DISCLAIMER
Eyeshield 21 (Riichiro Inagaki & Yusuke Murata)
Rating
T
Pairing
HiruMamo
Genre
Romance/Hurt/Comfort/Drama
!WARNING!
Sjkdfnsdjkhsfkj /"
YA TUHAN MAAFKEUN SAYA! APA-APAAN INI MOLOR 1 TAHUN ASTAGA DJFDJKFHLKSDJ!
Oke, saya minta maaf sebesar-besarnya, untuk para readers yang nunggu-nunggu update fict sialan ini! Ini semua gara-gara kuliah saya yang udah mulai persiapan kerja praktek dan nyusun laporan *cry*. Ditambah lagi computer saya yang mendadak tidak bersahabat dan saya harus kerja mati-matian buat ngelakuin ritual revival computer saya *wtf*. Kepikiran lanjutin fict ini aja kagak wkwkwk *setan bener dah ini author*. But anyway saya akan kembali melanjutkan fict ini *hopefully ya* dan ada gitu di review nanyain club Amefutbalnya masih Deimon? Yes it is, lengkap dengan seisi-isinya. Pls kalo kalian masih bingung dengan kondisi fict ini kayak misalnya Hirumanya disini rambutnya tetep jabrik kuning apa udh ganti model kayak Andika Kangen band? Tanya aja ya di review saya baik kok gak gigit, cuman nyolek dikit aja *plak* but Hiruma disini tetep jabrik kuning kok…
-Somehow-
"It's cruel, it's ugly, I'd rather you take my body
And destroy it, tear it apart, do as you like with it"
Chapter 3: I Saw The Devil
"BRAKKKK", suara pintu terbuka dengan keras.
"HIRUMA!",
"CK! Sekarang apalagi sih?", si jabrik itu menoleh ke belakang!
"Mereka datang lagi!", seorang pria tambun mengoceh dengan si jabrik tengik itu, aku tidak dapat mendengar mereka sedang berbicara apa, suara jantungku lebih kencang dari pada pembicaraan mereka.
"Aku kan sudah bilang! Aku tidak ingin melihat mereka lagi!"
Mereka siapa? Apa sih yang mereka bicarakan? Tapi yang lebih penting bagaimana aku keluar dari sini!
"Tapi mereka sudah menunggu di depan gerbang kampus!"
"Suruh mereka pergi…"
"Tidak semudah itu, Hiruma! Cuman kau yang bisa mengusir mereka!"
"Cih! Dasar ada-ada saja"
"BRAKK!", aku mendengar pintu klub tertutup dengan kasar
Sudah pergi? Si jabrik itu sudah pergi? Aku mengintip dari celah loker dan klub sudah sepi. Aku segera membuka pintu loker dengan perlahan dan segera pergi. Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa keluar dari lubang buaya ini. Tapi tidak kusangka si jabrik tengik itu kapten klub ini. Yah, terima kasih untuk Sara atas sarannya. Aku lebih memilih tidak ikut klub apa-apa dari pada harus berurusan dengan jabrik kuning tengik yang kasar! Ya, aku tidak mau!
Aku segera kembali ke kelas dan seperti biasa Ako dan Sara menungguku.
"Mamori-chan! Kemana saja?! Tidak biasanya kau melewati mata kuliah Logika!", Ako menghampiriku.
"Ah iya, tiba-tiba perutku sakit dan harus segera ke toilet haha…", aku mencoba berbohong. Tidak mungkin kan aku bilang aku bersembunyi di loker klub Amefuto?! Mereka akan berpikir aneh-aneh.
"Jadi bagaimana dengan klub Amefuto-nya? Kau sudah bertemu dengan kaptennya? Semoga tidak haha", Sara tertawa memaksa.
'Tentu saja sudah, dasar bodoh! Terima kasih atas saranmu! Aku hampir dimakan bulat-bulat oleh monster jabrik tengik itu', kataku dalam hati.
"Ah tidak, ruangan klub terlihat sepi. Aku pikir mereka pergi latihan di lapangan, jadi aku akan coba besok lagi", kataku berbohong lagi dan tentu saja aku tidak akan mencoba kesana lagi.
"Kau yakin? Mungkin aku akan berbicara dengan ketua klub kesenianku untuk mendaftarkanmu secara diam-diam tanpa sepengetahuan si iblis itu tentunya", Sara mengernyitkan dahinya.
"Tidak usah, sungguh! Hei, bagaimana kita mampir sebentar ke café baru dekat taman kota? Aku dengar mereka menjual Cheesecake disana!", aku berusaha mengalihkan pembicaraan dan aku butuh manisan untuk menjernihkan pikiranku dari semua kejadian yang aku alami seharian ini.
"Ide bagus! Aku sedang ingin makan Chocolate Mousse sekarang! Berangkat!", Ako menarik tanganku dan Sara.
