She, Between He and Me
Love Live! School Idol Project
Pair : Male! Umi x Eri
WARNING : AU! OOC! Alur Cepet! Typo(s)
Love Live! Is not mine!
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita.
Part 2, "Kencan?"
Eri dan Umito saat ini sedang berada di taman dekat kota, Eri bilang dia ingin bermain dulu sebentar mengilangkan penat sehabis mengerjakan tugas dari guru-nya. Mereka berjalan berdampingan sambil bercanda dan membicarakan banyak hal. Eri tampak senang sekali saat ini, hal itu bisa dibuktikan dengan wajahnya yang tak luput dari senyumannya yang manis.
"Nee… Umito?" Tanya Eri sambil tersenyum.
Umito kaget. "Nama depan?!"
"Gak apa-apa, 'kan? Umito juga panggil aku Eri, dong!" Pinta Eri.
"T-Tapi-"
Eri menatap Umito penuh harap dengan mata yang berkaca-kaca. Umito yang melihat wajah Eri pun merasa tidak enak menolak permintaan Eri.
"B-Baiklah, Eri…." Wajahnya kian memerah.
'Oh, jadi itu titik lemahnya, ya? Hihihihi….' Batin Eri kegirangan.
"Jadi, Umito mau ditraktir apa?"
"Umm…. Boleh milih, nih?"
"Tentu!"
"Kalau begitu aku ingin manjuu dari toko Homura."
"Baiklah."
Eri kemudian menggenggam telapak tangan Umito dan menariknya agar lebih dekat. Umito hanya diam saja saat tangannya digenggam oleh Eri, dia terlalu malu untuk bertanya. Jujur saja dia tidak pernah menyentuh ataupun disentuh oleh perempuan, mungkin satu-satunya perempuan yang pernah menyentuh dan disentuh oleh Umito hanya teman masa kecilnya.
Saat perjalanan menuju toko Homura Eri mengelus tangan Umito, entah apa yang dipikirkannya. Eri berpikir tangan Umito terlalu halus untuk seorang pria yang rajin olahraga terlebih kulit Umito memang bisa dibilang putih bersih layaknya perempuan pada umumnya.
"Umito, tanganmu halus sekali dan kulitmu putih bersih, untuk seorang laki-laki yang rajin olahraga ini aneh. Kamu melakukan perawatan kulit?" Tanya Eri penasaran sambil memperhatikan pergelangan tangan Umito.
Umito kaget mendengar pernyataan dan pertanyaan dari Eri. Dia ingat betul dulu teman kecilnya pernah menanyakan hal yang sama padanya.
"Umito, Ada apa?" Tanya Eri.
"Tidak apa-apa. Hanya saja perkataanmu barusan mengingatkanku pada teman kecilku. Dan entah kenapa saat melihatmu aku jadi ingat padanya." Jelas Umito.
"Begitu, ya? Ngomong-ngomong kita sudah sampai di toko Homura."
"Shitsureishimasu…"
Umito dan Eri memasuki toko itu, mereka disambut dengan ramah oleh seorang pemuda yang sedang menyantap sebuah roti. Pemuda itu merupakan teman masa kecil dari Umito, yaitu Kousaka Kakeru.
"Irasshaimase! Oh, Umito-kun." Ucap Kakeru sembari terus mengunyah rotinya.
Umito menghela nafas. "Habiskan makananmu terlebih dahulu baru ngomong."
"Iya, iya…" Ucap Kakeru bosan mendengan ceramah dari Umito. "Ngomong-ngomong itu siapa, Umito-kun?" Tanya Kakeru sembari melihat Eri.
"Dia Ayase Eri, kakak kelasku." Umito memperkenalkan Eri. "Eri, perkenalkan dia Kousaka Kakeru, teman kecilku."
Eri dan Kakeru pun berkenalan dan saling membungkukkan badan satu sama lain.
"Umito, kamu bilang kalau melihatku kamu langsung ingat sama temen kecilmu itu, 'kan? Apa aku ini memang terlihat seperti laki-laki, ya?" Tanya Eri sembari menyikut Umito.
"Hah? Tidak! Bukan! Maksudku itu bukan dengannya tapi dengan teman kecilku yang satu lagi. Terlebih dia itu perempuan!" Jelas Umito.
"Begitu, ya? Bodo, ah." Ucap Eri tak peduli. "Kousaka-san, tolong manjuu-nya dua." Pesan Eri sambil menjulurkan tanda peace.
"Baik, segera!" Jawab Kakeru seraya membungkus pesanan Eri.
Tak lama Kakeru pun memberikan manjuu tersebut pada Eri kemudian Eri membayarnya. Sudah dapat apa yang dicari, Umito pun langsung mengantar pulang Eri tak lupa diperjalanan mereka berdua memakan manjuu yang tadi dibeli.
"Eri... Arigatou." Ucap Umito tersenyum bak malaikat.
