She, Between He and Me

Love Live! School Idol Project

WARNING : AU! OOC! Alur Cepet! Typo(s)

Love Live! Is not mine!

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita.


Part 4, "Harapan Eri"

"Halo? Mama?" Ucap seorang gadis dari telepon.

"Ada apa, nak?" Balas seorang yang merupakan ibu dari sang gadis tadi.

"Tidak, aku cuma kangen saja." Jawabnya diiringi tawa kecil. "Mama sehat?" Tanyanya kemudian.

"Mama sehat, kok. Kamu sendiri sehat? Bagaimana dengan penyakitmu?" Nada bicaranya berubah menjadi khawatir.

"Umm… Aku gak apa-apa, sih. Tapi, dibilang sehat juga gak bisa." Jelasnya sambil tertawa kecil.

Mendengar hal itu sang ibu menitikan air matanya dan terdiam.

"Mama jangan khawatir, ya. Aku baik-baik aja, kok. Sudah dulu ya, Ma. Aku ada kegiatan hari ini."

"Baiklah, jaga dirimu baik-baik, sayang."

"Mama juga, jaga kesehatannya, ya."

Sambungan telepon itu pun terputus. Setelahnya, sang ibu itu pun membenamkan wajahnya di atas meja sambil terus memikirkan anaknya tersebut.


"Eri? Panggil Nico.

Yang dipanggil malah ngelamun.

"Woooyy! Bule!" Teriak Nico kesal.

"A-Apa, sih?! Jangan teriak-teriak coba! Udah sana! Sama Nozomi aja, gih!" Usir Eri.

"Kalo gak ada amanat gue juga gak akan kesini, pea!" Jelas Nico. "Denger, ya! Umito gak bisa makan bareng hari ini. Dia lagi ada pertemuan klub Kyuudo, barusan dia bilang. Terus, gue sama Nozomi lagi ada urusan sama guru, jadi lu makan sendiri!" Jelas Nico panjang lebar. "Bye!" Kemudian pergi menghilang.

"Tu-Tunggu! Eh? Jadi hari ini aku sendiri? Gimana bekal Umito?" Eri menjadi sedih.


Sepulang sekolah.

"Eri-cchi , aku dan Nico -cchi pulang duluan, ya." Ucap Nozomi.

"Tunggu sebentar! Aku ikut." Pinta Eri.

"Jangan!" Sela Nico.

"Hah?"

"Plis, deh, Eri. Nozomi itu pacar gue! Udah 1 tahun gue pacaran sama dia. Masa iya, lu mau ganggu kita terus? Kumohon, Eri. Jangan ganggu kehidupan masa SMA-ku dengan Nozomi!" Jelas Nico sembari merangkul Nozomi.

"Hah? Apa kau bilang?! Nozomi itu sahabatku! Dan kau pikir siapa yang membuat kalian pacaran, hah?!" Mode liar Eri aktif.

"Ya, ya… aku berterima kasih untukmu akan hal itu." Jawab Nico seakan meledek.

Jawaban Nico sukses membuat Eri terpicu. Kini tangannya sudah mengepal, Eri mencoba menahan agar tangannya ini tidak nyosor ke wajah teman idiotnya itu.

"Sudah, sudah! Eri, maaf, ya. Hari ini Nico-cchi ngotot banget pengen pulang berduaan." Kata Nozomi. "Oh, ya, bagaimana kalau kamu pulang bareng Umito-kun aja!" Usul Nozomi.

Eri kaget karena Nozomi membawa nama Umito. "Eh? T-Tapi, kalau tiba-tiba 'kan gak enak." Eri yang asalnya liar menjadi malu-malu.

"Udahlah, Nozomi. Mana mungkin Eri berani. Liat, tadinya dia garang sekarang jadi malu-malu gitu, 'Kan ngeri." Nico geleng-geleng kepala.

"A-Aku berani, kok!" Jawab Eri sedikit ragu-ragu.

"Gak percaya! Yuk, ah, Nozomi!" Nico menarik Nozomi sementara yang ditarik hanya pasrah sambil tersenyum. "Dadah jomblo!" Lanjut Nico sambil nyengir.

Eri sukses dibuat meledak oleh sikap Nico. "Awas kau, Nico! Akan kubuktikan! Lihat, saja, akan kukirim foto-ku bersama Umito saat pulang bersama!" Teriak Eri.

"Akan kubelikan 10 coklat edisi terbatas jika kau bisa!" Teriak Nico dari jauh.

