Terimakasih atas review-reviewnya. Itu sangat berarti bagi saya... :)

Disclaimer : I own nothing, except the plot and one or two OCs. Please read and review :)


×Chapter 7 : The Promise of the Just

I will never let you fall
I'll stand up with you forever
I'll be there for you through it all
Even if saving you sends me to heaven

Edmund menggeliat dalam tidurnya. Dengan refleks, jemarinya menggenggam. Setengah sadar ia merasakan kehampaan pada tangan kanannya. Ia mengernyit, berusaha memfokuskan pandangan pada tangan kanannya itu. Sadar bahwa ia tak lagi menggenggam tangan Susan, ia menolehkan kepalanya dengan panik ke arah kasur.

"Sue?" panggil Edmund, sedikit panik.

Tak mendapatkan respon, Edmund mengalihkan pandangannya ke arah sosok di depan jendela. Lucy masih tampak terlelap di dekapan Peter yang tampak baru terjaga, sama seperti dirinya. Edmund membentuk bibirnya menjadi kata-kata "Apakah kau tahu dimana Susan?"

Peter menggeleng pelan. Edmund menghela nafas dan mengalihkan pandangannya pada nakas yang berada di sebelahnya. Tampak sebuah cangkir berisi cairan berwarna putih. Edmund mengerutkan kening, namun sedetik kemudian ia melihat secarik perkamen yang diselipkan di bawah cangkir tersebut. Dengan hati-hati Edmund mengambil perkamen itu dan menyapukan pandangannya dengan cepat pada tulisan yang terdapat di perkamen itu.

Beberapa saat kemudian, ia menyerahkan perkamen itu pada Peter. Seperti yang baru saja dilakukan oleh Edmund, Peter dengan cepat membaca isi dari perkamen itu. Perlahan Peter menatap Edmund. Pesan tanpa suara tertukar diantara kedua anak lelaki keluarga Pevensie tersebut. Peter mengangguk dan tersenyum kecil, memandang sosok Edmund yang berjalan menuju ke pintu kamar.

"Aku harap sejarah tidak mengulang dirinya kembali," bisik Peter tepat sebelum Edmund menutup pintu kamar.

Edmund menatap sedih pada kakak lelakinya itu dan kemudian menutup pintu kamar perlahan. Kegelapan lorong yang menyambutnya membuat Edmund mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha untuk beradaptasi.

Suara-suara samar dari arah ruang duduk yang terletak di ujung koridor membuat Edmund melangkahkan kakinya kearahnya. Sepatu lembut dari bahan kulit dan kemampuannya untuk bersembunyi dari musuh-musuhnya –yang ia pelajari dengan pengalaman buruknya- sedikit banyak membantunya berjalan tanpa menimbulkan suara.

"…kami mengetahui bahwa kau membela Narnians dan Narnia itu sendiri. Rakyat dan negeri yang sangat kami cintai," suara itu kini terdengar semakin jelas.

Susan, benak Edmund memberitahunya. Dengan masih berjalan tanpa menimbulkan suara Edmund berjalan mendekati Susan.

"Susan? Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya, berusaha agar terdengar heran.

Susan dan sosok yang duduk di hadapannya, Caspian, menyentakkan kepalanya ke arah sumber suara. Susan segera menarik tangannya yang menggenggam jemari Caspian. Namun, tak ada satu hal pun yang luput dari mata tajam Edmund. Rasa bersalah tampak terpahat dengan lembut di wajah putihnya. Namun sedetik kemudian emosi itu menghilang, kembali tertutup oleh topeng pengendalian diri Susan.

'Wrong move, muinthel nin(1)' pikir Edmund sedih.

"Oh, Ed… kau mengejutkanku, muindor nin,(2)" ujar Susan pelan.

Edmund hanya mengulaskan senyum kecil.

"King Ed…"

"Lupakan embel-embel itu, Caspian. Kita tidak sedang berada di suasana formal bukan?" potong Edmund.

Rona kemerahan tampak di wajah kecoklatan Caspian, "Forgive me…"

"Apa yang sedang kau lakukan disini, Ed?" tanya Susan.

"Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Sue?" Edmund balas bertanya, sebelah alisnya terangkat.

"Aku terbangun saat kalian semua tertidur. Dan aku tak akan mungkin tega membangunkan kalian, setelah apa yang kalian alami hari ini," Susan memandang Edmund yang kini mengangkat kedua alisnya, "Oh, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama, Ed."

