Terima kasih atas review-reviewnya, follows dan favs. Itu sangat berharga bagi saya. Maaf, saya baru mengupdate cerita ini setelah beberapa lama. Entah mengapa saya tidak bisa mengakses FFN dengan menggunakan laptop selama beberapa minggu ini.

Disclaimer : I own nothing. Except the plot and one or two OCs. Please read and review :)


×Chapter 8:Petrichor (1)×

Wear my mask in silence
Pretending I'm alright
If you could see
Then you would be here
Standing by my side
Feels like I'm walking in the rain
I find myself trying to wash away the pain

Lucy membuka jendela di kamar Professor Cornelius, kemudian menjulurkan kepalanya keluar dari jendela dan menutup kedua matanya. Kedua ujung bibirnya terangkat menampilkan senyum manisnya saat petrichor menyapanya. Perlahan ia membuka matanya, mengamati keadaan sekelilingnya. Jejak air di rerumputan serta beberapa kubangan air di beberapa tempat merupakan salah satu bukti hujan deras yang turun pada malam sebelumnya. Namun sepertinya sang Ibu Pertiwi belum puas menumpahkan air matanya semalam. Awan gelap masih tampak menggelayut manja di kaki langit.

Matanya menatap sosok dengan rambut pirang kecoklatan berdiri di sebelah seekor kuda. Keheranannya semakin bertambah saat ia melihat tas perbekalan yang sudah berada di pelana kuda tersebut. Ia tak ingat Peter mengatakan bahwa ia akan pergi hari ini. Tidak, ia yakin Peter tidak mengatakan ia akan pergi saat mereka sarapan tadi pagi.

'Apakah Peter akan pergi?' batinnya sedikit takut. Tidak ia tidak takut akan kenyataan bahwa Peter akan meninggalkan mereka. Tidak, ia tak takut akan keselamatan Peter, karena pastinya kakak lelakinya itu bisa menjaga dirinya sendiri. Tidak, ia tak takut akan keselamatan Edmund maupun dirinya. Sahabat-sahabatnya, para dryads, pasti akan segera memberi tahunya jika ada sesuatu hal yang mencurigakan. Namun ia takut akan apa yang akan terjadi pada...

Lucy menggelengkan kepalanya pelan. Berusaha mengusir rasa gelisah di benaknya. Namun perasaan itu tidak berkurang, ironisnya perasaan itu malah bertambah kuat setiap saat. Lucy menolehkan kepalanya ke arah sosok Susan yang masih tertidur, berkat ramuan, bukan, bahan tambahan dalam ramuan, yang diberikan oleh Edmund. Wajah Susan tampak sangat damai. Namun Lucy tidak ikut merasakan perasaan damai itu.

Lucy mencengkram bagian dada kirinya yang tiba-tiba terasa sesak. Ai Aslan, perasaan aneh apa ini? Apa yang akan terjadi?

Perasaan aneh itu semakin menguat, saat Lucy mendengar erangan lemah dari arah sosok Susan. Setengah berlari Lucy menghampiri kakak perempuannya itu, dan meletakkan telapak tangannya pada kening Susan, berusaha mencari jejak demam, yang tak ia temukan.

Perlahan kelopak mata Susan mulai bergetar. Dengan cepat Lucy menarik tangannya dari kening Susan.

"Lue?" panggil Susan dengan suara sedikit serak, akibat dari akar tanaman Lasto pada ramuan yang diminumnya semalam.

Lucy meringis kecil, ia sudah hafal dengan efek dari akar tanaman Lasto, "Here. Just a little sip this time," ujarnya lalu mengulurkan cangkir berisi air putih pada Susan.

Susan menerima cangkir itu kemudian meneguk isinya sedikit, "Thanks, Lue."

Lucy menerima kembali cangkir itu dan meletakkannya di nakas, "You're welcome. So, how do you feel this morning?"

