The Workaholic

.

.

.

Naruto and All Characters belong to Masashi Kishimoto

.

.

Sasuke and Hinata Story

Warning! This is just a fanfic, don't think too much! No Bash! Many Typo! No Plagiarism!

Happy Reading

.

.

.

"Hyuuga tak bermain tanpa imbalan, tuan Uchiha." gadis itu menegaskan maksudnya. Sasuke bertepuk tangan dalam hati, siapa yang menduga bahwa Hinata mengubah kepribadiannya sejauh ini.

"Sebuah apartment, biaya makan, keperluan sehari-hari, dan apapun yang kau inginkan selama bekerjasama denganku sudah cukup, Hinata?"

"Tentu." balasnya enteng merasa dirinya berhak diperlakukan bak putri raja oleh Sasuke.

Hinata melirik sekilas, "Aku rasa tak ada yang perlu kita bahas lagi, benar?" tanpa menunggu respon Sasuke segera Hinata berdiri lalu membungkuk formal, "Aku permisi."

Sasuke masih setia ditempatnya, meneliti baik-baik punggung Hinata yang perlahan mulai menjauh. Ia tak habis pikir kenapa dengan mudahnya menyetujui saran Naruto yang jelas-jelas membawanya kembali pada Hinata. Sasuke bukan pecundang yang mengakui bahwa ia secara gamblang telah melupakan Hinata, ia hanya bosan memikirkan tentang apa dan kenapa bila menyangkut seseorang yang pernah mengisi hatinya.

Sasuke menghela nafas pelan, "Hinata, ya?"

* Chapter 3 *

Hinata melemparkan tas kerjanya, menjatuhkan diri diatas ranjang king-size sembari menatap langit-langit. Ia mengamati sekeliling, "Sudah seminggu, ya?" gumamnya ketika sepasang iris amethyst bergulir menuju penanggalan yang tertancap rapi di dinding.

Benar. Hari ini adalah hari ke tujuh semenjak ia dan Sasuke sepakat bekerjasama, Hinata tahu dirinya belum cukup terlatih merusak hubungan orang, namun kehandalan dalam bersandiwara jangan pernah diragukan. Hinata mengulang lagi kejadian kemarin saat calon tunangan Sasuke melabraknya besar-besaran di perusahaan.

"Uzumaki-" Hinata memejamkan mata, "-Uzumaki Karin, eh?" lalu tersenyum miring.

Siang itu, Karin dan sejuta percaya dirinya datang untuk memberi perhitungan. Gadis bersurai merah berpakaian bak artis international berteriak di lobby mencari Hinata, spontan asisten pribadi Hinata - Hyuuga Kou - segera melaporkannya pada sang pimpinan. Hinata awalnya tak mempedulikan dan menyuruh beberapa security menendang gadis itu keluar sejauh mungkin dari perusahaan, namun tindakan Karin yang melukai salah satu karyawannya memaksa Hinata untuk menampakkan diri.

Karin.

Hinata.

Manusia yang menjadi pusat perhatian begitu keduanya bertemu. Karin tersenyum angkuh sembari melipat tangan dan mengangkat dagunya berniat meremehkan, sayangnya ucapan Hinata malah melunturkan harga diri si Uzumaki dalam sepatah kalimat.

"Siapa yang membiarkan orang tidak waras ini di perusahaanku?"

Karin menganga. Selanjutnya menuding Hinata dengan sorot mata menajam, "Hyuuga Hinata. Jadi kau ini wanita yang berniat merebut tunanganku, ya?" ejeknya diselingi tawa meremehkan.

Hinata tersenyum lebar, "Kau benar-benar tidak waras rupanya."

"Wanita rendahan sepertimu tak pantas untuk Sasuke-kun!"

Hinata tergelak.

Para karyawan menutup sebagian wajah mereka.

Karin mengernyit menyadari orang-orang disana menahan diri untuk tidak menertawakannya. Ia mengepalkan tangan, marah semarah-marahnya menyaksikan bagaimana bawahan seorang Hyuuga berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Mereka terlihat sangat memuakkan dimata gadis itu.

