The Workaholic
.
.
.
Naruto and All Characters belong to Masashi Kishimoto
.
.
Sasuke and Hinata Story
Warning! This is just a fanfic, don't think too much! No Bash! Many Typo! No Plagiarism!
Happy Reading
.
.
.
"Sasuke."
Merasa namanya dipanggil, Sasuke yang hendak membuka pintu mobilnya otomatis menoleh, "Apa?"
"Biarkan aku menginap semalam lagi, ya?"
Sasuke segera menatap Naruto nyalang, "Sialan."
"Hey, aku perlu berpikir matang-matang sebelum menemui Tou-san dan Kaa-san." Naruto merajuk.
"Hanya semalam, Namikaze. Ingat." penekanan pada kata terakhir membuat Naruto bergidik.
"Kau memang sahabat terbaik, Sasuke."
Dengan itu Naruto memasuki mobilnya sendiri dan mengikuti Sasuke dari belakang. Selama perjalanan Naruto terus bergerilya berpikir apa saja yang akan ia ucapkan agar kedua orang tuanya mengerti, Naruto sempat dibuat marah semarah-marahnya ketika skandal yang menyangkut nama Namikaze tersebar luas di berita. Parahnya lagi, anggota keluarga Namikaze yang terlibat adalah dirinya sendiri. Bila skandal itu berisi tentang korupsi atau kasus perusahaan mungkin Naruto bisa membayar orang untuk menutup semuanya, tetapi tidak, Namikaze adalah keluarga terpandang yang enggan mengambil hak orang lain. Naruto menyadari, skandal kali ini sayangnya bukan tentang kasus perusahaan namun pemerkosaan terhadap seorang gadis dibawah umur.
Ia memukul setir mobil, "Berengsek."
* Chapter 2 *
Sejak tadi Karin tak menghentikan aktivitasnya memandangi Naruto sampai-sampai pemuda berusia 23 tahun itu dibuat risih akan kelakuan si singa betina. Naruto membalas tatapan Karin, "Sudah puas, nona?" sindirnya ketus.
Karin dan ekspresi tak sukanya membuat pelipis Naruto berkedut, "Jadi, mau sampai kapan kau tinggal disini? Kau punya rumah, kau anak seorang pengusaha ternama yang-"
"Tanyakan itu pada dirimu sendiri, Karin."
Naruto tak tahan.
"Wajar jika itu aku, tapi kau? Kau hanya menumpang di rumah Sasuke-kun dan selalu merepotkannya."
"Oh ya? Benarkah?" sahut Naruto yang mulai siap menyiram gadis dihadapannya dengan hinaan, "Lihatlah! Pantas Sasuke memilihmu, karena hanya kaulah manusia langka di seluruh jagat raya. Demi Tuhan, kau ini gadis satu-satunya yang memiliki lidah pedas dan terlalu menjunjung rasa percaya dirimu."
Bola mata Karin memerah begitu mendengar perkataan Naruto yang seolah melunturkan harga dirinya, "Jaga bicaramu, Naruto! Kau tahu 'kan siapa aku?!" desisnya kehilangan kontrol.
Naruto suka ini.
"Tentu aku tahu, nona. Kau itu calon tunangan sahabatku yang dengan seenaknya tinggal di rumah Sasuke tanpa berunding dulu dengannya, katakan jika aku salah?" Naruto tersenyum penuh kemenangan melihat Karin sudah diselimuti amarah yang meledak-ledak.
"Berengsek. Tutup mulutmu dan mulailah berkaca, Namikaze." Karin menuding Naruto, "Kau! Apa kau masih bisa tertawa saat berita mengenai kasus pemerkosaan yang melibatkan dirimu tersebar luas ditelevisi? Ah aku yakin kau hanya anak ingusan yang rela melakukan apapun demi menyetubuhi anak dibawah umur."
Brak!
"Sialan kau, Karin!"