Susan terdiam beberapa saat, "Much better," jawabnya pelan, namun pandangannya beralih pada jemarinya yang berada di pangkuannya. Sadar bahwa Lucy masih memandangnya, dengan cepat Susan mengangkat pandangannya dan tersenyum ke arah Lucy, "Truly am…"

Lucy mengangkat alisnya tak percaya. Namun sebelum ia sempat bertanya pada Susan, pintu kamar Professor Cornelius tiba-tiba terbuka dan Peter melangkah masuk ke dalam. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Namun senyum itu tidak menyentuh kedua matanya. Lucy tak bisa menahan diri untuk tidak mengernyitkan dahinya.

"Selamat pagi," sapa Peter, berusaha agar nada suaranya terdengar ceria.

Peter melihat kerutan di dahi Lucy, kemudian mengulurkan tangannya dan meremas bahu Lucy singkat. Tatapan Peter beralih pada Susan yang kini berusaha untuk duduk di kasurnya. Dengan sedikit keraguan ia duduk di kasur, di sebelah Susan, kemudian menarik Susan kedalam pelukannya. Susan terdiam beberapa saat, namun dengan segera melingkarkan tangannya pada tubuh Peter dan membalas pelukannya.

"Pete…"

Perlahan Peter melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya tetap berada pada bahu Susan, "Aku tak akan pernah bisa meninggalkanmu sendirian dan berharap kau akan baik-baik saja, bukan?" tanyanya, membuat Susan memutar bola matanya. Senyum kecilnya terhapus perlahan dan kedua matanya memandang Susan dengan serius, "Bagaimana perasaanmu, Sue?" keprihatinan terdengar dengan jelas pada suaranya.

"Aku baik-baik saja," ujarnya, terdengar sedikit kesal, "Aku serius," Susan mengangkat tangannya dengan frustasi, saat Peter membuka mulutnya.

"Baiklah, aku percaya padamu," jawab Peter, mengangkat tangannya, memberi tanda bahwa ia menyerah.

Peter bisa merasakan tatapan Lucy yang masih terarah pada bagian belakang kepalanya. Dengan cepat ia menolehkan kepalanya untuk memandang Lucy, yang terlihat sedikit kesal. Peter mengangkat alisnya dan mulai membuka mulutnya.

"Kau akan pergi pagi ini," ujar Lucy datar, mengamati Peter dari atas ke bawah. Rhindon yang terikat di pinggang Peter menambah rasa gelisahnya.

"Well, yeah, aku dan Caspian…"

"Kau tak mengatakan apa pun padaku tadi pagi," tuntut Lucy.

"Aku tidak bermaksud untuk pergi hari ini. Setidaknya, tidak pada awalnya. Namun, beberapa saat yang lalu Balthoron kembali dari Western Woods (2), dan beberapa kekacauan sudah terjadi di sana. Bahkan kekacauan itu sudah mulai mendekati kastil. Aku rasa para Telmarines mulai mempertanyakan ketidak beradaan raja mereka. Dan sepertinya ini sudah saatnya bagi Caspian untuk kembali dan meredam kekacauan yang terjadi."

"Aku juga ingin pergi, Pete," pinta Susan.

"Tidak. Kalian akan tetap tinggal disini," Peter menatap Susan dan Lucy, memperjelas pesannya pada kedua saudara perempuannya tersebut, "Kita belum tahu kekacauan apa yang terjadi dan seberapa parah akibat dari kekacauan itu. Bahkan kita tidak tahu apakah kekacauan itu sudah berakhir atau belum. Aku tak ingin mengambil risiko," kalimat terakhirnya lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

"Tapi…"

"Sue, look at me," Peter meraih bahu Susan, memaksanya agar menatap Peter, "Segera setelah kami yakin keadaan sudah baik-baik saja, aku akan mengirimkan pesan untuk kalian. Dan kalian bisa segera menemui kami di kastil."

"Sebentar lagi akan turun hujan. Bahkan mungkin akan terjadi badai. Tak bisakah kau menunggu hingga esok hari? Atau setidaknya hingga matahari kembali bersinar?" Lucy berusaha mengalihkan topik.

Peter menatap Lucy dengan sedih, "Kurasa saat ini waktu tidak berpihak pada kita. Kita harus sesegera mungkin mengatasi kekacauan ini. Aku takut jika kita terlambat maka dampaknya akan sangat besar. Dan aku tak ingin adanya pertumpahan darah lagi."

