Anonymous


Hiruk pikuk keramaian menarik perhatian Kyungsoo untuk melangkah mendekati kerumunan yang berkumpul di depan gedung fakultas sistem dan teknik informasi. Tidak seperti biasanya fakultasnya seramai ini. Dengan tangan masih memegang tali tas punggungnya, Kyungsoo ikut berdesak untuk mencari tahu apa yang tengah para mahasiswa lihat. Tubuhnya yang terbilang kecil mampu menyelinap di antara tubuh-tubuh mahasiswa lainnya yang ikut berdesakan ingin tahu. Akan tetapi setelah Kyungsoo benar-benar berada di depan kerumunan. Tubuhnya tiba-tiba membeku serta menegang ketakutan.

Perhatiannya hanya tertuju pada darah yang menggenang mengotori halaman gedung fakultas dengan sesosok mayat dimana wajahnya ditutupi oleh secarik kertas koran. Kedua tangannya semakin erat mengepal tas punggungnya dan hanya bisa membantu ketika beberapa polisi yang berada di sana mulai menyuruh para mahasiswa untuk mundur dan membubarkan kerumunan. Namun sayang, rasa keingintahuan mereka lebih tinggi dibandingkan untuk pergi. Hanya Kyungsoo yang mendengarkannya, bahkan tanpa dorongan apapun Kyungsoo kembali merangsek di antara kerumunan untuk pergi dari pemandangan yang mengenaskan itu.

Keringat dinginnya mulai mengucur selagi ia melangkah menuju gedung fakultasnya selama ini. Samar-samar ia dapat mendengarkan beberapa perbincangan para mahasiswa. Beberapa dugaan, kemungkinan hingga keingin tahuan tentang—apa yang terjadi pada pria malang tak bernyawa itu?

Dan satu hal yang mulai Kyungsoo tak sukai adalah bagaimana cara orang-orang kini mulai memicingkan mata menatapnya.

Ketika Kyungsoo mengambil posisi duduk lebih jauh di antara orang lain saat ia berada di depan kelasnya. Semua mata otomatis ikut tertuju kepadanya, meskipun sedikit tidak nyaman tetapi Kyungsoo mampu menutupinya dengan membaca buku untuk tidak mengacuhkan tatapan menyelidik mereka.

"Bukankah dia kemarin terlibat masalah dengan Jisung ya?" suara seorang wanita yang mau tak mau sedikit menarik perhatian Kyungsoo untuk mendengarkannya. Meskipun ia tidak ingin—tentu saja karena kali ini mereka tengah membicarakannya.

"Ya, aku yang melihatnya sendiri Jisung menyeret dia, kurasa mereka terlibat perkehalian," balas seorang pria lain yang kini semakin membuat Kyungsoo menajamkan fokusnya untuk membaca buku yang ada dalam genggamannya.

"Ckck.. miris sekali, orang-orang yang terlibat dengannya pasti akan terkena sial."

"Ya kau benar. Kau ingat saat Senior Hyungsok dan Jungeun terlibat kecelakaan setelah mengospek dia, dan juga Hongbin yang meninggal karena kebakaran di apartemennya? Bukankah itu aneh, dan sekarang Jisung. Aku tidak yakin kalau dia benar-benar bunuh diri."

"Mungkin Jisung mengalami masalah lain hingga membuatnya memilih mengakhiri hidup," komentar pria lain yang tengah berbincang bersama mereka.

"Masalah? Satu-satunya masalah yang ia miliki tentu saja hanya dengan dia. Apa kau tidak sadar bahwa kelas kita juga selalu terlibat kesialan lain karena dirinya huh?"

Kyungsoo segera menutup bukunya dan melangkah memasuki kelas. Menghindari tatapan memicing mereka yang masih memperdebatkannya tentang julukan; si pembawa sial, si menakutkan, si penyendiri—bahkan Kyungsoo tidak yakin bahwa mereka tahu namanya. Meskipun mereka sekelas, Kyungsoo hanya bisa mendengar bagaimana orang-orang memanggilnya dengan hei, dia, bahkan dengan julukan itu.

Ketika ia memasuki ruangan kelas yang kosong. Ia menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di kursi yang letaknya berada di paling sudut. Ia menjatuhkan kepalanya cukup keras di atas meja dan sekelibat bayangan tentang darah yang menggenang dan juga sesosok mayat yang terbujur kaku diluar sana membuat Kyungsoo menahan napasnya seketika. Sudah sangat jelas bahwa Jisung bunuh diri, tetapi kenapa semua orang telus menyalahkannya dan mengatakan bahwa ia pembawa sial.

Memang kemarin mereka terlibat masalah. Sebuah masalah sepele, Kyungsoo tidak sengaja menumpahkan tinta pada laporan yang Jisung buat. Alhasil pria itu menganggap bahwa Kyungsoo iri dengan kemampuannya yang bisa membuat laporan yang lebih cepat darinya—sebuah laporan kelompok yang sayangnya memaksa Kyungsoo harus satu kelompok dengan Jisung. Kyungsoo pada akhirnya di seret ke dalam ruangan kelas yang kosong dan saat itu juga menghantam Kyungsoo dengan sebuah pukulan keras pada rahangnya. Membuat luka di sudut bibirnya hingga berdarah. Kyungsoo tidak tinggal diam, ia ikut membalas meskipun sadar bahwa kekuatannya tidak sebanding dengan Jisung. Sekeras apapun Kyungsoo melawan, ia akan tetap kalah.

