DISCLAIMER :
Semua karakter yang digunakan adalah milik Masashi Kisimoto (karakter Naruto) dan Ichiei Ishibumi (karakter high school DxD) kesamaan dalam unsur cerita adalah suatu kebetulan. Isi fic ini tidak bermaksud menyinggung pihak manapun
RATING : M
GENRE : hurt / comfort , supernatural
AUTHOR : RyuzakiMisaki (last_lotus)
Lite Lust
Chapter VII
Great Apartement
"Jadi, apa rencanamu jagoan? Apa kau akan keluar kejalanan dan berteriak tentang perdamaian kepada warga kota?" Hinata melepaskan genggaman tangan Naruto. Bagaimana bisa seorang paladin dan vampir dapat mendiskusikan perdamaian?
"Hm, menurutku, hal besar dapat dimulai dari yang paling kecil sekalipun. Mengingat aku adalah abdi Tuhan, sepertinya aku akan mendatanginya dan bertanya langsung padanya.", dengan lugu Naruto mencoba mengingat altar pada mimpinya.
"Ne! Apa kau sudah gila? Memang dengan cara apa kau akan berbicara dengan Tuhan? Jangan mengada-ada Naruto.", Hinata kini berpikir Naruto sudah tidak waras.
"Do'a"
'Deg'
Hinata menyipitkan matanya, remaja di hadapannya ini tentu telah berubah sejak ia mendapat lambang palu didadanya. Namun bagaimanapun Hinata tetap melihat aura Naruto sama adanya, hanya kali ini ia merasa lebih tenang ketika di dekatnya.
"Kau membuatku sakit Naruto, lagipula kau tak bisa berdo'a", Hinata sedikit tersinggung dengan kata Naruto tadi.
"Tentu saja aku bisa, semua orang bisa berdo'a,", Naruto menggenggam tangannya, mulai berbisik ia mengatakan dengan lembut sebuah kalimat yang entah apa itu.
Hinata melompat kebelakang, Ia dengan siaga mengeluarkan Byakugan, tangannya bersiap menyerang Naruto.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Hinata menyipitkan matanya, kenapa tidak ada apapun yang terjadi? Bahkan ia tak merasa pusing. Naruto menatap Hinata dengan cengirannya, "hee, kau benar aku tidak bisa berdo'a"
Hinata dengan wajah jengkel memberi tatapan tajam pada Naruto. "Kau paladin terburuk sepanjang masa."
"Nee, sepertinya kau perlu menggali kekuatanmu Naruto. Atau kau bisa menjalani kehidupan normal dengan wajar?", Hinata seperti salah bicara, Ia baru saja memberi saran pada salah satu musuh besar nya, 'oh sial, bodohnya aku! Bila bocah ini memang benar paladin, tentu akan sangat berbahaya bila ia dapatkan kekuatannya!'
"Tentu saja! Kau jenius Hinata, untuk seorang vampir tentunya. Oh aku lupa akan suatu hal, bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan?", Naruto melipat tangan didepan dadanya.
Hinata kini kembali duduk berhadapan dengan Naruto, "Apapun, tanyakanlah dengan syarat-"
Naruto menaikkan sebelah alisnya, tidak biasanya Hinata mengajukan negosiasi seperti ini.
"Dengan syarat, jangan pernah berubah dari menjadi dirimu sendiri!", Hinata seperti sedikit sungkan ketika mengatakan berubah.
"Eh, syarat macam apa itu?, tapi baiklah! Un pertanyaan pertama, berapa usiamu? Kudengar vampir dapat hidup abadi?", Naruto memandang manik lavender Hinata.
"Umurku? Entahlah aku tak ingat, tapi bila dibuat usia manusia, mungkin kau dua tahun lebih muda dariku. Selain itu, vampir memang abadi, tapi masih dapat dibunuh bila kau mampu.", Hinata melihat respon Naruto, sepertinya Ia belum selesai dengan pertanyaannya.
"Bagaimana cara membunuh vampir?" Naruto kini menatap tajam mata Hinata yang membesar.
Berusaha mengendalikan keterkejutan Hinata tertawa datar, "Kau sepertinya sedikit berambisi untuk membunuhku Naruto? Kaum kami adalah yang paling rentan dengan simbol keagamaan, bawang dan do'a hanya membuat kami sakit kepala, memenggal kepala kami atau menusuk jantung kami dengan pasak adalah cara paling efektif untuk membunuh."
"Bagaimana cara kalian berkembang biak? Bagaimana cara kalian memiliki keturunan?", Naruto menatap Hinata, pandangannya tak lepas dari manik lavender Hinata. Tenang dan damai.
