Aku menatap lama pakaian olahragaku yang hanyut di kolam renang sekolah. Di dasar. Diganjal dengan batu. Aku berpikir keras siapa yang telah tak sengaja melakukannya.
Tiba-tiba sebuah suara peluit mengagetkanku. Kulihat Ebisu-sensei menghampiri dengan wajah yang―kurasa―sengaja dibuat sangar.
"Hyuuga Hinata. Apa yang sedang kaulakukan di sini? Hari ini kita latihan lompat jauh," ujarnya.
"E-eh?"
"Di lapangan!" lanjutnya gemas. "Bukan di sini!" Ebisu-sensei memasang mimik lucu.
"B-baju olahragaku―"
"Ya, mana seragam olahragamu?" potongnya sembari memandangku dari atas sampai bawah. "Sudah kukatakan aku tak suka jika ada yang malas-malasan di jam pelajaranku."
"T-tapi aku―"
"Waktumu 5 menit untuk bersiap-siap!" ujarnya kemudian berlalu.
Entah kenapa aku merasa dia tak terlalu menyukaiku.
Aku kembali menatap dasar kolam. Dalamnya mungkin hanya 2 meter. Yea, kurasa.
"A-apa salahku?" keluhku.
"Waktumu 5 menit untuk bersiap-siap!"
Semenit telah berlalu dengan sia-sia. Aku tak yakin seragamku akan dengan sendirinya mengambang ke permukaan.
"S-setidaknya harus kucoba."
Segera setelah melepas alas kaki, aku langsung terjun ke dalam kolam. Terdengar kecipak air tak beraturan hasil perbuatanku. Oh Tuhan, ternyata ini lebih sulit dari yang kubayangkan.
Padahal ini hanya 2 meter.
Hanya 2 meter.
Dua meter.
Hanya…
Belum sempat menyadarinya, air kaporit telah memenuhi tenggorokanku.
Dear Hinata
Author: lullabby
Naruto © Kishimoto Masashi
Cover image not by me
Rated: T
Genre: Slice of life
Warning: Geje. Pendek! DLDR
AU, AT, OOC, and more.
"Ini semua idemu, Bodoh."
"Mana kutahu dia tak bisa berenang!"
"Setidaknya sekali saja gunakan otakmu. Dasar payah."
"Brengsek! Berhenti mengata-ngataiku!―Lihat! Dia sudah sadar."
"K-kalian terlalu berisik!" sergahku, terbatuk beberapa kali. Kurasakan tak enak di tenggorokanku.
Kedua pemuda di samping kananku terdiam.
Aku memandang keadaan. Badanku basah kuyup dan ada dua siswa berjongkok di sebelahku. Aku mengenal mereka berdua; satu yang memanggilku di kelas―cowok kuning jabrik dengan mata yang jenaka―dan satunya lagi yang menyatakan cinta―si kulit pucat dari goa hantu.
"B-bagaimana kalian m-menyelamatkanku?"
"Menciummu?" Alih-alih menjawab, si kulit pucat ini malah mengajakku main tebak-tebakan.
Aku buru-buru menggosok bibirku dengan punggung tangan.
"Aku bercanda."
Ugh! "N-n-nggak lucu!"
Hening.
"Pppfffttt! Dia bisa marah juga! Kau dengar yang dikatakannya, Teme?" Cowok jabrik kuning itu tertawa terpingkal-pingkal. Sepertinya itu pujian bagi si kulit pucat, karena kulihat ada seringai bangga di wajahnya.
Aku menyipitkan mata menatap si kulit pucat yang sedang menyeringai itu.
"Apa?" tanyanya tak suka melihatku memperhatikan dirinya. Seringainya memudar dan kembali ke mode flat. "Kau mengira yang kemarin itu serius?"
"A-ap―"
"Aku kalah taruhan, OK?"
"S-si-sial!"
Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengumpat.
.
.
.
.
tbc
.
.
March 05th, 2017
Author's confirm:
OOCnya mereka kacau ya? Wordnya juga makin pendek. Duh, maaf yaa bagi yg berharap lebih... Diawal aku udah bilang kan ya, ini fic geje, PENDEK!
Yellow Sekarang udah tahu kaan? ^^ Ai Rin Yuki Ada manis2nya gitu ya? :v Violet Makasih, makasih~ Permen Caca Bukan, itu bukan prolog... sasuhina69 Osh! Sedang dalam proses. Mohon doanya yaa :D code Aamiin... Makasih yaaa~ NillaariezqysekarrSarry470 Sekali lagi makasih :'D
