She, Between He and Me
Love Live! School Idol Project
Pair : Male! Umi x Eri
WARNING : AU! OOC! Alur Cepet! Typo(s)
Love Live! Is not mine!
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita.
Part 3, "Umito dan Eri pacaran?"
"Ohayou, Umito." Sapa Eri pada Umito yang sedang mengganti sepatunya.
"Eri, Ohayou." Jawab Umito sambil tersenyum pada Eri.
'Ini masih pagi dan kamu udah ngasih senyuman manis itu padaku. Akan kupastikan kamu menjadi milikku, Umito.' Batin Eri.
"Hey, masih pagi udah ngelamun. Ngantuk?" Tanya Umito.
"Bukan, bukan. Aku Cuma lagi mikirin sesuatu." Jawab Eri.
"Mikirin sesuatu? Apa itu?" Tanya Umito penasaran.
"Itu gak penting, 'kan. Yang lebih penting, siang nanti kamu jangan lupa ke atap, ok?!" Ujar Eri mengingatkan.
"Baik, baik." Jawab Umito singkat. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada perlu di dojo. Sampai jumpa!" Umito pun berlalu.
Di atap sekolah. Tempat ini selalu ramai pada saat jam makan siang. Banyak murid yang kesini untuk memakan bekal makan siangnya ataupun hanya untuk nongkrong cari angin. Eri, Nozomi dan Nico pun menjadikan tempat ini sebagai tempat makan siang mereka bersama, walaupun kadang mereka makan di kelas jika hujan sedang turun.
"Eri, bisakah kau berhenti senyum-senyum seperti itu! Itu menjijikkan, serius!" Ucap Nico sambil menatap Eri jijik.
"Ssshhh…. Nico -cchi, biarin aja dia. Wajar lagi jatuh cinta." Nozomi nyengir.
"Tapi gak gini-gini amat, 'kan? Masa iya, dia senyum-senyum mulu dari pagi sampe sekarang? Siapa yang gak jijik coba? Padahal cuman makan bareng doing." Timpal Nico.
"Setahuku, Eri-cchi emang belum pernah pacaran. Jadi ya wajar, sih."
"Bodo, ah. Mending makan daripada ngurus bule miring ini." Nico membuka kotak bekalnya.
Umito yang sudah sampai di atap pun celingukan untuk mencari keberadaan senpai pirangnya tersebut. Setelah menemukan Eri dkk, Umito pun bergegas menghampiri mereka.
"Eri, maaf. Tadi ada perlu sebentar dengan Yamada-sensei." Umito meminta maaf atas keterlambatannya.
"Tidak apa-apa. Lagian jam istirahatnya masih lama. Ayo sini duduk." Eri menarik tangan Umito agar dia duduk disampingnya.
Umito yang sudah duduk pun melihat pada Nozomi dan Nico. "A-Ano…. Namaku-"
"Sonoda Umito, 'kan?" Potong Nico. "Lagian, siapa juga yang gak kenal sama kamu disini? Terlebih, Eri sering membicarakanmu pada kami." Jelas Nico. "Namaku Yazawa Nico, panggil saja Nico tanpa embel-embel senpai, ngerti?"
"Aku Toujou Nozomi, aku teman dekat Eri-cchi dan kekasihnya ayang Nico-cchi. Panggil saja aku Nozomi." Nozomi memperkenalkan dirinya dengan cengiran khasnya.
"Hai, senang berkenalan dengan kalian, Nico, Nozomi." Umito membungkukkan badan.
"Baik! Kalau begitu ayo makan!" Ucap Eri dengan semangat.
Mereka pun makan siang bersama. Ada saat Nozomi menyuapi Nico, Eri tahu, sebenarnya Nozomi mencoba menggodanya agar Eri melakukan hal yang sama pada Umito. Namun, Eri terlalu malu untuk melakukannya, walaupun dia ingin melakukannya juga, sih.
Sesudah makan mereka pun santai-santai untuk merasakan segarnya angin musim semi.
"Ahem, yang bukan jadi obat nyamuk lagi." Nozomi melirik Eri.
Eri kaget setelah mendengar ucapan Nozomi. "No-No-Nozomi!"
