'Yang mereka katakan tadi itu, maksudnya apa?' memang, Hinata mengerti maksud dari kata-kata itu tadi. Tapi, masa kelas mereka sendiri, menolak keberadaan mereka?
"Sudahlah ya, tidak usah dibahas."
Hinata melihat ekspresi tidak enak dari semuanya, "Eh... Iya," kenapa ya? Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan mereka dan kelasnya?
Ternyata, memang masih banyak yang belum diketahui olehnya.
::
:: It's a Wonderful Cat Life ::
::
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime
::
Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
::
Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.
::
Genre : Romance
::
Rated : T
::
::
Selamat membaca~!
::
::
::
Musim semi berlalu begitu saja, meninggalkan rasa penasaran terhadap apa yang terjadi dengan The Star dan anak-anak kelasnya. Musim panas pun telah datang, ditemani dengan hawa panas dimana-mana. Sampai saat ini, rasa penasaran Hinata tidak dapat menghilang. Kelas mereka sendiri, menolak keberadaan mereka?
"Eh~ Hinata-chan." sebuah panggilan diutarakan oleh Ino, tanpa menunggu balasan ia langsung menanyakan apa yang mau ditanyakan olehnya. "Dua bulan berlalu setelah itu, bagaimana hubunganmu dengan Naruto?" inilah yang membuat Ino penasaran. Bagaimana perkembangan hubungan Hinata dengan Naruto?
"Eh? Itu, gimana ya?" Hinata sendiri juga tidak mengerti dengan hubungannya sendiri. Saat ke tempat rahasia saja, ia lebih banyak menggunakan sosok kucing karena tidak tahan dengan debarannya sendiri. Meski sudah memiliki obat, tapi ia sendiri tidak tahu bagaimana cara membuka kuncinya dalam sosok kucing. Harusnya kalau tidak mau menjadi kucing, ia harus memakannya saat jadi manusia. Jadi gelang itu hanya dipakai sekali saja, seterusnya disimpan di dalam tas.
Tidak apa berubah menjadi kucing, karena berubahnya di tempat yang tidak ada orangnya. Tidak apa berubah menjadi kucing, karena ada orang yang bisa menemani sosok dirinya saat menjadi kucing. Mungkin seharusnya saat pagi, ia memakan obat penawar itu, supaya ia tidak berubah menjadi kucing disaat berdebar. Tapi Hinata tidak mau karena tidak ada acara khusus, dan bukan saat keadaan gawat.
Melihat Hinata yang terdiam setelahnya, membuat Sakura mengerti secara garis besar. "Tidak ada kemajuan, 'kan?" tanya Sakura langsung.
"Eh? Itu.." tidak tahu harus menjawab seperti apa.
"Kau ini gimana sih Hinata-chan? Padahal saat istirahat kedua kau selalu pergi untuk menemuinya, 'kan?" tidak mengerti dengan temannya sendiri, seharusnya kalau sudah dua bulan berlalu, setidaknya ada gitu rasa tertarik yang keluar dari dalam tubuh Naruto. Tapi selama ini Sakura melihat Naruto dan Hinata saat bersama, tidak ada gerak-gerik yang menunjukkannya.
"Eh? Kenapa bisa tahu?"
"Memangnya orang sepertimu keluar kelas untuk apa selain menemui Naruto?" bahkan Ino pun sampai mengetahui hal ini. Yang pentingnya sih, Ino tidak tahu kalau tempat bertemunya di tempat rahasia juga.
"Tidak begitu juga,"
Sampai saat ini Naruto tidak merasa curiga dengan sosok Hinata yang sebagai kucing, padahal sudah lama waktu berlalu. Keinginan Naruto untuk mengenalkan Hinata dengan kucing yang sebenarnya adalah dirinya sendiri pun, tidak pernah tersampaikan. Padahal sosok Hinata yang manusia maupun yang kucing tidak pernah keluar secara bersamaan. Tapi Naruto tetap tidak merasa curiga karena Naruto berpikir kalau kucing maupun manusia juga punya kegiatannya masing-masing.
