Yeay, akhirnya bisa mengupdate fanfict ini! Awalnya saya berniat untuk mengupdate fanfict ini pada hari Kamis kemarin, namun ternyata hujan sangat lebat sehingga mengganggu hubungan internet.
Terima kasih banyak untuk review-reviewnya, itu sangat berarti bagi saya J
Oh, jika kalian menemukan kalimat yang aneh, check artinya di bawah ya. Kalimat itu merupakan hasil translate bebas ke Elvish ;)
Disclaimer : I own nothing, except the plot, Queen Eruanna, Caladwen and Naurius. Please read and review J
×Chapter 04 : Estel Flower×
I'll always remember
It was late afternoon
It lasted forever
But ended so soon
Professor Cornelius berjalan dengan sangat cepat kearah ruang kerjanya. Di belakangnya Edmund berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkah pria tua itu.
"Prof, ada apa?" tanya Edmund bingung.
Hanya keheningan yang menyambut pertanyaan itu. Bahkan sepertinya Professor Cornelius sudah melupakan kenyataan bahwa Edmund -setengah berlari- berada di sampingnya. Setibanya di ruang kerjanya, Professor Cornelius segera menuju kearah rak buku yang dipenuhi oleh buku-buku tebal yang kelihatan sangat berat dan sudah tua, kemudian mengambil sebuah buku dengan sampul berwarna hitam yang kini terlapis debu. Dengan cepat Professor Cornelius meletakkan buku itu di mejanya dan membuka halamannya dengan tergesa. Edmund hanya bisa terdiam melihat tingkahnya. Ia sadar, sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi.
"Dimana catatan itu?" gumam Professor Cornelius.
"Huh?"
"Ah, ini dia…" jemari Professor Cornelius terhenti di halaman yang menampilkan berbagai tanaman liar.
"Apakah anda mengetahui tanaman-tanaman ini, King Edmund?" tanya Professor Cornelius.
Edmund bergeser mendekati buku itu untuk melihat gambar tanaman-tanaman itu dengan lebih seksama. Nafasnya tercekat saat ia menyadari tanaman apa itu. Ia mengangkat kepalanya dan memandang Professor Cornelius yang mengangguk pelan, membenarkan apa yang dipikirkan oleh Edmund.
"Tanaman ini…"
"Minhiriath, hanya dengan satu duri yang tertancap di tubuhmu, maka jantungmu akan berhenti berdetak dengan perlahan," ujar Professor Cornelius, "Esgaroth, jika getahnya masuk dalam peredaran darah, maka akan mengakibatkan kelumpuhan. Dan Sirith yang mencegah terjadinya pembekuan darah, harapan untuk bisa menghentikan perdarahan akan sangat kecil jika getah Sirith sudah masuk ke peredaran darah," lanjutnya.
Edmund hanya bisa mematung, membiarkan informasi ini masuk dalam pikirannya. Sementara itu, Professor Cornelius mengambil sebuah buku dari laci mejanya dan membukanya. Tampak gambar sebuah belati panjang di salah satu halamannya.
"Chalagrione, senjata rahasia para jenderal bangsa Telmarine. Senjata sekali pakai yang mengandung racun dari tanaman-tanaman itu. Satu goresan dari Chalagrione sudah cukup untuk membunuh seekor Centaur, jika ia tidak menyadarinya. Aku tak menyangka kalau senjata yang melukai Queen Susan adalah Chalagrione."
"Apa maksudmu? Bukankah tadi kau sudah menebak bahwa yang menyebabkan luka itu adalah senjata jenderal Telmarine?"
"Ya, namun bukan Chalagrione, melainkan Starkhorne," ujar Professor Cornelius lalu menunjuk gambar sebuah pedang yang berukuran kecil, seukuran dengan pedang untuk berlatih bagi anak berusia 10 tahun, dengan ujung yang sangat tajam.
"Argh… berapa banyak senjata beracun yang dibawa oleh para jenderal Telmarine?" tanya Edmund gusar, lebih pada dirinya sendiri, seraya mengacak rambut hitamnya.
"Lima," jawab Professor Cornelius singkat.
"Apa?" tanya Edmund tidak percaya.
"Starkhorne hanya mengandung racun dari getah Sirith, dan hal itu memberi kita lebih banyak harapan, daripada Chalagrione," ujar Professor Cornelius pelan.
"Apakah sudah tidak ada harapan lagi?" bisik Edmund.
"Kalaupun ada, harapan itu sangatlah tipis."
