"Ah, sudah waktunya kembali. Besok kita bertemu lagi ya, Hina." sebuah kalimat perpisahan, untuk hari ini.

"Meoong~"

"Tenang saja, suatu saat aku pasti akan mengenalkanmu dengannya." dan sebuah harapan, yang tidak akan pernah terkabulkan.

::

:: It's a Wonderful Cat Life ::

::

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime

::

Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

::

Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.

::

Genre : Romance

::

Rated : T

::

::

Selamat membaca~!

::

::

::

"Aku kembali~"

Tidak lama setelah Naruto pergi dari tempat itu, Hinata kembali berubah ke sosok aslinya. Kalau sudah berubah menjadi kucing, waktu kembali menjadi manusianya tidak menentu. Jadi Hinata tidak dapat memperkirakannya, mungkin dapat berubah kembali dengan mengatur tempo detak jantung.

"Kau sudah kembali Hinata? Lihat~ Aku berhasil mendapatkan satu roti puding dari kerubunan banyak orang yang memburunya!" seru Ino dengan semangat, tidak lupa menunjukkan hasil buruannya.

"Wah~ Selamat Ino-chan, tapi kok belum dimakan?" tanya Hinata setelah ia memberikan selamat. Harusnya langsung saja Ino makan, apalagi sudah lama Ino mendapatkan roti itu.

"Aku mau memberitahukan Hinata-chan dulu, 'kan gak seru kalau Hinata-chan tidak tahu." bukan bermaksud pamer, hanya saja kalau ngomong tapi tidak ada bukti 'kan sama saja percuma. Jadi Ino tidak mau sampai Hinata tidak mempercayainya karena tidak ada bukti.

Siapa sih yang tidak mengincar roti puding? Saat istirahat banyak penggemar roti puding yang langsung berlari untuk mendapatkannya. Ino tahu informasi ini dari kakak kelas yang tidak sengaja ditemuinya kemarin. Katanya hanya beberapa menit saja, roti puding sudah habis. Karena penasaran, Ino jadi ikut-ikutan berburu. Lalu, setelah dimakan, rasanya memang sangat luar biasa! Prestasi tersendiri juga karena berhasil mendapatkan satu dari berpuluh-puluh atau mungkin beratus-ratus murid yang mengincarnya. Menurut Ino, itu seru.

"Hahaha,"

"Bagaimana? Apakah Hinata-chan sudah tahu perasaan sendiri?" mengganti topik, sekarang beralih pada tujuan Hinata keluar kelas.

Hinata mengangguk, dan itu membuat Sakura dan Ino tersenyum. Ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh keduanya, Hinata yang menyadari perasaannya sendiri! Ternyata yang namanya perasaan suka itu tidak memikirkan kapan waktu ia menyukainya.

"Tuh 'kan, kamu memang menyukainya. Teknik rahasianya memang jitu, tidak salah selama ini aku membaca majalah remaja." Ino sendiri tidak mengerti kenapa teknik itu benar-benar tepat. Mungkin kalau ia bimbang dengan perasaannya sendiri, ia akan mencoba teknik itu juga.

"Tapi aku tidak percaya, hanya dalam dua hari saja aku sudah langsung suka padanya." memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela. Hinata tidak tahu kenapa dirinya bisa secepat itu menyukai orang.

"Namanya juga cinta pada pandangan pertama." menatap Hinata yang berusaha menghindari kenyataan, Ino merasa Hinata sangat manis. Cinta jenis ini yang paling Ino sukai, karena membuat orangnya sendiri pun tidak percaya.

"Semuanya ayo duduk di tempat masing-masing."

"Ah~ Guru masuk! Ceritanya nanti lagi ya~"

Padahal lagi seru-serunya, tapi guru malah masuk. Pelajaran pun dimulai dengan damai, sampai-sampai tidak terasa sudah waktunya untuk pulang. Banyak murid yang bersemangat, termaksud Ino. Tapi malah dirinya yang keluar kelas paling terakhir. Bahkan sampai membuat Hinata dan Sakura dibuatnya menunggu.

