Ia lahir tanpa mengenal sosok seorang ayah, bagaimana wajahnya, atau pun siapa keluarga ayahnya. Ia hanya mengenal bahwa sosok yang seharusnya berperan sebagai 'ayah' adalah pria yang tidak bertanggung jawab setelah menghancurkan kehidupan ibunya. Kehidupan ia dan ibunya pun tidak mudah dari segi mana pun finansial atau pemasukan, akan tetapi ia kecil memiliki keinginan besar untuk sekolah hingga menjadi orang sukses. Kepintaran di miliknya turunan dari 'pria' itu membuat ia mengutuk anugerah tersebut namun disisi lain bersyukur karena kepintarannya ia bisa mendapatkan peringkat satu selama periode kelas satu dan dua, sikap cukup ramahnya di sukai sebagian anak tapi, tidak dengan anak-anak yang entah kenapa walau beda kelas dengannya begitu membenci dirinya.
Waktu itu tepat di kelas tiga ia ingat sekolah mereka kedatangan anak baru di kelasnya. Anak berwajah muram bergigi kelinci, akibat itu tidak ada yang berani mendekatinya, ia sendiri pada saat itu sebangku dengan anak berwajah muram tidak terlalu ambil pusing karena anak itu tidak mengganggunya. Seminggu anak itu datang banyak sekali yang membenci anak berwajah muram, padahal anak itu tidak beda jauh kepintarannya dari Daehyun. Anak itu punya seseorang kakak yang begitu ramah saat berkunjung ke sekolah karena anak berwajah muram itu berkelahi.
Selama bersekolah hingga mencapai kelas enam ia dan anak berwajah muram selalu sekelas tidak hanya itu saja mereka akan sebangku tanpa pembicaraan sebab anak berwajah muram lebih suka menghabiskan waktu membaca buku atau bermain game tetapi sesekali mereka berdua akan menanyakan pekerjaan rumah seadanya hingga satu kejadian membuat ia dekat dengan anak berwajah muram tersebut.
Pagi di kelas enam semua berjalan seperti biasa hingga ketika pulang sekolah ia di kroyok dengan musuh besarnya di jalan sepi, lawan yang tidak imbang membuat ia tersungkur jatuh dengan luka di bagian siku. Salah satu anak berbadan besar maju ingin menginjak perutnya karena takut ia memejamkan matanya namun tidak ada rasa sakit yang ada hanya teriakan marah serta teriakan permintaan maaf yang berulang kali. Membuka mata ia menemukan anak berwajah muram bergigi kelinci berdiri menjulang, tangan kanan membawa balok dengan wajah menatapnya lega.
"Syukurlah aku tidak terlambat."
Saat itu pun ia mulai dekat dengan anak berwajah muram tersebut, hingga seminggu kemudian ada kabar mengerikan tentang pembunuhan di kediaman teman barunya itu. Pembunuhan yang merubah segalanya.
Ia berkedip bingung saat tiba-tiba getaran handphone miliknya membuyarkan lamunannya tentang masa lalu. Pertemuan pertama dengan sosok di kagumi serta dihormati olehnya namun di satu sisi lain begitu ia sayangi layaknya seorang saudara. Melirik jam dinding menunjukkan pukul 00.00 waktu korea selatan membuat ia menghela nafas karena waktu tidurnya mundur begitu jauh. Berdiri dari tempat duduk dan berjalan keluar kamar ia menemukan bahwa ibunya masih menikamati drama tengah malam.
"Terbangun lagi, sayang?"
"Tidak, aku baru selesai belajar."
Ibunya menatap kearahnya, "Tumben belajar sampai jam segini."
"Mungkin anak mu ini sedang giat-gitanya bu. Oya, ibu ini sudah larut malam tidurlah."Daehyun sangat menyangi wanita ini melebihi siapa pun.
"Tanggung dramanya belum habis."
Daehyun mengehela nafas, ibunya kecanduan drama dari tiga bulan yang lalu dan itu menyebalkan. Daehyun tidak bisa menonton bola, atau melihat perkembangan teknologi terbaru.
"Kapan Hime-mu datang? Ibu kangen dengan Hime-mu."
"Aku seperti mendengar seorang mertua yang rindu pada menantunya."
