Update singkat...
Terima kasih atas review-reviewnya, follows dan favs. Itu sangat berharga bagi saya. Maaf, saya baru mengupdate cerita ini setelah beberapa lama.
Disclaimer : I own nothing. Except the plot and one or two OCs. Please read and review :)
×Chapter 9 : A Dark Mist From the Past, Little White Lies and Another Promise×
Because of you
I never stray too far from the sidewalk
Because of you
I find it hard to trust, not only me, but everyone around me
Because of you
I'm afraid
"Dia datang kembali, Ed. Dia datang dan kembali menghantuiku," bisikan Susan terdengar tipis terbawa oleh angin yang menari di sekitar mereka.
Untuk beberapa saat Edmund hanya terpaku. Ia sudah tahu apa yang membuat Susan ketakutan, namun mendengar Susan mengucapkannya… Ai Aslan… Untuk pertama kalinya Edmund berharap agar apa yang ia bayangkan adalah sebuah bayangan palsu. Untuk pertama kalinya ia menganggap kemampuannya untuk menebak apa yang akan terjadi –berdasarkan bahasa tubuh- telah menipunya. Untuk pertama kalinya… ia berharap bahwa ia salah.
'I've failed them, ai Aslan… forgive me…' batinnya. Perlahan Edmund mengulurkan tangannya yang gemetar dan menarik Susan ke dalam pelukannya, membiarkan air mata Susan membasahi tuniknya. "Oh, Susan, muinthel, I'm sorry," bisiknya lembut. Samar-samar Edmund mendengar suara Susan yang teredam oleh tuniknya. Ia melepaskan pelukannya dari tubuh Susan dan menatapnya, "Apa yang kau katakan, Sue?"
"Aku takut, Ed," akunya tanpa mengangkat pandangannya, "Setiap saat aku berusaha untuk memejamkan mata, aku bisa melihat wajahnya mendatangiku. Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas, seolah ia berada di dekatku… Aku tak tahu apa yang…" ucapan Susan terhenti, "Aku takut," bisiknya lirih.
"Susan…" untuk beberapa saat Edmund kehilangan kata-kata, mendengar Susan mengakui ketakutannya. Dengan susah payah Edmund menelan ludah, "Susan, lihat aku," dalam hati Edmund menghardik dirinya sendiri karena suaranya terdengar goyah, "Aku ada di sini. Peter dan Lucy ada di sini. Aslan ada di sini. Kami semua ada di sini untukmu. Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada untukmu. Jadi, kumohon, jangan takut. Semua akan baik-baik saja."
"Apakah kau berjanji?"
Edmund kembali memeluk Susan, dan memejamkan matanya. Perlahan ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian kembali membuka matanya, "Ya, aku berjanji, semua akan baik-baik saja." Edmund menghela nafas kembali, "Semua akan baik-baik saja," bisiknya, lebih untuk menenangkan dirinya daripada Susan.
Rombongan Peter mulai mendekati daerah dimana Perang Beruna Pertama terjadi. Mereka memacu kuda mereka secepat mungkin. Berharap mereka bisa sesegera mungkin menemukan tempat berlindung, mengingat cuaca buruk dan hujan, kemungkinan hujan deras, yang bisa turun kapan saja dalam waktu dekat, namun tetap ingin mencapai jarak yang sejauh yang dimampu. Semakin cepat mereka tiba di kastil, untuk kemudian segera menyelesaikan masalah para pemberontak, maka semakin baik.
Professor Cornelius dan Caspian telah memberi tahu Peter tentang beberapa pemberontakan bangsa Telmarine yang terjadi sebelum kedatangan 'Kings and Queens of Old'. Dan hal itu menambah rasa gelisahnya. Jika para pemberontak itu tahu bahwa Sue, Ed dan Lucy berada di Owlwood… Jika para pemberontak itu menemukan saudara-saudaranya… jika para pemberontak itu menemukan Susan… tanpa sadar Peter bergidik. Sadar bahwa Caspian dan Professor Cornelius memperhatikannya, Peter meraih jubahnya dan mengeratkannya pada tubuhnya. Berpura-pura bahwa gemetar yang menjalari tubuhnya disebabkan oleh angin dingin. 'Aslan… tolong jaga mereka…' doanya.
