"Nona Hyuuga, dari mana saja kau?" seorang guru yang baru saja menjadi wali kelasnya menanyakan kenapa Hinata bisa sampai telat masuk kelas.

"Saya tersesat pak," jawab Hinata, lagian salahnya sendiri berlari meninggalkan Naruto. Tapi kalau tidak begitu, bisa-bisa ia berubah menjadi kucing. Ia 'kan juga belum mengingat liku-liku sekolah, pasti akan dimaklumi. Untungnya ada indera penciumannya yang lumayan tajam, jadi ia dapat mencari jalan melalui wangi parfum yang dipakai Ino. Walau tidak setajam penciuman anjing, tapi dapat berguna juga.

"Ya sudah, silahkan kembali ke bangkumu."

::

:: It's a Wonderful Cat Life ::

::

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime

::

Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

::

Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.

::

Genre : Romance

::

Rated : T

::

::

Selamat membaca~!

::

::

::

"Oke, hari ini cukup sekian. Karena hari ini adalah hari pertama kalian masuk sekolah, jadi hanya sesi pengenalan dan penentuan pengurus kelas saja. Setelah ini kalian boleh langsung pulang, tapi jangan kemana-mana, langsung pulang ke rumah. Besok kalian masuk seperti biasa jam delapan pagi. Sekian,"

Hari pertama pun berakhir dengan keluarnya wali kelas dari dalam kelas. Hinata dan kawan-kawan beres-beres untuk segera pulang ke rumah. Karena Hinata disuruh datang ke ruang OSIS saat istirahat saja, jadi hari ini ia sudah bebas dari sana. Hinata akan langsung pulang ke rumah, karena ia tidak bisa meninggalkan ayahnya lama-lama di rumah.

"Hinata pulangnya kemana?" tanya Sakura menutup resleting tasnya dan menentengnya setelah selesai.

"Ke bagian utara," jawab Hinata, mereka pun berjalan pelan untuk keluar dari dalam kelas.

"Yah~ Kita beda arah dong. Aku bagian selatan," ucap Ino kecewa. Pasti enak sekali kalau pulang bareng bersama teman naik kereta, siapa tahu nanti ada adegan tidak terduga. Selama ini ia selalu pulang sendiri, karena semua teman-temannya beda arah.

"Iya," balas Hinata, sayangnya kejadian itu tidak terjadi. Pasti menyenangkan kalau memang bisa seperti itu, apalagi bareng sama teman-teman.

"Aku barat," bahkan Sakura pun berbeda dari semuanya. Tidak ada yang bisa pulang bersama, karena tidak memungkinkan.

Hinata tinggal di bagian utara, Sakura bagian barat, sedangkan Ino bagian selatan. Sepertinya memang tidak akan pernah bisa pulang bersama, apalagi berangkat sekolah bersama. Semuanya beda arah, dan hanya dapat bersama saat di sekolah saja.

"Tidak punya teman pulang bersama itu, rasanya sepi." mendramatisirnya, Ino meneteskan setetes air mata.

"Haha~ Yang penting di sekolah kita bisa bersama." hibur Sakura, Ino yang mendapatkan hiburan pun tenang kembali.

Ino dan Sakura adalah teman dari SD, mereka tidak dapat dipisahkan. Bahkan berjuang bersama untuk masuk ke sekolah favorit, dan akhirnya tersampaikan juga. Karena tidak dapat dipisahkan pula, sampai-sampai berpikir untuk memiliki pacar yang ciri-cirinya hampir sama.

"Iya," Hinata pun setuju dengan Sakura, ia memberikan senyumannya dan membuat Ino tambah tenang.

Konoha Highschool terletak di bagian tengah kota Konoha. Karena merupakan sekolah favorit, makanya sekolah ini banyak diincar oleh kalangan penjuru. Apalagi keberadaannya yang berada di tengah kota, sangat strategis dan sangat mudah untuk sampai pada lokasi dari semua bagian kota.

"Oh ya, tadi belum ada waktu yang pas, jadi tanda tangannya besok saja ya." mengingat hal yang sempat dilupakan Hinata, ia lupa meminta tanda tangan Sai yang diminta Ino. Karena sekarang sudah waktunya pulang, jadi tidak bisa hari ini memintanya.

"Kapan-kapan juga boleh kok, aku 'kan tidak mau merepotkan Hinata-chan." dengan senyumnya yang manis, Ino memang seperti itu. Meminta satu hal, tapi tidak mau mendapatkannya secara cepat karena tidak mau merepotkan orang lain.

Mereka keluar kelas, dan tanpa sadar melewati orang yang bersandar pada dinding depan kelas. Merasa kesal karena keberadaannya tidak disadari, akhirnya orang ini angkat bicara.

