Annyeong © ddideubeogeo17
.
.
.
Hana
Dul
Set
Enjoy it~
.
.
.
"Mingyu-ya?"
"Eoh? Ne, eomma. Waeyo?"
"Kenapa belum tidur?"
Aku bingung harus menjawab apa.
Sudah beberapa hari berlalu sejak Wonwoo hyung meninggalkanku sendirian di taman belakang sekolah, dan sejak itu pula aku tidak pernah melihatnya lagi.
Namun anehnya, serangkaian mimpi datang menggempurku di tiap malam harinya. Dalam mimpi itu penuh dengan cuplikan adegan asing namun dengan pemeran yang familiar, ya familiar. Karena ada aku, Jun hyung, Soonyoung hyung, Seokmin, dan bahkan Wonwoo hyung.
Aneh?
Ya, awalnya ku pikir itu karena efek merindukan sosok manis itu. Berhari-hari mengalami mimpi dengan adegan acak yang terasa benar-benar nyata, cukup membuat kepala ku terasa pusing tiap bangun di keesokan harinya.
"Mingyu-ya? Kau melamunkan apa, hm? Apa kau memiliki masalah? Coba ceritakan pada eomma. . ."
"Aku… begini, eomma aku tertarik pada seseorang."
"Ne?!"
Aku tidak mengerti, ada apa? Kenapa sebegitu terkejutnya? Apa selama ini aku memang tidak pernah bercerita tentang hal seperti ini?
"Kenapa eomma?"
Aku bisa melihat eomma menetralkan ekspresi wajahnya dan berusaha terlihat sebiasa mungkin.
"Tidak apa-apa, eomma hanya terkejut putera tampan kebanggaan eomma sudah mulai menaruh hati pada orang lain, eoh?"
Eomma berniat menggoda, tapi entah kenapa aku yakin dibalik getar suaranya ada maksud lain yang tak tersampaikan.
"Hmm ya begitulah." Ujarku, aku tidak ingin memusingkan sikap eomma untuk saat ini.
"Jadi siapa orang yang beruntung itu, hm?" tanya eomma sambil mengusap suraiku.
Aku sangat senang berada di posisi ini, dimana aku duduk bersandar pada dashboard ranjang sementara eomma duduk di pinggir ranjang menghadapku sambil mengusap kepalaku.
Membawa ku pada kenangan semasa kecil.
"Kakak tingkatku eomma. Ia sudah berada di kelas tiga."
Perasaanku saja atau memang eomma menelan ludah kasar dengan bola matanya yang melebar? Ah entahlah, eomma agak aneh hari ini.
"Siapa dia, Sayang?"
"Namanya maksud eomma?"
Eomma mengangguk, aku menggigit bibir. Inikah waktu yang tepat untuk bercerita tentang sosok manis itu?
"Jeon Wonwoo." Ucapku singkat namun berefek pada eomma yang tiba-tiba menangkup kedua pipiku.
Aku sangat terkejut ketika melihat derai air mata yang tiba-tiba menganak sungai di wajah yang masih tetap terlihat cantik di usia senjanya itu, "Eomma? Ke–kenapa? Kenapa menangis, hm?" tanyaku lembut dengan menangkup balik kedua pipi wanita yang paling ku sayang itu.
Mengusap air matanya dengan penuh kasih sayang.
Eomma tak menjawab pertanyaanku, beliau justru merengkuh ku ke dalam pelukan hangat penuh perlindungan seorang ibu. "Eomma?"
"Hiks hiks hiks" hanya suara tangis yang terdengar.
Ya Tuhan, apa salahku? Apa eomma tidak merestuiku?
Dengan perlahan aku memeluk balik eomma dan mengusap punggungnya, "Eomma? Apa aku salah bicara? Maafkan aku jika iya, aku tidak mengerti apa yang–"
"Sayang, tidak. Jangan meminta maaf, eomma yang seharusnya minta maaf."
