Awalnya, author ingin mengupdate fanfict ini tanggal 9 Juli kemarin. Tribute untuk Georgie Henley.

Tapi, ternyata 'terjebak' di fandom PoppyLovers_INA, dan tidak sempat mengupdate :(

Untungnya minggu ini, author mendapat 3 hari libur (wohoo...), sehingga bisa mengupdate sekarang :)

Disclaimer : I own nothing, except the plot :)


×Chapter 02 : I Can't Lose You×

They don't know how special you are
They can say anything they want
Cause they don't know about us

"Ini yang terakhir, yang mulia," ujar Reepicheep mendekati seorang prajurit Telmarines dengan luka tusukan di dadanya.

Dengan cepat Lucy berlutut di sebelah prajurit muda itu dan meneteskan healing cordial-nya ke mulut prajurit yang tersengal-sengal. Lucy memperhatikan pemuda itu menelan healing cordial-nya dan dengan perlahan nafasnya kembali teratur. Lucy menghembuskan nafas dengan lega lalu berdiri dan menyendarkan dirinya pada Edmund.

"Kita berhasil, Lue..." ujar Edmund lalu meremas bahu Lucy dengan lembut.

"Hm?"

"Kita menyelamatkan semuanya..." jawab Edmund.

"Ya, aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau aku tak memiliki healing cordial," Lucy memejamkan matanya dan gemetar.

"Hei, hei... jangan bayangkan hal itu, Lue," Edmund memperingati.

"Maaf..."

"Tak masalah," Edmund tersenyum.

Suara derap kaki membuat Edmund dan Lucy sontak membalikkan badannya dan mendapati mereka berhadapan dengan Glenstorm.

"Your majesties, please come with me," ujar Glenstorm, tampak sedikit kepanikan menghiasi wajahnya.

"Ada apa, Glenstorm?" tanya Edmund.

"Queen Susan, dia..."

Belum sempat Glenstorm menjelaskan maksudnya, Edmund sudah berlari secepat yang ia bisa ke arah tempat para prajurit yang terluka. Ia tahu, pembagian tugas pada masa itu masih berlaku sampai sekarang. Glenstorm meraih tangan Lucy lalu mendudukkannya ke punggung kudanya dan berlari mengejar Edmund.

Tak berapa lama, Edmund tiba disana dan melihat beberapa orang berkumpul. Edmund yakin kalau Susan ada di sana. Ia berusaha melewati kumpulan orang itu. Apa yang dilihatnya membuatnya merasa bahwa ia sedang mengalami mimpi buruk. Susan terbaring di sana, kulit putihnya tampak semakin pucat begitu juga dengan bibirnya yang biasa terlihat berwarna merah jambu. Edmund menolehkan kepalanya dan melihat tangan Susan yang masih terus mengeluarkan darah. Emosi menyeruak dalam dadanya.

"Kenapa kalian tidak melakukan sesuatu untuk menghentikan perdarahannya?" bentak Edmund.

"Maafkan kami, yang mulia. Kami sudah berusaha untuk menghentikan perdarahannya, tetapi sama sekali tidak berhasil," jawab salah satu faun yang berdiri di sana.

"Mengapa bisa seperti itu?" tanya Edmund pelan.

"Susan..." Lucy yang baru tiba segera berlari menerobos orang-orang itu dan meraih botol healing cordial-nya.

"Jangan, Queen Lucy," suara berat berhasil menghentikan Lucy untuk meneteskan healing cordial-nya pada Susan.

Semua orang yang ada di sana segera menoleh ke arah sumber suara, seorang pria tua tambun dengan rambut yang memutih.

"Siapa kau?" tanya Edmund, tangannya meraih pedang yang terikat di pinggangnya.

"Maafkan hamba, yang mulia. Saya adalah professor Cornelius, guru dari Prince Caspian," jawab pria itu.

"Apa maksudmu mencegah Lucy memberikan healing cordial pada Susan?" tanya Edmund lagi.

"Kita tidak mengetahui apa yang menyebabkan Queen Susan terluka. Kalau luka ini disebabkan oleh senjata salah satu jenderal Telmarines, maka pemberian healing cordial akan membuat luka ini semakin memburuk."

"Apa maksudmu?" tanya Lucy penasaran.

"Healing cordial akan menyembuhkan berbagai macam luka, mulai dari luka yang terkecil hingga yang terparah sekalipun. Namun, senjata yang dimiliki oleh para jenderal Telmarines telah diolesi oleh racun yang mampu mencegah terjadinya pembekuan darah, dan jika racun tersebut tercampur dengan healing cordial maka yang akan terjadi adalah reaksi kebalikannya. Luka tersebut akan semakin parah. Dan dari apa yang terlihat, sepertinya luka yang dialami Queen Susan memang disebabkan oleh racun itu," jelas professor Cornelius.

