She, Between He and Me

Love Live! School Idol Project

WARNING : AU! OOC! Alur Cepet! Typo(s)

Love Live! Is not mine!

Mohon maaf bila ada kesamaan cerita.


Part 5, "Pengakuan yang tak disengaja!"

Eri duduk dikursinya dan memandangi layar ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.

"Hey, bukankah akhir-akhir ini sikap Ayase-san aneh?" Ujar seorang siswi yang merupakan teman sekelas Eri.

"Wajar aja, namanya juga lagi jatuh cinta." Balas Nozomi.

"Aku baru tau kalau cinta bisa membuat orang yang brutal menjadi miring seperti ini." Timpal Nico kemudian. "Dan ini sudah hampir 2 minggu. Dan dia masih senyam-senyum seperti itu saat menatap ponselnya! Serius, menjijikkan!" Lanjut Nico facepalm.

Bel berbunyi pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Dan Eri masih senyam-senyum sendiri melihat layar ponsel yang menampilkan foto-nya berduaan dengan Umito, sepertinya ia tidak sadar.

Nozomi menghela nafas pelan dan kemudian menghampiri Eri. "Eri-cchi, pelajaran mau dimulai. Bisakah kamu menyimpan ponselmu itu?" Nozomi menatap sahabatnya itu.

Tidak ada respon dari Eri. Nozomi dibuat kesal dengan kelakuan Eri ini.

"Sepertinya gak ada cara lain." Kata Nozomi.

"Nozomi, kamu ngapain?" Tanya Nico saat ia melihat Nozomi mendekatkan bibirnya menuju daun telinga Eri.

"Eri-cchi, Umito-kun nyariin, tuh." Bisik Nozomi pelan.

Mendengar bisikan tersebut sukses membuat Eri melompat dan melihat sekitar.

"Dimana Umito? Dia mencariku?" Eri menatap Nozomi dengan tatapan antusiasnya.

Seisi kelas yang melihat tingkah Eri pun hanya bisa memijat keningnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka semua berpikir, apakah orang yang seram jika jatuh cinta bisa seperti ini.

Eri yang belum mendapat jawaban dari Nozomi pun kemudian mencengkram kedua bahu Nozomi dan kembali bertanya.

"Nozomi! Dimana Umito?!" Eri sedikit menaikkan volume suaranya.

"Y-Yaa… mungkin dia dikelasnya." Nozomi mengalihkan tatapannya ke arah lain.

Mendengar jawaban Nozomi, Eri melepas cengkramannya pada bahu Nozomi kemudian melangkahkan kakinya.

Nico dengan sigap menahan Eri. "Hey, mau kemana kau?"

"Hah? Udah jelas, 'kan? Umito mencariku dan aku akan menemuinya." Jawab Eri.

"Soal itu aku bohong." Timpal Nozomi sambil menjulurkan lidahnya.

"No-Nozomi!"

Seisi kelas pun tertawa melihat tingkah Eri tersebut.

"Hey, ada ribut-ribut apa ini?! Pelajaran akan segera dimulai, duduk di tempat masing-masing!" Perintah sang guru seraya memasuki kelas.

Semua murid dengan sigap duduk di kursi masing-masing. Sementara, Eri pun duduk dengan perasaan sedikit kesal.


"Aku akan menyatakan perasaanku pada Umito." Kata Eri tiba-tiba. Nico yang sedang menyantap bekalnya langsung tersendak karena terkejut.

"Ini, Ini, minum dulu!" Nozomi memberikan minuman pada Nico.

"Seriusan?" Tanya Nico setelah minum.

Eri menangguk.

"Jadi, kapan mau nembak dia? Pulang sekolah?" Tanya Nozomi.

"Entahlah, tapi hari ini Umito akan main ke rumahku. Jadi, mungkin saat pulang sekolah atau saat di rumah."

"Dipikir-pikir, Umito-kun sering main ke rumahmu." Kata Nozomi. "Apa dia sudah dekat dengan keluargamu?" Lanjutnya.

"Sangat dekat! Bahkan ayahku menganggap aku dan Umito sudah berpacaran. Walaupun aku bilang dia hanya adik kelasku dia tidak percaya." Eri menghela nafas.

"Bagus, dong. Berarti ayahmu sudah merestuinya." Ucap Nico sambil nyeruput jusnya.

"Iya, sih."

"Ya sudah. Kuharap kokuhaku-mu berhasil, Eri-cchi." Ujar Nozomi sambil tersenyum.

"Jangan lupa traktirannya." Timpal Nico.

"Hai, Hai." Jawab Eri.


