"Hari ini, dadaku terasa aneh." berjalan bersama keluar sekolah, jam segini mereka baru saja menyelesaikan tugas-tugasnya. Menceritakan apa yang dialaminya hari ini, itu sangat aneh bagi Naruto.

"Ha? Sakit apa kau?" menanggapi kata-kata Naruto, baru pertama kali ini ia mendengar Naruto mengeluh karena ada yang aneh pada dadanya.

"Aku sendiri juga tidak tahu," tapi Naruto sendiri juga tidak tahu, bahwa itu adalah awal dari perasaan cinta.

::

:: It's a Wonderful Cat Life ::

::

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime

::

Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

::

Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.

::

Genre : Romance

::

Rated : T

::

::

Selamat membaca~!

::

::

::

"Haa~ Hari ini benar-benar hari yang aneh."

Berjalan santai menuju halte bus yang berikutnya, kali ini entah kenapa Naruto tidak mau langsung naik dari halte sekolah. Ia mau menenangkan dirinya sendiri dengan cara berjalan santai sambil menatap langit malam. Jarak halte antar halte tidak terlalu jauh, jadi ia mau naik halte yang berikutnya saja. Sekalian melihat kota di malam hari seperti apa.

"Kenapa dada ini seperti bergejolak? Haa~" menatap lurus, bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Baru pertama kali perasaannya jadi seperti ini, dan ini membuatnya sangat penasaran.

"Ah!" tiba-tiba Naruto terhenti karena melihat sesuatu yang menarik perhatiannya dari dalam sebuah toko. "Kalung-kalung yang manis," dengan cepat Naruto masuk ke dalam toko tersebut. Naruto baru tahu kalau di tempat seperti ini ada toko aksesoris untuk hewan.

"Permisi~ Saya mau melihat-lihat kalung kucingnya." memberitahukan apa maksud kedatangan ke toko ini. Bukankah itu yang biasanya dilakukan oleh seorang pembeli?

"Selamat datang, silahkan dilihat-lihat." Naruto pun disambut dengan baik oleh penjaga toko.

"Terima kasih~"

Dengan segera Naruto berjalan ke bagian kalung untuk kucing. Sudah lumayan lama ia bersama dengan Hina, itu tandanya Hina sudah menjadi milik Naruto. Tapi masa Hina tidak memiliki tanda bahwa sudah ada yang punya? Jadi Naruto mau membelikan kalung untuk Hina agar ada yang tahu bahwa Hina itu sudah ada yang punya.

"Wah, semuanya bagus-bagus. Yang mana yang cocok untuk Hina ya?" melihat berbagai bentuk dan siluet yang indah pada kalung-kalung tersebut. Aneh tidak ya kalau Naruto membeli benda imut seperti ini? Ah! Sudahlah~

Menelusuri setiap barisan kalung-kalung, sampai saat ini belum ada yang pas dengan aura Hina. Sampai dirinya melihat sebuah kalung berwarna ungu muda. "Ah! Kalung warna ungu muda yang indah, hampir mirip seperti warna mata Hina. Ada lonceng bentuk kucing juga, yang ini saja." dan akhirnya Naruto telah menemukan kalung yang pas dengan aura Hina. Naruto tidak sabar memberikannya pada Hina esok hari. Pasti Hina akan senang sekali mendapatkannya.

Esok harinya saat istirahat kedua, seperti biasanya, Hinata berubah menjadi sosok kucing. Ia lupa memakan obat penawarnya pagi ini, tapi kalau tidak dibutuhkan ya tidak usah dipakai. Sayang kalau obat penawarnya cepat habis, padahal ayahnya membuatkannya dengan susah payah. Ia juga tidak sanggup menahan debarannya sendiri, biarkanlah saja seperti itu. Saat ini juga, Hinata tidak sanggup berhadapan dengan Naruto dengan sosoknya yang sebagai manusia.