"Maafkan aku, nona-" Hinata menyudahi lelucon yang Karin buat, "-bukankah hal ini terlalu pribadi untuk dibicarakan didepan umum?"

"Aku tahu kau tak punya malu, Hyuuga."

Hinata mengulum senyuman lagi, "Kau pandai bercanda, ya? Seorang gadis yang entah siapa tiba-tiba masuk dan membuat kekacauan di perusahaanku. Kau pikir siapa yang tak punya malu disini, hm?"

"Jangan berbasa-basi, Hyuuga." Karin melangkah mendekati lawan bicaranya, "Sekali murahan akan tetap menjadi wanita murahan." ucapnya penuh pekanan tepat didepan wajah Hinata.

Bukannya mundur, Hinata malah meladeni tamu tak diundangnya, "Aku tak tahu siapa kau dan apa hubungannya semua ini denganku. Jadi, bisakah kau jelaskan terlebih dahulu sebelum menilai seseorang? Karena aku rasa, kau ini bukan tipe yang mudah diajak berunding."

Mata Karin menyipit tak suka, "Kau pikir aku bodoh? Berita tentang Sasuke yang memberikanmu sebuah apartment sudah aku dengar! Jadi berhentilah bersikap seakan-akan kau tak tahu apa-apa, Hyuuga Hinata!"

"Eh? Maksudmu?" Hinata memiringkan kepalanya dengan polos.

"Sialan. Berhenti berpura-pura dan lepaskan Sasuke."

Hinata mengangguk-anggukkan kepala. Bukan merespon Karin, ia hanya perlu bertingkah tak tahu-menahu didepan para bawahannya. Bisa jadi hal yang sangat fatal jika namanya dibumbui oleh tudingan-tudingan rendahan seperti yang Karin lakukan padanya kini.

"Begini, nona-" diambilnya nafas sejenak, "-mungkin kau salah paham, tetapi aku dan Sasuke hanya mengenal sebatas partner kerja. Lusa kemarin kami membuat perjanjian kerjasama, hanya itu. Dan soal berita tentang apartment, aku pikir itu hanya usaha orang yang tidak menyukai hubunganmu dengan Sasuke."

Karin terdiam menyimak.

"Aku tidak tahu kalian ini sepasang kekasih atau suami-istri, tetapi membuat keributan di perusahaanku jelas sekali bukan tindakan yang benar. Jadi dengan segala hormat sebagai pemimpin perusahaan, aku minta kau meninggalkan tempat ini secara baik-baik agar tak ada pihak berwajib yang terlibat."

Karin mendengus, "Kenapa aku harus menurutimu, huh?"

"Well, melukai karyawanku dengan melemparkan tumpukan berkas apa tak masuk dalam tindak kejahatan, nona? Aku rasa kau cukup cerdas menyadari siapa yang salah disini."

Karin tertawa, "Kau pikir aku peduli, huh? Selama jalang sepertimu masih berada diantara kami, aku tidak akan tinggal diam. Ingat itu. Hyuuga."

Hinata mengangguk, tak ada ekspresi terancam sama sekali. Selanjutnya beberapa security datang dan membawa Karin keluar dari perusahaan atas perintah Hinata.

"Jalang, eh?" ringis Hinata menyudahi memori yang lalu.

Mulanya Hinata menganggap ucapan Karin sebagai angin berlalu, namun jika ia memutar kembali kejadian yang belum Sasuke ketahui itu mendadak membuat hatinya bergetar ngilu. Hinata tak menampik kata kata 'jalang' yang Karin peruntukkan kepadanya. Seseorang yang mengganggu hubungan orang lain, bukankah memang pantas disebut jalang? Sungguh pertanyaan kritis yang mengusik pikiran.

Tut... Tut... Tut...

"Hn?"

"Bisa kita bertemu?"

"Malam ini?"

Hinata menggigit bibirnya, "Uh-hm, di cafe seperti biasa."

"Baiklah."

