"Rasanya tadi aku seperti melihat Hinata yang berusaha mendekatiku deh." Naruto merenung di mejanya, membiarkan laptop yang menyala tanpa digunakannya.
Sasuke melihat Naruto, ia kurang tertarik dengan ceritanya. "Oh, tadi aku menemukan sesuatu yang menarik." responnya hanya seperti itu, tidak nyambung dan malah membicarakan hal lainnya.
Setuju dengan Sasuke, "Yah~ Hal yang menarik itu memang tidak membosankan." ia kembali berkata-kata bijak. Belum lama Sai ia juga menemukan hal yang menarik baginya.
Perjalanan sesungguhnya baru saja akan dimulai~
::
:: It's a Wonderful Cat Life ::
::
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime
::
Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
::
Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.
::
Genre : Romance
::
Rated : T
::
::
Selamat membaca~!
::
::
::
"Haaa~" ketiga gadis ini menghela napas, dan itu membuat semuanya bertanya-tanya.
"Jadi, kenapa dengan kita semua?" tanya Ino memulai pembicaraan ini. Padahal saat pergi, mereka semua baik-baik saja. Tapi saat kembali, semangat mereka jadi hilang semua.
Sakura melihat Ino, "Aku hanya merasa kesal dengan kakak kelas saja," jawabnya malas-malasan dan disusul dengan helaan napas kembali.
"Aku juga." balas Ino tidak kalah malasnya seperti Sakura. Baru pertama kali ia berurusan dengan seorang pria, yang tidak menghargainya dengan memberikan senyuman palsu.
"Lupakan, masalahku biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri." Sakura tidak mau menceritakan masalahnya dengan Ino maupun Hinata. Biarkanlah masalah itu ia selesaikan sendiri, ia tidak mau membuat teman-temannya repot hanya karena rambutnya diledek rambut warna babi.
Ino pun begitu, disini ia tidak mau membahas masalahnya. Karena baginya sekarang, Hinata yang paling penting. Karena Hinata sudah sangat baik padanya dengan memberikan tanda tangan idolanya, meski ia baru tahu ternyata idolanya di sekolah ini memiliki sifat yang buruk. "Jadi bagaimana denganmu Hinata? Sudah menemui Naruto? Sudah menyadari perasaaanmu? Sudah mencoba teknik rahasianya?" pertanyaan beruntun didapatkan Hinata, tapi semua pertanyaan itu hanya memerlukan satu jawaban saja.
"Belum," jawab Hinata.
"Kok begitu?" tidak percaya, Ino tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Jadi apa saja yang dilakukan Hinata selama istirahat?
"Sangat sulit untuk menemui Naruto-senpai,"
Melihat Hinata yang menunduk sedih, tidak dapat Sakura biarkan. Ia harus memberi Hinata semangat, 'kan masih ada banyak kesempatan. "Tenang saja, masih ada kesempatan di istirahat kedua. Kalau saat istirahat kedua juga tidak bisa, masih ada esok hari." katanya dan tersenyum.
Hinata mengangkat kepalanya, "Istirahat kedua?" tanyanya kemudian. Ia mengingat kejadian waktu itu, di tempat yang hanya diketahui olehnya dan Naruto.
"Iya~"
"Akan kulakukan," Hinata bersemangat kembali, ia masih memiliki harapan. Ia dapat bertemu Naruto dengan mudah kalau di tempat itu, tidak akan ada orang lain yang mengganggunya. Kali ini ia pasti dapat mencoba teknik rahasia pemberian ayahnya dan Ino.
"Oke! Bersemangatlah~"
"Iya!"
'Ke tempat rahasia itu,'
::
::
"Aku kembali~ Haa, kenyang sekali perutku." sambil menepuk-nepuk perutnya, ia membuka pintu dengan santai. Melihat kondisi ruangan yang tidak biasa, "Lho? Suasana tidak enak apa ini?" tanya Kiba sedikit takut. Seperti ada aura hitam yang memenuhi ruangan tersebut, dan sepertinya aura buruk itu berasal dari orang-orang yang ada di dalamnya.
"Aku kemba... Ada apa ini?!" bahkan Shikamaru yang baru kembali juga tidak dapat menyelesaikan kata-katanya karena aura yang sangat terasa itu.
"Aku juga tidak tahu, saat kembali mereka sudah seperti itu." balas Kiba.
Mereka melihatnya, Naruto yang bengong sambil membiarkan laptop menyala. Itu sama saja tidak menghemat listrik, padahal Naruto orangnya sangat hemat. Tipe yang tinggal sendiri sih. Sasuke yang membaca buku terbalik, bukankah itu tampak sangat aneh? Lalu Sai yang membersihkan alat lukis dengan lap kotor, kalau begitu bersih-bersihnya percuma dong.
"Apa ini akibat karena Hinata tidak ada?" Shikamaru berpendapat bahwa ini semua terjadi karena Hinata yang hilang secara tiba-tiba dari mereka.