Godanya sedangkan sang ibu tertawa renyah mendengar perkataannya, menuju dapur untuk minum air mineral kini pikiran melayang kearah sebuah perkejaan untuk menompang kehidupan mereka. Mengambil sebotol air mineral dingin dalam kulkas lalu menuangkan ke dalam gelas dan meminumnya matanya melirik sekilas kearah foto diatas kulkas. Foto ia, ibu dan adik tirinya. Menghela nafas, kehidupannya memang begitu sulit untuk ia yang memiliki kehidupan sederhana ini, menaruh gelas dan memutuskan untuk kembali ke kamar, ia mengingatkan ibunya untuk tidur lagi sebelum menghilang di dalam kamar.
Menutup pintu kamar ia segera saja merebahkan diri dibangku tempat tidur dengan pandangan tertuju pada langit-langit kamar miliknya. Mata sendu seakan merindukan seseorang yang begitu jauh untuk digapai, lama hanya memandang kearah langit-langit kamar mata itu terpejam perlahan lalu terdengar suara nafas teratur menadakan bahwa telah tertidur. Suara angin bertiup kemudian terdengar membuat sang ibu diruang televisi terpaksa berhenti menonton drama dengan mata yang sembab bukan karena alur drama didalam televisi melainkan karena sebuah rindu dengan sosok yang jauh disana.
Malam begitu cepat berlalu, kini matahari mulai menampakkan diri di balik gedung pencakar langit. Ia pun sudah bersiap untuk pergi ke sekolah terlihat dengan terpasangnya seragam ke banggaan sekolahnya, TS High School. Tapi, ia bukan salah satu anak yang bangga akan sekolahnya ini, mengambil selembar roti dan di oleskan selai coklat, ia mengambil botol air mineral yang masih bersegel untuk ditaruh dalam kantong luar tas untuk bekalnya minum. Pagi ini ia seperti biasa menyiapkan kebutuhan makan dengan sendiri karena ibunya dari jam 05.30 sudah harus pergi ke suatu tempat. Memakan roti miliknya perlahan dengan memasang sepatu ia melirik sekilas jam dinding di rumahnya yang masih menunjukkan pagi hari. Beranjak keluar rumah dengan sepotong roti ditangan ia tak lupa mengunci pintu rumah dan menuju halte bus di depan jalan raya yang memakan waktu 10 menit berjalan kaki.
Sesampainya di halte bus ia tidak perlu untuk duduk karena bus telah tiba, segera saja masuk kedalam bus dan memilih duduk di bangku tengah sambil mendengarkan musik dari penyanyi yang ia sukai. Lantunan lagu berbahasa asing berputar, lirik lagu bertempo sedang di selingin oleh nada tidak terlalu tinggi membuat ia tenang. Agar sampai disekolah harus empat kali melewati halte bus, bus yang dinaikinya elah berhenti tepat di halte yang memang tidak jauh letaknya dari sekolah. Turun dari bus dengan beberapa murid yang sama dengannya rata-rata adik kelas, mereka tidak ada satupun ingin menegurnya atau bisa dikatakan segan untuk menegur kakak kelas.
Memasuki halaman sekolah sebuah jeritan memakan telingan berasal dari arah samping lapangan basket sekolah begitu mengganggunya. Terutama gerombolan gadis berotak kosong disana memuja lima orang laki-laki yang derajat lebih dari yang lain namun memiliki otak jongkok hanya sebuah kata kenapa mereka bisa masuk sekolah tinggi ini dengan mudah.
"Ckk..."
Ia berdecak tak suka dan segera saja memasuki lorong sekolah tanpa perlu berhenti di loker miliknya. Menaiki tangga dengan langkah cepat tepat dilantai dua ia menemukan hyung yang sudah lama ia kenal hingga sekarang.
"Hyung."
Ia berteriak orang itu memelankan langkahnya.
"Himchan hyung."
Dan berhenti melangkah, menepuk pundak sang hyung yang bernama Kim Himchan. Ia segera saja mengeluhkan tentang betapa berisiknya gadis diluar sana.
"Gadis diluar sana berisik sekali."grutunya ditanggapi oleh tepukan ringan di kepalanya tanda prihatin.
Sungguh semua anak-anak disini pasti terganggu akan tingkah mereka itu, pagi-pagi membuat keributan. Menaiki tangga kelantai tiga tidak terlalu banyak, ia sesekali melirik hyung'nya itu dengan pandangan yang hanya bisa dimengerti oleh ia seorang. Masuk kedalam kelas berapa anak telah mengisi bangku, sama sepertinya duduk disamping Himchan yang menatap tertarik adegan dilapangan basket terutama seruan para gadis berisik itu tapi ia tahu lebih dari siapa pun bahwa mata itu tertuju pada anak bersurai pink kemerahan di lapangan basket. Seorang anak yang nasibnya tidak terlalu berbeda dengan mereka berdua, anak yang mengandalkan beasiswa di bidang akademik atau non akademik. Perangai anak itu pun tidak jauh beda dengan mereka berdua yang hobi berkelahi hanya untuk mempertahankan daerah kekuasaan mereka. Memperhatikan keadaan dibawah sana satu persatu anak sekelas mulai mendekat jendela termasuk Kim Jongdae mantan ketua osis tahun ini.