Setibanya kami di gerbang kampus, aku melihat banyak orang berkumpul. Para gadis-gadis berteriak histeris seperti saat mereka bertemu dengan salah satu personil boyband favorit mereka. Aku yang penasaran menerobos masuk gerombolan mahasiswa kampus yang menggerubungi sesuatu. Saat aku berhasil menerobos dan berdiri paling depan, aku benar-benar menyesal menerobos kerumunan tadi. Aku melihat si jabrik tengik itu sedang beradu argument dengan pria dengan rambut seperti kain pel. Dia tidak pernah keramas atau bagaimana?
"Heh rambut pel sialan, pulang saja kau ke asalmu! Aku tidak akan mau bertarung denganmu", si jabrik itu menunjuk-nunjuk si pria dengan rambut pel itu.
"Brengsek kau, Hiruma! Bilang saja kau pengecut! Apa kau takut, ha?!", si kain pel tidak mau kalah, dia tampak bersungut-sungut menghadapi Hiruma.
"Dasar sampah! Teamku sudah sangat kuat sekarang! Tidak seperti teammu yang kemampuannya cuman sebatas itu-itu saja"
"Apa maksudmu, hah!", pria kain pel itu bersiap-siap ingin memukul muka Hiruma.
"Sudahlah, Agon… Biar aku saja yang berbicara dengannya", pria dengan ram- tidak berambut, mungkin sedikit berambut. Botak?
"Unsui! Kau jangan ikut campur!", pria kain pel yang bernama Agon itu tetap bersungut-sungut.
"Diamlah sebentar, Agon… Jadi begini Hiruma, kami hanya ingin bertarung untuk menguji kemampuan team kami. Aku dengar team kalian sangat kuat di daerah Tokyo. Dengan rendah hati aku ingin mengundangmu melawan teamku, bagaimana?", pria botak itu terlihat lebih bijaksana daripada si rambut pel itu.
"Apa taruhannya?", Hiruma dengan santai berbicara seperti itu.
"Ah iya, tentu saja… Bagaimana kalau sedikit hadiah dari Kanto?", pria botak itu mengeluarkan sebuat kertas. Tiket?
"Ini adalah tiket Kusatsu Onsen. Kau tahu kan dimana tempatnya? Aku akan memberikan tiket untuk seluruh teammu agar dapat menikmati pemandian air panas dan juga penginapan. Jika kalian menang, kalian bisa merayakan kemenangan kalian disana. Service penuh dalam sehari", pria botak itu mengibas-ngibaskan tiket itu.
"Tapi jika kalian kalah, kami ingin Eyeshield 21 yang terkenal itu berhenti dari team Deimon dan bergabung dengan team Shinryuuji Naga", pria botak itu menatap Hiruma dengan tajam.
"Heh… Menarik juga! Aku terima tawaran kalian! Kekekeke", Hiruma terkekeh.
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di stadion 2 minggu lagi. Kami pergi sekarang, Hiruma", pria botak dan gerombolannya pergi meninggalkan Hiruma diikuti dengan sorak sorai dari mahasiswa kampusku.
"Kau dengar itu tadi? Team Deimon akan bertanding dengan Shinryuuji naga!", salah satu gadis berbisik-bisik dengan temannya.
"Ahhhh aku mau hadiahnya! Menginap sehari dengan Hiruma-san!", salah satu teman gadis tadi memegang pipinya yang merona.
"Kau bercanda kan? Bilang itu tadi hanya bercanda!"
"Tentu tidak! Aku suka pandangannya yang melihat jijik ke arahku! Ahhh~"
'Sumpah! Benar-benar gadis sinting!', kataku dalam hati sambil menatap jijik gadis itu.
Dan akhirnya gerombolan mahasiswa membuyarkan diri dan aku segera kembali mencari Sara dan Ako yang tidak sadar aku telah meninggalkan mereka. Tapi, sebelum aku menemukan mereka, seseorang menarik tangaku dengan kasar.
"Heh, gadis sialan! Kerja bagus! Berkatmu aku tidak perlu lagi mengancam klub lain untuk membersihkan ruangan klubku! Kekeke!", si jabrik tengik itu menarik tanganku dan menyeringai.
"Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan!", aku berusaha menarik tanganku, tapi tenaganya terlalu kuat.
"Oh… Kau suka berpura-pura rupanya! Kau salah orang, gadis sialan! Aku melihatmu keluar dari ruangan klub Amefuto dengan terburu-buru. Kekeke!"
"K-kau salah orang!", aku berusaha untuk tidak panik dan mencari celah untuk kabur dari cengkeramannya.
"Begitukah? Kalau begitu jelaskan ini", si jabrik tengik itu mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan sebuah video. Lebih tepatnya video saat aku keluar dari ruangan klub Amefuto.
"I-itu bukan aku!", aku berusaha mengelak.
"Oh ya? Siapa lagi orang yang memiliki rambut coklat aneh sepertimu?"
"Rambutmu lebih aneh!"
"Dasar gadis sialan! Mau kusebarkan ke seluruh kampus bahwa kau diam-diam masuk ke ruangan klub Amefuto untuk mencuri pakaian para pria?", Hiruma menyeringai.
"Dasar iblis! Aku tidak akan melakukan hal seperti itu! Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau jadi manager klub Amefuto"
" Tidak mau dan tidak akan!"
"Kalau begitu…", Hiruma menarik nafas. Apa yang akan dia lakukan?