"Dulu, tanpa Hinata mereka tidak seperti ini." Kiba tidak setuju dengan Shikamaru, dulu-dulu tanpa Hinata juga mereka bersikap normal. Kalau tiba-tiba berubah seperti ini, itu tandanya mereka lagi ada masalah masing-masing.
Tapi yang dikatakan Shikamaru itu memang tidak benar, kecuali untuk satu orang. Naruto, ia menjadi seperti itu karena memikirkan Hinata. Saat istirahat pertama berlangsung, ia samar-samar melihat Hinata yang berusaha mendekatinya. Tapi karena terlalu banyak makhluk-makhluk yang mengerubunginya, sosok itu entah hilang kemana. Kejadian itu terjadi sebanyak tiga kali, dan ini benar-benar membuat Naruto tidak betah.
"Yah~ Untuk alasannya tidak usah kita pikirkan dulu, urus saja mereka yang lagi tidak benar." dengan malas Shikamaru mendekati Naruto, ia mematikan laptop yang baterainya terbuang sia-sia karena dibiarkan menyala begitu saja tanpa digunakan. "Hai ketua, mikirin Hinata ya?" tanyanya sedikit nada menggoda, dan itu membuat lamunan Naruto menjadi buyar.
"Ha? Apa katamu barusan?" tanya Naruto kesal, tatapan kesal yang dikeluarkan Naruto benar-benar lucu di mata Kiba. Itu semakin menantang Kiba untuk membuat Naruto makin kesal.
"Kesepian karena tidak ada Hinata?" akhirnya Kiba ikut-ikutan menggoda Naruto. Naruto yang bengong seperti itu benar-benar tidak biasa, apalagi membiarkan laptop tersayang terbengkalai begitu saja.
"Tidak usah sok tahu deh! Dulu dan sekarang, ada ataupun tanpa Hinata sekalipun, aku memang seperti ini." protes, Naruto tidak setuju dengan pendapat kedua temannya. Apanya yang mikirin Hinata? Apanya yang kesepian karena tidak ada Hinata? Dari dulu sampai sekarang, ada ataupun tanpa Hinata, Naruto memang seperti ini kalau sedang memikirkan sesuatu. Meski memang yang dipikirkannya itu memang Hinata sih, ia juga merasa sedikit kesepian karena kesenangannya menghilang begitu saja.
"Oke-oke," tidak mau ambil pusing, Kiba dan Shikamaru menyudahi acaranya menggoda Naruto. Pada akhirnya, Naruto kembali menyalakan laptop dan melanjutkan tugasnya.
Kembali bertatapan, akhirnya Kiba dan Shikamaru ke target berikutnya. "Sasuke!" panggilan Kiba menghentikan kegiatan Sasuke.
Mengerti maksud panggilan itu, Sasuke langsung berkata apa keinginannya. "Tidak akan kubahas di sini," katanya menatap Kiba dan Shikamaru singkat dan kembali menatap buku yang ada di tangannya.
"Ha? Maksudmu kamu tidak mau membahas kenapa kamu baca buku terbalik begitu?" tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Sasuke tadi, padahal Kiba tidak bertanya tentang apa yang akan dibahas Sasuke.
"Terbalik?" dengan heran Sasuke menanggapi pertanyaan Kiba, ia melihat buku yang ada di tangannya. "Oh, ini tantangan baru bagiku. Membaca buku terbalik," tidak mau kalah, dengan cepat pula ia mendapatkan ide tentang apa yang terjadi padanya sekarang.
Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya, Sasuke itu memang cepat dalam mendapatkan ide untuk menutup semua kesalahan yang ada padanya. Memang membaca buku terbalik adalah sebuah tantangan, tapi untuk apa itu dilakukan sekarang? Benar-benar alasan yang tidak masuk akal baginya.
Merasa diperhatikan, ia menghentikan acara membersihkan alat lukisnya. Tersenyum singkat, "Urus saja masalah Naruto." tapi memiliki makna yang mendalam. Seakan mereka semua harus mengurus masalah Naruto yang sangat besar, sampai-sampai Naruto sendiri saja tidak akan bisa mengatasinya.
Naruto yang mendengar itu pun merasa sangat kesal, dari tingkah semua teman-temannya yang berkata bahwa Naruto memiliki masalah yang sangat besar. "Apa maksud kalian? Sudahlah~ Aku tidak memiliki masalah seperti itu, jangan berlebihan deh. Lakukan pekerjaan masing-masing saja sana." katanya kesal, ia tidak mau masalah pribadinya diurus oleh orang lain.
Masalah pribadi yang terjadi pada Naruto, biarkanlah dirinya yang mengurusnya sendiri. Memang ia memikirkan Hinata, karena saat istirahat pertama ia seperti melihat bayangan Hinata sebanyak tiga kali. Entah itu benaran Hinata atau memang hanya bayangannya saja, yang jelas kalau itu memang Hinata asli, pasti ada hal penting yang mau disampaikan olehnya. Karena Hinata tidak bisa mendekatinya secara langsung, jadi lebih baik Naruto saja yang mendekati Hinata.