"Ketua osis sekarang tidak berguna."
Caci maki itu keluar begitu saja, sedangkan ia mengangguk setuju matanya melirik kearah Himchan yang menatap kearahnya. Anak-anak sekelas mulia memenuhi jendela saat ini saat terlihat betapa congkaknya kumpulan anak tadi berhadapan dengan tim basket. Kumpulan anak itu dinamakan 'King', sungguh membuat ia tergelak geli saat memikirkan kata tambahan di belakang huruf 'King' seperti 'Kong' dan jika disatukan akan menjadi 'King Kong'.
"Mereka cari mati."
"Tim basket itu kumpulan pereman."
Banyak lagi bisikan serta hinaan untuk adek kelas mereka yang mencari masalah tersebut. Melirik kearah Himchan yang masih memperhatikan anak yang sama akhirnya ia buka suara cukup pelan.
"Choi Junhong, anak kelas 2-4 murid bermasalah dengan beberapa anak dari pendonor dana disekolah. Sebulan lalu anak itu mengikuti perkelahian antara geng dengan luka lebam sedikit diwajahnya."
Ia tersenyum mengejek saat Himchan menatap kearahnya, ada hal lucu melihat ekspresi mendengus dari Himchan yang tertangkap basah tengah tertarik dengan orang baru.
Di luar sana suasana makin memanas beberapa seruan terdengar hingga di dalam kelas, ia tak bisa melepaskan pandangan kearah lain selain pada Himchan.
"Kau tertarik dengan anak itu?"
Himchan menatap kearahnya, adu tatap terjadi hingga menarik perhatian Jongdae mantan ketua osis beberapa bulan lalu.
"Apa kalian betulan cuman 'sahabat'?"
Mendengar pertanyaan Jongdae sifat jahilnya muncul. Menaruh kepala di bahu Himchan dengan manja, ia ingin tergelak melihat ekspresi Jongdae seperti menahan buang air besar.
"Bagaimana menurut mu, Jongdae?"
Ia bertanya Jongdae kehilangan arah bicara, otak anak itu seakan heng. Beberapa orang memang penasaran dengan kedekatan ia dan Himchan yang terlalu intim untuk sekedar sahabat. Ada juga orang yang tidak tahu kebenarannya menghina mereka sebagai orang yang menjijikan.
"Kudengar Himchan jarang membantu mu di ekskul teater?"
Gak tahan, gak tahan, ia ingin sekali tertawa sekarang melihat ekspresi aneh Jongdae. Menggigit pipi bagian dalam suara dari Himchan membuat suasana makin 'aw' untuk menjahili Jongdae.
"Dibandingkan itu, aku lebih suka membantu Daehyun diatas tempat tidur dan..."ada jeda sejenak dari suara Himchan aktifitas di kelas berhenti rahang Jongdae hampir terlepas dari tempatnya mendengar jawaban dari Himchan ."lebih efektif dan menyenangkan."
Ia menepuk paha Himchan untuk melampiaskan tawa yang tidak bisa dilepaskan. Wajah Jongdae berwarna semerah tomat niat hati ingin menjahili lagi tapi, guru kimia masuk kedalam dengan raut wajah sulit dijabarkan, mungkin karena ekskul basket yang di bawah tanggung jawab guru kimia itu mendapatkan masalah.
Rata-rata anak bermasalah adalah anak yang berprestasi dari kalangan bawah. Buktinya saja didalam kelasnya hampir separuh penghuni kelas ada di daftar hitam termasuk ketua osis sendiri. Kelas 3-1 adalah kelas penuh intrik dari kepala sekolah terbukti kelas mereka ini di penuhi anak berotak encer tapi di masukan di barisan paling belakang sebaliknya yang berotak udang di posisi paling atas. Itu menjijikan!