"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" suara Lucy terdengar sangat lirih.

"Kita harus menunggu hingga Queen Susan sadar dan menanyakan hal ini padanya."

"Katakan kau bisa membuat antidote-nya," ujar Edmund dingin.

"Tentu saja. Hanya saja, bahan-bahan untuk membuat antidote itu ada di rumahku di tepi Owlwood ," jawab professor Cornelius pelan.

Edmund mengalihkan pandangannya ke arah Susan yang masih terbaring di rerumputan. Edmund mengguncang tubuh Susan dengan lembut, mencoba menyadarkannya.

"Sue... wake up..." bisik Edmund.

Tak ada respon sama sekali.

"Wake up Sue!" ujar Edmund keras.

"Ed..." Lucy memeluk Edmund dari belakang, mencoba menenangkannya.

"Damn it, Sue! I said wake up!" seru Edmund, tak sadar ia kembali mengguncangkan tubuh Susan lebih keras.

Air mata kini mulai mengalir di wajah Edmund yang memucat, sementara Lucy sudah terisak-isak sejak tadi.

Mereka telah berhasil mendekati wilayah Narnia. Kurang lebih dua hari lagi Splendour Hyaline akan menepi. Edmund memandang Susan yang sedang membaca salah satu buku di kabin Edmund.

"Kita selamat, Sue... kita akan kembali ke Narnia..." ujar Edmund lalu berjalan mendekati Susan dan menepuk bahu Susan dengan lembut.

"Ya... aku tak tahu bagaimana jadinya kalau saja Mr. Tumnus tidak mempunyai ide ini... Bisa saja aku..." Susan memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya, berusaha menghapus bayangan yang hinggap di benaknya.

"Hei, hei... hentikan hal itu, Sue..." Edmund memeluk Susan, menangkannya.

"I'm so sorry, I can't help it. I am the cause of all this," bisik Susan lirih, air matanya mulai membasahi pakaian Edmund.

"It's okay, Sue... We're gonna be okay," bisik Edmund, semakin mempererat pelukannya.

Ketukan –atau lebih tepatnya gedoran- di pintu kabin membuat Edmund segera berdiri dan Susan menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata di balik tangannya.

"Come in!" perintah Edmund.

Mr. Tumnus masuk dengan tergesa-gesa, kepanikan tampak jelas terlukis di wajahnya.

"Mr. Tumnus? Ada apa?"

"Oh, yang mulia, kau tak akan mempercayai hal ini. Kau tak akan mempercayai hal ini. Splendour Hyaline di serang..." kata Mr. Tumnus dengan sangat cepat.

"Apa? Kau pasti bercanda," tanya Susan tak percaya.

"Tidak, Queen Susan, tidak," jawab Mr. Tumnus.

Edmund segera berlari mengambil pedang dan memakai perlengkapannya. Susan berdiri dan meraih busur serta anak panahnya.

"No, Susan. Stay here..." perintah Edmund.

"No, I'm going with you,"jawab Susan.

"Susan..."

"No, Ed! Don't you understand? I am the cause of all this! I couldn't stay here, while our people are dying!" seru Susan.

"But..."

"Edmund, please..." potong Susan.

"Okay,but promise me one thing," pinta Edmund akhirnya.

"Anything."

"Just stay safe, okay."

"I... okay..." ujar Susan akhirnya.

Edmund membuka pintu kabinnya. Apa yang dilihatnya membuatnya sangat terkejut. Beberapa orang dengan pakaian hitam bersenjatakan pedang panjang sudah naik ke atas Splendour Hyaline dan menyerang para kru Splendour meraih pedangnya dan segera bergabung dengan kru Splendour Hyaline yang lainnya, sementara Susan naik ke atas dek Splendour Hyaline dan mulai menarik busurnya.

Edmund mengalihkan pandangannya dari lawannya yang telah terjatuh, mencari keberadaan Susan. Ketakutan yang sangat melingkupinya. Seorang dengan pakaian hitam berhasil mengendap-endap ke belakang Susan dan mengarahkan mata pedangnya pada Susan yang masih berkonsentrasi pada musuh di bawah.

"SUE! Watch out!" teriak Edmund lalu berusaha untuk berlari ke arah Susan, namun seorang musuh telah berdiri di hadapannya, menutupi pandangannya dari Susan.

Susan yang mendengar teriakan Edmund segera menolehkan kepalanya. Apa yang dilihatnya membuatnya ketakutan. Ia berusaha untuk mengarahkan busurnya, namun dengan mudah busur itu terjatuh dari tangannya.

"If I can't have you, my queen, no one can have you either..." ujar orang itu lalu menikam Susan dengan pedangnya.

"Susan!" seru Edmund lalu berlari ke arah Susan yang terjatuh dan menyerang orang yang menyerang Susan hingga orang itu tak sadarkan diri.