Eommaku melepaskan pelukan kami, beliau memberi jarak dan mengusap poniku dengan lembut. "Mingyu-ya?"
"Ne?"
"Besok kau izin tidak masuk sekolah ya?"
"Memang kenapa?"
"Eomma akan mengajakmu pergi ke suatu tempat."
"Eh? Kemana?"
"Sudah, pokoknya kau ikut saja, oke? Sekarang sudah malam, ja~ tidurlah. Selamat tidur uri aegi." Ucap eomma sambil menyematkan ciuman di dahiku.
"Ne, selamat tidur juga eomma~"
Setelah eomma keluar dari kamar, kepala ku mulai menganalisa sikap eomma tadi. Namun semua yang ku pikirkan hanya berujung pada kebuntuan.
.
.
.
Tadi pagi aku sudah berpakaian rapih dan semua terasa begitu cepat bagiku.
Cepat karena rasa penasaran telah menggerogoti pikiranku, membuat aku tidak begitu fokus pada apapun bahkan waktu sekalipun.
Sekarang aku dan eomma tengah menginjakan kaki di tempat yang sungguh amat sangat familiar.
Kenapa aku menggunakan kata-kata yang berlebihan?
Tentu itu karena aku sudah bosan dengan tempat ini. Berbulan-bulan kurasa waktu yang lebih dari cukup untuk merasa bosan dengan tempat dan keadaan yang monoton di sekitarmu, kan? Atau mungkin ini hanya berlaku untukku saja?
"Mingyu-ya?"
"Ya eomma?"
"Tunggu di sini ya?"
Sebagai anak yang baik aku hanya mengangguk, menuruti apa kata sosok yang sudah membawaku ke dunia.
Eomma menghilang dari pandanganku, aku hanya duduk terdiam. Hingga beberapa menit kemudian beliau kembali dan menarik pelan tanganku, "Eomma? Sebenarnya kita akan melakukan apa?"
"Sudah, turuti saja apa kata eomma. Oke?"
Aku pun diam saja. Menuruti eomma menarikku kemanapun. Aku mengerutkan dahi saat memasuki sebuah ruangan dokter, hmm sepertinya eomma akan melakukan konsultasi kesehatan.
"Annyeong haseyo Jung uisanim."
"Ah ne, annyeong haseyo Nyonya Kim. Mari silahkan duduk."
Aku pun mengikuti eomma dan duduk tepat di hadapan dokter itu –terhalang oleh meja tentunya.
"Jadi, ini yang bernama Kim Mingyu?"
"Ah iya, ini anak saya."
"Annyeong haseyo Kim Mingyu, apa pagimu berjalan lancar? Sepertinya kau terlihat kebingungan sekali."
Woah ternyata dia dokter yang ramah dan tidak kaku, ku pikir dia berusia tidak terlalu tua. Mungkin usianya sekitar seperempat abad?
"Ah iya, Uisanim. Pagiku baik, tapi jujur saja aku memang merasa bingung."
Dokter muda bergender sama denganku itu terkekeh ringan menciptakan suasana yang lebih santai, namun dia kembali terlihat serius sekali saat membaca kertas-entah-apa di tangannya.
Tiba-tiba ia menoleh dan mengatakan padaku, "Baiklah, Kim Mingyu mari ikut saya."
Dengan linglung aku menoleh pada eomma, bisa ku lihat beliau mengangguk dan mengisyaratkan agar aku menuruti apa kata dokter.
Aku beranjak bangun dan mengikuti dokter tersebut masih dengan pikiran yang berkecamuk.
Entah apa yang ku lakukan, aku masuk ke ruangan lain dan aku cukup mengerti jika sekarang aku tengah mengalami serangkaian pemeriksaan kesehatan. Bahkan beberapa kali dengan alat kedokteran yang tidak dimengerti orang awam sepertiku.
Setelah selesai, aku diajaknya kembali ke ruangan tadi namun rasa penasaran yang mencekik mau tidak mau membuatku bertanya padanya, "Ehem, Jung uisanim?"
"Iya?"
