Chapter 3 - Sesuatu yang Berharga
Sore ini aku, Victor dan Yurio sudah selesai membuat tembikar! Saat nya kembali ke penginapan dan bersantai di pemandian air panas. Tapi handphone milikYurio tertinggal. Hmmm, biar aku saya yang kembali membawanya. Yosshh! Semangat Yuri! Sebagai tuan rumah yang baik, ya anggap saja begitu. Aku harus melakukan yang terbaik untuk mereka. Waktu aku di Rusia mereka juga baik padaku. Ganbatte, boku! Ini latihan yang bagus!
.
.
Tak berselang lama, Yuri sampai di tempat pembuatan tembikar. Terlihat para pengunjung telah bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut. Yuri masuk, seraya pandangannya berkeliling mecari handphone milik Yurio.
"Yurio bilang tertinggal di atas meja. Huhh… tapi meja yang mana? Disini banyak meja. Kenapa aku tidak tanya tadi?" sesal Yuri.
"Katsuki-kun?"
"Ah, Takuma-san"
"Bukankah tadi kau sudah pulang dengan lainnya? Ah, maaf maksudku, apa ada yang ketinggalan?" tanya pria paruh baya itu dengan ramah.
"Iya Takuma-san, handphone milik Yurio tertinggal, aku kesini untuk mencarinya. Apa anda melihatnya?"
"Sebentar kalau tadi tidak salah, saat membereskan meja pegawaiku menemukan barang milik penggujung." Jelas Takuma-san sambil menuju tempat penyimpan barang.
Yuri duduk menunggu sang pemilik, terlihat ada penggunjung menghampiri Takuma-san.
"Takuma-san, terima kasih banyak. Kami mohon pamit!"
"Iya terima kasih kembali. Terima kasih atas kunjungannya. Oh iya, hasil jadi tembikarnya akan selesai dua hari bisa kalian bawa langsung kesini atau diantarkan juga bisa, nanti kami hubungi kembali."
"Baik, kami tunggu informasinya, Takuma-san!"
Pengunjung terakhir hari ini sudah kembali. Sekarang ruangan itu terlihat lebih besar, hanya tinggal Yuri, Takuma-san dan beberapa pegawainya yang sedang membereskan peralatan yang telah digunakan. Takuma-san menghampiri Yuri, membawa barang yang mungkin barang yang di maksud oleh Yuri.
"Katsuki-kun! Apakah ini yang kau maksud?" sambil menyerahkan barang di tangannya kepada Yuri.
"Iya benar, Takuma-san. Terima kasih sudah menyimpannya." Jawab Yuri dengan senyum di wajahnya. Kembali kesana tidak sia-sia, handphone milik Yurio memang tertinggal di sana.
"Oh iya, tembikar milikmu dan teman-temanmu juga akan selesai dalam dua hari."
"Saya sudah tidak sabar ingin melihatnya. Baiklah Takuma-san, saya pamit pulang!" Yuri membungkuk hormat.
"Ah, iya sudah mulai gelap dan sepertinya akan turun hujan. Kau mau membawa payung?"
"Tidak usah, Terima kasih, sepertinya masih sempat sampai penginapan sebelum hujan."
"Baiklah. Hati-hati di jalan! Terima kasih atas kunjungannya!"
.
.
.
Yurio, Victor dan Natsume-kun pasti sudah sampai di penginapan, uwaahh aku tertinggal cukup jauh dengan rombongan terakhir. Aku harus berbegas. Aku harus menghubungi Victor kalau handphone Yurio ada dan aku di perjalanan kembali. Sedirian di hutan seperti ini lumayan menyeramkan juga. Argh, Baterai handphoneku habis, terakhir ku charge tadi pagi. Hmmm.
Hujan mulai turun, aku mempercepat langkahku. Ah, harusnya tadi aku pinjam payung milik Takuma-san. Aku harus cepat.
"Dddrrrrttt!"
"Dddrrrtt!"
Getaran Handphone, pasti milik Yurio. Aku coba lihat panggilan masuk dari siapa.
{Panggilan masuk…
Otabek Altin}
Angkat tidak angkat tidak angkat tidak? Baiklah aku angk-
"Uuwwaaaaahhh…!"
.
.
Handphone terjatuh ke tanah.
"Aaww… sakit!" Yuri terpeleset karena jalanan memang licin dan Yuri dengan santainya menggunakan Handphone. Handphone Yurio tak jauh dari Yuri. Ketika hendak mengambilnya, tanah yang menjadi pijakan Yuri bergerak. Sepertinya dampak dari air hujan yang membuat tanah dipinggirannya hancur.
