Broke Up Today

(This song is dedicated to Naruto)

Berapa lama aku harus menangis? Apakah hingga kau mencintaiku dengan semestinya? Suara jantung dan suaramu di telingaku. Semakin dihapus, suara itu semakin lebih jelas dan nyata. Sampai kapan? Sejak kapan? Dapatkah kau menjauh. Tetapi jelas sampai kapan pun aku mencintaimu.


#NulisRandom2017

Day 11; 11 Juni 2017


Keesokan harinya, Naruto kembali datang membawa kotak besi dan ia baru saja turun dari sekuter-nya. Hal tersebut berhasil membuat Hinata diam terpaku pada sosok Naruto yang tersenyum ramah dan manis kepadanya siang ini.

"Aku tidak memesan ramen," kata Hinata yang masih diam duduk di atas kursi rodanya.

Naruto berada di depan rumahnya. Menenteng kotak besi tersebut.

Hinata, tidak memiliki alasan untuk mempersilahkan lelaki itu masuk ke dalam. Dia benar-benar tidak memesan ramen. Dan ini bukan waktunya untuk makan siang, walaupun satu jam lagi akan memasuki waktu makan siang. "Naruto-san?!"

"Kita bisa makan siang bersama," lelaki itu membalas, dan dia mengangkat sedikit kotak besi berisi ramen tersebut. "Makan siang bersamaku dengan ramen tidak apa-apa, kan?" Hinata tidak memiliki pilihan lain selain dia masih terpaku pada sosok lelaki pirang itu. Jika Neji ada di sini, kemungkinan besar kakaknya akan berpikir Naruto sedang mencari perhatian—dan sebenarnya itu memang benar. Naruto sedang melakukan pendekatan. Tetapi bedanya, lelaki itu tidak memiliki rencana untuk melakukan kejahatan.

"Tapi aku tidak ingin makan ramen," kata-kata itu berhasil membuat Naruto terluka. Mungkin Hinata ingin makan di restoran mahal, pikirnya secara cepat.

Hinata memandang wajah Naruto yang jelas sedikit ditekuk, namun pada waktu yang sama lelaki itu justru tersenyum dengan cara terpaksa. Sebenarnya, Hinata merasakan hal yang sama. Dia juga sedikit merasa sedih sekarang.

Namun, hal tersebut harus dia lempar jauh-jauh, dan dia tidak memiliki alasan yang terdengar masuk akal, untuk lebih dekat dengan Naruto.

Hinata juga tidak percaya dengan mulut Mei. Seolah-olah sekarang Mei seperti mampu memahami apa yang dia inginkan. Tetapi Hinata yakin, tidak menutup kemungkinan, bahwa Mei bisa berkata yang sesungguhnya pada kakaknya.

"Terdengar seperti ditolak," Naruto meringis dengan perasaan kecewa. "Maaf, jika aku membuatmu marah."

"Tidak kok," Hinata berseru secepat mungkin. Sebenarnya, dia yang takut membuat Naruto marah padanya. "Aku rasa bisa menemanimu makan siang, tapi aku tidak bisa makan siang dengan ramen." Sekali saja, ia rasa tidak apa-apa. Sekali untuk bisa dekat dengan pemuda pirang itu.

Kemudian, Hinata mempersilahkan Mei—si pelayan yang menjaganya—untuk pergi. "Apa kau bisa membantuku untuk turun dari tangga?" dia bertanya pada Naruto yang masih berdiri di depannya.

Pemuda pirang itu memberikan respons dengan mengangguk kecil. Dia juga meletakkan kotak besinya, lalu berlari menaiki anak tangga.

Setelah kedua tangannya sudah berada di setiap sisi kursi roda. Naruto menarik kursi roda tersebut untuk menuruni anak tangga dengan sangat pelan. Dia tidak mungkin membiarkan Hinata terjatuh dengan tarikan yang keras. Hal seperti itu tidak butuh waktu lama untuk dilakukan.

Ketika sudah berada di bawah. Naruto kembali berlari ke arah kotak besinya.

"Kau yakin tidak ingin makan ramen?" Hinata menggeleng dengan tersenyum tulus. Meski awalnya ia merasa canggung dan takut untuk bersama lelaki di depannya itu.

Naruto menyanggupi dengan menganggukkan kepalanya. Dia membiarkan Hinata berhenti di tempatnya, namun Naruto sendiri buru-buru berjalan dengan kembali mengangkat kotak besinya. Ia membawanya menuju sebuah meja besi berwarna hitam dengan kursi besi selaras warna meja tersebut.

