Chanyeol tersenyum lebar ketika dirinya berhasil menghalangi jalan si mungil Byun Baekhyun. Ia menarik tangan lelakinmungil itu dan membawanya menuju perpustakaan.

Tepat dua hari sejak kejadian dirinya jatuh saat bermain skate, Baekhyun menghindarinya. Tidak menganggu dirinya dan memaksa untuk berkencan, semua itu membuat Chanyeol merasa hampa. Dan hari ini Chanyeol bertekad untuk membalas dendam.

Menganggu dan memaksa Baekhyun.

.

Wanna Date with Me?

ChanBaek

.

"Apa yang kau lakukan, Park?!"

Chanyeol meletakkan jari telunjuknya, menyuruh agar lelaki mungil itu terdiam. "Jangan berisik, Baek. Kita sedang berada diperpustakaan," Senyuman jahil kembali hadir di wajah Chanyeol saat dirinya melihat wajah merengut Baekhyun. "Kita akan berkencan disini."

Baekhyun tidak menjawab, melainkan mendengus kasar. Ia menarik asal salah satu buku kemudian menuju tempat duduk yang disediakan disana. Duduk disalah satu bangku disana, diikuti oleh Chanyeol yang mengekor dibelakangnya. Maniknya melirik buku yang dibawa Chanyeol dan terkekeh ketika mendapati sebuah komik ditangan lelaki itu.

"Ku kira kau sering ke perpustakaan untuk belajar, ternyata membaca komik."

Si tampan terkekeh kemudian mengusak pucuk kepala si mungil. Ia mendudukkan dirinya disamping Baekhyun. "Agar tidak bosan."

"Supaya tidak bosan, lebih seru bermain dilapangan!"

Bahu Chanyeol terangkat. "Disini juga seru."

Dengusan kasar kembali terdengar dari si mungil.

Sesaat keduanya terpaku dalam kesibukan masing-masing. Chanyeol yang berfokus pada alur cerita dikomik yang diambilnya, sedang Baekhyun yang hanya membolak-balik halaman buku yang dibawanya asal.

PUK

Chanyeol menoleh ketika merasakan beban dipundaknya, ia tersenyum lembut ketika mendapati surai hitam yang bersandar pada dirinya. Maniknya melirik wajah si empu, dan mendapati wajah tenang Baekhyun dengan kelopak tertutup, menyembunyikan binar cerah matanya.

Sebelah tangan Chanyeol terangkat, mengelus pipi si mungil lembut. Mengagumi betapa mulus kulit Baekhyun dan betapa cantik wajah si mungil Byun Baekhyun.

Karena gemas, Chanyeol mencium pucuk kepala Baekhyun dan membenarkan posisinya agar tertidur nyaman dipundaknya. Setelahnya Chanyeol kembali berfokus dengan komiknya, dengan sesekali menghirup dalam aroma shampo Baekhyun dan mencuri kecupan dipelipis lelaki tersebut.

.

Chanyeol harus menyalurkan hasratnya ketika merasakan kantung kemihnya telah penuh. Ia meminta izin kepada guru yang mengajar dan terburu menuju toilet. Selesai dengan urusannya, Chanyeol menoleh pada lapangan sekolah dan mendapari bahwa kelas Baekhyun saat ini tengah berolahraga.

Menunda waktu masuk kekelasnya, Chanyeol memilih untuk memandangi si mungil yang saat ini tengah bermain voli. Ia takjub, Baekhyun memiliki tubuh yang mungil, namun tenaganya sangat besar. Setiap olahraga bisa dimainkan oleh lelaki tersebut, kecuali dengan basket itu karena masalah di tinggi badan sebenarnya.

Mata Chanyeol melotot ketika Baekhyun memeluk Jongdae ketika dirinya berhasil mencetak poin. Dan dirinya semakin memanas ketika Jongdae mengacak rambut Baekhyun.

