"Lihat! Dari sini pantainya kelihatan!" bersorak kegirangan, dari dalam bus dapat terlihat pantai yang begitu besar dan indah.
"Tapi, pantainya ramai juga ya. Eh, dari sini vila Yamanaka juga kelihatan." tidak kalah dari pemandangan pantai, vila Yamanaka yang terkesan berwarna itu pun dapat terlihat dari sana.
"Ya, ini karena liburan sih makanya ramai. Tapi pasti ini akan menjadi liburan yang menyenangkan."
Mereka bertiga, sudah dekat pada tujuannya.
::
:: It's a Wonderful Cat Life ::
::
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
It's a Wonderful Cat Life © Haruna Hajime
::
Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
::
Warning : Semua kesalahan yang dapat terjadi. Baik dalam typo, tanpa sadar ada OOC, tanpa sadar tidak sesuai EYD, dan berbagai hal buruk lainnya.
::
Genre : Romance
::
Rated : T
::
::
Selamat membaca~!
::
::
::
"Nah, silahkan masuk tidak perlu sungkan. Aku sudah bilang ke tanteku kalau kita akan menginap di sini empat hari tiga malam, jadi aku sudah dikasih kuncinya. Anggap saja rumah sendiri, toh yang ada di sini hanya kita bertiga dan penjaga vila."
"Iya~"
Setelah ujian selesai, mereka mendapatkan kelas kembali. Kemudian beberapa hari setelahnya, nilai pun datang. Hasilnya bagus, untunglah saat itu mereka belajar dengan benar. Beberapa minggu sebelum liburan pun, para guru sudah memberikan tugas yang menumpuk. Nah, saat liburan sudah datang mereka langsung mengerjakannya bersama. Setelah semuanya selesai, mereka berangkat deh ke sini.
"Ini kunci kamarnya, kita tidur di kamar yang sama ya." menunjukkan sebuah kunci pada Sakura dan Hinata, Ino memilih kamar yang cukup untuk tiga orang supaya lebih menyenangkan. Kalau kamarnya sendiri-sendiri, tidak akan asyik.
Setelah meletakan semua barang-barang pada tempatnya, mereka terdiam. Semua sudah dilakukan, tidak ada yang tersisa. Jadi, apa yang harus mereka lakukan sekarang?
"Lalu~ Kalau sudah seperti ini, enaknya langsung ke pantai 'kan?" memulai pembicaraan, Ino memegang bantalnya dan dimain-mainkannya. Tidak ada kerjaan itu memang tidak enak, jadi lebih baik ke pantai saja meski saat itu pantai sedang ramai.
Menggangguk, Sakura dan Hinata menyetujuinya. Daripada diam di kamar tidak melakukan apapun, lebih baik bersenang-senang di luar. Hari ini Hinata juga sudah berjaga-jaga dengan memakan obat penawarnya. Inilah pertama kalinya bagi Hinata bersenang-senang dengan teman-temannya sampai menginap segala. Ia tidak mau menyia-nyiakannya, karena ini adalah pengalaman pertama yang mau ia buat seindah mungkin.
"Kita 'kan sudah sengaja beli baju renang baru, jadi kita jangan sampai lupa untuk berenang." kata Sakura mengingatkan teman-temannya sambil memasukan pakaian renangnya ke dalam tas kecil.
"Iya," mengikuti instruksi Sakura, Ino dan Hinata juga sudah memasukan pakaian renang dan alat seperlunya di dalam tas masing-masing.
Jarak antara vila Yamanaka dengan pantai tidak terlalu jauh. Hanya perlu jalan santai sepuluh menit, mereka akan sampai di sana. Tapi sebelum itu, tentu saja harus ganti baju terlebih dahulu. Setelah ganti baju, dengan semangat semuanya memakai lotion anti sinar matahari. Lalu, berlari pelan ke pantai yang ramai itu.
"Wah~ Ramai!" seru Ino melihat sekelilingnya, dari anak-anak, bapak-bapak dan ibu-ibu, dan kakek nenek pun ada. Semua jenis umur ada di pantai ini, dan itu tidak masalah baginya.