"HEI SEMUANYA! KALIAN TAHU ANEZAKI MAMORI BERUSAHA MENCURI PAKAIAN P-", Hiruma berteriak dengan lantang dan semua orang melihat ke arah kami berdua.
"Apa yang kau lakukan?! Dasar bodoh!", aku membungkam mulutnya.
"Jadi apa jawabanmu?" Hiruma menepis tanganku.
"Baiklah! Tapi hanya sehari!"
"Aku akan berteriak lagi…", Hiruma menarik nafas lagi.
"Oke, oke! 3 hari!"
"Aku akan teriak dalam 3…2…"
"Hei apa maumu! Kau ingin aku menjadi manager sampai kapan?"
"Sampai teamku selesai melawan Shinryuuji Naga"
"Kau gila?! Aku tidak akan mau menjadi manager team yang memiliki kapten licik sepertimu!"
"HEI SEMUA-", aku menutup mulut si iblis lagi.
"Oke! Setelah itu aku bebas dan tidak mau terlibat denganmu lagi!"
"Baiklah kita sepakat sekarang. Mulai besok kau sudah menjadi manager Tim Deimon, ingat itu!", Hiruma melepaskan cengkeramannya. Aku tidak menghiraukannya dan segera menjauh dari iblis jabrik tengik itu.
Seketika moodku menjadi berantakan dan ingin segera pulang. Aku mengirim pesan pada Sara bahwa aku membatalkan acara pergi ke café bersama dengan alasan perutku sakit lagi. Aku segera bergegas pulang dan melupakan kejadian tadi.
*~Somehow~*
Setiba di apartmenku, aku segera membanting tubuhku di kasur.
"Hah…", aku menghela nafas.
'Benar-benar hari yang melelahkan', pikirku.
Jadi, aku besok benar-benar menjadi manager team Deimon? Apa yang dilakukan manager Amefuto? Kalau hanya bersih-bersih itu keahlianku. Tapi kalau sudah berurusan dengan masalah Amefuto aku benar-benar angkat tangan. Cara bermain saja aku tidak tau, aku bahkan tidak pernah menonton pertandingan olahraga Amefuto. Aku cuman tahu bahwa Sena bergabung dengan klub Amefuto di kampusku, tapi aku tidak tahu bahwa kaptennya adalah si jabrik itu. Awalnya aku sudah melarang Sena, tapi dia tetap bersikeras untuk bergabung. Yah, lagipula Sena sudah dewasa. Aku sudah tidak berhak melarangnya kan?
Tapi jika dipikir-pikir, aku tidak menyalahkan manager lama untuk berhenti bekerja dengan tim Deimon jika kaptennya seperti Hiruma. Tapi itupun jika team Deimon dulu punya manager. Mungkin aku manager pertama mereka? Entahlah, aku akan menanyakan besok. Yang terpenting aku harus mencari referensi tentang olahraga Amefuto. Aku tidak ingin dicap tolol oleh si iblis itu.
"Hah… Aku lelah…", aku memejamkan mataku karena sudah sangat lelah, aku memutuskan untuk tidur sebentar.
'PIIPPPP….PIIIPPP…', suara handphoneku menandakan ada pesan masuk.
Mungkin dari Ako atau Sara. Aku memutuskan untuk mengabaikannya.
'PIIIPPP….PIIIIPPP….PIIIPPPP….', handphoneku terus berbunyi.
Ako dan Sara tidak mungkin mengirim pesan secara berturut-turut seperti ini. Mungkin hanya spam dari operator yang mengatakan bahwa aku dapat hadiah atau semacamnya. Hah! Tidak akan tertipu.
'PIPIRIPP….PIPIRIIPP…', sekarang handphoneku berbunyi menandakan ada yang meneleponku.
Aku segera mengangkatnya.
"Moshi-mo-…"
"HEI! KENAPA KAU TIDAK MEMBALAS PESANKU, HAH! DASAR GADIS SIALAN!", suara pria yang tiba-tiba menyakiti telingaku. Aku kenal suara ini!
"Mau apa kau?! Yang terpenting dari mana kau tahu nomor teleponku?", aku mengelus dadaku supaya aku sabar menghadapi iblis ini.
"Itu semua tidak penting! Aku mengirimkan file berisi hal-hal apa yang harus kau lakukan sebagai manager, dan disana juga ada materi untuk kau pelajari tentang Amefuto"
"Baiklah, baiklah…", kataku dengan malas.
"Besok kau harus sudah hafal semua materi yang sudah kuberikan, aku akan mengetesmu. Jika kau gagal, harga dirimu akan musnah! Kekekekek! PIP-", si iblis itu mematikan teleponnya.
"Hei! Hei! Ah… Sial!", aku membanting handphoneku diatas kasur.
Seenaknya saja menyuruh orang melakukan apa yang dia inginkan. Dia tidak memperkirakan perasaan orang lain apa?! Astaga! Ternyata iblis benar-benar ada! Dan aku sudah melihatnya!
To Be Cotinued
AN: Kalau ada typo, kritik dan saran tolong kasih tau ya? :'(
RnR pwease? T w T
