"Jadi namamu siapa?" dengan rasa senang, ia menanyakan nama Hinata.

Tidak ada yang dapat dilakukan olehnya, selain menerima kenyataan. "Hinata Hyuuga," ia tidak dapat kabur, bahkan kalau menggunakan sosoknya yang lincah pun, ia juga tidak bisa.

"Nah, Hinata. Saat istirahat, datang ke ruangan kami ya. Kami tunggu~"

::

:: It's a Wonderful Cat Life ::

::

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime

::

Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

::

Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.

::

Genre : Romance

::

Rated : T

::

::

Selamat membaca~!

::

::

::

Pst~ pst~

Inilah yang paling Hinata tidak suka, jadi bahan pembicaraan orang. Apalah yang namanya Cat? Memangnya Hinata manusia yang seenaknya dapat dijadikan hewan peliharaan? Kenapa anggota The Star semena-mena terhadapnya? Apalagi yang tadi menghalangi jalan Hinata, itu semua disebabkan karena dia yang mengawalinya. Ditambah dengan sang ketua yang seenaknya mengambil keputusan. Padahal ini masih hari pertama lho! Kenapa semua ini harus terjadi pada Hinata? Kenapa bukan orang lain? Yah, tapi lebih baik dirinya yang kena daripada orang lain sih. Hinata memang baik, tapi hari ini ia sangat tidak beruntung. Kalau seperti ini, bagaimana caranya Hinata akan mendapatkan teman? Menatap anak-anak kelas saja sudah tidak berani, apalagi mengajak mereka bicara. Sepertinya untuk hari ini, akan sulit untuk mendapatkan teman. Karena ia sudah malu duluan dengan kejadian yang belum lama ini menimpanya.

Hinata menjadi salah satu bagian dari murid kelas 1-A, tidak disangka juga. Kelas 1-A adalah kelas yang paling bagus, bisa dibilang kelas unggulan yang berisikan anak-anak yang berkelas. Katanya hanya anak-anak dengan kemampuan khusus yang masuk ke kelas ini. Tapi ia harus bersyukurmeki hari ini belum mendapatkan teman, pasti besok akan ia dapatkan. Ini sema gara-gara The Star, ia jadi tidak berani untuk berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya. Ia duduk di bangku yang masih kosong, letaknya tidak jauh dengan jendela. Posisi ini adalah posisi yang paling Hinata suka, karena bisa melihat pemandangan luar. Kemudian ia meletakkan tasnya di atas meja, melihat pemandangan luar yang indah. Andai kehidupannya bisa seindah tempatnya berpijak, pasti Hinata akan lebih bahagia.

"Hei~ Jangan begitu dong. Kalau dia merasa risih dengan keberadaanmu bagaimana? Kau 'kan rada-rada," seorang yang berada tidak jauh dengan Hinata saat ini sedang menahan temannya yang sedikit gila.

"Memangnya kenapa sih? Aku normal kok, enak saja kau bilang seperti itu." ini dia orangnya, ia sangat mau menemui Hinata. Tidak dapat tertahankan, dan akhirnya sudah tidak dapat ditahan lagi. Ia langsung berlari menghampiri Hinata setelah pegangan erat itu terlepas, "Kau yang saat ituterlepas di sebelahku ya? Ternyata kita satu kelas!" serunya memegang tangan Hinata dan diayun-ayunkannya ke atas dan ke bawah.

"Namaku Ino Yamanaka! Mulai sekarang kita berteman ya! Kau tidak boleh menolaknya, oke?!" Hinata bengong melihat senyuman Ino, ini orang yang berada di sebelahnya saat acara penyambutan.

"Maaf, dia sedikit gila. Aku Sakura Haruno, mohon kerja samanya." nama yang manis, mirip dengan warna rambutnya. Sebenarnya Sakura juga mau berteman dengan Hinata setelah kejadian saat penyambutan.

"Apaan sih kau ini?"