Malam hari di kediaman Ayase, Umito sedang berbincang-bincang dengan Ryoutaro dan Arisa sementara itu Eri dan ibunya sedang sibuk untuk menyiapkan makan malam. Akhir-akhir ini Umito menjadi sering bermain ke rumah Eri. Bahkan, sehari saja Umito tidak datang, Ayah, Ibu maupun adik Eri selalu bertanya kenapa Umito tidak datang. Rumah Eri sudah seperti rumah bagi Umito itu sendiri.

"Umito-kun, hari ini bisa menginap?" Tanya Ryoutaro. "Kau tau, aku dan Tsukasa sebentar lagi akan kembali ke Russia. Jadi, bagaimana kalau menginap hari ini? Kita semua akan tidur bersama di ruang tengah." Pinta Ryoutaro penuh harap.

Melihat wajah Ryoutaro yang sangat menginginan hal tersebut membuat Umito tak bisa menolak.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengabari ayah dan ibuku dulu." Ucap Umito sambil mengambil ponselnya.

Mendengar jawaban itu sukses membuat Ryoutaro loncat-loncat kegirangan, entah kenapa hal tersebut bisa membuatnya senang. Mendengar ayahnya yang berisik Arisa pun membentaknya.

"Ayah! Berisik, tau! Ada apaan, sih? Sampe teriak dan loncat-loncat gitu?" Arisa menatap ayahnya layaknya menatap sampah.

"Jangan marah-marah gitu dong, Arisa." Ujar Ryoutaro. "Kalau marah-marah begitu, nanti berat badanmu naik seperti kakakmu, lhoo." Lanjutnya.

Setelah mengucapkan hal tersebut, tiba-tiba melayang sebuah gelas plastik dari arah dapur dan gelas tersebut tepat mengenai kepala Ryoutaro.

Eri pun keluar dari dapur dengan aura gelap mengitarinya. Eri yang membawa spatula pun menghampiri ayahnya dan menatapnya tajam.

"Apa yang kau bilang barusan?! Dan kenapa kau berisik sekali? Tidak bisakah kau tenang selagi menunggu makan malam siap, hah?!" Eri mengintimidasi.

Dan untuk kesekian kalinya Umito disuguhi oleh tingkah kocak keluarga Ayase. Umito hanya melihati mereka sembari menahan tawa.

Ryoutaro yang ketakutan pun bersembunyi di balik sofa.

"Umito-kun bilang malam ini dia akan menginap, tentu saja aku senang."

"Benarkah?!" Ucap Eri dan Arisa dengan wajah yang berbinar-binar sambil melihat ke arah Umito.

Umito menjawabnya dengan anggukkan kepalanya.

"Kalau begitu aku akan tidur disamping Umito-san!" Arisa bersemangat.

"Hah?!" Ucap Eri dan Ryoutaro bersamaan.

"Yang tidur disamping Umito-kun itu aku! Lagian akulah yang menyuruhnya menginap!" Protes Ryoutaro.

"Gak, gak, gak!" Eri ikut protes.

"Eri/Onee-chan, jangan-jangan kamu cemburu, ya? Ingin tidur bersama dengannya?" Ucap Ryoutaro dan Arisa dengan nada meledek.

Wajah Eri menjadi merah. "T-Tidak! Ma-Maksudku—" Eri mencoba menyela.

"Hei, hei, makanan sudah siap." Potong Tsukasa. "Kita bisa membahas ini sesudah makan malam, oke?"

"Baik!"

Semuanya pun menurut dan langsung pergi menuju meja makan untuk makan malam.


Sesudah makan malam, Umito ikut membantu Tsukasa dan Eri menyiapkan futon di ruang tengah. Karena Umito akan menginap, mereka semua akan tidur bersama di ruang tengah dan akan menonton film horor.

"Akulah yang akan tidur di samping Umito-kun! Kalian mengerti?" Kata Ryoutaro.

"Tidak! Tapi aku!" Seru Arisa heboh.

"Ya ampun kalian ini." Eri menepuk jidatnya melihat tingkah ayah dan adiknya.

"Eri! Jangan mentang-mentang Umito-kun itu pacarmu, kau bisa melakukan sesukamu!" Ryoutaro menunjuk-nunjuk Eri.

Eri menarik kaus Ryoutaro. "Hah?! Coba bilang sekali lagi!" Eri benar-benar terpelatuk kali ini.

Eri dan ayahnya pun cekcok. Sementara, Arisa sibuk memilah film horor mana yang harus ditonton.

"Beneran mau nonton film horor?" Ryoutaro yang entah kenapa suaranya bergetar.

