"Ngomong-ngomong, kok bisa tersesat sampai ke tempat itu?" Naruto masih penasaran kenapa Hinata bisa sampai ke tempat itu. Padahal jalanannya sangat tidak memungkinkan untuk seorang perempuan, lorong sempit.

"Eh?"

Tidak mengerti, Naruto menjelaskannya lebih terperinci. "Maksudku, kau tipe orang yang dapat melewati apapun kalau tersesat ya?" dan inilah misteri yang tidak akan pernah terjawab.

::

:: It's a Wonderful Cat Life ::

::

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime

::

Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

::

Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.

::

Genre : Romance

::

Rated : T

::

::

Selamat membaca~!

::

::

::

"Hee? Kalian semua masih ada disini?!"

Naruto kaget dengan pemandangan yang ada di depan matanya, semua temannya masih ada di dalam ruangan. Tidak ada yang bergerak, dan masih melakukan hal yang sama seperti saat mereka berpisah.

Kiba yang tadi sedang santai, sekarang melompat dan berlari ke arah Naruto. "Seharusnya kami yang bertanya! Kau kemana saja!? Kenapa ada Hinata-chan juga!?" tanyanya kesal. Bagaimana tidak kesal? Sudah ditunggu dari tadi, malah bertanya hal yang menjengkelkan. Sudah pasti akan ditunggu lah! Meski beda arah, mereka 'kan satu anggota.

"Eh? Begitu ya? Apakah harus diceritakan?" Naruto melihat Hinata, mungkin dengan menceritakan semuanya, apa yang dilakukan Hinata dan dirinya lakukan saat menghilang.

"Kalau itu..." Hinata memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup melihat Naruto. Kalau senyuman itu keluar, bisa-bisa ia berubah menjadi kucing. Padahal kemarin malam, ia yakin tidak akan berdebar. Tapi ternyata, baru hari pertama saja sudah kejadian. Maafkan Hinata yang sudah menganggap enteng kehidupan SMA.

Kiba yang melihat ekspresi Hinata jadi salah paham, "Apa yang kalian lakukan!?" teriaknya frustasi. Ia memegang kedua pundak Naruto dan digoyang-goyangkannya ke depan dan ke belakang.

"Kalau ada masalah, harus diselesaikan dengan kepala dingin." Sai tidak bisa diam saja melihat adegan di depannya. Melihat adegan pertarungan kecil itu, ia sangat tidak betah. Yang dibutuhkannya hanyalah kehidupan yang damai sejahtera.

"Merepotkan," Shikamaru mengambil tasnya, "Pulang saja gih." katanya ketus. Ia sudah kesal karena dibuat menunggu lama-lama, jatah tidurnya jadi berkurang. Meski tahu akan seperti itu, ia masih saja menunggu.

Tapi ada hal yang membuat Hinata penasaran dari tadi, sepertinya anggota OSIS tidak memiliki pekerjaan khusus. Mereka hanya melakukan hal-hal yang disukainya dan keasyikan sendiri. Tidak belajar di kelasnya masing-masing, dan hanya berada di ruang OSIS. Mungkin karena masih semester awal, makanya seperti itu. Kalau ada waktu pas, Hinata akan menanyakannya.

Sasuke pun sudah siap untuk pulang, ia mendekati Naruto. "Kau baik-baik saja?" tanyanya datar. Sasuke berpikir, setelah kejadian tadi kemungkinan saja Naruto melakukan hal buruk.

"Apa maksudmu bertanya seperti itu?" tanya Naruto kesal. Memangnya Naruto orang yang akan bunuh diri segampang itu hanya karena hal sepele? "Kenapa kalian semua masih ada di sini?" tanyanya kemudian. Seharusnya tanpa ditanya juga, Naruto sudah tahu jawabannya.

"Pakai nanya segala lagi! Sudah jelas kami menunggumu lah!" seru Kiba kesal, disini Kiba adalah orang yang merasa paling kesal. Kerutannya sudah sangat banyak, dan siap untuk menghajar Naruto.

"Baik banget," dan apa yang didapatkan semuanya? Kata-kata tidak ikhlas dari Naruto. Kesal tidak? Sudah menunggu berjam-jam, Naruto malah enak-enakkan bermesraan dengan Hinata. Meski mereka semua tidak yakin dengan pemikiran itu sih.