Guru kimia memberikan mereka tugas soal, ia mengerjakan dengan ogah-ogahan. Setiap kalimat yang tertulis adalah jawaban yang di ingat olehnya di luar kepala, waktu berlalu cepat saat bunyi pulpen ditaruh diatas meja menandakan bahwa Himchan telah selesai mengerjakan soalnya, melirik kertasnya ia tinggal menulis beberapa angka saja and Bingo! Ia selesai lalu menaruh pulpen di atas meja.
"Semuanya kumpulankan tugas kalian pada, Daehyun. Setelah itu kalian semua boleh istirahat."
Ia menyambut kertas anak sekelas hingga semua terkumpul. Menaruh diatas meja guru, guru kimia terlihat penuh beban ia tau guru itu satu-satunya orang yang selalu membela murid-murid berprestasi hingga mampu bertahan sampai saat ini. Memberi senyum kecil kepada guru kimia, ia keluar kelas bersamaan dengan Himchan melewati pintu belakang. Tujuan mereka hanya satu yaitu kantin lalu atap sekolah untuk menikmati keadaan tenang sesaat mereka di sekolah.
Tadi setelah pergi kantin ia bersama Himchan langsung saja menuju keatap sekolah. Melewati satu persatu anak tangga hingga mendekati anak tangga terakhir ia baru berusara untuk memastikan tentang ketertarikan Himchan pada Junhong benar-benar nyata, bukan dalam hal romantis pastinya ketertarikan itu, melainkan hal menguntungkan untuk kedepannya.
"Apa rencana mu, hyung?"
Ia bertanya tanpa mengalihkan tatapan mata yang tertuju kearah depan, ia sadar Himchan melirik kearahnya.
"Tidak ada."
Ia mengangguk mengerti maksud dari Himchan toh akhirnya semua akan datang dengan sendirinya jika butuh sesuatu kepada mereka di akhiri ada yang terikat mau pun tidak.
"Kau yakin?"
Ia kembali bertanya ketika sampai diatap sekolah. Angin menerpa permukaan kulit membawa ketenangan sendiri baginya yang menyukai udara segar dari alam. Melangkah menuju tempat biasa di dekat gudang sesampainya disana ia mendudukkan diri dan menikmati sepotong roti miliknya sambil mengikuti pembahasan tentang sepak bola tadi malam saat Real Madrid melawan Barcelona yang sayangnya tidak sempat ditonton olehnya tapi agar tidak terlihat bahwa ia melewatkan tayangan berharga itu, ia berlagak tahu jalan pertandingan sepak bola tadi malam. Ia juga tidak melepaskan ekspresi bahagia Himchan saat menjelaskan permainan yang dimenangkan oleh Real Madrid dan mengejek Barcelona memalukan kalah dikandang sendiri. Tidak terima club unggulan miliknya dihina ia mengait leher Himchan seakan marah tapi, kenyataannya ia hanya bercanda saja. Namun saat adegan mengait itu terjadi posisinya dalam sekejap mata berubah menjadikannya posisi tengkurap dengan baju putih bagian dadanya kotor sedangkan Himchan berada diatasnya.
"Jangan lemah Daehyun-ah hanya karena aku sahabat mu."
Ia berdecih tak suka, sambil melepaskan tubuh dari Himchan. Melirik sekilas baju seragamnya yang kotor ia mendesah lelah melihat perilaku Himchan hanya sedikit yang berubah.
"Tidak bisakah kau bercanda hyung?"
Ia melemparkan pertanyaan menghina dibalas oleh tatanan rambut dirusak oleh Himchan. Merasa senang karena Himchan menyentuh rambutnya ia menyandarkan kepalnya di bahu Himchan. Dalam beberapa jeda ia teringat bahwa membutuhkan uang untuk biaya lain demi kelangsungan orang tersayangnya.
"Hyung, sepertinya aku membutuhkan banyak uang lagi."
Bisa dilihat olehnya bahwa Himchan melirik kearahnya sebelum berkata.
"Sedikit sentuhan terakhir darimu alat itu akan selesai."Mata yang selalu di kagumi olehnya kini tertutup untuk memejamkan mata, "selesaikan malam ini maka aku akan memberikan semua persenan milik ku pada mu semua."
Ia hanya mampu menggenggam tangan Himchan sebagai tanda terimakasih begitu banyak akan pengorbanan Himchan untuknya. Memejamkan mata menikamati angin siang hari, ia tidak bisa mencegah rasa kantuk yang menyergap matanya, hingga tak lama ia pun tertidur dengan posisi membuat semua orang salah paham jika melihat itu semua.
