"Ayah, terima kasih sudah memberitahukan teknik rahasianya ya." di luar rumah, Hiashi menyambut kepergian Hinata menuju sekolah.
"Mau coba tektik rahasianya?" dan ternyata, teknik rahasia yang diberikan olehnya benar-benar akan dicoba oleh Hinata. Tapi tidak apa, 'kan? Hinata sudah beranjak menjadi dewasa.
"Iya, hanya dengan itu Hinata akan tahu alasan yang sebenarnya. Hinata pergi dulu ya, ayah." sebuah alasan, yang memang harus diketahui olehnya.
::
:: It's a Wonderful Cat Life ::
::
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime
::
Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
::
Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.
::
Genre : Romance
::
Rated : T
::
::
Selamat membaca~!
::
::
::
"Apa? Kau bilang seperti itu?!" teriakkan Kiba membuat Naruto terdiam. Entah apa yang dirasakan oleh Kiba, tapi rasanya sedikit kesal dengan apa yang dibicarakan oleh Naruto belum lama ini. Gimana ya? Sudah susah payah menangkap mangsa, tapi mangsa tersebut malah dilepaskan begitu saja.
"Sudahlah, jangan ribut. Sekarang masih jam enam lewat dua puluh menit nih, masa pagi-pagi berisik." mencoba menenangkan Kiba, Shikamaru yang awalnya mau tidur jadi tidak bisa. Lagian gimana mau tidur, orang-orang di sekitarnya saja berisik.
Anggota OSIS selalu datang sangat jauh dari jadwal masuk sekolah, jam enam pagi mereka sudah selalu ada di sekolah. Entah itu masuk dalam peraturan atau tidak, yang jelas mereka semua punya inisiatif untuk datang sepagi itu. Awalnya hanya Naruto saja yang datang sepagi itu, tapi di hari berikutnya Kiba datang dengan sendirinya tanpa mengetahui kalau Naruto datang sepagi itu. Satu hari setelahnya, Sasuke juga sama. Padahal tidak ada yang memberitahukannya sama sekali. Lalu Shikamaru dan Sai, pada akhirnya mereka juga datang jam enam pagi. Meski tidak ada yang memberitahukannya, tapi pikiran mereka sama. Walau saat penyambutan murid baru Naruto tidak datang jam enam, karena ada urusan di rumahnya.
Lupakan yang tadi, sekarang kembali ke topik permasalahan.
"Aku hanya tidak mau kehidupannya berubah karena keputusanku yang seenaknya." memang ini adalah pilihan yang paling tepat, rasanya sepi juga kalau Hinata tidak ada. Tapi memang ini yang harus dilakukan olehnya, meski kesenangan itu akan menghilang.
"Ya, seharusnya kita tidak merebut kehidupan SMA-nya yang berharga." dari awal Sai memang berpikir bahwa keputusan Naruto itu tidak benar. Seenaknya saja menentukan kehidupan seseorang, tapi Sai tidak dapat mengungapkan isi hatinya.
"Begitu ya?" amarah Kiba mereda. Ia memang setuju dengan apa yang Naruto putuskan. Ia juga tidak enak pada Hinata karena seenaknya mengubah jalan hidup Hinata. Oke, memang sudah saatnya untuk benar-benar melepaskan mangsa.
"Padahal aku sudah mulai terbiasa dengannya, meski aku tidak banyak bicara dengannya." Shikamaru pun merasakan hal yang sama dengan semuanya. Meski ia jarang berbicara dengan Hinata langsung, tapi melihat keadaan temannya yang senang karena ada Hinata, ia jadi merasakan senang itu juga meski tidak secara langsung.
"Benar, tidak ada yang pernah membuat Dobe jadi ciut seperti ini." Sasuke yang dari tadi tidak ikut campur kini jadi masuk diantara mereka semua. Tersenyum penuh kemenangan, karena ia telah membuat Naruto diombang-ambing oleh pikirannya sendiri.
"Maksudmu apa Teme?! Itu semua 'kan awalnya gara-gara idemu!" kesal, Naruto sangat kesal. Senyuman Sasuke benar-benar membuatnya merasa kalah, apalagi kata-katanya itu. Ciut apanya? Memang kehilangan Hinata itu tidak enak, tapi 'kan masih ada jalan kedua untuk bertemu dengan Hinata.
