She, Between He and Me
Love Live! School Idol Project
WARNING : AU! OOC! Alur Cepet! Typo(s)
Love Live! Is not mine!
Mohon maaf bila ada kesamaan cerita.
Part 6, "Kesalahpahaman."
Ruang keluarga kediaman Ayase malam ini sangat gelap, Umito beserta keluarga Ayase sedang menikmati film horor. Walaupun yang terlihat menikmati hanya Arisa, Umito dan Tsukasa. Sementara, Ryoutaro menutup sekujur tubuhnya menggunakan selimut. Dan Eri, dia melamun dengan tatapan kosongnya, wajahnya merah, sangat merah. Dalam pikiran Eri masih terngiang-ngiang kejadian saat di taman beberapa jam yang lalu. Saat Umito memeluknya, saat Umito bilang 'Aku juga menyukaimu, Eri' dan saat Umito mencium bibir Eri di bawah sinar bulan
Arisa merasa aneh dengan suasana ruangan ini, biasanya bukan hanya Ryoutaro yang ketakutan. Arisa melihat kea rah kakaknya tersebut. Dilihatnya kakaknya sedang melamun dengan wajah yang sangat merah. Setahunya, jika di tempat gelap Eri akan menjerit sekencang-kencangnya, karena Eri memang takut dengan kegelapan.
"Onee-chan?"
Tak ada respon. Umito yang berada disampingnya langsung melihat ke arah Eri. Dilihatnya gadis pirang yang sudah ia anggap sebagai kekasihnya tersebut sedang melamun dengan wajah yang sangat merah.
"Eri, kamu sakit?" Tanya Umito setelah melihat wajah Eri yang memerah.
Kembali tak ada respon. Umito langsung menyentuh kening Eri, panas, itu yang ia rasakan.
"Ano… sepertinya Eri demam. Aku akan membawanya ke kamarnya." Ucap Umito sambil menggendong tubuh Eri layaknya tuan putri.
"Palingan dia takut menonton film ini." Ucap Ryoutaro yang masih berlindung dalam selimutnya.
"Anata!"
"Ughh…"
"Aku akan membuat kompres." Seru Arisa.
"Oh, Arigatou, Arisa." Umito tersenyum.
Umito membaringkan badan Eri pada kasur dan langsung menyelimutinya agar tidak kedinginan. Eri tertidur dengan wajah yang masih merah dan nafas yang berat. Umito duduk di samping kasur tersebut kemudian menggenggam tangan Eri dengan kedua tangannya.
"Hai, ini kompresnya!" Seru Arisa sambil masuk.
"Terima kasih, Arisa." Ucap Umito sambil mengambil kompres tersebut. "Kamu bisa menyerahkannya padaku sekarang. Kamu bisa kembali ke ruang keluarga." Lanjut Umito sambil menaruh lap dingin di kening Eri.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Arisa.
"Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apa-apa padanya." Umito salah paham.
"Bukan! Maksudku, bukankah ini merepotkanmu?"
"Sama sekali tidak. Justru aku gak akan tenang jika aku meninggalkannya dalam keadaan begini." Ucapnya tersenyum.
"Baiklah. Arigatou ne, Umito-san." Arisa tersenyum dan berlalu. 'Kau punya kekasih yang baik, Onee-chan.' Batin Arisa sambil tersenyum girang.
"Jadi, bagaimana keadaan Eri?" Tanya Tsukasa pada Arisa.
"Onee-chan Cuma demam ringan. Sekarang sedang dirawat oleh Umito-san." Jawabnya. "Heeeeeeyyyyy! Kenapa jadi nonton film lawak, sih?!" Arisa heboh setelah melihat layar TV.
"Kau tau, Arisa, kukira kau akan merawat kakakmu, jadi aku menggantinya." Ryoutaro garuk kepala sambil nyengir.
Mendengar jawaban itu Arisa langsung menatap Ryoutaro tajam seperti ingin membunuhnya sekarang juga. Mendapat tatapan kematian tersebut membuat Ryoutaro kalap.
"Ba-Baiklah! Akan kugantikan lagi dengan film horor." Ujarnya ketakutan sambil mencari-cari kaset horor.
Arisa menghela nafas. "Sebagai hukumannya, ayah akan menonton 5 film horor malam ini." Lanjutnya.