"'Obat nyamuk'?" Umito bingung.
"B-Bukan apa-apa, serius. S-Sou da, U-Umito bagaimana dengan masakanku?" Eri mengalihkan pembicaraan.
"Oh, masakanmu enak. Tapi aku belum pernah liat makanan seperti ini."
"I-Itu masakan Russia." Jelas Eri.
"Heee…. Kamu bisa masak masakan Russia." Umito terkagum-kagum.
"Ya jelas, lah. Orang dia keturunan Russia, dari rambutnya aja udah keliatan kali kalau dia bule. Ya, walau Cuma seperempat, sih." Timpal Nico.
"Pantas saja. Kukira rambutmu ini dicat." Umito tertawa kecil.
"A-Apaan, sih? Rambutku ini asli pirang tau." Eri malah manyun gak jelas.
"Maaf, Maaf. Tapi serius, masakanmu enak, Eri." Ujar Umito sambil tersenyum. "Kuharap aku bisa memakan masakanmu lagi."
Eri kaget mendengar pernyataan Umito. "Ka-Kalau begitu, A-A-Aku akan membuatkanmu lagi untuk besok dan seterusnya. Ba-Bagaimana?" Tawar Eri sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Benarkah?" Umito bersemangat. "Tapi, gak apa-apa, nih?" Umito mencoba memastikan.
"Gak apa-apa! Malahan aku senang bisa membuatkannya untukmu!" Jawab Eri.
Mendengar jawaban itu wajah Umito sedikit memerah. "Ba-Baiklah. Arigaou."
Nozomi dan Nico yang memperhatikan Eri dan Umito hanya bisa senyam-senyum gak karuan. Mungkin karena dia baru melihat tingkah Eri yang seperti ini. Eri memang terkenal dikalangan siswa, dia sering mendapatkan surat cinta dari banyak siswa. Namun, semuanya ditolak. Dan kali ini, Eri memiliki seseorang yang dicintainya. Nico dan Nozomi memiliki pemikiran yang sama yaitu membantu Eri untuk mendapatkan Umito. Mereka melakukan ini sebagai tanda terima kasih karena Eri telah menyatukan Nozomi dan Nico saat mereka masih duduk dibangku kelas 1.
"Ciieee… yang lagi di ma-"
Nico spontan membungkam mulut Nozomi dengan tangannya. "Jangan diganggu, mbak! Plis, deh." Bisik Nico pada Nozomi.
Nozomi hanya diam saja. Karena dia merasa nyaman dengan posisinya sekarang. Karena Nozomi sedang dipeluk dari belakang oleh Nico. Mungkin, Nico gak sadar.
Sore hari, dikediaman Ayase.
"Aku pulang!" Ucap Eri seraya membuka pintu rumahnya.
"Selamat datang, sayang." Balas seorang wanita seketika menghampiri Eri.
"Ibu?" Setelah melihat ibunya Eri pun sontak dan memeluknya.
Ayase Tsukasa pun hanya tersenyum dan membalas pelukkan anak sulungnya.
"Masih manja aja anakku ini." Ucap ibu Eri sambil mengelus pundak Eri lembut.
"Ibu, ayah bilang ibu pulang besok."
"Oh, itu, entah kenapa pekerjaan ibu selesai. Habisnya ibu sudah gak sabar ingin ketemu anak-anak ibu." Jawabnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba Ayah Eri pun muncul dari ruang tengah.
"Eri, selamat datang. Are, Sonoda-kun mana?" Tanya Ryoutaro.
"'Sonoda-kun'? Siapa dia?" Tanya Tsukasa pada Ryoutaro
"Mmm… dia pacarnya Eri!" Sesaat sesudah mengucapkan kalimat tersebut Ryoutaro pun tersungkur karena telah menerima tinju dari Eri.
Eri mulai kesal dengan sikap ayahnya itu. "D-Dia bukan pacarku!" 'Tepatnya, sih belum.'
"Bohong!" Entah sejak kapan Arisa ikut nimbrung. "Arisa liat sendiri, kalo Onee-chan memeluk Umito-san di depan rumah!"