"Harapan? Harapan untuk apa?" tanya Peter yang tiba-tiba berdiri di ambang pintu.
"Peter? Bagaimana kau…"
"Reep mengantarkanku kemari. Aku bertemu dengan Caspian di depan, dan ia menyuruhku untuk segera kesini," jawab Peter, memotong pertanyaan Edmund lalu berjalan menghampiri mereka.
"Sejak kapan kau mau mendengarkan orang lain, Pete?" tanya Edmund tak bisa menahan cengirannya.
"Bukankah ini Minhiriath, Esgaroth dan Sirith? Apa maksud semua ini?" tanya Peter tak mempedulikan pertanyaan Edmund.
"Apakah kau tahu kalau Susan terluka?" Edmund balik bertanya dengan serius.
"Tidak, aku tak… apa dia baik-baik saja?"
"Tidak," jawab Professor Cornelius singkat.
"Apa maksudmu?" tanya Peter gusar.
"Queen Susan terluka karena Chalagrione, senjata rahasia bangsa Talmarine. Dan racun yang berada di Chalagrione berasal dari Minhiriath, Esgaroth dan Sirith," jelas Professor Cornelius.
"Aslan… you've got to be joking!" seru Peter.
"Apakah kau tahu tanaman atau bahkan membuat ramuan yang bisa menawar racun itu?" tanya Edmund pada Professor Cornelius.
Professor Cornelius menundukkan kepala dan menghela nafas panjang.
"Saya bisa membuat ramuan penawar, tapi itu hanya bisa menawar racun dari Sirith. Sedangkan untuk menawar racun dari Minhiriath dan Esgaroth…"
"Estel flower!" ujar Peter tiba-tiba.
"Huh?"
"Kau ingat, Ed, bunga yang dikatakan oleh Caladwen?" kesedihan tampak jelas di mata biru Peter.
"Bunga? Bunga yang…" ingatan berkilat di mata hazelnya.
################################################## ##################################################
Tidak ada yang menyangka, keinginan Kings and Queens of Narnia untuk mengunjungi King Lune di Archenland tiga tahun setelah kematian Queen Eruanna bisa berakhir dengan sangat buruk. Saat itu mereka mengajak Little Corin mengunjungi River Winding Arrow dengan ditemani oleh beberapa pengawal. Peter dan Edmund mengajari Little Corin yang sangat bersemangat bagaimana menggunakan pedang, Susan sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka yang tadi dibawanya. Dan Lucy, well, Ratu muda yang sangat ingin tahu itu berjalan-jalan di sekitar River Winding Arrow ditemani oleh Caladwen, serigala yang juga merupakan pengawal pribadinya.
"Your lunch is ready," ujar Susan lembut beberapa saat kemudian.
"Ah… untunglah," seringai Edmund lalu mengelap dahinya dengan punggung tangannya, "aku sudah kelaparan setengah mati."
"Kapan kau tidak kelaparan, Eddie?" goda Peter.
"Oh, shut it, my beloved brother," ujar Edmund memasang muka sedih, "You've hurt my feelings."
Peter tertawa kecil lalu berjalan ke bawah pohon dimana Susan sudah menyiapkan makan siang mereka, dengan menggandeng Corin yang meloncat-loncat –jelas, latihan pedang yang mereka lakukan tak akan bisa mengurangi semangat Corin- dan mengoceh dengan sangat cepat.
"Apa kau lihat bagaimana aku berhasil mengalahkan King Peter, Queen Susan? Sudah jelas kalau King Peter bukanlah tandinganku!" seru Corin, senyum lebar menghiasi wajah manisnya yang kini bermandikan peluh.
"Tentu saja," Susan tertawa, "bagaimana mungkin aku bisa melepaskan kesempatan untuk melihat High King Peter dikalahkan oleh anak kecil?" tanya Susan melirik kakak lelakinya yang hanya bisa mengangkat bahu dan tersenyum kecil.
"Aku bukan anak kecil, Queen Susan! Aku sudah berumur tujuh tahun. Tujuh! Dan aku berani menjamin sepuluh tahun lagi aku bisa menjadi pengguna pedang terbaik di Archenland dan Narnia!"
"Aku tak meragukannya, My Prince."
"Baguslah… Nah, kalau aku boleh tahu, apa yang kau sudah siapkan, Queen Susan, untuk makan siang kita?"
"Aku membawa…"
"Apakah kau melihat Lucy, Sue?" potong Peter.
"Ah, tadi ia berjalan-jalan dengan Caladwen," jawab Susan.
