Terima kasih atas review-reviewnya, follows dan favs. Itu sangat berharga bagi saya. Maaf, saya baru mengupdate cerita ini setelah beberapa lama.
Chapter ini saya dedikasikan untuk Angga, KM yang selalu 'menagih' lanjutan cerita saya, Vyan, sang 'polisi' EYD, dan semua yang setia menunggu lanjutan kisah ini.
Disclaimer : Nay, not mine…
Please read and review :)
×Chapter 10 : The Calm before the Storm×
I remember tears streaming down your face
When I said, "I'll never let you go,"
When all those shadows almost killed your light
I remember you said, "Don't leave me here alone,"
But all that's dead and gone and passed tonight
Desahan ringan terdengar menembus heningnya suasana senja itu. Sang Ratu termuda Narnia, yang mengeluarkan desahan itu, duduk di ambang jendela dengan tampang bosan. Ia menekuk kedua kakinya dan menyandarkan kepalanya pada lengan yang bertumpu di kakinya. Matanya menatap hampa pada pemandangan di balik kaca, dimana kakak perempuannya berlatih menggunakan sepasang belati di bawah pengawasan Glenstorm. Gerakan-gerakan khas sang Ratu yang Lembut itu diikutinya tanpa benar-benar memperhatikan gerakan-gerakan yang sudah terlalu familiar baginya tersebut. Semua orang tahu, senjata pilihan Susan adalah busur dan panahnya, dan ia memang menguasainya dengan sangat baik. Namun, bukan berarti Susan tak bisa menggunakan senjata lain. 'Dan ia memang cukup baik dalam menggunakan belati', pikir Lucy. Sentuhan ringan di bahunya membuatnya menolehkan kepala dengan cepat.
"Ed… haruskah kau mengejutkanku seperti itu?" tanya Lucy seraya meletakkan tangan di dadanya, seolah berusaha untuk menstabilkan debar jantungnya.
Edmund tersenyum kecil. Namun dengan hati mencelos, Lucy menyadari bahwa senyum itu tidak tergambar di mata Edmund maupun bahunya yang masih menegang. "Maafkan aku, Lue. Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Kukira kau sudah mendengar langkahku. Atau bahkan panggilanku."
"Panggilanmu?"
"Well, yah, aku sudah memanggilmu sebanyak, kurang lebih, lima kali," aku Edmund.
"Maafkan aku," ujar Lucy pelan, mengalihkan pandangannya pada jemarinya yang bertautan, "Kurasa aku mengalami sedikit masalah dengan konsentrasi." Suara gemerisik kain kembali membuat Lucy mengangkat pandangannya. Alis matanya terangkat saat ia melihat Edmund duduk di ambang jendela, di sebelahnya, namun perhatian Edmund sudah terhanyut pada pemandangan di balik kaca.
"Kau mengkhawatirkan mereka," ujar Edmund tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mana?" (1)
"Peter a Susan. Le ieyr vîn na inaeth." (2) ulang Edmund seraya memutar kepalanya, menatap Lucy.
"Náto… Peter, caer oer dîn e gwanna. Taur hen athan e gwanna, na barad ibarth. A e têw ammen ú-telthathan,"(3) jawab Lucy pelan, "Bisa saja sesuatu yang buruk terjadi padanya…"
"Nay. Ia baik-baik saja, aku yakin itu."
"Dan Susan, ia tampak… berbeda," tambah Lucy seolah tak mendengar interupsi Edmund.
"Berbeda?" tanya Edmund, berusaha untuk menjaga suaranya tetap stabil. 'Bukan hanya aku yang merasakannya, Sue. Bahkan Lucy pun merasakan perubahan dalam dirimu,' pikir Edmund muram.
"Ya… ia seolah… ketakutan," bisik Lucy lalu meraih tangan Edmund.
'Ketakutan? Ya, tentu saja.' Edmund menundukkan kepalanya, memandang jemarinya yang kini berada dalam genggaman Lucy.
"Ed, you knew something about this, do you not?"
"Aye, I fear that I do…" bisik Edmund.
"Tell me," pinta Lucy, namun Edmund tetap bergeming, "Please, Ed."
Edmund menolehkan kepalanya, memandang Lucy, "Kau memperhatikan Susan selama ini."
"Ya, tentu saja," ujar Lucy, kebingungan tampak tergambar dengan jelas di wajah manisnya, "Namun apa…"
"Dan kau tahu sejak kapan ia berubah?" sela Edmund.
