Author mohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa mengupdate fanfict ini setelah 4 bulan terabaikan :(
Bukannya bermaksud mengabaikan, namun lebih ke arah sibuk di dunia SMA...
Terima kasih untuk review-reviewnya :)
Chapter ini author dedikasikan untuk Samantha yang kemarin berulang tahun, terima kasih dukungannya selama ini :)
Disclaimer : I own nothing, except the plot :)
×Chapter 03 : The Secret Between Us×
Heart beats harder
Time escapes me
Trembling hands
Touch skin
It makes this harder
And the tears stream down my face
"Kurasa sebaiknya kita segera berangkat menuju rumah Professor," Caspian angkat bicara.
Edmund dan Lucy sontak mengangkat kepala.
"Kau tahu, Queen Susan bisa beristirahat di sana, dan professor Cornelius bisa membuat antidote-nya," tambah Caspian.
"Kurasa itu bukan ide yang buruk, Ed," ujar Lucy.
Edmund menganggukkan kepala.
"Sebaiknya kita cepat berangkat. Glenstorm, tolong carikan kami kuda secepatnya," ujar Caspian pada Glenstorm yang segera mengangguk dan meninggalkan mereka.
"Dan Peter..."
"Biar saya yang menyampaikan berita ini," potong Reepicheep.
"Baiklah kalau begitu," jawab Caspian.
Suara berderap membuat mereka semua menoleh. Mereka menemukan Glenstorm bersama kurang lebih 10 ekor kuda.
"Terima kasih Glenstorm,"
"Your highness," Glenstorm menundukkan kepalanya dengan hormat.
Edmund membungkuk dan menggendong Susan ke atas kuda sedangkan Caspian, Lucy dan professor Cornelius segera naik ke atas kuda mereka masing-masing. Mereka tidak berani mengambil resiko dengan berkuda menuju Owlwood tanpa pengawalan. Terlalu riskan. Mereka tahu, sebagian besar bangsa Telmarine sangat membenci kaum Narnian. Status Edmund dan Lucy sebagai King and Queen of Old tak akan membantu. Begitupun dengan Caspian, walaupun ia adalah penerus tahta kerajaan yang sah, tetapi ia telah dicap sebagai pengkhianat oleh Miraz. Kedudukan Miraz sebagai raja membuat bangsa Telmarine mau tak mau mematuhi perkataannya.
Perjalanan menuju Owlwood yang memakan waktu sekitar dua jam kini terasa bagai berabad-abad bagi mereka. Terutama Edmund. Muka putihnya kini semakin memucat, dan mata coklatnya kini tampak kehilangan binarnya. Lucy menyejajarkan kuda yang ditungganginya dengan kuda yang ditunggangi Edmund lalu menepuk bahunya.
"Dia akan baik-baik saja, Ed," ujar Lucy bergetar.
"Tapi..."
"Never lose your faith, Ed," sela Lucy.
Edmund hanya bisa mengangguk pelan. Setibanya di kediaman Professor Cornelius, Edmund segera membaringkan Susan di kasur yang ada di kamar Professor, sedangkan Professor Cornelius langsung berlari ke ruang kerjanya. Lucy menarik tangan Caspian keluar dari kamar Professor.
"Apa..."
"Dengar, Caspian. Kurasa sebaiknya kau jangan mendekati Susan lagi,"
"A... apa?"
"Aku tahu, kau menyukai Susan, kan? Tidak, jangan mendebatku," tambah Lucy seraya mengangkat tangannya saat melihat Caspian membuka mulutnya untuk memprotes, "Tapi tolong, jangan dekati ia lagi."
"Tapi..."
"Kumohon, demi Susan..." pinta Lucy pelan.
Caspian hanya bisa mematung. Lucy menatapnya dengan sedih, lalu masuk ke dalam kamar Professor dan menutup pintunya. Caspian berjalan pelan ke arah ruang kerja Professor Cornelius dan membuka pintunya dengan perlahan.
"Prof..."
"Kalau kau ingin tahu apa yang menyebabkan mereka seperti itu, my prince, kurasa kau bisa mencari tahu di buku-buku yang ada di perpustakaanku," potong Professor Cornelius tanpa mengangkat kepalanya dari ramuan yang sedang diaduknya.
"Tapi, kurasa aku sudah membaca semua buku tentang Kings and Queens of Old," protes Caspian.
"Belum semua, masih ada satu buku yang belum kau baca."