"Si brengsek, Nico. Sifatnya sama seperti ayahku. Rasanya ingin kuhantam dia." Ucap Eri sambil menenangkan diri.

Eri pun melangkahkan kakinya menuju koridor kelas 1. Dia bermaksud untuk mengajak Umito pulang bersama.

'Lihat saja, Nico! Akan kubuktikan.' Batin Eri dengan semangat.


"Nico-cchi, padahal gak usah sampai membuat Eri-cchi marah, 'kan?" Ujar Nozomi. "Kamu tahu 'kan kalau Eri-cchi marah kayak gimana? Bisa-bisa kamu abis tau, gak?" Lanjut Nozomi.

"Dia gak akan berani kalo gak digituin, Nozomi." Balas Nico. "Terlebih, akan lebih baik jika Eri memiliki kekasih. Kamu bilang ini cinta pertamanya, 'kan? Jadi kupikir Eri akan senang jika cinta pertamanya ini tercapai. Ya, anggap saja tanda terima kasih-ku padanya. Kalau bukan karena dia mungkin aku gak akan jadi pacar kamu." Jelasnya sambil tersenyum. "Tapi, aku juga ragu apakah dia bakal bisa melakukannya." Lanjut Nico.

"Ngomongnya gitu, padahal niatnya biar bisa berduaan denganku, 'kan?" Nozomi menggoda Nico sambil tersenyum meledek.

"Au ah!" Balas Nico sambil tetap merangkul Nozomi erat-erat.


Sesampainya di depan kelas Umito, Eri yang awalnya semangat mendadak menjadi ciut. Ia malah memperhatikan Umito yang sedang berbincang dengan temannya.

'Ayo diriku lakukan! Kalau sifatmu begini terus gak akan ada kemajuan!' Eri mencoba menyemangati dirinya sendiri.

Teman Umito yang bernama Takagi pun menyadari kalau Umito sedang diperhatikan dari arah pintu. Hal itu membuatnya sedikit terganggu.

"Umito, ini menggangguku, oke? Lebih baik aku pulang. Kuberitahu kau, daritadi ketua OSIS terus memperhatikanmu di dekat pintu." Ujar Takagi teman Umito. "Sampai jumpa besok!" Ucapnya seraya pergi.

"Eh?" Umito melihat pintu dilihatnya sang pemilik rambut pirang sedang bersembunyi di dekat pintu.

"Eri, ada apa?"

"A-Aku hanya kebetulan lewat! Serius, gak boong!" Jawabnya.

"Oh." Umito mengangkat sebelah alisnya. "Oh ya, maaf tadi siang aku gak bisa datang." Lanjutnya.

Eri menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa, kok."

"Eri, hari ini kamu luang? Jika iya, mau main kerumah?" Tawar Umito. "Anggap saja sebagai permintaan maafku." Lanjutnya.

"Jika kamu gak keberatan aku gak masalah." Jawab Eri sedikit malu.

Dengan sigap Umito memegang tangan Eri dan segera membawanya pergi menuju kediaman Sonoda.


"Aku pulang!" Seru Umito masuk kedalam rumahnya dan diikuti oleh Eri.

"Selamat datang, Umito." Balas seorang wanita yang merupakan ibu Umito. "Ara, siapa yang kamu bawa itu?" Tanyanya sesaat setelah melihat Eri.

"Umm…. Namaku Ayase Eri, senang bertemu dengan anda." Ujar Eri sopan.

"Eri-chan, ya. Ibu tidak tau kalau anak ibu memiliki pacar secantik ini." Ucap ibu Aoi.

Mendengar ucapan Aoi, wajah Eri pun langsung memerah.

"D-Dia senpai-ku, ibu!" Bantah Umito dengan wajah yang sama merahnya dengan Eri.

"Heeehh… jadi Umito-kun dan Ayase-san pacaran, ya." Ucap Kakeru.

Umito kaget saat melihat Kakeru. "Kakeru? Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku habis mengantar Manjuu pesanan Aoi-san." Jawabnya singkat.

"Aa, sou… Ngomong-ngomong, dimana ayah?" Tanya Umito.

"Ayahmu di Aomori. Nenekmu memanggilnya kesana." Jawab Aoi.

"Eh? Ibu tidak ikut?"

"Kalo ibu ikut, nanti Umito-kun jadi sendirian, dong." Balasnya sambil tersenyum.

"Ibu! Aku ini sudah besar." Seru Umito malu.