"Siapa yang akan pergi juga, selain kau dan Caspian tentu saja?"

"Kurasa Professor Cornelius. Bagaimanapun kita belum mengetahui bagaimana sistem pemerintahan Telmar. Dan kurasa ia bisa membantu mengatasi masalah itu."

Susan dan Lucy mengangguk. Professor Cornelius adalah tutor Caspian. Dan jika ada orang yang bisa membantu Caspian, mereka yakin satu-satunya orang yang bisa membantunya mengatasi kekacauan-kekacauan ini adalah Professor Cornelius.

"Dan bagaimana dengan pengawal? Berapa banyak yang akan kau bawa?"

"Tiga cheetah dan dua atau tiga falcon sebagai regu pengintai."

"Pete, semua persiapan sudah selesai," kepala Edmund tiba-tiba muncul dari balik pintu, kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar.

"Ah, ya, thanks, Ed," Peter meraih perisainya dan mengikatkannya pada punggungnya. Tak lupa ia memasang pelindung tangan di kedua tangannya, yang diulurkan oleh Edmund.

Susan menatap kakak lelakinya itu, dan mulai membuka mulut, namun Lucy mendahuluinya, "Peter, kau melupakan baju besi-mu."

Peter tersenyum dan mengelus rambut adik termudanya itu, berusaha menenangkan Lucy yang tampak cemas, "Baju besi akan sangat menarik perhatian, bukan? Kami akan kehilangan elemen kejutan jika kami menggunakan baju besi."

"Well, ya, tapi…"

Kilatan kenakalan tampak di wajah Peter. Dengan cepat Peter mengangkat tunik coklatnya, menampakkan tunik berwarna keperakan yang memantulkan secercah cahaya yang berhasil masuk dari jendela. Susan menarik nafas terkejut, sedangkan Lucy hanya bisa memandang tunik itu dengan mulut terbuka. Cengiran mulai tampak di wajah Peter, dan tawa lembut terdengar dari arah Edmund.

"You might want to close your mouth, Lue, before you caught some insect on it," goda Peter.

Lucy, seolah tak mendengar komentar Peter, mengulurkan tangannya dan menyentuh tunik itu, "Naur o Elin," bisik Lucy kagum, "Bagaimana kau mendapatkannya kembali?"

Tunik keperakan yang digunakan Peter, Naur o Elin atau The Flame of the Stars, merupakan jalinan logam yang lebih kuat daripada besi, namun selembut sutra dan sangat ringan. Bahkan nyaris tak memiliki berat. Jalinan itu bisa dibentuk menjadi tunik, jubah, maupun helmet. Dan jalinan itu merupakan hadiah dari para kurcaci yang tinggal di hulu sungai Shribble, sebagai tanda pengabdian mereka kepada ke-Empat Penguasa Narnia. Para kurcaci itu mengirimkan tunik untuk Peter dan Edmund serta jubah untuk Susan dan Lucy. Hadiah itu mereka terima beberapa saat setelah inagurasi mereka.

Para kurcaci itu meyakinkan tak akan ada anak panah maupun mata pedang yang bisa menembus kekuatan Naur o Elin. Dan pernyataan itu terbukti telah berkali-kali menyelamatkan nyawa mereka dari saat-saat genting. Oleh sebab itu, Pevensie bersaudara selalu memakainya saat mereka mengadakan perjalanan-perjalanan mengunjungi kerajaan-kerajaan tetangga. Dan kebiasaan itulah yang kini kembali dilakukan oleh Peter. 1300 tahun setelahnya.

"Aku menemukannya di peti, di Ruang Harta Karun, di reruntuhan Cair Paravel," kesedihan tampak berkilat di mata Peter, "Dan aku rasa kita akan membutuhkannya lagi, oleh sebab itu aku mengambilnya dan menitipkannya pada Ed," Peter mengambil tas Edmund yang tergeletak di kaki kasur dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Perlahan ia membuka bungkusan itu dan mengulurkan sebuah jubah pada Lucy dan jubah yang lain pada Susan.