"Sudah belum?" tanya Sakura malas, dirinya tidak suka menunggu hal yang tidak pasti. Itu juga karena Ino bengong, makanya membuatnya telat beres-beres.

"Iya, ini sebentar lagi kok. Sabar dong~" memasukkan barang-barangnya dengan terburu-buru, meski begini Ino merasa tidak enak karena membuat temannya menunggu. "Nih, sudah beres sekarang. Ah~ Hinata-chan sudah ada yang menjemput, kami duluan ya." menangkap apa yang ada di depan kelas, Ino melihat Hinata dengan tidak biasa.

Mengerti maksud Ino, "Bersenang-senanglah~" Sakura juga tidak mau mengganggu kisah keduanya. Ia menarik tangan Ino untuk pergi duluan, dan memberikan senyuman singkat setelah melewati Naruto.

"Tu-tunggu Ino-chan! Sakura-chan!"

Ugh~ Suasana ini, Hinata tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Lagian, ini apa? Naruto menunggu Hinata di depan kelasnya untuk pulang bersama? Itu benar-benar hal yang tidak pernah Hinata duga. Apalagi setelah Hinata tahu dengan perasaannya sendiri, ia jadi bingung harus bersikap apa di depan Naruto.

"Sudah mau pulang?"

Mengangguk singkat, daripada berdiam diri memikirkan hal yang tidak jelas, lebih baik langsung pulang saja. Tapi Hinata benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran Naruto. Dengan ini sudah pasti, bahwa Hinata tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Naruto. Hinata sudah dikeluarkan, maksudnya sudah bukan menjadi salah satu anggota dari OSIS, meski dari awal memang bukan anggota sih.

"Padahal Naruto-senpai tidak perlu menjemputku ke kelas untuk pulang bersama segala." angkat bicara, perjalanan terasa sangat lama kalau kedua belah pihak hanya berdiam saja.

"Eh? Kok gitu?" tidak mengerti maksud Hinata. Kenapa Hinata berpikiran seperti itu? Ini 'kan keinginannya Naruto sendiri.

"Naruto-senpai tidak perlu repot-repot menungguku, padahal 'kan bisa langsung pulang." menjelaskan maksud yang sebenarnya. Sekarang, untuk sekarang Hinata bukan siapa-siapa bagi Naruto. Hanya kejadian satu hari itu saja, belum tentu bisa membuat orang yang tidak dekat menjadi dekat. Itu diperlukan waktu berhari-hari supaya keduanya bisa dekat. Dengan satu hari itu saja, sudah membuat Hinata merasa dekat dengan Naruto. Bahkan sampai menumbuhkan perasaan itu.

"Tidak bisa begitu dong, aku 'kan searah denganmu."

Tapi Naruto? Menurut Hinata, kalau memang kemarin bukanlah apa-apa, hanya kejadian biasa saja, Naruto tidak mungkin sampai berbuat hal ini. Menunggunya untuk pulang bersama. Bolehkah Hinata sedikit berharap? Bahwa ada rasa sedikit tertarik kepada dirinya?

"Yah~ Meski searah, tidak perlu repot-repot ke kelasku. Padahal ruang Naruto-senpai lebih dekat dengan pintu keluar. Bisa langsung ke arah gerbang dan pulang."

"Tidak bisa begitu dong, aku 'kan mau bersama denganmu."

"Eh?"

Sedikit saja, bolehkah Hinata berharap?

"Rasanya sepi kalau pulang sendirian, dari dulu sampai kemarin lusa aku merasakannya. Setelah aku menemukan teman pulang yang cocok, aku jadi mau kejadian itu terus berulang deh."

"Oh~"

Teman pulang bersama ya? Rasanya sedikit aneh mendengarnya. Memangnya Naruto tidak punya teman pulang yang searah lainnya? Memang semua anggota OSIS beda arah, kecuali Shikamaru dan Sai. Tapi 'kan, memangnya Naruto tidak punya teman lain selain mereka? Naruto yang begitu populer, berbeda dengan dirinya.