Hinata tidak percaya dengan apa yang ada di depannya, inilah calon teman-temannya yang baru. Ino Yamanaka dan Sakura Haruno, orang yang pertama kali mengatakan bahwa mereka ingin menjadi teman Hinata.

"Ah, iya. Namaku Hinata Hyuuga, senang berkenalan dengan kalian." senang rasanya memiliki teman baru, apalagi tanpa dicari mereka sudah datang duluan. Hinata merasa bersyukur, ternyata masih ada orang yang tidak membicarakan masalah saat acara penyambutan tadi.

Ino menarik bangku yang ada di depannya, dan ia duduk menghadap Hinata. Wajahnya menjadi serius, ada pertanyaan yang dari tadi mau ditanyakan olehnya. "Apakah memiliki harem yang keren-keren seperti itu menyenangkan?" tanyanya intens, dan sukses sudah ia mendapatkan jitakan dari Sakura.

"Ah.. Itu," bingung harus menjawab apa, Hinata jadi berpikir keras untuk mendapatkan jawaban yang pas. Kalau salah bicara, takutnya mereka akan menjauh dan tidak akan berteman dengan Hinata.

Sakura yang melihat Hinata bingung pun memegang pundak Hinata, dan tersenyum lembut padanya. "Jangan dipikirkan pertanyaannya yang aneh, yang penting nikmati saja hidup ini." dan inilah yang membuat Hinata bersemangat untuk ke depannya, bersama dengan teman-teman yang baik hati.

Sementara itu di ruang OSIS~

"Hei, kau tahu apa yang kau lakukan tadi?" tanya Naruto kesal, baru kali ini ia merasa sekesal ini. Kenapa ya? Ini disebabkan karena tingkah laku Kiba yang seenak jidatnya.

"Apaan emangnya?" tanya Kiba pura-pura tidak mengerti sambil mengunyah roti melon yang baru saja dibelinya di kantin sekolah.

"Kau sudah membuat keributan!" teriak Naruto kesal, semakin kesal pula karena Kiba malah pura-pura tidak tahu. Ia mondar-mandir karena tidak tenang, perasaannya tidak karuan.

"Begitu ya?" acuh, tidak peduli pada Naruto. Kiba melanjutkan acara makan rotinya, tidak enak kalau makan sambil bicara. Jadi ia lebih memilih untuk mengabaikan Naruto.

"Ugh~ Kau menyebalkan, Kiba!" gerutu Naruto, ia beralih pada laptop di atas meja. Daripada mengeluh seperti itu, lebih baik duduk tenang dan mengerjakan tugas yang belum selesai.

"Keputusan yang sudah dibuat, tidak dapat dibatalkan." Naruto menengok ke arah Sai, kata-kata Sai barusan memang benar. Tidak ada salahnya Sai mengingatkan Naruto, supaya Naruto sadar dengan ucapannya sendiri.

"Yang dikatakan Sai memang benar, lagian kau sendiri 'kan yang menyetujuinya." menyetujui kata-kata Sai, Shikamaru merenggangkan badannya dan menguap karena merasa bosan.

"Iya sih, tapi..." Naruto menutup laptopnya, ia batal untuk mengerjakan tugasnya yang belum selesai. Pikirannya lagi penuh dengan keputusannya tadi, mungkin ia salah mengambil keputusan. Kalau seperti ini terus, bagaimana bisa menyelesaikan tugas?

"Memangnya masalah kalau perempuan masuk ke ruangan ini?" tanya Kiba setelah menghabiskan gigitan terakhir, dan melihat ke arah teman-temannya. "Kalau aku sih tidak," lanjutnya dan bergegas untuk mengambil minuman.