"Semenjak kita…," kata-kata Lucy terhenti, pikirannya memutar kembali saat-saat yang mereka lalui di Narnia kali ini. Susan… keraguannya tampak jelas pada saat-saat mereka tiba. Bagaimana keraguan itu mulai terganti dengan keterkejutan, dengan lirikan-lirikan yang ia lemparkan pada Peter, yang ia tutupi dengan senyuman saat mereka bertemu dengan para Narnian di Shuddering Wood. Dan bagaimana raut ketakutan tampak di wajah Susan saat Perang Beruna Kedua berakhir, yang dengan segera terganti dengan kelegaan saat ia berlutut di hadapan Aslan. Susan, apa yang… kedua mata Lucy membesar dengan ketakutan saat ia menyadari maksud Edmund, "Oh, Aslan! Maksudmu, dia… ia…"
"Ya, Lue. Mimpi buruk itu kembali hadir. Namun kali ini dalam bentuk nyata…"
"Oh, tidak… Kuharap… kuharap aku menyadarinya lebih cepat… Kuharap aku bisa membantunya lebih awal…"
"Kita tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Lue. Karena segala sesuatu pasti memiliki alasan tersendiri untuk terjadi. Namun, kita bisa mencegahnya untuk terjadi kembali," ujar Edmund, 'Seperti apa yang terjadi pada waktu itu.'
"A Peter, hon istant hen?"(4) tanya Lucy setelah terdiam beberapa saat.
"Kurasa ia sudah menebaknya…"
Tawa kecil tanpa humor terdengar dari arah Lucy, "Tentu saja. Kurasa tak akan ada yang bisa menutupi kebenaran darinya."
"Lue," potong Edmund, "Aku dan Peter tidak pernah bermaksud untuk menyembunyikan hal ini darimu."
"And yet, you did it," Edmund membuka mulutnya, namun dengan cepat Lucy mengangkat tangannya,"Tidak, maafkan aku, Ed. Aku tidak bermaksud untuk… aku, aku tahu kalian pasti memiliki alasan untuk melakukannya."
"Maafkan aku, Lue. Kurasa aku terlalu takut untuk mengatakan bahwa semuanya… kembali terulang," kedua kata terakhir diucapkannya nyaris seperti sebuah bisikan.
Sebuah suara dari arah pintu kembali menarik Edmund dan Lucy pada kesadarannya, "Erphin nin,"(5) salah satu faun, Haradion –jika Edmund tidak salah ingat-, berdiri di ambang pintu dan kemudian membungkuk. Edmund dan Lucy segera berbalik menghadapnya.
"Ah, Haradion, rise, my friend," jawab Lucy seraya tersenyum lembut, "Man siniath?"(6)
"Yang mulia, salah satu pengintai melihat seekor burung elang terbang tak jauh dari tepi hutan. Dan elang tersebut terbang dari arah barat, dari arah kastil."
"Elang? Ed," Lucy menolehkan kepalanya kearah Edmund, "Apakah mungkin…"
"Aku rasa ya. Namun kita harus tetap memastikannya," Edmund menolehkan kepalanya ke arah Haradion, "Apakah Ratu Susan sudah mengetahuinya?"
"Ya, yang mulia. Ratu Susan yang meminta saya untuk menyampaikannya pada anda, dan ia meminta agar anda segera menemuinya di halaman,"
"Ah. Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Haradion. Kau bisa kembali melakukan tugasmu," ujar Edmund lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Lucy yang kini tersenyum lebar, "Come, Lue."
Dengan cepat Lucy meraih tangan Edmund, ketidaksabaran terlukis dengan jelas diwajahnya. Namun, genggaman tegas namun lembut di tangannya membuat ia menahan diri dan menolehkan kepalanya ke arah Edmund. Edmund memandang sekeliling mereka dan menghela nafas lega saat menyadari bahwa tak ada seorang pun di dekat mereka.
"Just promise me one thing, muinthel,"(7) bisiknya, "Jangan biarkan Susan menyadari bahwa kau telah mengetahui apa yang terjadi padanya. Ia berusaha agar kau tidak mengetahuinya. Ia tak ingin apa yang dialaminya merusak semangatmu saat akhirnya kita dapat kembali ke Narnia."
Lucy menatap Edmund, "Gerich beth nîn, Ed,"(8) ujarnya sungguh-sungguh.