Jubah milik Susan dihiasi oleh sulaman benang emas berbentuk bunga daffodil dan sulur yang dihiasi oleh dedaunan. Sedangkan jubah Lucy dihiasi oleh sulaman yang membentuk daun laurel, yang merupakan signature-flower dari Lucy. Kedua mata Susan dan Lucy mengerjap dengan cepat, seolah ingin meyakinkan bahwa jubah yang diulurkan Peter ke hadapan mereka bukanlah ilusi semata.

"I assure you, dear sisters of mine, these cloaks are real," ujar Peter, saat Susan dan Lucy tak juga mengambil jubah di tangannya.

"Aku tak menyangka Naur o Elin bisa bertahan hingga saat ini," bisik Susan, lalu mengambil jubahnya, "Terima kasih, Pete."

"Terima kasih kembali…"

"Bagaimana dengan Caspian dan Professor Cornelius? Mereka tidak mempunyai Naur o Elin," potong Lucy.

Peter tertawa kecil, "Tidak. Mereka tidak mempunyainya. Namun, mereka meyakinkanku bahwa mereka sudah mengurus masalah itu. Nah, kurasa aku sudah membuat Caspian, Professor Cornelius dan para pengawal menunggu terlalu lama," Peter beranjak bangkit dari kasur.

"Ah, ya. Tunggu sebentar. Aku harus merapikan rambutku terlebih dahulu."

"Baiklah, aku akan menunggumu di depan," Peter berjalan keluar dari kamar dan diikuti oleh Lucy serta Edmund, kemudian menutup pintu kamar.

Lucy segera menarik lengan Peter yang hendak melewatinya, "Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," bisiknya.

"Tentu saja. Katakan apa yang mengganggu pikiranmu, Lue," Peter memandang Edmund melewati kepala Lucy, namun Edmund hanya mengangkat bahu.

Lucy bergerak dengan tidak nyaman, "Uh, tidak disini," jemarinya menunjuk pintu kamar.

"Oh. Baiklah, dimana…" Peter menghentikan ucapannya. Membiarkan dirinya ditarik oleh Lucy ke arah ruang duduk. Di belakangnya Edmund mengikuti dengan rasa penasaran dan khawatir.

Lucy melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Peter dan kemudian berbalik menatap Peter dan Edmund, "I'm scared," bisiknya lembut, perlahan memeluk dirinya sendiri, kemudian menundukkan kepalanya.

"Takut? Apa yang membuatmu takut?" tanya Peter.

"Aku merasakan perasaan aneh itu lagi, Pete," Lucy semakin mempererat pelukannya, berusaha menahan gemetar yang mulai menjalar pada badannya.

"Perasaan aneh? Ah…"

"Dan perasaan aneh itu semakin menguat saat aku menatap wajah Susan," lanjut Lucy, seolah tak mendengar interupsi Peter.

Ai Aslan, tidak… Peter melemparkan pandangannya ke arah Edmund. Kemarahan dan sedikit ketakutan tampak jelas di mata birunya. Edmund membalas tatapan Peter dengan pandangan sedih. Namun keteguhan tampak di wajahnya. 'Aku janji tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada kedua saudari kita, terutama tidak pada Susan' janjinya melalui pandangan matanya itu. Peter mengangguk singkat.

Peter meletakkan kedua tangannya di bahu Lucy, sedikit mengernyit saat merasakan tubuh Lucy yang gemetar, "Lue, semua akan baik-baik saja. Aku tak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Susan. Begitu juga dengan Edmund, dan aku yakin kau juga akan melakukan hal yang sama," Lucy mengangkat kepalanya, memandang Peter dan tersenyum kecil, "Namun, kumohon, jangan biarkan Susan mengetahui hal ini," pintanya lembut.

"Tak akan," janji Lucy.

"Baiklah. Kurasa sekarang saatnya kita menemui yang lain. Aku yakin mereka sudah menunggu cukup lama, dan aku mulai merasa tidak enak karenanya," Peter mengulurkan tangannya dan mendorong bahu Lucy dengan lembut.