"Ah! Pas sekali bus-nya sudah datang. Ayo naik~"

Hilangkan dulu pemikiran itu, mereka naik bus yang sudah datang tidak lama setelah mereka sampai di Halte. Kalau masalah tempat duduk, seperti biasa duduk di bagian depan. Naruto selalu mengalah demi kenyamanan Hinata.

Menatap Hinata ragu-ragu, sebenarnya ada yang mau ditanyakan oleh Naruto. "Bagaimana hari kedua di sekolah ini?" bukan! Bukan ini yang mau ditanyakan sebenarnya.

"Lumayan~"

Ah! Lupakan cara yang berbelit-belit, to the point saja. Lagian bingung juga mau mencari topik apa sebelum ke topik utama. Lebih cepat memang lebih bagus.

"Masalah pembicaraanku kemarin," akhirnya terucap juga, Naruto mau menumpahkan pendapatnya. Arti 'satu hari' bagi Naruto, dengan adanya Hinata di lingkup mereka.

"Yang mana?"

"Yang keputusan itu dibatalkan,"

"Ah~" rasanya, jantung ini seperti tertusuk. "Masalah itu, kuucapkan terima kasih." menundukkan kepalanya singkat. Hinata tidak mengerti apa yang harus dirasakannya sekarang. Seperti campur aduk antara senang dan sedih. Senangnya kenapa? Hinata dapat berbaur dengan orang-orang yang hebat, dan dapat kembali ke kehidupan anak SMA biasa. Tapi sedihnya, seakan 'satu hari' itu bukan apa-apa untuk mereka. Kedatangannya hanya dianggap sebagai angin yang kapan saja dapat menghilang.

"Tapi, gimana ya? Semuanya sudah menerimamu dengan baik," menggaruk-garuk pipinya, Naruto melihat ke Hinata. Bukan hanya dirinya saja, tapi semuanya memang sudah menerima kehadiran Hinata.

"Lalu?"

"Kalau kau mau, kamu boleh datang ke sana." Tidak percaya, Hinata diundang kembali untuk dapat bersama-sama dengan semuanya. "Tapi bukan sebagai 'Cat', melainkan tamu kami semua." mengundang Hinata kembali, Hinata kembali mendapatkan tiket masuk untuk masuk ke ruang OSIS kapan saja.

"Ha?"

"Yah~ Rasanya, tidak enak kalau yang namanya 'berbeda' itu hanya dirasakan sekali saja. Kami jadi merasa kesepian, kapan-kapan main ya ke ruangan kami." ternyata itulah yang dirasakan semuanya. 'Satu hari' itu, meski tidak melakukan apa-apa, tapi Hinata sudah memberikan pengaruh besar untuk semuanya.

"Iya," entah kenapa, Hinata sangat senang mendapatkan tiket itu kembali. Bisa kapan saja bertemu dengan orang yang disukai.

"Tapi istirahat pertama saja ya, kalau istirahat kedua, kita ke tempat rahasia kita berdua!" dan mendapatkan satu tiket lagi, tiket yang paling spesial.

"I-iya~"

"Eh! Sudah haltemu turun," melihat halte tempat pemberhentian Hinata, hampir saja terlewatkan. Untung saja Naruto mengingatkannya, kalau tidak namanya bukan pulang ke rumah lagi.

"Iya, terima kasih untuk hari ini." berdiri untuk turun dari bus, sebelumnya mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Perasaan senang karena mendapatkan dua tiket sekaligus, tidak dapat dibendungnya lagi.

"Sampai berjumpa besok, kutunggu kedatanganmu kapan saja." memberikan senyumannya kembali, ugh... Hinata paling suka melihat senyuman Naruto.

Bolehkah Hinata sedikit egois? Senyuman itu... Bolehkah hanya diberikan untuknya? Perasaan yang baru disadarinya, membuatnya menjadi serakah.

"I-Iya~"

::

::

"Aku pulang~"

Seperti biasa, setelah ini Hinata langsung berganti. Karena ia tidak memiliki waktu banyak, ia sudah harus selesai masak sebelum dirinya berubah menjadi kucing. Setelah selesai ganti pakaian, Hinata langsung menuju dapur, ia akan memasak makan malam. Sambil menunggu masakannya matang, ia ke ruang TV untuk bertemu dengan Hiashi. Ada banyak yang mau diceritakan olehnya.

