Am I worth to be happy?
By: Adella Ryou
.
Disclaimer to all the cast in this fic and their God, but this fic belong to me.
Rate: M and little sadistic (I warn you, ok?)
Genre: Hurt/Comfort, Drama
Chapter: Dunno lol
Cast: Kim Yugyeom, Mark Tuan, Im Jaebum, Jackson, Bambam, Choi Youngjae, etc
Pair: MarkGyeom, JaeGyeom, JackGyeom, and YoungBam
Warning: It contains sex and a little sadistic. For children under 18, please exit and for you who hate gay, EXIT NOW!
Summary: "Semua orang berhak bahagia", benarkah begitu? Lantas dimana kebahagiaan untuk Yugyeom? Apakah kepedihan, luka, dan memar yg setia menemaninya adalah kebahagiannya? Ataukah Mark/Jaebum/Jackson? Apakah salah satu dari ketiga namja itu adalah kebahagiaan atau kepedihan untuknya?
Don't like, don't read, don't flame, ok? And for you who read it, REVIEW KAY?
Enjoy reading!
.
.
Chapter V: Wherever you are, you can't escape your fate.
Dua hari liburnya berturut-turut dihabiskan Yugyeom bersama Jackson. Sesuai janjinya kemarin, hari minggu ini Yugyeom menemani Jackson menemui tamu pentingnya, meskipun Yugyeom sendiri masih bingung kenapa dari sekian banyak orang harus dirinya yang menemani Jackson? Padahal Yugyeom bukan siapa-siapa Jackson, mereka hanyalah partner sex, Jackson mendapatkan kenikmatan dari Yugyeom sedangkan Yugyeom mendapatkan uang dari Jackson atas pekerjaannya—hanya sebatas itu hubungan keduanya.
Yugyeom mengedarkan pandangan keluar jendela mobil. Entah kenapa sedari tadi Yugyeom merasa sangat cemas karena dia tidak tahu siapa tamu penting Jackson ini, masalahnya Jackson tidak mau memberitahu siapa tamunya ini.
Waktu yang ditempuh untuk sampai ke tempat tujuan cukup lama, mengingat hari ini adalah hari minggu dan para penduduk Seoul pastinya memanfaatkan hari ini untuk hang out, jalanan pun menjadi penuh. Mendadak wajah Yugyeom pucat pasi saat melihat gedung tempat tujuannya.
"Sudah sampai, ayo turun," suara serak Jackson menyadarkan Yugyeom dari lamunannya. Dilepasnya seat belt dan dilangkahkan kedua kakinya keluar dari mobil yang telah terparkir itu. Sepertinya Jackson menyadari kepucatan wajah Yugyeom melihat wajah Jackson yang sekarang berubah khawatir. "Gyeomie, gwaechana? Wajahmu pucat sekali. Apa kau belum sarapan?"
Well, sebenarnya Yugyeom memang belum sarapan, tapi bukan itu penyebab ketakutannya sekarang. "Hyung tidak perlu khawatir. Aku tidak apa. Kajja!"
Jackson masih sedikit ragu akan kondisi Yugyeom, tapi dia percaya saja pada perkataan Yugyeom. Mereka berdua pun masuk kedalam gedung pencakar langit tersebut. Jackson menghampiri resepsionis dan berbicara sebentar dengannya. Meskipun Yugyeom berdiri disebelah Jackson, tapi dia tidak menangkap jelas perbincangan Jackson karena pikirannya ada ditempat lain. Diingatnya lagi nama perusahaan yang sempat dilihatnya sebelum masuk kemari.
Im Corporation.
Perusahaan milik keluarga Jaebum. Yugyeom tahu sekali. Sialnya yang menjabat sebagai direktur sekarang ini adalah Jaebum sendiri, mengingat Tuan Im sudah terlalu tua, akhirnya ia menyerahkan jabatannya pada anak semata wayangnya itu.
Yugyeom baru ingat alasan kedatangan Jackson ke Korea karena urusan bisnis dengan Perusahaan Im. Bodohnya Yugyeom karena tidak menyadari tamu penting yang dimaksud Jackson pastilah Jaebum itu sendiri.
"Tuan bisa langsung menuju lantai lima belas," ucap resepsionis perempuan jtu ramah. Jackson mengulas senyum dan menarik sebelah tangan Yugyeom menuju lift.
"Kau daritadi bengong terus, ada apa?" tanya Jackson setelah mereka berdua sudah berada didalam lift.