Lalu sambungan itu terputus. Hinata menatap sendu layar ponselnya, kenapa tiba-tiba pertahanannya goyah? Dia menerima tawaran Sasuke bukan untuk merenungi tindakannya selama kontrak berlangsung, Hinata bahkan sudah mempersiapkan diri bila sewaktu-waktu Karin melakukan hal-hal aneh dan mengamcamnya. Namun sesuatu yang menyulut pikirannya hingga kalut ialah perasaan gadis itu. Hinata tak ingin mengerti, tetapi dari cara Karin melabraknya besar-besaran dapat dipastikan bahwa gadis itu tak mau kehilangan Sasuke.

Ya. Tak mau kehilangan-

"Sasuke, ya?"

Hinata lelah bernostalgia dengan masa lalu. Ia memilih memejamkan mata dan menunggu jarum jam berdenting diangka sembilan, waktu yang ditentukan untuk bertemu Sasuke malam ini.

.

.

.

Naruto mengerling nakal, "Mungkinkah Hinata mengajakmu makan malam?"

"Tidak."

"Tidak salah lagi."

Sasuke menghentikan gerak tangannya, ia menutup dokumen yang telah selesai ditanda-tangani. Pemuda itu meninggalkan kursinya dan beralih menuju sofa dimana sahabatnya berada. Sasuke bersandar santai, "Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padaku."

"Pernyataan cinta?"

"Bodoh." Sasuke mengumpat kesal, "Pakailah otakmu sedikit, Naruto."

"Siapa yang tahu, eh? Bisa saja setelah kontrak ini selesai kau dan Hinata akan-"

"-diam."

Naruto memutar bola mata, "Jadi, apa menurutmu ia hanya ingin bercerita tentang sesuatu? Kenapa Hinata harus menghubungimu dan bertemu diluar? Secara tak langsung apartment yang ia tempati sekarang masih atas namamu, kau berhak mengunjunginya kapanpun, bukan?"

"Urusai. Aku tak mungkin datang tanpa persetujuan Hinata."

Mendengar itu Naruto lantas tertawa geli, "Sejak kapan seorang Uchiha bertindak sesuai aturan, hm?"

"Karena lawanku adalah Hinata." pandangan Sasuke berubah kosong, "Kau pikir apa yang dia lakukan jika aku melanggar kontrak kerjasamanya?"

"Benar-benar, bahkan mengunjunginya juga kalian masukkan dalam kontrak?" Naruto berujar tak percaya.

"Hinata kali ini sungguh sangat memikirkan keuntungan individu, ada beberapa kontrak yang ia buat secara sepihak dan memaksaku menyetujuinya." helaan nafas dari Sasuke menandakan bahwa pemuda itu tak main-main dengan ucapannya, Sasuke menjelaskan sesuai fakta yang ada.

Naruto mengangguk paham, "Aku kira semuanya berjalan sesuai harapan, ternyata tidak, ya?"

"Harapan adalah harapan. Terkadang tercapai, terkadang tidak."

"Kau ahli sekali membuat kalimat sebijak itu." cibir Naruto.

"Hn." Sasuke bangkit berniat meninggalkan ruangan, "Terima kasih padamu, Naruto."

"Hah?" Naruto yang memiliki ketangkasan otak sebesar 20% spontan memiringkan kepala penuh tanya, dirinya turut mengekori Sasuke.

"Saranmu, tentu saja."

Naruto connected.

"Ah, tentang itu?" tawa sungkan memenuhi segala penjuru ruangan, "Kau tak perlu berterima kasih, asalkan kau dan Hinata bisa bersama maka aku akan mendukung kalian."

Sasuke tersenyum tipis - nyaris tak terlihat, "Hn."

Kedua sosok berbeda warna rambut itupun enyah. Masing-masing dihadapkan pada keperluan pribadi, Sasuke kembali ke rumah dan bersiap menemui Hinata sementara Naruto - tentu saja pulang - sebab masalah keluarganya telah terselesaikan berkat Sasuke. Karena itulah seharusnya bukan Sasuke yang berterima kasih padanya, melainkan Naruto yang harus membungkuk mengucapkan terima kasih pada si bungsu Uchiha.

Disisi lain...

Karin terduduk lesu. Seharian ini ia tak beraktivitas seperti biasa.

Sasuke.

Hinata.

Uchiha.

Hinata.

Hyuuga.

Sasuke.