Lupakan rasa kesal, karena ada seorang perempuan yang kelihatan bingung dengan tingkah semuanya. Kiba mendekati Hinata, abaikan saja Naruto yang sudah membuatnya kesal. "Hinata-chan pulang ke bagian mana?" tanyanya girang. Kalau searah 'kan bisa pulang bareng, selama ini ia selalu pulang sendirian karena tidak ada teman searah.

"Utara," jawab Hinata.

"Yah~ Beda arah, aku timur." pupus sudah harapan Kiba untuk mendapatkan teman pulang.

"Wah~ tidak disangka kita sama Hinata, nanti pulang bareng ya." Naruto merasa menang, karena ia lebih unggul dari yang lainnya. Hanya Naruto gitu lho yang searah dengan Hinata, tidak ada pengganggu.

'Padahal tadi pagi satu bus,' sedangkan Hinata bingung kenapa Naruto berkata seperti itu. Naruto itu, sepertinya tidak ingat dengan orang yang tadi ditabraknya di bus.

"Memang yang lainnya apa?" tanya Hinata. Kalau yang lainnya searah, kenapa tidak bilang seperti Naruto juga. Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja biasanya memang seperti itu 'kan.

"Barat," jawab Sasuke malas-malasan. Kalau orang bertanya, sudah pasti harus dijawab. Meski berbicara daerah tinggal adalah hal yang tidak terlalu penting baginya.

'Sama seperti Sakura-chan,'

Mungkin akan menyenangkan kalau Sakura memiliki rasa suka terhadap Sasuke. Karena Ino tertarik dengan Sai, dan Sai itu lumayan mirip dengan Sasuke. Sakura dan Ino pernah bilang kalau mau menyukai orang yang hampir sama. Bukankah Sasuke dan Sai adalah kandidat yang pas?

"Selatan," jawab Sai dan Shikamaru secara bersamaan.

'Wah, Ino beruntung. Sai-senpai juga di selatan, siapa tahu bisa bertemu saat pergi atau pulang sekolah.'

"Dari anggota OSIS, hanya Sai dan Shikamaru saja yang searah. Curang, 'kan?" merasa iri dengan Sai dan Shikamaru, Kiba kembali mengucapkan kalimat yang sering diucapkan olehnya. Bahkan Sai dan Shikamaru sebagai orang yang dituju pun, merasa kesal.

"Hinata, jadi kita pulang sama-sama ya. Tidak keberatan, 'kan?" Hinata menggeleng menanggapi pertanyaan Naruto. "Bagus deh kalau begitu," dengan lega Naruto menghela napasnya. Kalau Hinata menolak ajakannya, bisa-bisa ia diledek karena tawarannya ditolak.

"Kalau begitu ayo pulang," tidak betah dengan keadaan ini, Shikamaru mengajak semuanya untuk segera pulang. Ia menguap, rasa kantuknya masih begitu besar. Padahal kalau berurusan dengan penyusunan strategi, dia yang paling semangat dan antusias.

"Bersama-sama memang lebih menyenangkan," dengan santai Sai keluar duluan, sebenarnya Sai adalah orang yang paling tidak sabar untuk pulang. Masih banyak kerjaan di rumahnya, yaitu melukis.

"Hn," Sasuke mengikuti Sai dari belakang, mengabaikan orang-orang yang masih ada di dalam ruangan.

"Aku lapar~" Kiba mengeluh, ia menepuk-nepuk perutnya sambil berjalan keluar ruangan. Padahal ia sudah banyak makan, tapi rasa lapar masih terasa. Ia harus menunggu sampai ia sampai ke rumah, pasti makanan sudah disediakan oleh ibunya.

Naruto melihat Hinata dengan sedikit tertawa, "Maklumi mereka ya, mereka memang seperti itu." katanya berusaha agar teman-temannya tidak dipandang aneh. Karena itulah mereka, orang yang tidak biasa.

Yah~ Pertama Hinata datang juga, ia memang sudah memakluminya. Karena setiap orang memiliki karakter masing-masing. Kalau semua orang sama, dunia ini pasti akan membosankan. 'Rasanya, bersama dengan mereka tidak buruk juga.' apalagi Hinata adalah orang yang sangat menyukai hal yang menarik, tentu saja selain dirinya sih.