Yugyeom memaksakan senyumnya, "Tidak apa, hyung. Mian membuat hyung jadi khawatir." Jackson tidak bertanya lebih jauh lagi sesudahnya, tapi tentu saja dia masih bisa melihat tingkah gelisah Yugyeom dengan jelas bahkan setelah mereka sudah berdiri didepan ruangan Jaebum yang berada di lantai lima belas.
Suara di intercom yang sangat familiar ditelinga Yugyeom mengizinkan keduanya masuk kedalam. Baru saja tangan Jackson ingin membuka pintu ruangan Jaebum, Yugyeom menahannya.
"Hyung, aku mau ke toilet dulu. Hyung duluan saja," ucap Yugyeom yang sudah sangat putus asa. Demi Tuhan Yugyeom tidak ingin bertemu dengan Jaebum terlebih dengan seorang pria bersamanya. Yugyeom sangat takut pada Jaebum mengingat mereka berdua terikat. Jaebum akan mengurus semua kebutuhan hidup keluarga Yugyeom dengan syarat Yugyeom harus menjadi sex slavenya. Jika Yugyeom melakukan sesuatu yang tidak disukai Jaebum, bisa saja Jaebum menarik seluruh uang yang pernah ia berikan pada keluarganya atau menghukum Yugyeom habis-habisan. Tentu saja dua-duanya tidak ada yang enak.
Jackson memandang Yugyeom tidak setuju. Padahal maksud Jackson membawa Yugyeom kesini adalah karena ingin mengenalkan Yugyeom sebagai asistennya di Korea pada Jaebum. Ya asisten, setelah ini Jackson berencana untuk mempekerjakan Yugyeom sebagai asistennya. Hitung-hitung kerja sambilan untuk Yugyeom. Jackson tidak rela harus membiarkan Yugyeom selalu melakukan sex tiap kali Yugyeom membutuhkan uang, bukankah lebih bagus jika Yugyeom menjadi asistennya saja? Memang melelahkan tapi tidak selelah dengan melakukan sex, apalagi Yugyeom juga harus kuliah, akan susah untuk berjalan kalau terlalu banyak bercinta. Selain karena alasan itu, Jackson mempekerjakan Yugyeom juga karena ingin menjalin hubungan dengan Yugyeom lebih dalam, bukan hanya sekedar partner sex.
"Tidak, kau masuk denganku, baby," perintah Jackson final. Mereka berdua pun masuk kedalam ruangan Jaebum dan betapa terkejutnya Jaebum melihat namja yang sangat dikenalinya itu. Meskipun Yugyeom kini tengah menunduk, tapi Jaebum bisa mengenali paras Yugyeom dengan jelas. Sesaat wajah Jaebum terlihat tidak suka melihat Yugyeom bersama pria lain, tapi sesaat kemudian wajahnya berubah dingin dan datar—sesuai imagenya.
"Selamat pagi, Jackson-ssi," sapa Jaebum ramah seraya berdiri menghampiri Jackson dan berjabat tangan dengannya.
"Pagi, Jaebum-ssi. Perkenalkan ini asistenku di Korea, Kim Yugyeom." Jackson memperkenalkan Yugyeom dan menyikut lengan kanan Yugyeom, mengisyaratkan Yugyeom untuk berjabat tangan dengan Jaebum. Masing-masing Jaebum dan Yugyeom sama-sama terkejut mendengar keputusan sebelah pihak Jackson. Kenapa Jackson tidak memberitahunya dulu? Kenapa Jackson malah memutuskan seenaknya agar Yugyeom menjadi asistennya? Tapi sepertinya Jackson tidak ambil pusing soal itu karena tatapan bingung yang dilontarkan Yugyeom padanya tidak digubris olehnya.
Mau tidak mau, Yugyeom menjabat tangan Jaebum dengan kepala masih tertunduk. "Kim Yugyeom."
Setelah berkenalan, mereka bertiga duduk diatas sofa yang telah tersedia dan membahas soal kerja sama antar kedua perusahaan. Sepanjang obrolan mereka, Yugyeom sama sekali tidak membuka suara.
Jackson yang menyadari keanehan Yugyeom sedari tadi pun menggenggam sebelah tangan Yugyeom, "Baby, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali," Yugyeom sedikit tersentak, lalu tersenyum tipis, mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.