Wajah Eri memerah karena menahan malu. Padahal waktu dia memeluk Umito itu hanya reflek karena saking senangnya karena Umito menerima ajakannya untuk makan siang bersama di atap sekolah.
Tsukasa tersenyum. "Eri, kamu sudah besar, ya." Ucapnya sambil mengelus-elus kepala Eri.
Wajah Eri semakin memerah. "I-Ibu, tunggu, dia bu-bukan pa—"
"Sudahlah. Besok bawa Umito-kun kesini, kita akan makan malam bersama." Ibu Eri pun tersenyum pada Eri. "Ibu juga ingin melihat laki-laki yang telah meluluhkan hati putriku." Lanjutnya sambil kembali ke dapur untuk memasak makan malam.
"Yuuhuu~ Sonoda-kun akan datang, aku akan membicarakan banyak hal dengannya lagi." Ryoutaro kegirangan.
"Hihihihi….." Arisa nyengir dan kembali untuk menonton TV.
Eri menghela nafas berat. "Ya ampun."
Eri pun pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dan segera membantu ibunya untuk memasak makan malam.
Hari ini Umito dan Eri kembali makan siang bersama di atap. Namun, hari ini hanya ada mereka berdua, Eri meminta Nozomi dan Nico untuk tidak ikut, Nozomi mengiyakan permintaan sahabatnya tersebut dan Nozomi mengajak Nico untuk makan siang di kelas.
"Ngomong-ngomong kemana Nico dan Nozomi?" Umito melihat ke arah Eri.
"Mereka ada urusan, katanya." Jawab Eri.
"Oh," Umito memejamkan matanya.
"U-Umito?" Panggil Eri.
"Ya?" Umito mengarahkan pandangannya pada Eri sambil tersenyum.
Lagi-lagi Eri dibuat terpesona oleh senyuman Umito.
"Senyumanmu manis, Umito." Eri yang tidak sadar malah nyeplos.
Umito kaget dengan perkataan Eri dan wajahnya seketika memerah.
Beberapa detik kemudian Eri pun sadar dengan perkataannya, dan wajahnya pun ikut memerah .
"Ma-Maaf, Umito! T-Tadi itu, bagaimana, ya… T-Tadi i-itu… aku asal nyeplos aja." Eri panik.
"Ka-Kamu juga cantik, Eri. Terlebih, masakanmu enak." Ucap Umito sambil melihat langit.
Eri kaget namun sangat senang mendapat pujian dari laki-laki yang dia sukai ini. "Hentikan! Kamu membuatku malu, tau!" Eri memukul Umito pelan dan Umito hanya tertawa kecil.
"Nee, Umito. Ibuku ingin bertemu denganmu. Jadi, bisa gak kamu datang sepulang sekolah nanti?" Pinta Eri. "Ibuku ingin makan malam bersama." Lanjut Eri.
"Baiklah. Lagipula, aku tidak bisa menolak permintaanmu." Ujar Umito sambil tersenyum.
"Benarkah?" Eri kegirangan.
Umito membalasnya dengan anggukkan.
"Kalau begitu tunggu aku sepulang sekolah, ya!"
"Siap, dimengerti!"
Eri membuka pintu rumahnya. "Aku pulang!" Eri beranjak masuk. "Ayo Umito juga!" Perintah Eri.
"B-Baik. Shitsureishimasu…" Ucap Umito seraya masuk.
"Ara, selamat datang." Jawab ibu Eri.
Tsukasa memperhatikan Umito dan kemudian tersenyum.
"Kamu, Sonoda Umito-kun?"
"Hai! Namaku Sonoda Umito, aku merupakan kouhai dari putri anda, Ayase Eri-san. Senang bertemu dengan anda." Umito memperkenalkan dirinya sambil membungkukkan badannya.
"Jangan terlalu formal, Umito-kun. Anggap saja rumah sendiri."
"B-Baiklah."
"Pantas saja hati Eri luluh. Orang Umito -kun ini tampan, sopan dan baik." Ucap Tsukasa tertawa kecil.
"I-I-Ibuu!" Eri gelagapan.
"Umito-kun, kamu tunggu di dalam bersama suamiku dan Arisa. Ibu akan menyiapkan makan malam."