"Sebenarnya apa yang dilakukan tadi? Maksudku, serangkaian pemeriksaan itu, untuk apa? Apa kesehatanku bermasalah?"
Dokter itu hanya tersenyum tipis, "Tunggu sampai kita di ruangan saya saja."
Sesampainya di sana, aku bisa melihat eomma yang masih menunggu dengan seorang suster.
"Maaf, tapi saya rasa hal ini perlu dibicarakan berdua dulu dengan Nyonya Kim. Ini semua demi kebaikan, jadi maaf sekali Mingyu-ssi, anda bisa keluar dulu dari ruangan ini."
Aku terperangah, tadi dia sendiri yang bilang tunggu di ruangan, sesampainya di sini aku malah disuruh keluar.
Suster yang sedari tadi terdiam menghampiriku, "Mari, Tuan." Aku berdiri dengan perasaan gundah, namun eomma mengusap lenganku pelan.
"Tunggu sebentar ya?" tanyanya lembut, tentu aku mengangguk pelan dan berlalu keluar.
Entah sudah berapa menit yang ku lalui di ruang tunggu ini. Aku sudah jenuh memainkan ponsel pintar yang sama sekali tidak membantu dalam membunuh rasa bosan ini.
Aku menghembuskan napas kasar saat beberapa menit berikutnya yang ku lalui masih dengan posisi yang sama dengan kegiatan yang sama pula –memainkan ponsel.
"Arghhh aku bosan!" lirihku, aku menolehkan wajah ke segala arah dan menemukan orang-orang yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.
Baiklah, aku akan berjalan-jalan saja di sekitar sini. Aku sudah remaja, jadi berkeliling sendiri tidak akan menjadi masalah, kan?
Aku melangkahkan kaki ku asal, entah kemana kaki ini melangkah membawa ku pergi. Aku meneliti seluruh hal yang tertangkap indera penglihatanku.
Membawaku ke memori kelam dimana lima bulan lamanya aku menghabiskan waktu di rumah sakit ini.
Ya, lima bulan. Tiga bulan karena koma, dan dua bulan berikutnya pemulihan kesehatan total.
Aku menghentikan langkahku saat berdiri tepat di depan pintu ruangan Jung uisanim. Aku tak punya petunjuk apapun kenapa tiba-tiba secara otomatis aku malah kembali ke tempat ini. Aku menolehkan wajah ke kanan dan kiri, mungkin orang yang melihat tingkahku ini akan mencurigaiku dan berpikir jika aku akan melakukan suatu tindakan kriminal.
Aku terkekeh dengan suara tertahan saat koridor sepi dan tidak ada seorangpun, dengan rasa penasaran tinggi dan adrenalin yang tiba-tiba meningkat pesat, aku berniat membuka pintu ruangan itu sebelum telingaku menangkap isi percakapan mereka.
Eh tunggu, sepertinya menguping lebih menyenangkan dibanding mengejutkan mereka. Aku tersenyum lebar, sekali lagi aku memerhatikan sekitar sebelum kemudian menempelkan telingaku dan menguping pembicaraan orang di dalamnya.
"Jadi kesimpulan dari laporan kesehatan Mingyu-ssi seperti itu, Nyonya Kim. Apa masih ada yang ingin anda tanyakan?"
"Tapi Jung uisanim, apa berarti hal tersebut berbahaya bagi kesehatan mentalnya?"
Eh?!
Apa?
Mental?
Memang ada apa dengan mentalku?
Aku baik-baik saja eomma! Ingin rasanya aku berteriak begitu, namun aku tidak segila itu untuk melancarkan aksi tersebut. Jadi aku memasang baik-baik pendengaranku.
"Tidak, mentalnya jelas baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun pada mentalnya, hanya saja memang Mingyu-ssi terkena dissociative amnesia."
Di–disso apa?
Amnesia apa?!
"Apa itu artinya Uisanim?"