"Tidak sama sekali," jawab Sasuke, ia menutup buku yang lagi diteliti olehnya. Menyetujui ucapan Kiba, karena ia juga sudah merasa bosan dengan lingkungan yang seperti ini-ini saja. Meski ia tidak suka jadi populer, setidaknya ia tahu bahwa Hinata tidak tertarik dengannya sama sekali. Jadi oke-oke saja~

"Teme! Bukannya kau mendukungku," gerutu Naruto, ia cemberut. Apakah keputusannya bisa dibatalkan? Tapi kalau seperti itu, sama saja ia bukan ketua yang kompeten. Mungkin saat itu otaknya lagi gila, ketularan Kiba.

"Sebagai teman, tentu saja harus mendukung yang benar." bahkan Sai pun menyetujui ucapan Kiba, untuk saat ini semuanya tidak berpihak pada Naruto. Disini, untuk pertama kalinya Naruto merasa kalah.

"Ugh~ baiklah-baiklah!" seru Naruto mengacak-acak rambutnya sendiri, akhirnya ia menyetujuinya. "Nanti lihat apa saja yang akan terjadi," sebenarnya Naruto juga sedikit penasaran dengan hal baru.

Shikamaru melihat Kiba, "Tapi kenapa tiba-tiba kamu menghampirinya? Padahal hanya sekali pandang, tapi sudah langsung seperti itu." ini yang membuat Shikamaru dan yang lainnya penasaran. Kiba yang biasanya paling malas dengan sekitar, jadi bersemangat seperti itu karena melihat seorang gadis.

"Entah ya, naluriku bergerak sendiri." jawab Kiba tidak mengerti. Mungkin karena sudah lama bersama dengan Akamaru, itu nama anjingnya. Jadi nalurinya menjadi seperti Akamaru, dan merasakan hal yang paling disukai oleh anjing-anjing. "Tapi Hinata-chan itu manis, 'kan?" Kiba meletakkan gelas di tempatnya, ia sudah selesai minum. Kemudian senyum-senyum sendiri karena ia merasa menang telah menemukan gadis yang manis.

"Iya sih~" Naruto pun sependapat, tapi rasanya seperti pernah melihat gadis itu deh. Ia merasa, belum lama ini ia bertemu dengan Hinata. Tapi dimana ya?

"Menurutku masih manisan Temari," Shikamaru mengalihkan pandangannya, ia melihat ke luar jendela. Ia berandai-andai, andaikan saja ia bisa bertemu dengan Temari secepatnya.

"Yang punya pacar memang beda ya," Sai tersenyum menanggapi perkataan Shikamaru.

"Hn,"

::

::

"Hinata, sekarang 'kan sudah istirahat. Kamu harus berjuang ya, jangan lupa nanti cerita ke kami." Sakura memegang kedua pundak Hinata, ia sedang mencoba untuk menyemangati Hinata. Ia melepas pegangannya, "Kalau ada masalah, kasih tahu juga. Biar kuhajar mereka," dan membunyikan jari-jari tangannya, serta menunjukkan wajah seramnya.

Memang terlihat seram, tapi Hinata senang Sakura begitu khawatir dengannya. "Iya," katanya tersenyum.

"Oh ya, aku boleh titip tanda tangan Sai-senpai, 'kan?" pinta Ino. Sejak pertama kali melihat Sai, rasanya Ino seperti langsung jatuh cinta. Aura Sai itu berbeda dari semua anggota OSIS, dan entah kenapa itu membuat Ino klepek-klepek.

Hinata mengangguk, "Kalau begitu aku pergi dulu ya," dan keluar dari dalam kelas untuk memulai perjalanan hidupnya di sekolah. Kehidupan menjadi 'Cat' dalam anggota The Star, posisi tengah. Kalau seperti ini sih, memang seperti harem saja. Tidak ada bedanya, Hinata dikelilingi oleh lima pria. Tapi untuk apa menjadi Cat yang memiliki posisi di tengah kalau tidak ada pekerjaan? Lihat saja dulu deh~

Berjalan dengan santai, kalau perlu tidak usah sampai sekalian. Ada yang menghalanginya gitu, dengan cara dipanggil guru untuk kebaikan. Baru pertama kali Hinata berkeliling sekolah, untungnya sudah dikasih peta menuju ruang OSIS. Jadi Hinata tidak perlu tersesat segala untuk sampai kesana. Mungkin tersesat tidak ada salahnya ya? Berpikir nakal sedikit, ia membuang peta ke tong sampah.