"Oi,"

Yang merasa terpanggil pun menengok ke belakang. "Sasuke-senpai? Ada apa?" tanya Hinata langsung saat melihat orangnya.

Sakura dan Ino hanya melihat Sasuke sebentar dan saling pandang, seakan berbicara tanpa suara. Seperti telepati, dan menyampaikan pesan 'Sebenarnya ada apa?' dan balasan sebuah gelengan. Mereka tidak tahu dengan kisah Hinata di ruang OSIS, karena Hinata belum sempat menceritakannya.

"Ke ruangan kami," jawab Sasuke singkat, padat, dan jelas. Ia tidak suka mengeluarkan banyak suara, karena ia memang tidak banyak bicara. Hanya saat mau, dan kalau dibutuhkan saja.

"Apa? Tapi bukannya saat istirahat saja?" tanya Hinata mengelak jawaban Sasuke. Katanya saat istirahat saja, 'kan? Meski sekarang masih jam dua belas siang, tapi sekarang sudah waktunya pulang.

"Aku hanya melakukan tugas," ini dia yang tidak dapat ditolak Hinata. Sasuke sudah melakukan tugas yang diberikan kepadanya dengan tepat, meski sedikit malas-malasan. Kalau pada akhirnya Sasuke kembali ke ruang OSIS tanpa Hinata, sama saja Sasuke tidak becus menjalankan tugasnya. Kalau seperti ini, bisa-bisa kepercayaan anggota OSIS terhadap Sasuke akan berkurang.

Hinata menengok ke Ino dan Sakura, "Sudah, pergi saja." mengerti artinya, Sakura menyuruh Hinata untuk pergi. Tidak enak kalau sudah dijemput, tapi malah menolaknya.

"Maaf ya," Hinata meminta maaf dan mengikuti Sasuke yang mulai pergi dari sana.

"Sampai bertemu besok!" salam perpisahan Ino sambil melambaikan tangannya, Hinata membalas lambaian itu dan kembali menghadap depan.

Jalan, tidak ada yang berbicara. Mungkin situasi ini akan selalu terjadi pada dua orang yang memiliki sifat ini. Satu pemalu, satunya tidak banyak bicara. Sudah pasti tidak akan ada pembicaraan yang dapat dibicarakan kalau salah satunya tidak memiliki inisiatif untuk memulai pembicaraan.

'Hening sekali~' meskipun begitu, Hinata tidak betah dengan keadaan seperti ini. Berpikir keras, Hinata sedang mencari topik yang harus menarik. Ia tidak boleh membiarkan situasi ini terlalu lama.

"Kamu sudah tahu apa yang dipercayai Naruto?" sebelum Hinata menemukan topik, Sasuke sudah terkebih dahulu mendapatkan topik pembicaraan. Kali ini tentang apa yang dipercayai oleh Naruto.

Saat Naruto mengantarkannya menuju kelas, walau tidak sampai. Ia sempat mendengar cerita dari Naruto tentanf apa yang dipercayai oleh Naruto, jadi Hinata mengerti apa yang dimaksud Sasuke walau kata-katanya tidak lengkap. Hinata mengangguk, karena yang dipercayai Naruto itu memang ada.

"Begitu ya?"

"Iya,"

"Hn,"

Hinata melihat Sasuke bingung, sepertinya Sasuke sedang berpikir. Kenapa Hinata dengan mudahnya percaya? Padahal selama ini tidak ada sama sekali orang yang percaya dengan Naruto. Apa karena Hinata terlalu baik makanya ia melakukan itu? Tapi kalau seperti itu, akan berakhir hanya dengan melukai perasaan Naruto. Hinata berbohong bilang percaya, padahal dari dalam hatinya sendiri berkata tidak percaya. Itulah pikiran Sasuke~

Saat sampai di ruang OSIS, Hinata disambut dengan baik oleh semuanya.

"Selamat datang~" sambutan pertama oleh Naruto, tidak lupa memberikan senyuman. Ibaratkan seorang butler yang menyambut kedatangan tamunya, sekiranya seperti itu.

Naruto diam di depan ruang OSIS, padahal Sasuke sudah masuk dari tadi. Hinata hanya takut kalau ia akan berdebar kembali, soalnya disana ada orang yang tidak sengaja sudah membuatnya berdebar dua kali. 'Ada Naruto-senpai, aku tidak boleh berdebar.' batinnya panik. Ia meletakkan tangannya di depan dadanya, dekat jantungnya masih terasa normal.