Kyungsoo marah kepada dirinya sendiri yang nampak sangat tidak berguna di mata orang lain. Tetapi inilah yang dijalaninya, pada akhirnya ia tidak memiliki seorang teman pun disini. Kampus adalah tempat kebebasan bagi orang-orang dengan pikiran dewasa tetapi bagi Kyungsoo rasanya sama saja—tidak jauh berbeda seperti masa sekolahnya. Terkucilkan, dipandang sebelah mata, tidak berguna, dan pria pembawa sial.

Kyungsoo tidak ingat hal apa yang menyebabkan julukan itu mulai tersemat padanya. Kyungsoo hanya tahu bahwa itu telah terjadi sejak ia berada di bangku sekolah menengah atas dimana salah seroang teman sekelasnya—Yoon Hee—menjadi teman satu kelasnya di kampus juga. Mungkin semua julukan itu berawal dari gadis itu dan ya, meski pada kenyataannya memang banyak terjadi kesialan pada orang-orang yang pernah berada di sekeliling Kyungsoo atau terlibat masalah dengannya. Tetapi Kyungsoo tetap saja tidak menerima bahwa semua kesialan itu harus tertuduh kepadanya.

Mungkin ini alasan ia tidak memiliki teman—tidak ada yang ingin bernasib sial, sama seperti Jisung dan yang lainnya.


Hanya ada satu kelas hari ini dan Kyungsoo bingung apa yang harus ia lakukan. Apa ia pulang saja dan menerima tatapan bibinya yang akan mencercanya tentang ketidak bergunaannya lagi atau memilih pergi dengan perut kosong yang akan menyiksanya. Kyungsoo menekan perutnya ketika sadar bahwa ia belum memakan apapun sejak pagi tadi. Ia bisa saja membeli makanan tetapi Kyungsoo harus mengambil resiko bahwa ia tidak akan bisa membeli buku yang harus dibelinya untuk semester depan. Pada akhirnya Kyungsoo memilih berjalan untuk pulang, setidaknya ia bisa sedikit memakan roti di rumah bibinya. Kyungsoo belum mendapatkan gajinya bulan ini dan ia merasa malu hanya untuk sekedar meminta makanan.

Ketika Kyungsoo sampai, ia hanya menemukan rumah yang kosong. Kyungsoo bahkan memastikan keberadaan bibinya hingga ke kamarnya. Ia berdiri di pintu kamar bibinya dan mendengar suara keheningan di dalam sana. Bibinya memang tengah pergi. Kyungsoo tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya dan dengan cepat berjalan menuju kulkas yang ada di dapur. Ketika ia membuka pintu kulkas, seketika perutnya bergemuruh hanya saja tidak ada satupun makanan jadi yang tersedia disana. Hanya beberapa makanan mentah dengan sayuran yang sudah kering. Kyungsoo mendesah kecewa. Tidak ingin berputus asa, akhirnya ia membuka setiap laci di konter dan menemukan beberapa lembar roti tawar tersimpan disana. Kyungsoo mengambilnya dua lembar, tidak apa-apa. Bibinya tidak akan mempermasalahkan roti yang hilang—lagipula bibinya memang jarang memakan roti.

Dengan lahap Kyungsoo segera menyantap roti tawar itu, meskipun baru satu gigitan tetapi hal itu sedikit dapat mengganjal rasa laparnya saat ini. Kyungsoo menguyah setiap gigitan rotinya dengan tenang, seolah berusaha untuk menikmati kenikmatan yang tengah ia santap. Akan tetapi tatapannya kini tertuju ke luar—dimana letak gositel bibinya berada.

Satu tatapannya lurus dan itu tertuju pada kamar gositel milik pria misterius bernama Kai. Kyungsoo menelan potongan roti terakhirnya ketika ia ingat bahwa pria itu telah membayar uang muka sewa gositelnya. Bibinya sudah mengetahuinya dan tanpa banyak komentar ia menerima pria itu pagi tadi. Meskipun tatapannya sempat memicing karena rasa penasaran akan tetapi ia tidak memerdulikan beberapa bekas luka yang tergambar jelas di wajahnya—lagipula bibinya telah mendapatkan uang yang diinginkannya. Oh, Kyungsoo baru sadar, mungkin bibinya memang sedang pergi membelanjakan uang-uangnya yang baru ia dapatkan.

Kyungsoo terdiam untuk beberapa saat kembali memerhatikan keadaan gositel itu. Apa pria itu masih disana. Apa dia tengah tidur saat ini? Menyadari hal itu, tiba-tiba Kyungsoo kembali diingatkan oleh satu hal. Matras dan selimut. Kyungsoo belum memberikannya padahal Kai telah membayar uang sewanya. Tanpa berpikir panjang, Kyungsoo segera berjalan menuju lemari besar yang ada di ruang tengah dan mengeluarkan satu matras lipat dengan selimut berwarna coklat pudar bersamanya.