"Heeehh?! Ti-Tidak! Kumohon jangan! Aku takut! Tsukasa bantu aku!"
"Aku tidak ikut-ikutan. Aku ingin tidur." Tsuakasa pun tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
"A-Arisa, Bagaimana kalau h-hanya dua film saj—"
Arisa menatap tajam ayahnya.
"B-Baiklah."
Ryoutaro pun menyerah. Dan malam itu menjadi malam yang terburuk bagi Ryoutaro.
Pukul 4 pagi, Eri terbangun dari tidurnya, dilihatnya laki-laki yang tidur dalam posisi duku disampingnya sambil menggenggam erat tangan kanan Eri. Eri bangkit dari tidurnya kemudian dipandanginya laki-laki yang ia cintai itu. Eri tersenyum sambil mengelus pipi Umito, kemudian Eri menyentuh bibirnya. Bibir inilah yang telah mencuri ciuman pertama Eri kemarin malam.
"Arigatou, Umito."
Umito membuka matanya perlahan. Didapatinya gadis berambut pirang yang kemarin malam sakit sedang duduk di depannya.
"Eri! Gimana keadaanmu? Udah baikan?" Tanya Umito dengan nada khawatir sambil memegangi kedua pipi Eri.
"Unn! Aku gak apa-apa." Jawabnya tersenyum.
"Syukurlah." Kata Umito lega. "Ini masih terlalu pagi. Eri, lebih baik kamu kembali tidur." Ucapnya sambil berdiri.
"Tunggu! Kamu mau kemana?"
"Aku akan kembali ke ruang keluarga." Umito membalikkan badannya. "Istirahatlah. Besok hari minggu, jadi kamu bisa memulihkan keadaanmu."
Eri menahan tangan Umito agar tidak pergi.
"Te-Tetaplah disini!" Eri menunduk malu.
"Jika aku tetap disini itu akan mengganggu istiraha—"
"Kumohon…" Eri menatap wajah Umito dengan penuh harap.
"Ughh… Ba-Baiklah." Umito mengalah dan kembali duduk.
'Yosh! Berhasil hihihihi….' Batin Eri kegirangan.
"Umito, bisakah kita berpegangan tangan?" Pinta Eri lagi.
"…."
"Kumo—"
Umito pun langsung menggenggam erat tangan Eri. "Oke! Sudah kupegang, jadi jangan buat wajah memelas seperti itu lagi. Itu membuatku malu!" Umito memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya.
Eri tertawa kecil mendengarnya. "Oyasumi, Umito."
"Oyasumi."
"2 hari yang lalu Umito mengungkapkan perasaannya padaku dan menciumku." Ujar Eri kegirangan.
"Seriusan?! Kok bisa?" Tanya Nozomi dan Nico terkejut.
"Mmm… kami berduaan di taman dan tiba-tiba saja dia memelukku lalu menyatakan perasaannya kemudian menciumku. Aaahh~ bibirnya lembut sekali dan juga manis." Jelasnya dengan wajah yang memerah sambil memegangi kedua pipinya. "Dan malam itu bulan sangat indah. Romantis banget, 'kan?" Eri kegirangan bukan main.
"Bulannya sangat indah? Tunggu, jangan-jangan kau—" Nico berpikir.
"Hmm? Jangan-jangan, apa?" Eri kebingungan.
"Eri-cchi, apa kau menyebut kalimat seperti 'bulannya indah, ya'." Nozomi melanjuti perkataan Nico.
"Tunggu!" Eri mencoba mengingatnya kembali. "Sepertinya aku mengatakannya. Memangnya kenapa?" Eri kembali bingung.
Sementara Nozomi dan Nico pun menepuk jidatnya setelah mendapat jawaban dari Eri. Maklum saja Eri ini blasteran jadi mana mungkin tau, pikir NozoNico.
"Nozomi lebih baik kamu yang jelaskan." Pinta Nico malas.
"Baiklah."
"Ada apa, sih?" Eri bingung melihat sikap kedua temannya itu.
"Ano ne, Eri—"
Nozomi pun menjelaskan arti dari kalimat tersebut. Setelah mendapat penjelasan singkat namun mudah dimengerti Eri pun kaget, wajar nilai sastra Jepang dia tidak bagus, jadi wajar jika ia tidak tau.
