Iris
#NulisRandom2017
Day 8; 08 Juni 2017
Neji mengaduk nasi hingga nyaris menyerupai bubur, karena sudah bercampur dengan kuah. Tidak ada selera untuk menyantap makan malam sekarang. Kepalanya berputar-putar, namun untungnya ia tidak merasakan pusing menyiksa.
Neji diam saja bukan berarti melupakan kejadian tadi siang. Tentang seorang pemuda pirang tiba-tiba datang mengajak adiknya untuk menikah. Neji sangat tahu, bahwa pemuda pirang tadi mencoba menggoda adiknya. Parahnya, mungkin saja pemuda itu mencoba membuat adiknya kembali terpuruk dalam keadaannya yang hanya bisa duduk di atas kursi roda.
Pemuda kurang ajar! Neji bersumpah, jika dia bertemu kembali dengan pemuda pirang itu lagi. Dia akan membuat perhitungan. Tidak hanya pukulan yang akan dia layangkan. Neji akan menuntut apa pun, hingga membuat pemuda itu menyesal atas tindakannya yang sama-sekali tidak lucu.
"Kak Neji," panggilan itu, berhasil membuat Neji tersentak kaget. Pada akhirnya, dia memandang Hinata yang tersenyum dengan mulutnya yang sedang mengunyah makanannya pelan. "Kenapa kau hanya mengaduk-aduk? Jika tidak segera dimakan, nanti tidak enak." Neji melihat ke arah mangkuknya. Dia tertawa kecil, menyingkirkan rasa kesalnya dengan sedikit merasa terkejut, ketika tahu, makanan di dalam mangkuk kecilnya sudah tidak berbentuk. Entah sejak kapan kuah miso itu ia guyurkan ke atas nasinya.
Kemudian, dia memandang adiknya kembali. Sambil tersenyum. Membuang segala rasa kesalnya lagi dan lagi. Mencoba menguasai segala keadaan yang tidak terlalu baik untuknya sendiri.
"Ada yang sedikit mengganggu," katanya. "Tentang anak laki-laki tadi siang. Aku pikir kau mengenalnya. Tetapi saat kau bilang tidak, aku sedikit mengira bisa saja kau mengalami benturan pada kepalamu karena kecelakaan enam bulan yang lalu?!" bibir Hinata mengerut. Dia mencoba mengingat-namun ketika tidak ada ingatan apa pun yang bisa ditangkap. Dia menggeleng dengan sedikit rasa ragu-ragu. "Apa perlu kita pergi ke rumah sakit dan memeriksanya lagi?" Kakaknya selalu seperti itu. Mengkhawatirkannya. Lebih dari siapa pun, bahkan lebih dari kedua orangtuanya sendiri.
"Ah, kak Neji," Hinata mendengus dengan kekesalannya. "Aku yakin memang tidak mengenal dia, atau malah mengalami gegar otak. Aku mampu mengingat semuanya. Bukankah dokter bilang, aku hanya tidak bisa berjalan, bukan mengalami kehilangan ingatan?" Neji mengangguk kesal pada dirinya sendiri. Ketika dia marah dengan pemuda pirang tadi yang mencoba mengingatkan keadaan adiknya. Sekarang dia yang malah membuka semuanya; keadaan adiknya yang jauh dari kata baik. "Jadi aku memang benar-benar tidak mengenalnya. Anggapa saja dia seorang penguntit."
"A-apa? Pe-penguntit, apakah seperti itu?" Neji terkesiap. Kepalanya sepuluh kali lipat lebih mendidih dari air yang panas yang ada di dalam panci dan berada di atas kompor dengan api yang menyala biru.
Hinata mengangguk, kembali membenarkan. "Dia bahkan mengambil fotoku. Aku tidak tahu sejak kapan dia memiliki itu. Sepertinya foto tersebut saat aku ada di taman. Aku hanya melihat beberapa background fotonya. Sekilas, tapi aku sangat yakin." Neji meremas sumpit-nya dengan mengerang kesal. Jika memang pemuda pirang itu adalah penguntit, dia harus benar-benar menghubungi beberapa keamanan untuk menjaga adiknya. Atau yang benar, dia harus mencari pemuda pirang itu lagi. "Kak Neji, jangan khawatirkan apa pun, aku tidak apa-apa."
"Apanya yang tidak apa-apa? Jangan menyuruhku untuk tidak khawatir. Ini benar-benar masalah serius. Kita harus menyewa beberapa bodyguard!" Hinata menganga. Dia tertawa agak lesu. Lantaran dia paling tidak suka dengan hal seperti itu. Perlindungan yang terlalu berlebihan. "Aku akan menghubungi beberapa keamanan, dan pelayan wanita untuk menjagamu."
"Kak Neji," gadis indigo itu menyela. Sedikit menggebrak meja makan di ruangan itu.
"Ini demi keamananmu, siapa tahu pemuda gila itu datang lagi. Bagaimana jika dia terobsesi denganmu lalu menculikmu? Ahh-aku tidak akan biarkan hal seperti itu terjadi padamu. Jepang sudah banyak orang aneh memang." Neji selalu suka duduk di depan televisi. Melihat beberapa acara berita. Yang mungkin saja, beberapa berita itu membuat kepala Neji sedikit membesar-besarkan masalah. Hinata kesal, pada kakaknya yang seperti terkontaminasi dengan hal-hal buruk. Dan hasilnya, membuat masalah ini jadi terlihat begitu besar.