Kyungsoo terdiam dengan bingung ketika ia berdiri tepat di pintu gositel milik Kai. Ia memerhatikan, bahkan seolah menerawang apakah di dalam kamar itu terdapat seseorang. Apa Kai masih ada disana, tetapi hasilnya ia tidak dapat menemukan apapun karena jendela yang terdapat di gositel itu masih tertutup rapat oleh kain. Pada akhirnya Kyungsoo mulai mengetuk pintu itu meskipun harus bersusah payah dengan matras dan selimut yang masih berada dalam dekapannya.

Kyungsoo menunggu tetapi tidak ada satupun jawaban yang didapatkannya. Meskipun ia ragu, Kyungsoo pada akhirnya kembali mengetuk pintu kamar itu dan mulai memanggil dengan suara cukup keras.

"Kai, kau di dalam?"

Kyungsoo menunggu sebuah jawaban yang akan didapatkannya. Kyungsoo yakin meskipun gositel itu dalam keadaan tertutup rapat, Kai pasti akan mendengarkannya. Ketika ia tengah berusaha untuk mendengar apakah Kai menyahuti panggilannya atau tidak, Kyungsoo terkejut saat pintu gositel itu terbuka dan menunjukkan setengah tubuh Kai yang bertelanjang dada.

Kyungsoo memundurkan tubuhnya, antara terkejut dan miris menatap apa yang saat tengah dilihatnya.

"Ada apa?"

Suara itu mampu mengalihkan perhatian Kyungsoo untuk mendongak dan menatap wajah pria itu yang masih menatap dengan pandangan bingung. Kyungsoo termangu untuk beberapa saat mencoba mengumpulkan kembali pikirannya karena apa yang baru saja dilihatnya. Kyungsoo berusaha untuk bicara tetapi yang bisa ia lakukan hanya mengangkat matras dan selimut yang ia bawa tinggi; menyampaikan bahwa ia datang untuk membawa matras dan selimut yang dijanjikannya.

"Oh," Kai bergumam pelan sebelum pada akhirnya ia membuka pintu gositelnya lebar. "Ayo masuk," ajaknya dan Kyungsoo hanya menurut saja mengikuti langkah kaki pria itu memasuki gositel yang kini ditempatinya. Seperti dugaan Kyungsoo, masih kosong dan hanya di isi oleh beberapa kaleng bir disana.

"Biar aku yang menyimpannya."

Jongin mengambil alih matras dan selimut yang Kyungsoo bawa dan mulai menggelarnya di sudut sisi kosong gositel. Perhatian Kyungsoo masih belum lepas memerhatikan pria yang tengah memunggunginya. Ia masih diam mendapati bagaimana tubuh itu memiliki gambaran jelas beberapa memar hingga bekas luka disana—bahkan hingga punggungnya. Kyungsoo berpikir bahwa luka yang dimiliki Kai hanya ada di wajahnya saja tetapi tidak—kemungkinan hampir di seluruh tubuhnya Kai memiliki luka. Kyungsoo penasaran dengan pekerjaan Kai sebenarnya.

"Kau ingin bir?"

Kyungsoo mendongak, ia bahkan baru menyadari bahwa kini Kai telah berdiri di hadapannya dengan sekaleng bir utuh di tangannya. Kyungsoo hanya mematung dan menatap bir kalengan itu dalam diam.

"Aku bukan peminum," tolak Kyungsoo secara halus membuat Kai seketika mengulum bibirnya dan mengangguk mengerti.

Jongin kembali duduk dan Kyungsoo hanya bisa memerhatikan pria itu yang kini mulai mengambil secarik kain yang ada di hadapannya. Bahkan Kyungsoo baru menyadari bahwa pria itu sebenarnya tengah mengobati luka-lukanya yang terlihat masih baru. Ada sebuah obat anti-septik di hadapannya dan hal itu mendorong Kyungsoo untuk duduk di hadapan pria itu.

"Kau terluka?" tanya Kyungsoo membuat Jongin menghentikan kegiatannya dan melirik Kyungsoo dalam diam. "Apa yang terjadi dengan luka-luka itu?" Kyungsoo tidak dapat lagi menyembunyikan rasa penasarannya akan luka yang selalu menjadi pusat perhatiannya setiap kali Kai mengunjungi minimarket.

"Bukan apa-apa, hanya demi uang," balasnya singkat membuat Kyungsoo seketika mengernyit.

"Apa pekerjaanmu?"

Kai kembali mendongak dan menatap Kyungsoo dengan wajah yang nampak sekali bahwa kini ia tengah kebingungan. Kyungsoo menunggu, meskipun pada akhirnya Kai memang tidak ingin mengatakannya tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari nanti ia akan kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada Kai. Pada akhirnya ia masih menunggu bahkan ketika Kai kembali mengobati bekas luka yang ada di sekitaran pinggangnya.