"Yah, intinya Umito salah paham." Lanju Nico. "Kau menyebut kalimat tersebut semata-mata karena bulannya indah. Namun, Umito menanggapinya bukan begitu. Wajar aja latar belakang keluarganya juga sangat kental dengan sastra."
"Ngomong-ngomong, dimana Umito sekarang?" Tanya Nozomi.
"Dia sedang ada kegiatan di klub Kyuudo." Jawab Eri.
Suasana hening seketika.
Setelah suasana hening selama kurang lebih 2 menit, Eri pun tiba-tiba berdiri.
"Aku akan meluruskan kesahpahaman ini dan kembali menembaknya." Ucap Eri sambil mengepalkan tangannya.
Eri pun membalikkan badannya dan baru beberapa langkah bel tanda masuk berbunyi. Nozomi dan Nico reflek menahan Eri.
"Bel masuk udah bunyi, mbak."
"Eri-cchi, lakukan nanti saat pulang sekolah, oke?"
"Ba-Baik."
"Maaf membuatmu menunggu." Ujar laki-laki berambut biru gelap itu sambil masuk ke ruang kelas.
"Aku menyukaimu, Umito!" Ucap Eri lantang.
Umito kaget. "Heh? A-Apaan, sih, tiba-tiba begini?! Malu, tahu!" Wajah Umito langsung memerah. "Aku sudah tau, Eri. Kamu sudah bilang saat di taman waktu itu."
"Umito! Waktu aku mengatakan itu, aku benar-benar gak tahu artinya. Aku mengatakannya karena saat malam itu bulannya benar-benar indah." Jelas Eri. "Jadi, aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini dan mengungkapkan perasaanku dengan benar." Lanjutnya dengan wajah yang sama merahnya dengan Umito.
"Aku menyukaimu, Umito! Jadilah kekasihku!" Ucapnya kembali sambil membalikkan badannya karena malu.
Mendengar hal itu Umito langsung membalikkan badan Eri agar menghadapnya.
"Unn… aku juga menyukaimu, Eri." Umito tersenyum sambil mengelus-elus rambut Eri.
Eri menganggukkan kepalanya.
Suasana menjadi hening di antara mereka.
"Umito, kamu gak akan menciumku?" Eri keheranan karena pada saat di taman Umito langsung maen sikat, sementara sekarang dipeluk aja enggak.
"Heh?" Wajah Umito panas.
"'Heh?' Kenapa? Padahal waktu di taman kamu langsung memelukku dan menciumku."
"Y-Yaa… I-Itu… mmm… K-Kau tau… tubuhku B-Bergerak sendiri." Umito nyengir sambil menggaruk kepalanya.
"Mou… Baka!" Eri pun langsung mencium kekasihnya itu.
Eri mendekap badan Umito kuat dan mencium bibirnya sangat lama. Umito yang tidak ada persiapaan pun terlihat kesulitan bernafas.
Dengan reflek Umito melepas ciuman tersebut untuk mengambil nafas.
"Kenapa dilepasin?!" Eri ngambek.
"Ke-Kenapa kamu bilang?! Aku sesak, tau!" Umito merengek bagai bocah.
"Mou!" Beberapa detik kemudian. "Sudah selesai menghirup oksigennya?" Tanya Eri, sepertinya ia tidak sabar ingin segera mencicipi bibir kekasihnya tersebut.
"K-Kamu masih mau melakukannya?"
"Tentu saja! Kau tau, Umito, bibirmu itu lembut dan manis layaknya coklat. Itu membuatku ketagihan." Ujarnya sambil menjilat bibirnya.
Mendengar itu sukses membuat Umito kembali memerah dan malu.
"Baiklah, aku akan merasakannya lagi, Saayaaangg!"
Eri pun kembali menyegel bibir laki-laki pujannya tersebut. Umito hanya bisa pasrah kemudian mendekap badan Eri.
Setelah cukup lama bersentuhan bibir. Eri yang kurang puas langsung memasukkan lidahnya pada mulut Umito. Umito kaget kemudian mendorong Eri pelan sehingga pagutan antara bibir mereka lepas.
"E-Eh?! Kenapa?" Tanya Eri keheranan dengan lidah yang masih sedikit menjulur keluar.