"Kenapa diam saja? Ayo masuk," Kiba yang merasa risih melihat Hinata hanya berdiam diri di tempat itu pun menyuruh Hinata masuk.

Tapi tetap saja Hinata tidak masuk, "Ano.. Sekarang 'kan sudah jatah pulang, tapi kenapa dipanggil juga?" ia bertanya kenapa dirinya disuruh ke ruang OSIS pada saat pulang sekolah.

"Yah~ Ini aku yang memutuskannya sih, dan semuanya juga setuju." Naruto menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal, disertai dengan palingan wajah yang tidak menatap Hinata.

"Memang lebih baik kalau semua pihak setuju," Sai yang sibuk melukis pun angkat bicara, ini hanya sebagai pendukung kata-kata Naruto. Setelah itu, ia kembali melanjutkan acara melukisnya.

"Ngork-gork." Shikamaru terlihat tidur di sofa, Hinata tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Anggota OSIS terlihat tidak memiliki pekerjaan apapun, kerjaannya hanya main-main saja.

Melihat Naruto yang senyum-senyum aneh padanya, perasaan Hinata jadi tidak enak. Apa setelah ini Naruto akan memberitahukan apa tujuannya? Kenapa memanggil Hinata disaat pulang? Hinata yang penasaran, menunggu kata-kata dari Naruto.

"Temani kami sampai kami pulang ya?"

'Eh? Belum boleh pulang dong?!'

Padahal Hinata sudah menunggu saat-saat pulang cepat seperti ini.

::

::

Tak ada kerjaan, Hinata tidak tahu mau melakukan apa. Ia hanya melihat Naruto yang sibuk pada laptopnya, Sasuke yang melamun didekat jendela, Kiba yang sibuk main ponselnya sambil makan roti, Shikamaru yang masih saja tidur, dan Sai yang masih melanjutkan acara melukisnya. Hinata melihat ada alat-alat kebersihan, daripada diam ia memilih untuk bersih-bersih saja.

Ada sapu, pel, kemoceng, dan alat pembersih kaca. Sudah pasti yang duluan membersihkan kaca, ia berdiri dan mengambil lap beserta dengan semprotannya. Ia berjalan menuju jendela, tempat dimana Sasuke sedang melamun.

"Maaf Sasuke-senpai, saya mau membersihkan kaca." izin terlebih dahulu pada Sasuke, tidak enak kalau langsung bekerja tanpa memberitahukan orangnya dulu.

"Silahkan," Sasuke pun sudah memberikan izin, ia sedikit menjauhi kaca dan tiduran di sofa satu lagi. Sepertinya ada yang dipikirkan oleh Sasuke, entah itu apa.

Hinata pun mulai acara bersih-bersihnya dari bagian kaca. Sedangkan Naruto yang sudah selesai pada kerjaannya langsung menutup laptop. Ia menopang dagunya, ia sedang memikirkan hal yang selama ini dipercaya olehnya.

"Sejak dulu aku selalu memikirkan satu hal ini. Sejak kecil sampai sekarang aku masih mempercayainya. Manusia dengan sembilan nyawa kucing itu ada, tapi sampai sekarang aku belum menemukannya." gumamnya, niat Naruto hanya memikirkannya dalam hati. Tapi tanpa disadari olehnya, malah jadi terucapkan.

Hinata yang mendengarnya jadi tegang, seperti kucing yang bulunya berdiri tiba-tiba karena kaget, sampai-sampai tangannya berhenti bergerak. Tapi kalau seperti itu nanti malah dicurigai, jadi Hinata melanjutkan kegiatannya membersihkan kaca. Tenangkan hatimu Hinata, tapi kenapa hati Hinata tidak tenang juga? Apa karena kata-kata Naruto barusan? Kalau seperti ini, Hinata harus menenangkan jiwa dan pikirannya.

"Pantaslah kau tidak menemukannya, yang namanya manusia campuran kucing seperti itu memang tidak ada. Tidak mungkin ada, seperti kucing yang tidak masuk ke dalam dua belas shio karena dibodohi oleh tikus. Kamu itu seperti kucing, dibodohi oleh tikus yang diibaratkan sebagai kepercayaan mu yang tidak pernah ada itu." membalas kata-kata Naruto, Sasuke yang tadinya tiduran jadi bangkit dan duduk memperhatikan Naruto.

"Eh? Kau membaca pikiranku ya Teme?" tanya Naruto kaget, masa pikirannya dapat dibaca oleh Sasuke. Sampai-sampai Sasuke dapat membalas kata-kata Naruto. Tapi kok rasanya kesal ya? Apa yang diucapkan oleh Sasuke tadi?