"Tentu saja. Namun aku tak akan melakukan hal yang melanggar janjiku padamu. Janji yang kurasa kini juga berlaku bagimu," tambah Edmund cepat saat ia melihat senyum kemenangan terukir di wajah Susan.

"Janji?" tanya Susan bingung.

"Oh, ayolah, Sue. Jangan katakan kau sudah melupakannya. Apakah kau mau aku mengutip kata-katamu saat itu, hmm?" tanya Edmund.

"Silahkan."

"'Ed, berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah membahayakan nyawamu lagi hanya karena rasa gengsimu untuk mengakui bahwa kau terluka'. Apakah kau sekarang sudah ingat Sue?"

"Ah… janji itu… Tapi keadaanku saat ini berbeda dengan apa yang kau alami saat itu," protes Susan mengabaikan tatapan bingung yang dilemparkan oleh Caspian.

"Sejauh yang kuingat tidak begitu berbeda. Tertusuk oleh senjata musuh, check. Racun dalam aliran darah, check. Kehilangan banyak darah hingga nyaris meninggal, double check. Tidak, kurasa kita berdua mengalami kejadian yang tidak jauh berbeda," jawab Edmund seraya mengangkat bahunya.

"Dan aku rasa saat ini aku tak membahayakan nyawaku, hanya karena aku tidak berada di kasur."

Edmund hanya mengangkat alisnya.

"Saat itu kita tidak mengetahui tentang bunga Estel."

"Tetap saja…"

"Hal itu berbeda," potong Susan.

"Can we just drop it, mell muinthel?(3)" tawar Edmund.

"Dan hal itu berarti aku benar," senyum Susan.

"Ya, ya, terserah padamu, Sue," Edmund memutar bola matanya, "Dan terkadang aku mendengar orang bertanya-tanya darimana datangnya sifat keras kepalaku," tambahnya pelan.

Susan tertawa kecil, "It must be a family trait, Ed."

"Agreed," jawab Edmund lalu mengulurkan tangannya pada Susan, "Come, Sue."

"Hm?" Susan mengangkat pandangannya, menatap Edmund yang masih berdiri dan mengulurkan tangan di sampingnya.

"It's past midnight already. And I think you can use some rest to speed up your recovery.Tolo ar nin, muinthel.(4)"

"Nácë(5). Good night, Caspian. See you on morrow," ujar Susan lalu mengikuti Edmund kembali ke kamar Professor Cornelius.

"Good night, Susan, Edmund," jawab Caspian tersenyum kecil, "Rest well, milady."

"Susan," terdengar suara Peter menyapa saat Susan membuka pintu kamar.

"Peter. Bagaimana keadaanmu?"

"Really, Sue? You asked me how am I doing?"

"Huh?"

"Kau yang terluka, Sue. Bukan aku."

"Aku baik-baik saja. Sungguh," tambah Susan cepat saat melihat Peter membuka mulut untuk menanggapi ucapannya barusan, kemudian duduk di kasur. Rasa letih kembali menyerangnya.

"Le ammen medi peich gîn,(6)" potong Edmund, menghentikan perdebatan yang pasti akan terjadi di antara Peter dan Susan.

"Peich nin?(7)" tanya Susan tak percaya.

"Náto, peich Estel loth gîn,(8)" jawab Edmund lalu menghempaskan dirinya kembali di kursi yang berada di sebelah kasur Susan.

"Peich Estel loth nin? Ed, Im…(9)"

"No, Susan. You have to drink it. Again," potong Edmund, tak meninggalkan ruang bagi Susan untuk beragumentasi lebih jauh.

Tangan Edmund mengulurkan cangkir yang berada di nakas pada Susan. Susan menerima cangkir itu, mengendusnya perlahan, dan kemudian memutar bola matanya pada Edmund. Aroma pahit yang menguar tipis dari cangkir itu segera memberi tahu Susan bahan yang ditambahkan ke dalam ramuan di cangkir itu. Bahan yang kemungkinan besar ditambahkan oleh adik lelakinya itu.

"Akar tanaman Lasto? Serius, Ed, apakah kau pikir sekarang waktu yang tepat bagimu untuk membalaskan dendam padaku?"

"Yeah, well, aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar beristirahat, Sue…" ucapan Edmund terpotong oleh dengusan Peter.

"Sekarang waktu yang baik untuk membalaskan dendamnya, bukan?" tanya Peter, tak bisa meyembunyikan cengirannya.