"Seperti biasa ya, istirahat kedua aku tidak di sini. Aku akan ke suatu tempat,"
"Oke~"
Melalui tempat yang hanya diketahui keduanya, semuanya akan terungkap.
'Ke tempat rahasia itu,'
::
::
"Karena guru yang mengajar sekarang tidak masuk karena sakit, jadi sekarang waktu bebas." ketua kelas baru saja masuk ke dalam kelas, tapi sudah memberitahukan hal yang menghebohkan.
"Bebas?! Asyik~!"
Anak-anak yang malas belajar pun bersorak kegirangan. Mereka tidak berpikir, mereka itu ke sekolah untuk menimba ilmu, bukannya untuk bermain. Kalau ada waktu bebas, ya gunakanlah untuk belajar sendiri. Ini malah digunakan untuk bermain hal yang tidak berguna.
"Ih~ Baru hari kedua sudah ada waktu bebas saja." Ino yang mendengarnya pun kurang suka, gini-gini ia tipe murid yang teladan. Walau ia tahu ini terjadi karena guru yang mengajar sedang sakit.
"Iya,"
Meski begitu, tetap saja Ino seperti yang lainnya. "Eh~ Kita ngerumpi saja yuk." waktu bebas itu, digunakan untuk membicarakan masalah pribadi, bukannya pelajaran.
"Hinata-chan~" dan sudah ditentukan targetnya, Ino mau mendengar semua cerita tentang Hinata. Hal apa yang membuat Hinata sampai berdebar hanya kerena melihat Naruto, padahal menurut Ino wajah Naruto biasa-biasa saja. Maksudnya, meski memang bisa dibilang keren, tapi tidak sekeren Sasuke ataupun Sai gitu.
"Ada apa?" tanya Hinata, ia memasukkan kembali buku pelajaran yang sudah dikeluarkannya dari dalam tas setelah bel berbunyi. Padahal Hinata tipe murid yang kalau tidak ada guru, pasti belajar sendiri. Tapi karena ada satu hal yang membuatnya tidak bisa belajar, jadi diurungkannya dulu niat itu.
"Aku mau dengar kisahmu lebih lengkap dong." mempersiapkan posisi yang enak, dua jam pelajaran ini Ino berniat mendengar semua kisah-kisah Hinata.
"Apanya?" Hinata tidak tahu maksud Ino, memangnya kisah lengkap tentang apa? Kisah Hinata dari lahir sampai ia berdiri sekarang? Masa harus cerita tentang ayahnya yang salah membedakan dirinya dengan boneka sehingga Hinata jadi memiliki sembilan nyawa kucing? Itu tidak mungkin, hal itu tidak boleh diketahui oleh siapapun. Karena Hinata, tidak mau kejadian itu terulang kembali.
'Maafkan aku~ Ingatanmu, harus segera kuhapus.'
Melihat Hinata yang terdiam dengan wajah sedih, membuat perasaan Ino tidak enak. Apakah perkataannya tadi ada yang salah? Mengingat kembali kata-katanya, mungkin ada kisah hidup Hinata yang tidak enak. Kejadian ini harus segera dihapuskan, ia harus mengubah sebuah perkataan menjadi sebuah pertanyaan.
"Maksudku, kenapa sampai si Naruto sulit didekati?" pertanyaan yang menghentikan lamunan itu, direspon dengan baik oleh Hinata. Ino tidak tahu bagaimana kisah hidup Hinata di masa lalu, masa kini, maupun masa yang datang. Tapi setidaknya, di masa kini, ia mau berbuat sesuatu untuk Hinata.
Hinata adalah teman yang penting baginya selain Sakura, dan itu dapat Ino rasakan sejak kemarin. Makanya, saat Hinata masuk kelas, ia sangat ingin mengajak bicara Hinata. Baginya, Hinata itu berbeda. Ia juga harus membalas budi kebaikan Hinata, karena Hinata sudah memberikan apa yang diinginkan olehnya. Kalau bisa, ia membalas kebaikan Hinata dengan membantu masalah percintaan Hinata. Membantu agar cinta Hinata terbalas~
"Iya, itu karena setiap kali aku berusaha mendekatinya, pasti ada saja gerumbulan murid perempuan yang mendekati Naruto-senpai." cerita Hinata sedih, padahal ia sudah mencobanya berkali-kali, tapi tetap saja hasilnya tidak ada.
"Begitu ya? Anak perempuan zaman sekarang memang mengerikan." gerutu Ino, ia menopang dagunya. Bisa dibilang, Ino salah satu dari anak perempuan zaman sekarang yang mengertikan juga. Tapi ia tidak pengecut, yang mendatangi satu orang dengan membawa banyak orang. Ia tipe orang yang datang sendiri, jadi satu lawan satu.