"Siapa yang baca pikiranmu, orang kau bergumam sendiri." ucap Sasuke dengan malas. Tidak mau berurusan dengan Naruto lagi, ia kembali ke sofa untuk segera tidur.

Sedangkan Naruto berniat untuk melanjutkan pemikirannya lagi. Tapi sebelum itu terjadi, Sasuke yang belum lama menutup matanya kini membuka matanya kembali. Tanpa merubah posisinya, "Kuingatkan, manusia dengan sembilan nyawa kucing itu tidak ada. Berhentilah mengkhayal, seperti orang bodoh saja." puas mengucapkan ini, Sasuke akhirnya dapat bersantai dengan tenang.

"Argh~!" dan Naruto merasa kesal dengan kata-kata Sasuke barusan. Meski hal ini sering terjadi, tapi tetap tidak dapat menghilangkan rasa kesal yang ada.

"Tenang-tenang~" Sai mencoba menenangkan Naruto, karena keberadaannya yang paling dekat dengan Naruto. Tugas orang yang berada dekat dengan orang yang lagi marah adalah, ya menenangkannya.

"Hoaaam~" gantian, sekarang Shikamaru bangun. Bagaimana ia bisa tidur pulas kalau berisik seperti itu? "Tapi katanya ada lho," meski tidak terlalu mempercayainya, tapi Shikamaru pernah mendapatkan informasi yang mengatakan bahwa manusia dengan sembilan nyawa kucing itu ada. Entah informasi dari mana, atau mungkin informasi di dalam mimpi.

"Lho? Hinata-chan kenapa? Kok gemetaran seperti itu?" tanya Kiba saat melihat Hinata yang gemetaran, mungkinkah Hinata melihat hal yang menyeramkan dari balik jendela? Misalnya seperti hantu yang duduk di atas pohon?

"Maaf~" dengan sedikit menitikkan air mata, Hinata menangis karena takut mendengar pembicaraan semuanya. Mereka semua membicarakan manusia dengan sembilan nyawa kucing. Apalagi Sasuke yang bilang kalau itu tidak ada, sama saja menganggap kalau keberadaan Hinata itu tidak ada. Tapi mau diapakan lagi? Sasuke 'kan tidak mengetahui apa-apa.

"Hei? Apa yang sudah kalian ributkan membuat Hinata-chan jadi takut tuh!" omel Kiba, ia tidak suka melihat air mata yang keluar itu. Rasanya mau ia menghapus air mata itu menggunakan tangannya.

"Sudah cukup! Aku tidak peduli dengan pendapat kalian semua. Aku keluar!" berdiri dari duduknya, mendebrak meja, keluar dari ruangan dengan cepat, dan membanting pintu. Itulah yang dilakukan Naruto setelah marah-marah tidak jelas.

Sasuke batal tidur, ia tidak bisa tidur setelah kejadian ini. Ia yakin dengan pemikirannya sendiri, "Aku yakin Naruto tidak akan pernah menemukan manusia dengan sembilan nyawa kucing. Padahal sudah kuperingatkan," katanya kesal.

"Hm.. Kenapa begitu? Aku merasakan hal yang sama dengan Naruto kok." Kiba menusukkan sedotan pada minumannya, dan minum karena merasa haus.

"Maksudmu?"

"Manusia dengan sembilan nyawa kucing itu ada," katanya mengangkat satu jarinya, dan menyengir saking percaya dirinya.

"Seyakin apa kau?"

Kiba melihat Hinata sebentar, dan kembali melihat ke arah teman-temannya. "Penciumanku tidak pernah salah," jawabnya dan melanjutkan meminum minumannya. Ia tidak berniat melanjutkan kata-katanya, sepertinya sudah cukup sampai sini. Bisa gawat kalau sampai kelepasan bicara.

Hinata tidak mendengarkan suara-suara setelah Naruto keluar. Ia memikirkan hal yang terlalu membuatnya fokus, ini tidak boleh dibiarkan. Naruto pasti sangat terpuruk, Hinata harus menghiburnya. "Para senpai! Saya izin keluar dulu ya," dengan segera Hinata meletakkan alat-alat yang ada di tangannya. Keluar dari ruangan tersebut untuk menyusul Naruto.

Belum beberapa detik, Hinata kembali lagi. Ia menghampiri Sai dengan sedikit malu-malu, "Sai-senpai, boleh minta tanda tangan?" tanya Hinata menyodorkan secarik kertas dan bolpoin yang entah didapatnya dari mana.

"Permintaan yang tulus tidak dapat ditolak, tentu saja boleh." Sai mengambil kertas dan bolpoin tersebut, dan dengan kelihaiannya ia menghias kertas kosong itu dengan tanda tangannya. "Untuk siapa?" tanyanya kemudian, karena ia yakin yang minta tanda tangan bukan Hinata.