"K-K-K-Kenapa kamu Me-Memasukan lidahmu?!" Umito terlihat kacau saat ini.
"Umito, jangan bilang pikirmu kalau ciuman itu hanya sentuhan bibir."
"Memangnya apa lagi?" Umito malu setengah mati.
'Ya ampun bahkan dia tidak tau bagaiman ciuman yang dilakukan oleh orang-orang. Kawaii!' Batin Eri.
"Umito, ciuman itu sederhananya adalah sentuhan antara selaput lendir. Dengan kata lain, kita harus menggunakan lidah kita." Bisiknya pada telinga Umito.
"Eri, kamu tau banyak, ya? Apa kamu punya pengalaman tentang ini?" Tanya Umito.
"B-Baka! Tentu saja ini yang pertama untukku! Aku mengetahuinya dari buku-buku yang kubaca dan di internet!" Jelas Eri. "Sudahlah! Ayo kita lanjut lagi!"
Mereka berdua melanjutkan kegiatan mereka di dalam kelas Eri yang kosong tersebut.
Di depan kediaman Eri.
"Terima kasih atas hidangannya, Umito." Eri tersenyum manis.
"Bibirku benar-benar merah sekarang." Umito menyentuh bibirnya.
"Hihihi… mau mampir dulu?"
"Maaf, aku ada urusan di rumah. Mungkin besok." Balasnya sambil tersenyum.
"Kalau begitu, ciumanmu, mana?" Pinta Eri manja.
"H-Hei, apa yang kamu lakukan di sekolah belum cukup?" Umito memerah. "Terlebih ini di tempat umum!"
"Kalau begitu ayo kita ke balik semak-semak itu." Ucap Eri sambil menunjuk semak-semak belukar.
"Tidak!"
"Kumohon, Umito. Ciuman singkat saja, tanpa lidah." Pinta Eri melas.
Tak sanggup melihat wajah melas Eri, Umito pun menurut. "G-Gak pakai lidah, ya?"
"Hai!"
Mereka pun berciuman singkat dan tanpa sengaja Kakeru yang sedang lewat pun menyaksikan hal tersebut.
"Wuiiih~ sore- sore gini panas, ya." Sindir Kakeru. "Jadi kalian pacaran, ya?" 'Syukurlah, Umito-kun sudah tidak bergantung pada Kotori-chan lagi.' Batin Kakeru.
"Ka-Kakeru!"
"Kousaka-san!"
"Anggap aku angin lewat. Silahkan lanjutkan!" Ucapnya.
"Mana mungkin!" Bentak Umito. "Jaa, Eri. Sampai jumpa besok." Umito berlari sekencang mungkin.
"Ha-Hai!"
"Sifat pemalunya sama sekali gak berubah." Ujar Kakeru. "Yah, walaupun dia akan menjadi liar jika sedang mabuk." Kakeru merinding mengingat kejadian saat darmawisata SMP.
"Mabuk?"
"Oh, Umito lemah terhadap alkohol. Saat darmawisata SMP, dia hampir saja melakukan hal yang tidak senonoh pada Kotori -chan. Untung ada aku, walaupun harus babak belur, sih. Pokoknya jangan sampai Umito menyentuh alkohol!"
"Oh, baiklah."
"Kalau begitu aku pulang dulu."
"Tunggu, Kousaka-san! Aku ingin bertanya maksudmu tentang masa lalu yang mengikat Umito?" Tanya Eri.
Kakeru pun menggaruk kepalanya kemudian menghela nafas berat. "Baiklah, karena kamu sudah jadi pacarnya, kupikir harus kuberitahu."
To be continued…
Hmmm…. Tumben cepet. #Plakk.
Berhubung lowong hari ini. Jadi ngebut, deh. xD
Udah itu aja… #Lah? Oh, ya, ada tambahan dikit dibawah.
Sekian, Terima kasih.
Xenotopia7
1 tahun silam di bandara.
"Kotori kapan kamu akan kembali?" Tanya Umito .
"Sampai penyakitku ini sembuh." Ucapnya tersenyum.
"Ko-Kotori! Kau tau ak—"
"Gomen, Umito-kun. Jangan sekarang!"
"Tap—"
"Aku harus pergi." Kotori pun meninggalkannya.