Di belakangnya, Edmund mendengus, "Peter Pevensie? Merasa tidak enak karena membuat orang menunggunya?" tanyanya, berusaha mengangkat ketegangan yang masih menggantung di sekitar mereka.

Lucy tertawa kecil mendengar ucapan Edmund. Dan Peter tak bisa menahan cengiran yang mulai menginvasi wajahnya, "Hanya karena aku membuatmu menungguku cukup lama beberapa kali, bukan berarti aku menikmatinya."

Setibanya di depan rumah Professor, mereka melihat Susan berbincang dengan Sir Filegaran, salah satu falcon yang menjadi pengawal Peter, yang berada di lengan kanannya. Beberapa kali kernyitan tampak menghiasi wajah cantiknya. Peter yakin mereka membicarakan tentang kekacauan yang terjadi di Western Woods, mengingat bahwa Filegaran merupakan tangan kanan Sir Balthoron sang elang, yang selama beberapa hari ini bertugas menjadi regu pengintai di sekitar Owl Wood. Filegaran akan bertukar posisi dengan Balthoron yang telah menempuh perjalanan jauh dari Western Woods.

Filegaran memiringkan kepalanya, memandang ke arah Peter, menghormat dengan singkat dan kemudian mengatakan sesuatu pada Susan. Susan mengangguk kecil dan tersenyum, kemudian mengangkat lengan kanannya, membiarkan Filegaran terbang dari lengannya. Susan memutar badannya kemudian berjalan ke arah Peter, Edmund dan Lucy. Senyum kecil masih menghiasi wajahnya.

"Bertanya tentang keadaan Western Woods, ku yakin?" Peter mengangkat alisnya.

"Apakah aku harus menjawab pertanyaan retoris seperti itu?" tanya Susan.

Peter tersenyum kecil kemudian memeluk Susan, "Be careful," bisik Susan, kemudian melepaskan pelukannya pada tubuh Peter, dan menyandarkan keningnya pada kening Peter.

"I will. Take care of yourself," ujar Peter, lalu melangkah mundur dan tersenyum kecil, "And those two trouble-makers," Peter menganggukkan kepalanya ke arah Edmund dan Lucy. "Hey!" protes dari Edmund hanya membuat Peter dan Susan tertawa kecil.

Peter kemudian memeluk Lucy, "Jangan takut, semua akan baik-baik saja," bisik Peter lembut.

Lucy menganggukkan kepalanya, "Segeralah mengirim kabar saat kau tiba di kastil," pintanya.

"Tentu saja," Peter menepuk kepala Lucy dengan lembut, kemudian berjalan ke arah Edmund dan memeluknya, "Keep careful watch over them, will you?"

"You don't have to ask for it," Edmund meremas lengan Peter, "Sekarang pergilah, sebelum hujan turun dengan lebat."

Peter tertawa kecil dan kemudian menunggangi kudanya. Dari sudut matanya, Peter bisa melihat Caspian, yang sudah berada di atas kudanya, memandang Susan. Namun Susan segera mengalihkan pandangannya saat ia mengetahui Caspian memandangnya. Perasaan bingung dan sedikit sakit hati tampak di wajah Caspian. Namun perasaan itu segera hilang dari wajah Caspian, tergantikan oleh topeng pengendalian dirinya.

Apa yang dilakukan Susan tidak lepas dari mata tajam Edmund. Untuk sesaat, Edmund merasa heran, mengingat bagaimana kedekatan Susan dan Caspian tadi malam. Namun suatu pemikiran segera terlintas dalam benaknya. Tanpa sadar Edmund menghela nafas tercekat. Ai Aslan, tidak… Perlahan Edmund mendekati Susan kemudian meremas bahunya dengan lembut. Susan menolehkan kepalanya dan mengangguk singkat.