Oke, waktunya mendekati Naruto. Memacu langkah dengan keempat kakinya, ternyata suara langkah sekecil itu dapat didengar oleh Naruto. "Ah, Hi-na~ Sini, mendekatlah padaku." dan Naruto pun langsung menyambut kedatangan Hinata, maksudnya Hina.

"Meong?"

'Ada apa?'

Merasa heran dengan tingkah Naruto yang berbeda dari biasanya, Hinata memelankan langkah kakinya. Kenapa Naruto terlihat sangat gembira sekali? Biasanya saat Hinata datang, Naruto tidak pernah segembira ini. Apalagi Hinata melihat kalau tangannya Naruto sedang bersembunyi di belakang. Memangnya di tangan Naruto itu ada apa sampai-sampai disembunyikan seperti itu?

Saat Hinata sudah sampai tepat di depan Naruto, "Taraaaa!" tiba-tiba saja Naruto berteriak dan mengeluarkan tangannya yang tadi bersembunyi. Ternyata yang disembunyikannya adalah kalung kucing yang dibelinya waktu itu.

'Kalung kucing?'

"Ini untukmu! Aku pilih sendiri yang sesuai dengan dirimu lho. Aku pakaikan ya," baru saja Naruto bersiap-siap untuk memakaikannya, tapi tangannya terhenti karena melihat kalung lain menggantung pada leher Hina. "Eh?! Hina? Sejak kapan kau menggunakan kalung? Hina sudah ada yang punya ya? Yah~ Kalung ini, gimana dong?" dan pada akhirnya, rasa kecewa keluar dalam diri Naruto.

Tentu saja hal ini tidak disukai Hinata, "Meooong!" berusaha membuat Naruto mengerti apa yang dibicarakannya dalam bahasa kucing. 'Tidak~ Berikan saja padaku. Naruto-senpai sudah sengaja memilihkan kalung ini sambil memikirkanku. Mana mungkin aku menolaknya~' ia harap, Naruto dapat mengerti dirinya, meski hanya menggunakan bahasa seadanya.

"Eh? Haha, baiklah. Kalau kamu menginginkannya, akan kupakaikan." entah apa yang terjadi pada diri Naruto, sampai-sampai dirinya mengerti apa maksud Hina. Tapi ya sudahlah, "Haha, jadi pakai dua kalung deh. Hina manis deh~" yang penting kalung yang dibelinya jadi tidak sia-sia.

Tidak lama setelah itu, bel berbunyi. Padahal Naruto masih mau berlama-lama dengan Hina, tapi ternyata waktu tidak mengizinkannya. "Sudah ya, aku kembali ke ruanganku dulu." pamitnya dan meninggalkan Hinata.

"Aku tidak menyangka akan mendapatkan kalung seperti ini." Hinata melepaskan kalung tersebut dari leher mungilnya, lima menit setelah itu Hinata kembali menjadi manusia. "Kalau jadi manusia, kalung ini tidak akan muat di leherku. Kujadikan gelang saja," ia menggenggam kalung kucing itu seksama, dan ia gunakan menjadi gelang. Dua gelang dari kedua orang yang disayanginya, kini telah menggantung dengan indah di tangan kanan dan kirinya.

Hinata senang sekali sih mendapatkan hadiah pertama dari Naruto. Tapi, itu bukan untuk Hinata, melainkan untuk Hina. Haruskah hal ini pantas membuat Hinata merasa senang? Kalau seperti ini, bukannya Hinata yang makin dekat dengan sosok yang disukainya. Tetapi sosok lainnya lah, yang makin dekat dengan Naruto. Sosok yang tidak menjadi pendukung kedekatan Naruto dan Hinata. Meski satu jiwa, tapi berbeda raga. Persentasi kedekatannya dengan Naruto, tidak bertambah.

Esok harinya saat istirahat kedua, Naruto sangat senang karena melihat sosok Hinata di tempat rahasia keduanya. Baru pertama kali ia melihat Hinata sudah sampai duluan di sana. Sosok Hinata yang duduk menatap awan itu, sungguh memikat hatinya.