"Ino Yamanaka," jawab Hinata.

"Ino Yamanaka?"

"Yang teriak seorang diri di acara penyabutan, seseorang yang bilang senpai keren." jelas Hinata, untung Hinata dapat menemukan cara agar Sai tahu siapa orang yang dimaksud. Memang saat itu Ino terlihat mencolok sekali karena berteriak seorang diri.

"Oh~" setelah mendapatkan nama tujuan, Sai langsung menulis untuk Ino di bagian pinggirnya. Kemudian diberikannya kertas tanda tangan itu pada Hinata.

Hinata menerimanya dengan sangat senang, "Terima kasih," dengan begini ia bisa memberikan tanda tangan ini pada Ino besok. Ino tidak perlu menunggu lama, senang juga dapat berguna untuk teman.

Selesai itu, ia keluar ruangan. Sekarang waktunya menggunakan penciumannya untuk mencari keberadaan Naruto. Aroma tubuh Naruto sangat dikenali oleh Hinata, karena tadi pagi saat di bus mereka tabrakan. Jadi aroma tubuh Naruto melekat dan tidak mudah untuk dilupakan. Setelah melewati hari-hari ini, mungkin Naruto tidak ingat dengan Hinata. Padahal pertama kali bertemu di dalam bus, tapi Naruto mengingatnya kalau mereka pertama kali bertemu di aula penyambutan murid baru.

"Dapat," Hinata sudah menemukan aroma tubuh Naruto, sisa menelusiri dimana keberadaannya. Melewati lorong sempit, "Ini tempat apa ya?" tempat yang dipenuhi pepohonan rindang.

Ia menemukannya~

"Naruto-senpai?" tidak berani mendekat, Hinata sembunyi dibalik pohon. Melihat Naruto yang merenung, ditemani dengan burung-burung yang hinggap di sekitarnya.

'Di dunia ini, tidak ada yang namanya manusia dengan sembilan nyawa kucing. Sebaiknya kau menyerah untuk mencarinya,' kata-kata ini, membuatnya merenung. Di sebuah taman kecil yang sangat indah, taman yang hanya diketahui oleh Naruto.

"Apa sebaiknya aku menyerah saja?"

Perasaan lelah yang selalu menghadapi ketidakpercayaan orang-orang sekitar terhadapnya. Manusia dengan sembilan nyawa kucing itu tidak ada, menyerah untuk mencarinya, karena tidak akan pernah menemukannya, berhentilah menjadi orang bodoh. Lelah sudah ia menghadapinya, kalau seperti ini terus bisa-bisa kepercayaannya akan memudar. Tapi tidak semudah itu, 'kan?

"Sudah dua belas tahun ya? Lama juga," ia menjatuhkan dirinya pada rerumputan, tiduran dan melihat langit.

Sudah sangat lama Naruto mempercayai hal itu, dari ia berumur empat tahun sampai sekarang. Diakhir hidup kedua orang tuanya, ia mendapatkan sebuah pesan. 'Percayalah, bahwa apa yang kau percayai itu, ada. Manusia dengan sembilan nyawa kucing memang ada keberadaannya. Jangan pernah mengelak apa yang kau percayai, karena kau akan menyesal.' pesan terakhir dari orang tuanya, begitu terngiang di dalam pikirannya.

'Ayah dan ibu, percaya padaku.'

"Haa~" ia menutup matanya, mencoba menenangkan dirinya. Setidaknya, masih ada yang percaya pada dirinya, meski mereka sudah tidak ada di dunia.

Janganlah menyerah~

Hinata menatap Naruto khawatir, "Kenapa aku dapat merasakan kesedihannya?" ia dapat merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Naruto. Tatapan Naruto benar-benar membuatnya tidak tenang.

Deg!

"Perasaan sedih karena tidak dipercayai oleh semua orang. Sama seperti rasa saat kita tidak dianggap keberadaannya oleh semua orang."

Deg!

"Kenapa begitu menyedihkan?"

Deg!

Wush~ Angin berhembus dengan kencang, ini membuat Naruto membuka matanya. Ia merasakan angin yang berbeda dari biasanya, terasa sangat tidak nyaman. Kenapa ya? Apa karena pengaruh perasaannya yang lagi buruk?

Disisi lain, "Lho? Kenapa aku berubah menjadi kucing?" tanpa Hinata sadari, bahwa dirinya telah berubah menjadi kucing. Kenapa? Padahal ia tidak merasakan debaran itu. Ia tidak menyadarinya, debaran itu terjadi karena memikirkan Naruto.

