah berbicara pada siapa Hinata mengepalkan tangannya.

Sementara itu di departemen store.

Departemen store

Naruto menyeka mulutnya, ini ramen ketiga yang ia makan. Ia sedang mengikuti kompetisi memakan ramen. Kapan lagi dapat makan sepuasnya? Lebih-lebih gratis.

"Yak, dua peserta dinyatakan gugur! Kini tinggal dua orang lagi!", seorang pria pembawa acara terlihat menggebu-gebu. Dihadapnnya Naruto sedang berlomba dengan tangkas? Ia menggunakan sumpit dengan sangat cekatan.

'bruk'

Tepat di sampingnya pesaing terakhir ambruk. Diikuti sorakan penonton Naruto tersenyum lebar.

"Dan kita dapatkan pemenang kita! Namikaze Naruto dari, dari mana asalmu nak?", pembawa acara itu mengedarkan pandangannya ke Naruto.

"Konoha, konoha di negara api!", Naruto terlalu senang untuk mengingat bahwa dia sudah berada di dimensi lain.

'dia orangnya', sesosok gadis kecil tersenyum diantara penonton yang riuh. Tak ada yang aneh, hanya gadis cilik dengan rambut hitam. Senyuman manisnya tak hilang bahkan ketika dia berbalik meninggalkan kerumunan.

"Ne, Naruto dari konoha! Anak ini senang bercanda rupanya.", pembawa acara itu menghampiri Naruto yang masih sibuk dengan ramennya.

"Sesuai janji, kau berhak mendapat kupon gratis seumur hidup untuk makan di sini!", pria tadi meberikan kartu berwarna emas.

"Eh, sepertinya kau salah kartu paman?", Naruto membolak-balik kartu bergambar palu dengan kemilau cahaya.

"Oh, benarkah? Um kartu apa ini? Aku tak ingat ada yang menukarnya.", pria tadi kembali merogoh sakunya dan menemukan kartu voucher di saku bajunya.

"Nah ini dia kupon yang ketinggalan!", Ia menyerahkan kupon itu pada Naruto.

"Ne, paman bagaimana dengan kartu ini?", Naruto mengulurkan kartu emas tadi.

"Kau bisa memilikinya, sebenarnya aku tak tau darimana kartu itu, itu bukan milikku", dengan acuh pria tadi meninggalkan Naruto.

Lima belas menit berlalu, Naruto meninggalkan kedai ramen. Setidaknya setelah ia kenyang, kapan lagi ramen seumur hidup? Hari semakin siang, Naruto berjalan menyusuri kedai dalam departemen store. Di tangan kirinya dua kantung butik tergantung rapi. Tangan kanannya sibuk membawa belanjaan lain.

"Sepertinya tinggal obat untuk Hinata, tapi untuk apa obat penambah darah untuk vampir?", Naruto bergumam memasuki sebuah klinik.

Mendung sepertinya tak kuat menahan tangisnya. Titik-titik air perlahan jatuh semakin deras. Naruto berlari kecil berusaha melindungi belanjaan miliknya. Beberapa orang memilih berteduh dari derasnya hujan. Naruto dalam perjalanan pulang untuk menuju apartemen yang hanya tersisa beberapa meter lagi.

Great Apartement

"Hinata, aku pulang!", Naruto dengan lari kecil memasuki apartemen mewah itu.

Dilemparkannya tas berisi butik dan beberapa belanjaan ke sebuah meja. Ia dengan tergesa-gesa memasuki kamar Hinata. Ia mencopot pakaiannya dan mengalungkannya di leher.

"ini obat pesananmu! Aku mau mandi, kehujanan akan membuatku demam bila tak mandi.", Naruto melemparkan obat itu pada Hinata.

"Manusia lemah, ini obat untukmu, metabolisme tubuhmu sangat lemah.", Hinata mendesis, matanya menatap tajam dada bidang Naruto.

"Oh, yaa? Dan kau pasti monster dengan hati dingin yang haus darah! Untuk apa aku meminum obat penambah darah?", Naruto berbalik menatap Hinata.

"Hei lihat aku kalau bicara!", Naruto menutupi dadanya yang menjadi titik fokus Hinata.

"Ssh, diam dan minum obat ini! Aku butuh darah untuk diminum.", melemparkan kembali bungkusan obat Hinata kini mengaktifkan Byakugan.

"Hei hei santai saja, kenapa harus menggunakan mata iblismu?" Naruto sedikit terintimidasi oleh mata tajam Hinata.

"Kau ingin cara lembut atau kasar Naruto! Minum obat itu dan kemarilah! Aku mulai sekarat disini!", Hinata mendesis matanya masih mengamati dada Naruto. Ada yang salah kah?

'glek'

"Ano, apa kau tak bisa meminum darah orang lain saja?", Naruto mendekati Hinata sembari meminum obat penambah darah.

Kini posisi mereka duduk berjejeran. Tangan Hinata merengkuh leher Naruto. Pandangan sayu diikuti wangi lavender memenuhi ruangan.