"Jadi begini, anak Nyonya terkena dissociative amnesia dimana para penderitanya tidak mampu mengingat beberapa informasi namun hal tersebut tidak hilang secara permanen, masih ada kemungkinan memori itu muncul kembali."
"Ya Tuhan, anakku. . ."
"Dissociative amnesia yang dialami Mingyu-ssi termasuk ke dalam reterogate amnesia, itu berarti ketidakmampuan Mingyu-ssi untuk mengingat informasi dari masa lalu. Lalu jika dilihat dari tipenya yang lebih spesifik lagi, untuk sementara ini dari hasil analisa pemeriksaan tadi saya bisa menyimpulkan jika Mingyu-ssi masuk ke dalam tipe selective amnesia."
"Maaf? Tipe apa?"
"Selective amnesia, yang berarti Mingyu-ssi hanya kehilangan beberapa bagian dari memorinya tetapi tidak benar-benar semuanya. Yang terlupakan hanya beberapa hal yang mungkin di alam bawah sadarnya ia memiliki trauma dengan hal, sesuatu, kejadian, atau sosok tersebut."
"Hiks hiks Mingyu-ya. . ."
"Dalam kasus Mingyu-ssi ini, dia mungkin bisa mengingat jika dia mengalami kecelakaan mobil saat itu, bahkan sampai saat ambulans membawanya ke rumah sakit. Namun dia tidak dapat mengingat bagaimana dia bisa kecelakaan, dengan siapa dia saat itu, dan beberapa hal lain. Tentu bukan hal yang mustahil jika dia berilusi, dia hanya lupa bahwa sosok yang anda sebut bernama Jeon Wonwoo tadi telah tewas di tempat kejadian."
BRUK!
"T-TUAN?!"
Aku tidak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu hanya tiba-tiba kepalaku berdentum. Menimbulkan rasa sakit, seolah ada sesuatu yang mendobrak keras tengkorakku, bahkan sepertinya serabut saraf ku saling membelit hingga terpintal dengan kusut.
Aku masih bisa mendengar suara suster yang kebetulan lewat tadi menghampiriku, aku pun bisa mendengar pintu ruangan yang terbuka kasar dan terdengar seruan Jung uisanim bahkan suara isak tangis ibuku.
Namun entah kenapa semuanya begitu gelap, aku merasa sesak. Untuk sekedar membuka mata saja, aku tidak bisa.
Ya Tuhan, apa yang terjadi?
.
.
.
.
.
"Wonwoo hyung, maafkan aku. Ini semua salahku."
"Sssttt tidak apa-apa, Mingyu-ya. Menyetirlah dengan benar, tidak usah terburu-buru."
"Tapi karena hyung kelelahan mengajariku, kita jadi tertidur dan terlambat menjemput orangtua serta adik hyung di bandara."
"Tidak apa, mereka pasti masih menunggu. Toh baru dua jam yang lalu pesawat mereka tiba."
"'Baru'? Kalimat yang lebih tepat sepertinya 'sudah dua jam yang lalu'. Hyung jeongmal mianhae~"
"Aish. Yak! Sudah kubilang kan tidak apa!"
Ah ini semua memang salahku, tadi pukul enam petang aku meminta agar Wonwoo hyung –kekasihku– ke rumah untuk mengajariku, sebab keesokan harinya aku akan melaksanakan ulangan fisika. Aku benar-benar lemah di pelajaran itu, dan kebetulan memiliki kekasih yang satu tingkat di atasku serta jenius di pelajaran tersebut, jadi aku mengundangnya ke rumah.
Dia sudah bilang, jika malam nanti pukul sepuluh dia akan menjemput kedua orangtua dan adiknya yang tiba dari Jepang. Ada kerabatnya yang tinggal di sana dan menikah dengan orang Jepang, tadinya Wonwoo akan ikut namun mengingat ia sudah berada di tingkat akhir, sang ayah pun melarangnya dan menyuruh Wonwoo tetap di Korea.