"Hinata-chan, kalau ke sini tapi tidak melepas baju luarmu itu, sama saja boong dong. Setidaknya tunjukkanlah pesona tubuhmu, lagian 'kan tidak mungkin kau berenang sambil pakai jaket seperti itu. Untuk apa beli baju renang baru kalau gitu?" Sakura berusaha mengingatkan Hinata dimana keberadaan mereka sekarang. Masa Hinata menggenakan jaket di luar baju renangnya?
"Tidak~ Aku malu." dengan semburat wajah yang memerah, Hinata makin mengeratkan jaket yang dipakainya. Baru kali ini ia menunjukkan bagian tubuhnya lebih jelas seperti ini, ia tidak pernah memakai pakaian kekurangan bahan alias bikini.
"Ah~ Masa berenang pakai baju begitu sih Hinata?" sependapat dengan Sakura, Ino juga tidak suka dengan Hinata yang malu-malu seperti itu. Hinata itu memiliki bentuk tubuh yang indah, tidak salahnya dipamerkan sesekali.
"Itu..." tidak dapat berkata-kata, memang dirinya tidak akan bisa berenang kalau masih memakai jaket yang biasanya dipakai. Ia juga tidak mungkin membuat jaketnya basah kena air laut. Tapi... menunjukkan keindahan tubuh itu 'kan, memalukan.
Kesal, lebih baik Ino bertidak duluan. "Ah! Hinata-chan lama! Padahal 'kan kita sudah beli baju renang bersama-sama untuk hari ini, sayang kalau tidak ditunjukkan!" dan dengan tarikan yang kuat, jaket yang dikenakan Hinata pun terlepas dari tubuhnya.
"Ah..." makin malu sudah, tidak ada pelindung lagi di bagian atasnya untuk menutupi tubuhnya kecuali pakaian renang yang kekurangan bahan itu.
"Hinata-chan~" takjup, Sakura memang tahu kalau ukuran Hinata itu bisa dikatakan besar, tapi ia tidak menyangka akan lebih besar dari yang dibayangkannya.
"Besar~ Ah! Bukan itu maksudhku! Kalau begitu ayo kita berenang di pantainya!" bahkan Ino pun merasa sedikit iri, tapi bukan itu masalahnya sekarang. Karena semuanya sudah siap, jadi langsung saja berenang keburu laut penuh dengan orang.
Tapi tidak ada yang menyangka, bahwa kejadian itu mengundang pria nakal yang ada di sana. Saat sedang santai-santainya berjalan ke pinggir laut, malah ada suara yang menahan perjalanan ketiganya.
"Eh~ Nona bertiga sendirian?"
"Ha?" dengan tampang ditekuk, Sakura dan Ino menatap orang yang memanggilnya.
Kejadian seperti ini memang sering terjadi di pantai, pasti selalu saja ada kejadian ajak mengajak. Tapi kalau sampai dipaksa segala, urusannya akan berbeda. Apalagi yang dihadipi mereka sekarang, bukanlah sesuai harapan semuanya.
"Bagaimana kalau temani kami?" ajakan yang bagaikan memaksa itu, senyuman yang tidak enak dipandang itu, benar-benar membuat Sakura dan Ino merasa jengkel. Kalau Hinata, ia tidak pernah menghadapi kejadian seperti ini, jadi ia dilindungi oleh Sakura dan Ino yang berada di depannya.
"Maaf ya, tapi kami tidak mau kesenangan kami diganggu oleh orang-orang seperti kalian." menolaknya dengan baik, lebih baik bertemu dengan Sai daripada orang di depannya. Meski ia tidak menyukai Sai, tapi setidaknya itu lebih baik daripada mereka.
"Wah~ Tipe jutek! Kau boleh juga,"
"Ha?!" makin kesal, mereka tidak mengerti apa yang diucapkan Ino tadi ya? Harus menggunakan bahasa apa supaya mereka mengerti? Malah bilang kalau dirinya jutek lagi.