"Keliling saja," dan dengan begini, Hinata tidak perlu ke ruang OSIS. Kalau ditanya kenapa tidak datang pun, tinggal bilang peta yang diberikan hilang dan ia jadi tersesat di sekolah yang lumayan besar itu. Ide cemerlang, maaf kalau Hinata sedikit nakal.

Jalan~ Jalan~ Jalan~ Ternyata sekolah memiliki liku-liku yang sangat banyak, kalau begini Hinata akan tersesat benaran. Kalau tidak balik ke kelas saat bel pertanda masuk sudah berbunyi, bagaimana jadinya? Sudahlah, yang penting jalan saja dulu. Pasti ia akan menemukan jalannya, jadi tenang saja.

Jalan lima menit, Hinata terhenti di sebuah pintu. Ia penasaran dengan pintu dengan ukiran yang begitu indah. Dari setiap pintu yang dilewatinya, hanya pintu ini saja yang memiliki ukiran yang menarik. Pasti di dalamnya adalah hal yang menarik, makanya dari bagian luar juga dibuat menarik.

"Sudahlah," Hinata kembali melangkah, sampai langkahnya terhenti karena mendengar sesuatu.

Ckiet~ Hinata menengok ke belakang, ternyata pintu dengan ukiran menarik itu terbuka. Kemudian menunjukkan sosok yang saat ini tidak mau ditemuinya. Hal yang saat ini dihindarinya, malah ada di hadapannya sekarang.

"Eh? Hinata-chan? Kau kelewatan! Sudah kami tunggu dari tadi. Ayo masuk, kupikir kau tersesat lho. Makanya aku berniat mencarimu, aku baik, 'kan." ternyata Kiba yang membuka pintu telah keluar dan beranjak ke arah Hinata. Mendorong-dorong Hinata untuk masuk ke dalamnya, ternyata memang berisikan hal yang menarik ya. Luar menarik, sudah pasti dalamnya menarik. Seharusnya Hinata tahu itu~ Tapi kenapa tanpa peta, ia malah sampai pada tempat yang ada di peta? Langkah Hinata, yang membawanya kesana.

"Ini dia~ Orang yang kita tunggu-tunggu." dengan cengirannya, Kiba menepuk-nepuk pundak Hinata yang ada di depannya. Memberiahukan pada semua orang, bahwa orang yang sudah ditunggu dari tadi kini telah datang.

"Selamat datang ke ruangan ini," sambut Shikamaru dengan malasnya, sampai sekarang tidak ada yang berbeda dengan yang dulu. Terus saja seperti ini, dan membosankan. Tidak ada kerjaan, dan membuatnya selalu mengantuk.

"Jika orang yang ditunggu-tunggu telah datang, ada kebahagiaan tersendiri bagi orang yang menunggunya." Sai menyambut Hinata dengan senyumnya. Melihat Sai, Hinata jadi ingat kalau Ino meminta tanda tangan orang ini. Ia tidak boleh lupa, tapi tetap saja harus mencari waktu yang tepat untuk memintanya.

"Selamat siang," sapa Hinata.

"Ah! Ayo duduk dulu~" Kiba pun menuntun Hinata untuk duduk. Kalau bicara sambil berdiri, rasanya kurang enak. Tempat duduk di ruangan ini juga lumayan banyak. Sofa yang panjang bahkan bisa dibuat untuk tiduran.

'Dalamnya memang menarik,' Hinata melihat sekitar, ia melihat Sasuke yang sempat melihatnya dan beralih kembali pada buku yang ada di tangannya.

