Tales of Wu Family
Tittle : Pinkeu Pinkeu
Pairing: Krisyeol
Character: Kris, Chanyeol, Baby! Sehun, Toddler! Lulu and Nini, Yixing
warning (s) :OOC (maybe?) , past!mpreg, typo(s) ofcourse hahaha~~
disclaimer: plot yang pasaran milik Kim sedangkan yang lainnya bukan punya saya
Tales of Wu Family - Pinkeu Pinkeu
Wu Shixun, bayi delapan bulan yang paling menggemaskan di seantero jagad raya. Kenakalan dan keaktifan bayi itu seakan menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.
Belum genap saat usianya enam bulan, bayi itu mulai belajar merangkak, meskipun ia hanya bisa merangkak tak lebih dari lima langkah kaki orang dewasa. Dan satu minggu tepat setelah ia mulai merangkak, ia sudah berhasil membuat seluruh penjuru mansion Park kalang kabut mencari makhluk dengan senyum satu gigi yang sangat adorable itu.
Tetapi cerita kali ini bukan tentang bagaimana Sehun, si escapee artist itu diburu untuk kesekian kalinya. Cerita itu akan diceritakan lain waktu.
Kali ini adalah giliran bagaimana si adorable baby ini menangis seharian dan tentu saja membuat pusing seluruh penghuni mansion tempat ia tinggal. Masalahnya sungguh sangat sepele – bisa jadi tidak untuk si bayi montok itu – yaitu,
Pinkeu – pinkeu.
Boneka rillakkuma bertudung merah muda yang selalu menemani bayi itu kemana pun bayi itu pergi.
Literally kemana pun.
Saat mandi pun boneka itu tidak akan pernah ia lepaskan. Meskipun little Wu itu akan menangis sesengukan saat mengetahui boneka kesayangannya itu basah terkena air.
Selalu saja seperti itu, menangis karena dipisahkan dengan sang pinkeu-pinkeu sebelum mandi dan ketika permintaannya dipenuhi ia juga kembali menangis karena kesayangannya itu basah sehingga tidak nyaman untuk dipeluk, dua kali setiap harinya.
Segala hal telah dicoba, termasuk dengan menggunakan hair dryer untuk benda berbulu cokelat. Tetapi sang bayi dengan mata segaris ketika tersenyum dan menunjukkan dua gigi susunya yang belum tumbuh sempurna itu, menangis karena ia tidak suka bau lembab yang tersisa.
Hingga akhirnya pamannya yang jenius memberikan keajaiban pada pasangan Wu-Park untuk mengatasi masalah itu.
Membungkus si boneka itu dengan plastik transparan.
Solusi sederhana yang terlihat sepele dan bodoh sebenarnya, tapi sangat efektif untuk mengurangi dengingan telinga pasangan itu saat waktu memandikan pangeran kecil Wu-Park tiba.
Namun sayang sekali masalah untuk kali ini tidak sesederhana pinkeu-pinkeunya yang basah karena tercelup air.
Masalah kali ini adalah boneka pink itu secara tidak sengaja terbawa oleh sepupu Sehun yang baru empat jam yang lalu berpisah di bandara Incheon untuk kembali ke tempat tinggal mereka.
Dan masalah lain yang lebih besar adalah sang sepupu, Son Wendy, putri pertama Park Yura dan Son Jun Ho, tidak tinggal dengan jarak dua atau tiga jam dari Seoul tetapi jarak 13 jam lebih memisahkan mereka. Ditambah lagi dengan perbedaan waktu 14 jam antara Seoul dan Toronto.
Yap, keluarga kecil itu tinggal di Toronto, Kanada.
Dua benua berbeda dan terpisahkan oleh luasnya Samudra Pasifik.
" Cup cup, sayang. Jangan menangis lagi ya..."
" Maaaaa... Piiiiii..."
Pi, sebutan Sehun untuk si pink kesayangannya.
Untuk ukuran bayi normal, delapan bulan bukanlah usia normal untuk mulai berbicara tetapi Sehun di usianya sudah mulai berbicara meskipun hanya terdiri dari satu suku kata. Contohnya adalah Ma untuk Mama, Ppa untuk Papa, dan Pi untuk pinkeu-pinkeu kesayangannya.