Sudahlah, bukan waktunya untuk melamun melihat Hinata. Naruto tidak mau waktu istirahatnya yang singkat terbuang hanya untuk melamun. Padahal ia mau bersenang-senang dengan Hinata dalam waktu yang lama. "Hi-Na-Ta~!" panggil Naruto dengan semangat. Melihat Hinata yang menengok padanya, ia melambai-lambaikan tangannya.

"Hehe, kau sudah lama di sini Hinata?" tanya Naruto dan duduk di samping Hinata.

Hinata menggeleng, kali ini Hinata bertekad untuk tidak berdebar saat ada kejadian yang dapat membuat hal itu terjadi. Untungnya Hinata sudah datang duluan sebelum Naruto, jadi Hinata berhasil untuk tidak berubah menjadi kucing. Karena selama ini, sebelum ia tepat bertemu di depan Naruto, ia sudah duluan menjadi kucing karena berdebar karena melihat tingkah Naruto yang bersenang-senang dengan burung di sana.

Diam sementara, Naruto bingung harus menceritakan hal ini pada Hinata atau tidak. Sebenarnya Naruto merasa sedikit gelisah, dan ia mau menceritakannya pada Hinata dari kemarin. Tapi kemarin ia tidak pulang bareng Hinata, jadi ia tidak dapat menceritakannya deh. Yah, sebaiknya memang harus diceritakan pada Hinata. Karena yang mengetahui keberadaan kucing itu sepertinya hanya Naruto dan Hinata.

"Kucing yang pernah kubicarakan padamu, sepertinya dia sudah ada yang punya deh." dengan nada sedih Naruto menceritakannya, Hina itu miliknya, tapi kenapa ada bukti yang menunjukkan bahwa Hina sudah menjadi milik orang lain?

"Kenapa begitu?" tidak mengerti, kenapa Naruto berpikiran seperti itu? Hinata, maksudnya Hina tidak ada yang punya kok.

"Iya, soalnya dia memakai ka... Eh?" Naruto melihatnya, ia melihat kesamaan yang ada pada Hinata dan Hina. "Hinata, kau memakai gelang yang sama seperti kalung kucing itu!?" serunya kaget. Persis, gelang itu sama seperti yang dimiliki oleh Hina.

"A-apa? Naruto-senpai salah lihat kali." berbohong, ia tidak mau kalau rahasianya selama ini terbongkar. Hinata tidak mau kejadian itu terulang kembali, ia sangat tidak mau.

"Tidak, aku melihatnya dengan benar kok. Bentuknya H, sama seperti milikmu. Eh? Tapi kalung maupun gelang seperti itu banyak ya~" berpikir kembali, sepintas rasa curiga keluar dari dalam diri Naruto. Tapi masalah seperti yang dipikirkannya, apa yang selama ini dipercayainya, Hinata adalah manusia dengan sembilan nyawa kucing, itu tidak mungkin. Ia tidak boleh mengambil keputusan sendiri kalau belum ada bukti yang kuat.

"Iya, mungkin sama karena model seperti ini banyak di pasaran." sedikit merasa tenang karena Naruto sedikit goyah, itulah yang diinginkan Hinata saat ini. Maaf, Hinata berbohong untuk kebaikan.

"Haha~ Tadi aku sempat berpikir bahwa kau itu Hina lho. Menyangkut hal yang selama ini kupercayai. Katanya manusia yang memiliki sembilan nyawa kucing, dapat berubah menjadi kucing juga. Yah, sempat aku berpikir bahwa kau salah satu dari manusia itu. Tapi, ya sudahlah." lagi-lagi, Naruto tidak percaya diri karena ucapannya sendiri. Kenapa Naruto berwajah seperti itu?

Sekali lagi melihat gelang Hinata, itu memang sama persis seperti apa yang digunakan oleh Hina. Itu membuat Naruto memikirkan hal lain, "Eh... Tunggu... Tapi 'kan di kota ini lagi terkenal sama yang namanya kalung dan gelang pasangan! Eh, maksudku bukan pasangan pria dan wanita sih. Tapi antara majikan dan hewan peliharaan, mereka memakai kalung dan gelang yang bentuknya sama. Kalung buat si peliharaan, gelang buat si manusia. Ah!" setelah memikirkannya matang-matang.