"Lalu, kenapa tidak mencobanya lagi?" Sakura yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara. Ia bertanya pada Hinata, padahal kalau tidak bisa sekali, masih ada banyak kesempatan.
"Sudah, aku sudah mencobanya sebanyak tiga kali. Tapi kejadian itu kembali terulang," jelas Hinata, menurutnya kejadian yang dia alami saat istirahat pertama bagaikan replay.
"Seperti terjebak di labirin," tawa paksa dikeluarkan Sakura, ia seperti dapat merasakan apa yang dirasakan Hinata. Dulu waktu masih SMP, pernah sekali Sakura terjebak di labirin. Lima jam tidak menemukan jalan keluar, hingga akhirnya ia ditemukan oleh petugas yang mencarinya.
"Mungkin labirin cinta~" tapi Ino mengartikannya terlalu berlebihan. Mana ada yang namanya labirin cinta, yang ada hanya labirin yang suka membuat orang terjebak.
"Apa?"
"Ya, intinya untuk mendekati orang yang kita sukai itu memang butuh perjuangan." mungkin itu yang dimaksud Ino, Sakura dapat mengertinya. Ia jadi menjelaskannya pada Hinata, karena Hinata belum mengerti. Untuk mendekati orang yang kita sukai itu memang butuh perjuangan, ibaratkan kita mencari jalan keluar dari labirin. Kalau kita sudah keluar dari labirin itu, dan kita berhasil mendekatinya, itu akan membuat perasaan kita sangat bahagia.
"Tapi aku 'kan tidak menyukai Naruto-senpai." mengelak kata-kata Ino dan Sakura, Hinata tidak seberusaha itu kok untuk mendekati Naruto. Ia juga tidak menyukai Naruto, tidak seperti yang mereka katakan.
"Bukannya tidak, tapi belum mengetahuinya saja." menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, dimana-mana pemikiran Hinata saja yang salah. Bukannya tidak, tapi memang belum. Ino yang sangat mengerti tentu saja tidak dapat membiarkan Hinata salah pikir terus.
"Eh~ Tapi apa sih yang membuatmu berdebar?" tanya Sakura penasaran, padahal baru dua hari di sekolah itu, tapi sudah dibuat berdebar. Pasti seseorang itu berdebar karena ada alasan, tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa berdebar sendiri.
Melihat Hinata yang bengong, Sakura anggap kalau Hinata tidak mengerti dengan pertanyaannya barusan. Padahal bukan itu, Hinata hanya tidak mendengarnya saja. Jadinya Hinata terdiam dan bengong karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi hal ini sangat membuat Sakura penasaran, harus diberikan contoh dulu baru Hinata akan mengerti.
"Misalnya ya, ini hanya contoh. Aku berdebar melihat Sasuke-senpai karena wajah dinginnya yang katanya kerennya."
"Eh? Sakura-chan suka Sasuke-senpai?!"
"Ha?! Masa?!"
Tuh 'kan benaran akan seperti ini jadinya, padahal 'kan diawal Sakura sudah bilang kalau itu hanya contoh. Bukan asli, tapi hanya umpamanya saja.
"Tidak~! Kalian salah paham, 'kan aku sudah bilang kalau itu hanya contoh." berusaha meyakinkan keduanya, tapi itu memang benar kok. Tidak mungkin Sakura berdebar melihat wajah Sasuke yang dingin. Tidak punya perasaan, dan tidak memikirkan perasaan orang lain.
"Oh~ Cuma contoh rupanya, tidak seru." ini memang tidak seru bagi Ino, padahal kalau Sakura memiliki perasaan khusus pada Sasuke, setiap hari akan ada candaan yang menyenangkan.
Karena sudah mengerti maksud Sakura dari contohnya, sekarang Hinata tahu harus menjawab apa. "Kalau aku, saat melihat senyumannya." inilah alasan yang membuat Hinata berbebar pada orang yang bernama Naruto.
"Senyumannya? Senyumannya ya?" mendengar alasan Hinata, Ino jadi ingat kejadian yang dialaminya belum lama ini.
"Ada apa Ino-chan?"
"Tidak, mendengar kata senyum, aku jadi ingat dengan orang yang memiliki dua tipe senyuman." hal yang baru diketahui olehnya, ternyata manusia itu memiliki jenis-jenis senyuman yang berbeda.
"Maksudnya?"
"Senyuman palsu dan senyuman asli." pemberitahuan apa yang dimaksud oleh Ino, ia mau Hinata dan Sakura tahu jenis senyuman apa yang dimaksud olehnya. Supaya teman-temannya tidak tertipu dengan senyuman palsu yang tidak disukai olehnya.
"Senyuman palsu? Ada yang seperti itu?"