Kembali lagi,
Jeritan Sehun yang menggema di seluruh penjuru rumah membuat banyak orang sedih dan kalang kabut dibuatnya.
Hampir delapan jam dan keluarga Wu kecil itu telah kehabisan cara untuk menenangkan baby Sehun. Segala cara telah dilakukan untuk menenangkan bayi itu tapi ia tak kunjung lelah menangis sesengukan, merengek, dan mengisak kecil.
Usaha pertama.
" Maa... Piiii..."
" Pi sedang bersama Wenwen – panggilan kesayangan Wendy – Shixunnie bersama Po dan Ben ya?" bujuk Chanyeol dengan dua boneka rillakuma berukuran hampir mirip dengan pinkeu-pinkeu milik Sehun.
" Piiiiiiiii..." jerit Sehun tanda ia tidak setuju dengan ide Mama-nya.
" Atau Shixun mau bermain dengan Bo dan Poong-poongie?" bujuk Chanyeol lagi. Kali ini dengan boneka rillakuma berukuran super – tingginya hampir setara dengan siku Chanyeol – miliknya dan boneka kuda nil lucu yang berwarna putih bersih.
" Piiiiiiiiii... Piiiiiiii," tangisan Sehun pun berakhir lebih keras dari sebelumnya tanda ia sangat tidak setuju dengan ide itu.
" Baiklah, Shixun-nie tidak suka dengan teman-teman Pi, sudah sudah jangan menangis lagi, heum?" bisik Chanyeol di kening Sehun yang berkeringat.
Usaha pertama untuk menggantikan Pinkeu-pinkeu gagal sudah.
Tidak menyerah, sepasang orang tua itu kembali melancarkaan usaha yang kedua untuk menenangkan Sehun.
" Benben, toben!" seru Chanyeol memanggil dua anggota keluarga mereka yang lainnya. Sehun masih tetap setia menangis dan menjeritkan nama Pi di sela-sela tangisnya.
Tangan dan kakinya yang pendek mengayun-ayun marah di udara. Chanyeol yang sedikit lelah dengan rontaan Sehun menurunkan bayi itu di karpet bulu yang lembut.
Dengan langkah yang bersemangat keduanya mendekat ke arah panggilan pemiliknya. Tanpa ba-bi-bu, mereka berdua dengan riang mengerubungi makhluk favorit mereka, Sehun, keduanya dengan riang menjilat kecil lengan dan kaki bayi itu tanpa peduli Sehun masih dengan kerasnya menangis.
" Shixunnie lihat benben dan toben ingin bermain dengan Shixunnie!" pekik Chanyeol riang.
Chanyeol mendudukkan Sehun dengan tangan yang masih menopang tubuh kecil Sehun. Sedangkan kedua anjing itu mengikuti perubahan posisi Sehun untuk melanjutkan acara mengerubungi kesayangan mereka.
" Kalau Shixunnie terus menangis benben dan toben tidak ingin bermain dengan Shixunnie lagi," sahut Kris mengompori.
" Huaaaa, Bennnnn Piiiiiiii..." adu Sehun kali ini pada dua anjing itu.
Dan malangnya bagi makhluk berbulu itu, salah satu tangan mungil Sehun yang bergerak sembarangan mengenai benben si makhluk manis berbulu putih bersih. Karena kaget, anjing itu menyalak dengan keras dan menjauh dari genggaman tangan Sehun.
Sedangkan tangan mungil Sehun yang satunya tanpa sengaja meremas bulu-bulu lembut anjing berwarna hitam itu hingga ia melakukan hal yang sama dengan teman seperjuangannya, menyalak dan menjauhkan diri dari keluarga kecil itu. Chanyeol yang juga kaget sempat memekik keras yang membuat tangisan Sehun makin keras.
" Lihat, Benben dan Toben sakit karena Shixunnie, kasian mereka kan?"
Mendengar suara Mama-nya yang mendadak meninggi, Sehun pun kembali menangis dengan keras sampai ia beberapa kali terbatuk-batuk. Kris dengan sigap meraih Sehun dan menggendongnya meskipun dengan sedikit susah payah akibat rontaan.
Tangan besarnya mengusap-usap punggung sempit bayinya dengan lembut.
" Sudahlah sayang jangan marahi Shixun, sini biarkan aku yang menggendong Shixun."