Aku dan Wonwoo hyung belajar dua jam lamanya hingga waktu menunjukan pukul delapan malam. Setelahnya kami makan malam bersama –dengan ramyeon buatanku tentunya. Omong-omong kedua orangtua ku juga sedang tidak ada di rumah, eomma ikut ke luar kota menemani appa bertugas.
Lalu setelahnya aku dan Wonwoo hyung berbaring bersama di ranjangku.
Tolong jangan berpikir aneh-aneh, kami benar-benar tidur memejamkan mata, bukan 'tidur' yang lain.
Aku tak tahu selama apa kami tertidur, sepertinya tumpukan tugas serta kegiatan sekolah yang semakin padat mampu membuatku dan Wonwoo hyung tertidur lelap dengan begitu mudahnya.
Aku menoleh ke arah jam dan membelalakan mata saat jarum pendek menunjukan pukul tengah malam. Aku mengusap sayang surai lembut sosok manis itu, "Eungghhh~"
Aigoo~ lucunya~ Wonwoo hyung benar-benar seperti kucing pemalas. Dengan gemas aku mengecup seluruh wajahnya.
"Eungh~ Mingyu-ya hentikan~"
Haha dia merengek, lucu sekali!
Tapi justru aku malah mengecup bibirnya berkali-kali, karena dia masih tidak mau membuka mata. Dengan jahil aku menggigit-gigit kecil bibirnya kemudian melumat rakus bibir yang selalu terasa manis itu.
"Mingyu-yaaa~"
Assa! Akhirnya dia membuka mata juga. Aku memberikan senyum terbaikku dan mengecup lagi bibirnya ringan sebelum berkata, "Wonwoo hyung sayang, bangun. Ini sudah tengah malam."
Dia mengedipkan matanya lucu, sepertinya dia masih membaca situasi.
Namun detik berikutnya,
"GAWAT! HEI AYO KE BANDARA!"
Aku hanya mengusap tengkuk canggung, "Ne! Maaf kan aku ya hyung."
Dan ya, seperti sekarang. Aku mengendarai mobil di tengah jalanan lengang seperti ini dengan kecepatan tinggi. Tenang, aku sudah memiliki lisensi berkendara.
Tapi tetap saja, lisensi berkendara itu tidak menjamin keselamatan siapapun, kan?
Terbukti dari kemunculan tiba-tiba truk dari arah kanan di persimpangan jalan. Truk itu yang salah, karena meskipun jalanan cukup sepi, lampu lalu lintas tetap menyala dengan semestinya.
Dan aku mematuhi aturan rambu lalu lintas itu.
Aku berusaha membanting stir dan menginjak pedal gas sekencang mungkin agar terhindar, namun sepertinya takdir berkata lain. Semuanya tidak seperti yang aku harapkan.
Yang bisa ku rasakan hanya rasa sakit yang menghujam seluruh bagian tubuhku tanpa terkecuali, bahkan aku bisa merasakan cairan pekat berbau anyir yang mengalir di wajahku. Aku memejamkan mata erat menahan semua sakit ini.
Tunggu, Wonwoo hyung?!
Tidak tidak, Ya Tuhan. . . Ku mohon jangan biarkan dia merasakan rasa sakit ini!
Aku membuka paksa mataku dengan perlahan, bisa ku lihat sosok di depanku dengan tubuh penuh bersimbah darah. Aku ingin mendekatinya, memeluknya, membawanya ke rumah sakit, dan mengucapkan kata-kata penenang.
Tapi apa daya? Yang bisa ku lakukan hanya meraih pergelangan tangannya dan menggoyangnya pelan. Hal sepele, namun entah kenapa butuh energi dan usaha keras untuk ku melakukan itu.
Dia membuka matanya sedikit, kemudian tersenyum kecil.
Aku menggeleng sebisa ku.
'Tidak! Jangan melakukan apapun! Itu pasti makin menyakitimu sayang. . .'
Aku bisa menjamin jika keadaan Wonwoo hyung pasti jauh lebih parah dariku. Wonwoo hyung duduk di sisi kanan bertepatan dengan arah datangnya truk tadi.