"Sepertinya kalian sudah sangat akrab sekali ya," suara dingin menggema di ruangan tersebut. Seketika Yugyeom merasa perutnya mual dan kepalanya sakit. Peluhnya pun menetes dari dahinya padahal ruangan tersebut sama sekali tidak panas karena pendingin ruangan menyala dengan volume yang cukup kencang. "Kalian bertemu dimana?"
"Kebetulan Yugyeom dan aku sudah lama berteman. Yugyeom sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Pertemuan kami sederhana, hanya bertemu disalah satu toko buku dan bertambah dekat setelahnya," jawab Jackson santai dan tentu saja ucapannya itu semua bohong, bahkan ucapan menganggap Yugyeom sebagai adik sendiri juga kebohongan karena Jackson menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan antar saudara.
Pertemuan mereka menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam, diakhiri dengan persetujuan kerja sama antar keduanya. Meskipun bagi Jackson waktu segitu terasa begitu singkat untuk membahas kerja sama mereka tapi bagi Yugyeom satu setengah jam barusan bagaikan dua puluh empat jam penyiksaan batinnya. Bahkan suasana santai dan bersahabat yang dibangun Jaebum dan Jackson tadi terasa mencekam baginya.
Ponsel Yugyeom bergetar ketika Jackson dan Yugyeom sudah berada didalam mobil, bersiap untuk pergi menuju salah satu restaurant untuk mengganjal perut. Yugyeom membuka pesan yang terkirim ke nomornya. Saat itu juga nafasnya tercekat.
From: Jaebum Hyung
Subject: Urgent
Sepertinya kau berhutang suatu penjelasan. Jam 7 malam di rumahku.
.
.
.
Jinyoung melangkah masuk kedalam ruangan Jaebum, meletakan berkas-berkas penting yang dibawanya diatas meja Jaebum, namun Jaebum tidak peduli, bahkan sepertinya dirinya tidak menyadari kedatangan Jinyoung, pikiran sibuk dengan kejadian yang baru saja terjadi. Jinyoung yang gemas akan sikap Jaebum pun megambil kembali berkas-berkas yang baru saja diletakannya diatas meja dan memukul kepala Jaebum dengan berkas-berkas itu. "Tuan Im, jika anda punya waktu luang, pakailah untuk bekerja, bukan melamun".
Park Jinyoung.
Teman—atau lebih tepatnya sahabat Jaebum sewaktu SMA. Setelah Tuan Im memberikan jabatannya kepada Jaebum atas perusahaannya, Jaebum mempekerjakan Jinyoung menjadi asistennya sekaligus tangan kanannya karena Jaebum begitu mempercayai Jinyoung.
"Sepertinya moodmu sedang jelek, apa terjadi sesuatu, Jae?" tanya Jinyoung begitu melihat dahi Jaebum yang berkedut-kedut disertai dengan tatapan Jaebum yang menusuk. "Apa terjadi masalah soal kerja sama dengan Perusahaan Wang?"
"Daripada bertanya hal yang tidak perlu, lebih baik kau kembali bekerja," ucap Jaebum dingin, tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Jinyoung, namun Jinyoung tidak menyerah sampai Jaebum menjawab.
"Tadi aku melihat Yugyeom dengan Jackson Wang. Jujur aku terkejut melihatnya. Kira-kira apa hubungan mereka ya?"
Jaebum bercedak kesal. Hari ini moodnya sudah jelek karena 'kejutan' dari Jackson dan Yugyeom, apakah Jinyoung harus menambah kekesalannya lagi?
"Yugyeom sex slavemu kan? Apa yang akan kau lakukan terhadapnya setelah kau melihat kejadian tadi?" Jinyoung terus-menerus bertanya sampai Jaebum menjawab rasa penasarannya.
"Aku masih belum tahu, mungkin aku akan menghukumnya? Entahlah, yang jelas dia berhutang banyak penjelasan padaku," jawab Jaebum final. Dari nada suara Jaebum yang mematikan percakapan barusan, Jinyoung tahu bahwa Jaebum tidak ingin ditanya lebih jauh.
"Yugyeom hanyalah sex slavemu, Jae. Asal dia menyanggupi panggilanmu untuk melakukan sex, meskipun dia memiliki pria lain, bukankah tidak masalah? Kalian terikat, tapi hanya sebatas itu," Jinyoung meletakan kembali berkas-berkas yang tadi dipakainya untuk memukul Jaebum keatas meja dan berjalan menuju pintu. "Yah, kecuali ... jika kau benar-benar mencintainya, Jae," gumam Jinyoung sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Jaebum.