Sekarang lupakan masalah cinta-cintaan, "Satu setengah bulan lagi 'kan sudah liburan musim panas. Kalian mau melakukan apa saja?" sudah merasa bosan dengan topik itu, Sakura mengalihkan topik yang lainnya.
"Kerjakan pekerjaan rumah dari guru," jawab Hinata.
"Lalu?"
Menggeleng, Ino dan Hinata hanya dapat menggeleng. Kalau mengerjakan pekerjaan rumah, tidak mungkin sampai selama itu. Paling juga sudah selesai dalam waktu kurang dalam seminggu. Nah, waktu sisanya ini mau digunakan untuk apa gitu lho. Masa untuk berdiam diri di rumah saja? Masa hanya makan semangka atau es ditemani sama kipas angin?
"Setelah kita menyelesaikan semua pekerjaan rumah, bagaimana kalau kita ke pantai?" pertanyaan Sakura membuat Hinata berpikir, berbeda dengan Ino yang sangat semangat.
"Pantai?"
"Waaaah~ Otot-otot trisep! Bisep! Sixpack! Aku setuju!"
Sakura sih sudah yakin dengan jawaban Ino, hanya saja tersisa Hinata yang masih belum menjawab setuju atau tidak. "Hinata-chan bagaimana?" tanyanya setelah Ino kembali tenangan.
"Nanti aku tanyakan ayah,"
Setelah mendapatkan jawaban, Sakura dan Ino berunding. Kalau musim panas itu, identik memang pantai atau kolam renang. Tapi kalau hanya sehari saja, rasanya sangat kurang. Kembali dipikirkan, dan akhirnya terbentuklah rencana yang baru.
"Sudah ditentukan, kita akan ke pantai dekat vila milik keluarga Yamanaka. Kita menginap empat hari tiga malam saja ya, tidak mungkin kita menginap di sana lama-lama."
"Hinata-chan, kami harap kau juga ikut. Karena berdua saja membosankan,"
"Iya, akan kuusahakan."
Rencana menginap pun dicatat dalam sebuah pengingat yang ada di ponsel. Sebenarnya Hinata sangat menginginkan untuk ikut pergi, ini adalah ajakannya untuk pertama kali. Tapi ia harus menanyakannya dulu pada Hiashi, ia tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Meski sudah ada obat penawar yang tidak akan membuatnya berubah di saat jam enam, meski tidak ada Naruto yang bisa kapan saja membuatnya berdebar, tapi izin orang tua lebih penting dari apapun. Semoga saja Hinata diizinkan, karena memang itu keinginannya.
"Eh, tapi dari beberapa bulan yang lalu aku penasaran. Kenapa The Star tidak pernah masuk ke kelasnya ya?" lagi-lagi mengganti topik, tapi sekarang Ino yang memulai topik baru, dan sekarang berhubungan dengan lingkungan sekolah.
"Iya, aku juga penasaran sama itu. Hinata-chan yang dekat dengan mereka pasti tahu alasannya, 'kan?" serius bertanya pada Hinata, Sakura menatap Hinata dengan tajam.
"Aku juga sudah pernah menanyakannya, tapi mereka tidak mau menjawabnya. Katanya, tidak semudah itu dapat diterima di sana." Hinata sendiri juga tidak mengerti yang lebih jelasnya, ia sendiri juga tidak berani untuk mengambil keputusan tanpa mengetahui yang sebenarnya.
"Jadi The Star itu, merepotkan juga ya."
"Yah~ Kadang memang ada yang tidak terima ditinggal jauh seperti itu. Menjadi seorang yang lebih unggul dari murid biasa itu, memang menyusahkan."
"Eh? Kata-kata itu..."
"Ada apa Hinata-chan?"
"Tidak, bukan apa-apa."
::
::
'Kali ini, akan kumakan obat penawar ini.' dengan tangan bergetar, Hinata mengambil gelangnya dari dalam tas. Gelang itu dimasukkannya diam-diam ke dalam kantong roknya, supaya tidak terlihat mencurigakan. Ia sudah berpikir, ia tidak mau membuang waktu dengan sia-sia lagi.
"Sakura-chan, Ino-chan, aku pergi dulu ya."
"Iya~ Jangan lupa kembali. Semangat ya!"