Dengan langkah yang mulai dipercepat, Naruto mengunci pintu. Kunci ruang OSIS Naruto yang pegang, karena dia adalah ketua. Selain itu, Naruto orang yang seenaknya memutuskan pendapat tanpa berpikir terlebih dahulu. Rasanya Hinata dapat memakluminya, tapi ada apa dengan debaran hatinya ya?

'Kalau bersama Naruto-senpai, rasanya debaran hati ini ada yang aneh. Disaat-saat tertentu, maksudku saat melihat senyumannya yang itu, rasanya ada rasa bergejolak. Harus kudiskusikan dengan ayah,'

::

::

Di tempat perpisahan, maksudnya di depan gerbang sekolah.

"Hinata-chan, hati-hati dengannya ya!" dari kejauhan Kiba memperingati Hinata, ia melambaikan tangannya. Kalian pasti sudah tahu apa yang harus Hinata waspadai. Setelah puas, ia berjalan dan menghilang dari pandangan.

"Dimanapun kita berada, dan dengan siapapun juga, kita harus tetap waspada." Sai juga ikut-ikutan memperingati Hinata, ternyata ia juga kurang percaya dengan Naruto. Bisa saja saat semuanya tidak ada, Naruto melakukan hal buruk pada Hinata. Ya, mungkin saja.

"Sudah ya." Shikamaru yang tidak mau ambil repot, langsung jalan tanpa memperingati Hinata. Ia paling malas melakukan hal yang buang-buang waktu saja. Buat apa memperingati Hinata yang sudah pasti akan aman? Merepotkan.

"Hn," Sasuke pun begitu, ia berjalan ke arahnya sendiri. Tanpa memberikan salam dan tanpa berpamitan, ia telah hilang dari pandangan.

"Apa maksud kalian, ha?!" sebenarnya Naruto sedikit telat marahnya, Kiba dan Sasuke yang sudah hilang malah tidak kena marah. "Hinata, abaikan saja mereka." katanya tertawa-tawa aneh, ia heran dengan pandangan teman-temannya sendiri. Memangnya dirinya berbahaya ya? Dirinya bukan hewan buas kali, yang akan langsung menyerang. Perlu proses lah~

"Ya sudah, sampai bertemu besok." Sai yang masih ada didekat Naruto dan Hinata pun berpamitan dan sedikit berlari untuk menyusul Shikamaru yang sudah mulai jauh.

"Sai, kalau sudah sampai tempatku turun, nanti bangunkan ya."

"Oke,"

Sai dan Shikamaru pun hilang dari pandangan, sekarang tersisa dua orang. Naruto melihat Hinata, "Mau pulang sekarang?" tanyanya. Tidak baik membuat orang lama menunggu, apalagi menunggu hal yang tidak berguna.

"Iya,"

Langsung mereka berjalan ke arah utara, "Biasanya naik apa?" tapi sebelum itu harus bertanya dulu, karena kota ini memiliki banyak sekali jenis transportasi umum.

Hinata melihat Naruto sebentar, dan kembali melihat depan. "Bus," katanya singkat. Padahal tadi pagi satu bus, sudah begitu sempat berbicara. Padahal walau sebentar, Hinata tidak dapat melupakan senyuman itu. Senyuman yang memberinya semangat, tarikan tangannya, dan diakhir pertemuan mereka saat sampai di sekolah.

Sebenarnya kenapa dengan senyuman itu sih? Kenapa Hinata sangat senang melihatnya?

"Kalau begitu kita sama, ayo jalan ke halte." setelah mendapatkan jawaban, Naruto langsung mengajak Hinata untuk jalan ke halte.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, dari sekolah menuju halte memerlukan waktu sepuluh menit. Tapi kalau melewati jalan pintas, hanya memerlukan waktu lima menit. Kalau diingat-ingat kembali, Naruto banyak mengetahui sesuatu yang menarik. Meski melewati lorong sempit atau jalan tikus, tapi ujung-ujungnya adalah tempat yang mau dituju. Kali ini mereka tidak melewati jalan pintas, karena 'kan sekarang tidak buru-buru.