"Yah~ Senyuman palsu itu, ibaratkan orang yang terpaksa senyum. Luarnya sih senyum, tapi dalamnya seakan berkata 'malas sekali tersenyum'. Itulah kira-kira, aku tidak suka yang seperti itu. Jadi kesal sendiri melihatnya~ Tapi bagi orang yang tidak bisa membedakannya, sudah pasti tidak akan tahu kalau misalkan dia itu mendapatkan senyuman palsu." jelas Ino panjang lebar, intinya dia sedang membicarakan seseorang tanpa dirinya sadari.
"Hoo~"
Tidak peduli pada tanggapan singkat dari kedua temannya, meski ia sudah bercerita panjang lebar. Akhirnya ia sudah mengungkapkan semua isi hatinya, tidak ada beban lagi dalam dirinya. "Kalau seperti itu sih, lebih baik tidak usah tersenyum, 'kan?" tapi tetap saja ocehan itu keluar dari mulut Ino. Padahal 'kan niat awalnya mau mendengarkan cerita Hinata, ini malah Ino yang bercerita.
"Iya~"
"Kalau Hinata-chan sendiri, senyuman apa yang dimaksud? Kalau ternyata itu senyuman palsu, kau pasti kesal sama seperti yang dirasakan Ino." kata Sakura penasaran, ia tidak pernah mengalami yang dirasakan Ino, tapi ia dapat merasakannya. Sebenarnya sih, Sakura sedikit heran karena Ino bisa membedakan senyum palsu dan asli.
"Tidak, itu bukan senyuman palsu. Karena aku yang melihatnya sendiri, senyumannya bagaikan mentari."
"Senyuman mentari? Ada yang seperti itu ya?"
Baik Ino maupun Sakura, mereka tidak pernah mengetahui kalau ada jenis senyuman seperti itu. Dalam pikiran keduanya, mungkin dibilang seperti itu karena tersenyum tepat di bawah matahari. Yang membuat orang yang melihatnya jadi merasa silau karena pantulan cahayanya. Begitu bukan ya?
"Itu menurutku sih,"
"Yah~ Hinata-chan mendeskripsikannya terlalu berlebihan. Tapi jangan lupa gunakan teknik rahasianya ya, aku tak sabar mendengarnya langsung darimu." Ino berdiri dan merenggangkan tubuhnya, capek juga berdiam diri sambil mendengarkan cerita. Kalau di kelas ada kasur, pasti ia sudah tiduran di sana.
"Mendengar apa?"
"Bahwa kamu suka Naruto-senpai." tidak mau kalah dari Ino, Sakura juga sama penasarannya dengan Ino. Masalah cinta-cintaan seperti ini, sangat menarik bagi keduanya.
"Eh? Itu 'kan belum tentu..."
"Hehe, kita lihat saja nanti."
Dengan menggunakan teknik rahasia, kita akan mengetahuinya.
::
::
Teng~ Teng~
"Yosh! Istirahat telah datang!" dengan semangatnya Ino berdiri dari tempat duduknya, menggepalkan kedua tangannya. Ini adalah saat-saat yang ditunggu olehnya. Kenapa?
"Ino-chan semangat sekali,"
"Tentu saja! Aku mengincar roti puding, aku pergi dulu ya!" dengan kecepatan kilat pula, Ino berlari keluar kelas. Kalau tidak cepat-cepat, nanti apa yang diinginkannya keburu habis. "Oh ya!" Ino menampakkan wajahnya kembali di depan pintu kelas, ada yang kelupaan. "Jangan lupa ya, teknik rahasianya..." setelah memberitahukan ini, kembali Ino berlari.
"Iya~"
Hinata melihat Sakura yang duduk menatap luar jendela, "Sakura-chan tidak kemana-mana?" tanyanya. Biasanya Sakura selalu bersama dengan Ino, mungkin Sakura tidak tertarik dengan roti puding yang diincar Ino.
"Tidak, aku di kelas saja." jawab Sakura, ia memang tidak minat ke mana-mana saat istirahat kedua. Karena ada satu hal yang tidak biasa dilihat olehnya dari balik jendela, itu membuat Sakura penasaran.
"Kalau begitu aku juga pergi ya," Hinata berpamitan pada Sakura, tidak enak juga meninggalkan Sakura sendirian. Ia terdiam menatap Sakura, dan itu sedikit membuat Sakura merasa tidak enak.
Apa Hinata merasakan ada hal yang aneh dengan Sakura? Tapi bukan hanya Sakura saja, hari ini Ino juga sedikit aneh. Saat berbincang di jam bebas itu, Ino seperti membicarakan orang. Rasa kesal yang ditunjukkan Ino juga berbeda dari biasanya. Ini tidak bisa didiamkan, harus cepat diselesaikan sebelum waktu Hinata habis.
"Sudah~ Ayo ke sana sebelum waktumu habis. Tapi jangan lupa kasih tahu ya kalau kamu sudah menyadarinya ya." memperingati Hinata, Sakura tidak mau waktu Hinata habis hanya karena khawatir dengan Sakura. Tidak ada apa-apa kok, Sakura hanya mengalami syok karena mendapatkan ledekan yang begitu dasyat dari seseorang.