Ia terbangun saat bel pulang berbunyi menandakan bahwa mereka -ia dan Himchan- tertidur cukup lama. Melepaskan genggaman tangan dari Himchan serta berdiri dari duduknya ia merenggangkan otot tubuh seperti dilakukan oleh Himchan. Usai melakukan perenggangan ia berjalan kearah pembatas dan menghirup udara sore dari atas atap, dibelakangnya Himchan berjalan menjauh untuk memberikan waktu baginya menikmati angin sore sebelum langkah kaki lebar terdengar dari arah belakang membuat dirinya menengok dan mendapati bahwa anak yang menarik perhatian Himchan berdiri dibelakangnya sambil mengatur nafas kembali normal.
"Ada yang bisa ku bantu?"
Tanyanya dengan senyuman tipis oh... Ia hampir lupa pasti Himchan tadi berselisihin dengan anak ini ketika menuruni tangga, ia bisa membayangkan sebuah seringai terpait di bibir Himchan. Anak itu telah selesai mengatur nafasnya dan menatap tepat kearah matanya.
"Bantu aku mempertahankan ekskul basket, hyung."
Mata itu kini terlihat memeles padanya, memiringkan kepala ancaman itu sama seperti dulu ternyata. Terkekeh pelan ia berjalan mendekat kearah Junhong yang sejak tadi tidak memperkenalkan diri.
Puk
Puk
Ia menepuk bahu Junhong pelan. "Nama mu siapa?"Ia berbasa-basi sedikit.
"A- Choi Junhong."
"Aku akan membantu."Ia melirik penasaran ekspresi Junhong yang terlihat senang di balik wajah datar itu, berikutnya ia menatap sekilas kearah kancing tengah baju Junhong dan berjalan mendekat. Untungnya Junhong tidak mundur sama sekali, memegang tangan Junhong untuk mengarahkan ke kancing baju, ia mendongak untuk menatap anak itu. Nafas hangat menerpa wajahnya, aroma manis vanila tericum di indra penciuman.
"Cengkram kancing baju yang ada di tangan mu."
Ia berbicara tanpa suara, ia juga mempertahankan posisinya untuk tetap mendongak menatap wajah yang menurutnya begitu tampan namun terlihat manis di sisi lain. Junhong melihat pergerakan bibir itu menurut saja dan mencengkram kancing baju tengah yang saat ini ada di dalam cengkram tangan.
"Tarik dan buang jauh-jauh."
Junhong berkedip hampir kehilangan fokus akan bibir yang begitu menarik perhatiannya itu bergerak kembali. Ia melihat Junhong berkedip seakan kesadaraannya yang sedikit mengambang di udara mengerutkan kening bingung tapi, tersenyum puas saat melihat Junhong mengikuti instruksi darinya. Melepas kasar kancing baju dari seragam lalu membuangnya jauh, kancing baju itu jatuh entah kemana.
"Kancing baju itu terdapat chip yang berfungsi sebagai kamera pengintai."
Ia bisa melihat Junhong mengerutkan keningnya tak suka, ia melirik sekilas bibir tipis itu dan tersenyum mengetahui jarak mereka tetap sama dari tadi begitu dekat. Menggigit bibirnya ia berpikir mungkin membahas cara itu lebih baik ditempat langganan miliknya.
"Besok temui kami di cafe KH jam delapan malam."
Ia menepuk bahu Junhong dan beranjak pergi meninggalkan Junhong yang masih mencerna perkataan dari seniornya itu termasuk adegan sensual seniornya yang menggigit bibir tersebut begitu membuat dirinya bisa hilang kendali.
Melangkahkan kaki menuruni tangga satu persatu ia menuju kelasnya mengambil tas miliknya dan melihat bahwa Himchan tidak membawa tas, menggelengkan kepala melihat kebiasaan itu ia segera saja mengambil tasnya dan tas Himchan. Keluar kelas dan kembali menuruni tangga, ia tidak menemukan Junhong hingga sampai di sebelah Himchan yang memasukkan handphone cagih itu kedalam saku celana.
"Ayo kita pulang hyung."
TBC
A/N: Bagaimana? Ini bagian khusus Daehyun. Lama sekali baru lanjut bukan? Maaf jika banyak Typo, tolong koreksinya.
[ Balasan Rivewe ]
Chubbyoo: Apapun, asal Ada daejae, maka Jalan cerita akan lebih b'warna(buat aku ajja kali' ya') Ditunggu chap selanjutnyaa!
Jawab: DaeJae itu sensasional gak bisa ditinggal dalam cerita ini HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA... Makasih udah mau baca ^…^.