"Sebentar lagi pasti ia akan kembali. Ia tak akan melewatkan makan siang," tambah Edmund.
"Lucy bukanlah dirimu, Edmund, yang hanya bisa memikirkan tentang makanan," seringai Peter.
Seakan tahu kalau dirinya sedang dibicarakan, sosok Lucy segera berlari menghampiri mereka dengan Caladwen berada beberapa meter di belakangnya.
'Speak of the devil,' pikir Edmund lalu menggigit roti lapisnya. Namun, saat melihat raut wajah Lucy, ia segera meninggalkan roti lapisnya itu dan menghampirinya.
"Kita harus segera pergi dari sini!" ujar Lucy dengan nafas terengah.
"Hush… tenangkan dulu dirimu, lalu ceritakan dengan perlahan alasan mengapa kau berlari seperti itu, Lue," potong Susan lembut.
"Aku tak… mereka akan menyerang kita, Sue! Kita harus segera kembali ke Anvard!" seru Lucy tak sabar.
"Mereka?"
"Calormenes! Mereka mengejarku dan Caladwen,"
"Apa yang mereka lakukan di wilayah Archenland?" tanya Susan, lebih pada dirinya sendiri.
"Susan, cepatlah kembali ke Anvard! Bawalah Prince Corin bersamamu, sekarang juga!" pinta Lucy.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan? Kau akan ikut bersamaku, benar Lue?"
Susan melihat Lucy melirik Peter dan Edmund.
"Apa… oh tidak, tidak! Kau ikut bersamaku Lucy Pevensie!" ujar Susan dengan tatapan mata yang sama dengan tatapan mata yang akan ibu mereka berikan saat ia mengetahui bahwa mereka telah berbohong.
"Kami akan memberimu sedikit waktu untuk bisa mencapai Anvard dengan selamat. Dan jangan khawatirkan Lucy, aku dan Ed akan menjaganya. Lagipula, ia tidak dinamakan Valiant Queen untuk omong kosong, bukan?" tanya Peter membela Lucy.
"Tidak, tidak, dan ti…"
"They're coming, Sue! Hurry up!" seru Edmund lalu meraih pedangnya yang terikat di ikat pinggang kulitnya.
Susan melirik ke arah hutan di belakang mereka dan melihat beberapa orang berkulit gelap dengan bersenjatakan pedang dan panah. Ia segera menarik Corin.
"Aku bersumpah akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri, Pete, Ed, jika Lucy terluka," ancamnya lalu menaiki seekor kuda dan mendudukkan Corin yang masih kebingungan di depannya kemudian memacu kuda itu kembali ke Anvard.
"Naurius, jagalah Queen Susan dan Prince Corin," perintah Peter pada salah satu Centaur yang berada di dekatnya.
"My liege," Naurius menundukkan kepalanya kemudian berlari meninggalkan mereka.
Peter meraih Rhindon, sedangkan Lucy mengambil pedangnya yang ia sembunyikan di tasnya di punggung kudanya. Lucy memposisikan dirinya di antara kedua kakak lelakinya. Ia tahu, ia akan baik-baik saja selama Peter dan Edmund berada di sisinya. Namun ia tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa jantungnya berdetak sangat kencang sekarang. Beberapa jam –tepatnya beberapa detik- kemudian orang-orang berkulit gelap menyerang mereka dari dalam hutan. Mereka kalah jumlah, Lucy menyadari itu, namun ia yakin mereka bisa mengalahkan orang-orang itu.
Tusuk, bertahan, menghindar, seakan hanya ketiga hal itu yang masih tersisa di dunia mereka saat ini. Lucy menggertakkan giginya saat melihat salah satu Calormene yang bertubuh besar menghadapinya dan tertawa.
"Apa yang bisa kau lakukan, gadis kecil?" tanyanya di sela-sela tawa yang menyembur dari mulutnya.
Lucy tidak menjawabnya. Dengan segera ia mengayunkan pedangnya, mengincar bagian bawah dari Calormene itu. Lucy bukanlah seorang pengguna pedang yang lemah, namun sudah jelas kalau Calormene yang tubuhnya dua kali lipat dari badannya bukanlah tandingannya. Dengan usaha yang tidak terlalu berarti, Calormene itu membuat Lucy kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Calormene itu mengangkat pedangnya dan Lucy memejamkan matanya, memohon belasa kasihan Aslan. Suara 'thump' yang keras membuat Lucy membuka matanya dan melihat Calormene itu kini terbaring tak bernyawa di kaki Lucy. Lucy mengangkat pandangannya dan melihat Peter dengan Rhindon di tangannya.