"Itu tidak mungkin, tidak mungkin hanya dengan satu hari saja aku menyukai seseorang." elak Hinata, apa yang Sakura pikirkan itu tidak benar. Tidak mungkin dirinya menyukai Naruto hanya dalam satu hari, itu tidak mungkin. Mungkin rasa berdebar itu hanyalah sebuah ilusi yang seperti kenyataan.
"Yang namanya suka itu, tidak ada hubungannya dengan kapan orang itu baru kenal lho. Ada yang suka setelah sekian lama bersama dengannya. Tapi ada juga 'kan yang namanya cinta pada pandangan pertama? Jangan remehkan perasaanmu sendiri, Hinata. Saat kau mengetahuinya, yang namanya kebahagiaan pasti akan menghampirimu." Sakura benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Hinata. Polos? Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu. Hinata selalu saja mengelak tentang masalah itu.
"Eh? Begitu ya?"
"Ah~ Nanti kau juga mengerti. Sudah sana, waktumu benar-benar sudah berkurang banyak."
"Iya~"
Dengan ini, Hinata sudah menjalankan langkah awal untuk menemui Naruto. "Semoga Naruto-senpai ke tempat itu." untuk saat ini, itulah harapannya. Karena ada hal yang mau dipastikannya, hal yang membuatnya sangat penasaran. Kenapa dirinya berdebar karena Naruto? Apa benar itu karena ia suka dengan Naruto? Sebuah teknik rahasia yang memang harus dilakukannya.
Akhirnya sampai juga Hinata pada tujuan, ternyata Naruto benaran ada di sana. Untung saja tujuan Hinata akan langsung terselesaikan, teknik rahasia. Kapan waktu yang pas untuk melakukannya ya?
"Ah~ Sudah kuduga kau akan ke sini, Hinata." dengan semangat Naruto menyambut kedatangan Hinata, Hinata yang mendengarnya pun sedikit kaget. Keberadaannya sangat cepat diketahui, padahal Hinata tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Iya, itu... Sebenarnya~"
"Sudah, duduk saja dulu. Ayo~" Naruto menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, menyuruh Hinata untuk duduk. Kalau memang ada yang mau dibicarakan, lebih enak duduk daripada berdiri.
Setelah Hinata duduk, Naruto yang bicara duluan. Ia mau memastikan, apa benar yang samar-samar dilihatnya itu nyata atau tidak. "Begini Hinata, saat istirahat pertama aku seperti melihatmu mencoba menemuiku. Apa itu benar? Samar-samar aku melihat keberadaanmu, itu terjadi tiga kali. Tapi karena terlalu banyak orang yang mengelilingiku, kamu jadi tidak bisa menemuiku." wajah penasaran dipancarkan Naruto, ia benar-benar tidak mengerti dengan matanya sendiri.
Naruto melihat Hinata walau samar-samar, ternyata keberadaannya disadari. Itu membuat Hinata senang, karena dari sekian banyak orang, Hinata tetap terlihat. "Itu benar." menjawab rasa penasaran Naruto, Hinata berkata yang sebenarnya.
"Ada urusan apa?" kalau mau bertemu, itu tandanya ada urusan, 'kan? Berarti kalau Hinata berniat menemui Naruto, berarti ada sesuatu yang mau dilakukan oleh Hinata. Makanya Naruto bertanya, meski ia tahu kalau Hinata tidak akan menjawabnya.
"Itu, sebenarnya..." tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin Hinata bilang kalau dia mau memastikan apakah dirinya benaran suka sama Naruto atau tidak.
Karena tidak ada jawaban dari Hinata, Naruto seenaknya memutuskan sendiri. "Kangen aku ya?!" dan ini benar-benar membuat Hinata kaget. Melihat ekspresi Hinata, benar-benar menggelitik perutnya. "Haha, abaikan saja kata-kataku tadi." katanya tertawa pelan.
Naruto tahu kalau Hinata itu anak yang pemalu, jadi mudah kagetan. Selain itu, Hinata orang yang gampang percaya dengan ucapan orang lain. Tidak usah pikirkan apa tujuan Hinata menemuinya, saat ini Naruto hanya mau menceritakan satu hal pada Hinata. "Aku mau cerita dulu tentang suatu hal nih, dengarkan aku ya." menyiapkan ancang-ancang yang enak sebelum bercerita, Naruto tidak mau kalau saat asyik-asyiknya cerita malah diganggu dengan pegal-pegal.
"Apa itu?"
"Kebahagiaan itu menurutmu seperti apa?" bukannya cerita, tapi malah pertanyaan yang keluar dari mulut Naruto.
"Kebahagiaan menurutku?" berpikir sebentar, Hinata melihat Naruto yang sepertinya penasaran dengan jawaban yang akan dijawab oleh Hinata. "Kebahagiaan itu sederhana," jawabnya.