"Kau sadar, Ed, apa yang kau lakukan sekarang sama sekali tidak adil," protes Susan, namun tetap mengangkat cangkir itu dan meneguk ramuannya kemudian memberikan cangkir itu kembali pada Edmund, "Kalian berdua akan segera membayarnya, muindir nin,(10)" bisiknya, namun tak lama kemudian kembali terlelap.

"Well, kami hanya bisa berharap kau sudah melupakan hal ini saat kau sadar nanti, Sue," ujar Edmund kemudian menyelemuti tubuh Susan.

Mata Edmund menatap sedih pada sosok Susan yang tertidur. Tatapan yang tak luput dari perhatian Peter.

"Ed, man le trasta?(11)" tanya Peter pelan.

"Uh, what did you say?"

"Nad le trasta, muindor. Han mathon ne…(12)" ucapan Peter kini merupakan sebuah pernyataan, bukan lagi pertanyaan.

"Né, nad im tresta,(13)" aku Edmund tanpa sadar.

Tiba-tiba Edmund mengangkat matanya, menatap Peter yang melemparkan tatapan prihatin padanya. Matanya melebar, seolah baru menyadari bahwa Peter sedang berbicara padanya, "It's nothing, Pete."

"Ed… apakah ini mengenai Susan?" tanya Peter pelan.

"Susan? Tidak, Pete."

"Ed…"

"Aku ingin mengambil air minum. Apakah kau ingin aku ambilkan sesuatu?" tanya Edmund, memotong perkataan Peter, seraya bangkit dari kursi yang ia tempati.

"Tidak, Ed. Tidak usah," jawab Peter.

"Baiklah kalau begitu," Edmund berjalan keluar kamar dan menutup pintu dengan perlahan.

Peter menghela nafas. Ia tak akan menekan Edmund untuk memberitahunya apa yang terjadi. Tidak untuk saat ini. Ia tahu, Edmund akan segera menceritakan segala sesuatu padanya jika Edmund sudah siap.

"Kumohon, Aslan. Jangan biarkan kami mengalami penderitaan itu sekali lagi," bisiknya seraya menatap langit.

Sementara itu, Edmund berjalan pelan menuju ke arah dapur. Ia meraih gelas dan mengisinya dengan air putih, kemudian menyesapnya dengan gemetar. Ya, gemetar. Bukan hal yang kau bayangkan terjadi pada seorang King Edmund, bukan? Setidaknya, bukan hal yang kau bayangkan setelah ia berhadapan dengan Jadis saat perang Beruna Pertama.

Edmund mengerutkan dahi. Tidak, ia tidak takut akan apa yang bisa terjadi pada dirinya. Ia takut akan apa yang bisa terjadi pada keluarganya. Terlebih pada kakak perempuannya. Edmund menyesap air minumnya sekali lagi. Berusaha untuk menjernihkan pikirannya.

Ai Aslan, apakah ia bisa mencegah sejarah terulang kembali? Edmund memejamkan matanya dengan terpaksa. Kenangan-kenangan berputar di benaknya. Namun satu kenangan tampak lebih jelas. Seolah kenangan itu baru terjadi sehari yang lalu.


Edmund menyusun dokumen-dokumen yang tersebar berantakan di meja kerjanya dengan muka masam. Demi Aslan! Hanya karena ia lebih muda daripada Peter, kakaknya itu bisa memintanya untuk melakukan hal yang tidak ia sukai. Yah, hampir semua orang di istana tahu betapa Peter sangat membenci dokumen-dokumen itu. Edmund tidak jauh berbeda dari Peter. Kau akan mengetahuinya saat engkau mengalaminya sendiri. Sejauh ini, hanya Susan, orang yang mereka kenal yang tidak membenci dokumen-dokumen itu. Peter dan Edmund beberapa kali menggodanya akan hal ini. Namun Susan hanya mengangkat bahu dan berkata, "Kau tahu, menghabiskan waktu dengan mengerjakan dokumen-dokumen ini jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu dengan para pelamar yang sombong itu."

Dan kini ia, Edmund Pevensie, the Just King, Duke of Lantern Waste, Count of the Western March, dan Knight of the Noble Order of the Table, harus berhadapan dengan dokumen yang menggunung di meja kerjanya itu. Edmund melemparkan lirikan kesal pada dokumen-dokumen itu. Teringat bagaimana Peter tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerjanya –tanpa mengetuk pintu, Edmund menambahkan dengan cemberut- dan meletakkan helaian-helaian perkamen itu di mejanya.