"Sudahlah, tapi itu memang keputusan yang tepat." usai sudah, Sasuke malas terlibat dengan permasalahan ini. Ia kembali melanjutkan membaca buku, kalau sudah terjadi mau diapakan lagi.
"Yah~ Setelah Hinata datang kesini, rasanya menyenangkan. Semua terasa berbeda walau pekerjaan kita itu-itu saja. Tapi mau apa lagi~"
Perdebatan ini selesai, semuanya kembali melakukan pekerjaannya masing-masing. Sai yang melihat situasi seperti ini benar-benar merasa tidak enak.
"Jadi hanya sehari saja ya kita merasakan perbedaan itu."
::
::
"Cuaca hari ini cerah sekali, menyegarkan. Ternyata suasana melewati jalan ini berbeda saat melewati jalan tikus itu." dengan santai Hinata berjalan melewati jalan yang berbeda dari kemarin. Karena telat, Hinata melewati jalan tikus yang diberitahukan oleh Naruto. Tapi sekarang tidak telat, jadi Hinata melewati jalan yang biasa saja.
Kalau kembali diingat-ingat, sepertinya Naruto tidak mengingat Hinata sebagai orang yang ditabraknya di dalam bus. Pasti Naruto juga tidak ingat bahwa Hinata adalah orang yang diberitahukan jalan rahasia oleh Naruto. Kalau sampai-sampai Hinata ketahuan melewati jalan tikus itu, pasti Naruto akan kaget sambil berteriak 'kenapa bisa tahu jalan ini?'. Membayangkan itu Hinata jadi tertawa sendiri.
"Ah! Hinata-chan!" melihat Hinata yang tidak jauh berada di depannya, Ino memanggil Hinata. Sedikit berteriak, supaya suaranya terdengar oleh Hinata.
Hinata berhenti saat ada yang memanggilnya, ia menengokkan kepalanya ke belakang. Mengetahui siapa yang memanggilnya, ia tersenyum singkat dan memberikan salam. "Selamat pagi," sapanya.
"Selamat pagi Hinata-chan~" balas Sakura setelah ia tepat berada di samping Hinata.
"Selamat pagi, kalau gitu langsung jalan saja yuk." ajakan Ino disetujui keduanya, mereka kembali jalan untuk menuju sekolah.
Berpikir, itulah yang dilakukan Ino. Ia berpikir dalam hatinya, bertanya pada Hinata atau tidak. Karena ia sangat penasaran dengan kejadian apa saja yang dialami oleh Hinata yang dikelilingi laki-laki keren. "Oh ya, kemarin disana bagaimana?" dan pada akhirnya, ia menanyakannya juga pada Hinata. Rasa penasarannya sudah tidak dapat dibendung lagi, semuanya sudah tumpah keluar.
Mengerti maksud Ino, Hinata menjawabnya dengan yakin. "Disana tidak banyak kerjaan." sambil tertawa singkat karena mengingat ia tidak melakukan apa-apa disana.
Padahal bukan itu yang dimaksud oleh Ino, tapi... "Maksudku, bagaimana rasanya memiliki harem yang keren-keren seperti itu?" mengangkat jari telunjuknya, dan menerawang kejadian yang begitu menyenangkan. Saat-saat dimana banyak pria, yang mengelilinginya.
JDUK~
"Aduh! Sakura! Kau ini kebiasaan deh~" memegang kepalanya, merasakan sakit pada bagian yang dijitak oleh Sakura.
Sakura mendengus kesal, "Makanya kalau ngomong yang bener dong." ia benar-benar tidak suka pertanyaan-pertanyaan aneh yang selalu keluar dari dalam mulut Ino.
"Aku 'kan hanya bertanya saja," memonyongkan bibirnya, ia tidak suka karena selalu saja mendapat jitakan dari Sakura. Padahal Ino menanyakan hal yang benar, tidak seharusnya Sakura menjitaknya. Mananya yang tidak benar coba?