" Cup, cup, Shixunnie mau apa, heum? Nanti Papa belikan," bujuk Kris pada putra semata wayangnya.
" Pi, pa, piiii..." adunya.
" Pi sedang bermain dengan Wenwen, Shixun mau Wenwen sedih Pi pulang?" bujuk Kris lagi.
" Huwaaa Piiiiii..."
" Bagaimana ini, suamiku? Apa tidak ada cara lain selain mengembalikan Pinkeu-pinkeu nya?" tanya Chanyeol. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah manisnya yang seakan tidak ikut menua sejalan dengan usianya.
" Aku sudah menghubungi Junho-hyung tapi sayangnya ponselnya tidak aktif. Kupikir ia masih dalam penerbangan jadi ponselnya jelas saja tidak aktif. Aku juga sudah menghubungi Kyu-hyung jika Junho-hyung dan noona sampai di Pearson – bandara Internasional Toronto – ia akan terbang ke Korea secepat yang ia bisa dengan Pi-nya Shixunnie," terang Kris dengan tangan yang mengusap-usap rambut berkeringat putranya itu.
" Tapi itu butuh waktu yang sangat lama, mereka baru empat jam perjalanan. Sedangkan Seoul – Toronto butuh waktu tiga belas jam perjalanan. Belum lagi dengan perjalanan kembali dari Toronto menuju Seoul." Kris tidak membalas kata-kata Chanyeol, ia hanya meraih suami-wifey-nya itu ke dalam pelukannya dengan satu tangannya yang bebas dan mengecup keningnya cukup lama.
" Aku takut terjadi apa-apa pada Shixunnie," lanjut Chanyeol teredam oleh lengan kuat Kris. Satu tangannya terulur untuk mengelus lembut kepala Sehun yang masih rewel.
" Tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada kalian berdua selama ada aku," balas Kris menenangkan.
Dua cara tidak berhasil meskipun kita mendapatkan tontonan gratis adegan lovey dovey pasangan muda Wu dan Park itu.
Masih banyak jalan menuju Roma, itu kata pepatah, seakan belum kehabisan cara, Kris dan Chanyeol pun menjalankan rencana ketiga mereka. Tangisan Sehun tidak sepenuhnya berhenti tetapi setidaknya raungannya tidak lagi terdengar.
Sehun yang masih tetap menangis sesengukan – kali ini ia kembali di dalam gendongan mama-nya – mendapat kejutan sebuah benda berwarna pink di hadapan wajahnya. Melihat sosok familiar di hadapannya, tangisnya sedikit mereda dan digantikan oleh isakan kecil di bibir mungil itu.
" Shixunnie lihat, Papa membawa Pi pulang!" seru Chanyeol gembira. Ia menyunggingkan senyum terima kasihnya pada pria di hadapannya itu.
" Apapun untukmu dan Shixunnie kecil," balas Kris dengan suara pelan. Senyum lebar Kris berikan sebagai balasan dari senyum yang selalu membuatnya merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia.
Sehun yang gembira dengan kepulangan teman kecilnya pun langsung memeluk makhluk bertudung pink itu.
Ia mengusak wajahnya dengan brutal pada benda tak hidup itu seperti kebiasaannya sehari-hari. Dan tentu saja ingus, keringat dan air mata yang ia keluarkan menempel sempurna pada boneka tak berdosa itu. Sepasang orang tua baru itu pun tersenyum melihat tingkah buah hati mereka yang sangat menggemaskan itu.
Tetapi sayang sekali, satu menit setelah Sehun menjalankan ritualnya,ia mendadak memandang boneka di pelukannya dengan pandangan lasernya. Seolah-olah boneka itu adalah virus jahat yang harus dimusnahkan.
" Waeyo Shixunnie?" tanya Chanyeol lembut.
Mendadak saja Sehun melemparkan boneka tersebut dengan keras hingga menabrak dinding yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka bertiga berdiri. Kris dan Chanyeol kaget dengan tingkah laku Sehun yang tiba-tiba itu.
" Kenapa Pi dibuang, Shixunnie?"
" Hun Pi! Pa Pii!" seru Sehun marah. Tangan mungilnya menunjuk ke arah replika Pi dengan gelengan keras kepalanya.