Saat Edmund mengalihkan tatapannya dari gunungan dokumen itu dan menatap kakak lelakinya, Peter hanya menyeringai dan mengangkat bahu. Dan sebelum ia sempat memprotes tindakan kakaknya itu, Peter sudah meninggalkan ruang kerjanya, dan mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti, "See you later… I'll come back… dinner time," dari balik bahunya.

Edmund tahu, ia tak akan bisa meminta bantuan pada Lucy. Ia bergidik saat teringat saat pertama –dan terakhir- kalinya ia meminta bantuan adik perempuannya itu. Baru sekitar setengah jam Lucy menghadapi dokumen-dokumen itu, Edmund menyadari ada tetesan darah dari hidung Lucy. Hal yang akan terjadi saat Lucy berada di bawah tekanan yang intens dan stress yang berlebihan. Namun Edmund tidak bisa menyalahkan Lucy, ia sendiri menyadari bagaimana dokumen-dokumen itu bisa sangat menimbulkan tekanan yang berat, pada beberapa waktu. Dan saat itu merupakan salah satunya.

Sedangkan Susan? Edmund mengerutkan dahinya dan secara refleks mencengkram pena bulu yang berada pada tangannya dengan erat. Kakak perempuannya itu pergi meninggalkan Cair Paravel tadi pagi, dan hanya Aslan yang tahu dimana ia berada sekarang. Sehelai perkamen yang menjadi pesan dari Susan bahwa ia akan kembali sebelum makan siang-lah yang mencegah Peter dan dirinya untuk memimpin pasukan untuk mencarinya.

Suara derap kaki kuda yang melaju di halaman Cair Paravel, di dekat jendela ruang kerjanya, membuat Edmund tersentak. Edmund menolehkan kepalanya dan menatap penunggang berkuda yang baru saja datang itu. Serta seekor kuda lainnya yang mengikuti penunggang itu. Tidak, bukan seorang penunggang kuda. Dua. Dua penunggang diatas satu salah satunya merupakan seorang gadis dengan rambut coklat gelap. Tunggu sebentar, bukankah gadis itu Susan? Dengan segera ia kembali meletakkan pena bulunya pada botol tinta dan dengan tergesa berlari menuju halaman Cair Paravel.

"Susan?" panggilnya saat ia telah menapak tangga terakhir di halaman Cair Paravel.

"Oh, Ed, hai," jawab Susan, lalu membiarkan lelaki yang menunggang kuda bersamanya untuk membantunya turun dari atas kuda.

Edmund mengernyitkan dahi. Tidak. Susan tak akan pernah membiarkan seseorang membantunya untuk menuruni kuda. Tidak pernah, kecuali… Dengan tergesa Edmund segera berjalan ke arah Susan.

"Apakah kau baik-baik saja, Sue?" tanya Edmund pelan.

"Tentu saja. Apakah…"

"Queen Susan tidak baik-baik saja, yang mulia. Saya yakin Queen Susan perlu menemui healer sekarang juga," potong lelaki yang tadi membantunya menuruni kuda.

"Tapi aku…"

"Tidak baik-baik saja. Kau harus mengakui bahwa kau tidak baik-baik saja," potong Edmund seraya melirik balutan di kedua lengan Susan, "Apa yang terjadi?" tanyanya seraya mengangkat alis.

"Wolves," jawab Susan dengan muram.

"Again? Oh, no… Jangan menjawabku sekarang," ujar Edmund dengan cepat saat ia melihat Susan membuka mulutnya, "Kau harus segera menemui Nestor, ia akan mengobati luka-lukamu itu. Please, Sue, jangan mendebatku," tambahnya.

"Baiklah, kau tahu aku tak akan pernah bisa mengatakan tidak pada mata itu," jawab Susan seraya memutar bola matanya, "Who knows, you'll be the one who mothered me after all this time."

"Yah, well… seseorang harus mengurusmu saat sifat keras kepalamu itu muncul kembali."

Susan tertawa kecil, kemudian membungkukkan badan pada lelaki yang kini berdiri di sebelah Edmund, "Thank you, milord."

Edmund bisa menangkap tatapan yang dilemparkan Susan pada pria itu. Bukan tatapan yang bisaa Susan berikan pada lelaki, atau harus kukatakan para pelamarnya. Dan hal itu menimbulkan sensasi aneh pada diri Edmund.

"You're most welcome, my lady," senyum pria itu.