.
.
.
Yugyeom berdiri mematung didepan pintu kamar Jaebum. Setelah dirinya masuk kedalam, entah hal apa yang akan dilakukan Jaebum terhadapnya. Siap tidak siap, mau tidak mau, Yugyeom harus masuk kedalam, jika tidak, Jaebum pasti akan melakukan hal yang lebih mengerikan dibanding yang akan ia lakukan hari ini.
Pintu kamar Jaebum diketuk oleh Yugyeom. Jaebum menjawab ketukan Yugyeom, mempersilakannya masuk. Dibukanya pintu tersebut dengan perlahan, setelah dirinya masuk sepenuhnya kedalam ruangan itu, ditutupnya kembali pintu yang ada dibelakangnya. Yugyeom diam di tempat.
Disanalah Jaebum, duduk menyilangkan kakinya dengan anggun diatas sofa hitam mewah yang ada didalam kamarnya. Diatas meja terlihat sebotol wine mahal kesukaan Jaebum dan tangan kanan Jaebum memegang sebuah gelas berisi wine tersebut yang sudah setengah kosong. Melihat pemandangan tersebut membuat Yugyeom sangat tertekan.
"Kenapa diam, Kim?" Ah, Jaebum memanggilnya dengan marganya tanpa menambahkan embel 'Yugyeom'. Jaebum jarang sekali memanggil Yugyeom hanya dengan marganya, kecuali ...
Kecuali jika dia sangat marah pada Yugyeom.
"Bagaimana jika kita ngobrol sebentar? Kau terlihat tegang sekali," Jaebum tertawa kecil, tentu saja itu bukan tawanya sungguhan. Suara tawa Jaebum itu malah terdengar sangat mengerikan di telinga Yugyeom. "Duduklah disini, Kim," Jaebum menepuk tempat disebelahnya yang kosong dengan tangan kirinya. Yugyeom menurut dan berjalan dengan bergetar.
Setelah Yugyeom duduk, Jaebum membuka obrolan. "Jadi ... kau adalah slave baru pria Wang itu, hm?"
Kedua tangan Yugyeom mencengkeram celana jeansnya keras, dia sudah menduga Jaebum memanggilnya kesini untuk membahas masalah itu, tapi apa yang harus dijawab Yugyeom?
"A-aku juga tidak tahu ... tiba-tiba dia memutuskan tanpa sepengetahuan—"
"Kuganti pertanyaanku," potong Jaebum, diletakannya gelas winenya diatas meja. "Sejak kapan? Sejak kapan kau bersama dengan Wang?"
"S-setahun yang lalu."
"Wah, berarti saat itu kau sudah menjadi slaveku. Kalau begitu, aku harus menambahkan, 'selama menjadi slaveku, kau dilarang berhubungan dengan pria lain' kedalam kontrak baru kita," memang di kontrak mereka tidak tertulis Yugyeom dilarang untuk bermain dengan pria lain, di kontrak hanya tertulis, 'Datanglah saat Jaebum menghubungi, tanpa alasan apapun', sebuah perintah mutlak. Lantas mengapa sekarang Jaebum sangat mempermasalahkan hal ini? Hal yang tidak pernah ia gubris meskipun Yugyeom sudah banyak 'bermain' dengan pria lain disana-sini sebelumnya.
"Naiklah keatas ranjang," perintah Jaebum mengejutkan Yugyeom. Terhuyung Yugyeom berjalan keatas kasur. "Persiapkan dirimu sebelum aku menyentuhmu".
Yugyeom menurunkan zipper celananya beserta celana dan boxernya. Bagian selatan tubuhnya terekspos jelas. Dibukanya juga seluruh pakaian atasnya.
"Buka lebar kedua kakimu agar aku bisa melihat lubang basahmu itu," Jaebum menyeringai. Yugyeom melebarkan kedua kakinya agar lubangnya terekspos jelas di mata Jaebum. Letak kasur Jaebum tepat didepan sofa yg tengah diduduki Jaebum membuat pemandangan yang ada diatas kasur terlihat dengan jelas dari sofa.
Dengan jari yg bergetar Yugyeom membasahkan dua jarinya dengan salivanya sendiri dan memasukan kedua jari yang basah tersebut kedalam lubangnya.
Rasanya aneh.