Kembali jalan, Ino menatap Hinata dengan maksud tertentu. Karena pertanyaannya yang tadi tidak akan dijawab, jadi bertanya hal yang lebih ke dunia nyata saja. "Jadi bagaimana kehidupan disana?" tanya Ino penasaran. Masalah rasa yang dirasakan oleh Hinata karena memiliki harem itu, lupakan saja.
"Semuanya pada sibuk dengan pekerjaannya masing-masing." mengingat kejadian kemarin, memang terasa membosankan. "Aku jadi bingung harus melakukan apa disana, sepertinya aku tidak ada pun tidak apa." dan tertawa setelahnya. Tapi melihat orang-orang disana melakukan hal yang disukainya dengan serius, benar-benar membuat Hinata merasa senang.
"Meski banyak orang, tapi terkesan sepi. Mungkin seperti itu, tapi bisa-bisanya mereka mengambil keputusan seenaknya. Pada akhirnya, sia-sia saja kamu kesana." gerutu Ino, ia menyilangkan tangannya. Kalau dirinya yang menjadi Hinata, sudah pasti ia akan mengamuk. Tidak peduli kalau itu kakak kelas, ia hanya membela kebenaran saja.
"Bukan begitu, mereka hanya melakukan apa yang mereka sukai saja. Melihat itu, aku jadi ikut senang. Aku hanya belum melihat kesenangan apa saja yang mereka lakukan saat bersama." Hinata dapat merasakannya, ia juga asyik pada dunianya sendiri kalau seperti itu. Mengabaikan sekitar, dan tidak mempedulikan apa yang ada didekatnya.
"Wah~ Jadi penasaran."
"Oh ya," Hinata baru saja mengingat satu hal, ia membuka tasnya dan mengambil sebuah benda yang ada di dalamnya. "Ini tanda tangannya." kemudian diserahkannya tanda tangan itu pada Ino.
Mata Ino berbinar, benda yang dimintanya ternyata sudah ada di depan mata. " Whoooaaa~ Terima kasih Hinata-chan! Akhirnya... tanda tangan Sai-senpai~" dipeluknya erat-erat tanda tangan itu, bagaikan harta yang berharga. Mendapatkan tanda tangan dari Sai itu, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seorang penggemar. Dilihat lagi tanda tangan itu, "Eh? Ada gambar bunga, terlihat begitu hidup." matanya tertuju pada bunga yang terdapat di pojok kertas.
Menanggapi perkataan Ino, Hinata membayang-bayangkan kejadian kemarin. "Mungkin Sai-senpai suka melukis, saat kesana aku melihat pekerjaannya hanya membersihkan alat lukis dan melukis." ia baru ingat kalau saat itu Sai sedang membersihkan alat lukis dan juga melukis. Mungkin memang itu alasan keberadaan bunga tersebut, tapi keberadaannya baru Hinata sadari sekarang.
"Pelukis ya? Benar-benar bunga yang indah." matanya yang menatap lurus kertas tanda tangan, menusuk hati Hinata. Tatapan mata Ino, seperti sedang menatap orang yang disukai oleh Ino.
"Ino-chan?"
Sakura memegang pundak Hinata, "Rumahnya toko bunga, jadi dia sangat menyukai bunga." jelasnya. Sakura dan Ino sudah berteman sejak SD, jadi mereka sudah saling mengetahui satu sama lain.
Ino memasukkan kertas tanda tangan itu ke dalam tasnya. Ia melihat Hinata dengan seksama, kemudian melompat dan memeluk Hinata. "Makasih Hinata-chan! Suatu saat aku akan membalas kebaikkanmu." katanya berlebihan.
"Tidak perlu Ino-chan, itu bukan hal yang memerlukan imbalan kok. Lagian Sai-senpai langsung memberikannya tanpa meminta apapun." Ino melepas pelukannya setelah mendengar ini, dan tersenyum setelahnya. Ia benar-benar suka dengan tipe Hinata yang baik hati, melakukan sesuatu tanpa meminta imbalan.
"Oh ya, dari lima pria anggota OSIS itu. Mana yang membuatmu jatuh cinta?" Hinata kaget mendapatkan pertanyaan ini, sampai-sampai ia tidak dapat berkata-kata. Sakura yang menganggap Hinata bingung pun menjelaskan hal yang lebih pasti. "Maksudku, siapa yang kamu sukai?" karena tidak mungkin Hinata langsung ke tahap cinta kalau belum ke tahap suka.