"Jangan-jangan..." menjeda kata-katanya, ia melihat Hinata dengan serius. Hinata yang dilihat pun merasa tidak enak. Jangan-jangan apanya? Hinata tidak mengerti dengan jalan pikiran Naruto. "Majikannya Hina itu kamu ya?!" dan inilah hasil akhir dari pikiran Naruto. Kalau bukan yang Hinata dan Hina adalah jiwa yang sama, berarti mereka berdua itu majikan dan hewan peliharaan dong.

"Eh~ Itu..." Hinata benar-benar tidak mengerti. Bukannya Naruto itu pintar ya? Tapi bagus deh kalau pemikirannya itu dapat berubah secepat itu. Jadi Hinata tidak perlu merasa khawatir, kejadian itu tidak akan terulang kembali.

"Tidak kusangka ternyata diam-diam kau juga menemui Hina sendirian, kau mau memonopoli kucing kesayanganku di sekolah ini. Hinata jahat~" sedikit ada nada menggoda, Naruto itu orangnya memang jahil. Tapi ada juga ekspresi yang dibuat-buat agar Hinata ikut ke dalam jahilannya.

"Eh? Itu..." Hinata tidak tahu harus bagaimana. Memonopoli gimana? Pada dasarnya Hinata dan Hina itu adalah jiwa yang sama meski beda raga.

"Hehe, bercanda."

"Eh?" melihat ekspresi yang merasa puas karena candaannya itu berhasil, membuat Hinata sedikit tidak percaya. Jadi Naruto tadi itu sedang bercanda ya? Naruto memang tidak mudah untuk ditebak.

"Yah~ Habisnya saat Hinata ada, Hina tidak ada sih. Begitu pula sebaliknya, ternyata kalian bersekongkol dan kalian membagi waktu hanya untukku ya."

"Eh?"

Tidak peduli pada tampang Hinata yang bingung, tapi mungkin ini pemikiran Naruto yang kemungkinan besar memang tepat menurutnya. Apa coba alasan yang membuat Hinata dan Hina tidak dapat bersama?

"Baik Hinata maupun Hina, kalian mau memonopoliku sendirian, 'kan?"

"Eh?"

"Ternyata kalian adil ya, membagi waktu sama rata. Ternyata hanya untuk menghabiskan waktu berduaan saja denganku. Ternyata aku benar-benar disuk... Eh? Aku ini ngomong apa sih? Hinata! Abaikan kata-kataku yang ta-di?" terdiam, Naruto baru saja melihat hal yang tidak pernah disangkanya. Pandangannya berubah terhadap Hinata~

"Maaf~" dengan wajah yang memerah, Hinata tidak dapat berkata-kata. Meski yang dibilang Naruto itu tidak terlalu tepat, tapi itu ada benarnya juga. Karena... Hinata memang mau bersama dengan Naruto berdua saja.

Deg~

"Eh?" masih tidak mengerti, perasaan itu muncul kembali. Naruto memegang dadanya, 'Ini apaan sih?' tanyanya penasaran di dalam hatinya.

Ditemani kicauan burung di siang hari, kisah cinta dua insan ini baru saja akan dimulai.

::

::

"Huaaaa~ Akhirnya sampai juga di sini, semoga tidak ramai sekali."

"Iya~"

Perpustakaan Kota, tempat dimana banyak orang yang datang untuk mencari informasi, membaca buku, dan belajar. Orang yang datang ke tempat ini tidak tertalu banyak kalau hari biasa. Tapi saat sudah mendekati musim ujian, banyak mahasiswa ataupun pelajar yang datang ke sini.

"Kalau begitu ayo kita masuk dan langsung belajar." mengajak temannya untuk masuk ke dalam perpustakaan, mereka membuka pintu secara perlahan dan melihat apa yang ada di dalam perpustakaan itu.