Habis sudah kesabaran Naruto. Ia kini berdiri dari kursinya dengan mata menyorot tajam tepat dimanik mata lawan bicaranya. Naruto dan Karin saling beradu pandang, masing-masing memendam dendam dan melampiaskannya melalui kontak mata yang tak satupun dari mereka berniat untuk memutusnya.
"Hentikan keributan ini atau kalian berdua aku usir."
Karin dan Naruto menoleh.
"Bagus sekali, terima kasih karena mengacaukan pagiku." Sasuke melipat tangannya di dada. Ia yang baru selesai berpakaian harus menemukan adegan rutin yang senantiasa dilakukan Naruto serta calon tunangannya.
Karin mendengus lalu beringsut menuju Sasuke, "Ohayou, Sasuke-kun." sapanya manja.
"Hn."
Naruto tak bisa untuk tidak tertawa melihat bagaimana Sasuke menghindari gadis itu, "Kerja bagus, Sasuke."
Lagi. Karin dan Naruto saling melempar tatapan sengit.
"Habiskan sarapanmu, Naruto. Aku tak ingin terlambat menghadiri rapat pagi ini."
"Eh? Rapat? Dipagi hari seperti ini?" tiga pertanyaan dalam satu tarikan nafas menghasilkan helaan jengah yang Naruto paham artinya.
"Kebiasaan buruk memang tak pernah lepas darinya, Sasuke-kun. Lebih baik kau nikmati saja sarapanmu." Karin berceloteh ringan.
"Aku sarankan kau membeli beberapa perekat untuknya, Sasuke."
"Huh?"
Naruto yang sadar akan sinar laser gadis itu sontak melanjutkan ucapannya, "Agar dia bisa berhenti berbicara dan tak membuang-buang waktumu seperti sekarang."
Entah ke berapa kalinya Karin dan Naruto beradu mata, Sasuke tak peduli. Ia paham betul kedua individu itu tak bisa berteman baik dan selalu membuat keributan bila bertemu. Sebaiknya Sasuke menyewa apartment pribadi yang wajib ia rahasiakan dari orang-orang merepotkan.
Ide bagus, bukan?
.
.
.
Hinata terdiam.
Ia mengadahkan kepalanya ke atas demi mengagumi bangunan elit yang menjulang tinggi disana. Dirinya mendapat undangan dari sebuah perusahaan ternama untuk berbicara mengenai beberapa proyek penggabungan saham, lalu disinilah dia berada.
Namikaze Company.
Seketika teringat wajah konyol Naruto. Hinata bukannya bodoh bertindak seakan-akan tak tahu-menahu soal kasus yang belakangan ini menyeret teman sepermainannya, ia hanya berkomitmen untuk tidak terlalu mencampuri urusan orang lain dan memfokuskan diri pada pekerjaan. Lebih dari itu, Hinata memutuskan melangkah ke dalam untuk menemui pimpinan utama yang dirinya yakin pasti menyambut antusias kedatangannya.
Hinata memasuki lift menuju lantai 25.
Ting!
Matanya menangkap seorang pria bersetelan jas hitam tengah berbicara pada seseorang. Tak lama pria itupun berbalik lalu seperti-yang-ia-tebak-tadi, Minato menyambut Hinata dengan antusias.
"Lama tidak berjumpa, Hinata." biasanya client akan bersalaman untuk sekedar sambut-menyambut, tetapi berbeda bila itu Hinata.
"Senang bertemu dengan anda, Mi-minato-sama."
Presdir bersurai kuning itu melepas pelukan sayangnya, "Kaku sekali, Hinata-chan."
Dan sungguh pipi Hinata memanas mendengar suffix yang sama sekali tak menggambarkan keadaan segan antara dua belah pihak. Bagaimanapun juga mereka sedang berada di dalam ruang rapat, banyak orang penting disana, terlebih sebagian dari mereka merupakan saingan Hyuuga Corp - perusahaan Hiashi selaku Ayah kandung Hinata.
"Ne, apa kau datang sendiri, Hinata-chan?"