"Sekali tidak mempan ya? Perlu berapa kali dibilang?" akhirnya Sakura angkat bicara, ia sudah tidak dapat menahan dirinya sendiri. Kesal! Ia sangat kesal! Liburannya diganggu oleh orang yang tidak berguna.
"Sakura-chan~ Ino-chan~" berusaha menenangkan teman-temannya, tidak boleh ada perkelahian di sini. Takutnya akan semakin gawat kalau tidak dihentikan.
"Sudahlah~ Ayo ikut saja dengan kami, nona kau manis deh." berusaha menenangkan Sakura dan Ino, eh malah Hinata yang ditarik oleh salah satu teman pria nakal itu yang ternyata ada di belakang mereka.
"Eh?" Takut, ia takut. Jijik! Ia tidak mau dipegang oleh pria lain, ia hanya mau dipegang oleh orang yang disukainya.
"Lepaskan!" menarik tangan Hinata, dengan tatapan tajamnya Sakura melihat orang yang tadi menarik Hinata.
"Hahaha~ Kau cemburu ya? Kalau gitu kau saja yang ikut bersamaku." bukannya takut, orang itu malah memegang tangan Sakura dan sedikit menariknya.
"Kuhajar kau..."
Marah, Sakura sudah sangat marah.
"Hahaha~ Kami tidak akan mempan dengan ancaman..."
Gretek-gretek~
"Kau tidak mengerti apa yang kukatakan barusan?" dengan tatapan iblis, Sakura meremukkan tangan yang bertaut dengan tangannya. Dengan kekuatan yang selama ini tidak pernah dipakainya kembali.
"Salah sendiri mengaktifkan Sakura mode setan penghancur. Sudah lama tidak melihat ini, terakhir SD ya? Saat menghancurkan lemari kayu jati dengan satu tangan? Mungkin kekuatannya sudah bertambah seratus kali lipat dari yang dulu, bahaya nih." melihat adegan di depannya sambil mengenang kejadian lalu, ternyata Ino merindukannya juga. Mungkin hal ini yang telah membuat mereka berteman saat itu, Ino mengagumi kekuatan Sakura.
'Eh? Ternyata Sakura-chan juga punya hal yang disembunyikannya.'
"Tangannya..." sedikit ketakutan, tadi mereka benar-benar mendengar suara retakan itu. Tangan rekan seperjuangannya, mungkin sudah diremukkan oleh seorang gadis remaja.
"Sudah kuperingati kau, tapi kau tetap tidak mau mendengar."
"Ugh! Sial kau!" berusaha melepaskan tangannya, ia tahu bahwa akan bahaya kalau ia terus berada di hadapan gadis-gadis itu.
"Kebodohanmu yang membuat mautmu makin dekat." dengan nada yang datar, dan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Aura yang benar-benar terasa dari sekitar tubuhnya, Sakura sudah tidak dapat menahannya.
"Sakura-chan!"
"Sakura! Itu sudah cukup!"
Bahkan peringatan dari Ino dan Sakura pun tidak didengarnya, "Terimalah mautmu..." Sakura masih saja tetap meneruskan amarahnya. Ia sangat siap melukai orang di depannya, tidak peduli dengan kedepannya nanti. Lihatlah~ Siapa yang berani membuatnya marah, akan terima akibat yang setimpal. Tinju tangan itu, sudah tidak dapat dihentikan.
"Oke, Cukup sampai di sini." dengan entengnya, tinjuan Sakura ditahan olehnya.
"Eh?"
"Tidak akan kubiarkan kau berbuat lebih dari ini, Haru." kemudian melepaskan tangan pria bodoh itu dari cengkraman Sakura.
Sakura telah kembali normal, 'Sasuke-senpai?!' karena ia kaget melihat Sasuke yang tiba-tiba ada di depannya. Lalu, panggilan itu?