"Aku sukai? Kurasa tidak ada," jawab Hinata yakin, karena di umur Hinata yang sekarang ia merasa belum waktunya untuk merasakan hal yang namanya cinta.
Ino menatap Hinata syok, "Masa sih?" tanyanya tidak percaya. "Seharusnya kalau dikelilingi seperti itu, pasti akan ada perasaan yang tumbuh." katanya semangat. Kalau ia menjadi Hinata, pasti perasaan itu akan tumbuh hanya dalam satu hari. Contohnya Ino terhadap Sai, bisa saja yang awalnya nge-fans jadi suka. Meski dirinya sendiri juga tidak pernah merasakan yang namanya cinta.
"Begitu ya?" Hinata heran mendengar penuturan Ino. Tapi tidak seperti itu juga, 'kan? Meski dikelilingi pria seperti itu, kalau tidak ada yang jadi pemicunya, sudah pasti yang namanya perasaan seperti itu tidak akan pernah muncul.
"Kalau begitu, siapa yang membuatmu berdebar? Kalau belum ke tahap suka, biasanya melewati tahap berdebar dulu." ucap Sakura mengangkat satu jarinya. Meski ia tahu tahap-tahapnya, tapi dirinya sendiri juga belum pernah merasakan apa itu cinta. Ia hanya tahu sedikit informasi dari komik-komik yang dibacanya.
"Kalau berdebar, ada sih." mengingat Naruto yang membuatnya berdebar beberapa kali dalam sehari, debaran itu memang terasa nyata. Kalau diingat-ingat dan kembali dirasakan, bisa saja Hinata berubah menjadi kucing.
"Siapa!?" Sakura dan Ino yang antusias, dan ini membuat Hinata berhenti berjalan.
Hinata melihat Sakura dan Ino dengan heran, "Naruto-senpai~" jawabnya tanpa ragu-ragu. Karena memang itu kenyataannya, Hinata merasa berdebar kalau melihat tipe senyuman mentari Naruto. Entah kenapa, seperti mau melihatnya selalu.
"Whoooaaaa~" mata Ino dan Sakura berbinar mendengarnya, mereka menggenggam kedua tangan Hinata. Ino menggenggam tangan sebelah kiri, dan Sakura menggenggam tangan sebelah kanan.
"Itu namanya suka!" teriakkan keduanya bersemangat, dan itu membuat Hinata kaget.
"Su-suka?!" Hinata benar-benar tidak percaya. Masa hanya karena berdebar, itu dinamakan suka? 'Kan bisa saja debaran itu terjadi karena kondisi jantung yang lagi tidak sehat.
"Iya~ Jika kamu berdebar karenanya, nyaman berada dekat dengannya, senang melihat senyumnya, ikut merasakan apa yang dirasakannya, itu namanya cinta." jelas Sakura, ia mengangkat satu jarinya kembali setelah melepaskan genggamannya pada Hinata. Informasi ini juga didapatkannya dari komik shoujo yang dibacanya.
"Cinta?"
Melihat Hinata yang kebingungan, Ino hanya tertawa tipis. "Yah~ Mungkin Hinata-chan masih ke tahap suka sih." katanya dan melepas genggamannya.
Kembali jalan, Hinata berpikir dengan kata-kata tadi. "Tapi, aku kurang yakin dengan perasaanku sendiri." ia tidak tahu yang dirasakannya itu benar perasaan suka atau tidak. Karena ia tidak pernah merasakan yang namanya suka, jadi ia tidak pernah tahu rasanya seperti apa.
"Gini saja, aku kasih tahu teknik rahasianya ya. Tatap matanya selama tiga detik, maka kau akan tahu kalau kau menyukainya atau tidak." sekarang Ino yang memberikan saran, teknik ini didapatnya dari majalah remaja.
"Teknik rahasia yang sama seperti dikasih tahu oleh ayah." Hinata juga mengingat teknik rahasia yang diberikan oleh Hiashi, benar-benar sama seperti yang dikasih tahu oleh Ino. Tapi yang Hiashi kasih tahu, untuk mengetahui alasan kenapa bisa berdebar. Kalau Ino, untuk mengetahui ada perasaan suka atau tidak.