Sepertinya Sehun tahu bahwa yang baru saja ia buang bukanlah Pi-nya tetapi boneka serupa yang dibelikan oleh Kris untuk menggantikan Pi-nya.
" Dia tahu, hyung."
" Shixun tidak mau Pi yang dibelikan Papa? Papa sedih kalau Pi-nya di buang."
" Piiii... Hun Piiii..." raungan yang sebelumnya menghilang itupun kembali lagi.
" Iya, iya, Shixunnie tidak suka dengan Pi Papa. Arrasseo, arraseo, nanti Papa kembalikan Pi. Jangan menangis lagi heum?"
" Aish, bagaimana dia tahu kalau itu bukan Pi-nya sih?" Kris mengacak-acak rambutnya frustasi sementara Chanyeol kembali mengayun Sehun yang kembali menangis pelan.
" Bau-nya, hyung. Pasti Shixun bisa membedakan bau Pi-nya dengan boneka lainnya. Bau susu, bedak bayi, dan bau lainnya pasti menempel di Pi-nya."
" Kenapa Shixunnie Papa dan Mama terlalu pintar sih?" keluh Kris setengah memuji dan setengah menggerutu.
" Shixunnie mama memang pintar, iya kan?" puji Chanyeol meskipun obyek pujiannya itu sibuk memaksimalkan latihan suaranya.
Ya, dengan itu semua ide yang mereka punya untuk menenangkan Sehun gagal sudah. Keduanya pun hanya bisa pasrah menunggu kabar dari orang kepercayaan Kris dan menunggu Sehun berhenti menangis dengan sendirinya karena kelelahan.
.
Pukul tiga pagi – hampir 10 jam setelah dimulainya tragedi Pinkeu-pinkeu – Kris yang frustasi karena tak kunjung mendapatkan kabar dari teman sekaligus orang kepercayaannya di kantor memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya.
Oh, jangan salah paham kenapa Kris akhirnya memilih untuk menyingkir ke ruang kerja pribadinya. Bukan karena ia tidak bertanggung jawab, hanya saja usaha yang Kris lakukan untuk meredakan tangisan Sehun – membeli duplikat Pi – membuat Kris untuk sementara menjadi musuh Sehun. Tangisan Sehun akan terdengar semakin keras setiap kali ia melihat Papa-nya.
Sebagai ayah dan suami yang baik ia tidak bisa membiarkan dirinya menjadi penyebab makin runyamnya drama keluarga maka dengan kesadaran diri serta pengusiran halus dari suaminya ia pun menyingkir ke ruang kerjanya.
Dan setelah hampir satu setengah jam ia mendekam di dalam ruang kerjanya dengan rambut yang senantiasa ia jambak, Kris pun memutuskan untuk keluar dari pertapaannya saat ia tidak lagi mendengar raungan kuat Wu junior itu.
Pemandangan yang ia temukan saat ia membuka pintu membuatnya sedih dan terharu pada saat yang bersamaan.
Kris mendapati suaminya tengah mencoba melawan kantuknya di sofa dengan Sehun masih berada di dalam gendongannya. Tangannya tak hentinya mengusap lembut Sehun yang masih merengek.
Ia mendekat ke arah keduanya dan membelai helaian halus suaminya yang sedetik kemudian tersadar dari kantuknya.
" Ah, hyung." Suaranya terdengar serak di telinga tajam Kris. Dan ketika Chanyeol mendongakkan kepalanya dan menatap Kris tepat di mata, ia bisa melihat katung mata bulat itu membesar serta menghitam saking kurangnya Chanyeol mendapatkan waktu istirahatnya.
" Heum, beristirahatlah, Yeol. Biar aku yang menggendong Shixun."
Lelaki yang lebih tua itu mendudukkan dirinya di sebelah sang suami dan mengulurkan tangannya untuk mengambil Sehun dari gendongan suaminya.
" Tapi hyung, bagaimana kalau Shixun menangis lebih keras lagi?"
" Ssh, jangan banyak protes. Shixun bersama Papa ya sayang?" bisik Kris lembut ketika ia dengan perlahan mengambil alih Sehun dari pelukan Chanyeol.
" Ssh sshh Shixunnie Papa yang tampan, istirahatlah sayang. Dan kau, Wu Chanliè, kemarilah," dengan kedua tangannya Kris mendekap putranya namun, pandangan matanya tertuju pada Chanyeol.