Eri dibuat nge-blush oleh senyuman Umito. Wajahnya memerah dan terasa panas baru kali ini dia terpikat pada senyuman laki-laki.
"Sama-sama." Jawab Eri. "Umito… Aku ada permintaan." Ucap Eri malu-malu.
"Apa itu?"
"Besok waktu makan siang aku ingin kamu datang ke atap sekolah." Ucap Eri sambil memainkan jarinya. "Kita makan siang bersama, aku akan membuatkan bento untukmu!" Lanjut Eri sambil memasang wajah penuh harap dan memelas. Eri sudah tahu kalau ini merupakan titik lemah Umito jadi pasti Umito tidak akan menolak.
"Yaa… Jika Eri tidak keberatan." Jawab Umito sambil menggaruk pipinya.
"Benarkah? Yokatta!" Eri kegirangan sambil memeluk Umito tanpa sadar.
"H-Hei! Eri!" Wajah Umito memerah karena tiba-tiba Eri memeluknya.
Tanpa disangka-sangka kelakuan mereka disaksikan oleh seorang gadis berambut pirang. Gadis pirang tersebut pun masuk kedalam rumah dengan terburu-buru.
"Ayah ayah! Onee-chan membawa pulang laki-laki!" Teriak gadis pirang tersebut.
Eri melapaskan pelukannya pada Umito "Eh? Suara itu, Arisa?" Eri pun melihat ke arah sumber suara. "EH? Udah sampai rumah?" Eri kaget.
"Oh, jadi ini rumahmu." Ujar Umito masih dengan wajah yang merah.
Dari rumah Eri pun keluar gadis pirang tadi yang merupakan adik Eri yang bernama Ayase Arisa. Arisa keluar bersama seorang pria tua yaitu ayah dari Eri dan Arisa.
"Ayah!?" Eri kaget. Tentu saja karena sudah hampir setahun ayah dan ibunya tinggal di Russia karena pekerjaan.
Ayah Eri yang bernama Ayase Ryoutaro pun melirik pada Umito. Umito yang sadar karena dilirik oleh ayah Eri pun langsung membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
Ayase Ryoutaro pun menghampiri Umito dan memperhatikan Umito seakan sedang menyelidikinya.
"Eri, akhirnya kamu memiliki pacar juga." Ujar ayah Eri.
Wajah Eri mendadak memanas mendengar ucapan ayahnya. "Hah? Tidak-"
"Ayo, nak! Kita bicarakan di dalam, gak enak didenger tetangga." Ryoutaro pun merangkul Umito dan membawanya kedalam. Sementara Umito diam saja tidak melawan.
Di dalam kediaman Ayase. Umito pun duduk di kursi ruang tamu sementara Eri, Arisa dan ayah mereka sedang membicarakan sesuatu.
"Arisa, sejak kapan ayah pulang?" Tanya Eri pada Arisa.
"Sore tadi. Kenapa? Onee-chan kesal karena gak bisa berduaan sama Onii-chan itu? Arisa nyengir.
"Arisaaaa" Eri mengeluarkan nada kelam.
"Aaahhh sereeemm~" Arisa nyengir sambil berlari ke kamarnya.
"Eri, berat badanmu naik?" Ucap ayahnya sambil memegang pinggang Eri.
Eri dengan reflek mendorong ayahnya. "Apa yang kau bicarakan, orang tua sialan!" Bentak Eri.
Umito kaget melihat sikap Eri. Baru kali ini dia melihat anak mendorong orang tuanya seperti itu.
Ryoutaro yang terdorong pun langsung duduk disamping Umito. "Eri, ayah lapar, buatkan ayah sesuatu yang enak." Pinta ayah Eri.
"Iya, Iya…" Jawab Eri sambil melangkahkan kakinya menuju dapur.
"A-Ano …" Umito mencoba berdiri namun Ryoutaro malah menarik Umito agar kembali duduk disampingnya.
"Duduk saja dan tenanglah!" Ucap Ryoutaro sambil memegang bahu Umito.
"B-Baik…" Jawab Umito sedikit lemas.
'Situasi macam apa ini!? Aku gak bisa memperkenalkan diri kalau gak berdiri!' Batin Umito.
"Jadi, siapa namamu?" Tanya Ryoutaro pada Umito.
"Sonoda, Sonoda Umito… Dari SMA Otonokizaka…" Jawab Umito.
"Begitu? Seumuran dengan Eri?"
"Tidak. Aku setahun lebih muda."
Suasana pun hening seketika.
"Sonada-kun?" Ryoutaro memulai kembali pembicaraan.
"Ya?" 'Ah! Dia memanggilku Sonada. Seperti yang diharapkan dari hubungan ayah dan anak.' Batin Umito.
"Aku tidak akan mengijinkanmu memiliki anakku!" Ucap Ryoutaro serius.