"Aku akan di rumah saja, tidak akan keluar dan pergi ke mana pun. Jadi tidak perlu menyewa terlalu banyak." Karena dia tidak suka terlalu banyak orang memandangnya iba. Lebih baik dia mengorbankan dirinya sendiri untuk berada di dalam rumah dan kamarnya. Merajut. Bermain piano. Bermain dengan anjing entah milik siapa yang selalu masuk lewat gerbang rumah belakang.
Setelah berjuang dengan gigih untuk sampai ke atas ranjangnya. Hinata menarik napas. Meraup semuanya untuk memenuhi paru-parunya. Namun disela-sela ia melakukan hal tersebut. Bayang-bayang wajah pemuda pirang yang memiliki usia sama sepertinya melintas. Senyuman tanpa keraguan dan terlihat tulus itu berhasil membuat Hinata mengeluarkan semburat merah pada kedua tulang pipinya.
Dadanya menjadi berdegap tidak beraturan. Dia menepuk-nepuk pelan dengan kepalan tangannya. Ia harus sadar dari hal bodoh seperti itu. Padahal dia tidak mengenal siapa pemuda itu, kenapa merasa senang sekali saat mendapatkan lamaran, meski hanya dari seorang penguntit saja?
Kemudian, Hinata menepuk-nepuk pipinya sekarang. Sadar, dia harus sadar. "Ya ampun, tidak boleh. Aku tidak mengenal dia. Kalau kak Neji tahu, dia pasti bisa marah aku memikirkan orang asing tadi siang." Ia terus menepuk tanpa henti untuk menyadarkan dirinya sendiri dari kegilaan yang terus ia pikirkan. Sekuat tenaga menyingkirkannya pun, pada akhirnya dia kembali mengingat wajah lelaki itu.
Membuat wajahnya panas. Membuat dadanya kembali mengeluarkan detakan lebih cepat dari jarum jam yang menempel pada dinding ruang kamarnya.
"Apakah seperti ini rasanya; seorang pria menyatakan cinta?" karena alasan kakaknya yang over protektif Hinata tidak pernah menjalin hubungan manis dengan seorang pemuda. Saat berada di SMA, kakaknya dengan telaten menjemput dirinya sepulang sekolah. Dan mengantarnya ke sekolah saat pagi hari. Lalu, menyumbang materi dan segala fasilitas untuk kegiatan sekolah. Hingga hal tersebut membuat kakaknya selalu hadir di acara sekolah.
Walaupun sebenarnya, kakaknya sering bilang bahwa; "Ini untuk menebus dosa ayah dan ibu karena tidak pernah memiliki waktu untuk kita. Jadi, aku akan ada untukmu, aku akan melakukan apa pun mewakili mereka yang sibuk bekerja di luar negeri."-dan Hinata membiarkan semuanya terjadi. Kakaknya selalu berusaha untuk membahagiakan dirinya.
Seharusnya jika sudah seperti itu. Ia tidak seharusnya membuat kakaknya merasa khawatir atau justru menyepelekan kekhawatiran kakaknya.
Kakaknya memang pria yang sempurna, tetapi dari kesempurnaan kakaknya, ada yang membuat kakaknya terlihat tidak begitu sempurna lagi-dia... Hinata yang sekarang menjadi gadis cacat. Jika dia mengingat hal tersebut. Berhasil membuat air matanya kembali terjatuh. Kakaknya, memiliki seorang kekasih. Kakaknya akan menikah. Seharusnya dia tidak boleh memberikan beban pada kakaknya. Seharusnya sekarang dia pergi ke negara yang jauh untuk menempuh pendidikan.
"Jangan menangis...," kakaknya selalu bilang seperti itu padanya, untuk tetap kuat. "Jangan menangis Hinata." Ia menepuk dadanya sendiri yang begitu terasa sakit. Saat ia tengah mengingat bagaimana dirinya selalu membuat orang lain kerepotan.
Merepotkan kakaknya. Merepotkan kedua orangtuanya.
Dan tangisannya malam ini, telah berhasil, membuat Neji berhenti di depan pintu kamarnya.
Pria berambut panjang itu hampir mengetuk pintu tersebut untuk mengantar secangkir teh dan makanan ringan. Namun Neji mengurungkan niatnya di saat ia mendengar isakan kecil lolos, lalu menjadi cukup keras terdengar.
Tidak hanya Hinata merasa sakit. Tetapi juga lelaki itu. Neji, merasakan sakit pula pada dadanya. Dia tahu, bahwa adiknya pasti memiliki waktu untuk menangis di setiap hari-harinya. Gadis itu menyembunyikan semuanya sendiri.
Enam bulan yang lalu. Semuanya tampak baik-baik saja dan adiknya akan pergi ke London untuk menempuh pendidikan dan bertemu dengan calon tunangannya setelah menetap beberapa bulan di London.
Namun, entah kesialan apalagi yang membuat sebuah mobil yang jelas-jelas melaju dengan kecepatan biasa. Tiba-tiba menabrak adiknya yang berdiri di pinggir trotoar untuk menyeberang.
Diketahui, bahwa si pengendara adalah seorang pria tua yang sedang mabuk. Semuanya tidak bisa diselesaikan dengan hukum saja, karena hukum tidak bisa mengembalikan kedua kaki adiknya yang mengalami lumpuh total.
"Maafkan aku Hinata, jika saat itu aku benar-benar datang untuk menjemputmu setelah ujian masuk PT, kau tidak akan seperti ini."
Bersambung