Melihat Chanyeol hanya menggeserkan tubuhnya sedikit, Kris pun kembali berkata pada suaminya itu, " lebih dekat, nyonya Wu."
" Lebih dekat lagi, nyonya."
" Ish, hyung apa yang akan kau lakukan?"
" Jangan terlalu banyak protes, sayang. Kemari lebih dekat lagi," kata Kris lagi.
Chanyeol yang penasaran dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Kris pun menurut saja dengan perintah suaminya yang aneh itu.
" Oke, sudah. Now what?" balas Chanyeol saat sisi tubuh keduanya menempel dengan sempurna.
" Good. Sekarang lingkarkan tanganmu di pinggangku dan senderkan kepalamu," perintah Kris lagi.
Chanyeol yang akhirnya paham maksud Kris pun terkekeh geli dengan arahan suaminya yang awalnya terkesan tanpa alasan itu. Meskipun begitu Chanyeol tetap menuruti arahan Kris dan menghela nafas lega ketika kepalanya bersentuhan dengan pundak Kris yang lebar.
" Joha..." lirih Chanyeol yang tertangkap dengan sempurna oleh telinga Kris.
" Nyaman, heum?"
" Neomu."
" Sekarang pejamkan matamu dan beristirahatlah."
" Hngggg."
" Love you," bisik Kris dalam kecupan singkatnya di dahi Chanyeol.
" Love you too," gumam Chanyeol.
" And we love our Shixunnie too," gumam Kris yang juga ia bisikkan ketika ia mengecup dalam kening putranya.
.
.
.
Lima belas menit menuju pukul lima pagi Chanyeol terbangun dan mendapati suaminya tidak lagi menjadi human teddybear-nya. Sebuah selimut cukup tebal menyita perhatiannya untuk sejenak sebelum sebuah dering keras mengagetkannya. Melihat nama Kyuhyun tertera pada ponsel Kris, Chanyeol pun segera beranjak dan mencari keberadaan suaminya.
Setelah bertanya pada beberapa asisten rumah tangganya yang sudah mulai merapikan beberapa sudut kediaman Wu-Park, Chanyeol pun menemukan Kris dengan Sehun yang masih merengek kecil berada di dalam gendongannya di ayunan teras taman belakang rumah mereka.
Belum sempat Kris bertanya kenapa Chanyeol telah beranjak dari istirahat singkatnya, Chanyeol telah menyodorkan ponsel milik Kris di depan batang hidungnya. Kris pun bertanya-tanya dengan tindakan Chanyeol itu.
" Kyuhyun-hyung," sebut Chanyeol yang membuat Kris dengan segera memberikan Sehun pada Chanyeol dan sedikit menjauh dari keduanya untuk mengangkat sambungan internasional itu.
" Shixunnie minum susu ya?" tawar Chanyeol dengan sebuah botol familiar ditangannya. Botol dot yang berisi susu formula yang masih hangat itu dengan segera berpindah ke mulut mungil Sehun saat bayi itu memberi isyarat pada ibunya untuk memberikan botol itu padanya.
" Shixun laparkan setelah lama menangis?"
" Menangisnya sudah ya?" goda Chanyeol saat Sehun dengan rakusnya memindahkan isi botol itu ke dalam perutnya. Sehun mengerutkan wajahnya tidak suka mendengar candaan ibunya, seakan ia mengerti tiap kata yang diucapkan oleh Chanyeol.
" Arrasseo, arrasseo, Mama tidak akan menggoda Shixunnie lagi," putus Chanyeol dengan kekehan geli. Sedangkan Sehun pun kembali fokus pada kegiatan di depan matanya.
Chanyeol mendongakkan kepalanya saat sosok Kris muncul di dalam pandangannya. Satu-satunya pertanyaan yang ingin ia ajukan tergambar dengan jelas dalam tatapan matanya pada lelaki yang lebih tua darinya itu.
" Pesawat Kyu-hyung akan tinggal landas dalam beberapa menit. Jangan khawatir."
" Syukurlah kalau begitu, aku lega mendengarnya."
" Aku juga begitu, Yeol. Shixunnie dengar itu? Pinkeu-pinkeu Shixunnie akan segera pulang. Shixunnie senang, heum?" kata Kris lembut.