'Jadi Umito ini dimanja oleh ibunya, ya. Kawaii.' Batinnya sambil tersenyum kecil.

"Hai, Hai. Umito bisa bantu ibu menyiapkan makanan di meja?" Pintanya kemudian berjalan menuju dapur.

"Baik! Eri, tunggu sebentar, ya?" Umito bergegas mengikuti ibunya.

Kini tinggal Eri dan Kakeru berdua saja.

"Ano, Ayase-san?" Kakeru mulai berbicara.

"Ya?"

"Aku ingin jawaban jujur." Kakeru memasang wajah serius. "Apa kamu menyukai, tidak, mencintai Umito -kun?" Lanjutnya.

"Eh?" Eri kebingungan lantaran tiba-tiba ditanya seperti ini.

"Jawab saja, aku tidak akan memberi tau siapa-siapa. Aku hanya ingin memastikan. Terlebih, ada hal yang penting yang harus kuberitahu tentang Umito-kun." Jelasnya.

Eri menanggukkan kepalanya. "Y-Ya… Aku mencintainya." Jawabnya.

"Apa kamu akan tetap mencintainya apapun yang terjadi?" Tanya Kakeru lagi.

Eri semakin dibingungkan dengan pertanyaan Kakeru. Apa maksud Kakeru menanyakan hal seperti ini pikir Eri.

"Gomen, Gomen. Mungkin masih sulit untuk menjawab pertanyaanku barusan." Ucap Kakeru sambil menggaruk tengkuknya. "Tapi, Ayase-san. Kumohon, buat dia agar mencintaimu. Selamatkan dia dari masa lalu yang selama ini mengikatnya."

"Eh? T-Tunggu! Masa lalu? Sebenarnya apa maksudmu, Kousaka-san?" Eri kebingunan.

"Eri! Ayo ke dalam! Kakeru juga!" Teriak Umito dari dalam.

"Ah! Baik!" Balas Eri.

"Gomen, Umito-kun! Aku harus jaga toko." Teriak Kakeru. "Untuk jawabannya mungkin lain kali saja, Ayase-san." Kata Kakeru seraya pergi meninggalkan kediaman Sonoda.

'Sebenarnya ada apa? Masa lalu yang selama ini mengikat Umito. Apa yang terjadi pada Umito di masa lalu?' Pikir Eri.

Umito menghampiri Eri. "Eri? Ayo ke dalam! Kenapa ngelamun?"

"Eh, tidak. Gomen."

"Kenapa minta maaf?" Tanya Umito sembari menaikkan sebelah alisnya. "Kakeru kemana?

"Kousaka-san bilang dia jaga toko, jadi dia pulang."

"Ah, paling pacarnya ada di rumahnya."

"Dia punya pacar?"

"Iya, namanya Kira Tsubasa. Member school idol dari SMA UTX itu. Kakeru 'kan siswa UTX dan juga mereka sekelas." Jelas Umito.

"Wow, hebat!" Eri kagum.

"Udahlah, ayo masuk!" Umito menarik Eri.


"Gochisousamadeshita!"

"Ibu, biar kubantu mencuci piringnya." Tawar Eri. Eri memanggil Ibu karena memang dipinta olehnya. Tapi Eri senang-senang aja, itung-itung pendekatan dengan calon mertua, pikirnya.

"Arigatou, Eri-chan." Ujarnya sambil tersenyum. "Senangnya mendapat menantu yang baik." Ujarnya kembali dengan nada yang ditinggikan.

Umito yang sedang minum pun dibuat tersedak. "I-Ibuuuu!" Umito malu.

Sementara Eri hanya tertawa kecil. Lantaran, sedari tadi Aoi memang sering menggoda Umito sehingga membuat laki-laki bermanik amber tersebut tersipu malu.

"Eri-chan, apa yang kamu sukai dari anakku?" Tanya Aoi.

Mendapat pertanyaan tersebut membuat Eri malu dan sukses membuatnya mematung.

"Ibu tahu, kok. Kamu menyukainya namun Umito tidak menyadarinya, 'kan?" Lanjutnya.

'Woaaah… Ibu-nya Umito ini cenayang, ya?' Batin Eri. "Emm… jika ditanya seperti itu aku belum bisa menjawabnya. Hanya saja, aku merasan nyaman dan tenang saat berada di dekat Umito. Dan juga, rasanya aku ingin memilikinya." Jelasnya tersenyum sembari mengelap piring yang telah dicuci.

"Begitu, ya… Ibu mendukungmu!" Ucapnya tersenyum.