"Apa lebih baik aku pulang saja?" pertanyaan itu ada sedikit rasa putus asa.

Tidak mungkin—Hinata bahkan langsung berteriak di dalam hatinya seperti itu. Ada ketidakrelaan yang sangat besar sekarang, saat Naruto akan pergi menjauh. "Kenapa Naruto-san?"

Naruto berbalik, dia mengurungkan diri untuk mengeluarkan mangkuk ramen-nya. "Aku merasa berada di sini hanya untuk menumpang makan siang saja."

"Aku akan makan asinan-nya," Hinata menyela.

"Benarkah?"

"Ya, karena Ayame pintar sekali membuat asinan, aku suka." Naruto melirik ke samping meja besi itu. Dua piring kecil terdapat asinan berwarna merah, dan ada yang berwarna kuning agak bening. Setelah puas melirik dua asinan itu, Naruto kembali memandang Hinata yang diam dengan hanya tersenyum tipis. "Baiklah." Balasnya, yang kemudian sibuk kembali untuk mengeluarkan mangkuk-nya.

Hinata pun mendorong kemudi kursi rodanya untuk lebih dekat ke samping Naruto. Kemudian, dia meraih piring kecil asinan. Dia tidak bohong dalam masalah ini. Asinan milik Ichiraku adalah yang terbaik. Namun mereka tidak pernah menjual asinan tersebut di luar dari pelanggan yang tidak memesan ramen. Karena makanan itu sudah satu paket dengan ramen Ichiraku sendiri.

Hinata terus tersenyum tanpa henti dan tanpa sadar mengeluarkan rona merah di pipinya. Memandang Naruto yang membela sumpit, lalu siap untuk menikmati ramen porsi besar.

Ia terus memandang Naruto menikmati ramen, sampai kening pemuda itu berkeringat. Hinata pun merespons dengan langsung mengambil sapu tangan yang berada di pangkuannya, dengan segera pun mengusap kening berkeringat itu. Naruto mundur. Dia terkejut ketika diperlakukan seperti itu secara tiba-tiba.

"Maaf," kata Hinata dengan tersenyum agak sedikit geli. "Naruto-san menikmati sekali, sampai kau tidak merasakan jika keringatmu menetes tanpa henti."

Lelaki pirang itu tertawa cukup keras, mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Ramen Ichiraku memang yang paling enak. Aku suka sekali lupa segalanya. Jika sudah menyantap makanan ini." Hinata kembali tertawa dan dia tidak menahan tawanya yang keras—begitu saja pecah tanpa ditutup-tutupi.

"Ya ampun, kau lucu sekali." Naruto senang, jika dia bisa membuat gadis itu tertawa hingga seperti ini.

"Apa kakakmu akan marah padamu jika aku kemari dan seenaknya mengajakmu untuk makan ramen?" secara mendadak Hinata berhenti tertawa. Dia memandang serius wajah pemuda pirang itu dengan diam yang dipaksakan, karena sebenarnya, Hinata ingin buru-buru membalas.

"Aku pikir jika aku mengambil rekaman CCTV kakak tidak akan tahu kau kemari. Aku juga akan meminta tolong Mei untuk merahasiakan ini."—tapi aku tidak janji semuanya akan semulus dengan apa yang aku pikirkan sekarang. Hinata sedikit tampak ragu dalam mengambil keputusan itu. Sudah sejak tadi dia memikirkan tindakan tersebut untuk diambil.

"Wajar jika kakakmu marah. Aku begitu saja lancang memberi ajakan untuk menikah," semburat merah langsung keluar pada bagian tulang pipi Hinata. "Aku benar-benar salah pada saat itu. Maafkan aku, tapi sekarang aku akan menceritakan semuanya."—aku akan menyatakan cintaku padamu.

"Aku tidak pandai untuk mengatakan ini, tapi aku harus mengatakannya padamu," sempat setelah berkata seperti itu, ia mengalihkan pandangan. Namun hal seperti itu tidak lama dia lakukan. Karena Naruto tidak ingin dicap sebagai lelaki omong kosong di sini. "Mau tidak pacaran denganku?" Hinata membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Sementara Naruto merespons dengan sedikit menggaruk kepala belakangnya.

"Bagaimana?" sebenarnya, orang yang paling gugup di sini adalah Naruto. Ia meredakan rasa gugupnya dengan menggoyangkan kakinya dan sedikit menekan tanah dengan jempol kaki yang terselimuti oleh sepatu.