Senyuman kecil perlahan terlukis di wajah Edmund, "Hey," Edmund menepuk ringan pipi Lucy yang kini menatapnya dengan tatapan terkejut, "bersemangatlah, Lue. Semua akan baik-baik saja, percayalah."
"Dan kau? Apakah kau percaya bahwa semua akan baik-baik saja?" tanya Lucy pelan.
"Ya, tentu saja," Edmund mengangkat pandangannya, menatap langit melalui salah satu jendela di dekatnya, 'Demimu, Lue, aku harus percaya bahwa semua akan baik-baik saja.'
Sudah dua minggu berlalu semenjak keberhasilan Susan dan Edmund untuk kembali ke Narnia. Dua minggu semenjak usaha Susan untuk mengakhiri hidupnya dihentikan oleh ketiga saudaranya. Untuk pertama kalinya Edmund melihat Susan kembali tersenyum –walaupun Edmund masih bisa merasakan bahwa senyum itu dipaksakan- saat memasuki ruang takhta kerajaan. Dan untuk pertama kalinya, Edmund membiarkan dirinya untuk bernafas dengan lega, yakin bahwa semua akan baik-baik saja.
Suasana yang sangat tenang membuatnya tiba-tiba tersadar. Tak seharusnya ia menggoda takdir. Tak akan ada yang bisa mempercayai bahwa ketenangan hari itu hanyalah sebuah tirai panggung sandiwara. Tirai yang akan segera terangkat. Dan akan segera menampilkan kekejaman permainan takdir.
Hari itu, seperti yang telah diputuskan sebelumnya, merupakan hari dimana Raja dan Ratu Narnia akan mengadakan pengadilan atas usaha percobaan pembunuhan Susan serta penyerangan Splendour Hyaline. Pada awalnya Edmund tak menyetujui keberadaan Susan di pengadilan pada hari itu. Ia tak ingin Susan kembali berhadapan dengan penyerangnya tersebut. Namun, permintaan Susan serta hukum Narnia yang menyatakan bahwa keempat Raja dan Ratu Narnia tersebut harus berada di pengadilan untuk memberikan putusan, membuatnya kembali terdiam. Dengan berat hati ia menyetujui keberadaan Susan. Edmund melemparkan tatapan khawatir ke arah Susan yang dibalas dengan senyuman kecil. Mau tak mau, Edmund harus merasa puas bahwa saat ini Susan baik-baik saja.
Lord Peridan berdiri dengan tangan berada di pedangnya tak jauh dari takhta. Bahunya sedikit menegang saat ia melihat Susan memasuki ruang takhta. Rasa bersalah masih membayanginya. Rasa bersalah karena ia tak bisa melindungi Susan dengan lebih baik lagi. Ia memejamkan matanya dan mengambil napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Untuk saat ini, usahanya berhasil.
Sesaat setelah Susan menduduki takhtanya, beberapa pengawal membawa penyerang Susan tersebut ke ruang takhta dan membuatnya berlutut di hadapan Raja dan Ratu Narnia. Kedua tangannya terikat di depan tubuhnya, namun tak ada rasa gentar yang tampak di wajah lelaki itu. Ia mengangkat kepalanya dan melemparkan seringai pada Raja dan Ratu Narnia tersebut. Susan segera membuang mukanya. Seringai itu kembali membuat tubuh Peridan menegang.
"Sebelum pengadilan ini dimulai, apakah ada yang ingin kau katakan?" suara Peter memecah keheningan ruang takhta tersebut.
Lelaki itu mengeluarkan tawa kecil, "Jika kalian kira semua ini sudah berakhir," ia mengarahkan pandangannya ke arah Edmund, "kalian salah besar. Semua baru saja dimulai," lelaki itu kembali mengeluarkan tawanya.
Dengan refleks jemari Edmund meraih pedangnya, "Apa maksudmu?" desisnya.
Lelaki itu tertawa dan mengulang perkataannya, "Semua baru saja dimulai, Raja Edmund. Apakah sebegitu sulitnya bagimu untuk memahami pernyataan sederhana seperti itu? Haruskah kuulang kembali dengan bahasa Elvish?" tanyanya sinis.
"Kau…"
"Ed, farn! Hon teilio rúth lín,"(9) Peter memotong perkataan Edmund.
"Û-teilio rúth dîn, aran Peter. Im naren i thand,"(10) ujar lelaki itu tenang.