Kemudian ia melihat Naruto yang serius mengotak-atik laptopnya. 'Wajahnya terlihat serius.' batin Hinata memandangi Naruto. Ia duduk pada tempat yang telah disediakan, dan tetap memandang Naruto. Sampai mata mereka bertemu, barulah Hinata mengalihkan pandangannya.

"Ah! Kau sudah datang," dengan cerianya Naruto bangkit, meninggalkan laptop yang masih terbuka. Padahal Naruto adalah orang yang paling ingin membatalkan keputusannya. Tapi saat Hinata datang, wajahnya malah terlihat sangat ceria.

"Selamat siang," sapa Hinata.

Naruto berdiri di depan Hinata, melihat Hinata. Entah kenapa, Hinata merasa paling gugup kalau di depan orang ini. Mungkin karena pengaruh pertemuan di bus dan pemberitahuan jalan tikus rahasia tadi pagi kali ya. "Kamu sudah mengenal nama kami semua, 'kan?" tanyanya kemudian. Untuk akrab dengan seseorang, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengetahui namanya.

"Iya~ Yang ada di depanku sekarang Naruto-senpai, Kiba-senpai yang tadi menyambutku di depan pintu, Sasuke-senpai yang sedang baca buku disana, yang sedang tiduran di sofa sebelah sana itu Shikamaru-senpai, dan yang tadi bicara kata-kata bijak itu Sai-senpai." jelas Hinata tentang ingatan nama-nama yang hari ini baru saja masuk ke otaknya.

"Ah~ Gak enak didengar. Panggil aku Kiba saja ya?!" gerutu Kiba. Tanpa persetujuan dari Hinata, pokoknya harus tetap manggil seperti apa yang dibilang Kiba. Tidak boleh menolak, apalagi melanggarnya. Karena keputusannya adalah mutlak, mau tidak mau Hinata harus mengikuti keinginannya.

'Apa?! Kiba dapat memintanya semudah itu?' batin Naruto syok. Padahal Kiba tidak pernah bicara seperti itu ke seorang gadis. Kalau ada yang seperti itu pun, langsung diperingati. Tapi kenapa ke Hinata tidak ya? Apa mungkin karena Hinata sudah jadi salah satu anggota yang sebenarnya bukan anggota The Star? Ah, tapi bukan itu masalahnya. Kalau Kiba bisa seperti itu, kenapa Naruto tidak mencobanya? Mana mau Naruto merasa kalah dari seorang Kiba.

"Hinata, aku ju..." mendengar Naruto yang angkat bicara, Hinata mengalihkan pandangannya pada Naruto. Itu membuat Naruto menghentikan pembicaraannya, dan mengalihkan pandangannya.

"Ada apa Naruto-senpai?"

"Tidak jadi~" dan apa yang mau dilakukan Naruto gagal total. 'Aku ini apaan sih?' gerutunya dalam hati. Dengan begini, Naruto sudah kalah dari Kiba.

"Hn," Sasuke yang dari tadi mengintip dari balik buku hanya berpikir tentang kejadian barusan. Naruto itu tidak mau kalah dari Kiba, tapi akhirnya kalah juga karena rasa malunya.

"Sudahlah~ Langsung pada intinya. Sebenarnya, Hinata kesini untuk apa ya?" tanya Naruto bingung, ia berpikir tapi tetap tidak mendapatkan jawabannya.

"Orang kesini pasti memiliki tujuan," bahkan Sai tidak tahu harus melakukan apa pada Hinata. Tapi kalau seperti ini, memang ada tujuannya, 'kan?

"Terserah kalian saja," Shikamaru yang masih tiduran di sofa angkat bicara. Ternyata meski lagaknya seperti tidur, ia tetap mendengarkan pembicaraan.

