DISCLAIMER

Eyeshield 21 (Riichiro Inagaki & Yusuke Murata)

RATING

T

Pairing

HiruMamo

Genre

Romance/Hurt/Comfort/Drama

WARNING

Terima kasih yang sudah menyempatkan untuk mereview fict saya. Walaupun hanya sedikit, tapi saya tetap ingin melanjutkan dan menuntaskan fict ini. Saya sadar pula bahwa ada banyak typo yang saya buat, dan saya sudah memperbaikinya.

-Somehow-

'However I get close to you

I only have one heart'

Chapter 2: Hide and Seek

"Apakah ini sudah semua?", petugas pengangkut barang mulai menyusun barang-barangku di dalam mobil boxnya.

"Iya, aku rasa ini sudah semuanya", aku mulai bersiap-siap untuk pergi menuju apartmenku.

"Jaga dirimu baik-baik disana ya, nak", tampak raut wajah ibu mulai berubah. Dia tampak kehilangan.

"Iya, bu. Aku akan baik-baik saja disana. Aku akan selalu menelepon ibu. Tenang saja, bu", aku mencoba meyakinkan ibu bahwa semua akan baik-baik saja. Aku melihat ayah yang hanya mengelus pundak ibuku.

"Aku berangkat dulu, bu", dan akhirnya aku berangkat menuju apartmenku.

Beberapa menit kemudian, aku sampai di apartmenku. Aku mendapatkan kamar di lantai 3. Dengan sigap, seluruh petugas pengangkut barang mulai menata dan membersihkan kamar baruku. Aku baru tau kalau petugas seperti ini tidak hanya mengangkut barang tapi dia juga bertugas untuk membersihkan kamar.

"Semua sudah selesai, nona. Anda bisa menempatinya sekarang", seorang petugas memberikan kunci kamarku.

"Ah? Oh iya, terima kasih atas kerja sama kalian", aku membungkuk dengan sopan.

"Sama-sama, nona. Kami permisi dulu", para petugas itu akhirnya pergi.

Aku segera melihat kondisi kamarku. Benar-benar rapi, dan tentu saja bersih. Aku segera melemparkan tubuhku di kasur kesayanganku.

"Ah… Sekarang apa?", tiba-tiba aku termenung.

'Jika saja Yamato masih disisiku, dia pasti sudah menemaniku saat aku seperti ini'

Lagi-lagi kenangan itu kembali merasuki otakku. Kapan semua ini akan berakhir? Untuk apa kenangan-kenangan itu harus kembali lagi?

'Aku melihatnya berciuman dengan wanita dengan seragam yang sama dengan universitasnya'

Mataku mulai memanas, sesuatu di dadaku terasa nyeri, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tapi apa daya? Rasa sakit ini cukup kuat untuk mengalahkanku.

'Brengsek kau Yamato!'

Aku mengumpat di dalam hati dan menghantam kasurku berulang-ulang kali. Aku tak dapat mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata. Aku benar-benar…

SAKIT.

*~Somehow~*

"Hei, Mamori-chan! Apakah kau sudah mulai tinggal di apartmentmu? Bagaimana disana? Apakah kau menyukai apartment barumu? Apa ada pria tampan disana?", Ako menghujaniku dengan banyak pertanyaan.

"Hei, hei, Ako! Pelan-pelan saja. Kau membuat Mamori-chan bingung", Sara hanya menghela nafas melihat tingkah sahabatnya.

"Semua baik-baik saja kok. Aku sangat menyukai apartment baruku. Tempatnya sangat nyaman dan tenang", aku membalas mereka dengan senyuman terbaik yang bisa aku tunjukkan kepada mereka. Yah, senyuman palsu.

"A-ah… Begitu ya? Syukurlah, Mamori-chan", Ako menyadari senyuman palsuku.

"Ehem… Ngomong-ngomong apakah kau tidak tertarik dengan mengikuti klub di kampus ini? Kau sudah semester 3 lho, Mamori-chan. Aku sangat khawatir denganmu", Sara mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Ah! Benar juga! Kebetulan aku mendapatkan ini saat aku masuk ke kelas pagi", Ako menunjukan sebuah selebaran kepadaku.

"Eh? Klub Amefuto? Kau serius menyuruh Mamori-chan untuk bergabung dengan klub yang menyeramkan itu? Kau tidak tahu si iblis itu apa!", Sara memukul pundak Ako.

"Hei, hei! Apa boleh buat kan? Semua klub sudah penuh, aku sudah berusaha berbicara dengan ketua klubku. Tapi dia menolak untuk menerima anggota baru lagi", Ako mengelus pundaknya.

"Lebih tepatnya dia diancam oleh si iblis itu untuk tidak menerima anggota lagi. Hal yang sama terjadi dengan klub kesenian. Ketuanya sendiri yang bilang padaku bahwa dia diancam oleh si iblis itu", Sara menghela nafas.

'Iblis?', batinku.

"Jadi, bagaimana ini Mamori-chan?", Ako memperlihatkan raut wajah khawatirnya.

"Yah, apa boleh buat. Aku akan mencoba berbicara dengan ketua klub Amefuto", aku beranjak dari tempat dudukku dan meninggalkan mereka berdua.

*~Somehow~*

"Hah…", aku hanya menghela nafas sambil terus mencari-cari ruangan klub Amefuto.

'Impianku adalah menjadi pemain Amefuto yang bisa sampai ke puncak! Dan saat itu terjadi, aku ingin kau berada disisiku, Mamori-chan'

Aku teringat dengan perkataan Yamato yang benar-benar menyukai Amefuto. Dan kenangan-kenangan tak enak itu kembali menghantuiku.