Perkataan lelaki itu membuat para Narnian menegang. Tidak banyak yang mengetahui bahasa Elvish. Hanya para Narnian dan keluarga kerajaan Archenland yang mengetahuinya. Dan fakta bahwa lelaki itu bukanlah keduanya, namun ia dapat berbicara menggunakan Elvish dengan sangat lancar sangat mengejutkan mereka.
"Let the game begin," ujar lelaki itu lembut, dan tak berselang lama, beberapa anak panah mulai menerobos masuk melalui jendela yang terbuka.
"Ed, berio Susan a Lucy! Togo hain nan bendrath. Berio hain!"(11) perintah Peter yang kini menunduk, menghindari anak panah yang mengarah padanya.
Edmund berlari menuju Susan, yang menunduk dan mendekap Lucy yang tampak masih terguncang dengan serangan tiba-tiba itu, sebelum Peter menyelesaikan kalimatnya dan membawa mereka menuju ke tangga tersembunyi, yang akan membawa mereka menuju ruang bawah tanah Cair Paravel.
Susan tiba-tiba tersadar, "Ed, berhenti. Aku bisa membantu mereka," Susan berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Edmund saat mereka sudah setengah jalan menuju tangga tersebut.
"Dan membiarkanmu terbunuh? Tidak, Sue. Kau ikut denganku," bentak Edmund, konfrontasinya dengan lelaki tadi masih membuatnya marah, ia setengah menarik Susan dan Lucy agar mengikutinya.
"Ed!"
Edmund menghentikan langkahnya dan memutar badannya menghadap Susan dengan cepat, "Tidakkah kau sadar, kau adalah target utama dalam penyerangan ini, Sue! Mereka tidak bisa melupakan fakta bahwa kau –kita- berhasil melarikan diri dari cengkraman mereka. Dan mereka ingin membalaskan dendam mereka atas pelarian kita."
"Dan itu semakin menguatkan alasanku untuk kembali dan membantu Peter."
"Demi Aslan, Susan! Bisakah kau sekali saja mendengarkanku? Bisakah sekali saja kau berhenti membahayakan nyawamu?!"
"Aku akan menyerahkan nyawaku dengan suka rela jika itu bisa membantu melindungi keluargaku dan Narnia," desis Susan, "A pylin beriad anim!"(12) dengan sekali hentakan ia menarik tangannya dan berlari kembali ke ruang takhta.
Edmund mengerang melihat Susan yang berlari menjauhinya, namun ia teringat akan Lucy yang masih berada di sisinya, "Lucy, lasto beth nîn, aníran noro gin nan bendrath. Aníran gin dartho ennas,"(13) pintanya.
"Dan Ed…"(14)
"Lue, kumohon, untuk sekali ini saja. Aku tak akan sanggup jika melihatmu dan Susan terluka," potong Edmund.
Lucy menghela napas, "Baiklah," bisiknya lalu meraih tangan Edmund, "Kumohon, pastikan Susan baik-baik saja."
Edmund memejamkan matanya, "Ya."
Lucy menganggukkan kepalanya lalu berlari menuju ruang bawah tanah. Edmund menatap punggung Lucy yang menjauh dengan nanar, namun ia segera membalikkan badan dan berlari kembali ke ruang takhta mengejar Susan.
Pemandangan yang menyapa Susan ketika ia tiba di ruang takhta bukanlah pemandangan yang menyenangkan. Beberapa prajurit Narnia tampak tergeletak di lantai dengan genangan darah di sekitar mereka. Entah mereka masih bisa menghela napas atau tidak, Susan tak dapat dan tak sempat untuk memastikannya. Seseorang dengan pakaian serba hitam menghadang jalannya, orang itu menyeringai saat menyadari lawannya adalah seorang wanita, dengan cepat Susan mengeluarkan belati kembar yang ia sembunyikan di lipatan gaunnya. Sang Ratu yang Lembut itu memutar badannya, menghindari serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh orang itu. Orang itu menggeram, kembali mengangkat pedang dengan kedua tangannya, dan mengayunkan pedang itu ke arah kepala Susan dengan cepat. Susan mengangkat kedua belatinya, bertemu dengan pedang itu dan berusaha untuk menahan tekanan yang berasal dari pedang yang ia tahan dengan belatinya.