Dan tanpa malu dan berpikir panjang lagi, "BYUN BAEKHYUN! KAU DILARANG TERLALU DEKAT DENGAN LELAKI LAIN KETIKA BERKENCAN DENGANKU!" Chanyeol berteriak, membuat dirinya menjadi pusat perhatian murid yang tengah berolahraga, dan guru yang mengajar di kelas keluar untuk memarahinya. Chanyeol hanya tersenyum ketika melihat wajah memerah Baekhyun dan lelaki tersebut berjalan dengan kaki yang dihentakkan kepinggir lapangan.

Sangat lucu. Dan Chanyeol berdebar menyenangkan karena itu.

oOo

Sepulang sekolah, Chanyeol dibuat senang ketika Baekhyun mencegat dirinya didepan kelas. Ia semakin senang ketika Baekhyun menarik tangannya dengan paksa.

Ia pikir Baekhyunnya telah kembali.

"Kau itu apa-apaan sih, Chanyeol?!"

Namun nada ketus itu membuat senyum Chanyeol perlahan memudar.

"Bukankah sudah kubilang kalau kencan kita sudah berakhir?"

"Tapi aku belum menyetujuinya."

"Pokoknya kencan kita sudah berakhir!"

Keheningan menghampiri mereka. Chanyeol menatap dalam kearah Baekhyun yang bahkan tidak berani menatapnya sedari tadi. "Kenapa harus berakhir?"

Si mungil menatap Chanyeol perlahan, namun kembali ia buang pandangannya. Baginya lantai saat ini lebih menarik dibandingkan wajah memelas Chanyeol.

"Tidak ada yang pernah membentakku. Dan kemarin kau membentakku."

Helaan nafas pelan terdengar dari yang lebih tinggi. Chanyeol menggenggam kedua tangan Baekhyun, menatap lelaki itu dengan lembut. "Maafkan aku, okay? Kemarin aku berniat untuk bercanda. Tapi aku malah menyakitimu, maafkan aku."

Tanpa disangka, Baekhyun meneteskan air mata. Lelaki mungil itu terlihat terisak dengan punggung yang naik-turun mengikuti isakkannya. Wajahnya tertunduk, menutupi airmatanya yang telah membasahi wajahnya.

Chanyeol bergerak cepat, lelaki tinggi itu memeluk tubuh Baekhyun, membiarkan lelaki itu menangis didadanya. Tidak mempedulikan jas sekolahnya yang saat ini basah akibat airmata Baekhyun. Tangannya mengelus punggung sempit Baekhyun, bibirnya terus mengucapkan kata maaf dan memohon agar Baekhyun menghentikan tangisannya.

"K-kau jangan menemuiku dulu untuk sementara ini, Chan."

Dan itu adalah terakhir kali bagi Chanyeol bertemu dengan Baekhyun. Karena setelahnya ia hanya dapat menatap lelaki mungil itu dari kejauhan.

.

.

Satu minggu, dan Baekhyun masih saja menghindarinya. Tidak mempedulikan Chanyeol yang frustasi dengan sikap lelaki mungil itu. Walaupun sejujurnya si mungil juga merindukan lelaki tinggi itu.

'D'Amour Cafe pukul 7 malam.'

Baekhyun menatap sebuah surat yang berada digenggamannya, setelahnya menatap sebuah cafe didepannya. Memastikan bahwa tempat yang didatanginya telah tepat. Ia membawa kaki pendeknya melangkah memasuki cafe tersebut.

"Apa kau Byun Baekhyun?"

"Eh?" sebuah suara yang memanggilnya membuat dirinya terkejut. Baekhyun menatap seorang pelayan yang tersenyum kepadanya. Tanpa menjawab, Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya. Bingung kenapa pelayan tersebut dapat mengetahui namanya.

Sang pelayan mengantarkan Baekhyun pada sebuah meja yang berada ditengah dan menghadap sebuah panggung. Baekhyun semakin dibuat bingung ketika beberapa pelayan datang kemejanya dengan beberapa cake, ice cream dan juga beberapa minuman.

"H-hei, aku belum memesan," Baekhyun mencegat seorang pelayan dengan menarik tangannya. Namun pelayan itu hanya tersenyum dan menyuruhnya untuk menikmati hidangan tersebut.