Caspian memperhatikan Peter yang berkuda tak jauh di sebelahnya. Ia memperhatikan Peter yang gemetar, dan tangannya yang segera mengeratkan jubahnya. Tidak, ia tahu bukan angin dingin yang membuat Peter gemetar. Mata tajamnya beberapa kali menangkap kedutan-kedutan kecil di pinggir bibir sang Raja Tinggi Narnia itu. Beberapa kali pula ia merasakan lirikan tajam yang dilontarkan Peter padanya, saat ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan yang mereka tuju. Ia tahu, kepercayaan yang diberikan Peter padanya tidak sebanyak kepercayaan yang diberikan oleh Susan, Edmund dan Lucy padanya. Dan mendengar apa yang dilakukan para pemberontak Telmarine itu… Caspian tak bisa menyalahkan Peter sepenuhnya. Caspian juga pasti akan melakukan hal yang sama dengannya, jika kini ia berada di posisi Peter. Caspian menghela nafas. Walaupun begitu, apa yang dilakukan Peter semakin menambah ketegangan yang masih menggantung di sekitar mereka.
"Peter," panggil Caspian setelah ia berhasil mengumpulkan kendali atas ketegangan yang mengikat erat perasaannya. Caspian berusaha menahan helaan nafas penuh kekecewaan saat ia melihat jemari Peter semakin mempererat pegangannya pada tali kekang.
"Ya, Caspian?" jawab Peter setelah beberapa saat, menolehkan kepalanya ke arah Caspian untuk beberapa saat, sebelum kembali menatap ke depan.
"Apakah… apakah semua baik-baik saja? Maksudku, aku…"
"Tentu saja semua baik-baik saja," potong Peter sedikit kasar, mengabaikan tatapan kecewa yang dilemparkan Professor Cornelius, "Mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Ah, tidak… hanya saja, kau tampak sedikit defensif. Dan aku tak menyalahkanmu, sungguh. Hanya saja…"
"Semua baik-baik saja," jawab Peter singkat.
Caspian menelan ludah perlahan, "Tis about Susan, it is not?"
Bahu Peter menegang, ia mengangkat kepalanya ke arah langit, "Sir Filegaran," panggilnya, mengabaikan pertanyaan Caspian. Filegaran mengeluarkan pekikan singkat, kemudian menukik turun mendekati Peter, "Aran-nin."
"Bagaimana keadaan di sekitar?"
"Sejauh ini baik-baik saja, Yang Mulia. Tak ada tanda-tanda sesuatu yang janggal," lapor Filegaran.
"Dan cuaca di depan?"
"Masih sama, Yang Mulia, awan gelap masih membayangi kita. Dan jika perhitungan saya tepat, kita hanya mempunyai waktu, paling banyak satu jam lagi, sebelum hujan turun."
"Apakah kau sudah menemukan tempat dimana kita bisa berlindung?"
"Sejauh ini belum ada, Yang Mulia."
"Le hannon, Filegaran. Keep watching over any uncanny thing and try to find any shelter. You are dismiss," perintah Peter. Filegaran mengepakkan sayapnya dan kembali ke posisinya semula.
Caspian kembali menatap Peter, "Peter… kumohon, aku hanya ingin membantunya. Aku tahu sesuatu telah terjadi pada Susan di masa lalu. Aku tahu hal itu telah melukainya, melukai kalian semua. Aku bisa melihat di mata kalian…"
Peter menarik tali kekang kudanya dengan cepat, menghentikan kudanya. Caspian dan Professor Cornelius juga ikut menghentikan kudanya. Peter memutar kudanya ke arah Caspian dan Professor Cornelius. Matanya memandang tajam pada Caspian. Kilatan berbahaya tampak sekilas di mata biru itu.
"Kau tahu? Kau, seorang Telmarine, tahu?" Peter mendengus, "Kuharap Talmarines telah mempelajari bagaimana cara untuk menutup mulut besar mereka. Setidaknya sebagai anggota keluarga kerajaan, aku berharap kau lebih bisa mengerti bagaimana caranya," ujar Peter tajam, "Dan kuharap kau bisa menutup mulutmu, karena kau tak tahu sedikit pun tentang apa yang terjadi pada kami saat Masa Keemasan. Tak sedikit pun," bentak Peter.