Sampai di halte, sudah ada bus yang datang. Untung tidak ketinggalan bus, kalau tidak bisa menunggu lima menit dulu untuk kedatangan bus yang berikutnya. Untung yang berikutnya bus tidak penuh, jadi masih mendapatkan tempat duduk. Mereka duduk di bangku depan, kalau belakang sudah penuh. Padahal biasanya Naruto duduk di paling belakang, karena lebih nyaman untuk tidur.

Naruto melihat Hinata, "Berapa menit dari sekolah ke rumah atau kebalikannya?" tanyanya. Dari pertanyaan ini saja, akan memberikan jawaban tentang rumah siapa yang paling jauh.

"Lima belas menit," jawab Hinata singkat, padat, dan jelas. Dalam suasana seperti ini, Hinata tidak tahu apa yang harus dilakukan olehnya. Ia duduk bersebelahan dengan Naruto. Kadang tidak sengaja bahu atau kaki mereka berhantupan, dan itu membuatnya sedikit grogi. Ini pengalaman pertamanya berhadapan langsung dengan seorang pria.

"Berarti kamu turun duluan ya? Kalau aku dua puluh menit," Naruto senyum-senyum sendiri, sepertinya ia tidak bisa diam. Padahal di dalam bus, suara Naruto bisa saja mengganggu ketenangan orang yang berada disana.

Tidak mendapatkan respon dari Hinata, Naruto tidak tenang. Mereka memang baru bertemu dan berkenalan hari ini, jadi mungkin belum dapat dipercaya. Mereka juga belum terlalu akrab, tidak mungkin bisa akrab hanya dalam waktu beberapa jam. Selain itu wajahnya juga tidak terlihat seperti orang baik. Tapi tanpa ada hal ini, tidak mungkin ada yang namanya persahabatan. Awalnya memang begini, tapi diakhirnya pasti akan menyenangkan. Jadi semuanya itu, memang memerlukan waktu.

"Hmm~" karena Hinata tidak bicara, Naruto jadi berpikir. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah bagi murid-murid baru. Tahun kemarin saat ia baru menjadi murid Konoha Highschool, tidak ada yang namanya pengambilan anggota baru.

Hinata dimasukkan menjadi anggota baru The Star, tapi bukan anggota juga sih. Bisa dibilang hanya orang tambahan, ibaratkan peran pembantu kalau dalam drama. Tapi Hinata mendapatkan posisi di tengah, itu tandanya khusus. Hinata yang seorang perempuan, dikelilingi oleh laki-laki. Memang harem, mungkin itu merisaukan Hinata.

Sebagai seorang ketua yang baik, tidak mungkin ia mengambil keputusan seenaknya. Tapi hari ini, ia melakukan itu tanpa berpikir dulu. Dimana dirinya yang berkualitas, dermawan, serta memikirkan kepentingan orang lain? Seenaknya saja membuat kehidupan orang terganggu. Oke, sekarang waktu yang pas untuk membicarakannya dengan Hinata.

"Hinata, maaf nih sebelumnya. Kamu jadi mengalami hal seperti ini, padahal ini hari pertama kamu masuk sekolah." menatap lurus ke depan, Naruto menyandarkan dirinya pada bangku. Ia harus mengambil posisi yang enak sebelum dimulainya pembicaraan.

"Iya, tidak apa." meski hal ini terjadi karena ketidaksengajaan, tapi ini menyenangkan. Jadi tidak ada masalah sama sekali, karena dengan hal ini ia bisa lebih dekat dengan kakak kelas.

"Meski terasa menyenangkan, sebenarnya aku tidak mau mengubah kehidupanmu. Kehidupan SMA itu adalah kehidupan yang paling mendebarkan. Seharusnya aku tidak seenaknya mengambil keputusan." Naruto menutup matanya, "Bersenandung dengan teman, dimarahi guru bersama-sama, mengerjakan tugas, dan mungkin... jatuh cinta. Aku tidak mau merebut itu semua darimu," membayangkan kehidupan SMA yang biasa-biasa saja, itu terasa menyenangkan. Tidak seperti dirinya, ia tidak dapat melakukan hal-hal itu lagi setelah menginjak semester dua di kelas satu.

"Jadi kau boleh tidak datang ke ruang OSIS, anggap saja itu cuma kesialan di hari pertama sekolah, anggap saja keputusanku itu tidak pernah ada." meski berat mengatakannya, setidaknya Naruto sudah mengambil keputusan yang tepat. "Besok aku akan bilang ke yang lainnya." dan pasti semuanya akan mengerti.