Sipit Baekhyun menatap hidangan didepannya. Meneguk liurnya ketika melihat sepotong cheesecake dengan buah strawberry dan saus diatasnya. Ia meremas jemarinya, menahan dirinya agar tidak langsung melahap makanan tersebut. Karena bagaimanapun dia tidak mengetahui siapa yang memesankan ini.

Bagaimana kalau ternyata terdapat racun mematikan dalam kue yang menggiurkan tersebut?

SPLASH

Baekhyun terlonjak ketika sebuah lampu menyorot dirinya. Kepalanya mendongak dengan mata yang menyipit melihat lampu dan sekelilingnya. Ia menatap kearah depan, tepat pada sebuah piano yang terletak diatas panggung ketika mendengar sebuah melodi dari sana.

Matanya membola ketika mendapati Chanyeol yang berada dibalik piano dengan mata yang menatap dirinya. Pipinya memerah ketika si lelaki tersenyum kearahnya.

wae jakku nae nunape areungeoryeo neo
mwoga mwonjido molla nan neoreul chaja

(Why are you always in front of my eyes

I do not know what it is I look for you)

Suara berat Chanyeol terdengar merdu ketika lelaki itu memulai dengan nada rendah.

isanghage neoman bomyeon ganjireopjanha
useumi naojanha jeongmal michyeotna bwa

(It's a weird look at you.

It's a laugh. It's crazy.)

Manik Baekhyun menatap kedalam mata Chanyeol yang sesekali menatap kearahnya dan juga berfokus pada piano yang dimainkannya.

Ooh~naege museun jiseul han geoya
Oh~ oh~
ni saenggakppunijanha

(What did you do to me?
I'm only thinking about you)

Chanyeol tersenyum ketika mendapati Baekhyun yang menatapnya tanpa berkedip. Ia mengedipkan sebelah matanya, membuat lelaki mungil disana mengerucutkan bibirnya dengan pipi yang memerah.

ireon nal eojjae neomu dapdaphae
ireon nal eotteokhae~

(What do I do? So frustrating
What do I do?)

Chanyeol mengedikkan kepalanya setelah selesai menyanyikan lirik tersebut.

itjanha baby baby narang sagwillae milgo danggigineun geumanhae

(Hey baby baby, will you go out with me?
Stop playing games)

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan meremas jemarinya gemas.

eotteokhae nollan nae gaseumi jakku kungkung ttwineunde

(What do I do? My shocked heart keeps pounding)

Seperti lirik lagu yang dinyanyikan Chanyeol, dada Baekhyun berdetak sangat cepat dan keras.

Oh naega waeirae waeirae neoman bomyeon wae
eolgureun ppalgae jineundegeuraedo nan niga joheungeol eotteokhae

(What's wrong with me?
My face grows red whenever I see you
But still, I like you, what do I do? )

Wajah cantik si mungil memerah dengan jantung yang berlomba berdetak semakin kuat, bahkan dirinya dapat mendengarkan detak jantungnya. Ketika Chanyeol menyelesaikan nyanyiannya, dan tepuk tan dari pengunjung lain membuat Baekhyun merasa tubuhnya bagaikan sebuah jelly.

(DIA – Will You Go Out With Me? Ballad Version)

Baekhyun menatap Chanyeop yang turun dari atas panggung dan berjalan mendekati dirinya. Ia berdiri dari tempat duduknya, menundukkan kepalanya dan melirik Chanyeol dengan pandangan malunya. Kepalanya terangkat ketika kedua tangannya digenggam oleh Chanyeol.

"Seperti yang ku nyanyikan tadi, Baek. Aku sangat frustasi, bingung dengan diriku. Awalnya aku hanya mengetahui dirimu, lalu kau mengajakku berkencan. Aku tidak bohong kalau awalnya aku sangat tidak suka, tidak suka denganmu, biasa saja," Chanyeol melangkah semakin mendekatin Baekhyun. Membawa tubuh mungil itu menempel padanya dan memeluk pinggangnya. "Namun setelahnya kau membuatku nyaman, bahkan aku merindukanmu setelah kita berpisah dan memikirkan dirimu ketika dirumah. Namun itu terasa menyenangkan untukku."