"Baik." Jawab Umito sambil mengangguk.
"Eri, bantu ibu." Ucapnya seraya pergi.
"Oke. Umito, tunggu di ruang keluarga dulu, ya." Eri pun pergi mengekori ibunya.
Umito memasuki ruang keluarga. Disana terdapat Ryoutaro dan Arisa sedang menonton TV.
"Permisi…" Umito masuk kemudian menaruh tas dan perlengkapan Kyuudo.
Ryoutaro menoleh. "Uwaa… Sonoda-kun, kamu datang. Yokatta…" Ucap Ryoutaro yang entah kenapa bahagia.
"Umito-san, selamat datang." Ucap Arisa sembari tersenyum. "Ngomong-ngomong, apa yang kamu bawa itu, Umito-san?" Tanya Arisa sambil menunjuk perlengkapan Kyuudo milik Umito.
"Oh, ini peralatan Kyuudo. Aku bagian dari klub Kyuudo."
"Hmm, jadi kamu bisa memanah, ya. Dengan kata lain, kamu ahli bela diri, 'kan?" Ujar Ryoutaro.
"Y-Ya, begitulah. Sebenarnya bukan sombong, tapi aku juga ahli dalam Kendo, kaligrafi, tari tradisional dan berbagai macam seni bela diri." Jelas Umito sambil menggaruk tengkuknya.
"Wow! Dengan ini aku gak perlu khawatir menyerahkan Eri padamu." Ujar Ryoutaro.
Wajah Umito memerah mendengar perkataan Ryoutaro. "A-Ano … Ryoutaro-san, sebenarnya—"
"Tidak. Bukan 'Ryoutaro-san', tapi, Ayah." Potongnya sambil tersenyum.
Tok!
Eri datang dan menggetok kepala Ryoutaro menggunakan sendok sayur.
"Ya, ya, sudah cukup ngobrolnya! Makanan sudah siap. Cepat ke meja makan!"
"Bisakah kamu bersikap lebih lembut pada ayah?" Pinta Ryoutaro dengan wajah melas.
Eri menatap ayahnya tajam. "Hah!? Kau bilang apa barusan!?"
"T-Tidak! Bukan apa-apa!" Ryoutaro ketakutan ngibrit menuju ruang makan.
"Onee -chan, jika sifatmu seperti itu, Umito-san gak akan meyukaimu, lho." Ujar Arisa sambil nyengir.
"A-Arisa! Apa yang kamu bicarakan!? Hmph! Anak smp sok tau masalah percintaan!" Eri ngambek gak jelas.
"Dih malah ngambek gak jelas." Arisa pun pergi.
"Dasar." Eri melihat ke arah Umito, Umito yang melihat kelakuan keluarga Ayase ini mencoba menahan tawanya. Hal itu membuat Eri malu dan kini wajahnya memerah. "Jangan ketawa! Ayo Umito juga makan!" Eri menarik tangan Umito.
"Gomen, Gomen…" Kata Umito.
"Tsukasa, kau tau, Sonoda-kun ini seorang ahli bela diri! Bahkan dia bisa melakukan tari tradisional, kaligrafi, Kendo dan Kyuudo. Bukankah itu hebat?" Ujar Ryoutaro.
Tsukasa terkagum-kagum. "Hebat sekali! Umito-kun, sejak kapan kamu mempelajari semuat itu?"
"Mungkin ayah dan ibu gak tau karena kerja di Russia." Bukannya Umito yang menjawab namun malah Eri yang asal ngomong. " Sebenarnya Umito ini keturunan dari klan Sonoda. Keluarganya memang sudah ada sejak zaman dulu, ayah Umito merupakan pelatih seni bela diri sedangkan ibunya adalah pelatih tari tradisional. Itulah kenapa Umito bisa melakukannya, karena suatu saat dia akan mewarisi kedua dojo dari orang tuanya." Jelas Eri panjang lebar.
"Eh? Kau tau banyak, Eri. Jangan-jangan kamu sudah bertemu dengan orang tua Sonoda-kun!" Ryoutaro nyeplos.
"Berisik kau orang tua!" Bentak Eri.
