~Be My Sweet Darling~

KyuMin

YAOI

^^ Happy Reading ^^

Desclaimer : Kyuhyun milik Sungmin, Sungmin milik Kyuhyun, Kyuhyun dan Sungmin milik TUHAN juga kedua orang tuanya. kalau Cerita ini adalah asli hasil pemikiran dari otak yadong saya.

WARNING : TYPO(S) / YAOI / BL/ No NC for this Chap

DONT LIKE DONT READ, OKEI ^^

.

Jika berantakan mohon maaf, karena tanpa editan -_-

.

.

.

Chapter 8

.

Setelah kepulangan Kyuhyun dan Sungmin dari rumahnya, hatinya menjadi begitu damai dan tentram. Senyum tak pernah lepas dari bibir tua-nya. Matanya tak berhenti untuk menunjukan kebahagiaannya. Oh… ayolah, siapa yang tak senang di kujungi oleh anak yang sudah lama tak ia peluk? Hanya orangtua bodoh yang tak senang jika anaknya mengunjunginya. Apalagi membawa kebahagiaan. Kesembuhan untuk istrinya.

"Kau membaik yeobo~" Ucap tuan Cho tepat di depan kursi roda sang istri. Membungkukkan tubuhnya.

Eomma Kyuhyun tersenyum. Mengisyaratkan ia benar-benar bahagia. "Kau mau duduk di sofa? Aku akan membantumu." Tanya tuan Cho lembut dan di balas anggukan antusias dari sang istri.

Dengan perlahan dan sangat berhati-hati, tuan Cho mulai mengangkat tubuh rapuh itu dari kursi roda. Membawanya mendekat ke sofa ruang TV dan mendudukan tubuh rapuh itu secara perlahan.

"Kau tau…. Kau menjadi sangat berat setelah lama aku tak menggendongmu, yeobo." Canda Tuan Cho pada sang istri dan ia langsung terkekeh setelah menaruh sang istri di sofa.

Nyonya Cho hanya bisa tersenyum penuh arti. Ia mendengar, ia bahagia, dan ia sangat ingin bisa sembuh. Mengingat betapa ia ingin sekali mengajak Sungmin bicara, tertawa dan saling berbagi cerita.

"Aku tidak pernah melihat Kyuhyun sekeras tadi selain pada kameranya. Apa kau merasakannya yeobo?"

Nyonya Cho mengangguk perlahan.

"Sepertinya, Sungmin sangat berarti untuk Kyuhyun. Apa kau akan merestuinya, walaupun mereka sesama lelaki?"

Nyonya Cho mengangguk dan tersenyum.

"Ahh…sepertinya aku harus mengikuti apa yang sudah jadi pilihanmu." Ucap tuan Cho pasrah. "Oya, apa kau mau menonton sesuatu? Seperti reality show?"

Nyonya Cho mengedipkan matanya. "Baiklah…kita cari acara yang bagus hari ini." Tuan Cho mencari cari remote TV, mencoba untuk mencari saluran yang bagus untuk di lihat.

Tak ada yang bagus acara di siang ini. Semua saluran sudah ia tekan di tombol remotenya. Hanya ada berita yang menurutnya membosankan. Tapi, karena ia lelah terus menekan tombol, akhirnya ia berhenti di saluran no 7 yang sedang menayangkan berita mengenai kecelakaan. Wajahnya terlihat tak tertarik dengan berita itu, tapi seketika matanya membelalak saat kamera wartawan menyorot bagian depan mobil. memperlihatkan plat nomor yang ada di bagian depan mobil.

Mobil itu! Mobil itu sama dengan yang Kyuhyun kendarai tadi pagi. Dan plat nomornya… tidak salah.. ia yakin itu milik anaknya. Sekejap saja perasaannya mulai tak enak. Ia melirik istrinya, Oh Tuhan! Istrinya menangis. Ia terisak. Tangannya memegang bagian dadanya. Bibirnya bergetar. Seakan memanggil nama seseorang.

"Su—Sung—min—" Lirihnya.

.

.

.

.

Matanya terasa berat. Semua gelap semua tak terlihat. Apa ini? Ada apa ini. Apa yang sudah terjadi. Dan kemana Sungmin? bukan kan tadi sedang bersamanya. Duduk di sampingnya di dalam mobil yang sedang ia kendarai. Tapi… saat ini Sungmin tak ada.. dimana Sungmin.. dimana?