Caspian tampak sedikit terkejut mendengar ledakan kemarahan Peter, "Peter, aku hanya…"
"Kalaupun kau tahu apa yang telah terjadi, kau tak akan pernah memahaminya," tawa kecil penuh kepahitan terdengar dari mulut Peter, "Mana mungkin kau, seorang Telmarine, apapun kedudukanmu, sebanyak apapun kau telah mempelajari tentang Narnia, mengerti akan apa yang kami rasakan?"
"King Peter!"
"Toh kalian tak jauh berbeda dengan mereka," ujar Peter, seolah tak mendengar interupsi dari Professor Cornelius, "Orang-orang tanpa perasaan yang membunuh bangsa Narnia untuk kepentingan sendiri."
"Dan kukira kau telah mengerti bahwa aku tak sama dengan para leluhurku."
"Aku mengerti. Aku telah menerima kenyataan bahwa kau berbeda dengan leluhurmu, Telmarine penyelamat Narnia," senyum pahit masih terukir di wajah Peter, dengan cepat ia memutar kudanya.
"Mengapa kau membenciku, Peter?" tanya Caspian tepat sebelum Peter kembali memacu kudanya, "Apa yang telah aku lakukan padamu, pada kalian?"
"Kau ingin tahu apa yang telah kau lakukan?" Peter balas bertanya, "Kau ingin tahu apa yang telah kau lakukan? Kau membuka luka yang setelah bertahun-tahun masih menghantui kami. Saat luka itu perlahan pulih, kau hadir. Kini kau sadar apa yang telah kau lakukan, huh?"
"Aku hanya ingin membantu Susan."
"Kau ingin membantunya? Kau tahu, hanya ada satu cara untuk membantunya. Menjauhlah darinya," ujar Peter tajam, "Aku hanya akan mengatakannya satu kali padamu. Jika aku tahu kau masih mendekati Susan, well, jangan katakan aku belum memperingatkanmu. Dan aku tak akan bertanggung jawab atas apa yang akan kulakukan."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Peter kembali memacu kudanya pada kecepatan penuh, meninggalkan Caspian dan Professor Cornelius. Caspian hanya bisa terdiam mendengar apa yang Peter katakan. Tepukan ringan di bahunya kembali membawa Caspian ke kenyataan. Caspian menolehkan kepalanya ke arah Professor Cornelius yang kini berkuda di sisinya.
"Jangan kau ambil hati apa yang King Peter katakan, my prince. Ia tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak bermaksud seperti itu? Professor, kau melihat sendiri bagaimana reaksinya," ujar Caspian tidak percaya, untuk beberapa saat, ia membiarkan kemarahannya tergambar dengan jelas di mata coklatnya.
"Keep calm, my prince. Ya, ia tidak bermaksud seperti itu. Ia… hanya ingin melindungi keluarganya."
Caspian menghentikan kudanya, dan menyipitkan matanya, "Melindungi keluarganya? Professor, kau tahu apa yang sesungguhnya terjadi, bukan?"
"Secara garis besarnya, ya. Namun tidak spesifik."
"Apa yang…"
"Kurasa aku bukan orang yang tepat untuk menjelaskan apa yang pernah terjadi padamu, my prince. Apa yang terjadi bukanlah apa yang terjadi padaku, melainkan pada mereka. Aku tidak berhak untuk menjelaskannya padamu," potong Professor Cornelius.
"Dan menurutmu aku harus bertanya langsung pada mereka?"
"Tentu saja."
"Dan artinya aku tak akan pernah mengerti apa yang terjadi. Artinya aku tak akan pernah mengerti mengapa Peter membenciku dan mengapa Susan menatapku dengan penuh ketakutan saat kita berangkat tadi pagi…" ucapan Caspian terhenti saat ia melihat senyum tipis di wajah Professor Cornelius, "Apa yang…"
"Apakah kau bermaksud untuk mengatakan bahwa kau takut untuk menghadapi mereka?" tanya Professor Cornelius, senyum masih tersungging di bibirnya.
"Apa… A… aku tak berkata demikian…" jawab Caspian tergagap, ia sama sekali tak menduga pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh tutor-nya itu. Dengan cepat ia memberikan tekanan ringan di sisi tubuh kudanya, memacunya kembali pada kecepatan normal.
"Well, kalau begitu, maafkan aku. Tapi, Caspian, kau harus menanyakannya langsung pada mereka. Karena apa yang telah terjadi di masa lalu, sedikit banyak berhubungan denganmu."
