Maafkan saya...
Saya kira UAS hanya akan memakan waktu 1 minggu, tapi ternyata memakan waktu hampir 1 bulan :(
Chapter ini saya dedikasikan untuk atri takeuchi dan Leavian, terima kasih banyak untuk review-reviewnya, itu sangat berarti bagi saya.
Oh, jika kalian menemukan kalimat yang aneh, check artinya di bawah ya. Kalimat itu merupakan hasil translate bebas ke Elvish ;)
Disclaimer : I own nothing, except the plot, Cuiledhwen, Cuilwen, Anor and Valeth. Please read and review :)
×Chapter 5 : Déjà vu?×
What have I done?
I wish I could run,
Away from this ship going under
Just trying to help
Hurt everyone else
Now I feel the weight of the world is on my shoulders
Knock… knock… knock…
Lucy segera beranjak dari kursi dan membukan pintu kamar. Tampak Peter dan Edmund berdiri di ambang pintu, Professor Cornelius berada di belakang mereka.
"Apakah kau berhasil membuat antidotenya, Prof?" tanya Lucy penuh harap.
Professor Cornelius hanya tersenyum.
"Well, apa lagi yang kita tunggu?" binar kembali bersinar di mata bulat Lucy, dengan sekuat tenaga ia menarik tangan Professor Cornelius, membuat pria tua itu nyaris kehilangan keseimbangan.
"Careful, my queen," ujar Professor Cornelius.
"Sorry," gumam Lucy.
Professor Cornelius tersenyum kemudian menghampiri Susan.
"How are you faring, my queen?" tanya Professor Cornelius lembut.
"I've felt so much worse, before," jawab Susan berusaha tersenyum kecil, "Apakah kau berhasil membuat antidotenya, Prof?" secercah harapan tampak di mata birunya.
"Tentu saja. King Peter, bisakah anda membantu menahan Queen Susan dalam posisi duduk?" tanpa berkata Peter menyelipkan tangannya di bahu Susan dan dengan lembut menangkatnya, kemudian menyandarkan badan Susan pada bahu bidangnya.
"Bahan apa yang kau gunakan dalam antidote itu, Prof?" tanya Lucy tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Estel flower," perlahan Professor Cornelius meminumkan antidote yang berada pada tabung kaca kecil pada Susan.
Susan merasakan matanya mulai terpejam dan tubuhnya semakin terasa berat, seolah tak ada lagi kekuatan di tubuh sang Marksman Queen. Susan membiarkan Peter menopang tubuhnya sepenuhnya, dan menyerahkan dirinya pada kegelapan yang kini melingkupinya.
"SUSAN!" seru Lucy terkejut, "Apa yang kau lakukan padanya, Prof?" tanya Lucy, kemarahan tampak jelas di wajah cantiknya.
"Shhh… It's okay, Lue," ujar Edmund, memeluk bahu Lucy dengan sebelah tangannya, seolah menahan Lucy agar ia tak mendekat ke arah Professor Cornelius dan melakakukan hal yang akan mereka sesali.
"Apa? Apa kau tidak melihat Susan tiba-tiba…"
"Akar tanaman Lasto," potong Edmund.
"Apa?"
"Akar Lasto. Setidaknya bahan itu dapat membuat Queen Susan beristirahat untuk mempercepat proses penyembuhannya," jawab Professor Cornelius, lalu berkonsentrasi menjahit luka Susan.
Dengan segera Edmund mengalihkan pandangannya kearah jendela, awan gelap yang berarak kini mulai menarik perhatiannya. Peter yang masih menahan tubuh Susan tak bisa menghentikan senyum kecil yang mulai menginvasi raut cemas mukanya.
"Apakah kau belum bisa mengatasi rasa takutmu pada jarum, Ed?" goda Peter.
"Quite, Pete!" desis Edmund, Lucy yang masih berada dalam pelukannya ikut tersenyum lalu berbisik, "Oh, our poor Eddie."
"What did you say?" tanya Peter berpura-pura tak mendengarnya.
"Stop it, Pete, Lue!"
"Aw… aku sangat menyesal belum mengatakannya pada Oreius. Ia pasti akan menuliskannya dalam sejarah Narnia. King Edmund the Just, Duke of Lantern Waste, Count of the Western March, and Knight of the Noble Order of the Table, bahkan pengguna pedang terbaik di Narnia, ternyata takut pada jarum," goda Peter.