"Kami tak berkembang biak Naruto, kami melakukan transformasi apabila ingin menambah jenis kami." Sedikit menghela nafas Hinata kembali menjelaskan "Transformasi adalah proses berubahnya makhluk diluar kami menjadi vampir, banyak cara untuk melakukan hal itu"
"Berapa ukuran dadamu Hinata?", pandangan Naruto sedikit turun melihat dada Hinata.
"Apa tidak ada pertanyaan yang lebih bermutu, kau memalukan", Hinata meronta ketika Naruto melontarkan pertanyaan itu.
'Bingo'
Naruto menatap wajah Hinata yang memerah, sepertinya pertanyaan tadi adalah sebuah kecohan.
"Wajahmu memerah Hinata? Menurutmu apakah vampir dapat merona? Lalu, apakah vampir dapat merasakan cinta?", Naruto menggenggam tangan Hinata.
"Kami tak memiliki emosi Naruto, mana mungkin kami dapat merasakan cinta", Hinata memalingkan pandangannya.
Angin malam menyeruak masuk, suara ketukan pintu membuyarkan diskusi mereka berdua. Hinata melepaskan genggaman Naruto, dengan segera ia membuka pintu, siapakah yang bertamu larut malam begini? Tunggu, bukankah tidak ada yang mengenal mereka di dimensi ini?
Hinata menyipitkan mata lavendernya, siapakah gadis cebol ini?
"Maaf, sepertinya kau salah alamat. Selain itu kami tidak menerima permintaan sumbangan gadis kecil."
Hinata dengan dingin berusaha mengabaikan gadis itu.
"Aku tidak salah dengan perhitunganku nona.", gadis bersurai hitam itu dengan polosnya memasuki apartemen Hinata.
"Hei, kau pikir siapa dirimu ha?", sedikit jengkel Hinata menghentikan langkah sang gadis.
"Namaku, Ophis.", jawaban singkat itu makin membuat Hinata jengkel.
"Oh yaa, dan apa maumu Ophis? Bertamu larut malam bukalah hal yang sopan.", Hinata mengikuti langkah Ophis menuju ruangan dimana Naruto berada.
"Aku kemari untuk menjemput satu paladin dan satu pengawalnya, itu kau nona vampir.", Ophis berkata polos kemudian ia duduk pada pangkuan Naruto.
"Hei hei, siapa gadis manis ini Hinata? Kau mengenalnya?", Naruto terlihat kaget dengan naiknya Ophis pada pengakuannya.
"Turun dari sana dan jelaskan apa yang terjadi disini!", Hinata benar-benar jengkel ketika Ophis berada pada pangkuan Naruto.
Tunggu, apa ia baru saja mengatakan paladin dan pengawal? Dari mana gadis cebol ini tau identitas mereka berdua.
"Apa maksudmu turun? Apa kau cemburu Hinata? Kukira vampir tak bisa jatuh cinta?", Ophis sepertinya mempermainkan Hinata.
"Ne? Apa maksudnya ini? Bisa seseorang menjelaskan apa yang terjadi?", Naruto mencoba melerai perdebatan dua gadis di depannya.
"Akh! Lupakan, kau boleh duduk disana aku tak mungkin cemburu untuk kalian berdua!", sedikit menggerutu Hinata rupanya terpancing.
"Baiklah aku mulai pusing disini, bisa kau jelaskan apa maksudmu gadis kecil?", Naruto menurunkan Ophis dari pangkuannnya.
Malam semakin larut Hinata memandang sinis ke arah Ophis. Merasa terganggu dengan kesunyian ini Naruto mencoba memecah keheningan, "Ne darimana asalmu, Ophis? Apa tujuanmu kemari?"
"Bukankah pertanyaan itu lebih pantas untuk dirimu sendiri?", Ophis menatap lembut mata saphire Naruto.
"Ehehe, sepertinya kau tau banyak tentang kami, tak ada gunanya berbohong.", Naruto menggaruk pipinya.
"Kukira kau memegang sumpah paladin Naruto-Nii? Sudah pasti kau tak akan berbohong?", Ophis mengambil sebuah lipatan kertas pada kantung bajunya.
"Sumpah paladin? Apa maksudmu aku adalah paladin? Kukira Hinata hanya bercanda.", Naruto menatap Hinata yang masih sebal pada Ophis.
Ophis mengeluarkan kertas tadi, dibukanya di atas meja. Seperti sebuah poster? Beberapa gambar terlihat timbul dari atas kertas. Demon,Angle,Fallen-Angle. Beberapa fraksi mengisi tiap sudut dari sebuah segitiga.