'Hah! Omong kosong!', batinku.

Sesampainya di ruangan klub Amefuto, aku mengetuk pintu klub.

"Permisi! Apa ada orang di dalam?", tak ada jawaban.

"Halooo! Permisi!", aku terus mengetuk pintu dan berharap ada jawaban.

"Bagaimana ini?", aku mencoba memutar kenop pintu dan ternyata tidak terkunci.

"Eh? Tidak terkunci ternyata", aku segera memasuki ruangan itu.

"Permi-", aku tercengang melihat kondisi ruangan klub yang benar-benar 'menyeramkan'. Yah bagaimana tidak. Lihatlah semua ini! Baju ganti yang berserakan, sampah berceceran, lantai yang kotor, dan yang paling aku benci adalah BAU! Benar-benar khas laki-laki. Ya Tuhan… Aku sangat benci keadaan seperti ini, kenapa? Karena aku mengidap penyakit 'sangat-suka-merapikan-sesuatu'.

Tanganku mulai gatal, aku segera menyambar sapu yang tergeletak di pojok ruangan dan segera melakukan operasi Mamori. Oh ya, tentu saja penyakitku sekarang berubah nama menjadi penyakit 'sangat-suka-merapikan-sesuatu-tanpa-ijin'. Hampir satu jam aku merapikan ruangan klub Amefuto. Ruangan ini tidak terlalu besar, tapi butuh tenaga ekstra untuk membereskan semua kekacauan ini.

'Selesai…'

Dengan perasaan bangga dan puas, aku menepuk-nepuk kedua telapak tanganku seakan itu berdebu.

"Dan sekarang, untuk misi terakhir, aku akan membuang sampah ini dan pulang", aku mengambil kantong plastik yang berisikan sampah dan berniat untuk membuangnya. Saat aku sedang menggotong kantong plastik, aku mendengar suara derap langkah yang menuju ke ruangan ini.

'Oh sial!', aku mengumpat dalam hati dan segera berpikir apa yang harus aku lakukan. Aku benar-benar melupakan tujuan utamaku kesini. Seharusnya aku bertemu dengan ketua klub dulu.

Aku menjelajahi seluruh ruangan dengan mataku, berharap menemukan tempat untuk bersembunyi. Dan untungnya aku melihat loker yang aku rasa cukup untuk menampung tubuhku. Ku buka loker tersebut dan beruntungnya bukan tempat penyimpanan baju kotor yang bau dan menjijikkan, melainkan tempat penyimpanan perlengkapan latihan klub ini.

"CKREEKK", suara knop pintu yang diputar seseorang dari luar menandakan aku harus cepat-cepat bersembunyi.

Aku berusaha menempatkan diriku di loker tersebut dan tidak membuat kegaduhan apapun. Aku benar-benar ceroboh! Seharusnya aku meminta ijin terlebih dahulu. Aku benar-benar ketakutan jika ketahuan. Karena aku takut dicap sebagai orang aneh yang tiba-tiba menyulap tempat yang berantakan menjadi bersih dan oh jangan lupakan juga bagian dimana aku membereskan pakaian-pakaian kotor mereka.

"Hah?! Sejak kapan ruangan ini menjadi rapi begini?!"

Aku mendengar suara yang tidak asing bagiku. Tapi aku berdoa semoga yang kudengar ini bukan kenyataan.

"Hei, aku yakin ada yang tidak beres di ruangan sialan ini!"

Dari celah loker, aku melihat mimpi buruk. Mau apa si jabrik kuning itu ke ruangan ini? Oh, pasti dia ingin mencuri sesuatu dari klub ini. Dasar bocah kurang ajar!

"Kapten!", aku mendengar suara lagi. Kali ini aku mengenalnya. Apakah itu Sena?

"Ada apa bocah sialan?"

"Aku dengar tadi ada suara gaduh di ruangan ini, jadi aku cepat-cepat kesini"

"Ya, sangat gaduh. Sampai-sampai tempat sialan ini menjadi bersih"

"Heeee… Kapten yang membersihkannya? Aku tidak menyangka kalau ka-"

"Bukan aku, bodoh! Sudahlah, kembali ke lapangan. Aku akan menyusul"

"Ba-baik!"

Sepertinya tinggal si jabrik itu saja yang di ruangan ini. Tapi tunggu dulu, bocah sialan? Kapten? Jangan-jangan si jabrik itu-

"BRAKKK"

Aku terhentak kaget saat mendengar suara meja yang dipukul.

"Aku tahu kau sedang bersembunyi dimana! Keluarlah kau dasar penyusup!"

Di-dia tau? Aku bersembunyi di loker ini? Aku mengintip di celah loker. Aku melihat tampang si jabrik itu dengan serius. Benarkah dia tau? Aku harus bagaimana? Sekarang posisiku akan bertambah parah jika dia tahu bahwa aku yang membersihkan ruangan ini.

"Aku akan hitung sampai 3. Jika kau tidak mau keluar, aku yang akan menarikmu keluar"

Astaga! Bagaimana ini?

"Satu…"

Aku melihatnya berjalan ke arah loker ini.

"Dua…"

Dia semakin mendekat! Apa yang harus aku lakukan?!

"Tiga…"

To be Continue…

Catatan:

Saya akan update fict ini paling lambat hari Minggu depan. Tapi kalau tidak ada halangan saya akan update hari Rabu. Terima kasih.

Mind to review?