'Sakura sudah kembali normal ya? Padahal kalau sudah seperti ini, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.' sudah lama Ino bersama dengan Sakura, jadi ia mengetahuinya. Saat kejadian itu terjadi di sekolah dasar, tidak ada yang bisa menghentikan Sakura yang mengamuk. Tapi, baru kali ini ia melihat ada yang dapat menghentikannya seperti itu. Mungkinkah?
"Hinata, kau baik-baik saja?" berlari mendekati Hinata, untungnya ia tepat waktu melihat keadaan Hinata. "Ah! Ini, pakai ini." dengan segera Naruto melepaskan bajunya, ia menyuruh Hinata memakainya. Barusan ia melihat hal yang benar-benar luar biasa, tidak akan ia biarkan orang lain melihatnya.
"Terima kasih~" menerima niat baik Naruto, Naruto menerima baju itu dan dipakainya. Karena Hinata sendiri juga tidak betah menunjukkan tubuhnya yang tidak lengkap berpakaian.
"Kalian pengecut amat sih, beraninya sama seorang gadis." saat ini, Kiba yang merasa paling kesal. Kalau pacarnya yang diperlakukan seperti ini, sudah pasti akan langsung dihajar olehnya.
"Tidak baik seorang pria yang mengganggu wanita di sekitarnya. Kalian tidak laku ya makanya ke pantai untuk mencari pasangan? Sadari posisi kalian dong." kata-kata dan senyuman yang diberikannya, seakan mengejek. Sai itu, memang paling jago menghina orang.
"Cih, merepotkan. Malas aku berurusan sama hal yang tidak penting seperti ini." sebenarnya Shikamaru tidak mau berurusan dengan hal yang merepotkan seperti ini, tapi sepertinya otak dan tubuhnya berkata lain.
"Ck, awas kalian..." merasa kalah, sekelompok pria nakal itu pun pergi meninggalkan mereka semua.
"Kalian tidak apa-apa?" kembali Naruto bertanya pada semuanya, kejadian seperti ini sebenarnya baru pernah dilihatnya di komik dan TV. Ia tidak pernah menyangka kalau di dunia nyata juga ada yang namanya ajak mengajak.
"Iya, terima kasih. Tapi kenapa senpai sekalian ada di sini?" mewakili teman-temannya, Hinata tahu kalau Sakura dan Ino tidak akan bicara. Entah karena apa, tapi tidak baik mendiami orang yang sudah menolong kita.
"Oh, kakek... Um.. Pertapa genit punya kedai di sini. Jadi sekalian saja kami berlibur dan membantunya." jelas Naruto, ternyata Naruto punya kenalan di tempat ini sehingga tanpa sengaja mereka bisa bertemu.
"Bukan! Saat liburan kami disuruh ke sini supaya jualannya laku semua." mengoreksi penjelasan Naruto, Kiba tidak setuju dengan kebohongan Naruto. Setelah seenaknya memiliki nilai yang sama lagi sepertinya, sekarang gara-gara Naruto ia berada di sini sekarang. Padahal liburan seperti ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan sang pacar.
"Um... Pertapa genit?"
"Maksudku, Jiraiya-sensei! Dia guru ayahku, tapi guruku juga sih." dengan cepat Naruto mengoreksi kata-katanya sendiri. Aduh ini mulut bicara hal yang aneh di depan seorang gadis.
"Hinata-chan, ayo kita pergi dari sini." tidak betah berada dekat dengan orang yang tidak disukainya, ia mau cepat-cepat pergi.
"Ah, iya. Terima kasih sudah membantu kami. Tapi sekarang kami harus pergi~" berpamitan pada semuanya, tidak enak membuat Sakura dan Ino menjadi diam karena kejadian ini.
"Oke! Kalau ada apa-apa, jangan segan-segan untuk minta bantuan ya."
::
::
"Hei~ Liburan kalau ada mereka, rasanya tidak enak." menatap sendu matahari terbenam, dipinggir karang dengan ombak yang pelan. Ino mengutarakan isi hatinya, ia menekuk lututnya dan meletakkan kepalanya di sana.