Aku bisa merasakan air mata dan darah berbaur menjadi satu, melihat Wonwoo hyung seperti ini benar-benar menyiksa diriku. Jika bisa, aku rela bertukar posisi.
"Mingkhhh"
"Hm?"
"S-sarang-hae."
Suaranya makin melirih.
'Hentikan hyung! Hentikan! Jangan buang-buang energimu hanya untuk mengatakan hal yang sudah jelas aku tahu!' batinku menjerit.
Aku menangis sejadi-jadinya, meskipun itu membuat rasa perih makin terasa karena otot wajah ku tertarik ketika menangis, tapi apa peduliku?
Keadaan sosok di depanku ini justru jauh lebih menyakiti hatiku.
"A–annyeong."
Aku menggeleng!
'Tidak, jangan katakan apapun. Kau harus bertahan sayang!'
Aku menggoyangkan lengannya pelan, namun tangannya terasa semakin berat. Seolah nyawanya sudah terlepas dari raga.
"Andwae. . . hiks andwaeyo~ Hyung~" bisikku tercekat.
"Hyung~ Kajima~ hiks aku berjanji akan menuruti semua keinginan mu."
"Hyung ingin apa, hm? Cheeseburger? Akan kubelikan, aku tidak akan melarangmu memakan junkfood itu lagi. Tapi, bangunlah! Hyung~"
"Hiks hyung! Maldo andwae!"
Aku memejamkan mataku, dengan sebelah tangan yang masih menggenggam erat tangan sosok tercintaku.
Aku tak tahu berapa lama waktu yang terlewati, hingga sayup-sayup telingaku mendengar suara sirine ambulans, mobil polisi, atau entahlah apapun itu.
Aku sudah berada di ambang batas kesadaranku, namun hanya dua hal yang bisa ku tahu dengan pasti.
Pertama, tangan sosok yang tengah ku genggam mulai terasa dingin.
Kedua, aku bisa mendengar suara seseorang yang berkata "Lapor! Jeon Wonwoo, dari kartu identitasnya diketahui dia berusia delapan belas tahun. Diperkirakan tewas sejak satu setengah jam yang lalu."
Dan aku berharap ini semua hanya mimpi buruk, atau bahkan tidak pernah terjadi.
Setelahnya, aku hanya bisa merasakan jika tubuhku dibawa ke dalam mobil ambulans.
.
.
.
.
.
Setelah aku pingsan di koridor rumah sakit saat itu, aku harus mendapatkan perawatan intensif. Tentu saja itu berarti aku harus izin lagi dari sekolah hingga seminggu lebih. Beruntung tiga sahabat baik yang ku miliki dengan setia selalu menyempatkan diri untuk menjengukku, dan dari situlah aku memanfaatkan waktu untuk mengorek segala hal tentang Jeon Wonwoo, ya Wonwoo hyung, kekasih termanis yang paling ku cintai.
Aku juga mendapatkan banyak informasi tentangnya dari kedua orangtuaku, orangtua Wonwoo hyung, serta adik nya –Jeon Jungkook, yang kerapkali menjengukku.
Sekarang aku tengah berdiri tepat di depan pusara makamnya.
Aku meletakan bunga, dan mengusap pusara itu dengan penuh rasa sayang. Seolah-olah benda mati itu adalah sosok Wonwoo hyung,
"Annyeong Wonwoo hyung. Maafkan aku atas segala hal yang telah terjadi, kali ini hanya kata 'andai' yang memenuhi pikiranku. Terlalu banyak perandaian hingga pada saat melihat realita, akan berakhir pada rasa sakit tak berujung. Maafkan aku Wonwoo hyung, dan terima kasih banyak sudah menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi Jeon Wonwoo ku yang pernah, masih, dan akan selalu ku cintai."
Aku membiarkan air mataku menganak sungai, biarlah tiap bulirnya terjatuh. Mengikuti arah gravitasi dan terserap tanah, tanah dimana di dalamnya terdapat Wonwoo hyung ku.