Dengan perasaan muram, Edmund memandang kakak tertuanya melambaikan tangan ke arah mereka dan kemudian memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Ketiga cheetah beserta Caspian dan Professor Cornelius berderap di belakangnya. Kedua ekor falcon yang bertugas sebagai regu pengintai membayangi mereka dari langit. Sejenak Edmund memejamkan matanya, memohon pada Aslan untuk menjaga Peter dan rombongannya. Susan menepuk bahunya pelan, kemudian menganggukkan kepalanya ke arah rumah Professor. Edmund tersenyum kecil dan memandang Susan serta Lucy yang kembali masuk ke dalam rumah.

"Glenstorm," panggil Edmund.

"King Edmund," Glenstorm menghormat singkat padanya.

"Aku akan memeriksa keadaan sekitar. Maukah kau menggantikan aku untuk menjaga Susan dan Lucy, hingga aku kembali?"

"Tentu saja, my king."

Edmund tersenyum singkat. Ia berjalan menuju salah satu kuda yang berada di dekatnya dan menungganginya, berderap menuju ke arah hutan yang mengelilingi kediaman Professor Cornelius. Edmund memandang keadaan sekelilingnya. Beberapa Talking Animals tampak berkeliaran di hutan sekitar rumah Professor Cornelius. Mereka terlihat bersikap seperti hewan pada umumnya. Namun Edmund tahu, mereka bersiaga. Kabar adanya kekacauan yang dibawa oleh Balthoron membayangi pikiran mereka.

'Ah, bukan hanya mereka,' Edmund tertawa kecil, 'kami juga merasakannya.' Merasa tak ada yang janggal, Edmund segera berbalik kembali. Keributan kecil tampak saat ia mendekati kediaman Professor. Kecemasan membayangi pikirannya, namun dengan cepat ia mengusirnya.

"Sir Balthoron!" panggil Edmund, yakin bahwa sang Elang mengetahui apa yang terjadi, "Man siniath?(3)"

Dengan cepat Balthoron segera mendekati Edmund, "Aran nin… Rien Susan, edevin eb enedhor. En ú-nandollen.(4)"

Edmund menyumpah pelan, Susan pasti mengetahui bahwa ia akan memeriksa hutan dan mengambil arah yang berlawanan dengannya. Ia yakin dengan kecerdikannya, Susan dapat dengan mudah mengelabui Glenstorm. Beberapa kali ia dan bahkan Peter menjadi korban Susan, "Manke ier sen?(5)" tanya Edmund, membawa kudanya kembali berderap menuju hutan.

"Ara ailin,(6)" jawab Balthoron singkat.

"Ara ailin?"

"Nácë. He pedich nin ú-ped i gwaith hen." (7)

Edmund mengangguk singkat, "Dartho remmirath. Tir or sen. (8)"

Balthoron mengeluarkan pekikan panjang, kemudian dengan cepat terbang ke arah hutan.

'Ai, muinthel, man cerig im eryn?(9)' batin Edmund, kemudian memacu kudanya mengikuti arah yang dituju oleh Balthoron. Balthoron membawanya mendekati danau di tengah hutan. Beberapa saat kemudian, Edmund melihat Balthoron hinggap pada dahan salah satu pohon. Mengetahui bahwa Edmund sudah berada di dekatnya, Balthoron segera turun dari dahan itu dan mendarat pada lengan yang direntangkan Edmund.

"Terima kasih, Sir Balthoron. Aku akan mengatasinya. Kembalilah ke rumah Professor dan katakan pada Lucy bahwa semua baik-baik saja," ujar Edmund pelan.

"My liege," Balthoron menghormat singkat dan kemudian kembali terbang.

Edmund menghela nafas dan kemudian mengikatkan kudanya pada pohon yang berada di sebelahnya. Perlahan ia melangkah keluar dari pepohonan dan menuju ke arah danau, matanya menyisir keadaan sekitar. Dengan mudah ia melihat rambut kehitaman kakak perempuannya yang berdiri membelakanginya sekitar 500 meter darinya. Menjaga langkahnya tidak bersuara, Edmund mendekati Susan. Nafasnya tercekat saat ia melihat bahu Susan yang bergetar.