.

.

.

Perlahan matanya terbuka. Memperlihatkan ruangan yang sangat bersih dan tak jauh dari warna putih. Ranjang empuk yang sedang ia tiduri terasa nyaman setelah ia mengalami kecelakaan….Tunggu… kecelakaan? Ia membelalak. Benar… ia kecelakaan mobil kemarin bersama Sungmin di sebuahh jurang yang lumayan cukup dalam. Walau tak terdapat batu tajam, tapi kepalanya terbentur kayu mengakibatkan ia harus di perban. Tapi dimana Sungmin?

Ia melirik ke kanan dan ke kiri. Tak ada Sungmin. ruangannya sepi.

"Kau sudah sadar Kyuhyun-ah?"

Mendengar namanya di panggil, Kyuhyun melirik sumber suara yang tak jauh darinya. Di dekat Sebuah pintu kamar mandi sudah berdiri seorang wanita paruh baya. Wanita itu terlihat sangat sembab. Ia terlihat sangat lelah. Wanita yang sudah ia janjikan untuk selalu menjaga Sungmin.

"Eommanim? Dimana Sungmin,?"

Wanita itu mulai mendekat kearah Kyuhyun mendudukan dirinya di kursi tepat di samping kasur Kyuhyun.

"Sungmin sedang di ruang ICU, Kyu~ kau jangan khawatir.. Sungmin baik-baik saja. Hanya kepalanya terkena benturan dan itu harus di perban sama seperti mu." Jawabnya lembut dengan penuh kesabaran.

"Maafkan aku eommanim..karena aku, Sungmin jadi seperti ini…"

"Tidak Kyu~ ini bukan salah mu. Ini sudah menjadi takdir tuhan. Kau jangan menyalahkan dirimu."

"Bagaimana bisa aku ada disini? Dan eommanim? Siapa yang membawamu ke rumah sakit ini?"

"Appa-mu… appa-mu menyelamatkan mu dan Sungmin, membawa kalian berdua ke rumah sakit ini. ia juga yang menghubungiku melalui ponselmu. Memberitahukan mengenai kejadian ini."

"Lalu dimana beliau sekarang? Apa eomma-ku bersamanya?"

"Ya! Eomma mu juga ada di sini. Mereka sedang di ruang dokter. Kau tau Kyu~… eomma mu sudah bisa bicara…. Bahkan ia sudah bisa menggerakan seluruh organ tubuhnya."

"Benarkah?"

Eomma Sungmin mengangguk. Ia tersenyum bahagia. Ia tau bahwa eomma Kyuhyun sebelumnya adalah seorang wanita cacat yang hanya bisanya duduk di kursi roda tanpa bergerak. Tapi semenjak Kyuhyun pulang dan memperkenalkannya pada Sungmin, keinginan untuk sembuh di benaknya menjadi semakin besar. Keputusasaan yang selalu menghantuinya perlahan mulai berhenti dan tergantikan. Ia ingin sembuh dan menghabiskan banyak waktu dengan Sungmin. Tapi siapa sangka, suatu hal yang tak diinginkan terjadi. Eomma Sungmin sedikit terisak mengingat bagaimana antusiasnya appa Kyuhyun menceritakan keadaan istrinya. Tapi Sungmin sekarang terbaring lemah dengan perban menggulung kepalanya.

.

.

.

Keadaaan tegang terlihat di ruangan yang tak terlalu besar itu. Dua orang lelaki masih sibuk berbincang membicarakan sesuatu. Terlihat wajah khawatir dari wajah tua itu.

"Bagaimana Dok?" Tanya appa Kyuhyun khawatir.

"Anda tenang saja tuan….Sungmin baik-baik saja. Kepalanya hanya terbentur." Jelas dokter basa-basi.

"Apa dia akan amnesia dok?"

"Tidak. Sungmin tidak akan amnesia. Syaraf di kepalanya tidak ada masalah. Hanya saja―"

"Apa dok? Jelaskan saja!"

"Sungmin akan mengalami kebutaan untuk sementara waktu."

Tuan Cho terdiam.

.

.

.

Krieeett~

Pintu ruangan Kyuhyun terbuka. Menampilkan dua sosok manusia yang paling ia sayangi selama ini. Orang yang sangat ia rindukan beberapa tahun terakhir ini.