"Menjual diri," balas Kai dengan lemah.

Mata Kyungsoo membulat, ia mengusap telinganya bahwa pendengarannya baik-baik saja. Memastikan bahwa apa yang dikatakan Kai saat ini bukan karena pendengarannya yang rusak. Menjual diri katanya? Apa pria ini sedang bercanda?

"Men—menjual diri? Ap—apa itu?" tanya Kyungsoo bingung.

Kai mendongak dan Kyungsoo hanya bisa menemukan sedikit senyuman dibibirnya. Sangat sedikit dan begitu sangat tipis, sehingga membuat Kyungsoo mencoba meyakini dirinya sendiri bahwa Kai memang benar-benar tengah tersenyum.

"Seperti aku harus bertarung atas nama orang lain dan ketika menang, uang taruhannya aku dapatkan sebagai bayaran."

Kyungsoo masih mengernyit tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kai saat ini. Begitu banyak ucapan Kai yang tidak dapat dimengertinya dan Kyungsoo semakin penasaran dengan kejelasan pekerjaan Kai. Alhasil kini Kyungsoo kembali melontarkan pertanyaan bernada penasaran terhadap pekerjaan Kai. Jujur saja ia masih sangat bingung.

"Pertarungan? Apa itu semacam tinju atau gulat?"

Tanpa mengalihkan perhatiannya dari luka yang tengah di obati, Kai menjawabnya dengan tenang.

"Ya, semacam itu."

"Kau atlit?"

Kyungsoo mendapati Kai menggeleng dan tetap tanpa mengalihkan tatapannya. "Apa yang harus kujelaskan, tentang pertarungan bebas tanpa aturan?" akhirnya Kai kini menengadah seolah berpikir apa tepatnya yang harus ia katakan tentang pekerjaannya. Kyungsoo menunggu hingga Kai kembali mulai meliriknya. "Semacam pertarungan jalanan, ya seperti itu."

"Apa yang kau maksud dengan pertarungan bebas tanpa aturan?"

Kai terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali membuka suaranya. Membalas tatapan Kyungsoo dengan tenang. "Entahlah, tetapi yang jelas jangan biarkan orang lain membunuhmu sebelum kau bisa membunuhnya. Seperti itu."

Kyungsoo hanya mematung mendengar penjelasan Kai kali ini. Secara garis besar Kyungsoo hanya bisa mendapatkan bahwa ia mengatakan pekerjaannya memiliki resiko antara hidup dan mati. Kyungsoo tidak habis pikir, ternyata ada pekerjaan semacam itu di dunia ini. Kai mempertaruhkan hidupnya atas nama orang yang membayarnya. Hanya satu hal yang bisa Kyungsoo rasakan, gila. Bahkan ia sama sekali tidak bisa membayangkan berapa kali pria di depannya ini nyaris mati karena sebuah pertarungan. Oh, Kyungsoo beruntung dapat melihatnya masih hidup seperti saat ini meskipun beberapa luka yang terlukis di wajah hingga tubuhnya membuat Kyungsoo ngeri.

"Kau tidak berpikir mencari pekerjaan lain?" komentar Kyungsoo tiba-tiba ketika kembali melihat luka yang tengah diobati Kai. Dibandingkan menjawabnya, Kai malah mendongak dengan kening yang berkerut dalam. Kyungsoo mendesah perlahan. "Setidaknya itu tidak membahayakan nyawamu."

"Aku ingin, tetapi hanya ini yang bisa kulakukan." Kai telah selesai dengan luka-lukanya lantas kembali memakai kaos oblongnya kembali. Akhirnya Kyungsoo bisa bernapas lega untuk tidak menatap luka-luka menyedihkan itu kembali. "Mungkin suatu hari, apa kau bisa membantuku mencari pekerjaan?"

Kyungsoo tidak tahu apa yang harus ia jawab kali ini. Ia ingin membantu Kai, terlebih dengan pekerjaannya yang hampir setiap saat memiliki resiko hingga menghilangkan nyawanya. Akan tetapi Kyungsoo tidak bisa berjanji. Ia saja masih kesulitan untuk menghidupi dirinya sendiri, bahkan bekerja paruh waktu belum dapat memenuhi kebutuhannya untuk tambahan biaya ia kuliah. Mengharuskan ia membantu Kai untuk mendapatkan pekerjaan bukanlah hal mudah. Apa yang bisa ia lakukan untuk membantu pria ini? Orang-orang sering menjulukinya si pria sial, dan bagaimana si sial ini bisa membantu orang lain?

Di tengah pikirannya, lagi-lagi ia dibuat heran ketika kaleng bir yang sebelumnya ia tolak telah kembali tersimpan di hadapannya. Itu Kai, ia yang sengaja menyimpannya dengan tutup kaleng yang telah terbuka. Kyungsoo menatap dengan bingung, ia sudah mengatakan bahwa ia bukanlah seorang peminum dan sekarang Kai malah memberikan bir ini kepadanya. Dengan kerutan kening yang sangat dalam, mimik muka itu dapat membantu Kai untuk bicara tentang kekhawatiran Kyungsoo kali ini.