"Aku setuju denganmu, Ino." sama seperti dengan Ino, Sakura juga merasakan hal yang sama. Kenapa ada Sasuke saat ia berlibur? Padahal ia berlibur ke sini karena ingin menghindarinya semakin jauh.
"Memangnya ada apa?" sedangkan Hinata yang tidak mengerti dengan masalah keduanya, hanya dapat bertanya.
"Kau tidak tahu Hinata-chan? Ini liburan khusus wanita! Kalau tiba-tiba ada yang jenis kelaminnya berbeda seperti itu 'kan tidak enak." sebenarnya bukan ini masalah yang sebenarnya, Ino hanya mengubah fakta dengan idenya sendiri. Sebenarnya ia tidak suka karena ada Sai, padahal ia tidak pernah mau melihatnya lagi.
"Oh, tapi 'kan kita tidak sama mereka terus. Kita masih punya banyak waktu yang dapat kita lakukan bersama." ucapan Hinata membuat Sakura dan Ino terharu, memang bukan waktunya bagi mereka untuk bersedih hanya karena hal sepele itu.
"Itu benar~"
"Yah~ Sudah malam, kita harus kembali ke vila."
Lupakan orang yang tidak penting, waktu mereka masih banyak. Masih ada banyak kesenangan yang dapat mereka lakukan di tempat seperti ini. Lagian di tempat seluas ini, tidak akan mudah bertemu lagi dengan orang-orang itu.
Satu hari pun terlewatkan~
Hari kedua telah tiba, sepertinya selama mereka ada di sana, mereka akan selalu pergi ke pantai. Kemarin mereka tidak sempat berenang karena ada gangguan dari orang gila. Tapi kali ini, mereka yakin dapat berenang, makan es serut, main voli pantai, pecah semangka, dan yang lainnya sepuasnya. Makanya saat matahari mulai berada di atas kepala, mereka bersiap-siap untuk ke pantai.
Jam satu lewat, mereka sudah tepat berada di pantai. Kali ini sudah diputuskan jadwalnya, jadi hari ini tidak akan berantakan. Pertama berenang, kedua makan es serut, ketiga main pecah semangka, lalu kalau mau nanti main voli pantai berama dengan atlet-atlet yang ada di sana.
"Hei~ Di musim panas seperti ini, membuat air yang biasanya dingin jadi lumayan hangat." katanya sambil mengapung, membiarkan tubuhnya bergerak searah dengan air mengalir. Untuk lebih santainya, Ino menutup matanya agar tidak terik dengan sinar matahari. Untungnya pantai hari ini lumayan sepi, tidak seramai kemarin.
"Hahaha, kau ada-ada saja Ino." merespon kata-kata Ino dan mengikuti langkahnya bergerak. Itu dilakukan Sakura agar Ino tidak terlalu jauh dibawa oleh aliran air. Takutnya tiba-tiba saat membuka matanya, Ino sudah ada di tengah laut kalau tidak dijaga.
"Tapi aku juga dapat merasakannya kok, seperti berendam di air hangat. Tapi tidak sehangat seperti di pemandian sih." berenang santai di sekitar Ino dan Sakura, Hinata bagaikan ikan yang berenang mengitari keduanya.
"Baguslah kalau Hinata-chan juga sependapat denganku." tidak bosan mengapung, Ino masih tetap santai sambil menutup matanya. Nuansa tenang seperti ini, sangat dinikmatinya.
"Hei! Kalian bertiga yang lagi berenang di sana!"
Tapi, setelah mendengar teriakan yang ibaratkan memanggil ketiganya, membuat nuansa tenangnya hilang seketika. Mereka pikir, kali ini kejadian kemarin akan terulang kembali.
"Siapa lagi kali ini?" sedikit mengurangi rasa kesal, Sakura bertanya pada dirinya sendiri. Siapa kali ini yang akan mengganggu liburan santainya? Ia tidak mau sisinya yang lain akan keluar kembali setelah sekian lama ia coba untuk tidak mengeluarkannya.
