Doshite


#NulisRandom2017

Day 9; 09 Juni 2017


Saat Naruto SMA, kedai ramen itu adalah langganannya. Itu alasannya, kenapa tempat tersebut ia jadikan sebagai tempat untuk berteduh dan bersembunyi, sambil melihat langit yang tiba-tiba turun hujan sangat deras.

Karena kedai ramen itu selalu buka dua puluh empat jam. Ia tidak merasa khawatir atau berpikir, setelah ini harus pergi ke mana. Mencari tempat persembunyian yang baru di mana.

Sebelum ia kemari, dia sudah menyiapkan beberapa uang dan dia mengambil uang tersebut di kota lain, menaiki beberapa kereta. Setelah selesai mengambil uang, dia mematikan ponsel-nya. Menyimpan kartu hitamnya ke dalam dompet dan menyimpannya rapi di dalam saku mantelnya. Tekadnya sudah bulat, bahwa dia ingin pergi ke mana pun sesuai kakinya melangkah-tetapi pengecualian jika kakinya mengarah ke sungai deras, dia tidak akan menuruti kegilaan itu.

Setidaknya dia harus menggunakan akal sehatnya untuk masalah yang sekarang dia hadapi. Bahkan mungkin, masalah yang sama dihadapi oleh pemuda seusianya di luar sana, tentang memperjuangkan cinta yang terdengar tak pasti.

Di sela-sela sedang memikirkan tentang cintanya sekarang, kepalanya pun memutar segala bayangan wajah kakek dan neneknya yang sedang mengamuk dengan apa yang akan terjadi ketika dia sekarang tidak terbang untuk pergi ke London.

Naruto pun menarik napas dalam-dalam. Mencoba tenang. Menganggap semua baik-baik saja—padahal secara nyata; semua tidak bisa dikatakan baik-baik saja—Tokyo ke London, tiga belas jam perjalanan. Dan dalam waktu perjalanan itu, Naruto menghabiskan waktunya untuk terus menebak masalah dan konsekuensi yang akan dia dapatkan.

Yamato—lelaki yang tadi bersama dengannya. Bagaimana kabarnya? Terbang sendiri atau sekarang menyewa seseorang untuk mencarinya? Atau parahnya, pria penakut itu sudah dilempar dari atas langit oleh beberapa penjaga yang dikirim dari London untuk menjemputnya.

Perasaan menyesal dan kasihan tiba-tiba menusuk dadanya. Namun Naruto tidak memiliki pilihan lain, tidak masalah untuk menjadi pemberontak. Naruto tidak pernah melakukan hal bodoh seperti itu. Membuat kakek dan neneknya khawatir. Dia sekarang sedang membayangkan, apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika dia berhasil ditemukan.

Ia menggeleng-gelengkan kepala. Mencoba sadar.

"Naruto-kun," saat masih membayangkan wajah neneknya yang mengamuk, Naruto tersentak oleh suara wanita yang lumayan melengking. Ia pun buru-buru melihat ke samping. Lalu melihat ke belakang. Mendapati Ayame; anak dari si pemilik kedai ramen, berada di depannya kini dengan kedua tangan berada di depan perut. Sambil kedua tangan itu saling bertautan. Jari-jarinya saling meremas untuk melempar rasa dingin malam ini-mungkin seperti itu. Hujan mengguyur kota Tokyo seakan-akan langit sedang menangis.

"Masuklah, apakah kau mau segelas teh? Jangan duduk di depan, nanti kau bisa masuk angin." Sebenarnya dia tidak mau menyanggupi, tetapi benar-benar sekarang ia merasa dingin. Terpaksa dia mengangguk untuk menyetujui. Dia kemudian berdiri. Bangkit dari duduknya dari atas kursi kayu kecil di depan kedai, ia kini melirik sepatu pantofel-nya sudah basah oleh cipratan hujan yang turun, lalu mendarat di pada genangan jalanan depan kedai itu.

"Ayeme-san, maaf jika aku merepotkan." Kata Naruto lirih.

"Hee, kenapa perlu merepotkan? Seperti kau itu orang lain saja bagi kami. Kau sudah pernah menginap di kedai gara-gara malas pulang ke rumah, kau membayarnya dengan membantu kami di kedai ini. Apakah kau ingin semangkuk ramen lagi dan gyoza?" Naruto menggeleng sebagai tanda dia menolak. Tingkahnya seperti anak kecil, karena dia memang bingung harus berekspresi seperti apa. Namun di lain waktu, dia bisa menjadi orang yang paling tegas jika keadaan memaksanya untuk menunjukkan ketegasannya-seperti lelaki itu berada di dalam pekerjaannya.

"Aku sudah kenyang, ramen yang Ayame-san buat tadi mi-nya terlalu banyak, perutku masih merasakan begah." Ia tertawa, dan Ayame melakukan hal yang sama. Tertawa lembut dengan mengangguk paham.

Walaupun sebenarnya udara dingin cocok untuk makan semangkuk ramen, dia tidak memiliki selera menyantap makanan apa pun. "Aku akan buatkan teh saja untukmu."

"Terima kasih."

Ayame menggeleng kecil, dan bibirnya menyunggingkan senyuman. Sembari kakinya melangkah untuk menuju dapur kedai. "Anggap saja ini jamuan untukmu yang sudah setahun tidak mampir ke sini. Apakah kau senang berada di London? Apa kau menikmati hidup di sana?" dan Ayame sama-sekali tidak tahu, sekaya apa dia sampai tinggal di London dan sekarang akan menetap di sana.