"Kadar alkoholnya sangat rendah, itu tidak akan sampai memabukkan. Kau bisa meminumnya."

Kyungsoo hanya diam dan menatap kaleng bir itu lekat-lekat. "Rasanya aneh, aku tak pernah minum sekalipun."

"Itu bir kesukaanku, kau bisa merasakannya," balas Kai dengan singkat.

Meski ragu, pada akhirnya Kyungsoo meraih kaleng bir itu dan menyimpannya dalam genggaman kedua tangannya. Ia masih diam menatap lekat-lekat kaleng bir di dalam tangannya masih dengan raut kebingungan.

"Kenapa kau memberikannya kepadaku padahal aku sudah sangat jelas menolaknya."

"Kau seperti memiliki masalah." Seketika Kyungsoo bungkam. Ia menatap Kai yang tengah menatapnya dengan ekpresi yang sama seperti biasanya, begitu misterius dan juga sangat dingin.

Meskipun apa yang dikatakan Kai memang benar—dia memang memiliki masalah tentang kematian Jisung yang baru diketahuinya siang tadi—tetapi hal itu dengan cepat segera Kyungsoo singkirkan. Kyungsoo tidak ingin membahasnya lebih lanjut. Ia hanya ingin melupakannya.

Pada akhirnya Kyungsoo mulai menyesap bir itu pelan-pelan sampai sebuah rasa terbakar memenuhi tenggorokannya. Anehnya Kyungsoo malah menikmati hal itu. Rasanya memang begitu sangat aneh saat menyentuh indra pengecapnya. Akan tetapi setelah bir itu melewati tenggorokannya, rasa hangat seketika menyeruak di seluruh tubuhnya. Kepalanya terasa ringan dan Kyungsoo tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.

Kyungsoo menatap Kai yang masih menyesap birnya dalam ketenangan dan saat itulah Kyungsoo menyadari satu hal bahwa ini adalah kali pertama ia duduk di hadapan orang asing dan berbicara panjang lebar dengannya. Percakapan yang sangat panjang hingga Kyungsoo pada akhirnya bisa mendengar lebih jeas bagaimana suara Kai ketika ia tengah bicara.

Terdengar sangat ramah—berbeda dari penapilannya yang brandalan.


Kyungsoo memangku dagunya di atas meja kasir. Seperti hari biasanya, keadaan minimarket akan sangat terlihat sangat lengang. Hanya butuh dua jam hingga jam bekerjanya selesai dan Kyungsoo terus memerhatikan jarum jam yang masih berdetak untuk menunggu waktu itu tiba. Kyungsoo mendesah, entah kenapa hari ini ia begitu sangat lelah. Padahal hanya satu kelas saja yang ikuti dan selebihnya Kyungsoo menghabiskan waktunya untuk mengobrol dengan Kai.

Pemuda itu. Kyungsoo tidak tahu apa yang ia rasakan akan tetapi sejak mereka mulai saling bercakap satu sama lain, saat itulah kenyaman mulai hadir. Mungkin Kyungsoo terbiasa hidup sendiri sehingga ketika ia memiliki teman untuk bicara, ia akan menghabiskan waktunya hingga berjam-jam. Kai adalah pria yang sangat ramah dan Kyungsoo tidak percaya bahwa keluguan pria itu lebih nampak sangat jelas ketika ia bicara dibandingkan penampilannya yang bak' seorang brandalan.

Satu hal lagi yang baru Kyungsoo sadari bahwa ia lebih banyak berbicara dibandingkan Kai yang hanya akan membuka suaranya jika Kyungsoo bertanya. Meskipun dengan jawaban singkat dan kurang jelas untuk bisa dipahami Kyungsoo, anehnya Kyungsoo tidak keberatan dengan hal itu. Bahkan Kyungsoo merasa terbiasa seolah mereka sudah lama saling mengenal satu sama lain.

Kai benar-benar memiliki kesamaan seperti dirinya. Meskipun ia tidak tahu latar belakang Kai, siapa orang tuanya, dan bagaimana ia bisa hidup dan bekerja menjadi seorang petarung jalanan. Kyungsoo merasa bahwa Kai adalah pria yang kesepian, sama seperti dirinya yang tidak memiliki seorang pun yang dapat diandalkan. Mungkin ini terbilang aneh dan entah kenapa tiba-tiba ia menaruh rasa simpati kepada Kai. Dia layak memiliki teman seperti Kyungsoo yang kesepian.

Pintu yang terbuka membuat Kyungsoo dengan cepat menegakkan tubuhnya untuk menyambut kedatangan pengunjung di mini market ini. Kyungsoo menatap ada dua orang pria berpakaian polisi mendekat menuju kasir. Dan Kyungsoo hanya bisa termangu ketika kedua polisi itu mulai berbicara kepadanya.

"Maaf, apa anda yang bernama Do Kyungsoo?"

Kyungsoo terdiam dengan tatapan bingung. Dengan terbata ia mengangguk perlahan menjawab pertanyaan polisi itu.