Kiba menggeleng, dari sini Hinata benar-benar syok. Untuk apa kalau begitu mengambil keputusan seenaknya? Sudah membuat Hinata tersesat dan ditahan disini, tapi tidak ada yang dapat dilakukan. "Kalau begitu, aku boleh pergi?" tanya Hinata gugup. Kalau seperti ini, lebih baik keputusannya dibatalkan saja.

"Tidak," tapi sepertinya itu tidak bisa. Sasuke meletakkan bukunya di atas meja, dan melihat ke arah Hinata. Tatapannya yang dingin, seakan mau membekukan Hinata. "Selama istirahat, kau harus kesini terus. Terserah mau melakukan apa, lakukan apa saja yang biasa dilakukan oleh kucing. Seperti julukanmu~" ucap Sasuke, dan semuanya menatap Sasuke dengan mata yang tidak dapat diartikan.

'Aku tidak bisa kabur,' dan Hinata hanya dapat kembali pasrah, mungkin ini memang takdir yang diberikan Tuhan di masa SMA-nya.

"Sudahlah~ Lanjut kerja," Naruto memberikan pertintah untuk melanjutkan kerja, dan semua menaati perintahnya. "Untuk Hinata, terserah mau melakukan apa." dan Naruto kembali pada laptopnya.

Hinata melihat sekeliling, Sasuke kembali membaca buku, Kiba beranjak ke mesin pendingin untuk mencari makanan, Sai sedang menyiapkan kain bersih untuk membersihkan alat lukisnya, dan Shikamaru sepertinya sudah tertidur pulas.

'Ini yang namanya kerja?' batin Hinata bertanya, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Inikah pekerjaan The Star? Anggota OSIS yang disebut-sebut sebagai jantung sekolah dengan lima sisi yang berbeda-beda. Bahkan memiliki julukan yang tidak biasa, cahaya, api, es, bayangan, dan tanah. Itu semua adalah elemen, tapi kenapa Hinata mendapatkan julukan nama binatang?

Teng~ Teng~ Teng~

"Ah, bel sudah berbunyi." Naruto yang awalnya mau melanjutkan pekerjaannya, kini terhenti. Ia melihat Hinata, "Sebaiknya kamu kembali ke kelas, Hinata." katanya.

"Iya," Hinata pun bangkit dari duduknya, ia berjalan keluar ruang secara perlahan. Dalam hatinya, ia berpikir keras. Jalan menuju kelas bagaimana ya? Kalau seperti ini, bisa-bisa Hinata tidak masuk kelas karena tersesat.

"Ingat jalan menuju kelas?" Hinata menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto. "Peta yang kukasih saat itu?" kembali Naruto bertanya, Hinata sedikit bingung mau menjawab apa. Kalau Hinata menjawab jujur, sudah pasti ia akan dimarahi kalau membuang peta. Tapi kalau Hinata berbohong, itu sama saja dosa.

Tapi~ "Hilang," maaf ya, Hinata berbohong. Untuk saat ini, demi kebaikan. Untuk lain kali, ia akan mencoba untuk tidak berbohong. Tapi kalau mendesak, terpaksa Hinata harus berbohong kembali. Meski Hinata tidak suka tindakan jahat itu.

"Aku antar?"

Mata Hinata membulat, apa-apaan ini? "Tidak usah!" tolak Hinata. Ia tidak mau membuat orang lain susah, apalagi ini karena tindakannya sendiri. Ia tidak mau melihat orang di sampingnya, ikutan susah karena dirinya. Apalagi Hinata melihat kalau Naruto mau melanjutkan pekerjaannya sebagai ketua OSIS, tidak baik kalau Hinata menunda pekerjaan Naruto.

"Sudahlah~" Naruto bangkit dari bangkunya dan mendekati Hinata. Didorongnya Hinata keluar secara perlahan, "Aku mengantar Hinata ke kelasnya dulu ya!" dan diakhiri dengan pamit pada teman-temannya.