Melihat tangan Susan yang mulai gemetar, orang itu kembali menyeringai. Susan tahu, lengannya tak akan mungkin bisa menahan tekanan lebih lama lagi. Namun, untuk membebaskan dirinya, Susan harus memutarkan belatinya dan berharap orang itu tidak bergerak cukup cepat untuk mengenainya segera setelah senjata mereka terpisah, kemudian bergerak menjauh. Mengambil risiko setidaknya lengannya akan tersayat jika ia kurang cepat untuk melompat dan berputar, Susan memutar belatinya dan bergerak untuk membebaskan diri. Saat ia bergerak, seperti yang ia takutkan, pedang orang itu mengenai lengannya, meninggalkan luka panjang. Orang itu menyeringai, melihat darah yang menetes dari lengan Susan. Susan menggigit bibirnya, berusaha menahan erangannya.
"What is it, the Queen of Narnia caught off her guard?" ejek orang itu.
Tanpa menjawab, Susan memutar badannya dan kembali mengangkat belatinya untuk menerima serangan berikutnya. Orang itu kembali mengayunkan pedangnya, memaksa Susan untuk bergerak mundur. Susan tahu, bagaimanapun lelah yang ia rasakan, ia harus segera mencari jalan lain untuk membabaskan dirinya dari perangkap ini. Pekikan kesakitan dari Peter membuat Susan mengangkat kepalanya, berusaha mencari keberadaan Peter. Namun, usahanya itu nyaris membuatnya kehilangan nyawanya. Pedang orang itu nyaris mengenainya, dan Susan harus melompat mundur di saat-saat terakhir. Segera orang itu mengayunkan pedangnya kembali dan Susan dengan cepat berputar ke belakang orang itu. Susan menendang bagian belakang dari lutut orang itu, membuat orang itu terjatuh, dan menghantam bagian belakang kepala orang itu dengan bagian pangkal belatinya, membuat orang itu tak sadarkan diri.
Saat Susan hendak berlari mendekati Peter, seseorang meraih pinggangnya, dan dengan cepat memutar badan Susan. Napas Susan tercekat saat ia menatap penyerangnya tersebut.
"Kau…"
Sesuatu yang tajam membentur pinggang Susan. Tanpa sadar, erangan lirih terdengar dari mulutnya, saat ia menyadari sebuah anak panah kini tertancap di pinggangnya. Menggigit bibir bawahnya, Susan dengan cepat mencabut anak panah itu. Mengucapkan terima kasih dalam hati, saat ia melihat mata anak panah itu masih berada di tangkainya, ia menjatuhkan anak panah itu.
Lelaki itu memutar badannya, menghadap ke arah para pemanah yang masih berada di jendela ruangan takhta, dan mengangkat tangannya, "Sharûk globûrzu!"(15)
Lelaki itu kembali menghadap Susan, "My, my… I thought I've told those idiotic soldiers not to harm you, my queen. But, what can you expect from those dim-witted men?" seringainya, memperhatikan darah yang terus menerus mengalir dari pinggang Susan.
Susan memicingkan mata dan menggigit bibirnya, berusaha mengangkat belatinya. Namun lelaki itu dengan cepat mengangkat tangannya dan mencengkram pergelangan tangan Susan, menahannya di udara.
"Kukira kau lebih pintar dari mereka, Gentle Queen, untuk tidak berusaha menyerang orang yang kau tahu memiliki kemampuan yang jauh lebih baik daripada dirimu sendiri," lelaki itu memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya.
"Dan saat kau kira kau lebih pintar dari mereka, kau tetap membawa mereka untuk menyerang Cair Paravel," jawab Susan.
Lelaki itu menghela napas, "Apalagi yang bisa kulakukan, bukan aku yang meminta untuk membawa mereka. Namun, yah, well, tak kusangka akhirnya akan seperti ini," lelaki itu memiringkan kepalanya, memperhatikan ruang takhta yang kini berhiaskan darah, "Sepertinya mereka lebih baik daripada yang kukira selama ini."
"Lepaskan aku…" desis Susan.
Lelaki itu mengeluarkan tawanya, namun dengan segera tawa itu hilang, digantikan dengan kilatan kekejaman di matanya dan rahangnya yang mengatup dengan erat, "Dengarkan aku, nikmatilah saat-saat terakhir kekuasaanmu dan saudara-saudaramu di Narnia. Karena cepat atau lambat akan kubasuh tanah ini dengan darah rakyatmu," Susan berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkaraman lelaki itu, namun lelaki itu segera mengeratkan cengkramannya, "Dan semua akan tahu. Semua jiwa di Narnia, Archenland, bahkan di Lone Islands, akan tahu bahwa semua ini terjadi karena kebodohanmu, RatuSusan yang Lembut."