"Aku... Lho? Kenapa ada kucing di sekolah?"

Hinata dikagetkan dengan munculnya Naruto tiba-tiba di hadapannya. Berniat kabur, tapi sudah duluan ditangkap oleh Naruto. "Lucu amat, pakai seragam sekolah ini juga. Betina ya?" berbagai ucapan dikeluarkan Naruto, dan itu membuat Hinata tidak tenang.

"Mungkin milik kepala sekolah, aku bawa ke kepala sekolah deh." Naruto melangkahkan kakinya, ia berniat menyerahkan kucing itu pada kepala sekolah. Karena kucingnya menggunakan seragam, jadi kemungkinan saja ini kucing milik sekolah.

'Eh? Gimana nih?!' Hinata panik, tidak mungkin Hinata bicara dalam sosoknya sebagai kucing. "Meoong~!" dan untuk pertama kalinya, Hinata mengeong. Ia ngeberontak minta dilepaskan oleh Naruto, ia tidak mau ketahuan kalau ia bukan kucing milik sekolah.

Saat ini Naruto menganggap bahwa Hinata dalam sosok kucing adalah kucing peliharaan sekolah. Kalau dibawa ke ruang kepala sekolah dan kepala sekolah bilang 'bukan', sudah pasti akan membuat Naruto curiga.

"Lho? Tidak mau ya? Kalau begitu mau bersama denganku?" tawar Naruto, ada perasaan malas untuk jalan ke ruang kepala sekolah. Lagian kalau kesana, pasti orang yang dituju selalu tidak ada. Lebih baik santai, akan lebih enak kalau ada yang menemani.

"Meeong~" meongan ini memiliki arti, 'Mau sangat, daripada dibawa ke kepala sekolah.' dan tidak dapat diucapkan Hinata secara langsung. Semoga pesannya dapat tersampaikan pada Naruto, semoga Naruto mengerti apa yang dimaksudkan oleh Hinata.

Terpasang wajah bingung dari Naruto, "Haha, kau ini jujur banget ya." dan tertawa setelahnya. Naruto mengerti ya? Syukurlah kalau begitu, dengan begini semuanya akan aman-aman saja.

Naruto duduk kembali, bersandar pada pohon rindang yang tidak jauh dari sana. Mengangkat Hinata dalam sosok kucing menggunakan kedua tangannya. Mengarahkan wajah kucing ke hadapannya, "Hei, kucing. Kau datangnya dari mana? Kok bisa sampai sini sih?" tanyanya serius. Selama ia berada di tempat ini, belum ada satupun orang atau hewan yang sampai ke tempat ini. Hanya burung-burung saja yang menghampirinya kalau ada waktu.

Naruto melihat ekor yang goyang-goyang menunjuk arah, "Oh, kau datang dari sebelah sana ya. Sama sepertiku dong." lanjutnya. "Kau peliharaannya kepala sekolah ya?" Naruto kembali bertanya, dengan cepat Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Lho? Bukan ya? Terus dapat seragam sekolah dapat dari mana?" Naruto berpikir, dan diam sementara. "Kok rasanya kucing ini dapat mengerti apa yang kukatakan ya?" tanyanya tidak percaya, "Kami bicara? Nyambung?" ia masih saja syok dengan apa yang dilakukan olehnya. Bicara dengan kucing, sudah begitu pembicaraan mereka nyambung. Apa ini karena pengaruh hal yang dipercayai olehnya ya?

Naruto melihat kucing yang dipegangnya, pancaran sinar mata kucing itu sama seperti mata Hinata. Tapi kucing ini tidak melakukan aktivitas apa-apa ya? Kalau kucing tersebut ada kerjaan, berarti Naruto sudah mengacaukan jadwal kucing dong. "Maaf nih kucing, aku jadi ganggu waktu santaimu." jadinya secepat mungkin Naruto minta maaf pada kucing.

"Meong!"

'Tidak sama sekali kok! Tapi mau sampai kapan aku digantung seperti ini?' batin Hinata, ia tidak betah digantung seperti itu. Rasanya tidak ada pijakan dan seperti melayang itu tidak enak.

Mengerti maksud si kucing, Naruto meletakkan kucing itu di atas pangkuannya. "Kau memang kucing yang menarik." ia mengelus-elus kepala kucing, dan menopang kepalanya dengan menyilangkan tangannya di belakang kepalanya. "Hei, kucing." panggil Naruto, "Mau dengar ceritaku gak?" ia menatap langit yang dipenuhi dengan awan.

"Meong?"