"Wow, pelan-pelan nona, kenapa leher yang menjadi target? Kita seperti orang yang akan bercinta. Coba tanganku saja? Atau yang lainnya." Naruto tak mau menatap mata Hinata, sepertinya jantungnya berdebar kencang.

"Aku bisa merasakan darahmu mengalir disetiap arteri dan venamu, tatap mataku Naruto dimana rasa sopan yang kau ucapkan tadi?", lidah Hinata menjulur menjilat beberapa inci leher Naruto.

"Sudahlah lakukan dengan cepat! Kau membuatku ketakutan Hinata!",

Wajah merah Naruto perlahan memucat seiring wajah Hinata yang terbenam di lehernya. Berbeda dari sebelumnya Hinata kini menyesap darah Naruto dengan lembut. Naruto mulai bersyukur rasanya tak separah yang lalu.

Sepuluh detik berlalu, Hinata melepaskan Naruto. Sadar akan hal itu Naruto bergeser menjaga jarak dengan Hinata. Nafasnya tak stabil ia terbaring pada kasur Hinata.

"Naruto, apa yang terjadi padamu hari ini? Darahmu terasa lain,", Hinata berbaring telungkup di atas Naruto.

Naruto yang tak punya kekuatan hanya pasrah. Baginya sedekat ini dengan lawan jenis adalah hal yang pertama.

"Aku memenangkan kupon Ramen?", Naruto membuang mukanya.

'tidak mungkin memakan ramen akan membuat darahnya menjadi suci' Hinata mengusap dada Naruto.

"Apa tidak ada hal aneh yang terjadi?", Hinata duduk pada perut Naruto.

"Apa yang kau lakukan? Turun Hinata!" Naruto terlihat panik dengan tingkah Hinata. Bagaimana tidak, Hinata adalah gadis dewasa kini menunggang tubuhnya seolah hal itu adalah hal yang pantas.

"Kaummu memang aneh Naruto, ceritakan kejadian yang menurutmu tidak wajar,unik atau apapun!"

Memandang Hinata penuh makna Naruto mulai membuka mulutnya, "Well, aku mendapat kartu emas bergambar palu hari ini."

Naruto mencoba meraih bajunya. Sepertinya kartu itu ia letakkan pada saku bajunya.

"Maksudmu, palu seperti tato ini?", Hinata menyentuh dada Naruto.

"Apa maksudmu? Aku tak mungkin memiliki tato!", Naruto menggeliat melepaskan diri dari Hinata.

Mencoba mencari kartu yang dimaksud Naruto merogoh semua kantong baju dan celana. Nihil ia tak dapat menemukan kartu itu , sementara Hinata sibuk memandangi dadanya Naruto berlari kearah cermin.

'Deg'

Persis seperti gambar palu yang ada di kartu tadi. Naruto terlihat shock dengan keadaan tersebut. Naruto meraba tato itu tak percaya dengan apa yang ia lihat.

"Apa-apaan ini?", Naruto meremas dadanya.

Hinata yang melihat tingkah Naruto bergegas menghampirinya. "Naruto tenanglah, sepertinya itu bukan tato biasa."

"Tentu saja aku tahu! Tato ini tiba-tiba muncul. Kepalaku!", dalam kepanikan Naruto mengerang memegangi kepalanya.

'tak salah lagi, Naruto mendapatkan itu dari kartu tadi, tapi kenapa Naruto?'

Naruto terlihat melepaskan pegangan pada kepalanya. Ia beranjak keluar kamar meninggalkan Hinata.

"Kupikir aku perlu sendiri,"

"Ne, kenapa tiba-tiba sekali?", Hinata mencoba menyembunyikan rasa penasarannya.

Naruto berjalan masuk kedalam kamarnya, Ia tak percaya serentetan kejadian dalam sepekan terakhir telah merubah hidupnya. Dengan tenang ia memasuki kamar mandi dan membiarkan pikirannya hanyut dalam pancuran air.

Berputar balik ingatannya pada kartu itu, sebagai mantan polisi ia selalu berpikir logis. Kejadian diluar nalar manusia selalu diabaikan dalam penyelidikan. Namun berkat kejadian dalam sepekan hal itu tidak berlaku lagi. Ia mulai membuka diri untuk kemungkinan supernatural.

"Apapun yang terjadi aku tetaplah Naruto.", gumaman kecil Naruto dibawah guyuran air.

Setengah jam berlalu, Naruto kini terlelap tanpa sehelai benang pada tubuhnya. Kasur yang ia gunakan terlihat terlalu besar untuknya seorang. Tubuh Naruto berkeringat, sesuatu yang aneh, dia kan baru keluar dari mandinya? Apa hujan membuatnya berkeringat? Rasanya tidak mungkin.

Naruto melihat sebuah kota, terlihat jelas dipandangannya. Naruto mencoba menggerakan badannya. Nihil badannya tak bergerak, pandangannya beralih pada sebuah tempat peribadatan tempat yang sangat damai. Apa ini mimpi? Bukan! Naruto sadar betul apa yang ia lihat.