Edmund mengulurkan tangannya, hendak menyentuh bahu Susan. Namun dengan cepat Susan berbalik, belati kecil tampak di tangannya. Edmund melangkah mundur dan mengangkat kedua tangannya. Saat mengetahui bahwa orang yang berada di dekatnya adalah Edmund, Susan menghela nafas dan menurunkan belatinya, menyimpannya kembali pada lipatan gaunnya.

"Ed… Maafkan aku… Aku pikir kau…"

"Ya?"

"Bukan apa-apa," jawab Susan sedikit kasar, dengan cepat tangannya menghapus jejak air mata di pipi putihnya.

"Susan," Edmund meraih tangan Susan dan menahan gerakannya, "Katakan padaku…" lirikan tajam dari Susan sudah cukup untuk membuatnya berpikir ulang tentang pertanyaannya, "Apa yang kau lakukan di tengah hutan seperti ini?"

Susan melepaskan tangannya dari genggaman Edmund dan mengalihkan pandangannya pada pepohonan yang mengelilingi mereka. Perlahan Susan menghela nafas, dan kembali memfokuskan pandangannya pada danau di hadapannya, "Petrichor. Kau tahu, orang bilang petrichor akan membantu menenangkan pikiranmu. Dan untuk beberapa saat aku mempercayainya," Susan tertawa lemah, "Betapa bodohnya aku. Petrichor tidak akan bisa menenangkan pikiranku. Tidak untuk saat ini. Tidak untuk masa yang akan datang."

"Susan, apa yang kau bicarakan?"

Susan membalikkan badannya, menghadap Edmund. Tatapan matanya nyaris setajam belati yang tadi berada di tangannya. Namun dengan mudah Edmund menemukan ketakutan dan kemarahan di baliknya. Hanya satu hal yang bisa membuat Susan seperti ini. Dan Edmund tahu dengan pasti hal itu. Namun, tidak. Ia, tidak akan mempercayainya. Tidak. Sebelum Susan sendiri yang mengakuinya, ia tak akan mempercayai instingnya yang sedari tadi berteriak padanya.

Edmund memperhatikan Susan yang membuka mulutnya. Namun segera menutupnya kembali. Dengan kasar Susan menjatuhkan dirinya, bertumpu pada kedua lututnya. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Edmund melangkah dan kemudian berlutut tepat di hadapan Susan.

"Katakan padaku, muinthel, apa yang terjadi?" tanyanya lembut.

Setelah beberapa helaan nafas, Susan menurunkan tangannya dan menatap Edmund. Edmund mencelos saat ia melihat kedua mata Susan. Kini hanya ketakutan yang terlihat pada mata kebiruan itu. Hanya ketakutan, tanpa ada yang menutupinya sedikitpun.

"Dia datang kembali, Ed. Dia datang dan kembali menghantuiku."


(1)Petrichor : Aroma khas yang muncul setelah turunnya hujan

(2)Kastil Miraz terletak di sebelah timur Beaver's Dam, sedangkan Beaver's Dam sendiri terletak di sekitar Western Woods

(3)Man siniath? : What happened?

(4)Aran nin… Rien Susan, edevin eb enedhor. En ú-nandollen : My king… Queen Susan, she went out into the forest. She has not returned.

(5)Manke ier sen? : Do you know where is she?

(6)Ara ailin : Near the lake

(7)Nácë. He pedich nin ú-ped i gwaith hen : Yes… She told me not to tell the others

(8)Dartho remmirath. Tir or sen : Stay on the sky. Keep watching over her

(9)Ai, muinthel, man cerig im eryn? : Ai, sister, what are you doing in the forest?

A.N 1 :

Atri takeuchi, , malaijahhat : Maaf, update-nya terlalu lama :(

PopRockShawty : Honestly, I don't remember it. I found those lyrics on my phone, and I don't know why did I save those lyrics. And I just watch a Suspian fanvid with this song, and wow... It was lovely.
But, most of all, thank you for your support. That's means a lot to me :)

A.N 2 : Untuk chapter berikutnya, saya akan mengupdate-nya setelah tanggal 7, setelah UAS selesai. Saya mohon doanya agar saya bisa menyelesaikan UAS dengan baik dan bisa secepatnya mengupdate fanfict ini :)