"Eh! Aku saja deh~" dengan semangat Kiba menawarkan dirinya untuk menggantikan Naruto, Naruto 'kan masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan.

"Tidak," tapi Naruto menolak, dan itu membuat Kiba kesal. Masa bodo dengan tugas Naruto yang belum kelar!

"Awas kalau macam-macam!" ancam Kiba melototi Naruto dengan mata seramnya.

"Mengkhawatirkan seseorang itu tidak boleh berlebihan," dan kata bijak Sai yang mengantar kepergian Naruto dan Hinata.

Kiba menatap Sai, "Kau itu sebaiknya jangan terlalu banyak mengucapkan kata bijak deh." ucapnya memberikan nasehat.

"Kenapa?" tapi Sai malah bingung. Memangnya salah ya mengucapkan kata bijak? Setidaknya 'kan untuk memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang lebih baik.

"Bukan apa-apa kok,"

Sebenarnya Kiba hanya ingin menjauhi kata-kata bijak Sai. Karena setiap ada masalah kecil, pasti kata bijak yang diucapkan Sai itu menusuk sekali. Seperti kejadian tadi, seakan Kiba sangat mengkhawatirkan Hinata. Padahal 'kan sebenarnya Kiba hanya memperingati Naruto yang kemungkinan besar akan berbuat nakal. Bukannya khawatir dengan Hinata ya, jangan sampai salah paham.

Sekarang kita melihat kejadian yang terjadi pada Hinata dan Naruto. Mereka berdua hanya jalan biasa saja, dan tidak ada yang bicara. Hanya suara berisik dari murid-murid perempuan karena Naruto melewati mereka. Aura Naruto memang berbeda, tapi Hinata tidak suka menjadi pusat perhatian. Meski Naruto yang dipandangi, tapi tetap saja Hinata akan ikut dipandangi karena berada di sebelah Naruto.

"Kelas 1-A, 'kan?" Naruto memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan.

Hinata mengangguk, "Kenapa petanya bisa hilang?" kembali Naruto bertanya. Kenapa Naruto bertanya hal yang memaksa Hinata untuk berbohong sih?!

"Mungkin jatuh tanpa kusadari," jawab Hinata sedikit gugup, berbohong itu memang susah baginya.

"Kau mau tahu satu hal yang kupercayai, tapi tidak dipercayai orang lain?" Naruto menatap lurus, selama ini orang selalu menganggapnya aneh karena hal yang dipercayainya itu. Kalau ada satu orang saja yang mempercayainya, pasti ia akan merasa sangat senang.

"Apa?" melihat tatapan Naruto yang lesu seperti itu, entah kenapa Hinata tidak suka. Hinata mau melihat senyuman itu, senyuman tadi pagi yang bagaikan mentari. Hinata ingin sekali melihatnya, karena sampai sekarang Hinata tidak melihat tanda-tanda adanya senyuman itu.

"Aku percaya, bahwa ada manusia yang memiliki sembilan nyawa kucing."

Glek, Hinata menelan ludahnya. Karena apa yang dipercayai Naruto memang ada, dan tepat ada di sebelahnya sekarang.

"Kau boleh menganggapku aneh," dengan senyum yang memudar, dan memunculkan senyum paksa.

Hinata tidak suka melihatnya, "Tidak, aku percaya kalau manusia dengan sembilan kucing itu memang ada." ia tidak mau melihat senyum paksa seperti itu.

"Ha? Benarkah?!" kaget, Naruto benar-benar kaget. Baru kali ini ada yang percaya padanya! Selama ini tidak ada orang yang percaya dengannya, malah bilang hal yang menyakitkan. Tapi Hinata...

"Iya," Hinata mengangguk tersenyum, 'Karena itu adalah aku sendiri.' batin Hinata. Mana mungkin Hinata menganggap keberadaan sembilan nyawa kucingnya tidak ada. Inilah kenyataannya, dan fakta itu harus diungkapkan sejujur-jujurnya. Meski tidak usah terlalu dalam, karena ada rahasia dibalik rahasia.