Saat istirahat kedua, Hinata kembali menemui Naruto tapi dalam sosok manusia. Kali ini, ia memutuskan untuk menggunakan obat penawar itu. Ia mau bertanya yang sebenarnya tentang The Star dengan kelasnya sendiri. Hinata tahu, pasti debaran itu tidak akan terhindari. Jadi untuk berjaga-jaga, obat itu dimakannya.
"Baiklah," dengan bantuan air minum yang dibelinya di kantin, akhirnya obat penawar itu masuk juga ke dalam tubuh Hinata.
Sebenarnya, ini pertama kalinya Hinata menggunakan obat penawar tersebut. Jadi Hinata tidak tahu obat ini benar-benar akan berfungsi atau tidak. Oleh karena itu, ia harus membuktikannya sendiri.
"Naruto-senpai~"
"Eh? Hinata! Kupikir si kucing yang datang,"
Hinata mendekati Naruto, dan duduk tidak jauh dengannya. Sudah lama sekali Hinata tak menghampiri Naruto saat istirahat kedua, oleh karena itu Naruto sangat bahagia melihat sosok Hinata di hadapannya.
Hinata mengambil napasnya, mungkin memang lebih baik langsung ke inti saja. "Anu... Membahas masalah dua bulan yang lalu," Hinata tidak boleh membuang-buang waktu istirahat, ia harus menyelesaikannya.
"Yang mana?" tidak tahu maksudnya, Naruto pun bertanya. Dua bulan lalu itu, sudah sangat lama. Mana mungkin dirinya ingat apa saja yang dibicarakan dengan Hinata.
"Kelas senpai... Mungkin terkesan sedikit ikut campur, tapi aku..."
"Tolong, jangan bicarakan itu..." Naruto mengelak pembicaraan Hinata. Ia sudah tidak mau membahasnya lagi, sebuah kejadian yang membuatnya kehilangan kelasnya sendiri.
"Tapi..."
"Sudah! Tidak usah ikut campur urusan orang lain!" bentakkan ini, entah kenapa keluar begitu saja dari mulut Naruto. Padahal bukan ini yang mau dilakukannya, ia tidak mau membuat Hinata takut. Ia sendiri kaget dengan apa yang dilakukannya.
"Ah, maafkan aku." menundukkan kepalanya, Hinata merasa sangat takut sekaligus merasa bersalah. Hatinya terasa sakit, baru kali ini ia merasa sakit akibat Naruto. Memang seharusnya dia tidak boleh terlalu mengetahui masalah orang lain. Hinata sendiri pasti juga akan seperti itu kalau diperlakukan hal yang sama.
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf." kembali tenangan, Naruto menjadi kasar karena mengingat rasa kesal saat itu. Ia jadi tidak bisa mengontrol emosinya, sampai-sampai membentak Hinata seperti itu.
"Maaf Hinata... Akan kuceritakan semuanya. Sebenarnya, awalnya kami diterima di kelas tersebut, tapi melihat kami yang unggul sangat jauh sendirian, mereka jadi tidak terima. Mereka merasa tersaingi dan seakan tertekan berada di kelas. Mungkin bukan kesal, tapi mereka merasa iri. Mereka pikir, kami bisa seperti ini begitu saja. Padahal kami berusaha keras agar menjadi yang terbaik, merekanya saja yang tak mau susah payah.
Bukan seperti kabar yang beredar, semua kabar itu salah semua. Tidak ada yang namanya hak khusus, tapi memang kami yang keluar dari kelas itu. Kami berpikir, untuk apa tetap berada di kelas yang tidak dapat menerima keberadaan kami? Jadi kami meminta pada pihak sekolah, untuk mengabulkan satu permintaan egois kami. Kami akan belajar sendiri, tidak perlu ada guru, tapi saat ada ulangan atau tes-tes ringan, kami akan mengikutinya dan mendapatkan nilai yang tertinggi. Setidaknya, untuk mendapatkan nilai di data nilai guru.