"Wah~ Untung tidak telalu ramai, kita masih dapat tempat duduk." berlajan pelan mendekati tempat duduk yang kosong, Sakura tidak menyangka kalau ada tempat kosong yang pas untuk tiga orang.

"Iya~" membalas komentar Sakura, Hinata tersenyum.

"Eh!" diawali teriakkan, kemudian berlari ke rak buku. Mengambil sesuatu yang ada di sana dan menunjukkannya pada Sakura dan Hinata. "Lihat! Ini majalah yang belum sempat kubaca!" dengan gembira Ino memberitahukannya pada mereka.

Dengan ketus Sakura menatap Ino, "Ino~ Kita datang ke sini bukan untuk main." peringatannya membuat Ino minta maaf dan mengembalikan majalah itu pada tempatnya. Sayang sekali, Ino jadi tidak bisa membaca majalah yang belum pernah dibacanya.

"Yah~ Kalau begitu kita mulai belajar ya."

Suara gesekan antara buku dan pensil, suara bisikan pengunjung lainnya, dan suara pintu terbuka dan tertutup setiap ada pengunjung yang datang dan pergi. Itulah ciri khas suara Perpustakaan Kota di tempat mereka, semuanya belajar dengan tenang. Sekali ada yang berisik, akan langsung diperingati. Begitu juga dengan ketiga gadis ini, mereka sangat tenang. Seperti dalam dunianya sendiri, tidak ada yang berbicara, hanya terus belajar.

Setelah belajar tiga puluh menit, akhirnya ada suara yang muncul di antara mereka. Tuk tuk tuk, suara pensil yang dihantup-hantupnya ke meja. Sambil menopang wajahnya, ia menatap bingung soal nomor tiga puluh itu.

"Ada apa Ino-chan?" Hinata yang melihat Ino sedang bingung, bertanya padanya. Siapa tahu ada yang bisa Hinata bantu.

"Ini, aku bingung sama yang ini." mendekatkan soalnya pada Hinata, dan memberitahu mana yang dibingungkannya.

"Oh, kalau ini harus diubah dulu pakai persamaan ini. Setelah mendapatkan hasilnya, langsung saja masukkan ke dalam rumus." dan untungnya, Hinata lumayan bisa mengerjakan soal seperti ini. Ya memang, soal jenis ini bisa dikatakan lumayan sulit.

"Kalau begitu aku coba dulu ya," setelah mendapatkan instruksi dari Hinata, Ino mencoba mengerjakannya dan hasil yang didapatkannya sama seperti yang ada di lembar jawaban.

"Benar! Wah~ Penjelasanmu lebih gampang dimengerti, terima kasih ya." kembali bersemangat, Ino melanjutkan untuk mengerjakan soal yang berikutnya.

"Gantian sekarang aku, kalau yang ini bagaimana?" sekarang Sakura yang bertanya, dari tadi ia menunggu sampai Hinata selesai menjelaskan soal yang tidak Ino ketahui.

"Oh, kalau itu..."

Satu jam pun berlalu, mereka memutuskan untuk istirahat sebentar. Tidak baik kalau belajar terus-terusan tanpa henti. Bahkan Ino pun sudah sadar kalau ada yang harus dibuangnya dulu.

"Aku mau ke toilet dulu ya." pamitnya pada Hinata dan Sakura, ini sudah tidak bisa ditahan lagi olehnya.

"Iya~"

Setelah itu, Ino langsung jalan menuju toilet berada. Untungnya ia tahu letaknya dimana, jadi tidak perlu tanya segala. Yah~ Sebenarnya ia pernah ke sini hanya untuk menumpang toilet sih.0

Jalan dengan santai, "Haa~ Lelah juga belajar. Coba kalau tanpa belajar, otakku tetap cemerlang." melewati tiap rak buku satu persatu sambil mengeluh. "Ya, setidaknya seperti para The Sta...r?" terhenti, langkahnya terhenti karena melihat sesuatu di salah satu rongga antara rak buku dengan rak buku lainnya.

"Eh? Ada Ino-san di sini..."