Sesuatu menggelitik benak Edmund, namun bukan dalam arti yang bagus, membuatnya memiringkan kepalanya ke arah pria di sebelahnya. Edmund melihat kilatan di mata pria itu. Dan sejenak senyum pria itu nyaris tampak seperti senyum seekor pemangsa saat berhadapan dengan mangsanya. Mangsa yang sudah terpojok, dan tak akan bisa melarikan diri lagi. Edmund tak bisa menutupi menutupi gemetarnya untuk beberapa saat.

"King Edmund?" suara pria itu menarik Edmund kembali ke realita.

"Ah, yes?"

"Apakah anda baik-baik saja? Anda terlihat pucat."

"Tentu saja," senyum Edmund. Aku tak baik-baik saja, semenjak aku menangkap kilatan di matamu, tambah Edmund muram, "Nah, bagaimana kalau Firverior menunjukkan kamar tamu? Aku yakin kau pasti sangat kelelahan," tawar Edmund.

"Terima kasih, yang mulia."

"Ah, tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Bagaimanapun, kaulah yang telah menyelamatkan saudara perempuanku dari serangan serigala, yang aku yakin merupakan sisa-sisa pengikut Jadis. Maafkan aku, namun aku harus segera kembali mengerjakan dokumen-dokumen. Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu," Edmund tersenyum kemudian kembali ke ruang kerjanya, membiarkan Firverior, rubah kemerahan yang menjadi salah satu sahabatnya, untuk menunjukkan kamar tamu bagi pria itu.

Saat makan malam, Susan mengundang pria itu untuk duduk bersama di meja kerajaan, dan mengajaknya berbincang. Seperti yang ia janjikan, Peter kembali tepat satu jam sebelum makan malam, dan kini bercanda dengan Lucy yang duduk di sebelah kirinya. Sedangkan Edmund duduk dengan kaku di sebelah kiri Lucy. Matanya tak bisa berhenti menatap pria yang kini duduk di hadapannya dan tertawa dengan Susan.

Bahu Edmund menegang. Ia tak tahu mengapa ia tak bisa menyingkirkan perasaan gelisah dari benaknya. Ia tahu pria itu yang menyebabkan rasa gelisahnya. Namun ia tahu ia tak bisa memberitahu Peter tentang hal ini. Tidak jika rasa curiganya terhadap pria itu hanya karena perasaan gelisah yang ia rasakan.

Ai Susan, masalah apa yang mendatangimu kali ini, muinthel nin?

"Ed?" suara Lucy terdengar menembus pikiran Edmund.

"Ah, ada apa, Lue?"

Lucy menghela nafas dengan tidak sabar, "Apakah kau baik-baik saja, muindor nin? Kau tidak menyentuh makan malam-mu sama sekali."

"Aku baik-baik saja, Lue. Aku hanya… Peter, I'm sorry, I wish to retire right now. Aku harus segera kembali mengerjakan dokumen-dokumen itu. Ada beberapa persoalan genting yang harus segera aku selesaikan."

"Tentu saja. Silahkan, Ed," Peter bisa menangkap tatapan putus asa di mata adik lelakinya itu, "Dan jangan ragu untuk meminta bantuanku untuk menyelesaikannya."

"Sebenarnya, aku rasa aku membutuhkan bantuan Susan," jawab Edmund dengan ragu.

"Bantuanku?" Susan menatap Edmund yang mengganggukkan kepala, "Baiklah, aku akan segera menyusulmu ke ruang kerjamu saat kami selesai."

"Terima kasih, Sue. Dan sekali lagi maafkan aku," Edmund membungkukkan badannya kemudian berjalan keluar dari ruang makan menuju ke ruang kerjanya.

Edmund menatap keluar jendelanya, ke arah langit malam Narnia yang dihiasi oleh berbagai konstelasi. Ai Aslan, bagaimana caranya untuk memberi tahu Susan? Ketukan lembut di pintu ruang kerjanya membuat Edmund menolehkan kepala ke arah pintu, "Come in," perintahnya.

Susan berjalan masuk ke ruang kerja Edmund dan menatapnya dengan bingung, "Apa yang bisa kubantu, Ed?"

"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Sue," jawab Edmund perlahan, dan kemudian menceritakan segala sesuatu yang ia rasakan pada Susan. Segala rasa gelisah yang ia rasakan. Serta kecurigaannya pada pria yang menolong Susan tersebut. Namun Edmund benar-benar tidak bisa mengantisipasi reaksi Susan.