Awalnya permintaan itu memang tidak dapat diterima, tapi saat melihat keseriusan kami, akhirnya permintaan itu dikabulkan. Nah~ Jadilah kehidupan kami yang sekarang, kami bisa akrab karena itu lho. Karena kejadian itu jugalah kelima anggota unggul OSIS mendapatkan julukan tersebut. Sebenarnya ruang OSIS itu adalah ruang kelas kami. Aku menjadi ketua OSIS bukan karena hasil pemilihan murid sini lho. Bukan seperti isu yang beredar, tapi kepala sekolah bisa membuat semua murid disini percaya akan hal itu. Hebat bukan? Tapi sudah ya, jangan dibahas lagi. Kehidupan yang sekarang, benar-benar sudah sangat menyenangkan kok." akhirnya, kejadian yang sebenarnya telah diceritakan oleh Naruto.
'Silau~' melihat Naruto yang tersenyum seperti itu, benar-benar membuatnya merasa silau. Seperti ada cahaya yang keluar dari dalam tubuhnya. Sepertinya kalau isu tentang kelebihan para The Star tidak salah deh.
Tapi Hinata benar-benar tidak mempercayai kelas yang seperti itu, ia jadi merasa tidak enak. "Senpai, maafkan aku karena menanyakan hal seperti ini." setidaknya ia sudah meminta maaf karena dirinya telah mengingatkan orang pada suatu kenangan yang buruk. Tapi setidaknya rasa penasarannya sudah menghilang.
"Tidak apa, ini memang tidak masuk akal, tapi kami tetap harus menjalaninya. Kau tidak mempercayainya juga tidak apa kok." mengusap-usap kepala Hinata, Naruto sangat senang karena ia sudah menceritakannya. Beban dalam hati, sudah sedikit menghilang.
"Tapi kok ada kelas yang seperti itu ya?" tanya Hinata penasaran. Selama ia hidup, baru kali ini ada kelas yang aneh seperti itu.
"Kau tidak tahu, Hinata? Tentu saja kelas yang seperti itu ada, karena itu namanya kelas alien!" dengan semangatnya Naruto menjelek-jelekkan mantan kelasnya dulu, dan itu membuat perut Hinata sedikit geli. Kelas alien katanya?
"Haha, senpai ada-ada saja."
Deg!
"Eh?"
"Kenapa Naruto-senpai?" merasakan ada yang aneh pada Naruto, Hinata menanyakannya. Padahal tadi Naruto masih cengar-cengir tidak jelas, tapi tiba-tiba wajahnya jadi heran seperti itu.
"Tidak, tapi tadi rasanya ada yang aneh pada dadaku." kata Naruto sambil memegang dadanya, ia sendiri masih merasa heran dengan gejolak tadi.
"Eh? Sakit kah?"
"Tidak, mungkin hanya perasaan saja." lagian Naruto tidak merasakan sakit apapun kok, yang namanya sakit jarang bermain di dalam tubuhnya.
"Tapi kalau ada rasa aneh di dada, takutnya ada apa-apa sama hati senpai." inilah yang ditakutkan Hinata, takutnya Naruto punya penyakit dalam yang berbahaya. Jadi sebelum makin parah, lebih baik diobati.
"Haha, kau berlebihan. Selama hidupku, aku jarang sakit kok. Lagian sekarang 'kan sudah ada Hinata, Hinata itu ibarat penangkal sakit."
"Eh? Begitukah?"
"Iya, makanya jangan berpisah dariku ya! Kau tak tahu? Selama ini aku selalu menunggu keberadaanmu disini tahu. Hinata tidak ada disini, aku jadi merasa sedikit kesepian." dengan senyum yang lebar, Naruto mengelus-elus kepala Hinata. Pada dasarnya, memang seperti itu kok. Semenjak ada Hinata dalam hidupnya, dunianya makin berwarna.
Deg~
"Eh?"
Deg~
'Debaran ini? Haruskan aku kabur sekarang? Tidak, aku harus membuktikannya."
Deg~
"Hei, biasanya kau langsung kabur saat aku mulai menggodamu. Sekarang sudah terbiasa ya?" kembali tersenyum, Naruto senang karena Hinata tidak kabur-kaburan lagi. Ia masih ingat saat awal-awal ia bertemu dengan Hinata, saat mau mengantarkan Hinata kembali ke kelasnya. Baru sampai setengah jalan, eh malah ditinggal kabur. Rasanya itu, niat baik serasa jadi tidak berguna.