"Dan aku yakin Valeth akan menuliskan lagu yang indah tentangnya. Dapatkah kau bayangkan bagaimana wajah Cor dan Corin saat mereka mendengarkan lagu itu, Pete?" tambah Lucy.
"Shut up! Both of you!" bentak Edmund, lalu dengan, agak, kasar membalikkan badannya dan duduk di kursi yang ada di ujung kamar kemudian melipat tangannya di depan dada dan melemparkan tatapan tajam pada Peter dan Lucy.
Peter dan Lucy saling berpandangan untuk sekejap, dan seketika itu juga tawa mereka mulai terdengar. Peter berusaha keras untuk tidak tertawa berlebihan, karena tubuhnya akan terguncang, begitu juga tubuh Susan. Sedangkan Lucy? Ia tertawa dengan sangat lebar, kedua tangannya memegangi perutnya dan air mata mulai mengalir di pipinya.
"Im mog le!(1)" desis Edmund, tanpa sadar menggunakan bahasa yang diajarkan Narnians padanya semenjak ia berusia 9 tahun.
"Oh, am man, pen tithen?(2)" tanya Peter.
"Nin gwerianneg, muindor nin,(3)"
"Mana?(4)"
"You've promise me, you wouldn't make fun of it anymore!"
"Ah, ánin apsenë, pen tithen,(5)" jawab Peter tersenyum kecil.
Professor Cornelius tersenyum, ia sadar mereka tidak tahu kalau ia mengerti apa yang mereka bicarakan. Tentu saja. Setelah ratusan tahun berada di bawah tirani Telmarine, tak akan ada yang menyangka masih ada yang bisa menggunakan Elvish, bahasa yang sudah menjadi bahasa sehari-hari bagi Narnians dan beberapa Archenlanders. Tak lama kemudian luka di tangan Susan sudah tertutup sempurna, meninggalkan segaris bekas jahitan di kulit putihnya. Professor Cornelius merapikan barang-barangnya dan kemudian beranjak bangkit dari kursi yang ditempatinya.
"Ah, kau sudah selesai, Professor," ujar Peter yang pertama kali menyadari bahwa Professor Cornelius kini sudah berdiri.
"Ya, tentu saja."
"Terima kasih Professor, kau tak tahu bagaimana ini sangat berarti bagi kami,"
"It's my honour, your majesties," jawab Professor Cornelius lalu membungkuk, "dan Queen Lucy? Mungkin anda ingin menyembuhkan bekas luka ini dan membantu proses penyembuhan Queen Susan dengan healing cordial," tambahnya seraya tersenyum pada Lucy lalu berjalan menuju pintu.
"Istan quet' Eldarin, hîr vuin, hiril vuin,(6)" bisik Professor Cornelius sesaat sebelum menutup pintu kamar, membuat Peter, Edmund dan Lucy saling berpandangan.
"He's joking, right?" tanya Edmund tak percaya.
Gemuruh petir-lah yang kemudian berbaik hati menjawab pertanyaan itu, membuat Lucy terlonjak dan kemudian menyadarkannya dari rasa tidak percayanya. Lucy mendekati Peter dan Susan, kemudian meneteskan healing cordial pada mulut Susan. Perlahan bekas jahitan yang ada di tangan Susan menghilang. Dengan lembut Peter meletakkan tubuh Susan di kasur dan menyelimutinya. Di sudut matanya ia bisa melihat Lucy duduk di ambang jendela dan memandang hujan yang turun dengan deras. Ia mengalihkan pandangannya pada Edmund yang juga memandang Lucy. Edmund menolehkan kepalanya dan mengangguk, kemudian berjalan kearah kasur dan duduk di kursi yang tadi digunakan oleh Professor Cornelius. Peter mendekati Lucy dan kemudian duduk di sebelahnya, di ambang jendela.
"Lue?"
"Apa kau merasakannya, Pete?" tanya Lucy tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hm?"
"Déjà vu?"
######################################################################################################
Setibanya Susan dan Edmund di Narnia, semua Narnians bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Susan. Saat ia tiba di Cair Paravel, ia disambut oleh hampir seluruh Narnians yang terus-menerus memanggil-manggil namanya. Namun reaksinya sama sekali tidak ada yang bisa menduga. Air mata membasahi pipi putihnya, dan dengan sisa kekuatannya ia berlari menuju kamarnya. Edmund yang berada di sisinya segera berlari mengejarnya, dan berhasil meraih lengannya.