Nama-nama itu mengganggu pikirannya, serasa dihantui oleh teroris tanpa henti. Karin tak peduli soal Hinata, sejujurnya yang paling membuatnya takut adalah Sasuke. Ia menggigil setiap kali berangan-angan dan menjadikan Sasuke objeknya, Karin menggeleng kuat-kuat menyingkirkan bayangan buruknya.

Ia mengusap tangan gelisah, "Apa yang harus aku lakukan? Apa?"

Keringat dingin senantiasa menemani kening gadis itu, "Sasuke tak boleh bersama Hinata."

Ia memulai lagi. Berbicara seorang diri.

"Bagaimana cara menjauhkan mereka berdua?"

"Tidak. Bagaimana caraku menyingkirkan Hinata?"

Kemudian sepasang mata milik gadis keturunan Uzumaki tersebut melebar. Tampak berbinar seakan-akan menjawab kedua pertanyaan pribadinya.

"Baiklah, Hyuuga." senyuman miring terlukis, "Permainanmu akan segera berakhir."

Hanya dia dan Tuhan yang tahu tentang apa yang akan terjadi pada Hinata nanti.

Ya.

Nanti.

.

.

.

"Aku ingin bertemu keluargamu."

Sasuke menaikkan alis kiri tak mengerti.

"Kita tak bisa berlama-lama bekerjasama, kau paham itu."

"Hn."

"Jadi cepat atur semuanya, Uchiha."

Sekali lagi. Sasuke memandang Hinata tak mengerti, "Terjadi sesuatu, hm?"

Hinata membisu.

"Sudah kuduga. Ada apa?"

Hinata menghindari tatapan menyelidik lawannya.

"Jika kau tak terbuka, bagaimana aku bisa memahami situasi ini, Hinata."

"A-aku-" Hinata tengah memikirkan matang-matang niatnya. Apa lebih baik dia menceritakan tindakan Karin beberapa waktu lalu dan mengakhiri kontrak mereka dengan mudah, atau malah menutup rapat semuanya dan memfokuskan diri pada tujuan utama.

"Ceritakan." titah Sasuke tak menerima penolakan.

"-begini. Aku tahu aku sudah menyetujui kotrak yang kita buat, tetapi aku tidak berniat berlama-lama membantumu untuk mengacaukan pertunanganmu, Sasuke."

Membeku, sesaat Sasuke membeku mendengar namanya terucap. Ia merasa bahagia, sangat. Setelah berpisah, Hinata tak pernah memanggilnya seakrab itu. Tak pernah lagi.

"Pertemukan aku dan kedua orang tuamu, lalu akhiri semua ini."

"Tidak."

Hinata terkejut.

"Sudah seminggu, Hinata. Jika memang kau berpikir untuk menyelesaikan semua ini, seharusnya Karin bersikap berbeda padaku, bukan?"

Hinata menunduk dalam. Mungkin ia benar-benar harus berterus-terang.

"Sasuke."

"Hn?"

"A-aku ingin menceritakan sesuatu."

"Hn."

Hinata memberanikan diri beradu mata demi menemukan keyakinan, ia tak boleh menunjukkan keraguan. Hinata memulainya kemudian, "Karin mendatangiku beberapa hari yang lalu."

Sasuke berekspresi datar walau ia cukup terkejut.

"Karin mencintaimu, aku bisa melihatnya ketika ia meluapkan emosinya padaku." sepasang mata itu memanas merespon ucapannya sendiri, "Kau tahu tak mudah bagi seseorang untuk mencintai. Dan aku memahami perasaannya. Aku rasa-"

"Kau hanya tidak tahu, Hinata."

"Eh?" Hinata mengernyit kebingungan, "Tidak tahu? Maksudmu?"

"Karin, huh? Dia bisa menipu semua orang rupanya, termasuk Hyuuga sepertimu."

"Sasuke." Hinata memperingati.

"Kau pikir kenapa aku memilihmu?" Sasuke bersedekap sambil bersandar, "Karin tahu jika kita pernah berhubungan, namun ia tak tahu seperti apa dirimu. Ia mengenalmu sebatas nama, Hinata. Namamu."

Hinata mendengarkan baik-baik.