"Hai putra ku…bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" Sapa tuan Cho tersenyum. Ia berjalan kearah kasur Kyuhyun seraya mendorong kursi roda milik sang istri.

"Appa! Eomma! Bagaimana dengan Sungmin?"

"Sabar chagi… Sungmin masih tertidur pulas di kasurnya." Tuan Cho mendudukan diri di kasur itu. "Jangan khawatir…Sungmin baik-baik saja." Lanjutnya.

"Nyonya Lee, bisakah anda tinggalkan kami berdua? Ada pembicaraan yang harus aku bicarakan dengan putra lelaki-ku. Oh ya, anda juga di minta untuk datang menemui dokter Kim di ruangannya." Ucap tuan Cho seraya melirik eomma Sungmin dan tersenyum.

"Ya baiklah. Ayo Nyonya, kita harus menemui dokter Kim."

Eomma Sungmin beranjak dari kursinya. Membawa kursi roda yang di duduki Nyonya Cho untuk keluar dari ruangan tersebut. Eomma Sungmin sudah tau keadaan putra sulungnya itu. Sebelum tuan Cho mengetahuinya, eomma Sungmin sudah di panggil oleh dokter Kim terlebih dahulu. Eomma Sungmin hanya bisa tersenyum dalam kepedihannya. Ia yakin, Kyuhyun dan keluarga-nya akan membantu Sungmin dan menjaga Sungmin.

Setelah kepergian Nyonya Cho dan Nyonya Lee dari ruangan Kyuhyun. Appa Kyuhyun pun mengusap saying pucuk kepala sang putra tercinta. Memandang pedih keadaan putranya yang sedang terluka di bagian kepala.

"Appa~ ada apa mendadak sekali mau bicara dengan ku?"

"Tidak perlu tegang Kyu~ kau ini! Oh ya, bagaimana keadaan putra appa, hmmm?"

"Aku baik-baik saja appa… hanya sedikit pusing saja. Apa Siwon hyung mengetahui kejadian ini?"

Appa Kyuhyun mengangguk. "Ya! Dia mengetahuinya. Tapi dia masih belum bisa menjenguk mu. Dia terlalu sibuk."

"Huh! Selalu mementingkan pekerjaan dari pada adiknya sendiri!"

"Jangan salahkan dia Kyu~ ini adalah keinginan Noona mu bukan? Hanya Siwon yang bisa menjaga perusahaan yang sudah kalian rintis dari kecil. Biarkan ia mencapai apa yang belum ia capai. Appa yakin, Siwon sangat menyayangimu. Percaya lah."

Kyuhyun mengagguk. Ia sebenarnya sangat merindukan Hyung mesumnya itu. Ingin selalu membantunya untuk terus membangun perusahaan yang sudah menjadi impian mereka bersama. Betapa banyak pengorbanan yang Siwon lakukan untuk impian mereka. Ia harus mengerti.

"Apa kau bisa berjalan?"

"Sepertinya kaki-ku tidak bermasalah."

"Kalau begitu, kita bicara di ruangan dokter Kim saja bersama eomma Sungmin dan eomma mu, bagaimana?"

"Ada apa sebenarnya appa?"

"Ayo ikut saja." Ucap sang appa seraya membantu Kyuhyun untuk turun dari ranjangnya dan mendudukannya di kursi roda yang sudah di persiapkan oleh pihak rumah sakit.

.

.

.

Perjalanan menuju ruangan dokter Kim tidak terlalu jauh dari kamar Kyuhyun. Hanya melewati beberapa ruangan rawat. Ketika sampai, Kyuhyun sudah melihat eommanya dan eomma Sungmin sudah berada tepat di depan pintu ruangan dokter Kim.

"Kenapa tidak masuk?" Tanya tuan Cho pada eomma Sungmin.

"Kami menunggu anda tuan." Balasnya.

"Ya. Baiklah…ayo kita masuk."

Appa Kyuhyun mendorong kursi roda itu menuju pintu masuk ruangan dokter Kim. Membukanya dan mengucapkan salam ketika ia sudah berada di dalam ruangan tersebut. Terlihatlah sosok dokter Kim yang sedang duduk dan tersenyum di kursi kerjanya. Ia pun mempersilahkan tamunya untuk mendekat.

"Selamat siang Kyuhyun-sshi. Bagaimana keadaan mu?" Sapa dokter Kim ramah.