"Sebenarnya," Naruto memandang Hinata dengan saksama. "Aku bingung harus menjawab apa. Tapi aku sudah punya tunangan, aku tidak bisa berpacaran denganmu, aku bahkan tidak bisa menikah denganmu." Jawaban itu tidak hanya membuat Naruto lemas.

Butuh beberapa detik waktu untuk dia menarik napas. Mi yang baru saja dia telan, seperti ingin keluar kembali—ia ingin memuntahkan-nya.

Perutnya serasa diaduk-aduk paksa. Kepalanya mendadak pening.

Baginya sekarang, apa yang dia dapatkan, bukan sebagai bentuk penolakan. Namun ini bisa dikatakan, Hinata mencoba menyadarkan dirinya, tentang sebuah kenyataan yang sesungguhnya; mereka tidak bisa bersama. Karena mereka tidak terlahir untuk bersama.


Naruto duduk dengan kasar di antara kursi pelanggan di kedai ramen Ichiraku, setelah dia meletakkan kotak besi ramen-nya di atas meja. Dan suaranya yang keras membuat orang-orang melirik dirinya.

Kemudian dia menuangkan air putih ke dalam gelas. Meneguknya dengan rakus, seolah-olah persediaan air setelah ini akan habis. Air tawar tidak lagi ada. Sumbernya telah lenyap. Persediaan airnya hanya ada di gelas tersebut, dan dirinya akan mati karena kehausan.

"Naruto-kun, kau tidak apa-apa?" setelah dia meletakkan gelas dengan sedikit membanting di atas. Cukup kasar. Membuat Ayame sedikit melebarkan kedua matanya.

Naruto menengadah, memandang Ayame yang memandang dirinya agak bertanya-tanya. "Apa yang terjadi? Kau merasakan sakit?" Naruto mengangguk seperti anak kecil. Satu tangannya mengepal, lalu dia memukul dadanya sendiri cukup keras. "Kau mengalami sesak napas?"

"Tidak, tapi rasanya di sini sakit." Ia tersenyum dengan terpaksa. Lalu menjatuhkan keningnya di atas meja, hingga suara benturan lagi-lagi membuat Ayame sedikit kaget—dan beberapa orang di sampingnya juga.

"Tadi, ada seseorang yang sedang mencarimu," Naruto mengangkat kembali kepalanya dengan segera dan sekuat tenaga. Perasaan sakit yang semula dia rasakan kini tergantikan dengan perasan penuh khawatir. Seseorang—bisa saja itu orang-orang yang nenek dan kakeknya kirimkan.

Ia menelan ludahnya susah payah. Perutnya semakin diaduk-aduk. Membuatnya benar-benar ingin memuntahkan segala isi perutnya. Kemarahan seperti apa yang sebentar lagi akan dia dapatkan, pikirnya kacau.

"Kau tidak apa-apa? Kau terlihat pucat."

"Ciri-ciri mereka seperti apa?"

Ayame mencoba mengingat. "Mereka seperti orang-orang penting. Tiga mobil sedan hitam berjejer berhenti di depan kedai. Aku tidak akan percaya jika mereka dari Yakuza, karena tentu dandanan mereka berbeda dengan Yakuza. Mereka terlalu rapi untuk dituduh sebagai kelompok keras itu. Kenapa mereka mencarimu?"

"Entah—" dia menjawab dengan memejamkan matanya cukup rapat. "Aku tidak yakin bisa kabur sekarang." Ujar Naruto dengan suaranya yang lemah. Pandangannya sangat buram. Seperti kedua mata itu penuh dengan air yang bergoyang-goyang karena ombak. Mual memang sudah menghilang secara tiba-tiba. Tetapi kepalanya serasa makin ditekan.

Naruto bahkan merasakan keningnya semakin dingin dan basah oleh keringat. Badannya terasa begitu ringan.

Ayame pun terkejut, saat tubuh besar dan kekar itu terjatuh di depannya.

Satu yang Naruto dengar selain suara Ayame yang berteriak histeris. Seseorang memanggilnya dengan penuh khawatir.

"Master!"


Naruto meyakini ini bukanlah mimpi. Dia dengan jelas mendengar suara mesin mobil. Sirine ambulans, dan beberapa suara mobil di jalanan dengan klaksonnya yang keras.