Caspian terdiam. Pikirannya berputar dengan keras, kembali menjelajah ingatannya di saat ia masih kanak-kanak. Saat Professor Cornelius menceritakan tentang Kings and Queens of Old untuk pertama kalinya, dan kemudian diam-diam membawakan Caspian buku-buku tentang Kings and Queens of Old dan buku-buku mengenai Narnia pada Golden Age.
"Kalau aku menjadimu, my prince, aku akan segera mencari buku itu," ujar Professor Cornelius, menarik Caspian kembali ke realita.
"Oh, uhm... kau benar..." gumam Caspian lalu berjalan keluar dari ruang kerja Professor Cornelius dan menutupnya.
Professor Cornelius menatap pintu ruang kerjanya, dan tak lama kemudian rambut kehitaman menyembul dari balik pintu.
"Eng... aku lupa dimana letak perpustakaanmu, Professor," ujar Caspian pelan.
"Aku sudah menduganya. Di lantai atas, pintu kedua di sebelah kiri tangga," jawab Professor Cornelius tak bisa menyembunyikan senyumnya.
"Uh, well... uhm... terima kasih," ujar Caspian lalu kembali menutup pintu ruang kerja Professor Cornelius.
"Anytime, my prince, anytime," jawab Professor Cornelius pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah meletakkan Susan di kasur, Edmund menghempaskan diri di kursi yang terletak di sebelah kasur dan menunggu Lucy memeriksa Susan dalam diam.
"Bagaimana keadaannya, Lue?"
"Kurasa keadaannya sama sekali belum membaik. Denyut nadinya sangat tidak stabil. Aku memang tidak mengetahui racun apa yang menyebabkannya, namun dari keadaannya aku tahu bahwa racun ini bekerja dengan sangat cepat," jawab Lucy tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Edmund.
Edmund hanya bisa menghela nafas pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Rasa bersalah mulai merasukinya.
"Ed..." panggil Lucy beberapa saat kemudian.
Edmund menoleh.
"A... Aku takut... Sue..." Lucy yang gemetar tak dapat meneruskan kata-katanya.
"Shh... Come here," Edmund mengulurkan tangannya ke arah Lucy dan memeluknya, "aku tahu dia pasti bisa melawan racun itu. Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya dia..."
Lucy hanya mengangguk pelan.
"Kau sendiri yang berkata kita tidak boleh kehilangan harapan, kan?"
"Yes, well…"
"So, never lose your faith, Lue," ujar Edmund mengutip kata-kata Lucy.
"Plagiat," jawab Lucy pelan, senyum kecil mengembang di bibirnya.
"Hey…" protes Edmund pelan namun terhenti saat melihat keadaan Susan.
Mata Susan bergetar pelan, seolah berusaha untuk terbuka. Lucy melepaskan pelukannya pada Edmund dan meraih tangan Susan, memeriksa denyut nadinya dan tersenyum.
"Denyutnya sudah lebih stabil, Ed!" nada bahagia sangat kental di suara Lucy.
Perlahan, Susan membuka matanya, mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang menerobos masuk melalui sela-sela gorden di kamar Professor.
"Sue?" suara Edmund membuatnya mengerjap beberapa kali lagi, berusaha menangkap bayangan buram yang tampak bergerak tak jelas.
"Sue, are you alright?" kini suara Lucy yang berusaha menerobos pandangannya.
"Uh… where am I?" tanya Susan dengan suara serak lalu mengangkat tangannya dan meletakkannya di kepalanya, berusaha menghentikan bayangan-bayangan yang berputar semakin cepat.
"Di rumah Professor Cornelius. Apakah kau baik-baik saja?" tanya Lucy lagi.
"… Ya, aku sudah merasa lebih baik, Lue," jawab Susan setelah beberapa saat berhasil mendapatkan penglihatan yang jelas kembali.
"Thanks, Aslan! You've scared me, Sue."
"Maafkan aku, Lue," Susan berusaha menampilkan seulas senyum pada Lucy, namun hal itu malah membuatnya merasa kesakitan, dan akhirnya ia hanya bisa meringis kecil.
"Kurasa sebaiknya kau segera menemui Professor Cornelius dan memberitahunya kalau Susan sudah sadar," ujar Edmund tiba-tiba.
"Ah, iya…" Lucy menepuk dahinya kemudian berlari keluar kamar Professor.