"Maaf karena dirimu pernah hilang dari memoriku. Sungguh, itu bukan keinginanku. Namun sepertinya alam bawah sadarku secara otomatis melakukan hal itu, aku yakin Tuhan sengaja membuatku begitu karena tahu jika ketika sadar dari koma aku mengingatmu, mungkin sekarang aku sudah berada di alam yang sama denganmu. Namun jika kau berada di surga, mungkin aku akan ditempatkan oleh-Nya di dasar neraka karena pasti aku akan memilih mengakhiri hidupku sendiri detik itu juga."
"Aku sangat bersyukur Tuhan berbaik hati padaku, memberikan ku amnesia dan ilusi. Cukup untuk menamparku dan membuatku membangun benteng pertahanan agar bisa menerima kenyataan, jika hyung sudah tiada."
Aku bermonolog dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Angin berhembus pelan, membawa kesejukan yang sayangnya tidak bisa menembus hingga ke relung hatiku.
"Hyung, maaf karena di saat terakhirmu aku tidak sempat membalas perkataanmu. Kau tahu kenapa? Itu karena aku mengkhawatirkan dirimu, fokusku benar-benar terpaku pada sosokmu yang berlumuran darah."
Aku mengusap air mata di wajahku, melukiskan sebuah senyum meskipun aku tahu itu terlihat sangat dipaksakan.
Dengan menahan pilu aku berkata, "Jeon Wonwoo, nado saranghae~"
"Sekali lagi, maafkan aku dan terima kasih atas segalanya."
Aku membungkuk dalam, dan bersujud. Menyiratkan permintaan maaf yang begitu mendalam, serta penghormatan setinggi-tingginya.
"Nado, annyeong."
Itulah ucapan terakhirku, sebelum akhirnya aku mengusap dan mengecup pusara itu. Kemudian aku berlalu pergi dengan uraian air mata yang tak bisa dikontrol, terjatuh lagi, lagi, dan lagi. Seolah tak ada hari esok.
.
.
Wonwoo hyung,
aku tahu kau paling benci melihatku menangis.
Kau pasti akan langsung mengejekku cengeng.
Walaupun aku tahu itu hanya akal-akalanmu saja,
karena alasanmu yang sebenarnya kau itu mengkhawatirkanku, kan?
Namun, untuk kali ini saja.
Kumohon. . .
Biarkan aku menjadi si cengeng Kim Mingyu, oke?
Biarkan aku menangis.
Biarkan aku mengurangi rasa sesak dalam dadaku.
Biarkan aku melepas semua kekalutan dan rasa sakit ini.
Biarkan aku seperti ini,
sebentar saja.
Setelah ini aku berjanji,
aku akan menjadi Kim Mingyu yang kuat,
aku akan menjadi Kim Mingyu yang tangguh,
aku akan menjadi Kim Mingyu yang lebih baik lagi.
Namun, satu hal yang aku pertahankan.
Aku akan tetap menjadi Kim Mingyu,
lelaki yang di dasar hatinya sudah terukir abadi nama Jeon Wonwoo.
.
.
'Jeon Wonwoo,
Jeongmal saranghae.
Nado, Annyeong.'
.
.
.
.
.
THE END
#HAPPYMINGYUDAY
#민규야_스물한번째_봄도_함께하자
*Cieeee ada yang ultah! Wyatb aja ya buat bang mingyu wkwk jangan lupa sering-sering bikin momen sama si manis /lirik wonu/ hehe
**Mengenai jenis dan penjelasan amnesia di atas, itu murni hasil ngebongkar/? Mbah gugel, jadi kalo ada yang lebih ngerti dan nganggep penjelasan itu ada yg keliru, esvi minta maaf dan tolong di koreksi ya.
***Makasih buat semuanya yang udah baca, ngefav, ngefollow, apalagi yang nyempetin review /deep bow/
****Mind to RnR? Gomawo^^