Alat patient monitor kecil itu berada di sampingnya. Ia meyakini garis naik turun yang terpampang di layar alat tersebut adalah garis naik turun kondisi tubuhnya sekarang. Memang, dia merasakan mual yang tidak bisa ditahan. Sekujur tubuh merasakan panas, namun ada bagian tertentu seperti kaki, telapak tangan, dan bagian keningnya merasakan dingin.

Apa ini karena kebanyakan makan mi?—tidak juga. Dulu, saat menjadi anak SMA, dia sering berada di kedai ramen untuk setiap malam waktunya, sambil belajar dengan tekun. Jika dia kebanyakan mengkonsumsi mi, sudah dari dulu pasti dia seperti ini. Ada yang bilang, orang yang sedang mengalami patah hati tidak hanya pada bagian dadanya. Mungkinkah, sekarang dia merasakan efeknya sakit hati?

Naruto membuka mata sedikit.

"Master, apakah Anda sudah merasa baikan?" suara Yamato bertabrakan dengan sirine ambulans tersebut.

Tubuh pria itu bergerak-gerak karena mobil tersebut melaju memecah jalanan dengan kecepatan yang tidak main-main. "Apa Anda merasakan sesuatu? Apa yang Anda rasakan selain merasakan mual?" dia tidak bisa menjawab. Naruto terlalu lelah. Dia ingin tidur sebentar saja untuk meringankan sakit kepalanya yang begitu terasa sakit. Namun, di dalam hati, dia terus memanggil nama ibu dan ayahnya.

Dan dengan sangat cepat, semuanya nampak berubah.

Tiba-tiba angin menyapu tubuhnya. Kakinya serasa mati rasa. Tetapi saat membuka mata. Naruto melihat alang-alang berada di sekitarnya. Angin musim semi terasa hangat, terkadang berubah menjadi sangat dingin. Dia diam. Melihat kakinya sendiri seperti tertelan tanah, karena tidak mampu melangkah.

"Di mana?" Naruto melihat sekelilingnya. Dia seperti berada di Switzerland. Yang dia ingat, pernah sekali kemari untuk berlibur. Selebihnya, ia tidak ingat lagi apakah pernah berada di negara indah ini untuk beberapa waktu lamanya.

Padang rumput pun ditumbuhi oleh bunga dengan berbeda warna. Sepanjang mata memandang, ia tidak menemukan siapa pun selain dirinya berpijak di atas tanah tanpa alas.

Saat memandang ke depan, ia hanya menemukan gunung dengan warna abu-abu seperti bebatuan, ditambah gunung itu dilapisi oleh Es dengan warna putih indah.

Dulu, Naruto sangat bahagia melihat keindahan Switzerland, namun indahnya tidak seperti yang dia rasakan sekarang. Hingga ia ingin berkata sangat rindu dengan Switzerland yang sekarang.

Dia menemukan alang-alang dengan bunganya berwarna kuning dan merah. Sebuah kereta uap kuno melintas. Suara kereta yang khas membuat Naruto tersenyum senang. "Aku pernah menaiki kereta itu. Bersama ayah dan ibu...," dia sedikit merintih tidak terima. Saat ia berlibur ke negara ini sendirian. Ia tidak memiliki kesempatan untuk menaiki kereta uap tersebut, namun dia tidak merasa kesal.

Akan menjadi hal yang aneh tiba-tiba dia merindukan ibu dan ayahnya sekarang, karena kereta uap itu.

Kira-kira sudah berapa lama dia tidak lagi merintih sedih merindukan kedua orangtuanya?

Sudah sangat lama, dan Naruto tidak mengingat kapan terakhir kalinya dia menangis karena rindu ayah dan ibunya. Kenangan itu sirna dengan cepat. Tidak meninggalkan bekas sedikit pun di dalam kepalanya.

Dia tidak yakin pernah kemari bersama kedua orangtuannya dengan waktu yang lama. Namun kenangan saat ia pernah merasa berlari di padang rumput. Terjatuh. Menangis. Mendapatkan pelukan hangat. Semuanya berputar dengan sangat indah. Rasa rindu yang nyaris membuatnya lupa, bahwa dia memiliki ayah dan ibu yang begitu sangat mencintainya.

... semuanya sirna begitu saja, dan suara kereta kuno yang khas tak lagi terdengar ...

... Hinata ... Switzerland ... sama-sama selalu kurindukan ... namun pada akhirnya akan aku lupakan ...