"Aku baik-baik saja." Balasnya

"Lalu kepala mu? Apa masih terasa sakit?" Dokter Kim sedikit memulai pembicaraan.

"Ya! Terkadang terasa sangat sakit dan sedikit pusing. Tapi, tidak apa-apa. Bukan masalah bagiku. Oh ya…apa dokter mengurus Sungmin juga? Dimana dia sekarang?"

"Oh…Sungmin. Dia ada di ruangan ICU. Dia masih belum sadarkan diri."

"Apa lukanya sangat parah?"

"Lukanya sama sepertimu. Kepalanya terbentur kayu dan itu harus di perban. Tapi itu tidak apa-apa. Hanya saja untuk beberapa waktu kedepan, Sungmin belum bisa melihat dengan normal Kyuhyun-sshi."

Kyuhyun tercekat. "Ma-maksud mu apa dok?!"

"Sungmin mengalami kebutaan untuk sementara waktu. Ada syaraf yang mengganggu penglihatannya. Matanya tidak bisa terbuka dengan normal. Tapi itu hanya bersifat sementara. Mungkin dalam jangka waktu satu minggu, Sungmin bisa melihat kembali."

Kyuhyun terdiam mendengar penjelasan dokter yang sangat menohok hatinya. Kyuhyun merasa bersalah pada Sungmin dan eommanya. Bagaimana bisa ia tak menjaga hal yang paling berharga untuknya. Sungmin buta karenanya. Dan itu menyakitkan.

"Kyu~ kau baik-baik saja?" Ucap tuan Cho berusaha menenangkan Kyuhyun.

Kyuhyun diam. Ia masih belum bisa berbicara. Ia shock dan ia belum bisa menerima ini semua. Bagaiamana bisa Sungmin hidup tanpa bisa melihat. Oh ayolah! Mata indah itu tak bisa melihat dalam jangka waktu satu minggu! Ini sangat lama bagi Kyuhyun.

"Sungmin pasti sembuh Kyu~ Sungmin anak yang kuat. Aku sebagai ibunya sangat yakin kalau Sungmin pasti sembuh dengan cepat." Nyonya Lee mulai menghibur.

Kyuhyun menoleh. Menatap wajah sendu dari seorang Nyonya Lee. "Maafkan aku eommanim." Ucap Kyuhyun lembut. Lengannya ia kepal mengisyaratkan kekesalan. Tapi, seketika perasaan hangat mulai menyelimuti ketika lengan itu di genggam erat oleh sesosok wanita paruh baya yang masih setia duduk di kursin rodanya. Nyonya Cho. Ya! Nyonya Cho memberikan kepercayaannya pada Kyuhyun. Nyonya Cho memohon dalam tatapannya untuk selalu melindungi Sungmin. Nyonya Cho yakin, bahwa Kyuhyun bisa melewati cobaan ini.

Kyuhyun membalas genggaman tangan rapuh itu lembut. Membawanya medekat ke bibirnya dan mengecupnya dengan penuh perasaan. "Aku akan menjaga Sungmin untuk mu, eomma." Janji Kyuhyun.

"Baiklah dokter…terimakasih. Tolong buat Sungmin sembuh."

Dokter Kim tersenyum. Ia mendekat kearah Kyuhyun. "Kau tau. Hanya kau yang bisa menyembuhkan Sungmin."

Kyuhyun menatap heran dokter Kim. "Maksudmu?"

"Sungmin akan sembuh jika ia mendapatkan berlimpah kasih sayang dari orang yang paling ia cintai. Entah itu orangtuanya atau pun kau orang yang selalu ia sebut dalam mimpinya."

"Sungmin terus menyebutkan namaku, dokter?"

Dokter Kim mengangguk.

"Dokter…izinkan aku untuk merawat Sungmin. Aku akan merawatnya dengan baik."

"Silahkan. Itu keputusan mu Kyuhyun-sshi."

"Jadi, bolehkah aku menemui Sungmin?"

"Ya!"

"Terimakasih dokter Kim. Semoga tuhan membalas semua kebaikan mu."

"Sama-sama Kyuhyun-sshi."

"Siapa nama mu dok?"

"Kim Jung Hoon."

.

.

.

