Ame no Kaori


#NulisRandom2017

Day 10; 10 Juni 2017


Naruto menekan bel berkali-kali. Tidak ada jawaban dari si pemilik rumah, padahal dia sudah berada di depan gerbang rumah besar itu sekitar lima menit.

Apa ini semacam iseng yang sering anak muda lakukan?

Biasanya ada seseorang yang sangat suka melakukan hal iseng seperti ini. Memesan ramen, namun ternyata mereka memberikan alamat palsu. Berarti sekarang, ia harus lapang dada karena ini akan menjadi hal paling berengsek yang dia dapatkan di sepanjang hidupnya. Marah-marah pun juga percuma. Siapa yang akan menerima kemarahannya.

Tetapi, saat ia berniat untuk beranjak pergi dari sana, mendadak sebuah pintu gerbang di depannya sedikit berderit, meskipun kecil tetapi berhasil didengar oleh pendengarannya.

Dia masih menenteng kotak besi berisi ramen dan asinan. Menunggu gerbang yang sudah bergerak untuk semakin terbuka lebar.

"Maaf, saya kemari untuk mengantar pesanan ramen," Naruto mengambil langkah sedikit maju dengan bersuara sedikit berteriak semangat. Dia melempar rasa kesalnya jauh-jauh. Dia tidak boleh menunjukkan wajah masamnya ke pelanggan.

"Apakah Anda memesan ramen Ichiraku kami?" dan ketika gerbang itu pada akhirnya terbuka lebar, dia memberanikan diri untuk masuk dengan melangkah pelan sambil berusaha menjaga keseimbangannya agar mangkuk ramen yang ada di dalam kotak besi itu tidak semakin bergerak ke sana kemari dan berakhir tumpah isinya.

Ia tidak mau topping-nya tidak tertata rapi di atas ramen tersebut.

Mendadak, pada waktu yang sama pula, pintu besar rumah itu sedikit terbuka. Membuat Naruto berhenti untuk melangkah. Dia berdiri tepat di depan anak tangga pintu rumah besar tersebut. "Maaf, aku yang memesan ramen," suara mesin dan roda menyeruak pelan.

Pintu semakin terbuka, dan sosok gadis cantik duduk di atas kursi roda otomatis menyunggingkan senyum ke arahnya. Sebelumnya, gadis itu berusaha untuk membuka pintu rumahnya. Setelah benar-benar berhasil, gadis itu tersenyum senang, namun ia berhenti untuk tersenyum, ketika dia bisa melihat dan mengingat siapa sosok pemuda di depannya.

Bukankah nereka pernah bertemu. Bukan sebagai si pengantar ramen dan si penerima ramen. "Kau...," gadis itu takut untuk salah mengenal. Lantaran pemuda di depannya, tidak lagi memakai setelan formal dengan mantel hitam yang mewah seperti seminggu yang lalu—atau memang mereka dua orang yang berbeda?

Pemuda itu saat ini hanya memakai kemeja kotak-kotak dengan dilapisi jaket sedikit usang. Mungkin membeli di pasar loak atau baju yang dijual di emperan depan toko. Tetapi rambutnya, masih terlihat pirang menyala.

"Aku senang kita bertemu lagi," Naruto bersuara setelah dia sadar dari keterkejutannya. Lalu ia meletakkan kotak besi tempat di sebelahnya. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya ramah, pada Hinata. Seorang gadis yang memesan ramen untuk makan siang, katanya seperti itu saat menghubungi ramen Ichiraku.

"Kau bekerja di Ichiraku?"

"Ya, aku kerja sambilan di sana, sudah ada sekitar 5 hari. Kau suka memesan ramen kami?" Hinata mengangguk, dia tersenyum mencoba tenang, meskipun sekarang suara Neji sedang memperingatkan dirinya untuk terus sadar dan menjauh dari sosok di depannya. Suara itu terus menggema, namun Hinata justru menyingkirkan suara Neji, lebih cocok jika dikatakan belajar untuk mengabaikannya.

Hinata selalu mengambil kesimpulan sendiri. Efek karena terlalu senang saat mendapatkan lamaran, atau justru dia ingin ramah pada siapa pun. Jujur, dia tidak ingin dilihat sebagai gadis jahat. Bayang-bayang perawan tua itu terus terbayang. Kalau terlalu kejam, tidak ada lelaki mana pun yang akan menyukainya dan mengajaknya menikah.

Namun sebenarnya, ia memiliki pemikiran dan pemahaman lain, bahwa lelaki di depannya itu tidak jahat. Hinata tidak merasakan apa pun yang mencurigakan atau lelaki itu ingin berbuat buruk kepadanya. Terobsesi. Menculiknya.

"Oh ya, aku perlu meletakkannya di mana? Aku akan memberikan bonus asinan untukmu."