"Susan... wake up..." pinta Edmund, menyandarkan tubuh Susan pada tubuhnya dan membiarkan darah Susan membasahi pakaiannya.

"Ed..." bisik Susan, berusaha membuka matanya.

"Sue..." kali ini Edmund sudah tak bisa membendung air matanya.

Edmund menggendong Susan dan berjalan menuju ke kabinnya.

"Lord Peridan," panggil Edmund.

"Ya,King Edmund?" Lord Peridan berjalan tergesa mendekatinya.

"Queen Susan? Apa yang..."

"Cepat panggilkan Mr. Tumnus, aku tahu ia bisa menangani luka ini," potong Edmund.

"Baik, yang mulia."

"Dan oh, tolong amankan orang itu," Edmund menunjuk orang yang menyerang Susan tadi, "kita akan membawanya pada Peter sebelum kita mengembalikannya ke tempat asalnya," ujar Edmund lalu kembali berjalan ke arah kabinnya.

Setibanya di kabin, Edmund meletakkan Susan ke atas kasur dengan perlahan. Rasa sakit terlihat jelas di wajah Susan. Edmund mengambil sepotong kain dan menekannya di atas luka Susan, berusaha menghentikan perdarahannya.

"I'm so sorry Sue... I'm so sorry..." bisik Edmund.

Pintu kabin terbuka dan Mr. Tumnus berjalan –setengah berlari- ke arah Edmund dan Susan. Di tangannya terdapat baskom berisi air dan perban. Dengan diam Mr. Tumnus membersihkan luka Susan dan membalutnya dengan perban.

"She's gonna be okay, right?" tanya Edmund dengan suara bergetar, tak yakin karena ia sudah mengetahui bahwa luka yang dialami Susan sangat parah, dan kemungkinan besar ia kehilangan banyak darah.

"Maafkan saya, yang mulia. Saya tidak begitu yakin. Tampaknya Queen Susan telah kehilangan banyak darah. Satu-satunya hal yang bisa menolong Queen Susan hanyalah healing cordial Queen Lucy."

"Tapi ia bisa bertahan hingga kita tiba di Narnia, kan?" tanya Edmund lagi.

"Kita hanya bisa berdoa, yang mulia," jawab Mr. Tumnus kemudian membungkuk pada Edmund dan meninggalkan kabinnya.

Edmund menjatuhkan dirinya di kursi yang berada di sebelah kasur dan menggenggam tangan Susan dan kembali menangis.

"I'm so sorry Sue... I'm so sorry..." gumamnya berulang kali.

Di sisa waktu pelayaran mereka, Edmund sama sekali tak meninggalkan Susan yang masih tak sadarkan diri. Ia akan terus berada di sisi Susan. Terkadang ia mencoba mencari denyut nadi Susan untuk memastikan kalau Susan masih hidup –dan untuk menenangkan dirinya-.

Saat Splendour Hyaline sudah menepi di pantai Narnia, Edmund menggendong Susan turun dan menemukan Lucy sudah menunggunya di dermaga. Air mata kembali menggenangi pelupuk mata Edmund. Lucy segera berlari mendekat dan meraih healing cordialnya. Lucy meneteskan healing cordialnya dan menunggu dengan perasaan takut.

Perlahan rona kemerahan mulai kembali di wajah pucat Susan, matanya mulai bergetar seolah berusaha untuk membuka.

"Sue?" panggil Edmund tak yakin.

"... Ed?" bisik Susan lirih lalu membuka matanya.

Lucy segera memeluk Susan yang masih berada di gendongan Edmund.

"Lue? Aku ada di mana?" tanya Susan bingung.

"Kita sudah tiba di Narnia,Sue. Kita selamat," jawab Edmund tak bisa meneyembunyikan rasa lega dan bahagianya.

"Benarkah?"

Lucy dan Edmund menganggukkan kepala.

"I'm sorry Sue, I'm so sorry..." bisik Edmund.

"Hey," Susan mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Edmund, "It's alright, Ed. I'm fine..." ujar Susan pelan.

"I can't lose you, Sue... we can't lose you..."

"You didn't," janji Susan lalu tersenyum lemah.

"Kau melanggar janjimu, Sue..." bisik Edmund.


A.N : Menurut author, Edmund memang tidak mengenal Professor Cornelius. Saat Peter dan Susan bersama Caspian dan Trumpkin tiba di ruang kerja Professor, Edmund berada di menara istana, sehingga tidak mendengar perkataan Caspian tentang Professor. Saat mereka kembali ke Aslan's How, mereka terlalu 'sibuk' memikirkan para prajurit yang terkurung di istana. Dan saat mereka mulai menyusun rencana melawan Miraz,author rasa tidak mungkin Ed berkenalan dengan Professor.

So, this is it, the chapter 2. What do you think, guys? Please read and review :)