"Ayah~" sesampainya di ruang TV Hinata langsung memanggil Hiashi, ia duduk tidak jauh darinya.

"Bagaimana? Sudah dicoba teknik rahasianya? Kau sudah tahu alasannya?" baru saja datang, Hiashi langsung bertanya hal yang membuatnya dari kemarin penasaran. Mendapatkan anggukan dari Hinata, Hiashi tersenyum singkat. "Selamat ya, anak ayah sudah dewasa." karena akhirnya pemikiran Hinata sudah berubah. Dengan ini, kehidupan Hinata pun akan semakin berkembang.

"Tidak seperti itu juga kok," mendapatkan balasan Hinata yang malu-malu, jadi mengingatkan Hiashi dengan mendiang istrinya dulu. Sangat mirip dengan Hinata~

Kembali serius, 'Naruto Uzumaki, memang anak dari Minato dan Kushina. Tapi tidak kusangka, mereka akan pergi secepat itu. Pergi meninggalkan anaknya yang masih dibawah umur, selamanya. Bagaimana cara itu anak menjalani hidupnya selama ini?' Hiashi sudah mendapatkan informasi tentang Naruto Uzumaki. Tapi ia tidak pernah menyangka, teman seperkantorannya dulu sudah meninggal duluan. Hiashi jadi kurang yakin dengan Naruto, apakah pilihan baik membiarkan Hinata menyukai Naruto?

Sebentar menonton TV, masakan sudah matang. Hinata langsung bangun untuk mematikan kompor, ia meletakkan semua masakan yang sudah jadi di atas meja makan. Setelah semua sudah rapi, barulah Hinata berubah menjadi kucing. Ternyata sudah jam enam malam, Hinata tidak menyadarinya sama sekali. Ya sudahlah, daripada makanan keburu dingin, sebaiknya dimakan sekarang. Hinata memanggil Hiashi untuk segera makan. Selesai makan, Hiashi menyuruh Hinata untuk ke ruang TV duluan.

"Nak, kamu tunggu di ruang TV dulu ya. Ayah ke ruang kerja dulu sebentar."

"Iya,"

Hinata pun mengikuti perintah Hiashi, sambil menunggu sambil menonton TV yang baru saja dinyalakan olehnya. Hinata tidak tahu acara apa yang menarik di jam seperti ini, jadinya dari tadi ia hanya mengganti-ganti saluran. Sampai Hiashi datang menghilangkan rasa kebosanan itu.

"Nak," panggilan Hiashi membuat tanggan mungil itu berhenti mengotak-atik remot TV.

Hinata melihat Hiashi sebentar, "Ada apa yah?" tanyanya dan langsung mematikan TV. Karena tidak ada acara TV yang menarik, jadi lebih baik dimatikan saja.

"Ayah membuat ramuan baru," kata Hiashi, ia mendekati Hinata dan duduk di sebelahnya. Penasaran dengan ramuan baru yang dimaksud oleh Hiashi pun, akhirnya Hinata bertanya. "Obat penawar, kalau kamu meminum ini, kamu tidak akan berubah menjadi kucing. Tapi hanya bisa menggunakan satu penawar dalam satu hari. Ayah samarkan obat ini sebagai gelang, di dalamnya terdapat sepuluh tablet obat penawar. Nih~" menyerahkannya pada Hinata, ia menggenakan gelang obat itu pada Hinata.

"Bentuk bandul gelangnya huruf H, tapi dalam sehari 'kan Hinata memang berubahnya hanya sekali."

"Iya, ayah buat seperti itu supaya hanya terlihat sebagai gelang biasa. Kalau kamu tiba-tiba berubah karena berdebar, saat itu kamu dapat menggunakannya. Makanya bawalah setiap hari untuk berjaga-jaga. Tapi ingat, satu hari satu tablet. Kalau dalam gelang itu obatnya sudah habis, kamu boleh minta pada ayah lagi."