'Obat penawarnya berfungsi,'
"Maaf~" bukannya apa, tapi baru kali ini Hinata bertahan bersama dengan Naruto saat dirinya berdebar. Jadi baru kali ini Naruto melihat wajah memerah Hinata saat malu-malu.
Deg!
"Lagi?" Naruto memegang dadanya, kok rasanya gejolak itu kembali terasa. Apa dirinya benar-benar punya penyakit dalam yang berbahaya?!
"Ada apa Naruto-senpai?" rasa khawatir menyelimuti diri Hinata. Lagi-lagi Naruto bersikap aneh dengan menunjukkan wajah yang heran. Naruto itu jarang berekspresi seperti itu lho!
"Dadaku kembali merasakan hal yang aneh," jawab Naruto, ia melihat Hinata. "Ini kenapa ya?" tanyanya sedikit khawatir.
Hinata juga tidak tahu ada apa dengan dada Naruto, karena dirinya bukan dokter. "Apakah benar baik-baik saja?" tapi ia sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada Naruto, semoga saja bukan hal yang berbahaya.
"Iya-iya, tidak usah dipikirkan."
"Baiklah,"
Apa benar baik-baik saja? Kalau rasa aneh itu sampai terjadi dua kali, berarti itu benar-benar sudah tidak ada yang beres. Apa benar tidak usah dipikirkan? Apa lebih baik tidak usah ke dokter?
'Barusan itu apa sih?' dengan penasaran, Naruto bertanya dalam hati sambil memegang dadanya sendiri.
::
::
"Sebentar lagi bulan Juli akan datang, dan kalian akan ada ujian akhir semester. Jadi kalian harus belajar dengan giat ya, supaya mendapatkan nilai bagus."
"Iya~"
"Oke, hari cukup sampai sini."
Bersamaan dengan guru yang keluar, Ino dan Sakura menghampiri Hinata saat mereka sudah selelsai merapikan tasnya. "Hinata-chan~" panggil keduanya bersamaan.
"Ya?"
"Sebentar lagi 'kan ada ujian, jadi... Aku mohon bantuanmu!" seru Ino meminta. Begini-begini, Ino sedikit lemah di beberapa mata pelajaran yang Hinata kuasai. Jadi ia meminta bantuan pada Hinata supaya mata pelajaran yang menjadi kelemahannya itu akan berkurang.
"Eh?" Hinata yang salah mengerti maksud Ino, bermaksud menolak permintaannya. Masa minta bantuan untuk mencontek saat ulangan? Hinata tidak mungkin memberikan contekan, karena itu perbuatan yang tidak benar. Ia juga tidak mau hasil jerih payahnya diambil orang dengan begitu saja.
"Wajah yang rupawan, otak pun cemerlang. Pasti bisa membantuku untuk belajar, 'kan?"
Ternyata inilah maksudnya, Ino hanya minta bantuan Hinata untuk membantunya belajar. Supaya pelajaran yang dipelajari lebih mudah masuk ke otak.
"I-iya~" mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Ino melompat kegirangan. Dengan begini, nilainya semester ini akan lebih bagus.
"Bagaimana kalau Minggu ini kita belajar bersama di perpustakaan kota?" memberikan ide, kalau membicarakan tentang bantuan untuk belajar, sudah pasti itu belajar bersama. Kalau yang namanya belajar, sudah pasti harus di tempat yang tenang. Lalu, tempat yang tenang itu dimana? Sudah pasti di perpustakaan, di sana semuanya tenang membaca buku. Meski di rumah juga merupakan tempat yang tenang untuk belajar, tapi bosan lah kalau belajar di rumah saat hari libur. Jadi sekalian saja jalan-jalan setelah selesai belajar.
"Setuju!" dengan semangat pula Ino menyetujui ide dari Sakura. Kalau belajar di rumah sendiri memang membosankan, jadi lebih baik belajar di tempat lain saja.