Langit menjadi merah, tempat suci itu dilalap api, para orang suci dibantai didepan Naruto. Berusaha mengalihkan pandangan Naruto mencoba. Namun ia seolah dipaksa melihat kejadian ini. Bak film yang diputar berulang-ulang Naruto menyaksikan tiap kejadian dengan ketakutan.

Ya! Ketakutan, Ia melihat setiap orang-orang dibantai, toko dijarah, dimanakah keadilan? Dimanakah Sang pengadil! Naruto merubah Tatapannya menjadi tatapan benci, hatinya berdebar. Apakah maksud semua ini!

Kini semua pandangan itu berubah menjadi putih. Seberkas cahaya terlihat menyilaukan dari atas. Naruto duduk bersimpuh, kini ia dapat merasakan tubuhnya kembali. Mengedarkan pandangan ia mencari tahu dimanakah ini. Altar? Apa ini sebuah tempat ibadah?

'cahaya kebenaran telah memilih'

'keadilan akan tegak dan dunia akan kembali berseri'

'kau yang terpilih untuk tugas suci ini'

'Tegakkan keadilan! Dan kau akan temukan kedamaian yang abadi'

"Naruto! Bangunlah!", Hinata menatap nanar Naruto yang sedang tertidur. Abaikan saja keadaan Naruto yang telanjang. Jelas bukan sebuah masalah apabila dibandingkan dengan apa yang menjadi fokus Hinata.

Kembali pada Naruto, kini ia terlihat sedang berdo'a. Tangannya menengadah dan berbisik pelan.

"Aku adalah abdi Tuhan! Keadilan akan terwujud"

Terlihat sebuah palu besar dan sebuah neraca penimbang. Naruto berusaha menggapai keduanya namun hanya angin yang ia dapatkan.

'ikuti takdirmu! Jalan kebenaran akan menuntunmu '

Mengangguk seolah paham Naruto berdiri dan melangkah maju memasuki cahaya emas itu. Hidupnya yang baru telah dimulai!

'Srak'

Naruto bangkit dari kasurnya ia segera melompat keluar kamar. Hinata yang melihatnya hanya dapat berdiam mematung. Bagaimana tidak? Naruto tanpa sehelai pakaian melompat keluar dengan lolosnya. Naruto berlari menuju meja tempat ia meletakkan tas butiknya.

Segera saja, Ia memakai kaos putih polos dan celana hitam panjang. "Hinata! Kemarilah!"

'Deg'

Kini Hinata duduk berhadapan pada sebuah meja makan. Naruto menjelaskan panjang lebar mengenai kejadian tadi. Hinata tersenyum kecut, tanpa menanggapi ia tetap mendengarkan kisah Naruto.

"Hinata! Aku akan membuat dunia ini lebih baik lagi! Bergabunglah denganku!", dengan berapi-api Naruto menggebrak meja.

"Hei hei, kau pikir kau bicara pada siapa hm? Aku ini vampir dan jika kau menjadi paladin atau semacamnya aku pasti yang pertama akan menggagalkan rencanamu!", walau Hinata merasa berat, kucuran kata-kata itu tetap mengalir dari mulutnya.

"Maka bertaubatlah! Aku tau kau akan berkata seperti itu.", Naruto berusaha membujuk Hinata.

"Jaga mulutmu Naruto! Aku bisa saja membunuhmu saat ini juga!", Hinata memamerkan gigi taringnya yang mulai memanjang.

Naruto tetap tenang, tak biasanya ia dapat bertahan dari tatapan ngeri Hinata, "Aku tau kau tak akan melakukannya, jauh dari lubuk hatimu kau pasti menginginkan perdamaian kan!"

'Deg'

Hinata mematung, "Sejak kapan kau pandai bicara Naruto? Bangsa kami sudah berusaha menggapai perdamaian ribuan tahun sebelum kau lahir. Jadi perdamaian apa yang kau bicarakan ini?"

"perdamaian abadi", Naruto tersenyum, Ia seperti terlahir kembali.

'Deg'

Menggenggam tangan Hinata, "Percayalah, bersama kita dapat meraihnya!"

End of Chapter VI

Author Note :

Hai halo, terimakasih telah memberi support yang sangat hebat. Sekali lagi terimakasih. Aku harap chapter ini dan tidak menyinggung kalian. Apabila ada yang kurang berkenan silahkan pm atau review saja.

Saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang masuk.

Anko Guru Matematika : Hinata tidak mencari informasi dimensi ini dengan laptop, tapi dengan byakugannya.

Guest : untuk hurt/comfort akan dimulai mulai chapter depan

Kazehiro Tatsuya : terima kasih untuk arahannya senior :D

Kazuya Hatake : sudah terjawab kan lewat chapter ini :D

Black Head : tepat sekali , kejadian pada chapter awal memang sebagai perantara cerita.

Semuanya : Terima kasih untuk semua saran yang masuk, terimakasih.

Berhubung chapter ini hanya berisi intro dari kekuatan Naruto jadi hanya berisi singkat saja, namun sesuai janji, saya akan melakukan update kilat. Jangan lupa berikan tanggapan jalan pada kolom review yaa semuanya!

Lotus out