Mendengar nama Pi-nya disebut, Sehun pun kembali berontak dalam pelukan Mama-nya.
" Hyung, ish!" seru Chanyeol kesal. Sehun yang sebelumnya sudah sangat jauh lebih tenang pun kembali dengan crying fiesta-nya.
" Eit, mian."
" Kau ini menyebalkan sekali, hyung."
.
.
.
Dua puluh ment lewat dari pukul delapan pagi, rumah tangga Wu-Park makin kalang kabut dengan Sehun yang rewel tidak hanya karena Pinkeu-pinkeunya. Tetapi juga karena Sehun yang mendadak demam karena kelelahan menangis sepanjang hari.
" Hyung, tolong ambilkan air hangat dan handuk kecil."
" Kompres penurun demam?"
" Yang itu juga. Dan Yixing-hyung."
" Got it."
Dua belas jam lebih Sehun menangis, maka tidak heran little Wu itu kelelahan dan jatuh sakit seperti itu.
' Demi Tuhan ini semua hanya karena boneka pink itu,' batin Chanyeol frustasi.
Mata tipis Wu junior itu nyaris tidak terlihat saking lamanya ia menangis hingga akhirnya kedua matanya sangat merah dan membengkak. Wajah mungilnya pun tidak luput dari warna merah. Dan tak jarang bayi kecil itu terbatuk-batuk saat akan mengeluarkan suaranya.
Chanyeol pusing dan sedih tentu saja. Berkali-kali ia menangis putus asa melihat putra sulungnya itu menangis tak kunjung berhenti seperti itu.
Ibu mana yang tega melihat anaknya menangis bahkan hingga tubuh mungil itu terasa hangat, suhu yang lebih tinggi ketimbang normal, di dalam pelukannya.
" Shixun sayang, uljimayo. Mama sedih kalau Shixun menangis seperti ini," kata Chanyeol sambil menyeka keringat dari dahi memerah Sehun dengan air mata masih menggenang di pelupuk matanya, siap jatuh kapan saja.
" Maa..."
Bayi itu tetap meronta di dalam pelukan Chanyeol dan merengek dengan keras.
" Shixun berhenti menangis ne? Lihat toben dan benben juga menangis soalnya Shixun-nie menangis," kata Chanyeol menunjuk pada dua anjing berbeda warna bulu, yang memandang Chanyeol dan Sehun dengan pandangan sedih.
" Ben, Piiiiii," adu Sehun pada kedua anjing itu dengan suara seraknya.
Dua anjing itu tampak mengerti dan menurunkan kedua telinga mereka sebagai bentuk simpati.
" Lihat, toben dan benben ikut sedih."
" Ben, Piiii"
" Ma, Piii"
" Pa, Piii" adu Sehun kepada semua nama yang bisa ia sebutkan.
" Shixun-nie tidur ya? Nanti setelah Shixun bangun Pi sudah pulang," bujuk Chanyeol pada putra tunggalnya itu.
" Ruuuu, Piiiiii..."
" Nniii, Piiii..."
" Cup, cup, Shixun-nie kesayangan Mama, jangan menangis sayang," Chanyeol mencium kening berkeringat Sehun.
Sekelebat bayangan hitam menyita perhatian Chanyeol untuk sejenak. Dan ketika suaminya duduk bersimpuh di hadapannya dengan sebaskom air hangat dan tak lupa handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air hangat, Chanyeol pun seikit menghela nafas lega.
Chanyeol mengambil handuk kecil itu dan menyeka kening dan sisi wajah Sehun dengan lembut.
Kris yang cukup peka dengan kesulitan Chanyeol menyeka dengan Sehun berada di dalam pangkuannya pun dengan cekatan mengambil kasur mini milik Sehun lengkap dengan bantal dan guling yang digunakan sebagai pembatas. Ia menggelarnya di atas karpet ruang keluarga yang lembut itu.
Chanyeol yang membaca maksud Kris pun meletakkan Sehun di atas kasur mininya sambil tetap mengompres dahi sempitnya dengan telaten.
Tak lama kemudian sang undangan pun datang dengan dua bocah lelaki yang masing-masing menenteng boneka beruang cokelat dan boneka poodle yang sama cokelatnya.
" Mian, aku sedikit terlambat. Mereka berdua memaksa ingin ikut saat mereka tahu aku akan kemari," ujar si pendatang baru.