"Sederhana?"
"Ya, contohnya bisa bersama dengan orang yang disayangi." memberikan contoh yang pada umumnya saja, Hinata juga sering sekali merasakan kebahagiaan itu. Meski banyak kekurangan di hidupnya, kalau bersama dengan orang yang disayangi, itu sudah cukup.
"Oh~ Sekarang coba kalau kamu ambil dari sudut pandang manusia yang memiliki sembilan nyawa kucing." kembali Naruto membicarakan hal ini, manusia yang memiliki sembilan nyawa kucing. Karena hal ini hanya dapat diceritakannya pada Hinata, satu-satu orang yang percaya pada Naruto.
"Aku pikir, manusia yang memiliki sembilan nyawa kucing itu pasti hiudpnya selalu bahagia. Kenapa? Karena kematian sangat jauh dari hidupnya." pemikiran Naruto yang pendek ini, tidak disukai Hinata.
"Kenapa Naruto-senpai bicara seperti itu? Bahkan seseorang yang memiliki sembilan nyawa kucing pun, belum tentu senang dengan kehidupannya." Hinata salah satu manusia yang memiliki sembilan nyawa kucing, jadi Hinata dapat merasakan apa yang selalu dirasakan olehnya. Tidak selalu bahagia, karena pasti ada saja hal yang menyedihkan. Menghapus ingatan orang-orang yang mengetahuinya, menghindari berita yang tidak benar, kehilangan orang-orang yang disayang, itu tidak bisa disebut dengan bahagia.
"Ha? Kau bicara apa?" tidak mendengar apa yang dikatakan Hinata, suara Hinata sangat kecil. Naruto sedikit penasaran, jadi ditanyakannya saja.
"Tidak~ Bukan apa-apa," tapi Hinata malah tidak mau memberitahukannya.
Naruto bukannya tidak mendengarnya, hanya saja ia pura-pura tidak mendengarnya. Ia dapat mendengar apa yang dikatakan Hinata, ia tidak tahu kenapa Hinata bicara seperti itu. Padahal, kalau memiliki sembilan nyawa kucing, kita tidak perlu kehilangan orang yang disayangi dengan cepat. "Kalau orang tuaku memiliki sembilan nyawa kucing itu, pasti sampai sekarang mereka masih ada di dunia ini." Naruto benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Hinata.
"Eh? Apa? Naruto-senpai bicara apa?" sekarang gantian Hinata yang tidak mendengar apa yang dikatakan Naruto. Sama penasarannya dengan Naruto, sama tidak mendapatkan jawaban juga.
"Bukan apa-apa kok, kita impas. Hahaha~"
Kalau kejadiannya seperti ini, kapan Hinata punya waktu untuk mencoba teknik rahasianya? Padahal ia sangat penasaran, tapi belum ada waktu yang pas untuk melakukannya. Coba kalau Naruto sendiri yang menyuruhnya untuk menatap matanya sendiri.
"Oh iya, Hinata."
"Iya?"
"Coba kau tatap mataku,"
"Apa?"
Ada apa ini? Apa yang dipikirkan Hinata benar-benar terjadi? Naruto dengan sendirinya meminta Hinata untuk menatap matanya?! Ini waktu yang sangat pas untuk mencoba teknik rahasianya. Untung Naruto menyuruh Hinata untuk menatap mata Naruto.
"Lihat saja~ Adakah yang aneh?"
Tik~
"Apa?"
Tik~ Ada apa ini?
"Karena orang selalu saja melihat mataku dengan tidak biasa."
Tik~ Kok?
"Apa itu karena aku memang keren ya?" bilang kalau dirinya sendiri keren, dengan senyuman yang dapat menaklukkan hati Hinata.
Oh tidak.
Deg~
"Itu..."
Deg~
"Hmm, bahkan Hinata saja sampai tidak dapat berkata apa-apa."
"Aku permisi~!"
Tidak tahan, Hinata tidak tahan. Tiga detik berlalu, itu benar-benar menyadarkannya.
Deg~
Debaran ketiga telah berlalu, kembali Hinata berubah menjadi sosok kucing. "Lagi-lagi~ Aku payah," dan akhirnya Hinata sadar juga. Bahwa dirinya, benar-benar menyukai Naruto. Teknik rahasia yang diberikan oleh Hiashi dan Ino benar-benar akurat. Akhirnya Hinata tahu alasan yang membuatnya berdebar.
Tidak ada alasan untuk kabur lagi, Hinata harus berada di sini sampai sosoknya berubah kembali. Daripada bosan bersembunyi, lebih baik datang pada Naruto dengan sosoknya yang sekarang. Anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi.