"Let me go!" teriak Susan, nada panik tampak jelas di suaranya.
"No Susan…"
"I said, let me go!" dengan segenap kekuatannya ia mendorong Edmund kemudian berlari menuju kamarnya dan membanting pintu tepat di depan wajah Edmund.
"Susan, buka pintunya," pinta Edmund seraya mengetuk –tidak, lebih tepatnya menggedor- pintu kamar Susan.
"No…" terdengar suara isakan dari balik pintu.
"Susan…"
"Ego!(7)"
"Lá, Susan.(8) Let me in, please."
Tak ada jawaban dari dalam kamar Susan. Perlahan Edmund membuka pintunya dan menatap Susan yang kini duduk meringkuk di kasurnya.
"Sue…"
"Mengapa mereka seperti itu, Ed?" tanya Susan.
"Amin hiraetha?(9)" tanya Edmund lalu mendekati Susan dan duduk di hadapannya.
"Mengapa mereka sangat bahagia saat melihatku?"
"Kau adalah Ratu Narnia, Sue, yang…"
"Yang telah menyebabkan banyak Narnians kehilangan orang yang dikasihinya," potong Susan, lalu tertawa pahit.
"Apa yang kau…"
"Jangan berpura-pura tidak tahu!" bentak Susan, "Aku sudah melihat berapa banyak Narnians yang terbunuh diatas Splendour Hyaline. Berapa banyak yang terbunuh karenaku," lanjut Susan dengan berbisik.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Edmund melingkarkan tangannya ke pundak Susan. Merengkuhnya, dan membiarkan airmatanya membasahi bajunya.
"Aku telah membunuh rakyatku sendiri, Ed!" ujar Susan di balik bahu Edmund.
"Shh… Semua akan baik-baik saja, Sue," bisik Edmund.
"Goheno nin, goheno nin…(10)" bisik Susan berulang-ulang.
"Shh… Semua akan baik-baik saja,"
Perlahan Edmund merasakan nafas Susan mulai tertatur. Setelah beberapa saat Edmund meletakkan tubuh Susan di kasur, menyelimutinya, dan mencium kening Susan.
"Semua akan baik-baik saja, Sue, aku janji," bisik Edmund lalu berjalan menuju pintu.
Beberapa langkah sebelum mencapai pintu, Edmund memutar badannya dan berjalan kembali kearah kursi yang ada di sebelah kasur Susan. Perlahan Edmund menutup matanya.
Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba sebuah tangan menutupi mulutnya. Dengan gelagapan, Edmund berusaha meraih pedang yang terikat di pinggangnya.
"Á pusta, muindor nin,(11)" suara lembut berbisik di telinganya, membuat Edmund segera memutar kepalanya.
"Lucy! Man cerig?(12)"
"Áva quetë, Ed!(13)" desis Lucy, "Peter menunggumu di ruang kerjanya," tambahnya.
"Peter? Bukankah dia sedang pergi?"
"Well, cuaca berubah sangat buruk di tengah perjalanan. Dan mereka memutuskan untuk kembali ke Cair," jelas Lucy.
"Oh, uhm, baiklah. Tapi Susan…"
"Aku akan menjaganya, tenanglah," potong Lucy lalu mendorong Edmund keluar dari kamar Susan.
"Okay, then," jawab Edmund lalu berjalan menuju ke ruang kerja Peter.
Lucy hendak menutup pintu saat melihat salah satu faun- Cuiledhwen? Atau saudara kembarnya, Cuilwen?- berlari ke arahnya.
"Queen Lucy," sapanya lalu membungkuk.
"Ah, Cuilwen, ada apa?" tanya Lucy setelah mendengar nada panik tampak jelas di suaranya, Cuiledhwen tak pernah panik dalam keadaan apapun.
"Kami membutuhkan bantuan anda di Healing Ward sekarang juga,"
"Healing Ward? Apa yang terjadi?"
"Anor diserang oleh sekelompok hags saat kembali dari tugasnya berpatroli di utara Beruna. Ia berhasil menyelamatkan diri, namun telah kehilangan banyak darah. Saya takut…"
"Oh, Aslan! Antar aku menemuinya," potong Lucy lalu berlari ke arah Healing Ward, diikuti oleh Cuilwen di sebelahnya.