"Iyalah!" Jawab Arisa. "Kalo udah ngumpul gini ya enaknya nonton film setan."

"Sebelum itu," Tsukasa angkat bicara. "Persediaan snack kita habis. Gak enak 'kan nonton film tanpa cemilan? Eri tolong beli beberapa di konbini." Perintah ibunya.

"B-Baiklah." Jawab Eri dengan wajah pucat. "U-Umito, antar aku." Eri berbisik pelan.

"Aku gak masalah. Tapi, kenapa wajahmu pucat begitu?" Umito sedikit khawatir.

"Eri itu takut gelap. Mana mungkin dia berani keluar malem-malem begini." Ryoutaro nyeplos.

"Berisik kau orang tua!" Teriak Eri. "Padahal kau juga takut nonton film horor!"

"Y-Ya setidaknya aku tidak takut gelap. Dan bukannya kau juga takut film horor?" Ejek Ryoutaro.

Eri dibuat bisu oleh perkataan ayahnya tersebut.

"Aaaaahhh! Ayo, Umito!" Eri menarik Umito keluar.

"Ayah, sepertinya ayah akan habis malam ini." Kata Arisa sambil memasukan DVD horor tersebut pada DVD Player.

"Sepertinya begitu." Ryoutaro ketakutan karena membayangkan apa yang akan terjadi padanya malam ini.


Diperjalan pulang setelah member beberapa snack sebagai cemilan untuk nonton film, Eri dan Umito berjalan berdampingan, Eri mendekap tangan Umito karena dia sangat ketakutan kali ini. Ucapan Ryoutaro benar, Eri takut dengan kegelapan.

"Ja-Jangan dilepasin, ya?" Pinta Eri dengan wajah yang sedikit pucat.

"Hai, Hai." Jawab Umito. "Eri, kamu tau, kamu sangat imut sekarang ini." Lanjut Umito.

Mendengarnya membuat Eri memerah dan terkejut setengah mati.

"A-A-Apa yang kau katakana?! Ja-Jangan menertawaiku, oke." Wajah Eri merah semerah tomat. "Aku punya pengalaman buruk dengan kegelapan."

"Bahkan dirimu yang tegas dank eras pun takut dengan kegelapan. Entah kenapa aku menyukainya." Ucapnya seraya memencet idung Eri.

"Dasar! Jangan mempermainkanku, ya." Eri malu setengah mati karen gelagat Umito ini.

'Mungkin ini waktu yang tepat.' Batin Eri.

"Nee, Umito? Bagaimana kalau kita ke taman itu sebentar? Aku ingin istirahat sebentar."

"Tentu."

Mereka berdua pergi ke taman tersebut dan duduk pada sebuah kursi panjang. Taman itu sangat sepi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hanya ada mereka.

Eri mengambil dua kaleng kopi dalam plastik belanjaannya dan memberikannya satu pada Umito.

"Arigatou." Umito membuka dan menenggak kopi tersebut. "Hey, apakah gak apa-apa membuat mereka menunggu?"

"Daijoubu." Jawab Eri singkat sambil memainkan kaleng minumannya tersebut.

Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara deru angin malam yang lumayan dingin. Eri mencuri-curi pandang pada Umito, ia mempersiapkan mentalnya. Sementara Umito, dia sibuk dengan kopinya tersebut, sepertinya dia haus.

Eri melihat ke arah bulan, sinarnya sangat terang malam ini.

"Tsuki ga kirei desu ne?" Ucap Eri sambil tersenyum memandang bulan tersebut.

Umito kaget mendengar kata tersebut, wajahnya memanas dan memerah. Seketika, Umito langsung memeluk Eri erat-erat.

"U-Umito?!" Eri kaget, lagi. Kali ini hampir jantungan.

Umito melepas pelukannya tersebut dan menatap mata Eri.

"Aku juga menyukaimu, Eri."

"Eh? Tu—"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya tersebut, bibir Eri telah dikunci oleh bibir Umito. Keduanya berciuman di bawah sinar bulan yang terang.

To be continued…


Yosh, sampe juga di titik ini. Awal yang manis untuk mereka berdua. Gak tau tuh di tengahnya gimana. #Plakk

Untuk seri ini mungkin akan tamat dalam 10 part lagi (?)

Endnya gimana? Ending udah dapet bakal gimana. Entah happy end atau bad end itu gimana nanti xD

'Tsuki ga kirei desu ne' frasa lain dari kalimat i love you' yang dipopulerkan oleh Natsume Soseki, novelis Jepang jaman baheula.

Sekian, Terima kasih.

Xenotopia7