Melihat itu, melihat senyuman itu, dengan cepat Ino langsung kabur. Kembali pada tempat teman-temannya berada, dengan wajah tegang. Ino dan Hinata yang melihatnya pun hanya bisa beranggapan, Ino menahannya karena toilet penuh.

"Eh? Ada apa kembali lagi? Tidak jadi ke toilet?" tanya Hinata berusaha mencoba tenang, ia tidak boleh ikutan tegang seperti raut wajah Ino.

"Setan! Ada setan senyuman!" teriak Ino sedikit berbisik, gini-gini ia sadar kalau dirinya berada di tempat yang terkenal dengan ketenangannya.

"Ha?" tidak mengerti maksud Ino. Setan senyuman gimana?

"Maksudku, ada Sai-senpai dan kawan-kawan di sini!" dan inilah yang membuat Sakura ikutan tegang seperti Ino, tidak dengan Hinata yang biasa-biasa saja.

"Apa?! Sasuke-senpai juga?" kaget, Sakura tidak pernah menyangka kalau di tempat seperti ini ada orang yang tidak disukainya. Padahal ia selalu berusaha menjauh dari Sasuke, tapi kenapa malah jadi dekat begitu?

Ino mengangguk, perasaan Sakura makin tidak enak. Kenapa orang yang selalu mengeluarkan senyuman palsu ada di dekatnya?! Kenapa orang yang mengejek warna rambutnya ada di dekatnya?! Ino dan Sakura, benar-benar tidak suka dengan situasi ini.

"Hai~ Ternyata kalian di sini juga," menyapa ketiganya, Naruto yang mengawali pembicaraan. Ia mengangkat tangannya, melambai pada ketiganya.

"Ugh~" dalam waktu yang bersamaan, Sakura dan Ino memundurkan langkahnya ke belakang badan Hinata.

"Tidak menyangka akan bertemu Hinata-chan di sini." kata Kiba dengan senang, dan ia melihat heran Sakura dan Ino yang ada di belakang Hinata. Kenapa mereka berdua? Tanyanya dalam hati. Memangnya dirinya seseram itu ya sampai harus ditakuti?

"Hmm~ Tempat ini terlalu ramai, sampai tidak dapat tempat duduk. Merepotkan," menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Shikamaru melihat-lihat sekeliling yang begitu ramai. Tidak enak kalau baca buku sambil berdiri, itu hanya akan membuat kaki pegal. Kalau pegal tentu harus dipijit, siapa coba yang mau melakukan hal merepotkan seperti itu?

Sasuke dan Sai hanya diam, Sai tersenyum, tapi Sasuke hanya berwajah datar. Tidak peduli dengan itu, mereka pun kembali belajar. Karena ujian sebentar lagi akan datang.

"Nah~ Tanpa peduli usia, tanpa peduli jenis kelamin, kita belajar bersama ya."

::

::

"Ah~ Ujian! Saat ini ujian! Semoga semua yang kupelajari dapat berguna."

Akhirnya, harinya telah tiba. Beberapa waktu yang lalu, mereka ke Perpustakaan Kota memang untuk hari ini. Mungkin nilai mereka akan lebih meningkat karena diajari juga oleh si ranking satu dari kelas dua.

"Tenang saja Ino-chan, Ino-chan 'kan sudah berusaha." mencoba menenangkan Ino, Hinata yakin dengan usaha yang dilakukan Ino, pasti akan mendapatkan nilai yang memuaskan.

"Iya~ Berpikirlah positif, kalau belajar pasti bisa." begitu pula dengan Sakura, meski ia juga sedikit merasa tegang, tapi ia harus mencoba setenang mungkin agar bahan yang melekat pada otaknya tidak menghilang tiba-tiba.

"Iya~" balas Ino, mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan cara menarik napas dan membuangnya secara berulang-ulang.

"Hinata Hyuuga ada?"

Mendengar namanya dipanggil, Hinata melihat seorang yang tidak mengenalnya ada di depan pintu kelas. "Iya?" ia mendekati orang tersebut dan bertanya maksud apa dia memanggilnya, padahal tidak kenal.