"Meoong~"
"Ah! Kucing yang waktu itu. Kau datang lagi?" dengan wajah gembira, Naruto menyambut kedatangan Hinata dengan sosok kucing. "Kucing, kau mau menemaniku lagi ya? Terima kasih!" setelah sosok Hinata menghilang, rasa sepi langsung melanda dirinya. Untungnya ada si kucing yang datang padanya.
"Hmm..." berpikir, "Apakah setiap hari kau akan ke sini?" tanya Naruto penasaran. Dua hari berturut-turut kucing ini datang pada waktu yang tidak terlalu berbeda. Apa kucing ini mengerti waktu ya?
"Meooong,"
Mengerti maksud meongannya, "Benarkah? Wah~ Kalau begitu aku akan menyambutmu setiap hari." Naruto merasa sangat bahagia. Ia juga sempat berpikir, tidak mungkin Hinata akan selalu datang ke tempat persembunyiannya. Jadi kalau kucing ini datang setiap hari, rasa kesepian itu akan sedikit berkurang.
"Datangnya setiap istirahat kedua ya? Aku sering ke sini saat jam itu." mengingatkan sang kucing, Naruto tidak mau kalau kucing itu datang tapi dirinya tidak ada di sana.
Lupakan masalah waktu kapan datangnya, "Padahal aku mau mengenalkanmu dengan seseorang lho." ini jauh lebih serius. "Hei, Kucing. Dengarkan aku, orang yang mau kukenalkan denganmu itu manis lho. Kau pasti akan langsung menyukainya! Tapi sayang, belum lama ini dia kabur. Kenapa ya?" padahal saat-saat itulah yang paling dinanti Naruto. Mengenalkan seorang dengan seekor untuk saling bersahabat. Bukankah itu tindakan yang bagus?
"Kucing? Ada apa denganmu? Kok diam saja?" tidak biasa dengan respon si kucing, padahal kemarin si kucing lebih sering mengeong.
"Baiklah, aku akan bercerita lagi. Kemarin benar-benar hari yang menyenangkan, aku bersama denganya di ruang OSIS meski hanya sehari saja. Mereka menyambut baik dirinya, rasanya jadi sepi kalau dia tidak ada."
'Sepi karena aku tidak ada?'
"Kau tahu 'kan rasa sepi itu bagaimana? Padahal hanya sehari lho, tapi dia sudah seperti bagian dari kita."
'...'
Hinata tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Saat datang ke ruang OSIS, Hinata memang disambut dengan baik. Saat tidak ke sana lagi juga, orang-orang di sana merasa kesepian karena Hinata tidak ada. Mereka anggap, Hinata sudah seperti bagian dari mereka. Hinata senang mendengarnya, tapi ia tidak dapat membantah apa yang sudah dikatakan Naruto. Bahwa Hinata tidak perlu lagi ke sana, lakukan saja kehidupan SMA pada umumnya. Walau hanya sehari, memang terasa menyenangkan dapat mengenal anggota The Star dengan baik.
"Hei, kucing." jeda lima detik, "Tidak enak manggilnya begitu." Naruto merasa aneh dengan cara panggilnya. Kucing ini memerlukan nama, jadi tidak perlu memanggilnya dengan nama jenisnya.
'Nama? Ah iya, namaku 'kan tidak diketahui kalau dalam sosok kucing."
"Hmm... Sebenarnya sejak kemarin aku sudah memikirkan namamu sih. Tapi cocok tidak ya?" berpikir kembali, kalau tidak cocok jadi tidak enak manggilnya. Apalagi kalau si kucing tidak suka dipanggil seperti itu, harus memikirkan nama yang lainnya. Tapi menurut Naruto, nama yang melintas di pikirannya itu bagus kok.
'Apa?' ini yang membuat Hinata penasaran sejak Naruto membicarakannya. Nama yang yang telah ditentukan Naruto? Nama yang dipikirkannya sambil memikirkan Hinata yang menjadi kucing.
"Kamu mirip seperti Hinata,"
'Eh?!'
Kenapa malah nyambung ke Hinata? Kalau dari warna bulu sih memang dari warna rambut Hinata. Apa karena itu ya?!
"Aku tidak tahu cocok atau tidak. Tapi mulai sekarang, namamu Hina."
'Hi-na?'
Melihat senyuman yang mengembang pada Naruto, sepertinya Naruto sangat menyukai nama ini. Hina, benar-benar nama yang mirip dengan nama Hinata. Hanya menghilangkan 'ta' saja, Naruto memikirkannya sambil memikirkan yang diberi nama suka atau tidak. Tapi kelihatannya, Hinata suka.
"Kau suka ya?" Naruto senang, karena melihat kucing itu menggoyang-goyangkan ekornya. Ternyata Hina memang nama yang paling pas, tidak salah dirinya memilih nama itu.
"Nah, Hina. Mulai sekarang mohon kerja samanya ya."
::
::
To Be Continue
::
::
Maafkan diriku yang telat update ya xD
Semoga hasilnya memuaskan..
Ttd,
Haruna Hajime
24 AGUSTUS 2016