Cerita apa ya? Hinata penasaran, sepertinya ia juga sudah terbiasa mengeong. Ia menanti cerita Naruto, karena dengan bercerita, maka beban seseorang akan berkurang. Daripada dipendam sendirian, itu hanya akan membuat menderita saja. Disini Hinata merasa sedikit beruntung dapat berubah menjadi kucing karena dapat menghilangkan beban orang dengan bercerita padanya.

"Kamu memiliki berapa nyawa?"

'Itu bukan cerita!' dan Hinata syok di tempat, Naruto bukannya mau bercerita, tapi itu hanya bertanya. Dan lagi-lagi, berhubungan dengan sembilan nyawa kucing.

Mungkin karena melihat kucing di hadapannya kaku, Naruto jadi tersadar dan tertawa. "Hahaha, mana bisa jawab ya. Aku ini memang bodoh," dan diakhiri dengan wajah murungnya.

Diam~ Hinata tidak suka melihat ekspresi seperti itu. Kenapa ya? Senyuman yang waktu itu kemana? Senyuman yang bersinar bagaikan mentari, itu sangat ingin dilihatnya. Sinar yang memudar, harus segera dikembalikan sebelum hilang selamanya.

"Kucing, aku mau tidur dulu ya. Kalau sudah sore atau mau hujan, bangunkan aku ya. Bercanda, kau boleh pergi sesuka hatimu."

Naruto pun tidur dengan kesedihan yang masih berbekas di dalam dirinya. Hinata melihat wajah Naruto, sisi mana yang membuatnya terlihat seperti mentari kalau tersenyum? Lalu, kenapa Hinata selalu menantikan senyuman itu? Kenapa ia tidak suka melihat Naruto bersedih? Masih hari pertama baginya untuk mengenal Naruto, tapi rasanya... sudah sangat lama ia mengenalnya. Bersama dengannya, tidak ingin jauh.

::

::

Kwak, kwak. Mendengar suara burung gagak, Hinata jadi terbangun. Kenapa di tempat ini ada burung gagak? Ia melihat langit, matahari sedang berjalan ke arah barat. Ia harus segera pulang sebelum jam enam sore. Kalau tidak ia akan berubah menjadi kucing di jalanan, dan itu gawat. Lagian kenapa dirinya ikutan tertidur sih?

"Naruto-senpai, bangun."

Eh? Ini apa ya? Kok tangannya. Hinata melihat tangannya lekat-lekat, 'Aku sudah kembali jadi manusia?' yang dilihatnya adalah tangan manusia. Hinata sudah kembali menjadi manusia, gimana dong?! Malah Naruto belum bangun, padahal sudah sore begini. Tapi 'kan sebelumnya Naruto bertemu dengan Hinata yang menjadi kucing. Kalau tiba-tiba Naruto melihat Hinata yang manusia setelah bangun, apa tidak akan curiga?

Sebagai adik kelas yang baik, Hinata tetap harus membangunkan Naruto. Tidak peduli dengan sosoknya sebagai manusia, meski sosok manusianya tidak terlalu berani seperti sosoknya sebagai kucing, ia harus tetap mencobanya. "Naruto-senpai, sekarang sudah sore. Ayo bangun," ia menepuk-nepuk badan Naruto.

Dengan perlahan Naruto membuka matanya, "Eh? Sudah sore ya? Jam empat," ia melihat jam tangannya, kemudian dikagetkan dengan sosok Hinata yang sudah ada di depannya. "Hinata?! Kenapa kau ada di tempat ini?" tanyanya kaget, ia mencari-cari sosok kucing yang tadi bersama dengannya, sepertinya kucing itu sudah pergi.

"Eh? Aku tersesat lalu sampai di tempat ini. Terus aku melihat Naruto-senpai, jadinya..." entah ini kebohongan yang keberapa kali, tapi Hinata tidak ada pilihan lain. Lebih baik berbohong daripada kasih tahu kalau ia mengikuti bau Naruto dan sampai sini, terus ia adalah sosok kucing yang tadi menemaninya.

Untuk orang tersesat, tidak aneh kalau sampai di tempat ini. Maklumi saja, karena apapun bisa terjadi kalau lagi tersesat. Sebenarnya Naruto menemukan tempat ini juga karena hasil tersesat, saat hari pertama kalinya Naruto menginjakkan kaki di sekolah ini. "Sudahlah, ayo kembali ke ruang OSIS. Habis itu baru pulang," tanpa melakukan apapun, Naruto langsung jalan. Tentu saja melewati lorong sempit, karena hanya itu jalan satu-satunya. Memang ia sedikit heran kenapa Hinata tersesat sampai mau melewati lorong sempit, tapi biarkanlah saja.