Dengan tatapan kesal, akhirnya Ino dan Sakura melihat orang yang memanggilnya. Tapi orang yang ditatap seperti ini malah kaget dengan hal itu. "Hei, aku bukan pria penggoda kok." dan berusaha menenangkan ketiga gadis yang tadi dipanggilnya.
"Eh? Naruto-senpai, maaf." setelah mengetahui yang sebenarnya, Ino dan Sakura meminta maaf pada Naruto. Mereka kira, orang-orang kemarin yang datang kembali pada mereka.
"Sudah, tidak apa. Pasti kalian menjadi waspada setelah kejadian kemarin. Oh ya, Jiraiya-sensei mengajak kalian makan di kedainya secara gratis setelah mendengar Kiba cerita kalau ada kalian di sini." akhirnya Naruto mengutarakan apa maksudnya menemui ketiga gadis ini. Kalau tidak ada hal ini sih, sudah pasti ia akan santai memakan es serut ditemani sama kipas angin. Tapi lumayan juga sih bisa melihat Hinata, sedikit menyegarkan mata.
Dari sekian banyak kata yang diucapkan Naruto, hanya satu kata yang dapat ditangkapnya. "Gratis?" dan inilah yang menarik perhatian Ino. Makan gratis? Hanya orang bodoh saja yang menolaknya.
"Iya~ Kalian tidak mau?"
Ya, memang orang bodoh saja yang menolaknya. Ino dan Sakura sangat ingin makan gratis, tapi ada yang membuat niat mereka itu tidak terlaksana seutuhnya. "Teman-teman Naruto-senpai semuanya ada di sana?" tanya Sakura was-was.
"Iya, memangnya kenapa? Semuanya ikut makan juga, soalnya memang sudah waktunya makan setelah bekerja. Kalian tidak mau makan gratis bukan?" dengan heran-heran Naruto bertanya, kalau hal ini terjadi padanya sudah pasti ia tidak dapat menolak tawaran yang menggiurkan ini.
"Mau!" tidak ada pilihan lain, lupakan saja masalah yang terjadi saat ini.
"Oke, kalau begitu ayo ikut. Tapi hati-hati ya, pertapa genit, eh maksudku Jiraiya-sensei itu sedikit mesum..."
Pada akhirnya, mereka sudah sampai pada kedai yang dimaksud. Kedai yang berukuran lumayan sedang ini terbuat dari ornamen kayu yang berdiri tegak. Saat ini sepi pengunjung, karena sekarang memang jam istirahat dan kedai sengaja ditutup. Setelah istirahat selesai, nanti kedai akan dibuka kembali.
Jiraiya melihat ketiga gadis yang belum lama ini datang ke kedainya. "Hehehe~ Hebat juga kau Naruto," sambil tertawa tidak jelas dan menyenggol-nyenggol lengan Naruto.
"Apaan sih~" merasa risih, Naruto menepis sikut Jiraiya yang menyenggolnya tidak jelas.
"Jadi yang mana?" dengan pipi yang sedikit memerah Jiraiya bertanya pada Naruto.
"Apanya yang mana? Sudahlah! Katanya dikasih makan gratis." mengubah topik, Naruto paling malas berurusan dengan topik sebelumnya. Jadi lebih baik langsung saja ke inti permasalahannya.
"Oh, iya. Hari ini banyak sekali stok daging babi yang baru dikirim langsung dari peternaknya. Saking banyaknya, saya pikir tidak akan habis sampai tanggalnya nanti. Jadi dimakan saja ya, lumayan untuk mengisi perut." dengan cepat melupakan kegiatannya untuk menggoda Naruto, urusan makanan lebih penting.
"Ba-bi?" entah kenapa, saat mendengar kata itu tingkah Sakura jadi sedikit berubah. Mungkinkah nama binatang itu menjadi kata-kata tabu baginya? Tidak, bukan itu. Hanya saja saat mendengar itu membuatnya jadi teringat akan ledekan yang selalu terngiang dalam ingatannya.