"Begitulah." Hinata menjawab ragu.
Minato kemudian tertawa pelan, "Tidak perlu sungkan, Hinata. Kau bisa memanggilku seperti biasa." ujarnya diselingi senyuman ramah.
Hinata mengangguk patuh, "Lebih baik saya memanggil anda Minato-sama, karena ini adalah rapat antar perusahaan jadi terdengar tidak sopan jika saya menyapa seorang Presdir sebegitu akrabnya."
Mendengar jawaban Hinata membuat Minato tersenyum maklum, "Bijaksana seperti Hiashi."
Hinata bangga, tentu saja. Minato menyebut nama Ayahnya yang secara tidak langsung mengakui kesopanan keluarga Hyuuga, "Terima kasih, Minato-sama."
Usai berbincang-bincang Hinata pergi keluar ruangan, ia mencari toilet terdekat untuk merapikan dandanan walau gadis itu hanya memoles minim wajahnya. Sialnya, belum sampai pada pintu toilet dirinya dibuat terkejut oleh seseorang - ralat - dua orang pemuda berpakaian rapi.
Hinata mematung.
Onyx dan Lavender bertubrukan pandang.
Jantung Hinata berdegup kencang untuk sesaat. Ya, sesaat.
Hinata memalingkan muka secepat mungkin, berjalan seolah tak ada siapapun disana. Sementara Sasuke bersikap tidak peduli dan kembali menarik Naruto, "Tak bisakah kau berjalan disampingku, bodoh?" Sasuke mengumpat karena aksi tarik-menariknya menimbulkan berbagai komentar dari orang-orang penting disekitarnya.
Naruto menahan langkah, "Sasuke sialan, aku sudah bilang tak bisa bertemu dengan Tou-san secepat ini!" bisikan yang Naruto buat menimbulkan decakan halus dari Sasuke.
"Lebih cepat lebih baik, Naruto."
"Bagaimana aku bersikap didepannya nanti, Sasuke? Kau ini benar-benar keterlaluan!"
"Ikuti saja alurnya dan berhenti berekspresi tegang seperti itu."
Naruto menyumpahi Sasuke dengan segala doa yang ia semogakan agar sahabatnya sedikit lebih pengertian. Ia pikir rapat yang Sasuke maksud adalah meeting di perusahaannya sendiri, ternyata Uchiha berengsek itu menipunya sejak kemarin. Pantas saat ia bertanya tentang undangan berwarna orange di meja kerjanya Sasuke langsung merubah topik pembicaraan, rupanya lelaki itu sedang menyiapkan kejutan untuknya.
Naruto menarik bahu kiri Sasuke, "Ya ampun, kali ini kau sudah membawaku ke dalam jurang, Sasuke. Aku tak bisa melakukan ini! Tak bisa! Tak bisa!"
Naruto berbalik. Sasuke menahan.
"Pecundang sialan, kau sengaja membuat kita jadi pusat perhatian, huh?"
Sasuke dan Naruto saling berbisik membalas.
"Apapun, Sasuke. Apapun! Asal jangan bertemu Tou-san!"
Sasuke menatap datar mata biru itu, "Berhenti bersikap kekanakan, Naruto."
"Aku?" Naruto menunjuk dirinya sendiri, "Ini bukan kekanakan, ini ketakutan!"
"Masuk atau tidak?" Sasuke memberikan pilihan mutlak.
"Tidak."
"Kalau begitu izinkan aku berteriak memanggil Presdir sekarang juga." jawaban yang pas untuk melawan sifat keras kepala Naruto, buktinya pemuda itu langsung terdiam menganga.
"Ka-kau tidak bersungguh-sungguh, 'kan?"
Sasuke memamerkan smirk khasnya, "Kau ingin aku mencobanya?"