"Ya, saya Do Kyungsoo."

"Bisa anda ikut bersama kami ke kantor?"

"Untuk apa?" tanya Kyungsoo cepat mulai merasa ketakutan.

"Ini tentang kematian Jisung Hwang. Bisakah anda memberikan kesaksian?"

Tubuh Kyungsoo bergetar. Ia menggeleng dengan lemah. "Tidak, kenapa saya? Saya tidak tahu apa-apa."

"Sebaiknya anda ikut ke kantor."

Kyungsoo bahkan tidak diberi kesempatan untuk bicara tentang keadaan minimarket yang nanti akan kosong bila ditinggalkannya. Sayangnya kedua polisi itu terlalu keras untuk bisa mengerti. Pada akhirnya Kyungsoo di seret keluar dari minimarket dengan permohonan bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi akan kematian Jisung.


Butuh waktu hingga lima jam dimana Kyungsoo harus menjawab beberapa pertanyaan di ruang pemeriksaan yang ada di kantor polisi itu. Meski dalam keadaan ketakutan dan kebingungan. Kyungsoo mencoba menjawab sejauh yang ia ketahui. Tentang perkelahiannya, pertemuan terkakhirnya hingga masalah yang terjadi di antara dirinya dengan Jisung. Tetapi Kyungsoo bersumpah tidak tahu selain dari pertanyaan yang tidak berhubungan dengannya. Bagaimana Jisung bisa bunuh diri, tentang bagaimana Jisung bisa jatuh dari atas gedung fakultas hingga dugaan pembunuhan. Kyungsoo terus mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa dan Kyungsoo bersyukur bahwa polisi itu percaya dan hanya menunjuknya sebagai saksi biasa. Itu lebih baik karena Kyungsoo mengira ia akan dijadikan tersangka. Terlebih julukan si pembawa sial pada dirinya, Kyungsoo tidak dapat membayangkan apa yang akan orang-orang bicarakan di kampus nanti jika mereka tahu bahwa Kyungsoo juga diseret ke kantor polisi untuk kasus ini.

Kyungsoo semakin lelah dan ia tidak bisa memikirkan apa-apa setelah pemeriksaan yang dihadapinya. Ia tidak tahu jelasnya tentang kasus ini karena Kyungsoo masih memercayai bahwa itu hanya kasus bunuh diri dan ia tidak terlibat apapun tentang kematian Jisung. Bodoh sekali jika Jisung memang mengakhiri hidupnya hanya karena laporan yang ditumpahi tinta oleh Kyungsoo. Dia bukan anak kecil, dan Jisung bisa mencetaknya kembali. Itu yang ada di dalam benak Kyungsoo kali ini.

Selain itu ia juga memikirkan tentang keadaan minimarket yang kemungkinan kosong karena ditinggalkan. Kyungsoo awalnya berniat untuk mengunjungi minimarket itu akan tetapi ia mengurungkan niat itu terlebih jika ia mengingat tentang manager Yoon. Kyungsoo sudah cukup lelah menghabiskan waktu hingga pagi di kantor polisi. Ia tidak ingin menambah rasa kelelahannya hanya untuk mendengar kemarahan manager Yoon. Pada akhirnya Kyungsoo memilih pulang dan berisitirahat. Mungkin hari ini juga ia akan memilih bolos saja.

Namun langkah Kyungsoo terhenti seketika saat mendapati bahwa bibinya telah berdiri di ambang pintu masuk dengan tatapan yang memicing tajam. Terlihat jelas terdapat aura kemarahan yang terpancar pada dirinya dan Kyungsoo bisa menduganya—itu pasti berhubungan dengan kasus Jisung.

"Apa yang telah kau lakukan?"

Kyungsoo hanya bungkam di hadapan bibinya. Ia tidak berani menatap mata bibinya dan memilih melemparkan tatapannya memerhatikan ujung sepatunya.

"Ada polisi yang datang dan mereka menanyakan keberadaanmu, apa kau terlibat kriminal huh?" cercanya.

"Itu aku tahu, aku hanya ditunjuk sebagai saksi."

"Meskipun itu hanya menjadi saksi tetapi dengan membawa polisi kesini hingga mencarimu, apa itu sangat pantas? Bagaimana bisa kau terlibat dengan polisi-polisi itu?!" ucapnya dengan suara tinggi.

"Aku tidak tahu apa-apa."

Bibinya mendengus dan Kyungsoo masih tidak bisa memberanikan dirinya hanya untuk menatap wajah kemarahan bibinya lebih jelas lagi.

"Aku sudah bersusah payah menghidupimu dan aku tidak percaya kau bisa membuat polisi datang ke rumah ini. Kau pikir kau siapa, apa aku juga harus mengurusi kasus kriminalmu."

"Aku bukan seorang kriminal, dan aku sudah mengatakan bahwa aku tidak tahu apa-apa," balas Kyungsoo kini dengan suara yang lebih tinggi.