"Master, apakah Anda bisa mendengar suara saya?" dan tergantikan suara penuh khawatir dari seseorang. Naruto mengenalnya. Suara Yamato yang gemetaran dan terdengar siap menangis kapan pun, jika dirinya tidak segera bangun dari mimpi ini. Gerakan kecil. Naruto meyakini akan membuat pria di sampingnya itu tenang. "Ya Tuhan. Dokter! Dia sudah sadar."


"Aku bermimpi, hanya sebentar, namun aku melihat ayah dan ibu, dan tiba-tiba aku merindukan Switzerland," madam Tsunade berhenti untuk membolak-balikan halaman bukunya, dan wanita berumur itu memiliki alasan untuk duduk di kursi samping ranjang cucunya sekarang dengan wajah siap marah. Dengan wajah sebal. Dengan wajah ingin menangis pula.

Beberapa hari yang lalu, wanita tersebut sudah berhasil memecahkan gelas kristal yang lagi-lagi dia dapatkan dari lelang di Seattle. Namun saat itu, kemarahannya pun segera reda saat mendapati kabar bahwa cucunya baik-baik saja setelah operasi usus buntu. "Nenek, apakah aku pernah ke Switzerland?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

Naruto tersenyum. Memandang neneknya yang menurunkan kacamata-nya dari pangkal hidung. "Aku merasa pernah menaiki kereta kuno dengan suaranya yang khas. Lalu aku bermain di taman bunga bersama ayah dan ibu. Jujur, aku tidak pernah ingat masa kecil ku begitu jelas."

"Kau pernah tinggal di sana dari umur dua tahun sampai empat tahun. Aku tidak ingin menjelaskan terlalu banyak, karena setelahnya kau pasti akan jauh lebih menderita." Naruto terdiam untuk sebentar memandang wajah neneknya yang ragu-ragu untuk berbicara. Ia kemudian mengangguk, karena dia tahu kelanjutannya tidak lagi menjadi menarik untuknya ataupun untuk neneknya.

Di saat umur lima tahun, Naruto ingat jelas, bahwa ibu dan ayahnya tewas dalam sebuah kecelakaan. Kabar yang mengejutkan itu tidak terlalu sedih awalnya. Ia begitu saja berhasil melupakan.

Setelah itu pada akhirnya, dia tidak lagi mengingat dengan jelas apa yang sudah ia lewati tanpa kedua orangtuanya. Ingatan yang tersisa, bahwa dia mengambil pendidikan sekolah dasar di London, setelah itu saat SMP hingga SMA dia berada di Jepang. Kembali ke London saat lulus SMA, mengambil pendidikan Universitas di Royal Holloway.

Madam Tsunade membuang napas kesalnya yang menumpuk. "Jangan memikirkan apa pun, apalagi masa lalumu. Nenek akan mengingatkanmu sesuatu sekarang, walaupun ini terdengar kejam, tapi kau harus kembali ke London dan belajar dengan benar. Kau harus cepat sembuh dan pulang, jangan membuat ulah yang bisa membuat kami khawatir. Hanya kau yang kami miliki," dan madam Tsunade mulai menunjukkan wajah sedihnya, hingga kedua alisnya hampir menyatu. Karena keningnya mengerut. "Jika kau memang masih ingin tinggal di Jepang, seharusnya satu tahun yang lalu kau tidak perlu meyakinkan kami untuk membawamu pulang."

"Ya, aku menyesal sekarang," seru Naruto dengan terkekeh tanpa dosa seperti biasa. Pada saat yang sama, madam Tsunade pun menangkap tangan Naruto yang masih terasa begitu dingin. "Aku tidak akan kembali ke Jepang lagi, dan sekarang aku tidak akan menarik kata-kataku lagi. Aku akan pulang bersama nenek, aku memiliki alasan yang kuat untuk mencintai London...,"—aku pulang dengan membawa rasa patah hatiku.

Teman-temannya pernah berkata padanya; bahwa lebih banyak seseorang yang tidak mampu meraih cinta pertamanya daripada seseorang yang mampu meraih cinta pertama itu. Sekarang, Naruto akan menjadi salah satu dari lelaki yang tidak mampu meraih cinta pertamanya. Ini akan menjadi pelajaran dan tindakan paling bodoh yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya.

Meskipun dia sudah yakin tidak akan bisa memiliki gadis indigo itu. Namun pilihan hatinya tetap sama, untuk memilih Hinata Hyuuga seorang, sebagai cinta pertama dan gadis yang paling dia cintai.


Bersambung