"Berengsek, baiklah kau menang kali ini, Uchiha." Naruto mulai mengendalikan diri, ia mengelap keringat dingin yang sedari tadi menghiasi wajahnya. Dipikir-pikir memang perkataan Sasuke ada benarnya. Lebih cepat lebih baik. Tetapi tetap saja Naruto tak berharap berhadapan dengan Minato diwaktu tak tepat begini. Sebenarnya dirinya bermimpi apa sih semalam? Rasanya hari ini penderitaan Naruto bertambah dua kali lipat berkat Sasuke.
.
.
.
Dahulu, Hinata merupakan seseorang yang menjunjung tinggi kesopanan. Baik dari perilaku atau tutur kata. Hinata adalah sosok yang pemalu bahkan untuk menyapa teman-teman seangkatannya. Hingga suatu saat perasaannya berhasil diambil oleh seseorang, pemuda yang disegani sekaligus dikagumi oleh gadis-gadis satu sekolahan. Bukan tanpa sebab Hinata mendaratkan rasa cintanya pada pemuda itu, berawal dari pembelaan saat ia di bully dan berakhirlah dengan kekaguman yang melewati batas.
Hari itu bahkan Hinata menyatakan cintanya di lapangan basket, ia menutup rapat rasa malunya demi Sasuke. Kemudian hari-hari berikutnya berjalan sesuai impiannya, Sasuke menerima Hinata dan mengatakan bahwa ia telah lama pula memperhatikan Hinata. Tak sangka hubungan mereka berlanjut hingga lulus sekolah menengah atas, awalnya Hinata pikir Sasuke tetap menjadi Sasukenya walaupun pemuda itu memutuskan mengambil alih perusahaan Uchiha.
Ternyata ia salah.
Sasuke berubah. Benar-benar berbeda. Hinata sempat beradu argumen dan menyampaikan keluh kesahnya pada sang kekasih, namun dibalas oleh bentakan kasar yang tak pernah Sasuke tunjukkan sebelumnya. Pemuda itu mengabaikan Hinata demi setumpuk dokumen, Sasuke melupakan kesehatannya sehingga Hinata seringkali memergoki Sasuke tengah membeli obat-obatan, dan parahnya Sasuke semakin tak menganggap kehadiran Hinata.
Diusia 20 tahun bukan membuat lelaki itu tumbuh dewasa, tetapi justru membuat Sasuke berkembang dengan sifat egoisnya yang sudah beranak-pinak. Hinata tak tahan. Sasuke berangsur-angsur melupakan satu hal tentang dirinya, yaitu hati yang berusaha ia tegarkan untuk Sasuke semata. Hinata pun mengiyakan permintaan Hiashi ketika Ayahnya meminta Hinata memimpin perusahaan di Tokyo. Tanpa berpikir panjang Hinata memegang tanggung-jawab yang Hiashi berikan.
Lalu hubungan Sasuke dan Hinata bertambah buruk sejak saat itu. Sasuke dan perusahaannya. Hinata dan perusahaannya. Kedua pasangan yang bergelut mengelola perusahaan masing-masing menciptakan keretakan besar pada apa yang dahulu mereka sebut 'kekasih'. Sebagai pemimpin perusahaan, baik Hinata atau Sasuke memiliki pengaruh besar terhadap kinerja pegawai-pegawainya. Itulah salah satu alasan mengapa diusia 21 tahun pemuda berdarah Uchiha tersebut telah resmi memutuskan hubungannya dengan Hinata.
Shock.
Hubungan yang susah payah Hinata jaga dari masa bersekolah dulu berakhir semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu dua minggu bagi Hinata agar dirinya benar-benar merelakan Sasuke. Diminggu-minggu terakhir, Hinata kemudian mendapat kabar bahwa perusahaan yang Neji - kakak sepupunya - kelola mengalami kerugian besar dan kemerosotan saham.
Mau tidak mau Hinata menyelidiki penyebab kerugian salah satu cabang perusahaan Ayahnya di Kyoto. Dari situlah timbul rasa benci yang amat-sangat ketika tahu nama siapa yang menjadi dalang dibalik semua kerugiannya. Uchiha Sasuke. Satu-satunya orang yang Hinata cintai kini berubah status menjadi satu-satunya orang yang Hinata benci.