"Aku tak berani menghadapi kematian yang akan disebabkan oleh Susan," ujarnya lalu menarik Lucy kembali berdiri.
"Thank you," jawab Lucy, namun ia terjatuh kembali saat sosok berbulu meloncat ke arahnya.
"Caladwen!" seru Lucy terkejut.
"My Queen,"
"Apa yang…" Lucy tak melanjutkan perkataannya saat ia melihat seorang Calormene yang tersisa mengangkat panahnya dan membidiknya.
Dengan cepat Lucy membungkuk, menghindari anak panah yang melesat hanya beberapa inchi dari kepalanya, dan mengambil belatinya kemudian dengan cepat melemparkan belatinya tepat ke hati Calormene itu.
"Caladwen, apa kau baik-baik saja?"
"Keadaanku pernah lebih baik daripada ini, My Queen," Caladwen tersenyum lemah.
Lucy hanya bisa memandang Caladwen dengan sedih. Ia tahu, anak panah bangsa Calormen, yang kini menusuk punggung Caladwen, adalah anak panah beracun. Dengan tangan bergetar ia meraih botol Healing Cordial-nya dan mendekatkan botol itu ke mulut Caladwen.
"Û, hiril vuin,(1)" bisik Caladwen lalu mengulurkan kaki depannya, menjauhkan botol Healing Cordial itu.
"Avo garo am man theled?(2)" tanya Lucy, "Father Christmas telah mengatakan bahwa Healing Cordial bisa menyembuhkan berbagai…"
"Cedera," potong Caladwen, "tapi bukan yang disebabkan oleh racun," lanjutnya dengan tersenyum.
"Apakah ada yang bisa menyembuhkanmu, Caladwen?" tanya Lucy, air mata kini mengalir di pipinya. Peter yang berada di hadapannya berjongkok dan menyentuh bahu Lucy dengan lembut. Edmund yang melihat mereka segera berlari menghampiri.
"Estel flower," bisik Caladwen, "bunga yang bisa menyembuhkan berbagai cedera akibat racun apa saja," tambahnya.
"Oh, Caladwen, av-'osto(3), kau akan baik-baik saja…" ujar Lucy putus asa, ia tahu bahwa perkataannya itu tidak benar.
Caladwen tertawa lemah.
"Narnia tidak akan benar kecuali Anak Adam menduduki tahtanya," bisik Caladwen, "Agorel vae, hiril vuin(4)" matanya mulai terpejam,
"No, no, no… Caladwen, no…"
"Onen i-estel edain, u-chebin estel anim. Galu, hiril vuin, hîr vuin(5)," bisik Caladwen lalu memejamkan matanya untuk selamanya.
"Guren níniatha n'i lû n'i a-govenitham, Caladwen,(6)" bisik Lucy, membiarkan air matanya membasahi pipi Caladwen untuk terakhir kalinya.
################################################## ################################################## ###########
"Ah, Estel flower," suara Professor Cornelius menarik Edmund kembali ke realita, "mengapa aku bisa melupakannya?"
"Apakah kau tahu dimana kita bisa mendapatkan Estel flower?" tanya Peter.
Professor Cornelius berjalan kearah lemari di sebelah rak bukunya dan mengambil sebuah box kaca yang berisi bunga berwarna putih cemerlang.
"Guren glassui, Caladwen(7)" bisik Edmund.
Arti :
(1) Û, hiril vuin : No, my lady
(2) Avo garo am man theled? : Why not?
(3) Oh, Caladwen, av-'osto : oh, Caladwen, don't be afraid
(4) Agorel vae, hiril vuin : You did well, my lady
(5) Onen i-estel edain, u-chebin estel anim. Galu, hiril vuin, hîr vuin : I give hope to men, I keep none for myself. Goodbye, my lady, my lords.
(6) Guren níniatha n'i lû n'i a-govenitham, Caladwen : My heart will weep to the time when we will meet again, Caladwen.
(7) Guren glassui, Caladwen : Thank you from my heart, Caladwen
P.S : Apakah ada yang tahu, darimana nama tanaman-tanaman itu? ;)
A.N :
1. PopRockShawty : Love you too, Sam :) Aslan wanted to talk with Peter, so he wasn't appear until now…
2. atri takeuchi dan Nad Saphire Ri : Ini lanjutannya :)
3. Leavian : Maafkan sayaaa…