"Kalau belajar di sana, boleh-boleh saja." Hinata juga mau belajar, dimanapun tempatnya tidak masalah baginya. Yang penting belajar, mungkin akan menyenangkan kalau belajar bersama-sama. Selama ini dirinya hanya pernah belajar di rumah, tidak pernah di tempat lain, jadi sekalian mencari suasana baru.
"Kalau begitu sudah ditetapkan Minggu ini ya, soalnya hari Sabtu aku tidak bisa. Nah~ Ayo kita pulang."
Setelah ini mereka pun berpisah ke jalannya masing-masing. Karena tidak lama lagi mereka akan menghadapi ujian akhir semester, jadi mereka akan belajar bersama di Perpustakaan Kota hari Minggu nanti. Semoga saja Hinata mendapatkan izin untuk pergi.
Sesampainya Hinata di rumah, ia sudah disambut Hiashi di depan pintu. Ada apa ya? Tumben sekali Hiashi menunggu kepulangan Hinata di depan pintu rumah seperti itu. "Aku pulang." memberikan salam, Hinata heran melihat ayahnya sendiri.
"Nak, Ayah sudah membuat versi baru gelasngnya. Ayah lupa kalau tangan kucing tidak bisa membuka jenis kunci seperti itu. Jadi, ayah rubah model kuncinya jadi model tombol. Jadi kamu bisa membuka kuncinya meski dalam sosok kucing sekalipun." Hiashi langsung menjelaskan niatnya menunggu Hinata di depan pintu. Ternyata untuk menyerahkan hasil perbaikan gelang yang dibuat olehnya.
Sebenarnya Hinata tidak pernah menceritakannya pada Hiashi, karena ia tidak mau membuat Hiashi merasa tidak enak. Tapi Hiashi sudah menyadarinya saat seminggu ia menyerahkan gelang model pertama pada Hinata. Jadi ia kembali membuat model terbaru yang lebih gampang digunakan untuk seorang manusia maupun seekor kucing.
"Wah, terima kasih yah." Hinata langsung mengambil gelang kedua yang diciptakan Hiashi untuknya. Dengan begini Hinata memiliki dua gelang ciptaan ayahnya sendiri. "Oh iya, tadi Hinata memakan satu tablet." tidak lupa, setelahnya ia menceritakan kejadian ini.
"Lalu?"
"Saat berdebar di debaran ketiga, Hinata tidak berubah menjadi kucing." mendengar ini, Hiashi merasa bangga.
Ternyata obat penawar ciptaannya berfungsi, tidak sia-sia selama ini ia mengotak-atik ramuan dalam ruang kerjanya. "Berarti obat penawarnya berfungsi, baguslah kalau begitu." ia juga merasa senang karena pada akhirnya Hinata mencoba obat penawar yang diciptakannya. Karena selama ini ia tidak pernah mendengar Hinata menyentuh obat itu sekali pun. Kalau sampai Hinata memakannya, itu berarti ada hal baru yang mau Hinata rasakan.
"Ayah~ Hinata masuk dulu ya." setelah selesai berbincang di depan pintu, Hinata pun masuk dan meletakan sepatunya pada tempatnya. Ia akan mulai kegiatan seperti biasanya setelah sampai rumah.
"Iya, ayah lanjut kerja dulu ya."
Langkah awal yang dilakukannya sudah pasti meletakan tas di dalam kamar. Kemudian merapikan isi tas, Hinata memasukan buku pelajaran yang akan dipelajari besok. Rasanya hari ini Hinata sedikit tenang, karena tidak terburu-buru untuk mengejar waktu masak.
Hinata melihat kedua gelang berbentuk H, yang membedakannya hanyalah model kuncinya saja. Ia tidak pernah menyangka kalau Hiashi menyadari hal yang sebenarnya. Padahal ia tidak pernah menceritakannya pada Hiashi karena tidak mau membuat Hiashi repot. Tapi ya sudahlah, mulai besok Hinata akan memakai gelangnya kembali. Kira-kira Sakura dan Ino menyadari perubahan yang ada pada gelangnya tidak ya?