"Eh, tapi kalau tempat rahasia kita. Kamu boleh datang kapan saja," Naruto melihat Hinata, ia tidak mau mengubah keputusannya kalau yang ini. Entah ini bisa dibilang memonopoli Hinata sendirian atau tidak, karena tempat itu hanya Hinata dan dirinya yang tahu. Matanya tertuju pada halte yang sebentar lagi akan sampai, "Itu haltemu, 'kan? Sampai bertemu besok ya~" dan ternyata sudah lima belas menit berlalu.

"Iya, terima kasih untuk hari ini." dengan perasaan yang tidak dapat dimengerti oleh Hinata, ia turun dari bus setelah bus tersebut berhenti.

Beberapa detik setelah Hinata turun, bus melaju kembali. Hinata melihat kepergian bus dengan tatapan sedih, "Kenapa ya? Rasanya aku sudah mulai bisa berbaur dengan semuanya. Tapi kenapa Naruto-senpai mengatakan itu?" ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

Padahal sudah diberikan kebebasan, ia dapat melakukan kehidupan SMA yang biasa-biasa saja. Tapi kenapa perasaannya jadi tidak enak begini ya? "Apa keberadaanku baginya hanya sebuah angin lalu?" itulah yang dipikirkan oleh Hinata. Kalau seperti ini, sama saja Hinata dianggap sebagai angin lalu.

"Padahal aku sudah merasa senang," Hinata berjalan santai, ia mengingat kejadian hari ini bersama dengan semuanya. Meski tidak ada apa-apa, tapi terasa menyenangkan. Melihat semuanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing, itu kebahagiaan tersendiri baginya. Karena melakukan sesuatu yang disukai itu, memang menyenangkan.

Tapi ada perasaan yang berbeda, rasa nyaman ketika berada dekat dengan Naruto. Berbeda dengan yang lainnya, Naruto terasa hangat. Senyumannya, tangannya yang besar dan nyaman, kebaikkan hatinya. Hinata benar-benar tidak mau berpisah dengan itu semua. Satu hari sudah merasakannya, pasti ingin selalu merasakannya. Hinata yakin, pasti yang lainnya juga mau merasakan hal seperti ini. Bukan berarti seperti apa yang dimaksudkan Ino, memiliki harem, bukan seperti itu. Tapi semua itu sudah tidak dapat dirasakan lagi, karena orangnya sendiri sudah mencabut keputusannya. Tidak dapat berbuat apa-apa, ia harus menerima semuanya. Meski ia akan kehilangan kenangan berharga selama satu hari ini.

Mulai sekarang ia harus melupakannya, kembali ke dunia nyata. Dari dulu ia juga menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.

"Jam lima~ Satu jam lagi anda akan berubah menjadi kucing." dering peringatan jam tangan Hinata berbunyi. Ini adalah salah satu penemuan Hiashi, jam yang dapat mengingatkan Hinata kalau ia akan berubah menjadi kucing. Satu jam sebelumnya peringatannya akan berbunyi, jadi kalau Hinata lupa akan ada yang mengingatkannya. Tapi selalu saja Hinata kaget dengan peringatan ini.

"Eh? Sudah jam lima? Aku harus masak sebelum berubah jadi kucing!"

::

::

"Aku pulang~"

Tepat jam lima lewat sepuluh menit, Hinata sampai di rumah. Jadi kalau dihitung-hitung, untuk sampai ke sekolah dari rumah atau sebaliknya memerlukan waktu tiga puluh lima menit. Belum dihitung kalau lagi macet, atau malah berkurang kalau berlari.

"Selamat datang, hari pertama sudah pulang sore ya." Hiashi menyambut kepulangan Hinata. Ia merasa heran kenapa Hinata bisa pulang jam segini. Padahal kalau baru pertama kali masuk, hanya sampai setengah hari saja.

Hinata meletakkan sepatunya, "Eh, itu.. Sebenarnya... ada sesuatu yang terjadi." balas Hinata. Nanti saat selesai makan, semuanya mau diceritakan Hinata dari awal hingga akhir. Tapi kalau masalah yang menjadi 'Cat' di The Star, sebaiknya jangan diberitahukan. Toh itu sudah tidak ada lagi dalam kehidupannya.