Tak tahukah Sasuke bahwa apa yang ia lakukan pada Neji menimbulkan perasangka buruk dimata Ayahnya? Hiashi yang sebelumnya sangat mempercayai Neji perlahan menuntutnya karena tak sanggup mengelola perusahaan dengan baik. Hinata tak memihak siapa, ia mencoba membantu Neji dengan cara menaikkan rating perusahaan utama Hyuuga yang berada di Tokyo - tentu dibawah kekuasaannya. Berhasil. Kepercayaan yang Hiashi ambil dari Neji sedikit demi sedikit terpupuk kembali karena Hyuuga Corp di Kyoto mulai stabil, bahkan hingga detik ini. Hinata menyadari, untuk memimpin suatu perusahaan diperlukan kecermatan dan kecekatan dalam menangani proyek saham. Tak lama ia meminta kepada Hiashi agar Hinata diberi ijin pergi ke London, mencari ilmu selama setahun karena jika ia memakan waktu lebih lama Hinata khawatir Hyuuga Corp akan terancam oleh perusahaan tinggi lainnya.
Diusia 23 tahun Hyuuga Corp menyambut kedatangan Hinata. Dari segi penampilan tampak tak ada yang berubah darinya, semua orang memahami ilmu yang Hinata ambil ketika mereka mengobrol. Lidahnya benar-benar lihai bercakap bak pembicara profesional, dalam sekejap nama Hyuuga melejit mengalahkan beberapa perusahaan lain termasuk Uchiha. Puas? Tentu.
Belum lama Hinata mengurusi percabangan saham, Naruto datang. Meminta Hinata bergabung dengan Uchiha demi perusahaan yang Neji pimpin, begitu katanya. Hinata jelas menolak, keputusannya tak dapat digoyahkan hanya karena teman masa kecilnya yang meminta. Terlebih Hinata cukup cerdas memaknai niat Sasuke yang bersembunyi dibalik punggung Naruto. Cih, pecundang.
Naruto tak dapat mengelabui Hinata, gadis itu paham posisinya. Pantas ia membantu Sasuke sebab si bungsu Uchiha telah bersenang hati meminjamkan tempat tinggal saat Naruto dan kedua orang tuanya beradu mulut mengenai skandal parasit yang menimpa keluarga Namikaze.
Hinata memejamkan mata.
Sungguh, ia tak mengira akan berada disini. Dihadapan mahkluk satu-satunya diatas muka bumi yang sangat ingin ia hindari. Hinata mengingat bagaimana Naruto memintanya untuk makan siang bersama seusai rapat tadi, sayangnya Hinata tak menemukan sinyal kebohongan yang ternyata malah menuntunnya pada lelaki buaya bermarga Uchiha ini. Hinata kesal, amarahnya menuntut naik sampai ke ubun-ubun.
"Hinata."
Sial, nada rendah yang Sasuke gunakan untuk memanggil namanya membuat Hinata merinding.
"Hinata, ada yang ingin aku bicarakan."
"Waktumu 15 menit dari sekarang." Hinata berujar acuh.
Sasuke menghela nafas pendek, "Aku tidak berbicara padamu sebagai partner kerja, Hinata."
"Siapa yang mengatakan aku dan kau adalah partner kerja, tuan Uchiha?"
"Maka kita bisa mengobrol sebagai-"
Sasuke tampak menimbang-nimbang perkataannya.
"-teman lama, mungkin?"
Hinata tertawa tepat setelah Sasuke mengucapkan kalimat terakhirnya. Rasanya ia ingin melemparkan vas bunga yang menghiasi meja makan ke wajah si mantan kekasih. Sasuke pun terlihat diam, tak keberatan akan tawa Hinata yang terkesan dibuat-buat.
"Bolehkah aku bertanya?"
Sasuke mengangguk.