"Berhubungan denganku? Apa maksudmu berhubungan dengan luka yang disebut oleh Peter tadi? Professor, aku tidak mengerti…"
"Aku tahu kau tidak mengerti," potong Professor Cornelius, "Namun aku tak bisa menjelaskannya padamu. Kau akan mengetahuinya, cepat atau lambat, jika kau benar-benar berusaha untuk mencari jawabannya."
"Thanks, Ed," bisik Susan, mengangkat wajahnya dan memandang Edmund. Edmund mengangkat jemarinya, dan menghapus jejak air mata di pipi Susan. Segaris tipis senyuman tampak menghiasi wajah cantiknya. Kenangan saat dirinya lah yang dahulu menghapus air mata di wajah Edmund, terutama pada saat-saat awal mereka tinggal di Narnia, kembali berputar dalam benaknya.
Edmund sadar apa yang ada dalam pikiran Susan. Dalam hati ia merasa kemarahannya mulai muncul. Ia benci pertukaran peran antara Susan dan dirinya. Bukan berarti ia tidak suka menjadi sumber penghiburan bagi Susan. Demi Aslan, bukan itu. Namun apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Dan bagi Edmund, hal ini seolah menjadi bukti kegagalannya. Sadar bahwa rasa marahnya tak akan membantu dalam hal apapun, Edmund memaksakan senyum di wajahnya, "Anytime, Sue," jawab Edmund lalu berdiri dan menarik Susan dengan lembut untuk segera berdiri, "Tolo ar nin, muinthel, boe ammen an nandollen. (1)"
Susan membiarkan dirinya ditarik oleh Edmund, "Iston (2). It will be raining soon," ujarnya lembut.
Edmund menghela nafas, "Kuharap Peter tidak menghadapi cuaca buruk di perjalanannya."
"Aku juga berharap begitu. Perjalanan menuju Western Woods bisa sedikit berbahaya, terutama jika hujan turun dengan deras," Susan menengadahkan kepalanya, memandang langit, "Ed, berapa lama, kau kira, hingga Peter tiba di kastil?"
"Jika cuaca mendukung, ku kira dalam empat atau lima hari, ia akan tiba di kastil. Tapi, perkiraanku berdasarkan pengalaman kita saat kita tiba di Narnia untuk pertama kalinya. Banyak yang berubah setelah 1300 tahun kepergian kita."
Langkah Susan sedikit tertatih, "Ya, banyak yang telah berubah," bisiknya lembut. Menyadari bahwa Edmund menghentikan langkahnya dan memandanginya, Susan segera memasang senyum kecil diwajahnya. "Ú-pessa os nin, Ed (3). Aku akan baik-baik saja."
"Susan…"
"Estelio nin, muîndor, (4)" pinta Susan.
Tidak Sue, kau tak baik-baik saja. Dan mengingat apa yang terjadi padamu, aku ragu kau akan baik-baik saja, bisik Edmund dalam hati. Sadar bahwa Susan masih memandangnya penuh harap, Edmund berusaha untuk tersenyum kecil, "Han le ad estelio, Susan, le chenia han (5). Hanya saja…"
"Ed… Aku bisa mengatasi hal ini saat itu. Dan aku yakin aku bisa mengatasinya juga saat ini," ujar Susan pelan, "Aku yakin…"
"Aku tahu kau bisa mengatasinya, Sue. Aku bersama denganmu saat itu. Kami bersama denganmu saat itu. Dan aku, kami, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kau mengatasinya. Namun bukan itu maksudku…"
"Ed, saes (6), aku tak ingin membicarakannya," pinta Susan.
"Baiklah. Tapi, kumohon, jangan menyimpan sendiri hal yang mengganggumu. Kau tahu kami semua ada di sini untukmu. Aku tak ingin melihat seorang Susan yang menyunggingkan senyum palsu di wajahnya," seperti pada saat itu, tambah Edmund dalam hati.
"Tentu saja."
"Apakah kau berjanji?"
"Ya, Ed, aku janji."
Translate :
1.Tolo ar nin, muinthel, boe ammen an nandollen : Come with me, sister, we need to go back
2.Iston : I know
3.Ú-pessa os nin, Ed : Don't worry about me, Ed
4.Estelio nîn, muindor : Trust me, brother
5.Han le ad estelio, Susan, le chenia han : I trust you, Susan, you know that
6.Saes : Please