"Nanti ceritakan pada ayah ya," sebagai seorang ayah, tentu saja mau mendengarkan cerita anaknya. Begitu juga dengan Hiashi, ia sangat ingin mendengar cerita Hinata tentang kehidupannya bersekolah di hari pertama.

"Iya, tapi sebelumnya Hinata harus masak dulu." dengan terburu-buru Hinata melewati Hiashi, ia mau ke kamar dulu untuk beres-beres dan ganti baju. Beres-beresnya tidak terlalu lama, hanya menaruh tas di kursi dan ganti baju. Kalau membereskan buku nanti saja, besok pagi. Sebelum istirahat, anak-anak kelas diberikan selembaran kertas jadwal pelajaran. Buku-bukunya juga sudah diberikan, jadi besok akan benar-benar dimulai pelajaran.

Selesai ganti baju Hinata keluar dari kamar dan berlari pelan menuju dapur. Disana ia sudah disambut oleh Hiashi. "Hari ini masak menggunakan bahan-bahan ini ya," Hiashi menunjuk bahan-bahan yang sudah disediakan olehnya. Kentang, wortel, sawi, baso, dan lain-lainnya. Ternyata Hiashi lagi mau makan sup, sampai mempersiapkannya segala. "Lebihnya bisa dimakan besok untuk sarapan," katanya.

"Iya,"

"Kalau gitu ayah keluar dulu ya."

Tidak lama setelah Hiashi keluar dari dapur, Hinata mengambil celemek yang berada tepat pada gantungan yang ada di sebelah kulkas. Ia mengenakan celemek tersebut dan siap-siap untuk masak. Karena bahan-bahannya seperti itu, dan sudah pasti ia akan masak sup, ia memulainya dengan mengambil panci dan diisinya dengan air. Ia akan merebus air terlebih dahulu, dan mengupas kulit wortel, kentang, dan yang lainnya. Selesai mengupas, ia mengambil pisau untuk memotong. Saat semuanya sudah terpotong, ia memasukkan bahan-bahan itu ke dalam panci. Menunggu sebentar, kemudian ia masukkan bumbu, dan sisa menunggu matang saja.

Hinata melihat jam dinding, waktu Hinata tersisa lima belas menit lagi. Sedangkan masakannya baru matang lima belas menit juga, ia juga belum menyipakan meja makan. Jadi langsung saja ia mengambil piring, sendok, dan garpu yang langsung diletakkannya di atas meja. Kemudian ia menemui Hiashi, "Ayah, kalau aku berubah sebelum supnya matang, nanti tolong ayah yang melanjutkannya ya." Hinata meminta tolong pada Hiashi dan duduk di sofa, ikut nonton bersama.

"Oke,"

Triiiing~! Lima belas menit kemudian alarm kompor berbunyi, mengingatkan bahwa masakan sudah jadi. Saat itu juga Hinata berubah menjadi kucing, tepat jam enam sore. Ternyata memang waktunya kurang, untungnya masakannya pas-pasan matang. Kalau tidak, nanti malah beli makanan di luar. Hinata kurang yakin dengan makanan yang dijual di luar, karena kurang meyakinkan kebersihannya.

"Ayah, masakannya sudah matang." Hinata mengingatkan sang ayah, siapa tahu Hiashi lupa dengan permintaan tolong Hinata.

"Iya, ayah mendengarnya." Hiashi mematikan TV, karena kegiatan berikutnya adalah makan. Tidak enak kalau makan tapi TV masih menyala, itu sama saja dengan membuang-buang listrik. "Ayo ke ruang makan," Hiashi pun bangun disusul oleh Hinata yang mengikutinya.

Hiashi mengangkat panci kecil berisi sup itu ke atas meja. Dari wanginya saja, sudah membuatnya tidak sabar untuk makan. Masakan anaknya memang yang paling mantap, tidak ada yang dapat menandinginya. Kemudian ia duduk, mengisikan nasi pada piring, dan menuangkan sup. Waktunya makan malam, meski waktu masih menunjukkan pukul enam lewat lima menit.

"Mari makan~"

Seperti biasa, kalau makan tidak boleh bicara. Itu namanya tidak sopan kalau makan sambil bicara. Jadi kalau mau bicara, habiskan makanannya dulu. Tidak butuh waktu yang lama, mereka hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk menghabiskan makanannya. Sudah pasti Hinata akan memulai ceritanya, ia mau ayahnya mendengar kisah pertama Hinata di sekolah.