Setelah mendapat izin untuk merawat Sungmin-nya, Kyuhyun di izinkan untuk berkunjung ke tempat dimana Sungmin berada. Ia terlihat sedih ketika melihat seseorang yang paling ia cintai terbaring lemah diatas kasur rumah sakit. Matanya, kepalanya, dan tangannya penuh perban. Oh sungguh itu sangat menyakiti hati daan perasaannya. Mengutuk dirinya dan ingin sekali menjatuhkan diri di gedung tertinggi di dunia. Tapi apa daya. Ia pun tak menginginkan ini terjadi. Hanya cintanya, perhatiannya, dan kasih sayangnya lah yang akan mempengaruhi kesembuhan Sungmin.

"Maafkan aku Mingie~ maafkan aku~" sesal Kyuhyun seraya menatap sendu tubuh orang yang paling ia cintai. Mengelus lembut surai hitam milik sang kekasih tercinta.

"Eumhh~" sebuah lenguhan terdengar samar di ruangan tersebut. Sungmin melenguh. Ia mulai sadar. Oh tuhan! Tampar Kyuhyun jika ia salah dengar. Ini tak salah dengar. Sungmin mulai menggerakan jari-jarinya dengan gerakan lembut.

"Mingie~ Mingie sayang~ kau sudah sadar?" Kyuhyun mencoba untuk berbicara. Sungmin sedikit merespon dengan mencari-cari sumber suara. Oh ayolah~ mata Sungmin di perban. Ia hanya bisa mendengar dan merasakan hembusan nafas Kyuhyun.

"Kyunnie~ Kyunnie dimana? Kenapa gelap sekali? Ini sangat gelap Kyunnie! Ini gelap! Mingie takut! Kyunnie dimana? Kyunnie!" Sungmin mulai tak tenang. Ia merasa ketakutan dengan kegelapan yang menimpa indra penglihatannya. Seketika hati Kyuhyun hancur.

"Sayang…sayang…tenanglah sayang…Kyunnie disini…Kyunnie di samping Mingie." Kyuhyun berusaha menggenggam pergelangan tangan Sungmin. Menautkan jari-jari mereka dan menempelkan telapak tangan Sungmin ke pipi tirusnya.

Sedikit demi sedikit Sungmin mulai tenang. Ia hanya terisak dan bergumam. Kyuhyun pun berusaha untuk berdiri, mencengkram pinggiran ranjang Sungmin dan berusaha mendudukan dirinya tepat di samping Sungmin.

Perlahan, Kyuhyun membawa tubuh Sungmin dalam pelukannya. Berusaha menenangkan Sungmin dengan segala kehangatan yang ia punya hanya untuk kekasihnya.

"Hiks~ Mingie takut Kyunnie~ ini gelap..Mingie tidak suka!...hiks!" Protesnya sendu.

Sentuhan lembut Kyuhyun usapkan di pucuk kepala kekasihnya. Menenangkannya adalah cara yang paling ampuh. Membuktikan bahwa Kyuhyun tidak akan pernah meninggalkannya seorang diri.

"Jangan pernah takut dalam kegelapanmu sayang~ aku akan selalu ada di samping mu untuk memelukmu dan menerangimu. Kau cahayaku, aku juga cahayamu. Mulai sekarang, aku akan selalu menerangimu dengan segala cahaya cinta yang aku miliki."

.

.

.

Matahari pagi sangat menyegarkan ketika ia mulai menyinari permukaan bumi ini. Di barengi cicitan burung pagi seakan menambah semangat untuk memulai aktivitas di pagi ini. Sama seperti dua orang anak manusia yang terlihat sibuk dengan kegiatannya di atas ranjang apartemen miliknya. Memeluk tubuh rapuh seseorang yang lebih kecil darinya dari arah belakang. Melingkarkan tangannya di sela-sela perut lelaki mungil itu. Sungguh pemandangan indah jika melihatnya.

Selimut yang sedikit terlihat berantakan tidak menghalangi aksinya untuk tetap memeluk tubuh ringkih itu. Oh ayolah… Kyuhyun sangat menyayangi lelaki mungil itu. Lelaki yang beberapa hari ini baru saja pulang dari rumah sakit.―Sungmin.

Cahaya matahari mulai mengintrupsi kegiatan mereka. Rasa hangat yang terkoar dari tubuh Sungmin sungguh sebuah candu yang tak akan ada habisnya untuk Kyuhyun. Membuat rasa betah membuatnya semakin senang memeluk lelaki mungil itu.