Hinata melihat Hiashi, ia tidak pernah menyangka bahwa ada yang namanya obat penawar. Tapi kenapa sehari hanya boleh satu tablet saja? Kalau dalam kedokteran, biasanya banyak yang makan obat sehari dua kali. Tapi kok dirinya hanya boleh satu doang ya? "Kalau satu hari lebih dari satu tablet?" karena hal itulah yang membuat Hinata menanyakannya.

"Tubuhmu tidak akan kuat, nak."

Yah~ Hinata memang dilahirkan dengan kondisi tubuh yang lemah. Mungkin memang itu yang menyebabkannya. "Ah, iya. Terima kasih sudah membuatkan obat penawar ini untuk Hinata." tapi karena sudah ada obat penawarnya, itu membuat Hinata sedikit tenangan.

"Ingat, obat penawar ini bukan permanen ya. Untuk yang permanen, akan ayah usahakan. Hinata mau 'kan menjadi manusia seutuhnya?"

Keberadaan Hinata sekarang ada di kamarnya, ia melihat pantulan dirinya pada kaca. Mengingat kembali ucapan sang ayah, ia memang mau menjadi manusia seutuhnya. Tapi kalau itu tidak memungkinkan, itu tidak masalah baginya. Sudah cukup kalau ada orang yang mau menerimanya apa adanya.

"Obat penawar ya? Ayah sudah berusaha membuat obat penawarnya. Meski tidak permanen, tapi berguna juga untuk disaat-saat tertentu."

Pada akhirnya, selama lima belas tahun hidupnya, baru ada obat penawarnya. Hinata tidak tahu juga, apakah obat ini akan terpakai atau tidak. Karena kalau ia berubah pun, selalu saja di tempat yang tertutup, jadi tidak masalah. Tapi kalau untuk jaga-jaga, tidak apa untuk dibawa. Takutnya nanti sekolah mengadakan acara menginap, nah di saat-saat seperti ini obat penawarnya akan sangat berguna.

Hinata melompat pada kasurnya, ia sangat penasaran dengan obat ini. Sekarang sosoknya kucing, kalau ia memakan obatnya sekarang, apa yang akan terjadi ya? Apa ia akan kembali berwujud manusia? Tapi, untuk saat ini obat tersebut tidak berguna. Sayang kalau hanya untuk memastikan saja, setidaknya hargailah ciptaan orang tua sendiri. Jangan dipakai untuk hal yang sia-sia saja. Pada akhirnya, Hinata pun tertidur tanpa mencoba obat penawar itu terlebih dahulu.

Esok paginya, Hinata sedikit telat. Karena ia tidur sedikit malam, bahkan hanya masak seadanya saja. Yang paling menguntungkan, ada jalan pintas kalau sedang telat. Untungnya saat itu Naruto memberitahukan hal itu pada Hinata, jadi kata telat akan jauh dari hidup Hinata.

"Lewat sini saja." bersiap-siap melewatinya, ia mulai berjongkok untuk mengikuti ukuran lorong kecil tersebut. Perlahan-lahan mulai berjalan, supaya kotoran tidak terlalu kena pada pakaiannya.

Di sisi lain, seorang yang melihat Hinata kaget karena kejadian tersebut. "Lho? Siapa itu?" dia bertanya-tanya, siapa yang melewati tempat tersebut. Dengan kecepatan yang penuh, ia berlari dan tanpa ragu-ragu, "Hei! Tunggu!" ia memegang kaki Hinata.

Sontak Hinata kaget, dia berteriak. "Ugh~ Kyaaa!" dan menendang orang yang memegang kakinya tersebut. Karena kondisi tubuh Hinata yang pada awalnya memang lemah, jadi tenaganya kecil. Dengan tenaga kecil itu, ia hanya dapat membuat orang yang ditendangnya itu merintih pelah.

"Sakit tahu~"

Mendengar suara yang tidak asing itu, membuat perasaan Hinata tidak enak. Ia berbalik untuk melihat apa yang ada di depannya. Sungguh kaget dirinya saat melihat orang tersebut, "Eh? Naruto-senpai?" itu adalah Naruto! Hinata menendang kakak kelasnya sendiri? Bagaimana nasibnya nanti?!