Beberapa saat setelah selesai mengobati Aron, Lucy segera kembali ke kamar Susan. Perlahan ia membuka pintu.
"Sue? Kau sudah bangun?" tanya Lucy saat melihat kasur yang tadi ditempati Susan kini sudah kosong, "Susan?"
Tak ada jawaban. Lucy melihat gorden tebal di kamar Susan melambai.
"Aneh, bukankah tadi jendela itu tertutup? Siapa orang bodoh yang membiarkan jendela terbuka di tengah badai seperti ini?" Lucy mengernyitkan keningnya, "Oh, no, Susan!" bisiknya takut.
Dengan cepat Lucy berlari ke arah jendela itu, jendela yang menghubungkan kamar Susan dengan balkon kamarnya.
"Susan!"
"Oh, hello, Lue," jawab Susan seraya menolehkan kepalanya.
"Man cerig? Turun dari sana, sekarang juga!" teriak Lucy ketakutan lalu berusaha menarik Susan turun dari tempatnya duduk di pembatas balkon.
"Ú, Lue,(14)" jawab Susan pelan seraya menggelengkan kepalanya, lalu melepaskan tangannya dari cengkraman Lucy, "Narnia akan lebih baik tanpaku," bisiknya.
"Apa maksudmu? Turun sekarang juga!" bentak Lucy, tak memperdulikan gaunnya yang kini sudah basah kuyup karena air hujan.
"Ratu macam apa yang membunuh rakyatnya sendiri? Apakah orang seperti itu masih layak dianggap sebagai ratu?"
"O man pedich?(15) Demi Aslan, Susan Pevensie! Turun dari sana sekarang juga!" pinta Lucy, ketakutan saat melihat tubuh Susan mulai berguncang dan wajah putihnya yang kini sewarna dengan gaun putih yang ia kenakan, Lucy yakin dalam sekejap Susan akan hilang kesadaran.
"Goheno nin, Lue," bisik Susan lalu memejamkan matanya.
"SUSAN!" sepasang tangan berhasil meraih tubuh Susan sebelum ia menjatuhkan diri dari balkon.
"Lue…" sepasang tangan lainnya meraih Lucy dan memeluknya kemudian membawanya kembali ke kamar Susan.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Lucy berjalan ke arah Susan dan mengganti gaun putihnya yang basah kuyup.
"Kau juga harus mengganti gaunmu, Lue. Kau bisa jatuh sakit jika kau tetap menggunakan gaun itu."
Lucy hanya menggelengkan kepalanya, dan kemudian duduk di kursi yang ada di depan jendela kamar Susan.
"Lue…" Peter berlutut di hadapan Lucy dan meletakkan tangannya di bahu Lucy yang mulai terguncang.
"Ratu yang membunuh rakyatnya sendiri?" Lucy tersenyum getir, "Aku tak akan pernah memaafkan orang itu. Demi Aslan, aku akan membunuh orang itu…"
"That's enough, Lucy Pevensie," potong Peter lalu memeluk Lucy yang kini kehilangan kuasa atas airmatanya.
"Goheno nin…" dari arah kasur terdengar igauan lemah Susan.
######################################################################################################
"Náto, Lue. Han mathon ne,(16)" bisik Peter.
"Apakah semua akan baik-baik saja?"
"Ya," jawab Peter setelah beberapa saat, "semua akan baik-baik saja."
Translate :
(1) Im mog le! : I hate you!
(2) Oh, am man, pen tithen? : Oh, why, little one?
(3) Nin gwerianneg, muindor nin : You betrayed me, my brother
(4) Mana? : What?
(5) Ah, ánin apsenë, pen tithen : Ah, forgive me, little one
(6) Istan quet' Eldarin, hîr vuin, hiril vuin : I can speak Elvish, my lords, my lady
(7) Ego! : Go away!
(8) Lá, Susan : No, Susan
(9) Amin hiraetha? : I'm sorry?
(10) Goheno nin, goheno nin… : Forgive me, forgive me…
(11) Á pusta, muindor nin : Stop, my brother
(12) Lucy! Man cerig? : Lucy! What are you doing?
(13) Áva quetë, Ed! : Be silent, Ed!
(14) Ú, Lue : No, Lue
(15) O man pedich? : What do you speak of?
(16) Náto, Lue. Han mathon ne : Yes, Lue. I can feel it too.