Suara tawa mengejek bibinya menggema dan Kyungsoo tidak menyangkal bahwa hal itu mampu membua hatinya terasa diperas oleh sebuah kesakitan yang tak terelakkan. Ia ingin segera memasuki kamarnya, ia ingin segera menghindar dan ia tidak ingin lagi mendengarkan segala macam hal apapun yang berhubungan dengan Jisung ataupun polisi.

"Sekali lagi kau membuatku malu, aku tidak akan segan untuk mengeluarkanmu dari rumah ini. Kau mengerti?"

Kyungsoo hanya bisa mematung, ia tidak menjawab maupun menggubris perintah bibinya. Ia hanya bisa termangu tidak memercayai apa yang telah bibinya katakan. Apakah ia memang telah membuat bibinya malu karena hal ini? Kyungsoo masih berkutat dengan pikirannya hingga sang bibi kembali memasuki rumahnya begitu saja. Kyungsoo yang masih berdiri di teras rumah hanya bisa diam. Bahkan niatan untuk segera memasuki kamarnya dengan cepat menghilang.

Kyungsoo penasaran seberapa tidak bergunanya ia di dunia ini? Bahkan satu-satunya keluarga yang ia miliki bisa mengatakan hal semenyakitkan itu kepadanya, bahkan hingga mengusirnya. Sudah dapat ditebak bahwa Kyungsoo memang pembawa sial, entah kepada orang-orang disekelilingnya ataupun kepada keluarganya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasa miris akan hal itu.

Kyungsoo mendesah dan memilih mendudukkan tubuhnya pada sebuah kursi tua yang tersimpan di depan rumah. Pikirannya dijejali begitu banyak masalah akan tetapi tatapannya begitu sangat kosong. Hingga semuanya segera menghilang ketika atensinya beralih pada seorang pria yang melangkah dengan gontai melewati depan rumahnya. Itu adalah Kai—dan sepertinya dia baru pulang dari tempat 'pekerjaannya'.

"Hey!" panggil Kyungsoo dengan lemah membuat Kai yang tadinya berjalan dengan lurus menatapnya dengan bingung. "Baru pulang?"

Kai hanya mengangguk sebagai jawaban, dan Kyungsoo seketika menyunggingkan senyum tipisnya. "Kau butuh teman?"

Kyungsoo dapat memerhatikan kedua manik mata itu bergerak-gerak kebingungan. Akan tetapi Kyungsoo tidak berputus asa untuk menunggu respon Kai tentang pertanyaannya. Hingga pada akhirnya pria itu mengangguk membuat Kyungsoo seketika bangkit dari kursinya. Mungkin memang bukan Kai yang membutuhkan teman teapi ia yang membutuhkannya. Bagaimanapun Kyunsoo membutuhkan sseseorang untuk bisa membagi kisahnya kali ini.


"Aku tidak memiliki bir sekarang."

Kyungsoo mendongak dan melihat pria itu tengah menggaruk tengkuknya; seolah ia merasa tidak enak karena tidak bisa memberikan Kyungsoo apapun saat ini.

"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol saja," balas Kyungsoo membuat Kai akhirnya mengangguk dan mengambil duduk tak jauh di hadapannya.

Kai menyandarkan punggungnya pada dinding. Ia memejamkan matanya sesaat dan saat itulah Kyungsoo baru menyadari bahwa pria itu baru saja pulang dan Kyungsoo malah mengunjungi gositelnya saat ini.

"Apa aku tidak menganggu waktu istirahatmu?" tanya Kyungsoo ragu. Kai membuka matanya dan memberi tatapan tak mengerti. "Kau terlihat kelelahan."

"Tidak apa-apa, aku bisa tidur kapan saja." Pada akhirnya Kai menegakkan tubuhnya untuk duduk lebih tegap dan menatap Kyungsoo dengan tenang.

"Aku tidak melihatmu tadi pagi di minimarket. Kau tidak masuk?"

Kyungsoo menatap Kai dengan terkejut. Apa Kai mengunjungi minimarket pagi tadi? Kyungsoo hanya bisa berdeham sesaat ketika ia kembali mengingat dimana saat itu ia harus diseret dua orang polisi untuk menuju ke kantor poilisi setempat.

"Apa keadaan minimarket itu kosong?" seketika Kyungsoo merasa cemas, ia takut karena keadaan minimarket yang kosong membuat para pencuri tertarik untuk menggasaknya.

"Tidak, ada seorang pria yang berpakaian rapi disana. Dia yang melayaninya, aku tidak tahu dia siapa."

Kyungsoo mencoba menebak siapa kiranya pria berpakaian rapi itu dan hanya satu yang dapat Kyungsoo sadari. Mungkin itu adalah Manager Yoon. Meskipun ia merasa bersalah karena telah meninggalkan minimarket itu begitu saja tanpa pemberitahuan, tetapi dengan adanya manager Yoon disana, Kyungsoo dapat sedikit tenang. Kyungsoo tanpa sadar mendesah penuh kelegaan.

"Jadi kemana kau?" tanya Kai kekmbali membuat seluruh perhatian Kyungsoo terpecah begitu saja.