"Hinata? Kok kamu tahu jalan ini?" tidak peduli pada rasa sakitnya, Naruto sekarang kaget karena ada Hinata di jalan pintas yang hanya diketahui olehnya. Eh, sama seorang perempuan yang tidak sengaja ditabraknya di dalam bus. Seorang yang tidak sengaja juga ia beritahukan jalan pintas rahasia miliknya seorang.

"Naruto-kun sendiri yang memberitahukannya,"

Tidak percaya apa yang didengarnya, "Ha? Aku sendiri? Kapan?" Naruto bertanya-tanya.

"Saat hari pertama masuk sekolah,"

"Hari pertama masuk sekolah?"

Kembali mengingat, saat hari masuk pertama sekolah memang tanpa sengaja Naruto memberitahukan jalan pintas ini pada salah satu murid baru. Tapi, kayanya bukan Hinata deh. Tapi kok sepertinya... "Jadi gadis itu kamu?!" Naruto baru ingat sekarang, gadis itu memang Hinata. Kenapa Naruto tidak menyadarinya sama sekali?!

Disaat Naruto melihat Hinata mengangguk, ia sangat tidak percaya. Apa alasan yang membuatnya tidak mengenali Hinata? Diingat-ingat kembali olehnya, "Oh! Saat itu aku tidak melihat wajahmu dengan jelas, tapi ternyata kamu ya. Syukurlah kalau begitu~" tapi Naruto merasa tenang sekarang. Jalan pintas rahasianya, ternyata diketahui oleh orang yang tidak asing baginya.

"Iya,"

"Jadi kita punya dua rahasia ya!" mengetahui ini, Naruto jadi senang sendiri. Enaknya memiliki teman untuk berbagi rahasia, jadi ia tidak memegang rahasia itu sendiri lagi.

"Naruto-senpai tumben lewat sini,"

"Iya, hari ini aku sedikit telat. Sudah-sudah! Ayo jalan, kalau bicara terus nanti malah telat betulan lagi."

"Iya,"

Pembicaraan selesai, mereka kembali meneruskan perjalanan karena mengingat saat ini mereka sedang telat. Sampai di ujung lorong, Naruto pun berniat untuk berpisah dengan Hinata. "Sudah ya, kita pisah di sini." pamitnya.

"Naruto-senpai." mendapatkan panggilan dari Hinata, Naruto menunda kepergiannya. "Ada apa?" tanyanya setelah itu, tidak baik mengabaikan panggilan orang.

"Saat istirhat pertama, bolehkah aku datang ke ruang OSIS?" tanya Hinata, ia sudah memikirkannya matang-matang. Saat mendapatkan tiket itu kembali, ia tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja.

Jadi, untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, lebih cepat lebih bagus, 'kan?

"Tentu saja! Semua pasti akan senang,"

::

::

"Hinata-chan~ Tumben kau datangnya telat," sesampai di kelas, Hinata langsung disambut oleh oleh Sakura.

"Iya, aku sedikit telat." balas Hinata, ia meletakkan tasnya pada mejanya. Kemudian melihat Sakura dan Ino yang sedang makan makanan ringan. "Untungnya ada jalan raha... Eh, bukan apa-apa." hampir saja, hampir saja Hinata memberitahukan hal yang rahasia pada temannya.

"Maksudmu jalan rahasia?" Ino yang baru saja selesai mengunyah kembali meneruskan kalimat Hinata yang belum selesai, rasanya... niat menggoda Hinata mulai muncul dari dalam dirinya.

"Bukan!" berusaha menyembunyikannya, tidak mungkin rahasia ini langung terbongkar seperti itu. Lagian, ini rahasia yang belum lama ini didapatkan olehnya. Ada pemilik tetap rahasia ini, dan tidak boleh dibocorkan sebelum minta izin terlebih dahulu. Tapi pada awalnya, Hinata memang tidak mau memberitahukannya.

"Sejenis jalan pintas gitu?"

"Bukan!"