Sungguh aneh. Ini kali pertama Yugyeom yang membuat basah dirinya sendiri, biasanya partnernya yang selalu melakukannya. Digerakannya perlahan kedua jarinya untuk semakin menerobos masuk kedalam, mencoba mencari titik nikmatnya. Sayang hal tersebut belum cukup membuat dirinya terangsang, Yugyeom harus membuat dirinya terangsang lebih dulu agar lubangnya basah. Dimainkannya nipple kanannya dengan tangannya yg lain.
Tapi masih belum cukup.
Frustasi. Sangat frustasi Yugyeom menggerakan kedua jari yang ada didalam lubangnya dengan liar untuk merangsang tubuhnya. Karena gerakan kedua jarinya yang tidak terkendali itu, lubang Yugyeom terasa sakit, luka yang dibuat Jaebum didalam lubangnya karena sex kasarnya rupanya masih belum sembuh sepenuhnya. Air mata bermunculan di pelupuk matanya, setetes demi setetes jatuh membasahi kedua pipi putihnya. Sampai sudah sesakit ini pun Yugyeom masih belum terangsang. Apa selalu sesulit ini untuk membuat tubuhnya terangsang? Atau karena dirinya belum cukup berpengalaman untuk merangsang tubuhnya sendiri?
Jaebum memperhatikan tiap gerak-gerik Yugyeom seraya menyesap kembali winenya. Dari ekspresi wajah Yugyeom, Jaebum tahu bahwa namja itu belum berhasil menemukan sweet spotnya sendiri. Ah, kenapa menyenangkan sekali melihat Yugyeom yang begitu tersiksa? Bahkan saat ini Jaebum tidak kuat menahan senyumnya.
"Cukup," kata itu sontak membuat kedua tangan Yugyeom yang tengah bekerja itu berhenti seketika. Jaebum mendekati Yugyeom seraya membawa botol winenya yang belum habis itu.
"Tapi hyung aku masih belum—akh!" Jaebum menumpahkan isi winenya keatas tubuh Yugyeom. Lalu dibuka lebar lubang Yugyeom dengan kedua jarinya dan dimasukan ujung botol wine kedalam lubang Yugyeom, sehingga sisa isi wine yang ada di botolnya masuk kedalam lubangnya sampai tak tersisa setetes pun didalam botol. "AHH! S-sakit ... panas ... hyung ke ... luarkan ... ahh!"
Frustasi mendengar teriakan kesakitan Yugyeom, Jaebum melempar botol kosong winenya keatas lantai dengan kencang, menimbulkan suara 'prangg' yang amat sangat keras. Yugyeom terdiam dan nenatap Jaebum dengan tatapan ketakutan. Jaebum balas menatapnya tanpa ekspresi. Sorot matanya gelap, benar-benar marah.
"Sakit? Panas? Tapi lihatlah tubuhmu sangat terangsang karena hal itu," ya, kejantanan Yugyeon sudah menegak sempurna. "Menjijikan."
Cairan wine mengalir keluar dari dalam lubang Yugyeom karena lubangnya yang tidak mampu menampung banyak cairan.
Panas.
Sekujur tubuhnya benar-benar panas seperti neraka. Dia benar-benar membutuhkan sentuhan sekarang juga. Tubuhnya ingin dipenuhi untuk mengeluarkan gairahnya yang sudah bergejolak.
Jaebum tahu bahwa Yugyeom ingin disentuh, tapi ia sengaja tidak langsung mengabulkan permintaan Yugyeom, karena dialah yang akan mengontrol Yugyeom. Dialah yang akan membuat Yugyeom menangis berlutut dihadapannya untuk dipuaskan. Jaebum merogoh sebelah kantungnya dan mengeluarkan sebuah cincin dengan berlian indah ditengahnya. Namun, ada yang aneh dengan cincin itu.
Ukurannya terlalu besar untuk dipakai di jari.
"Kau suka?" Jaebum bertanya seraya memperlihatkan cincin itu kehadapan Yugyeom, tapi Yugyeom diam saja. Dirinya sudah kalang kabut karena tubuhnya ingin dipenuhi. "Aku membelikanmu ini setelah pulang dari perusahaan. Tapi sepertinya, aku salah membeli ukuran," Jaebum tersenyum—senyuman mengerikan. "Seperti yang kau lihat cincin ini bisa dibuka," Jaebum menarik satu sisi ujung cincin itu, ditariknya sampai cincin itu tegap lurus.