Chanyeol merapikan letak poni Baekhyun. "Aku minta maaf karena telah membentakmu, aku telah salah dan menganggapnhal tersebut lelucon. Jadi jangan menyuruhku untuk menjauhimu, Baek. Aku sangat frustasi," Chanyeol tersenyum gugup dengan tangan yang menggaruk sisi belakang lehernya. "Hm... Kau mau berkencan denganku?"

Si mungil tersenyum kecil kemudian menenggelamkan wajahnya didada Chanyeol. Memeluk pinggang lelaki tinggi itu dengan erat. "Kita 'kan sudah berkencan."

Cicitan pelan Baekhyun membuat Chanyeol semakin gemas kepada lelaki mungil tersebut. Chanyeol menjauhkan wajah Baekhyun dari dadanya, menangkup wajah si mungil dan menatapnya dalam. Wajahnya mendekat dengan mata yang menatap bibir tipis Baekhyun. Wajahnya semakin mendekat ketika lelaki mungil itu memejamkan matanya.

Dengan lembut, Chanyeol menekan bibirnya diatas bibir Baekhyun. Menyesap kecil bibir tersebut, membawa kecupan mereka semakin manis. Ketika pagutan tersebut terlepas, Chanyeol terkekeh melihat bibir Baekhyuj yang mengkilap.

"Kau milikku, Baek."

Chanyeol membawa tubuh mungil itu kedalam pelukkannya. Mengecup pucuk kepala si mungip dengan sayang, tanpa mempedulikan sorak dari pengunjung lain yang memperhatikan mereka.

.

oOo

.

A/N: selesai juga. Seperti yang aku bilang ini Cuma 2shoot ya jadi gada lanjutannya lagi. Cukup sampai disini hehe. Semoga pada puas sama endingnya ya. Terus kenapa ini singkat? Karena ini ff ringan aja. Emang udah terencana kayak begini hehe. Tanpa plot dan konflik yang ribet.

Buat yang udah baca dan review, fave, follow makasih banyak yaa. Seneng banget ternyata respon kalian sangat baik buat ff ringan seperti ini hehe. Apalagi ini masuk ke rating Teen :v terima kasih sekali lagi, jangan lupa buat review lagi ya :p

Mohon maaf kalau ada typo atau kesalahan kata, karena sangat malas buat baca ulang

Last, mind to review?

.

.

Epilog

Manik sipit Baekhyun menatap bosan keadaan perpustakaan yang sangat sepi dan sunyi. Hanya terdengan beberapa bisik-bisik pengunjung dan suara lembaran buku yang dibalik. Ia menopang dagunya dengan satu tangan dan meniup poninya.

Weekend yang menyebalkan. Ini karena Chanyeol yang mengajaknya ke perpustakaan kota!

"Ayo kita pulang saja, Chan. Disini tidak asik. Lebih asik kita bermain diluar ketika libur seperti ini. Atau kita bisa berjalan-jalan."

Namun lelaki tinggi itu menggelengkan kepalanya dan menyuruh dirinya untuk diam. Bahkan Chanyeol tidak menatap kearahnya.

Semakin kesal dengan respon Chanyeol, Baekhyun menarik buku yang berada digenggaman Chanyeol dengan kuat dan membuangnya kelantai. Ia melompat kearah lelaki tersebut, duduk diatas pangkuan Chanyeol dan memeluk lehernya erat.

"Ayo kita pergi dari sini~" Baekhyun dapat mendengar Chanyeol yang menghela nafasnya. Namun lelaki mungil itu tetap bertekad dengan apa yang dilakukannya, jadi dirinya semakin mengeratkan pelukkannya.

"Tapi aku sedang mempelajari teknik dasar bermain skateboard, Baek."

"Kau tidak perlu membaca itu. Aku akan mengajarimu!"

Chanyeol terkekeh mendengar nada kekanakkan Baekhyun. Mau tidak mau ia mengangguk, mengiyakan keinginan si mungil. "Baiklah, baiklah. Kita pulang."

Baekhyun menunjukkan senyuman perseginya. Saking senangnya, lelaki mungil itu mengecup pipi Chanyeol. Dan memerah malu ketika menyadari perilakunya. Jadi Baekhyun kembali menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Chanyeol.

Sangat menggemaskan.

.

End