"Eh?" Umito kaget.
"Hanya bercanda! Aku hanya ingin mencoba mengatakannya seperti di dalam dorama." Ujar Ryoutaro sambil nyengir dan menggaruk kepalanya.
"A-Ah… Begitu?" Jawab Umito tertawa ketus. 'Apa-apaan ayah Eri ini!? Serius, aku ingin pergi dari sini!' Rutuk Umito.
"Makanan sudah siap!" Ucap Eri sambil menaruh panci di depan ayahnya dengan kencang.
"Hei, anakku bisakah kamu menaruhnya dengan pelan?" komentar Ryoutaro.
"Sudah jangan banyak bicara! Makan saja!" Bentak Eri dengan tatapan mematikan.
"B-Baik!" Ayah Eri seketika menurut.
"Ayah, ngomong-ngomong dimana Ibu?" Tanya Eri.
"Ibumu pulang lusa. Masih ada kerjaan yang harus dia lakukan." Jawab Ryoutaro sambil memakan soup buatan Eri. "Arisa, dia gak makan?" Tanya Ryoutaro.
"Ah, begitu? Arisa bilang dia tidak lapar." Jelas Eri. "Umito juga ayo makan. Aku masak banyak." Tawar Eri ramah sambil mengambilkan satu porsi untuk Umito.
"Te-Terima kasih."
"Kenapa perlakuanmu pada Sonada-kun dan aku berbeda?" Komentar Ryoutaro.
"Hah? Kau bicara apa barusan?" Tanya Eri dengan tatapan mematikan.
"Ti-Tidak ada." Jawab Ryoutaro sambil meneruskan makannya.
Serius, deh. Anaknya kesurupan apa, sih.
Pukul 10.15 malam.
"Gochisousamadeshita."
"Baiklah, aku akan mencuci piringnya." Ujar Eri.
"Biar kubantu!" Tawar Umito.
"Tidak usah!" Jawab Eri dan Ryoutaro bersamaan.
"Itu benar! Sonada-kun dan aku akan melakukan obrolan pria sambil mandi!" Ucap Ryoutaro sambil mengangkat handuk.
"Nama dia Sonoda dasar ayah bodoh! Terlebih ini udah jam 10 malam. Umito harus segera pulang kerumah." Eri kembali membentak ayahnya, entah sudah berapa kali ia membentak ayahnya.
"Oh, ayolah! Mandi dan obrolan pria tidak akan lama, yah 20 menit saja cukup. Iya, 'kan, Sonoda-kun?" Ucap Ryoutaro sambil merangkul Umito.
"Jika 20 menit gak masalah, sih." Ucap Umito.
"Yosshaa!" Ryoutaro kegirangan.
"Terserah!" Timpal Eri kemudian berlalu untuk mencuci piring.
Satu jam setengah kemudian. Umito keluar kamar mandi dengan keadaan menggigil. Sesudah mengenakan baju dia berjalan menuju ruang tengah dengan bibir yang bergetar akibat kedingingan. Umito kedingingan dikarenakan merendam selama satu jam setengah dan membicarakan hal yang tidak penting bersama Ryoutaro.
"Dasar orang tua bodoh!" Bentak Eri. "Apa yang kalian bicarakan sampai merendam di kamar mandi selama satu jam lebih!?"
"Jangan dibentak, dong. Ayah juga kedinginan, nih." Ujar Ryoutaro sambil membungkus dirinya dengan selimut tebal.
Eri menepuk jidat. "Ya ampun… Ya sudah, aku akan mengantar Umito sampai depan."
"Unn… Hati-Hati…"
Diluar kediaman Ayase.
"Maaf, ya, Umito. Membuatmu pulang larut begini, dan aku minta maaf untuk kelakuan ayahku." Eri meminta maaf.
Umito menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku jadi tahu sifatmu saat dirumah dan juga keluargamu. Hehehe…" Ucap Umito sambil tertawa kecil.
Eri tersenyum mendengar ucapan Umito. "Besok jangan lupa ya!" Eri mengingatkan.
"Ya… Terima kasih, Eri. Kalau begitu aku pulang dulu."
"Oh, ya… Umito terima kasih untuk kencan tadi sore." Eri kembali tersenyum manis.
"Kencan?" Umito melongo.
"Unn…" Eri mengangguk.
"Oh, sama-sama. Kalau begitu sampai jumpa besok!" Umito melangkah pergi.
"Sampai jumpa! Hati-hati dijalan!" Eri melambaikan tangan.
To be continued…
Selesai juga part 2.
Fyi, mungkin untuk part 3 akan dirilis 2 minggu kedepan. Dikarenakan minggu ini saia ada Ujikom dan minggu depan ada simulasi UNBK. Diharap maklum. Hehehe….
Kritik dan saran sangat diterima karena saia masih belajar xD
Sekian, Terima Kasih.
Xenotopia7