Hiashi minum dengan santai sambil menanti cerita Hinata~

"Maaf ayah, padahal ayah sudah mengingatkannya. Tapi hari ini, aku berubah menjadi kucing di sekolah."

Glek, tegukan terakhir sukses masuk ke dalam kerongkongan Hiashi. Tapi sebenarnya, ia kaget dengan kata-kata anaknya. "Serius?" tanyanya tidak percaya. Meski tampangnya yang garang itu tidak menunjukkan rasa kagetnya. Selalu saja, perasaan dan eskpresi berkata lain.

Hinata mengangguk.

Hiashi menghela napasnya, "Kehidupan SMA memang kehidupan yang paling mendebarkan, tidak heran sih. Tapi tidak ayah sangka kamu akan berubah secepat ini." mencoba menenangkan dirinya. Perubahan Hinata itu dilihat oleh orang lain atau tidak, Hiashi masih belum mengetahui ini. Kalau sampai ketahuan dan dibeberkan, dengan terpaksa Hiashi akan menyuruh orang itu untuk meminum obat pelupa ingatan.

"Maaf ayah~"

"Tidak apa, yang penting tidak ketahuan oleh siapa pun, 'kan?" Hinata mengangguk, untungnya tidak ketahuan oleh siapa pun. Yang membuat penasaran, "Memangnya apa yang membuatmu berdebar?" tanya Hiashi. Anaknya yang manis ini, bisa berdebar karena apa? Mungkin setelah ini Hiashi dapat memberikan pencerahan.

"Itu ayah... Seorang kakak kelas," jawab Hinata. Sebenarnya ia juga merasa aneh dengan debaran itu. Selama ini Hinata tidak pernah merasakan debaran seperti itu, jadi ia tidak pernah berubah menjadi kucing di zaman sekolah menengah pertamanya dulu. Memangnya itu debaran apa sih?

"Laki-laki ya? Kapan saja kamu berdebar karenanya?" Hiashi mulai serius, ia penasaran dengan apa yang membuat Hinata berdebar. Memang sih Hiashi sudah memperkirakannya, pasti Hinata akan berdebar karena berada dekat dengan laki-laki.

"Iya. Saat pagi hari, saat Hinata melihat senyumannya. Saat kakak kelas itu mengantarkan Hinata ke kelas saat selesai istirahat, ia juga tersenyum. Lalu saat kakak kelas tersebut berwajah sedih, entah kenapa Hinata jadi berdebar, seperti merasakan apa yang dirasakan olehnya." jawab Hinata, ia menundukkan kepalanya. Perasaannya yang tersembunyi di dalam sosoknya yang kecil itu, benar-benar terlihat lemah.

"Tiga kali?"

"Maaf ayah! Hinata juga tidak tahu kenapa Hinata jadi seperti ini. Tapi Hinata berubahnya hanya sekali kok, meski berdebarnya tiga kali." berusaha membela dirinya, tapi ini memang salahnya sih. Sudah diperingati Hiashi, tapi tetap saja ia tidak berhati-hati. Ia tidak pernah tahu, bahwa ia akan menemukan seseorang yang akan membuatnya berdebar.

"Jadi intinya, Hinata berdebar saat melihat senyumannya. Senyuman seperti apa sih?" Oke, Hiashi sudah tahu apa alasan yang membuat Hinata berdebar. Apalagi berdebar karena seorang laki-laki, anaknya memang sudah cukup besar sih untuk merasakan perasaan seperti itu.

"Tidak dapat dijelaskan, tapi senyumannya itu bagaikan mentari."

Senyuman mentari ya? Suatu saat Hiashi mau melihat senyuman itu. 'Anakku jatuh cinta pada pandangan pertama karena melihat senyuman mentari yang dimiliki orang itu ya?' rasanya senang mengetahui ini. Setelah sekian lama Hinata beranggapan bahwa laki-laki di sekitarnya itu tidak ada yang menarik. Akhirnya muncul juga orang yang dianggak menarik oleh Hinata.

"Kalau boleh tahu namanya siapa?" tanya Hiashi. Siapa tahu salah satu orang yang Hiashi kenal dari nama keluarganya.