"Terima kasih, aku sangat suka asinan dari Ichiraku," Hinata masih tertawa dengan melempar-lempar suara Neji, dan menggantinya dengan alasan dirinya sendiri untuk terus memikirkan Naruto. Si lelaki pirang pengantar ramen.

Kemudian, dia menekan kemudi kursi rodanya, membuat kursi roda tersebut berjalan mundur. "Masuklah, bisa minta tolong letakkan di dalam kan? Biasanya Ayame-san yang melakukannya."

"Oke, tidak masalah."

Naruto kembali mengangkat kotak besi ramen-nya. Dia menaiki anak tangga—hanya ada empat anak tangga—lalu masuk ke dalam, mengikuti Hinata pergi. Matanya memandang ke segala arah. Mendadak ia berhenti, karena tidak sengaja menemukan kamera CCTV yang menempel di atas plafon rumah itu.

"Sepertinya rumahmu dijaga ketat ya," celetuk Naruto tiba-tiba. Membuat tangan Hinata tak lagi mendorong kemudi. Pada saat yang sama, kursi roda itu berputar. Kini Hinata kembali menghadap Naruto yang masih diam, tapi bibirnya terus tersenyum dengan pandangannya yang ramah.

"Itu... karena kakakku sangat khawatir padaku. Tapi, kamera itu ada di sana gara-gara kau yang membuatnya berada di sana." seru Hinata tanpa basa-basi. Bibirnya mengerut sebal, lalu gadis itu mengernyitkan hidung sebagai bentuk rasa kesal. Pada lelaki di depannya itu. "Apa yang membuatmu berkata seperti itu di taman? Kau... dari mana mendapatkan fotoku?"

Naruto menggaruk kepala belakangnya agak ragu untuk menjawab. Tercetak jelas di wajahnya. Hinata mendadak sedikit curiga, namun curiga itu tidak terlalu banyak. "Aku bisa menjelaskan semuanya. Tapi tidak sekarang. Yang pasti, aku bukan orang jahat."

"Bagaimana bisa aku percaya?" mendadak, dia mati kutu. Ia tidak tahu harus menjelaskan apalagi. Tidak mungkin langsung mengatakan juga tentang kondisinya yang sekarang; demi gadis di depan itu, Naruto sampai rela kabur dari rumah. "Eh, be-besok aku akan kemari lagi, mengantar ramen. Mulai sekarang kita bisa mengobrol banyak."

"Mungkin kakakku akan marah padaku."

"Kenapa?"

Hinata berpikir sejenak. Lalu menggeleng, mengurungkan niatnya untuk bersuara kembali, menjelaskan segala alasan kakaknya marah, dan kenapa mereka mencurigai si pengantar ramen seperti Naruto.

Hinata pun kini memutar kursi rodanya. Berjalan kembali untuk sampai ke ruang makan, dan seseorang menyambut mereka. Pelayan wanita dengan setelan hitam, berwajah agak tidak ramah. Tetapi Naruto, sudah biasa memandang wajah seolah siap marah itu. Wanita pelayan di depannya sekarang, mengingatkannya pada Kakashi Hatake, pelayan rumah tangga keluarganya yang ada di London.

"Kau makan siang sendirian?" Naruto buru-buru meletakkan mangkuk ramen dan asinan ke atas meja makan kecil bermuatan dua orang. Ruang makan yang memiliki banyak meja. Tentu setiap meja memiliki fungsi sendiri-sendiri. "Pasti tidak nyaman ya?"

"Tidak juga, aku sudah biasa."

"Benarkah? Aku juga sudah biasa makan sendirian, tapi kadang ada perasaan tidak enak kurasakan setiap kali duduk di meja makan sendiri." Hinata kemudian termenung. Penjelasan itu ada benarnya. Tampak baik-baik saja, namun sebenarnya tidak sama-sekali.

Jika ia sekali saja diizinkan untuk jujur, maka dia ingin mengatakan bahwa Hinata juga memiliki perasaan kesal. Namun ia tidak pandai untuk mengungkapkan rasa kesalnya, apalagi keinginannya untuk berkumpul bersama keluarga.

Setahun, belum tentu kedua orangtuanya akan berada di satu meja bersama dengannya. Pikirnya memang hanya berdua dengan kakaknya itu tidak masalah.

Tetapi ketika Neji memiliki tugas penting seperti pekerjaan, hal tersebut juga membuat Hinata terkadang bisa saja mendengus lelah. Makan sendiri, tidak buruk. Padahal itu benar-benar buruk.

"Kapan-kapan kita bisa makan bersama. Kalau kau mau," dan Naruto mendapatkan suara deham dari arah samping. Ia nyaris menjatuhkan penutup kotak besi yang tadi ia bawa. Setelah puas melihat wanita yang berada di sampingnya dengan sedikit takut-takut. Naruto kemudian memandang Hinata kembali dengan tersenyum sedikit canggung. "Maaf, aku hanya bercanda."


Bersambung