Jalan, Naruto melihat Hinata yang memandang lurus ke depan. Kemudian memandang depan kembali, "Sebenarnya tempat itu hanya aku yang mengetahuinya." dan ini adalah hal yang baru diketahui oleh Hinata. Memang aneh sih tempat seindah itu harus melewati lorong sempit. Sudah pasti itu tempat yang rahasia~

"Eh? Begitu ya?" tidak tahu mau bilang apa, jadinya Hinata membalasnya seperti itu. Lagian Hinata penasaran sih, ia penasaran dengan yang Naruto lakukan setelah ia marah-marah seperti itu.

"Yah~ Sekarang bukan tempat rahasia aku lagi sih,"

Merasa bersalah, "Maaf..." Hinata meminta maaf. Tempat rahasia milik pribadi Naruto jadi diketahui olehnya. Gimana ya? Tempat yang susah payah ditemukan, jadi tidak menjadi rahasia lagi.

"Bukan itu maksudku, tapi sekarang tempat itu menjadi rahasia kita berdua lho. Kita berdua!" menekankan pada kata 'kita berdua', seakan Naruto senang dengan keadaan seperti ini. Memang itu kenyataannya sih~

"Eh?"

"Kalau perasaanmu sedih atau senang, datanglah kesana. Setiap istirahat kedua, aku selalu ada disana. Kamu boleh menceritakan keluh kesahmu padaku, ini tiket spesial yang hanya kuberikan padamu lho. Sebagai ketua, aku memberikan hadiah sambutan atas kedatangan itu untukmu. Selamat datang Hinata," dengan senyuman yang tidak terlewatkan, Naruto mengucapkan selamat datang untuk Hinata. Sudah begitu memberikan hadiah yang begitu indah, sebuah tempat hanya milik berdua.

Deg!

"Ah, terima kasih."

Kenapa ya? Hati ini rasanya tidak dapat tenang melihat senyumannya. Seperti ada yang bergejolak, tapi ia tidak tahu apa itu.

"Nanti akan kuperkenalkan pada seekor kucing," lanjut Naruto, ia tidak mau merahasiakan hal ini juga. Ternyata bukan berdua saja, tapi bertiga dengan kucing tadi.

"Kucing?" pura-pura bertanya, Hinata tidak mau ketahuan kalau ia kucing yang dimaksud Naruto.

"Ya, baru tadi siang aku bertemu dengannya. Dia kucing yang sangat manis lho! Sudah begitu pakai baju seragam sekolah, dapat dari mana coba itu ya. Terus saat aku bicara dengannya, entah kenapa rasanya yang kami bicarakan itu nyambung gitu lho. Tapi saat aku bangun tadi, dia sudah tidak ada. Mungkin tadi dia sudah kembali ke tempatnya." cerita Naruto panjang lebar, ia melihat wajah Hinata sebentar. "Ternyata benar-benar mirip, kucingnya mirip sepertimu." lanjutnya.

Hinata memalingkan wajah, "Begitu ya?" tanya Hinata malu-malu. Naruto bilang kucing itu sangat manis, 'kan? Hinata jadi salah tingkah karena dibilang seperti itu. Kenapa ia merasa senang hanya karena dibilang seperti itu?

Naruto melihat Hinata secara seksama, kemudian memalingkan wajahnya. Melihat wajah Hinata yang malu-malu, rasanya ia baru sadar dengan apa yang diucapkannya sendiri. Ia menggaruk-garuk pipinya, "Sepertinya aku sudah menemukan nama yang pas untuknya." dan ia sudah menemukan nama yang pas untuk kucing itu.

"Apa?" tanya Hinata penasaran.

"Itu rahasia!"

Sesuatu yang mirip, harus selalu diabadikan, 'kan? Hinata melihat Naruto heran, kenapa harus dirahasiakan? Nama bukanlah hal yang harus dirahasiakan, karena yang memberikan nama itu sendiri sudah memikirkan kita begitu dalam.

"Yang jelas, nama ini sangat cocok untuknya. Terinspirasi dari seorang gadis, yang baru-baru ini membuatku tertarik padanya."

Perasaan yang mulai tumbuh, sebentar lagi akan disadari olehnya.

::

::

To Be Continue

::

::

Chapter 3 update! Diriku sangat minta maaf atas keterlambatan update yang sangat lama seperti ini. Sekarang diriku sangat disibukkan dengan pekerjaan yang menghampiri. Maaf juga gak bisa balas review kalian satu per satu. Tapi terima kasih sudah membaca fic yang sangat aneh ini. Untuk chapter berikutnya, kuusahakan untuk update lebih cepat.

Ttd,

Haruna Hajime

5 Maret 2016