Jari tangan Jaebum yang lain memainkan kepala kejantanan Yugyeom, lalu ujung jempolnya menusuk lubang kepala kejantanannya, Yugyeom mendesah halus. "Untunglah, kau sudah menegang. Akan sulit memasangnya jika 'adik laki-laki'mu ini masih terkulai lemas," tanpa menunggu Yugyeom mencerna maksud perkataan Jaebum, Jaebum langsung menusukan ujung cincin yang sudah tegap lurus itu kedalam lubang di kepala kejantanan Yugyeom.
"ARGH—hyung ... ah s-sakit ... AH—!" Cincin yang ditusuk Jaebum memang sakit, tapi tidak sesakit yang dibayangkan Yugyeom, mungkin karena wine Jaebumlah yang membuat rasa sakitnya berkurang. Sensasi terbakar dan pusing yang dirasakan Yugueom membuatnya tidak terlalu sakit. Setelah menusuk kejantanan Yugyeom dengan cincin itu, Jaebum kembali mengaitkan kedua ujung cincin tersebut, sehingga tertutup dan kembali menjadi cincin seperti sebelumnya.
"This is a cock's ring. Ever heard that? I always thought it will suits you well and I'm right," jari Jebum mengusap-usap kepala kejantanan Yugyeom lembut, meredakan kesakitan di kejantanannya. Air mata sudah membanjiri mata Yugyeom dan tubuhnya sudah sangat lemas, meskipun Jaebum sama sekali belum melakukan sex dengannya. "This ring is a prove that you're mine. You're belong to me and I WON'T let you to play with other guys anymore. This is an absolute order. If that happened, I will punish you~ And don't worry, you still can ejaculate even you wear this. Then Yugyeom, what do you want me to do next, hm~?"
Sebisa mungkin Yugyeom tidak ingin melakukan sex dengan Jaebum sekarang setelah tubuhnya sudah selemas ini, hanya saja kejantanan Yugyeom berkedut kesakitan, ingin segera melepaskan hasratnya. "F ... fill me ... hyung."
"With pleasure~" Jaebum menghantam masuk kejantanannya kedalam lubang Yugyeom yang sudah sangat basah karena wine tadi. Saat ini bagi Jaebum, lubang Yugyeom 10 kali lipat lebih nikmat dari yang biasanya, mungkin karena saat ini lubang Yugyeom lebih panas membuat kejantanan Jaebum bergerak lebih bersemangat dan bergairah. "Fuck Yugyeom ... your hole so damn hot ... it makes me move in excitement."
"H-hyung ... ngghh ... ah-hah ... hyung ... my hole feels ... w-weird ... akh!"
"Don't talk! Your voice ... kkh ... so damn sexy, I can't hold any longer ... hah," Jaebum mempercepat tempo tusukannya. "Don't squeeze me so tightly like a bitch, fuck ... gghh."
"M-mian hyungh ... angh ... hyung's feels ... so ahh ... good ... ggahh ... hyung ... cum ... I want to ... nggaahh!" Yugyeom mengeluarkan cairan putih kentalnya. Sperma yang dikeluarkan Yugyeom lebih banyak dari biasanya. Apa karena dia sangat bergairah akibat wine Jaebum? Tidak lama, Jaebum juga mengeluarkan spermanya didalam lubang Yugyeom, dan bukan hanya Yugyeom saja, sperma Jaebum pun lebih banyak dari biasanya. Lebih parahnya lagi, setelah ejakulasi barusan, kejantanan Jaebum masih menegak. Jaebum mulai menggerakan kejantanannya lagi didalam lubang Yugyeom perlahan. Sepertinya gerakan kecil itu merangsang Yugyeom karena setelah itu Yugyeom kembali menegang.
"It looks like we can't sleep tonight," Jaebum meyeringai.
.
.
~To Be Continued~
First I should apologize to you all bc of my slow slow slooww update! And damn why this story become more hot and erotic? And sorry if you can't take bdsm, I already warned you, kay? BUT I REALLY REALLYY LOVE BDSM, OK JUST CALL ME MASOCHIST OR WHATEVER BUT THAT'S THE FACT! /slap
But don't worry bc I WILL DEFINITELY ABSOLUTELY finish this story bc I really love this story and plot, although I don't know when I will update the next chapter. It really surprises me when I realize it takes almost—or maybe more—a year to post this chapter, omg. I'm really sorry, but this chapter is longer than the old ones—or maybe not, I dunno lol—so just think this as my love to you guys my dear readers. And see you guys at next chapter! Don't forget to review! *wink* /I won't apologize for my bad english lol
Best,
Adella Ryou.