Sedikit demi sedikit Kyuhyun mulai membuka matanya. Terbangun lebih dulu dari Sungminnya. Aaah.. ini waktunya untuk memperlihatkan sesuatu pada Sungmin. Mempertemukan sang surya dengan mata foxynya. Bukan kah cahaya mentari di pagi hari sangat bagus?

Di liriknya lelaki mungil yang sedang meringkuk tepat di depannya. Kyuhyun tersenyum bahagia. Sungmin terlihat sangat menggemaskan dengan rambut berantakan khas orang tidur. Ingin mengecup bibir cherry itu lembut.

Chuup~~

Kecupan hangat di pagi hari mengawali bangunnya sang primadona hati.

Kyuhyun terkekeh ketika bibir itu terpout dan terdengar lenguhan sexy dari Sungmin. Ia sudah bangun…ini akan menjadi pagi terindah untuk Kyuhyun setelah kemarin kepulangan Sungmin dari rumah sakit.

"Sayang~ bangun…" Ucapnya lembut.

"Eumhh~" Lenguhan lembut mulai terdengar. Sungmin mulai mengangkat tangannya reflex ingin mengucek matanya. Dengan gerakan cepat, Kyuhyun mencegah itu.

"Jangan lakukan itu, sayang~. Mata-mu belum sembuh betul."

"Masih gelap ya Kyunnie~"

"Bersabarlah chagiya~ Mingie pasti sembuh. Ayo, ikut Kyunnie." Ujar Kyuhyun mengajak lelaki mungil itu untuk terbangun dari tidurnya dan menuntunnya untuk berjalan kearah balkon apartemen.

Sejuknya udara pagi ini Sungguh bagus untuk Sungmin rasakan.

"Stop! Mingie berdiri disini, lalu rentangkan tangan Mingie dan Kyunnie akan memeluk Mingie dari belakang. Arraso?" Perintah Kyuhyun lembut. Ia mulai memeluk tubuh Sungmin dari belakang.

Sungmin mengagguk. "Bagus~ ayo katakan apa yang Mingie rasakan sekarang?"

Sungmin mulai merasakan segala apapun yang harus ia rasakan. Dengan segala indra yang ia punya, ia merasakan angin sejuk dan hangat sekaligus dalam pori-pori kulitnya. Ia melihat setitik cahaya samar dari balik perban yang masih menutupi matanya. Sungmin tersenyum. Ia merasakan itu. Ia merasakan kehangatan dan pancaran cahaya samar dari bali perbannya.

"Kyunniiee! Kyunnie harus dengar! Mingie melihat cahaya samar dari balik perban yang mengganggu mata Mingie. Mingie juga merasakan hangat dan sejuk di kulit Mingie! Aaaah! Ini segar! Mingie suka sekali!" KAta Sungmin jujur. Ia terlihat senang dari raut wajahnya. Senyumnya tak pernah hilang. Sungmin sangat bahagia bisa merasakan udara pagi ini dari atas balkon apartemen Kyuhyun.

"Benarkah?"

"Iya! Howaaaa Mingie sudah tidak sabar ingi membuka perban ini! Ini mengganggu! Ish!" Protesnya sembari mempoutkan bibirnya lucu.

Kyuhyun terkekeh. Ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Sungmin. Tubuhnya yang hangat, harumnya tubuhnya yang sangat menggodanya, juga lehernya yang sudah mulai mengganggu pikirannya.

DEG!

Ini gawat!

"Kyunnie~ ada yang mengeras di belakang tubuh Mingie."

'Oh Tuhan!' Batinnya nelangsa.

.

.

.

TBC~

.

Mau marah? marahin aja ga ppa... kkk~

maaf yaa untuk selalu telat updatenya :3 lagi sibuk soalnya *alesan* tapi pasti publish kok ^^

chapter ini kependekan? maaf lagi deh... lagi ga bisa bikin panjang panjang neh..

oiia, minal aidzin yaa.. maafin saya kalo saya punya salah sama teman teman pembaca ^^

terimakasih untuk teman teman yang sudah menyempatkan diri untuk membaca dan mereview FF ini ^^

sekali lagi terimakasih... BOW~

yang nanyain NC nya kapan, sabar yak XD nnti juga ada kok :P

SEE YOU NEXT CHAP ^^/