" Tak masalah, Xing-hyung. Lulu dan Nini ingin menemani Hunnie, eoh?" kata Chanyeol pada dua bocah kecil itu. Dan dengan serentak keduanya pun mengangguk dengan semangat.
" Aigoo, kalian berdua sangat menggemaskan," kata Chanyeol gemas. Ia pun mengusak rambut keduanya dengan secara bersamaan.
" Jja, anak-anak main bersama toben dan benben dulu, okay? Mama akan memeriksa baby Hunnie dulu setelah Hunnie sehat kalian boleh bermain. Ottae?"
" M'kayy."
" Kay."
" Good boys."
Keduanya pun beralih pada Ben bersaudara itu sedangkan Yixing memfokuskan dirinya pada baby Hunnie yang merengek kecil saat stetoskop Yixing yang dingin menyentuh kulitnya. Beberapa menit Yixing melakukan prosedur pemeriksaannya sedangkan kedua orang tua Sehun memandang Yixing dengan serius.
" Dia kelelahan dan kekurangan cairan tubuh. Apa yang terjadi dengannya?" tanya Yixing setelah selesai dengan pemeriksaannya.
" Dia menangis hampir seharian ini. Pinkeu-pinkeunya terbawa oleh noona pulang," terang Kris.
Mendengar nama Pinkeu-pinkeu disebut tangisan Sehun pun kembali pecah. Di satu sisi Chanyeol dan Kris ingin menenangkan Sehun tetapi disisi lainnya keduanya berusaha menahan diri mereka untuk tidak memutar bola mata mereka serta menggelengkan kepala mereka.
Lulu dan Nini yang mendengar tangisan keras Sehun kemudian meninggalkan Ben bersaudara dan beralih pada si bungsu kesayangan mereka.
" Hun, ujima," bisik Lulu dengan lembut.
" Hun, boleh dengan mister Bowwie," tawar Nini dengan boneka poodle teracung pada bayi delapan bulan itu.
" Anak baik. Lihat Lulu dan Nini mau bermain dengan Shixunnie. Shixunnie tidak mau main dengan Lulu dan Nini, eoh?" mendengar Lulu, Nini, dan main berada di dalam satu kalimat entah bagaimana bisa membuat Sehun meredakan raungannya.
Keduanya pun dengan sukarela menyerahkan dua boneka kesayangan mereka pada si bontot.
" Syukurlah Kai dan Luhan ada disini. Setidaknya Sehun bisa teralih dari Pi-nya untuk sementara."
" Astaga dia menangis selama itu karena Pi-nya? Syukurlah kalian berdua tidak bunuh diri saking frustasinya," goda Yixing sedangkan Chanyeol dan Kris menanggapinya dengan senyum kecut.
.
.
.
Pukul delapan malam lewat sepuluh menit, pintu yang menjadi penghubung kamar utama dengan kamar bayi Sehun terbuka. Dua sosok di baliknya berjalan dengan suara yang dibuat seminimal mungkin mengingat satu-satunya Wu junior itu baru saja tertidur setelah meminum dosis obatnya untuk yang kedua kali.
Salah satu dari keduanya meletakkan sebuah buntalan pink dalam genggaman Sehun yang kemudian disambut dengan pelukan erat bayi mungil pada buntalan pink itu.
" Ingatkan aku untuk tidak membuat anak kita selanjutnya terobsesi pada benda tak hidup seperti si pink yang satu itu," kata Kris dengan suara lirih.
" Memangnya akan ada Wu junior selanjutnya? Pede sekali," balas Chanyeol cepat.
" Mau mencobanya?" usul Kris dengan suara yang ia buat serendah mungkin.
" Lupakan. Aku lelah. Tenagaku sudah terlalu banyak terkuras dalam dua hari ini."
" Kau benar. Sebaiknya kita tidur sekarang, sebelum drama selanjutnya dimulai."
" Goodnight and sleep well, darling Shixunnie."
" Mama, Papa, loves you."
Dan itulah akhir drama keluarga kesayangan kita kali ini.
E.N.D. Part~~
Pojok Kim: Singkat saja~~ RnR yah readers nim~~ yang menentukan dilanjut atau tidaknya adalah readers sekalian~~
Gracias,
Kim