Tanpa disadari Susan, tubuhnya gemetar, "Kukatakan padamu untuk terakhir kalinya, lepaskan aku…"
"Ah, ah, ah… Api itu kembali datang. Dan kau tahu, api itulah yang dahulu membuatku tertarik padamu. Api yang menyala di atas kebekuan topeng yang selalu kau kenakan. Namun kini aku bertanya-tanya… apakah api itu bisa menolong Narnia kali ini?"
"Jangan remehkan kekuatan Narnia maupun Aslan…"
"Aslan? Aslan! Dan dimana ia sekarang berada, hmm?" potongnya, "Jika ia memang sangat berkuasa seperti yang selama ini kalian percayai, seharusnya ia sudah berada disini sedari tadi. Kau tahu, untuk mencegah para Narnian itu mati? Yah, sepertinya ia memang tidak sehebat yang kalian kira."
"Diamlah atau…"
"Atau apa, my queen? Kau akan membunuhku dengan tanganmu sendiri? Kupikir tidak," lelaki itu memicingkan matanya, menatap mata Susan dalam-dalam, "Sudah waktunya bagiku untuk pergi. Dan kurasa aku tak akan melihatmu lagi untuk waktu yang cukup lama, Susan, dear," seringai lelaki itu,"Maka, biarkanlah aku mengucapkan salam perpisahan dengan layak," dengan cepat lelaki itu meraih dagu Susan dan menciumnya.
Secepat lelaki itu meraihnya, secepat itu pula lelaki itu menghentikan ciumannya dan berlari menuju salah satu jendela. Melemparkan seringai pada Susan yang masih terpaku, lelaki itu kemudian meloncat, melarikan diri bersama dengan pengikut-pengikutnya yang masih tersisa.
Melihat para penyerang itu melarikan diri, Edmund segera melumpuhkan lawannya, dan berlari mendekati Susan yang berdiri dengan diam. Belati yang berada di genggaman Susan terjatuh dengan suara berdenting saat menyentuh lantai marmer. Sayup-sayup terdengar suara Peter memberikan perintah pada Jendral Oreius untuk mengejar orang-orang itu dan Lord Peridan untuk segera memanggil para healer. Edmund meraih bahu Susan dan memutarnya. Edmund bisa melihat luka di lengan Susan maupun darah yang mengalir di pinggangnya, namun ia merasa sesuatu yang lebih buruk telah terjadi pada Susan.
Edmund merobek jubahnya, menekankan kain itu pada luka di pinggang Susan dengan sebelah tangannya, "Sue, kau baik-baik saja?" tanya Edmund, sedikit panik saat ia melihat tatapan Susan yang kosong dan bahunya yang mulai berguncang, "Sue, lihat aku! Susan!" Edmund meraih wajah Susan, memperhatikan pandangan Susan yang, entah mengapa, masih tidak terfokus padanya. "Susan… apa yang terjadi?"
Kepanikan tiba-tiba tampak jelas tergambar di wajah Susan, "Tidak… lepaskan aku!" dengan cepat ia berusaha melepaskan dirinya dari Edmund, "Leithio nin!" (16)
"Susan, ini aku, Edmund!" dengan susah payah Edmund berusaha menahan Susan.
"Ed?" tanya Susan tak yakin dengan suara kecil.
"Ya, Sue, ini aku…"
"Dia… Narnia… Narnia akan… Oh, Aslan… Maafkan aku… Narnia…" tanpa ia sadari, air mata sudah mengalir di pipinya.
"Susan," menyadari bahwa Susan kembali mengalami kepanikan, Edmund menepuk pipinya, membuat Susan mengerjapkan matanya beberapa kali, "Ayo, kuantar kau menemui healer, Sue. Luka bekas anak panah itu tampak parah," ujarnya mengalihkan pembicaraan, sekali lagi merobek kain dari jubahnya kemudian mengikatkannya pada luka Susan, setelah itu dengan cepat melingkarkan lengannya di pinggang Susan dan mengarahkannya menuju ke healing ward.
Tanpa bersuara, Susan membiarkan Edmund menuntunnya menuju healing ward. Setibanya di healing ward, yang kini sudah mulai dipenuhi oleh Narnian yang terluka, Edmund membawa Susan ke bagian belakang healing ward, dimana ruangan khusus bagi keluarga kerajaan yang membutuhkan pertolongan medis berada. Setelah mendudukkan Susan di salah satu tempat tidur, Edmund berbalik untuk memanggil Nestor, salah satu healer yang bertugas untuk merawat Raja dan Ratu Narnia. Namun, Susan meraih pergelangan tangannya dan menahannya, membuat Edmund menolehkan kepalanya dan mengangkat alisnya.