"Kami menolak!", dengan cepat Hinata membuka suaranya, "Aku dan Naruto tidak ada hubungannya dengan masalah dimensi ini!", imbuh Hinata.
"Tunggu apa maksudmu dengan kita Hinata? Setidaknya dengarlah penjelasan gadis ini!", Naruto terlihat tidak senang dengan tingkah Hinata.
"Aku takut kalian tak dapat menolak, biar aku jelaskan sesuatu. Seperti yang terlihat dalam kertas ini. Dimensi ini dihuni oleh beberapa fraksi, tiga diantaranya sangatlah ofensif.", Ophis menunjuk pada masing-masing sudut segitiga tadi.
"Sikap mereka mengacu pada sikap ingin menguasi satu sama lain untuk mencapai kedamaian.", Ophis melihat manik mata Naruto yang berubah.
"Apa menurut kalian, perpindahan dimensi kalian bukanlah tanpa alasan dan tujuan? Kalian adalah orang yang terpilih!", Ophis melanjutkan ceramahnya.
"Tiga fraksi ini akan mengadakan turnamen besar untuk menunjukan siapakah yang terkuat diantara mereka. Pemenang dari perwakilan fraksi akan memimpin dunia ini. Aku takut perdamaian tak akan terwujud dengan salah satu fraksi yang memimpin."
Naruto dan Hinata sepertinya paham dengan penjelasan Ophis. Mereka menangguk paham.
"Tunggu! Bukankah ada malaikat? Biarkan saja mereka memenangkan turnamen ini? Bukankah mereka adalah abdi Tuhan yang paling taat?", Naruto mencoba bertanya.
"Naruto-Kun, malaikat yang dimaksud disini sepertinya adalah-", Hinata memberikan suffik pada Naruto.
"Ya, kalian adalah perwakilan dari malaikat! Setiap fraksi memilih perwakilan mereka untuk bertarung pada turnamen ini.", Ophis mengangguk senang. Tugasnya lebih mudah dari apa yang ia bayangkan.
"Tapi? Bukankah Vampir termasuk iblis eh?", Hinata mulai tertarik dengan arah pembicaraan ini.
"Well, aku tak tau soal itu. Mungkin Tuhan sudah memiliki rencana lain?", Ophis mengangkat bahunya tanda tak tau.
"Oh, satu lagi. Turnamen itu akan dilaksanakan empat tahun lagi, kita punya beberapa waktu untuk berlatih.", Ophis beranjak pergi menuju kamar Naruto.
"Kalian setuju? Baiklah. Aku harap kalian tidak keberatan karena mulai sekarang tempat ini menjadi markas untuk kita.", Ophis dengan santainya masuk ke kamar Naruto.
"Tidak ada kata setuju disini! Selain itu pilihlah kamar lain?", Hinata kembali jengkel oleh ulah Ophis.
"Sudahlah Hinata, setidaknya sekarang kita memiliki tujuan kan?", Naruto menyusul Ophis yang kini sudah berbaring di kamarnya.
"Cih", Hinata menekuk wajah manisnya.
Ruined Temple
Sebuah puing-puing bebatuan berserakan. Sisa hujan nampak segar ketika kaki Naruto menapaki tanah basah itu. Waktu menunjukan tengah hari namun kabut masih tebal menyelimuti reruntuhan bekas kuil ini.
Ya, Naruto memulai debut pertamanya sebagai paladin dengan berlatih. Sejujurnya, Ia masih tidak mengetahui apa itu paladin. Ia kini hanya berlatih fisik berlari dan menghindari bebatuan yang dilemparkan Hinata dan Ophis. Entah berapa puluh kali batu seukuran kepalan tangan bersarang pada tubuhnya.
Ophis sepertinya yang paling semangat melemparkan batu. Latihan kali ini bertujuan untuk melatih ketangkasan dan reflek Naruto.
"Apa kita tidak keterlaluan? Ini sudah dua jam.", Hinata menatap iba Naruto.
"Sejak kapan kau memiliki rasa kasihan Hinata?". Ophis melemparkan batu terakhir dengan kekuatan ekstra.
'srak'
Naruto terpental beberapa meter, batu itu menghantam perutnya. Hinata tak akan jatuh pada jebakan ini, Ia tau bahwa hal barusan adalah pancingan agar ia turun dan menolong Naruto. Batu demi batu tetap ia lemparkan. Naruto yang kepayahan mulai tak bisa mengimbangi batu batu yang seperti tak ada habisnya. Ia mulai pasrah menangkis batu itu dengan lengannya. Latihan keketangkasan mulai berubah menjadi latihan ketahanan.