"Dipanggil seseorang," mendapatkan jawabannya, tapi Hinata tetap tidak jelas mengetahuinya. Siapa yang memanggilnya? Untuk apa memanggilnya di saat-saat menit terakhir menjelang ujian?

"Katanya tidak boleh kasih tahu siapa yang memanggilmu. Tapi kalau kukasih tahu apa yang dikatakannya, pasti kau akan mengetahuinya."

"Apa itu?"

"Temui aku di tempat rahasia kita berdua. Itu katanya,"

Hinata mengetahuinya~

'Naruto-senpai?' dalam hatinya, ia sedikit merasa senang karena mengetahui siapa yang memanggilnya. Kalau dipanggil, ia tidak boleh membuat orang yang memanggilnya menunggu lama. "Terima kasih atas informasinya." setelah mengucapkan terima kasih, Hinata langsung bergegas menuju tempat rahasia keduanya.

Saat sampai pada tempat, Hinata langsung dapat melihat sosok Naruto di sana. Tidak perlu lama-lama, ia memanggil Naruto. "Naruto-senpai." dan orang yang dipanggil pun mengehentikan aktifitasnya sementara.

"Eh? Hinata sudah datang?"

Langsung saja pada inti, "Ada apa Naruto-senpai memanggilku?" waktu yang dimiliki Hinata kurang dari sepuluh menit. Ia tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang tersisa, ia harus membuat kenangan lebih banyak bersama dengan Naruto di musim-musim ujian seperti ini.

"Tidak, sebenarnya aku hanya mau memberikan semangat, kita sama-sama berjuang ya." mengucapkan kalimat perjuangan, tidak salahnya Naruto memberikan semangat pada Hinata sebelum ujian dimulai.

"Iya... Eh? Hanya itu?" tapi Hinata yang tidak terima, jadi terkesan protes. Masa dipanggil hanya untuk bicara seperti itu? Kalau hal ini 'kan sudah dibicarakan di hari sebelumnya.

"Um... Sebenarnya, aku juga mau melihat wajahmu. Pagi hari seperti ini, aku memerlukan asupan."

"Eh?" tidak mengerti, memerlukan asupan apa maksudnya? Apa Naruto kekurangan gizi sehingga memanggil Hinata untuk membagi sedikit bekalnya?

"Sudahlah~ Maafkan aku karena memanggilmu hanya untuk bicara seperti ini. Tapi hanya di tempat ini aku dapat melakukannya, syukurlah kau datang."

"Iya~" mendengarkan sedikit demi sedikit ucapan itu, sebenarnya Hinata masih kurang mengerti yang sebenarnya. Yang ia tahu, hanya untuk memberikan semangat.

"Nah~ Karena waktunya sudah sangat singkat, kembalilah ke kelas. Kita sama-sama berjuang mengerjakan soal yang kita pelajari ya."

"Oke."

Ulangan pun dimulai, dengan penjagaan ketat dari para guru. Sekolah ini, tidak akan membiarkan anak muridnya mencontek. Mereka mau melihat kemampuan anak muridnya yang sebenarnya. Sebagaimana mereka mampu mengerjakan soal, sebagaimana mereka mengerti dengan soal-soal yang diberikan.

Selama berhari-hari pun terlewatkan, deruan pensil selalu terdengar di suasana yang hening seperti ini. Suara detak jam yang berbunyi setiap detik pun, sangat terdengar. Padahal biasanya mereka tidak dapat mendengarnya karena kegaduhan di dalam kelas.

Dan akhirnya, ujian hari terakhir pun selesai. Suara sorak sorai murid terdengar nyaring setelah suara bel berhenti berbunyi. Akhirnya, perjuangan mereka selama berhari-hari, telah lepas sudah.

"Ah~ Menyenangkan sekali~ Rasanya usahaku selama ini langsung lepas keluar, aku merasa akan mendapatkan nilai yang bagus." bersandar pada mejanya, Ino sangat senang karena hari ini datang juga. Hari-hari neraka yang dialaminya selama berhari-hari telah hilang, cukup sampai hari ini.