Sakura menatap Ino sambil tersenyum aneh, "Ah~ Ino om-om! Hahaha!" serunya dan tertawa lebar setelahnya. Mendengar ucapan Hinata yang menyamakan teknik rahasia antara Ino dan ayahnya Hinata, sungguh membuat perutnya geli.
"Apa-apaan kau Sakura?! Itu kebetulan saja! Tunggu jangan lari!" Ino berniat mengejar Sakura yang kabur karena takut dihajar, tapi di sebelahnya ada Hinata yang tidak dapat ditinggalkan. Jadi ia tidak jadi mengejar Sakura, dan ia kembali pada Hinata.
"Kalau kamu sudah yakin dengan perasaanmu, kasih tahu aku ya."
"Iya,"
'Apakah memang itu alasannya? Tapi, masa hanya sekali pandang saja sudah merasakan yang namanya cinta. Berada dekatnya aku memang merasa nyaman, aku juga seperti dapat merasakan apa yang dirasakan olehnya. Lalu, aku juga dibuat berdebar olehnya. Masa sih?'
::
::
Pelajaran pun dimulai dengan tenang, tapi hari ini kembali tidak ada pelajaran. Guru-guru yang masuk menggunakan hari ini sebagai sesi pengenalan untuk saling kenal. Sampai saat ini masih dua guru yang masuk, jadi Hinata baru mengenal tiga guru. Wali kelasnya dan dua guru mata pelajaran. Guru-gurunya sangat menarik, semuanya memiliki sifat yang berbeda.
Teng~ Teng~
"Ah! Sudah istirahat! Baiklah, perkenalan cukup sampai disini. Jangan lupa dengan semangat muda yang bapak ajarkan!" dan hilanglah sosok guru bersemangat anak muda itu dari depan kelas.
Ino melihat Hinata yang diam, seperti tidak punya niat untuk ke ruangan pada anggota OSIS. Ino yang heran pun menghampiri Hinata, "Tidak kesana?" tanyanya kemudian.
Hinata Menggeleng, dan itu membuat Sakura penasaran juga. "Kenapa?" tanyanya. Bukannya Hinata sudah menjadi anggota The Star? Terus setiap istirahat, harus selalu datang ke ruang OSIS. Tapi kok Hinata malah tidak mau datang?
"Keputusan itu sudah dihilangkan." jawab Hinata, meski seperti itu rasanya ada yang kurang. Ia tidak tahu bagaimana caranya bertemu dengan Naruto kalau tidak ke ruangan itu.
Cukup kaget juga mendengar itu, berarti Hinata sudah tidak terikat dengan anggota OSIS. "Tidak bisa melakukan teknik rahasianya dong?" Ino yang sudah tidak sabar membuat Hinata menyadari perasaannya sendiri pun sedikit kecewa. Kalau begini bagaimana caranya agar dapat membalas kebaikan Hinata?
"Tidak, aku akan tetap melakukannya. Aku akan pergi ke ruangan itu dan menemui Naruto-senpai meski sudah tidak menjadi anggota lagi." karena Hinata sudah bertekad untuk memastikannya, apakah benar alasannya karena Hinata menyukai Naruto. Kalau tidak dipastikan, Hinata hanya akan penasaran.
"Semangatmu bagus sekali Hinata-chan, aku juga mau ke toilet dulu." Sakura juga sudah punya tujuan setelah ini, ia harus ke toilet. Tadi pagi ia minum sangat banyak, tapi belum ke toilet karena buru-buru. Sekarang sudah waktunya air yang diminumnya tadi pagi dikeluarkan kembali.
"Aku juga mau pergi sebentar." Ino pun sudah punya tujuannya sendiri, ia mau menemui seseorang.
"Kalau begitu nanti kita ketemu di kelas lagi ya,"
Hinata, Ino, dan Sakura akhirnya bergerak pada tujuannya masing-masing.
Pertama, kita lihat dulu keadaan Hinata. Ia sedang jalan santai untuk menuju ruangan OSIS, meski samar-samar ingatannya tentang keberadaan ruang OSIS itu. Tidak sampai tengah jalan, Hinata malah melihat Naruto yang tidak jauh berada dengannya. Inilah yang namanya keuntungan, jadi langsung saja Hinata bergegas mendekati Naruto.