Menatap Hinata tajam, mendapatkan penolakan itu memang tidak enak ya. "Heee~ Kamu tidak mau memberitahukannya karena itu jalan rahasiamu ya? Pelit sekali~" entah setan jenis apa yang merasuki tubuh Ino saat ini. Yang jelas, ini sangat menyenangkan.

"Hei, Ino. Jangan seperti itu menggodanya," untungnya Sakura langsung memperingati Ino sebelum setan itu menjadi makin ganas.

Ino yang tersadar pun meminta maaf pada Hinata. "Ah, maaf Hinata-chan. Aku memang seperti ini," bahkan Ino sendiri tidak tahu dengan sifatnya sendiri.

Hinata mengangguk, sekarang berpikir realistis saja. "Kamu tidak mau memberitahukannya karena itu jalan pintas rahasiamu berdua dengan seseorang, 'kan? Aku sudah menebaknya kok saat kau mulai bersikap aneh. Rahasia yang diketahui hanya berdua oleh orang yang disukai, tidak mungkin dibocorkan." menopang dagunya, Ino kembali melihat Hinata yang menampakkan ekspresi heran.

Ino menghela napasnya, "Jalan pintas rahasia itu, milikmu dengan Naruto, 'kan?" dan pertanyaan ini membuat Hinata sedikit kaget. "Kalau aku menjadi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama kok." kata Ino dan tersenyum setelahnya.

Ino sedikit heran pada Hinata, Hinata itu terlalu polos. Padahal Hinata sudah menyadari perasaannya sendiri pada Naruto, tapi yang begini saja tidak Hinata mengerti. Untungnya Ino selalu ada di sisi Hinata, jadi ia akan selalu bisa menjelaskan pada Hinata apa yang tidak dimengertinya.

Sakura yang hanya diam saja ternyata tidak diam seutuhnya, matanya bergerak-gerak kemana-mana. "Eh? Sekarang Hinata-chan pakai gelang?" tanyanya langsung saat mendapatkan sosok gelang itu. Padahal kemarin ia tidak mendapatkan sosok gelang itu, makanya ia bertanya.

"Eh? Iya~"

"Wah, gelang yang manis. Bentuknya H, sama seperti huruf depan namamu. Siapa yang membelikannya? Dirimu sendiri? Atau jangan-jangan... Naruto?!" kembali menggila, Ino menanyakan hal yang benar-benar tidak mungkin.

"Bukan! Ayah yang memberikannya,"

"Ayah Hinata-chan baik ya~"

'Jangan sampai mereka tahu kalau di dalamnya ada obat. Tapi kalau mereka tahu aku ini tidak normal, apa mereka masih mau menjadi temanku?'

Pelajaran pun dimulai, dan diakhiri dengan istirahat. Seperti yang dikatakannya, ia akan ke ruang OSIS saat istirahat pertama. Hinata juga sudah memberitahukannya pada Ino dan Sakura, memang awalnya mereka kaget. Kenapa datang lagi setelah keputusan itu dibatalkan? Yah, tapi hanya inilah satu-satunya cara, untuk bertemu dengan orang yang disukainya.

Keberadaan Hinata sekarang, memang sudah ada di sana. Tapi ruangannya terasa sangat sepi, tidak berbeda dengan yang kemarin-kemarin. Semuanya masih sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi Hinata kurang suka dengan keadaan ini. Untuk mencairkan suasana, lebih baik dirinya memulai topik pembicaraan. Lagian ini memang membuatnya penasaran daru dulu~

"Ano... Kalau boleh tahu, senpai sekalian kelas berapa?" tanya Hinata ragu-ragu. Pertanyaannya tadi tidak ada yang salah, 'kan?

Naruto yang dari tadi sibuk sama laptopnya, menghentikan kegiatannya sementara. "Eh? Kami kelas dua kok, memangnya Hinata belum tahu ya?" sekarang malah Naruto yang bertanya-tanya. Ia kira, Hinata tahu dirinya kelas berada.

"Bukan itu maksudku, tapi kok kalian terlihat seperti tidak pernah masuk kelas."

"Kami semua 2-A, tapi sekarang tidak lagi." melengkapi jawaban Naruto, Sasuke pun ikut campur.