Oke, sekarang waktunya Hinata untuk mulai masak. Ia masuk ke dapur dan menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Rasa penasaran berkeliaran dalam dirinya, itu lho... apakah nanti dirinya akan berubah menjadi kucing saat jam enam malam? Lupakan, kalau ia sudah makan obat penawar sudah pasti Hinata tidak akan berubah saat jam segitu. Hinata pun mulai memasak, tidak terlalu banyak tapi bisa membuat kenyang. Selesai masak, Hinata ke ruang tamu untuk menemani Hiashi yang sedang beristirahat karena kelelahan bekerja.
Jam enam pun datang, tapi Hinata tidak berubah menjadi kucing. Ini benar-benar keajaiban yang baru pertama kali dialami oleh Hinata. Tapi ia tidak menyadarinya karena asyik nonton TV, ia juga tidak tahu sekarang sudah menunjukan pukul enam. Barulah saat Hiashi memberitahukannya, Hinata menyadari semuanya.
"Hinata~" Hiashi memanggil Hinata, tidak enak juga mengganggu anaknya yang sedang serius menonton berita.
"Iya?"
Tapi hal ini memang harus diberitahukannya pada Hinata, "Sekarang sudah jam enam," kata Hiashi sambil menunjukan sebuah jam yang tepat pada pukul enam.
"Benarkah?" tidak percaya, Hinata benar-benar melihat jam yang menunjuk pukul enam. Melihat dirinya sendiri, masih berbentuk manusia. "Sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi ini saat jam enam lewat," dan ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi Hinata. Karena, hari ini, untuk pertama kalinya Hinata berwujud manusia saat jam enam malam lewat. Dari lahir sampai sekarang, pasti selalu saja berubah menjadi kucing kalau di jam-jam sekarang. Inilah kehidupan barunya~
Hiashi tersenyum tipis, akhirnya usahanya untuk membuat obat penawar tidak sia-sia. Meski bukan permanen, karena untuk membuat sesuatu yang permanen itu susah. Kita harus mengorbankan sesuatu, agar yang kita inginkan selalu bersama dengan kita. Yah~ Dalam kasus Hinata, mungkin ia akan kehilangan sosok lainnya sebagai kucing kalau ingin menjadi manusia seutuhnya. Tapi, apakah kenangannya dengan sosok lainnya itu akan mudah dilupakan? Setelah menghilang, akankah tidak merasa rindu?
Untuk saat ini memang Hiashi belum menemukan cara membuat obat permanennya. Ia juga tidak tahu dengan pikiran anaknya sendiri. Mau menjadi manusia normal, tapi kalau kehilangan sesuatu yang ada sejak kita lahir itu sangat menyedihkan, 'kan? Sosok yang selalu bersama dengan kita dari lahir, dan jika tiba-tiba menghilang. Perasaan apa yang akan terasa saat itu? Inilah yang membuat Hiashi tidak berani membuat obat permanen untuk Hinata. Ia juga pernah merasa kehilangan, dan itu sangat menyakitkan.
"Ayah, makan yuk. Masakannya sudah matang dari tadi, nanti keburu dingin."
"Ah, iya."
Acara makan malam dilanda keheningan, entah kenapa pikiran Hiashi penuh dengan sesuatu yang disebut 'kehilangan'. Begini lho, dulu ada kasus yang menimpa Hinata. Dulu saat masih sekolah menengah pertama Hinata punya teman, tapi pada akhirnya Hinata kehilangan sosok teman itu juga. Itu semua terjadi karena, sosok Hinata yang lain. Sosok itu, diketahui oleh temannya. Karena hal itu tidak boleh diketahui oleh siapapun, pada akhirnya, semua ingatannya tentang Hinata, terhapuskan. Dengan obat penghilang ingatan, untuk pertama kalinya Hinata kehilangan sosok teman yang susah payah didapatkannya.
Melihat Hinata yang sedih seperti itu, akhirnya Hiashi memutuskan untuk mencari suasana baru. Ia pindah ke tempat lain, yang mungkin saja membuat Hinata memulai hidup barunya. Dan itu benar, untuk pertama kalinya Hinata mendapatkan teman yang sangat baik tanpa perlu bersusah payah terlebih dahulu, untuk pertama kalinya juga, Hinata menyukai seseorang. Hiashi bersyukur, karena anaknya sudah mulai beranjak menjadi lebih dewasa. Kebahagiaan mulai terpancar sejak berada di sekolah itu, pasti di sana banyak yang berharga bagi Hinata. Tapi ia tidak mau, kejadian seperti itu terulang kembali. Ia tidak mau membuat anaknya sedih, merasa kehilangan untuk yang ketiga kalinya. Sudah cukup kehilangan sosok ibu sejak ia kecil, sudah cukup kehilangan sosok teman yang sangat berharga. Jangan sampai, Hinata kehilangan sosok orang yang disukainya juga.