Dan..
"Huuuuuwwwwaaaa!"
"Hnng.. Aww,, Kami-sama kenapa tiba-tiba seperti ini?"
Yuri terjatuh ke jurang, tidak ada yang tau apa yang ada di bawah sana. Tangan kanannya berhasil menggapai akar pohon dan tumbuhan-tumbuhan. Menahan tubuhnya agar tidak terjatuh lebih dalam.
"Hah…hah!"
"Aku harus tenang. Harus tenang! Aku harus naik. Argghh… sial tangan kiriku… Ittai!"
"Kalau aku tunggu, mungkin akan ada yang mencariku, tapi kalau tidak ada bagaimana?"
"Ah, tidak tidak!"
"Tolongg! Siapapun, tolong akuuu!"
"Hhaaa!."
"Victor!"
.
.
Resort Shigaraki. Pkl 18:10.
"Vi-victor, bagaimana ini?" tanya Yurio, raut wajah saat ini pertama kalinya Yurio terlihat seperti itu.
"Hmmmn,,,"
"Tenang, Yurio-san. Hozan-san sudah menghubungi tim SAR. Sebentar lagi mereka pasti datang." Natsume mencoba menenangkan.
Dan benar saja tim bantuan sudah datang. Dan mereka segera berdiskusi menyusun rencana dan menentukan daerah pencarian. Ada 10 orang tim pencari.
"Aku, ikut!"
"Tidak bisa tuan, di luar berbahaya. Hari sudah gelap dan di tambah hujan, ini beresiko, Anda harus menunggu disini. " tutur salah seorang di tim pencari.
"Di luar sana Yuri sendiri dan aku tidak tau apa yang terjadi padanya. Dan kau memintaku untuk menunggu disini?" jawab Victor, sorot matanya mengintimidasi.
"Hmm. Baiklah."
"Yurio! Tenang saja aku pasti akan menemukan Yuri secepatnya. Kau pegang handphoneku!"
Victor dan tim pencari mulai bergegas menyusuri tiap jalan di gunung Shigaraki. Bila di siang hari jalanan di sana pasti terlihat jelas, lain halnya ketika malam apalagi disertai hujan. Harus ekstra hati-hati. Terang lampu senter terlihat kesana kemari. Saat itu salah satu tim, melihat sesutu.
"Pak kami menemukan sesuatu." Diperlihatkannya kepala ketua tim. Victor pun dengan segera menghampiri.
"Itu milik Yurio! Berarti Yuri ada di sekitar sini." Ujar Victor dengan yakin.
"Semuanya! Fokuskan pencarian radius 10 meter dari sini! Dilihat dari keadaan tanah disini, kemungkinan besar korban jatuh ke jurang ini. Persiapkan peralatan!" Komando sang ketua tim.
Benar saja. Saat beberapa anggota mulai menuruni jurang. Lampu senter mengenai sesuai yang tak lain, Yuri.
"Tim 1 ke tim 2! Korban di temukan! Sekali lagi korban di temukan! Kondisi korban sadar namun tangan kiri korban terluka. Ganti!" Suara salah satu tim pencari terdengar nyaring di HT ketua tim yang bersiap di atas jurang.
"Baiklah. Persiapan sudah siap. Evakuasi korban secepatnya. Ganti!"
Upaya penyelamatan dilakukan dengan segera. Victor dengan harap-harap cemas menunggu. Deras hujan sedikit demi sedikit berkurang. Tak berselang lama, akhirnya tim berhasil membawa Yuri.
"Yuri! Yuri buka matamu! Kau dingin sekali. Aku sudah ada disini. Yuri!" Air mata Victor sudah tak terbendung lagi. Lega dan cemas bercampur.
"Vi-victor! Aku t-tau kan pasti da-tang!" jawab Yuri dengan suara yang lemas.
"..."
"Yuri?! Yuri tetaplah sadar Yuri!"
~to be continued~
.
.
Maaf telat update chapter 3, huhu.
Oh iya, setting tempat cerita ini aku ngambil suasana pegunungan di cerita Natsume Yujinchou. Natsumenya juga aku masukin cerita buat jadi cameo ^^
Yoshh! Selamat Membaca! Di tunggu kritik dan sarannya ya ^^
#bocoran Chapter depan ada Ot*b*k :D #ngga usah di sensor *dzziggg