"Pikiran yang bagus Ino-chan~" memuji Ino, Hinata yang baru selesai membereskan alat-alatnya kini sudah siap untuk pulang.

Menatap Hinata dan Ino, karena ujian sudah selesai, Sakura harus mengingatkan kegiatan selanjutnya. "Liburan makin dekat saja, jadi tidak sabar." tentu saja mereka tidak boleh melupakan kegiatan yang sudah mereka buat sendiri.

"Sakura ini~ Tentu saja aku juga tidak sabar, tapi kita tunggu saja sampai waktunya dekat.

Ruang OSIS, kelima orang ini baru saja menyerahkan kertas jawaban ujiannya pada guru yang baru datang. Sebenarnya tidak ada guru di dalam ruangan itu saat mereka mengerjakan soal. Hanya saja, akan selalu ada kamera pengawas di sana selama ujian berlangsung. Jadi gerak-gerik semuanya terlihat, tidak semudah itu mengerjakan soal di ruang OSIS, meski tanpa guru penjanga sekalipun.

"Kerja bagus semuanya. Selama kita mengerjakan sesuatu dengan serius, pasti hasil yang didapatkan akan memuaskan." diawali dengan kata bijak Sai, mungkin dengan ini semuanya akan berpikiran positif.

Setelah melewati beberapa hari bagaikan di penjara. Akhirnya usai sudah masa-masa bagaikan tahanan itu. Semua gerak-gerik mereka tercatat di kamera pengawas yang sudah disiapkan. Untungnya setelah ujian itu selesai, kamera pengawas dilepas kembali. Mereka bisa bebas lagi seperti biasanya.

"Yosh! Aku yakin kali ini aku bisa menyusul nilaimu Naruto! Nilai kita tidak akan sama lagi sekarang!" menunjuk Naruto dengan pensil yang ada di tangannya. Kiba sangat percaya diri, kali ini nilainya akan lebih bagus dari Naruto. Meski hanya beda 0,1 nilai, setidaknya ia berada di atas.

"Ah, sudahlah. Aku tidak peduli dengan hal itu, lihat saja nanti hasil akhirnya." untuk saat ini, Naruto tidak peduli nilai apa yang akan didapatkannya. Yang pasti, ia tidak boleh mendapatkan ranking melebihi lima.

"Hoooaaam~ Pemakaian otak yang bekerja lebih keras dari sebelumnya membuatku jadi mengantuk." menghempaskan dirinya pada sofa, sudah lama sekali bagi Shikamaru tidak merasakan keempukan sofa karena harus duduk di kursi kayu.

"Hn," setuju dengan Shikamaru, Sasuke juga kurang tidur karena waktu tidurnya jadi berkurang karena digunakan untuk belajar.

"Hei~ Sudahlah~ Yang penting diingat saja rencana kita saat liburan musim panas. Jangan lupa ya, pertapa genit itu akan marah kalau kalian melupakannya."

"Iya-iya."

Liburan musim panas pun, dimulai.

::

::

To Be Continue

::

::

Terima kasih sudah membaca sampai chapter ini! Saat ini aku baru proses pembuatan chapter 11 dan belum tahu akan tamat di chapter berapa sih. Pokoknya aku akan berjuang agar fic ini dapat tamat dengan memuaskan!

Ada yang bertanya, disini tidak ada karakter antagonisnya? Tentu saja ada xD Tapi dia akan keluar disaat konflik telah terjadi. Aku tidak sabar disaat karakter itu muncul. Karena itu pertanda sebentar lagi akan tamat! Huaaa~ Tak sabar aku jadinya...

Oke! Pokoknya terima kasih sangat untuk kalian semua yang sudah mau membaca cerita ini. Sampai ketemu di chapter selanjutnya ya! Aku usahakan untuk update seminggu sekali, paling lama dua sampai tiga minggu sekali...

Ttd,

Haruna Hajime

30 April 2017