Naruto mengabaikan rasa nyeri disekujur tubuhnya. Ia tetap menangkis batu dengan gigih. Dengan hempasan angin Hinata berlari kearah Naruto.
"Bersiaplah Naruto-Kun," Hinata mulai melancarkan pukulan ringan kearah Naruto.
"Apa-apaan ini, apa kalian berencana menyiksaku?", Naruto mencoba meminta penjelasan pada Hinata.
"Ophis berkata, kekuatan manusia akan muncul ketika Ia merasa terpojok.", Hinata sedikit meringankan pukulannya.
Ophis yang melihat lemahnya pukulan Hinata mulai ikut turun. "Seharusnya pukulanmu harus lebih keras Hinata!"
Merasa dihina Hinata memberikan sedikit tenaga pada pukulannya, dan 'blar' Naruto terpental beberapa meter dari tempatnya.
'Tuhan tolong aku'
Hinata yang sadar dari amarahnya akhirnya melompat hendak menangkap Naruto. Ophis terlihat tersenyum tipis. Naruto jatuh tersungkur dan dia tersenyum? Latihan macam apa ini?
"Sepertinya latihan untuk hari ini cukup!", Ophis meregangkan tangannya.
Hinata terlihat panik dengan kondisi Naruto yang babak belur. Ia berusaha memapah Naruto namun yang terjadi adalah, Naruto dapat bangkit dengan sendirinya. Seharusnya tak ada manusia yang dapat bangkit dari pukulan tadi.
"Ini aneh, rasanya sakit dan nyeri ditubuhku menghilang setelah aku meminta pertolongan tuhan dari pukulanmu tadi Hinata!", Naruto melompat kegirangan.
"Well sepertinya kau adalah tipe support Nii-san, setidaknya kita sudah mengetahui itu. Dan kau harus memberi nama pada kemapuannu itu, agar lebih mudah di ingat saja.", Ophis berjalan mendekati Hinata.
Mereka kini berjalan pelan, keluar dari komplek kuil Naruto masih memikirkan nama yang pantas untuk kemampuannya barusan. Baru berjalan beberapa langkah keluar, Naruto berbalik dan memasuki komplek kuil kembali.
"Kalian pulanglah terlebih dahulu, sepertinya aku melupakan sesuatu." Naruto berlari memasuki reruntuhan kuil. Hinata hendak menyusul namun tangan Ophis menahan gerakan Hinata.
"Biarkan saja, tempat ini adalah bekas kuil agung para ksatria dan paladin tentu sebuah ikatan batin memanggil Naruto saat ini. Kita tak boleh mengganggu"
Hinata mengangguk paham, sebenarnya ia sudah merasakan perasaan itu sejak menginjak reruntuhan kuil ini. Ya, rasa pusing akan hal keagamaan tidak ia rasakan di kuil ini. Perasaan dan emosinya juga seperti bangkit dalam tubuhnya. Apakah ia kehilangan naluri vampirnya? Sepertinya hal itu dimulai sejak ia menyesap darah Naruto. Tapi? Siapa yang tahu?
Naruto melangkahkan kakinya memasuki salah satu kuil yang masih utuh. Entah mengapa hatinya begitu tertarik pada tempat ini. Pemandangan yang khas membuat dirinya merasa dejavu. Sepertinya ia pernah mengalami hal ini sebelumnya.
"Inikan? Altar dalam mimpiku!", Naruto berbisik diantara kesunyian kuil itu. Altar yang masih terawat sepertinya tak terjamah oleh kehancuran pada kuil-kuil lain.
Naruto duduk bersimpuh pada tengah altar tanpa Ia sadari. Alam bawah sadar telah mengalahkan rasa takut nya. Sepertinya ini adalah murni keinginan tubuh Naruto yang paling dalam. Naruto mengaitkan kedua tangannya. Cahaya yang masuk dari celah atap terlihat keemasan.
Cahaya itu pasti sangat terang mengingat kabut tebal yang dapat ditembusnya.
"Aku adalah hambamu yang siap mengabdi, Oh Tuhan."
End of Chapter VII
Author Note :
Hmm, sepertinya chapter ini masih terlalu singkat. Aku tak mau menjadikan sakit sebagai alasan sih, untuk itu, kami meminta saran dan pendapat agar fic ini dapat berisi lebih banyak kata.
Oh Iyyaa, kemampuan Uzumaki untuk Naruto, sepertinya belum dapat saya beberkan disini, jadi untuk kejutan saja yaa :D
Akhirnya kami meminta review dan dukungan agar fic ini berkembang lebih baik lagi!
Lotus out