"Eh? Ada apa? Tidak suka ya?" melihat salah satu tingkah gadis yang seperti berkata tidak suka, Jiraiya bertanya. Seharusnya sebelum memberi makan gratis, ia harus memberitahukan dulu makanan apa yang akan diberinya gratis. Kalau ada orang yang tidak suka 'kan niat baik jadi akan sia-sia.
"Tidak! Bukan begitu!" menggerak-gerakkan kedua tanganya, ia bukannya tidak suka dengan makanan itu. Hanya saja, orang yang sedang duduk diam dan menopang dagu itulah yang membuatnya jadi tidak biasa mendengar nama hewan itu. Padahal hewan tersebut tidak pernah berbuat salah padanya sama sekali.
"Baguslah~ Kalau begitu ayo makan~"
Saat makan, suasana sedikit ramai karena candaan. Saat ini Ino dan Sakura tidak peduli lagi sama yang namanya Sai ataupun Sasuke, yang penting adalah mengisi perut. Lagian posisi duduk mereka juga jauh, jadi aman.
"Sai," disela-sela makan yang santai, Sasuke memanggil Sai. Ada apa gerangan? Jarang-jarang Sasuke yang mengajak bicara duluan.
"Ada apa?"
"Ini diambil dari babi berwarna apa sih?" dan dengan tampang tidak bersalahnya, ia menanyakan hal yang tidak penting pada Sai.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Telinga Sakura bergerak-gerak, ia mendengarnya barusan. "Bukan dari babi berwarna pink ya?" dan kembali mendengar pertanyaan Sasuke yang tidak masuk akal.
"Ha?"
'Tenang Sakura! Dia tidak bermaksud meledekmu!' memberontak dalam dirinya, Sakura berusaha menenangkan dirinya. Sasuke itu hanya menanyakan warna babi yang jadi menu saat ini, tidak ada maksud untuk meledek kok. Berpikiran positif, Sakura sedang berusaha melakukannya. Tapi saat pandangan mata mereka bertemu, dan Sakura melihat senyuman kepuasan, sekarang Sakura sudah tahu yang sebenarnya.
'Dia meledek!' sisi baik dan jahat Sakura bertarung dalam dirinya. Antara mau mengamuk, tapi ada orang lain di sekitarnya.
Saat dua sisi itu sedang sibuk-sibuknya bertarung, Hinata sang penenang memanggil. "Sakura-chan~" dan inilah yang membuat sisi baik jadi menang.
"Eh? Ada apa?"
"Enak ya."
"Iya, haha."
Liburan hari ini pun, berjalan tidak sesuai rencana.
Seusai makan siang, Hinata dan kawan-kawan pun pamit untuk melakukan kegiatannya kembali. Merasa kepanasan, Sasuke melepas pakaiannya dan mendekat pada kipas. Naruto mendekat pada Sasuke, ia kembali melihatnya.
"Sasuke... Dari dulu aku penasaran, lukamu itu datangnya dari mana sih? Besar begitu, nggak hilang-hilang lagi bekasnya."
Terdiam sementara, dan mengingat kembali masa lalunya... "Yaa... Dari seorang yang berharga, yang telah melupakanku." perasaan campur aduk, kini memenuhi dirinya.
'Sasuke-kun bodoh! Haru benci! Sangat benci! Sudah dibilang nggak usah mendekat... Haru nggak mau membuat orang yang Haru sayangi terluka untuk yang kesekian kalinya.'
'Tapi...'
'Jangan pernah muncul di hadapan Haru lagi. '
"Yah.. Aku yang dulu benar-benar bodoh."
"Aku tak mengerti, tolong jelaskan." menggaruk-garuk pipinya yang tak gatal. Naruto memang paling tak mengerti hal-hal seperti itu.
"Bodoh, ini kisahmu. Bukan kisahku... Urus saja urusanmu sendiri."
Liku-liku kehidupan, masih banyak yang belum terungkap.
::
::
To Be Continue
::
::