"Lucy," bisik Susan.
Dalam hati Edmund merutuki dirinya karena melupakan Lucy, "Aku akan mencarinya," ujarnya, menatap Susan yang kembali terdiam, lalu meninggalkan ruangan itu. Seperti yang ia perkirakan, Edmund menemukan Nestor di dekat ruang penyimpanan tumbuhan obat-obatan, "Nestor."
"RajaEdmund," faun itu membungkukkan badannya, "Bagaimana keadaan anda? Apakah anda baik-baik saja? Apakah darah itu…"
"Nestor, aku baik-baik saja," potong Edmund, "Namun tidak dengan Susan. Darah ini adalah darah Susan. Salah satu dari orang-orang itu berhasil melukai lengannya dan memanah pinggangnya, namun aku tak yakin seberapa parah lukanya."
"Baiklah, saya akan segera menemui RatuSusan."
"Dan, Nestor, bisakah kau memberikan sesuatu padanya? Kurasa ia saat ini ia masih sedikit panik dan terguncang."
Nestor mengangkat sebelah alisnya, "Baik, RajaEdmund."
"Aku harus mencari Lucy terlebih dahulu, setelah itu aku akan kembali."
Nestor membungkukkan badannya, kemudian segera menuju ruangan Susan, setelah mengumpulkan obat-obatan dan peralatannya. Ia mengetuk beberapa kali, namun tak terdengar jawaban Susan yang memperbolehkannya masuk. Nestor perlahan membuka pintu, meletakkan obat-obatan dan peralatan yang dibawanya di meja sebelah tempat tidur dan memeriksa keadaan Susan yang masih menatap dinding ruangan dalam diam.
"RatuSusan? Apakah anda baik-baik saja?"
Susan tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mendengar pertanyaan Nestor maupun merasakan jemari Nestor yang memeriksa denyut nadi di pergelangannya. Nestor menatap Susan beberapa saat, memperhatikan pupilnya yang melebar dan tatapannya yang kosong, dan mulai memeriksa lukanya.
Mengucapkan terima kasih dalam hati saat ia menemukan tak ada tanda-tanda adanya racun di luka tersebut, Nestor mulai membersihkan luka itu, dan kemudian mengulurkan cangkir yang berisi ramuan obat-obatan pada Susan.
"Untuk mengurangi rasa sakit dan perdarahannya, my queen," ujar Nestor.
Tanpa berkata apa-apa, Susan mengangkat cangkir itu dan meneguknya. Tak lama kemudian, tubuh Susan mulai melemas. Nestor menghela napas, berjanji akan mengatakan pada Susan bahwa itu adalah ide Edmund, dan mulai menjahit luka Susan. Baru saja Nestor selesai membalut luka Susan, Edmund masuk ke ruangan dengan Peter dan Lucy mengikutinya. Mata Nestor memperhatikan Peter, mencari tanda-tanda adanya luka. Peter yang menyadari tatapan Nestor mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepala, meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Susan?" pertanyaan Lucy membuat Nestor mengangkat pandangannya ke arah Lucy dan mengulaskan senyum.
"Ratu Susan baik-baik saja, yang mulia."
"Berapa lama lagi ia akan sadar?"
"Saya rasa paling cepat nanti malam ia akan sadar."
"Nanti malam?"
"Ya. Kepanikan yang saya rasa memicu traumanya membuat tubuhnya akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menetralisir efek akar tanaman Lasto."
"Ah, baiklah kalau begitu. Aku harus kembali dan mulai melakukan penyelidikan kasus ini. Dan kurasa Lucy bisa membantu healer yang lain untuk mengobati para prajurit. Dan Ed…"
"Aku akan menemani Susan disini. Setidaknya sampai ia sadar," ujar Edmund.
"Baiklah. Ayo, Lue…" Peter keluar dari kamar diikuti oleh Lucy dan Nestor.
Setelah Nestor menutup pintu ruangan itu, Edmund menjatuhkan dirinya ke kursi di sebelah tempat tidur Susan. Edmund mengerang dan mengusap wajahnya dengan letih, jemarinya meraih jemari Susan dan meremasnya.