Edmund menatap Susan yang tertawa dengan rasa tak berdaya. Ia tak menyangka Susan akan menertawakannya seperti ini.

"Susan…"

"Ed, you're just being paranoia," ujar Susan di sela-sela tawanya.

"But I…"

"Look, everything will be alright, tithen muindor(14). You'll see," Susan mengerjapkan matanya kemudian keluar dari ruang kerja Edmund.

"Somehow, I doubt everything will be alright, my dear sister," bisiknya.

Tak ia ketahui, apa yang ia katakan memang akan terjadi.


Hembusan angin yang membawa harum musim panas membelai pipinya. Edmund mengerjapkan mata beberapa kali. Menatap hembusan angin yang baru saja membelai pipinya perlahan berubah menjadi sosok dryad berwarna merah muda. Pupil matanya melebar. Ini bukan pertama kalinya Edmund bertemu dengan dryad, yang notabene-nya merupakan salah satu makhluk Narnians kesukaan adik perempuannya. Namun, semua itu tak pernah berhasil membuatnya menghilangkan kekagumannya akan cara mereka merubah wujud.

"Hannon le, mellon-nen," bisik Edmund, sesaat setelah ia tersadar dari kekagumannya.

"Avo bedo o hannad, aran nin," jawab dryad itu kemudian melayang meninggalkan Edmund.

Edmund menghela nafas, kemudian tersenyum puas. Entah bagaimana caranya, setiap bagian dari hutan selalu berhasil membuatnya merasa tenang. Entah dengan gemerisik dedaunan, bisikan-bisikan lembut dari pepohonan, maupun kedatangan dryad, seperti apa yang baru saja ia alami.

"Ed? Aku mendengar kau berbicara pada seseorang?" tanya Lucy seraya mengusap-usap matanya, berusaha menghilangkan sisa-sisa kantuk.

"Oh, Lue. Ya, salah satu sahabatmu baru saja menemuiku."

"Sahabatku?"

"Para gadis bunga? Dryads?"

"Ah, dryad, tentu saja," Lucy menduduki kursi yang berada di dekat meja di dapur, di hadapan Edmund yang masih berdiri dan menggenggam gelasnya, "Namun mereka tak bisaa datang jika tak terjadi apapun," gumam Lucy lalu mendongak, menatap Edmund, "Ada apa, Ed?"

"Tidak, hanya saja…" ucapan Edmund terhenti, "Come over here, Lue."

Lucy berjalan menuju hadapan Edmund dan mengangkat alisnya. Tanpa berkata apapun, Edmund melingkarkan lengannya pada bahu Lucy, memeluknya dengan erat. Bukan kebisaaan Edmund untuk memeluk seseorang tanpa alasan. Dengan mudah Lucy menebak sesuatu pasti telah mengganggu pikiran Edmund.

Edmund menyandarkan kepalanya pada Lucy dan menghela nafas. Ai Aslan, apakah ia memiliki kekuatan untuk mencegah semuanya terjadi seperti dahulu? Edmund memeluk Lucy semakin erat, berusaha menyadarkan dirinya. Ia punya kekuatan itu. Ia bisa mencegah semuanya terjadi seperti dahulu. Ia tak akan menyerah. Tidak saat keluarganya menjadi taruhannya.

"Ed?"

"Aku tak akan membiarkan sejarah mengulang dirinya kembali. Tidak setelah apa yang kita alami," janjinya pelan pada keheningan malam.


Translate :

(1) Muinthel nin : My sister

(2) Muindor nin : My brother

(3) Mell muinthel : Dear sister

(4) Tolo ar nin, muinthel : Come with me, sister

(5) Nácë : Okay

(6) Le ammen medi peich gîn: You have to drink your potion

(7) Peich nin? : My potion?

(8) Náto, peich Estel loth gîn : Yes, your Estel flower potion

(9) Peich Estel loth nin? Ed, Im… : My Estel flower potion? Ed, I…

(10) Muindir nin : My brothers

(11) Man le trasta? : What troubles you?

(12) Nad le trasta, muindor. Han mathon ne : Something troubles you, brother. I can feel it

(13) Né, nad im tresta : Yes, something troubles me

(14) Tithen muindor : Little brother

A.N :

Atri takeuchi : Sebuah kehormatan bagi saya karena cerita ini menjadi cerita favorite-mu. Merci, mellon-nen :)

NadSfr Ri : Terima kasih dukungannya :)