Melihat Sasuke, Hinata baru saja mendapatkan jawaban yang lebih jelas darinya. "Kok bisa?" tapi yang diherankan Hinata malah keberadaan mereka yang berada di kelas sama. Bisa begitu ya?

"Entah ya,"

"Terus kenapa tidak belajar di kelas?" kembali bertanya, karena Hinata pernah dengar kabar bahwa lima anggota khusus OSIS itu tidak pernah masuk kelas untuk belajar.

"Untuk apa?"

'Untuk apa!?' mendapatkan pertanyaan kembali dari Kiba, benar-benar membuat Hinata kaget. Apa katanya tadi? Untuk apa?! Belajar itu 'kan sangat penting!

"Yah~ Kami diberi hak khusus sih. Mau belajar atau tidak sama saja, pada dasarnya otak kami baik-baik saja tanpa belajar." meluruskan keadaan, Sai heran pada teman-temannya yang menjelaskannya tidak lengkap.

"Hee?!" dan itulah yang membuat Hinata paling kaget. Ada hak khusus seperti itu di sekolah ini?!

"Yang paling pintar Shikamaru, dia dapat ranking satu terus." melanjutkan penjelasan dari Sai, kalau ada yang menanyakan tentang itu, biarlah jelaskan dulu sampai selesai. Jadi laptopnya ditinggalin lebih lama deh.

"Maaf kalau aku pintar," entah kata-kata Shikamaru ini menyombongkan dirinya sendiri atau apa, yang jelas Shikamaru saja tidak mengerti apa maksud dari kata yang diucapkannya.

"Berikutnya Sasuke,"

"Lalu Sai,"

"Terakhir aku dan Kiba, kemampuan otak kami sama. Kami selalu mendapatkan nilai akhir sama, jadi kami selalu mendapat ranking empat berdua." jelas Naruto menganggat satu jarinya.

"Kenapa aku merasa kesal ya?" Kiba yang disama-samakan dengan Naruto pun merasa kesal. Kiba itu paling tidak suka kalau dirinya disamakan dengan suatu hal.

"Jadi meski lima orang, rankingnya hanya sampai empat." mengetahui semuanya sekarang, ini memang hal yang tidak biasa.

"Iya, aku sendiri juga tidak mengerti itu bisa terjadi Hinata-chan." gerutu Kiba, andaikan saja nilainya bisa satu angka lebih besar dari Naruto. Itu hanya harapan belaka yang tidak pernah terkabul dari kelas satu.

"Iya~ Tapi tidak belajar pun, aman-aman saja kok. Ranking satu sampai empat, tidak ada yang pernah mendudukinya selain kami."

Menurut Hinata, itu memang luar biasa. Tapi, tidakkah mereka mau mengenal kelasnya sendiri? "Memangnya tidak mau berbaur dengan teman sekelas?" tanya Hinata penasaran.

"Untuk apa?"

'Untuk apa!?'

Lagi-lagi, Hinata dibuat syok karena jawaban itu. Bukankah bisa akrab dengan teman sekelas merupakan kesenangan lain di sekolah? Tapi ini mereka malah bertanya 'untuk apa?'. Memangnya mereka tidak mau berbaur dengan orang lain? Bersama untuk meramaikan festival sekolah, sama-sama berjuang untuk menang dalam festival olahraga, atau berusaha untuk menjadi kelas yang terbaik. Apa mereka tidak mau merasakan itu?

"Begini sudah cukup untuk kami~ Seorang yang unggul melebihi murid biasa, tidak semudah itu diterima oleh anak-anak kelas."

"Eh?"

Ternyata, masih ada yang belum diketahui olehnya.

::

::

To Be Continue

::

::

Hallooooo~

Maafkan diri ini yang sangat lama sekali baru update ya Dx Entah kenapa rasanya ide tak mengalir lagi seperti dulu... Semoga saja masih ada yang membaca fic yang sudah lama terkubur ini QAQ... Hal ini disebabkan karena paketku gak bisa buka situs sih ToT... Yah untuk kedepannya semoga bisa berjalan dengan lancar...

Ttd,

Haruna Hajime

25 Maret 2017