"Bisakah kau bersikap baik padaku? Layaknya Arisa." Ucapnya sambil memeluk Arisa.
"Ayah, hentikan! Aku sedang maen game, ayah mengganggu!" Bentak Arisa.
"Arisa juga? Lebih baik aku mandi saja." Ucapnya lesu sembari pergi.
"Eri, darimana kamu tau semua itu?" Tanya Umito penasaran.
"Eh? Ya, aku membacanya di majalah." Jawab Eri singkat.
"Oh…"
"Jadi ibu ingin bertanya. Sejak kapan kalian berdua pacaran? Tanyanya sembari tersenyum.
"Eh? Kami tidak pacaran!" Jawab Eri dan Umito bersamaan.
Tsukasa memasang wajah meledek. "Heh? Tapi entah kenapa kalian memang terlihat seperti sepasang kekasih, ibu rasa kalian cocok." Ujarnya.
"Benarkah?" Eri tiba-tiba senang.
"Eh? Eri?" Umito melihat ke arah Eri.
"E-Eh? Tidak! Maksudku—"
Ponsel Umito berbunyi dengan sigap dia membuka ponselnya dan membaca sebuah pesan masuk yang ternyata dari ibunya.
"Ada apa, Umito-kun?"
"Maaf, aku harus pulang sekarang. Ibuku khawatir." Ucapnya sembari memasukan ponselnya pada tasnya.
"Begitu, ya? Kalau begitu hati-hati, besok datang lagi, ya! Kita akan makan malam bersama lagi." Kata Tsukasa tersenyum.
"Baik."
"Eh? Pulang!? Kenapa tidak menginap saja Sonoda-kun?" Ucap Ryoutaro yang berlari dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk.
Wuusshh!
Eri dengan sigap melempar bantal pada Ryoutaro. "Pakai bajumu!"
"Itu benar, Umito-san. Onee-chan mungkin akan kesepian." Ucap Arisa sembari melirik kakaknya.
"Maaf, tapi aku harus pulang. Lain kali aku akan datang lagi. Kalau begitu, permisi." Umito membungkuk kemudian bergegas keluar.
"Aku akan mengantarnya sampai depan." Ujar Eri kemudian menyusul Umito.
"Umito, maaf, ya?"
"Maaf apalagi, Eri? Kemarin saat aku pulang dari rumahmu kamu meminta maaf."
"Umm, tentang keluargaku. Maaf jika kamu risih, keluargaku memang sembrono." Eri melihat sisi lain.
"Kamu tahu, Eri. Baru kali ini aku sedekat ini dengan keluarga orang lain. Bukannya risih aku malah senang dengan perlakuan keluargamu." Jelas Umito sembari melihat rumah Eri.
"Benarkah? Kalau begitu, besok datang lagi, ya!" Pinta Eri.
"Baiklah, jika aku ada waktu akan kukabari." Jawab Umito. "Oh, ya. Eri, bagaimana kalau nanti kamu main ke rumahku? Akan kukenalkan dengan orang tuaku."
'Hah? Eh? Bukannya ini terdengar seperti dia ingin melamarku?' Eri malah mengada-ngada.
"Eri? Kamu gak mau?"
"Eh? Aku mau! Mau!" Eri antusias.
"Syukurlah!" Umito pun mengelus kepala Eri. "Sampai jumpa besok, Eri." Umito tersenyum.
Wajah Eri memerah. Bukan hanya senyuman yang ia dapat kali ini dia mendapat elusan dikepalanya.
"Unn… sampai jumpa besok, Umito." Balas Eri dengan senyumannya.
To be continued…
Huft, selesai juga.
Part kali ini kayaknya rada panjang, ya?
Untuk Part 4 rilisnya bakal lama. Cos, minggu depan saia TO, dan minggu depannya lagi saia USBN. _ dan tanggal 3 April saia UNBK. _. Tapi, bukan berarti saia gak ngerjain juga. Saia ngerjain kalo emang ada waktu. Sedikit-sedikit, lah. Dan prosesnya bisa kalian lihat di profil saia. :3
Oke, itu aja.
Sekian, Terima kasih.
Xenotopia7