"Uzumaki, keluarganya mengajukan perjodohan. Dan orang tuaku setuju karena mereka melihatku terlalu banyak meluangkan waktu untuk pekerjaan, mereka memandangku melalui satu sisi. Orang tuaku pikir, aku harus memiliki seseorang yang dapat mengubah kebiasaanku pulang malam demi setumpuk dokumen. Mereka tak memahami aku, dan berakhirlah perjodohan ini."

Hinata tergeming.

"Asal kau tahu, Hinata. Tujuanku bukan hanya untuk membatalkan pertunanganku, aku ingin kau mengerti."

"Lalu apa, Sasuke? Kau ingin menyakiti Karin seperti kau menyakitiku?"

Sasuke tertohok dalam. Ia menelan salivanya, "Ini tentang hubungan kita."

"Aku paham. Jadi kau memutuskan hubungan kita karena orang tuamu menjodohkanmu, 'kan?" Hinata berusaha tersenyum sebagai pelengkap sandiwaranya, "Aku mengenalmu, Sasuke. Aku mengenalmu dengan sangat baik. Sejak awal kau memintaku untuk bekerjasama, aku bisa membaca semua rencanamu."

Sasuke bertahan pada mimik tak percayanya.

"Kau mengerti bahwa aku bukanlah Hinata yang dahulu menyatakan cinta padamu. Aku sudah berubah semenjak kau membuat keputusan itu, dan kau pikir mudah bagiku melakukan semua ini? Tidak. Sudah 2 tahun, usia kita sama-sama menginjak batas dewasa. Kau tidak ingin mempermainkan hidupku lagi, 'kan?"

Perlahan wajah Sasuke menunduk, menerawang jauh sekaligus menyesali sesuatu.

"Sasuke, orang tuamu membuat perjodohan ini karena mereka menyayangimu."

"Dan aku menyayangimu."

Hinata sontak terdiam. Membelalak seketika begitu mendengar tiga buah kata dari mantan kekasihnya.

"Sasuke-"

"-Hinata." lelaki itu memotong, "Perasaanku tak pernah berubah."

Sekejap sosok Sasuke menghilang. Hinata yang sibuk menormalkan degup jantungnya dibuat tak sadar ketika Sasuke memutuskan pergi meninggakannya didalam café. Hinata menutup mata rapat-rapat, menggenggam tangannya kuat-kuat, kalau terus seperti ini pertahanannya bisa-bisa runtuh tak berbekas. Hinata ingat, ada 10 peraturan kontrak yang ia lakukan bersama Sasuke.

Pertama, baik Hinata atau Sasuke tak berhak mengurusi urusan pribadi masing-masing.

Kedua, baik Hinata atau Sasuke memiliki waktunya sendiri - terkecuali bila mereka ingin bertemu untuk membahas hal-hal yang menyangkut kesepakatan bekerjasama.

Ketiga, baik Hinata atau Sasuke harus saling terbuka bila ada sesuatu yang menyangkut kesepakatan bekerjasama.

Keempat, baik Hinata atau Sasuke perlu persetujuan mengunjungi kediaman masing-masing.

Kelima, baik Hinata atau Sasuke hanya diperbolehkan bersandiwara dihadapan Karin serta orang-orang yang terlibat dalam kesepakatan bekerjasama.

Keenam, baik Hinata atau Sasuke harus merahasiakan semua ini dan tak menceritakannya pada orang lain.

Ketujuh, baik Hinata atau Sasuke tak perlu menyangkut-pautkan hubungan perusahaan masing-masing pada kesepakatan bekerjasama.

Kedelapan, baik Hinata atau Sasuke diperbolehkan melakukan kontak fisik saat berada dalam situasi terdesak.

Kesembilan, Hinata diperbolehkan melakukan apapun saat Karin beserta orang-orang suruhannya bersikap merugikan terhadapnya.

Terakhir, kontrak kerjasama selesai bila pertunangan Sasuke gagal.

Hinata tersenyum pahit mengingat poin terakhir. Kontrak hanya akan selesai bila pertunangan Sasuke gagal, tentu pemuda itu tak setuju tadi. Hinata bersandar melepas penatnya, ia memikirkan perkataan Sasuke.