"Um," Naruto pura-pura mengingat-ingat apa yang sudah dia dapatkan di London. Mencoba pula untuk menyusun segala kebohongan. Demi hidupnya yang baru. Kabur dari keluarga Uzumaki yang sekarang mungkin sedang marah dan menghancurkan apa pun. Karena neneknya bisa melakukan hal itu, meskipun barang yang dia hancurkan guci dari Cina yang wanita itu dapatkan dari lelang dengan merogoh kocek jutaan dollar.

Kemarahan neneknya, mungkin di-ibaratkan seperti petir yang menyambar dengan bunyinya yang keras membuat seisi penduduk dan pejalan kaki di luar kedai tampak ketakutan. Dan—mengingat kemarahan neneknya, berhasil membuat bulu kuduk Naruto berdiri. Ia meringis takut. Merinding lebih tepatnya.

"Bagaimana ya, aku tidak bisa mengatakan bahwa di sana menyenangkan. Aku hanya mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Aku hanya beruntung berada di sana."

Memang mau memakai kebohongan apa lagi selain hal tersebut?-tidak ada, tidak ada kebohongan yang cocok selain menyamar sebagai seorang mahasiswa dengan beasiswa.

"Wah, memang itu yang paling beruntung. Andai aku juga bisa mendapatkan hal seperti itu. Aku akan membuka kedai ramen di luar negeri." Ayame tertawa. Begitu pula Naruto yang menanggapinya dengan tertawa pula, namun sedikit ditahan. Ia merasa itu tidak lucu. Dan dia menyesali ketika berhasil berbohong pada Ayame yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri. Bagaimana jika nanti dia harus berbohong pada paman Teuchi juga?-Naruto menyesal. Dari satu orang, ke orang lainnya lagi. Semakin banyak dia membuat kebohongan. Dan ketika dia tidak pernah melakukan hal tersebut. Ada perasaan kesal untuk dirinya sendiri.

"Ayame-san, apakah di sekitar sini ada apato? Aku mencari tempat tinggal."

Wanita bercelemek putih itu berhenti menuangkan air panas ke dalam teko teh yang terbuat dari tanah liat. Dia berhenti sebentar untuk melihat Naruto yang cukup serius dengan pertanyaan itu. "Kenapa kau perlu tinggal di apato? Bukankah kau memiliki rumah di sini? Seingat ku kau orang Tokyo, kan?" pemuda pirang itu mengangguk. Membenarkan.

"Lalu?"

"Ada satu masalah yang membuatku ingin tinggal sendiri. Tidak masalah jika berada di tempat kumuh sekalipun."

Ayame tersenyum. Dia seperti menyanggupi untuk menunjukkan tempat tinggal. Dan anehnya, Ayame tidak penasaran padanya; kenapa dia perlu menyewa apato dan harus tinggal sendiri. "Ada, jalan menuju apato yang aku pikirkan sekarang memang melewati jalan kecil untuk sampai ke sana. Hanya bisa dilewati oleh sepeda. Kau punya sepeda kan?" Naruto mengangguk lagi. Membenarkan.

"Memang, aku memiliki sepeda, tapi sudah tidak layak pakai." Dan ini sudah masuk dalam kebohongannya lagi. "Aku juga membutuhkan pekerjaan."

"Kerja?" Ayame mengeraskan suaranya. Hingga orang di depan meja dapur-yang sedang menikmati ramen terperanjat kaget, lalu menjatuhkan sumpit-nya. "Maaf, membuat Anda terkejut." Seru Ayame sedikit membungkuk untuk meminta maaf. Kemudian, Ayame kembali melihat Naruto. "Kau kenapa? Apakah terjadi sesuatu padamu?" hanya sampai tingkat ini Ayame penasaran kepadanya. Barangkali, memang Ayame bukan wanita yang suka mencari-cari bahan untuk bergosip. Dan Ayame tidak memiliki waktu untuk seperti itu.

Naruto menimang-nimang untuk menjawab. Dia mengawalinya dengan mengangguk lagi, sebelum berkata, "aku memiliki masalah dengan keluargaku. Aku ingin mandiri. Hanya itu."

"Wah, aku tidak menyangka kau bisa mempunyai masalah dengan keluargamu ya," kata Ayame sedikit terkejut namun yang Naruto tangkap, wanita itu tidak benar-benar terkejut. Dia sedikit santai untuk menanggapi semunya. Seolah-olah Ayame tahu segalanya. "Ini tehnya, minum selagi hangat."

"Terima kasih, aku benar-benar membuat repot Ayame-san."

"Ah tidak, jangan katakan seperti itu. Ayah selalu menganggapmu sebagai anak laki-lakinya, maklum, dia tidak memiliki seorang anak laki-laki." Ujar Ayame sedikit dengan penjelasan penuh nada menggoda, dan hal tersebut membuat Naruto tertawa ringan.

Ia pun melirik cangkir teh kosong di depannya. Selanjutnya dia menarik cangkir itu, lalu menuangkan cairan teh panas dengan asap mengepul itu ke dalam cangkir teh itu.

Harum teh itu berhasil membuatnya merasa hangat. Meskipun kedai ini sudah dilengkapi oleh pemanas. Tetapi malam ini benar-benar dingin, dan rasanya, uap panas dari pemanas tersebut telah berhasil ditelan oleh rasa dingin itu. Secangkir teh tidak buruk. Apalagi ditemani wanita secantik Ayame. Wanita itu memiliki wajah sendu memingatkannya pada ibunya yang selalu membuatkan teh jika tubuhnya merasa kedinginan. Menyunggingkan senyuman hangat. Sehangat cairan teh melewati rongga tenggorokannya, ketika berhasil satu tegukan dia rasakan.


Bersambung