Selesai makan, adalah waktu yang pas bagi Hinata untu meminta izin. Hinata harus meminta izin untuk dua hal yang sangat mau dilakukan olehnya. Pertama, untuk yang dekat dulu, ia mau belajar bersama di Perpustakaan Kota. Kedua, ia mau menginap bersama dengan Ino dan Sakura saat liburan musim panas.
"Ayah,"
Ayo semangat Hinata!
"Ada apa nak?"
"Nanti hari Minggu Hinata mau belajar bareng di Perpustakaan Kota, boleh 'kan?" dengan ragu-ragu Hinata bertanya, karena Hiashi itu tidak gampang memberikan izin pada Hinata. Meski itu adalah hal yang sangat sepele.
"Tentu saja boleh." mendapatkan jawaban Hiashi yang langsung mengizinkannya ini tentu membuat Hinata merasa sedikit aneh. Tidak diintrogasi dulu gitu mau ngapain? Tapi yah, setidaknya Hiashi sudah mulai percaya pada Hinata.
"Terima kasih~"
"Tapi nanti belajarnya yang benar ya, kalau bisa sudah pulang sebelum jam tujuh malam." tapi tetap saja Hiashi memberikan peraturan yang ketat.
"Iya ayah. Lalu, ada satu lagi." ini adalah pemintaan izin yang terkahir. Kali ini Hinata tidak yakin akan mendapatkan izin dengan mudah. Karena selama ini Hinata tidak pernah pisah dari Hiashi satu haripun.
"Ada apa?"
Tapi setidaknya dicoba saja dulu, siapa tahu dapat jawaban yang bagus. "Saat liburan musim panas, bolehkah Hinata bersama dengan teman Hinata menginap di vila punya keluarga temannya Hinata selama empat hari tiga malam?" tanya Hinata.
Hiashi melihat Hinata intens, "Menginap?" tanyanya sekali lagi. Ia hanya mau meyakinkan saja kalau dirinya tidak salah dengar.
"Iya~ Di dekat sana juga ada pantai. Karena liburan musim panas, jadinya..."
"Boleh,"
"Eh? Benarkah?"
Jawaban yang benar-benar tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Apa mungkin karena sekarang sudah ada obat penawarnya?
"Iya, anak ayah juga harus merasakan yang namanya masa muda dong." tentu saja Hiashi tidak mau menyia-nyiakan masa muda anaknya sendiri hanya dengan berdiam diri di rumah. Yang namanya anak muda itu, tentu saja harus bersenang-senang sesuai keinginannya selagi masih bisa. Karena saat sudah besar nanti, akan jarang sekali kejadian seperti itu akan datang.
"Terima kasih~"
Hari ini benar-benar hari yang menyenangkan, Hinata mendapatkan kedua izin untuk melakukan apa yang diinginkannya. Untuk pertama kalinya, Hinata bersenang-senang bersama teman di waktu luang.
"Tapi jangan lupa dimakan obat penawarnya ya,"
"Iya~"
::
::
To Be Continue
::
::
Terima kasih sudah membaca chapter ini~ Ternyata meski sudah lama tak update, masih ada beberapa yang membacanya. Semoga berjalan lancar sampai akhir. Sebenarnya sih aku udah menentukan bagaimana endingnya, tapi belum dapat kudeskripsikan dalam tulisan. Yah jangan sampai kejadian gak update-update itu terjadi kembali. Karena aku tak sabar membuat cerita baru yang masih dalam bentuk ide ini. Untuk NaruHina lagi~ xD
Kalau begitu sampai ketemu di chapter selanjutnya ya xD
Ttd,
Haruna Hajime
22 April 2017