"Itu.. ada sebuah urusan."

Kai masih menatapnya dengan tatapan penasaran dan entah kenapa Kyungsoo mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Alhasil ia akhirnya membuka suaranya untuk mengatakan yang sebenarnya. Bukankah Kyungsoo memang membutuhkan teman untuk membagi kisahnya kali ini, Kai mungkin tidak akan keberatan untuk mendengarkannya.

"Aku harus pergi ke kantor polisi."

"Kantor polisi? Kenapa?" tanya Kai masih dengan nada yang terbilang tenang.

"Ada sebuah kasus bunuh diri di kampus dan aku ditunjuk sebagai saksinya," balas Kyungsoo ringan akan tetapi hal itu malah menekan perasaannya, tidak dapat memungkiri bahwa ia membenci tentang dirinya yang harus terlibat dalam situasi ini.

"Memangnya kau terlibat?" tanya Kai tiba-tiba membuat Kyungsoo seketika mendongak menatapnya. "Kenapa polisi itu menjadikanmu saksi?"

Kyungsoo menggeleng. "Entahlah, mungkin karena hari itu aku terlibat masalah dengannya atau mungkin," Kyungsoo terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia kembali membuka suaranya dengan lemah. "Karena aku adalah pembawa sial."

Keheningan tiba-tiba menyelimuti mereka. Tidak ada satupun komentar yang diberikan Kai kali ini. Ia hanya bisa menatap dalam-dalam Kyungsoo yang masih menundukkan wajahnya. Kyungsoo memainkan jari jemarinya di atas lantai kayu seolah membuat gambaran abstrak disana.

"Aku tidak ingin memaksamu untuk percaya hal ini tetapi percaya atau tidak, aku dijuliki si pembawa sial. Orang-orang yang berada di sekelilingku akan bernasib sial setelah mereka terlibat masalah denganku, bahkan hanya sekedar dekat denganku."

"Apa itu berarti aku harus menjauhimu?" komentar Kai dengan ringan yang mampu membuat Kyungsoo terlonjak dan menatap Kai dengan tidak percaya.

Kai masih menunjukkan ekpresi yang sama, diam dan menatap Kyungsoo dengan ringan. Apa yang di maksud Kai kali ini bahwa pria itu juga tidak ingin menerima kesialan seperti yang lainnya. Kyungsoo tidak pernah menduga ini akan terjadi. Sepertinya ia memang ditakdirkan untuk hidup sendirian dan tak punya teman.

"Jika itu maumu, kau bisa menghindar dari sekarang sebelum kau benar-benar bernasib sial karena aku."

"Bukan itu maskudku," Kai menatap Kyungsoo lebih lekat dan Kyungsoo hanya bisa mengulum bibirnya ditatap seintens itu oleh Kai. "Orang-orang bodoh itu yang berpikiran aneh, tidak ada yang hidup untuk bernasib sial. Itu terjadi karena ulah mereka sendiri, bukan karenamu."

Kyungsoo masih mematung mendengar ucapan Kai kali ini. Kai tidak benar-benar menanggapi ucapannya dengan serius. Sebaliknya ia memberikan sebuah pendapat—yang secara tidak langsung adalah hal yang dibutuhkan Kyungsoo selama ini. Kai benar, meskipun ia belum bisa memahami apakah Kai tengah membelanya sekarang.

"Kyungsoo," panggil Jongin membuat Kyungsoo terperangah. Ini adalah kali pertama Kai memanggil namanya dan Kyungsoo terkejut mendapati tatapan tenangnya yang masih menghias wajahnya. "Jika pun itu terjadi kepadamu, kesialan itu tidak akan pernah sampai menyentuhmu. Aku yang akan melindungi."

Kyungsoo seketika bungkam. Jantungnya berdebar dan ia hanya bisa melihat pancaran mata kesungguhan yang Kai berikan kepadanya. Kai akan melindunginya.


To Be Continued


Halo selamat siang, bertemu lagi dengan aku.. dan akhirnya aku memiliki kesempatan untuk update chap 2 dari fanficku yang baru. Semoga kalian suka^^ masih awal sih dan masih banyak rahasia dan kisah yang belum terungkap, jadi yang berminat silahkan mengukti perkembangan fanfic ini.

Terima kasih yang sudah memfllow, memfavoritkan hingga mereview chapter perdana kemarin. Semoga kalian enjoy membaca ini dan aku masih terima saran dan kritikyang membangunnya.

*Satu lagi aku ingin memohon maaf kepada para review yang terlewat aku tuliskan di ending chap ff Unperfect Princess. Itu murni keteledoran aku jadi aku memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan terima kasih sudah membaca Unperfect Princess*

Masih terlalu awal padahal ulang tahunnya besok, tapi mau ngucapin Happy Birthday buat Do Kyungsoo, duduku tersayang yang nambah umurnya dan juga nambah kadar keimutannya. Happy Kaisoo day, dan Happy birthday Kim Jongin. Bahagiain ami dong abi~ *bbuing

Are you ready for Kasioo Fanfic Fest 2k17?

Salam blossom~