"Haha, kau ini memang aneh ya." Naruto tertawa, dan mengacak-acak rambut Hinata. Jujur Hinata kaget dengan perlakuan ini, kenapa ya laki-laki suka mengacak-acak rambut perempuan? Di komik juga sering seperti ini, dan kadang-kadang perempuannya merasa malu sekaligus senang. Kenapa ya? "Dan, terima kasih sudah percaya padaku." dengan senyum mentari yang telah dikeluarkannya, Naruto tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

Mata Hinata membulat, 'Senyuman ini, aku melihatnya lagi.' entah kenapa ia sangat menyukai senyuman ini. Saat pertama kali melihatnya, senyuman itu seakan menyemangati dirinya, memberikan kehidupan baru padanya.

Deg!

'Ah! Gawat!' dan inilah yang terjadi setelahnya, kejadian ini sudah terjadi dua kali.

Deg!

Hinata harus pergi sejauh-jauhnya dan menenangkan detak jantungnya. "Naruto-senpai! Terima kasih atas kebaikanmu!" dan lari secepat-cepatnya menghindari Naruto.

"Lho, dia kenapa?" Naruto heran melihat tingkah Hinata. Masa tiba-tiba kabur? "Eh? Emangnya dia tahu jalan ke kelas?!" tanya Naruto kaget, bisa-bisa Hinata tersesat di sekolah yang luas ini.

Hinata aman, ia sudah berlari ke tempat yang sangat jauh.

"Tenang Hinata, tenang.." ia menenangkan detakan jantungnya. Saat Hinata lari, seakan detakan jantungnya berhenti. "Haa~" dan ia bernapas lega setelah semuanya dirasa aman.

"Aku kenapa sih?" Hinata memegang wajahnya sendiri. Di lorong yang sepi ini, "Senyuman itu," ia mengingat satu hal yang tidak biasa baginya.

Apa kalian percaya? Bahwa orang dapat jatuh cinta dalam sekejap, hanya karena melihat senyumannya saja?

::

::

To Be Continue

::

::

Chapter dua selesai! Mohon maaf apabila masih banyak kesalahan dalam pembuatan fic ini. Terima kasih sudah mau membaca dan menunggu sampai chapter ini update. Untuk menghemat kouta, aku balas review disini saja ya...

Triavivi354 : Ini udah lanjut~

Guest I : Haha, makasih ya...

Hiyori Yato : Haha, makasih ya. Ini sudah lanjut, makasih atas semangatnya..

: Oleh karena itu, Hinata harus pandai mengatur perasaannya sendiri.

Salsabilla12 : Haha, ini udah lanjut.

Guest II : Haha, makasih ya. Hanya sedikit menyadari aura ya, bukan sampai sepenuhnya. Oke, ini sudah lanjut.

Vita : Makasih ya~ Kalau itu sih, bukan masalah kekuatan super atau apa, hanya kekuatan insting saja yang sedikit tajam. Kalau caranya sih, tak ada di cerita, tapi nanti akan kupikirkan untuk membuat cerita tersendirinya. Hal yang aneh ya? Kalau itu entahlah.. Ini sudah lanjut~

Watashi wa Mai : Haha, iya nih. Setelah sekian lama fic yang sebelumnya tamat, baru sekarang publish lagi yang baru. Makasih ya~

gifari : Haha, maaf kalau lama ya..

Cuka-san : Bagaimanapun juga, hanya fisiknya Hinata yang berubah menjadi kucing. Kalau tambahan suara seperti itu sih, tergantung Hinata sendiri. Oke, tentu saja...

Setidaknya tadi sekilas pembalasan review dariku. Terima kasih sudah membaca chapter ini sampai selesai. Bertemu lagi di chapter selanjutnya...

Ttd,

Haruna Hajime

30 Januari 2016