"Hai! Arigatou, Ibu!" Jawab Eri.


"Sudah mau pulang?" Tanya Aoi kepada Eri.

"Hai, aku takut ibu dan ayahku khawatir." Jawab Eri.

"Begitu, ya. Kapan-kapan main lagi ke sini, ya!" Aoi tersenyum.

"Hai!" Eri membalas senyumannya.

"Ibu, aku akan mengantarnya." Kata Umito.

Aoi mengangguk. "Pastikan antar dia dengan selamat."

Umito menganggukkan kepalanya.

"Eri-chan, Berjuanglah!"

"Hai! Aku akan berjuang!"


Umito dan Eri kini berjalan berdampingan.

"Ngomong-ngomong, 'berjuang' untuk apa?" Tanya Umito keheranan.

"Himitsu." Eri mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.

"Aa sou…" Umito memalingkan wajahnya. "Maaf, ya… ibuku berkata yang enggak-enggak."

"Gak apa-apa, kok. Justru aku senang!" Eri tersenyum manis.

"Syukurlah kalau begitu." Umito memalingkan wajahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Umito tidak bisa melihat wajah Eri secara langsung.

Suasana menjadi hening. Eri pun mencuri-curi pandang terhadap Umito, begitupun sebaliknya. Ada saat mata mereka berdua bertemu dan dengan cepat mereka memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malu.

'Arrrggghhh! Kenapa mesti tegang, sih? Ayolah, tinggal minta foto berdua saja. Kenapa mulut ini sulit untuk berbicara Rutuk Eri dalam hati.

"A-Ano, Umito!" Saut Eri sambil menarik pelan baju Umito.

Umito menoleh. "Hmm, Ada apa?"

"Aku punya permintaan." Ucapnya sambil melihat ke arah lain.

"Apapun untukmu, selagi itu masih bisa kulakukan." Umito tersenyum.

'Ugghh! Senyuman itu lagi. Ya ampun, dia harus menjadi milikku!' Batin Eri.

"Aku ingin berfoto bersamamu, bolehkah?" Pinta Eri sambil memainkan jari tangannya karena gugup.

"Cuma itu? Kukira apa. Tentu saja boleh." Jawab Umito.

"Benarkah? Yokatta!"

Eri pun dengan terburu-buru mengeluarkan ponselnya. Sesudah mengambil ponselnya, Eri langsung menempelkan bahunya pada bahu Umito. Umito hanya memasang senyuman di wajahnya, sementara Eri membentuk tanda peace pada tangan kirinya sambil tersenyum dan melakukan wink, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel untuk mengambil gambar.

Ckrek!

"Arigatou, Umito." Ucap Eri girang dan terus melihat hasil potretannya tersebut.

"Segitu senengnya, 'kah? Kawaii!" Umito mengelus rambut Eri layaknya kucing.

Eri kembali tersipu oleh tindakan laki-laki berambut biru gelap dihadapannya ini.


Selepas mandi dan adu jotos dengan ayahnya lebih tepatnya sih memarahi dan membentaknya, Eri langsung menuju kamarnya dan membaringkan badannya. Dibuka ponselnya dan dilihatnya foto yang beberapa jam yang lalu diambil. Dirinya senyam-senyum sendiri saat melihat foto tersebut.

Setelah puas melihati foto tersebut selama kurang lebih 1 jam, Eri pun mengirim foto tersebut pada kedua sahabatnya yaitu Nozomi dan Nico.

"Semoga perasaan ini tersampaikan." Ucap Eri penuh harap.


Di apartemen Nico, Nico dan Nozomi yang sedang mengurus ketiga adik Nico tersebut pun sama-sama mendapat sebuah pesan. Mereka mengecek dan melihat isi pesan yang dikirim oleh Eri.

"Sepertinya bakal ada yang jebol nih dompetnya." Ucap Nozomi sembari meliri Nico.

"Kayaknya untuk sementara bakal makan sama nasi kecap, nih." Nico facepalm.

"Gak gitu juga." Balas Nozomi. "Tapi, syukurlah dia ada kemajuan." Lanjut Nozomi.

"Kamu benar. Kuharap perasaan Eri tersampaikan pada Umito." Ucap Nico.

To be continued…


Selese juga.

Maaf ya, lama. Besok saia UNBK jadi untuk part 5 mungkin bakal lama lagi. #Alasan. #Plakk. #Ampun.

Udah, gitu aja, gak tau mau nulis apalagi.

Sekian, Terima kasih.

Xenotopia7