"Ed?" tanya Susan, ia menyadari ada nada aneh dalam perkataan Edmund, dan dalam hati mempersiapkan diri untuk penginterogasian yang pasti akan dilakukan oleh Edmund.
"Sue, apa kau baik-baik saja?" tanya Edmund pelan, kekhawatiran sangat kental dalam suaranya.
"Tentu saja…"
"Tidak, jangan berbohong padaku, Sue," sela Edmund seraya menatap mata Susan, dengan mudah menemukan secercah kebohongan dalam matanya.
Susan menghela nafas panjang dan menutup matanya selama beberapa saat, topeng pengendalian dirinya perlahan mencair. Menampakkan guratan-guratan kesakitan yang tadi berhasil ia sembunyikan dari Lucy. Ia tahu, ia tak akan pernah bisa berbohong di depan Edmund.
"Aku tak bisa merasakan bagian kiri dari tubuhku, Ed," bisiknya lalu tertawa kecil, "dan kurasa tidak masuk akal, namun luka itu terasa sangat sakit. Seolah kau menusukkan ribuan besi panas pada luka itu," lanjutnya.
Edmund menolehkan kepalanya, dan memperhatikan luka di tangan Susan. Ia baru menyadari kalau luka itu ada di tangan kiri Susan. Rasa bingung melingkupi Edmund. Bahkan kalau kau berdiri sangat dekat dengan Edmund, kau bisa melihat garis-garis tipis di dahinya.
"But how?" gumamnya pelan.
"Apa yang kau katakan, Ed?"
"Ah… tidak… apakah hanya itu saja yang kau rasakan, Sue?"
"Tidak… aku merasa sangat kesakitan saat menarik nafas. Kau tahu, seperti saat kau tenggelam dan seseorang menarikmu keluar dari dalam air, kemudian kau merasakan udara bebas untuk pertama kalinya," Susan terbatuk beberapa kali.
Tiba-tiba pintu kamar Professor terbuka, dan Lucy dengan setengah berlari masuk ke dalam kamar dengan setengah menggeret Professor Cornelius. Susan segera memasang topeng pengendalian dirinya kembali.
"Ah… anda sudah sadar, Yang Mulia," sapa Professor Cornelius.
Susan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Professor Cornelius memeriksa kembali tanda-tanda vital Susan, dan terkadang menggumamkan "Hm…" atau "Ah…"
"Queen Susan, apakah anda ingat siapa yang telah melukai anda?" tanya Professor Cornelius setelah beberapa saat.
"Aku… entahlah… aku hanya ingat senjata yang ia gunakan berbeda dengan senjata yang digunakan prajurit lainnya. Bukan pedang atau panah, namun lebih mirip belati milik Lucy, hanya saja sedikit lebih panjang," jawab Susan pelan.
"Chalagrione…" desis Professor Cornelius kelam.
"Apa…"
"Maafkan saya, saya harus segera menyelesaikan antidote-nya," potong Professor Cornelius lalu menoleh kea rah Edmund, "King Edmund, maukah anda membantu saya menyelesaikan antidote ini?"
"Tentu saja," jawab Edmund singkat lalu berdiri dan mengikuti Professor Cornelius keluar dari kamarnya.
"Weird…" gumam Lucy.
"Huh?"
"Tingkah Professor Cornelius sangat aneh…" jelas Lucy.
"Mungkin ia baru teringat bahan yang harus digunakan untuk antidote itu?" usul Susan berusaha menenangkan Lucy.
"Maybe…" jawab Lucy lalu tersenyum lebar dan kemudian duduk di bangku yang tadi ditempati oleh Edmund.
Susan berusaha tersenyum. Namun ia tahu, apapun yang tadi menyebabkan Professor Cornelius bertingkah seperti itu bukanlah hal yang baik. Kemungkinan besar adalah hal yang sangat buruk. Namun untuk saat ini ia akan memainkan kartu innocent-nya. Demi Lucy.
A.N :
1. Atri takeuchi dan Leavian : Ini chapter 3-nya, maaf saya baru bisa mengupdatenya :(
2. Risa dan Nad Saphire Ri : Memang, di fanfict ini saya membuat Sue dan Ed sangat dekat, namun alasan mengapa mereka dekat tidak akan saya beritahu sekarang. Alasannya akan saya post di chapter-chapter selanjutnya. Stay tune ya :)
So, this is it, the chapter 3. Please read and review :)