"Jika memang kau berpikir untuk menyelesaikan semua ini, seharusnya Karin bersikap berbeda padaku, bukan?"

Tunggu.

Hinata baru menyadari sesuatu.

Kalimat Sasuke terasa ganjal. Seharusnya Karin bersikap berbeda? artinya, gadis itu menunjukkan perilaku yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Padahal Hinata tahu, amarah yang Karin berikan padanya saat itu pasti menimbulkan keretakan atau mungkin membuat Karin terpukul. Tapi kenapa gadis itu bertahan? Jika benar Karin bersikap seolah tak terjadi sesuatu, apa boleh Hinata berasumsi bahwa ada yang salah dengan gadis itu?

Apa karena cintanya yang terlalu besar untuk Sasuke?

Apa karena Karin terobsesi pada Sasuke?

Atau karena ada niat lain yang Karin pendam diam-diam dibelakang Sasuke?

Hinata tak mengerti. Ia merutuki diri, semakin lama semakin membingungkan. Untuk menyesali bahkan tak terlintas didalam benaknya. Sudah sejauh ini pula, lebih baik ia lanjutkan dan selesaikan, bukan?

.

.

.

Sasuke meletakkan ponselnya. Ia memakai bluetooth-headset ketika sambungan telepon mengeluarkan suara seseorang. Matanya tertuju ke depan memperhatikan jalanan sepi, seiring cepatnya laju mobil Sasuke pun segera mengutarakan niatnya tanpa berbasa-basi, "Kita sudahi saja semua ini."

"..."

"Aku tahu ini tak sesuai rencana."

"..."

"Aku tetap bersama Hinata, tetapi Karin pasti merencanakan sesuatu."

"..."

"Tidak. Sampai waktunya tiba, kau tidak boleh menampakkan diri."

"..."

"Karin masih tinggal dirumahku, seperti dugaanmu."

"..."

"Aku rasa dia berusaha bersikap tenang, Hinata memberitahuku bahwa Karin pernah mendatanginya."

"..."

"Hn, mungkin. Saat aku pulang tadi Karin masih menyambutku seperti biasa."

"..."

"Baiklah. Aku urus Hinata dan kau tetap urus tugasmu."

"..."

"Sampai jumpa, Itachi."

.

.

.

to be continued

.

.

Wah wah, sepertinya chapter kali ini terlihat sedikit melenceng dari cerita, ya? Bagi yang penasaran dalam caraku membawakan cerita diatas, pembaca bisa meninggalkan review (aku pasti membaca semuanya). Aku tahu akan ada banyak pertanyaan seputar alur cerita, maka akan aku jelaskan terlebih dahulu. Masalah-masalah yang aku angkat pada chapter kali ini sudah aku pikirkan matang-matang, jangan khawatir soal plot yang nantinya melenceng atau tak sesuai harapan readers.

Moment SasuHina memang belum muncul secara terang-terangan, sekalipun muncul pasti hanya sebatas mengobrol, benar 'kan? Hal itu juga sudah aku pikirkan, karena sebenarnya untuk mengerti problema yang dialami Hinata dan Sasuke diperlukan beberapa chapter lagi. Berkenaan dengan judul, aku rasa tak ada masalah jika aku memakai title 'Workaholic', sebab latar ceritaku masih seputar urusan pekerjaan - perusahaan - bisnis - dan lain-lain yang menyangkut 'work-aholic' (gila kerja).

Itachi akan muncul di chap berikutnya sebagai pendukung cerita. Aku juga sampaikan mungkin dua atau tiga chapter lagi rating-nya berubah menjadi M. Bagi kalian yang menunggu moment SasuHina - spoiler - bisa dilihat dua minggu lagi. Aku tidak mungkin mengecewakan readers, namun mohon pengertiannya sebab cerita ini bukan semata-mata berfokus pada Sasuke dan Hinata saja. Terkadang konflik dan alur mundur diperlukan dalam cerita untuk menambah kesan penasaran dan tak terburu-buru. Aku rasa itulah hal-hal yang ingin aku sampaikan pada kalian, sampai jumpa di next chap, ya!

Mind to review?