"I'm sorry, Sue…" bisiknya, "I've let that animal hurt you again,"
Entah berapa lama Edmund duduk di sisi Susan, memandang dinding di hadapannya dengan tatapan kosong, dan merutuki dirinya dalam hati. Sebuah erangan tiba-tiba menarik perhatiannya kembali pada Susan.
"Sue?" panggilnya lembut, menyentuh pipi Susan, "Bangunlah, Susan…"
Mendengar panggilan itu, Susan membuka matanya. Namun, cahaya lilin yang berada di meja sebelah tempat tidurnya kembali membuatnya memejamkan matanya dengan erat. Setelah beberapa saat, ia perlahan kembali membuka matanya. Mata coklat yang diwarnai dengan rasa lega segera memenuhi pandangannya.
"Ed?" tanyanya parau, berusaha untuk duduk.
Edmund menyelipkan lengannya di bahu Susan, membantunya duduk, "Ya, ini aku, Sue. Bagaimana keadaanmu?" tanya Edmund, mengulurkan secangkir air padanya.
Susan meneguk air itu, dan mengembalikan cangkirnya pada Edmund, "Aku… apa yang…" semua kejadian yang terjadi hari itu kembali menerjang pikirannya, "Oh Aslan… apa yang sudah kulakukan?" bisiknya seraya memejamkan matanya.
"Susan? Susan, apa yang…"
Susan membuka matanya yang mulai dihiasi oleh air mata dan menatap Edmund, "Dia akan kembali, Ed…" potongnya. "Dia akan kembali dan menghancurkan Narnia… Dan itu semua akan terjadi karena… kebodohanku… Oh, Ed, apa yang harus kulakukan?" kepanikan kembali mewarnai suaranya.
Edmund mengulurkan tangannya, menarik Susan yang kini mulai tersedu ke dalam pelukannya, "Shh… semua akan baik-baik saja, Sue."
"Tidak, Ed! Dia… dia…"
"Apakah kau percaya padaku, Sue?" potong Edmund, Susan mengangguk di dalam pelukannya, "Maka percayalah padaku, kita akan mengatasinya. Aku janji, semua akan baik-baik saja."
"Don't leave me here alone, Ed," pinta Susan, "please."
"I'll never let you go," bisik Edmund, "I promise."
"Ed… Ed. Are you alright?" pertanyaan penuh kekhawatiran yang dilontarkan oleh Lucy kembali menariknya ke alam sadarnya.
"Eh, uh… maaafkan aku, Lue. Aku baik-baik saja," jawaban Edmund hanya menghasilkan tatapan tak percaya dari Lucy, "I think I zoned out for a bit."
"Kau tahu, kau bukanlah pembohong yang ulung, Ed."
"It just… so calm," ujar Edmund akhirnya, "It's like the time is brooding, just waiting for something to happen."
"I know," Lucy meremas ringan jemari Edmund, "I hope everything would be alright."
Edmund memejamkan matanya, 'No, Lue, I do not think it would be alright at the end of the day.'
Translate :
(1)Mana : What?
(2)Peter a Susan. Le ieyr vîn na inaeth : Peter and Susan. You're worried about them.
(3)Náto… Peter, caer oer dîn e gwanna. Taur hen athan e gwanna, na barad ibarth. A e têw ammen ú-telthathan : Yes… He's been away for over a week. He left this forest into the vile part of this land. And he has not sent a letter to us.
(4)A Peter, hon istant hen? : And Peter, does he know about this?
(5)Erphin nin : Your majesties
(6)Man siniath? : What news?
(7)Muinthel : Sister
(8)Gerich beth nîn, Ed : You have my word, Ed
(9)Ed, farn! Hon teilio rúth lín : Ed, enough. He's playing with your emotion.
(10)Û-teilio rúth dîn, aran Peter. Im naren i thand : No, king Peter. I tell you the truth.
(11)Ed, berio Susan a Lucy! Togo hain nan bendrath. Berio hain! : Ed, protect Susan and Lucy! Lead them to the stairway. Protect them!
(12)A pylin beriad anim! : And I can protect myself!
(13)Lucy, lasto beth nîn, aníran noro gin nan bendrath. Aníran gin dartho ennas : Lucy, listen to me, I want you to run to the stairway. I want you to stay there.
(14)Dan Ed… : But Ed…
(15)Sharûk globûrzu! : Stupid men!
(16)Leithio nin! : Release me!