"Naruto Uzumaki, dia kakak kelas Hinata. Anggota OSIS yang menjabat sebagai ketua." jawab Hinata.

"Uzumaki?"

"Iya ayah,"

'Uzumaki ya?' sepertinya Hiashi ingat dengan nama itu. Zaman-zaman dirinya masih berumur dua puluh lima tahun, saat masih menjadi seorang ilmuan di sebuah perusahaan kecil. Seorang pria berambut pirang dan seorang wanita berambut merah. Uzumaki... Ah!

"Apakah warna rambutnya pirang? Atau mungkin merah?"

"Pirang ayah,"

'Ternyata memang anaknya Minato sama Kushina ya? Tidak kusangka mereka memiliki anak laki-laki.' Hiashi mengingatnya, ternyata memang benar.

"Memangnya kenapa yah?"

"Tidak, hanya saja ayah jadi mengingat teman lama." teman lama yang sudah tidak pernah ditemui olehnya, ternyata sudah lebih dulu memiliki anak daripada dirinya.

"Oh~"

Mungkin kalau anaknya Minato sama Kushina, akan baik-baik saja. Hiashi juga mau melihat anaknya senang, dengan menyadari perasaannya sendiri. "Hinata, mau tahu kenapa kamu berdebar kalau melihat senyumnya? Lebih tepatnya, kalau kamu bersama dengannya." bisa dibilang, Hinata masih belum tahu alasan kenapa dirinya berdebar. Jadi Hiashi hanya mau membantu sedikit saja, selebihnya ia serahkan pada Hinata sendiri.

"Aku tahu kok yah, itu karena melihat senyumannya yang tidak biasa. Selama ini Hinata tidak pernah melihat senyuman seperti itu." jawab Hinata enteng. Hinata memang tidak tahu ya, makanya dapat berbicara semudah itu.

"Bukan itu saja, tapi masih ada lagi."

"Masih ada?"

"Iya, akan ayah beritahukan teknik rahasianya. Tatap matanya selama tiga detik, maka kamu akan tahu alasan kenapa kamu berdebar. Bukan hanya karena melihat senyumannya, tapi masih ada yang lebih besar dari itu. Anak ayah sudah besar, 'kan?" melihat anaknya yang bingung, sungguh lucu. Perlahan tapi pasti, anaknya bertumbuh menjadi semakin dewasa. "Terima kasih atas makanannya, ayah beres-beres dulu ya." ia mengangkat piring-piring yang kotor ke dapur, meninggalkan sosok Hinata yang kebingungan.

'Tatap matanya selama tiga detik?'

Dari kejauhan, Hiashi melihat Hinata dan tersenyum tipis. 'Mana ada sih orang tua yang tidak mendukung percintaan anaknya. Tapi cepat sekali Hinata jatuh cinta, pada pandangan pertama pula. Naruto Uzumaki itu, harus kuselidiki terlebih dahulu. Dia asli anak mereka atau tidak,' dan memulai acara cuci piringnya.

Hinata bingung, masih ada alasan lain yang belum diketahui olehnya. Tapi ada teknik rahasia yang sudah diberitahukan oleh Hiashi. Ia tidak boleh menyia-nyiakan teknik rahasia tersebut. Karena hanya dengan itu, ia akan mengetahuinya.

'Kalau hanya dengan itu aku jadi mengetahui alasannya, maka aku harus mencobanya. Kenapa aku berdebar? Kalau bukan hanya senyumannya, lalu apa?'

Ada sebuah alasan, yang harus diketahui.

::

::

To Be Continue

::

::

Huaaa~ Maaf kalau lama sekali updatenya. Semoga kali ini tidak mengecewakan pembaca sekalian. Maafkan apabila chapter kali ini tidak sesuai keinginan. Dan terima kasih sudah menunggu sampai chapter ini terbit. Terima kasih juga karena telah membaca dan memberikan review pada chapter sebelumnya.

Sebenarnya setelah lulus kehidupanku jadi semakin sibuk. Apalagi belum lama ini data hp ku kereset. Semua ide cerita, alur cerita yang telah kusimpan jadi hilang semua. Yah, kuharap semuanya berjalan lancar hingga tamat nanti. Okelah kalau begitu, sampai bertemu di chapter berikutnya.

Ttd,

Haruna Hajime

25 Maret 2016