"Sejak kapan kau pikir kita pernah berteman?" Hinata tersenyum angkuh, "Tak pernah, sedetik pun tak pernah."
"Aku tahu kau marah padaku, Hinata." Sasuke meminum kopi pesanannya, "Aku ingin meminta maaf atas semua yang pernah aku lakukan-"
"-tak perlu." Hinata memotong.
Sasuke memejamkan mata sejenak, apa yang Naruto katakan tempo hari memang benar. Hinata berubah menjadi sosok yang lebih berani. Menyadari hal itu Sasuke menyunggingkan senyuman, Hinata memberinya tantangan. Bagian dari mana yang mengatakan jika Uchiha membenci tantangan? Justru itulah daya tarik dimata Sasuke.
"Apa yang kau lakukan selama setahun belakangan ini, hm?"
"Bekerja."
"Aku tahu, pasti. Maksudku-"
Hinata menatap tajam pemuda itu, "Jangan berbelit-belit, langsung saja to the point, Uchiha."
"Bahkan kau lupa namaku, ya?" goda Sasuke sedikit mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai.
"Aku permisi." Hinata berniat bangkit meninggalkan Sasuke namun tangannya tertahan.
"Hinata, tak bisakah kita mengobrol lebih lama lagi?"
"Lepaskan."
Sasuke melayangkan sorot mata menajam, "Aku mohon."
Hinata menepis tangan itu dan kembali mendudukkan diri. Tangannya bersedekap, air muka yang ia pasang seangkuh mungkin tak berdampak apa-apa pada Sasuke. Mereka berdua tidak saling tatap-menatap karena Hinata lebih memilih memandangi keadaan diluar jendela.
"Mungkin kau terkejut, tapi aku ingin kita berhubungan seperti dulu lagi."
Hinata diam.
"Jika kau pikir aku melakukannya demi perusahaan, kau salah."
Hinata masih terdiam.
"Aku ingin kau menjadi kekasihku agar pertunanganku batal."
Hinata mendecih, "Kau bisa mencari orang lain."
"Aku memilihmu."
"Dan aku menolaknya."
Sasuke tersenyum miring, "Kita bisa membuat kontrak dan sepakat untuk berpisah setelah pertunanganku batal."
Hinata mengamati Sasuke dengan seksama, "Berapa kau akan membayarku?"
Sasuke melongo.
"Hyuuga tak bermain tanpa imbalan, tuan Uchiha." gadis itu menegaskan maksudnya. Sasuke bertepuk tangan dalam hati, siapa yang menduga bahwa Hinata mengubah kepribadiannya sejauh ini.
"Sebuah apartment, biaya makan, keperluan sehari-hari, dan apapun yang kau inginkan selama bekerjasama denganku sudah cukup, Hinata?"
"Tentu." balasnya enteng merasa dirinya berhak diperlakukan bak putri raja oleh Sasuke.
Hinata melirik sekilas, "Aku rasa tak ada yang perlu kita bahas lagi, benar?" tanpa menunggu respon Sasuke segera Hinata berdiri lalu membungkuk formal, "Aku permisi."
Sasuke masih setia ditempatnya, meneliti baik-baik punggung Hinata yang perlahan mulai menjauh. Ia tak habis pikir kenapa dengan mudahnya menyetujui saran Naruto yang jelas-jelas membawanya kembali pada Hinata. Sasuke bukan pecundang yang mengakui bahwa ia secara gamblang telah melupakan Hinata, ia hanya bosan memikirkan tentang apa dan kenapa bila menyangkut seseorang yang pernah mengisi hatinya.
Sasuke menghela nafas pelan, "Hinata, ya?"
.
.
.
to be continued
.
.
Di chapter ini mulai muncul masa lalu SasuHina, aku juga memberi penjelasan sedikit demi sedikit kenapa Sasuke dan Hinata berpisah. Aku akan membuat chapter depan menjadi lebih menarik, keep waiting, guys!
Mind to review?