"Naruto-sen.."
Jduk~ Hinata terpental oleh dorongan yang datang dari belakang. "Naruto-senpai!" ternyata ada gerombolan gadis datang menghampiri Naruto.
"Lho?"
Hinata heran melihatnya, kalau seperti ini ia tidak bisa mendekati Naruto. Baiklah, yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menunggu sampai gerombolan gadis itu menghilang. Tunggu~ Tunggu~ Ah! Naruto sudah sendirian lagi, sekarang waktunya bagi Hinata untuk beraksi kembali.
"Naruto-sen..."
Jduk~ Lagi-lagi, "Naruto-senpai!" gerombolan gadis bagian dua kembali menutupi Naruto dari pandangan Hinata.
"Lagi?"
Dilihatnya lekat-lekat, ia terduduk bagaikan orang yang putus harapan. Ternyata kalau Naruto sedang sendirian saat di luar ruangannya, selalu ada kejadian seperti ini ya? Apakah Naruto begitu populer di sekolahnya? Padahal Hinata kira, Sasuke yang lebih populer. Sebenarnya memang Sasuke yang lebih populer, hanya saja Sasuke tipe yang tidak dapat didekati oleh penggemarnya.
Oke, sekali lagi Hinata mencoba untuk menunggunya. Siapa tahu yang berikutnya akan berhasil, oleh karena itu ia tidak boleh menyerah duluan. Ia harus melakukan teknik rahasia itu bagaimanapun caranya, ia harus berjuang.
Tunggu~ Menunggu~ Sepertinya kali ini Hinata akan berhasil, gadis-gadis itu satu per satu mulai menghilang dari pandangannya. Naruto pun perlahan-lahan mulai terlihat oleh matanya. Sedikit lagi, bersabarlah Hinata. Oke! Sekarang waktunya!
"Naruto-sen..."
JDUK!
"Kyaaa! Naruto-senpaiiii~!"
Lagi dan lagi, pupus sudah harapan Hinata. Untuk saat ini, Naruto tidak dapat didekati olehnya. Dilihat dari manapun, dirinya dengan Naruto memang berbeda. Tidak akan semudah itu untuk mendekati Naruto yang bagaikan matahari bersinar. Tidak semudah itu, bagi dirinya yang gelap untuk menggapai cahaya.
"Memang tidak bisa ya? Ternyata duniaku memang berbeda dengannya."
Pergi~ Untuk saat ini ia tidak ada harapan, yang ada hanyalah keputusasaan.
Kedua, kita lihat keadaan Sakura sekarang. Ia saat ini sedang terburu-buru menuju toilet untuk membuang isi kantung kemihnya. Saking terburu-burunya, ia sampai menabrak orang yang tidak bersalah.
"Ah~ Maaf! Saya buru-buru, jadi tidak melihat sekitar." Sakura minta maaf sambil menunduk, ia melihat orang yang ditabraknya. Ternyata orang tersebut adalah Sasuke Uchiha!
Sakura melihat Sasuke yang bengong, sepertinya Sasuke sedang memikirkan sesuatu. Ia hanya heran melihat tingkah Sasuke, ada apa ya?
"Sasuke-sen..."
"Rambut warna babi!"
Belum sempat ia angkat bicara, Sasuke malah berbicara hal yang membuatnya sedikit kesal. "Ba-bi?" tanyanya, terlihat jidatnya yang mulai berkerut.
"Warna rambutmu sama seperti warna babi di kampung halamanku."
"Ba-bi?"
'Apa-apaan dia!?'
Kesal, kesal sudah. Masa warna rambutnya disamakan dengan warna babi? Tidak ada yang lebih bagus apa!?
"Ya, benar-benar mirip."
"Sakura!"
JDUK! Tonjokkan spesial dari Sakura sebagai pengenalan dirinya pada Sasuke.
"Rambutku bukan warna babi! Ini warna bunga sakura tahu! Jangan seenaknya bicara kalau tidak tahu!"
Dengan perasaan yang sangat kesal, ia pergi meninggalkan Sasuke yang jatuh terduduk akibat tonjokkan super kuat itu.
"Apa-apaan dia?" Sasuke memegang dagunya yang sedikit sakit. Mengingat kejadian yang belum lama ini terjadi padanya. Tapi memang mirip kok, kenapa dia malah marah seperti itu?
"Hn, Sakura ya?"
Ketiga, saat ini Ino sedang mencari seseorang. Untungnya orang yang dicarinya sangat mudah untuk ditemukan. Sudah begitu, orang yang dicarinya itu lagi sendirian. Jadi ia bisa dengan mudah berterima kasih terhadap orang tersebut.
"Sai-senpai!" Ino langsung memanggil Sai, orang yang terpanggil pun berhenti karena panggilan itu.
Sai melihat Ino yang mendekatinya, "Siapa?" tanyanya. Sai memang tidak kenal dengan Ino, tapi seenaknya saja Ino memanggil Sai.
"Ino Yamanaka! Yang minta tanda tangan melalui Hinata-chan. Terima kasih ya~"
Terlihat wajah sedikit kaget dari Sai, "Ah~ Iya, sama-sama." dan membalas ucapan terima kasih Ino dengan senyumannya.
Kesal, Ino dapat melihatnya. "Maaf sebelumnya, kalau Sai-senpai terpaksa untuk senyum seperti itu, lebih baik tidak usah senyum deh." protesnya. Sangat terlihat jelas bahwa senyuman Sai itu adalah senyum paksaan.
"Hmm?"
"Senyum palsu Sai-senpai tidak enak dilihat," ia benar-benar tidak suka melihatnya, apalagi senyuman itu diutarakan kepadanya.
"Dari mana tahu kalau senyum ini palsu?" Sai yang sedikit kaget karena Ino mengetahuinya pun bertanya. Kok dia bisa tahu?
"Saat pertama kali aku melihatmu saat acara penyambutan, aku memang tidak menyadarinya. Tapi setelah diperhatikan berkali-kali, dalam satu hari saja aku langsung mengetahuinya." jelas Ino. Saat itu, saat ini, dan saat itu.
'Padahal selama ini tidak ada yang pernah menyadarinya.' bergelut dalam pikirannya, ternyata senyum palsunya tidak mempan terhadap satu orang ini.
"Sudah ya~" berniat pergi, Ino sangat tidak suka dengan perlakuan Sai terhadapnya. Padahal baru pertama kali bertemu, tapi sudah disuguhi senyuman palsu. Benar-benar menyebalkan~
"Tunggu," Sai malah menahannya.
"Apa?!" dengan kesal ia bertanya apa maksud tujuan menahan Ino seperti tadi.
"Diperhatikan berkali-kali ya? Padahal ini baru pertama kali aku berhadapan langsung denganmu. Sejak kapan kamu selalu memperhatikanku dari kejauhan?"
Ah~ Tidak. Senyuman jahil itu...
Blush~
"Ugh~ Itu bukan urusanmu!"
Pergi sudah Ino dari hadapan Sai, Sai yang melihat tingkah lucu Ino jadi tertawa sendiri. Mungkin kalau Ino melihat wajahnya yang tertawa, dalam sekejab perasaan kagum itu akan berubah menjadi suka. Tidak ada yang tahu~
"Haha, anak yang menarik."
Semuanya, memiliki masalah masing-masing.
::
::
To Be Continue
::
::
Huaaaa~ Maafkan diriku yang sangat lama menerbitkan chapter ini. Mohon maaf, sepertinya jadwal update-ku akan berantakan belakangan ini. Memungkinkan untuk hiatus, dan akan dilanjutkan lagi setelah kembali jadi normal.
Tapi aku sedikit menyelipkan pair SasuSaku dan SaiIno, tapi NaruHina tetap yang utama. Semoga suka ya...
Di duta sekarang aku disibukkan dengan pekerjaan dan sedang berkesinambungan(?) Di dunia percosplayan.. Jadi jarang buat fic deh, mohon maaf yang sebesar-besarnya ya.. Tapi fic ini akan tetap lanjut sampai tamat kok, meski tidak jelas jadwal update-nya saja..
Oke, akhir kata... Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
Ttd,
Haruna Hajime
9 Juni 2016
