Uhm...

Apakah masih ada yang membaca fanfic ini?

Terima kasih atas review-reviewnya, follows dan favs. Itu sangat berharga bagi saya. Maaf, saya baru mengupdate cerita ini setelah beberapa lama. Jujur, saya tidak menyangka kalau kehidupan kuliah se-hectic ini :/

Disclaimer : Nah, I wouldn't dream about it


×Chapter 11 : Somewhere Only We Know×

I came across a fallen tree
I felt the branches of it looking at me
Is this the place we used to love?
Is this the place that I've been dreaming of?
Oh simple thing where have you gone?
I'm getting old and I need something to rely on
So tell me when you gonna let me in
I'm getting tired and I need somewhere to begin

**Dua hari sebelumnya**

Sosok bertudung berjalan pelan melintasi alun-alun kerajaan Telmarine, menuju istal yang terletak tak jauh dari sana. Tangannya terulur, menarik tudung jubahnya agar semakin menutupi wajahnya. Beberapa kali ia berpapasan dengan satu dua penduduk, dan dengan berhati-hati ia menundukkan kepalanya. Bayangan hitam dari tudungnya menutupi warna kulit dan warna rambutnya yang berbeda dari penduduk Telmar lainnya. Tak ada seorang pun yang memperhatikan keberadaannya, ia tak tampak berbeda dari beberapa pengelana yang biasa mengunjungi kota mereka.

Kenyataan bahwa tak ada seorang pun yang memerhatikannya membuat sosok itu merasa sedikit lega. Jika satu orang saja benar-benar memerhatikannya, orang tersebut dapat membongkar penyamarannya. Jubah yang ia gunakan sekilas memang tampak seperti jubah yang umum digunakan para pengelana. Namun jika seseorang memerhatikan dengan teliti, ia akan mengetahui bahwa sulaman berwarna keemasan yang terdapat di bagian dada jubah tersebut membentuk simbol kerajaan, serta terdapat sulaman berwarna keperakan di keliman tudung jubah tersebut. Tidak sembarangan orang diperbolehkan meletakkan simbol kerajaan di bagian dada jubah mereka. Hanya para ksatria dan anggota keluarga kerajaan yang dapat mengenakannya.

Tak banyak penduduk Telmarine yang mempunyai cukup uang untuk memiliki kuda. Hanya keluarga kerajaan dan orang-orang penting bangsa Telmarine yang memilikinya, serta beberapa pedagang dan pengelana yang biasa bepergian keluar masuk ibukota kerajaan. Oleh sebab itu, selain istal bagi anggota keluarga kerajaan yang terletak di balik dinding kastil, hanya ada dua buah istal lain yang berada di luar dinding kastil. Sebuah istal besar terletak di sebelah barak prajurit, dan istal lain yang berada di dekat alun-alun.

Dua orang penduduk Telmar berjalan menuju arahnya. Keranjang besar berisi sayur mayur berada di pundak mereka. Dengan sigap, sosok itu melangkah ke samping. Telinga tajamnya menangkap potongan percakapan kedua orang itu. Percakapan yang sontak membuat tubuhnya menegang.

"… pohon tua itu tidak ditebang saja? Toh, pohon itu sudah nyaris mati. Dan sewaktu-waktu bisa saja tumbang. Kalau sampai hal itu terjadi, bukankah malah akan menimbulkan korban?"

"Aku setuju dengan apa yang kau katakan. Tetapi kudengar pohon itu sudah berada di sana ribuan tahun lamanya. Dan beberapa orang mengatakan pohon itu sudah ada sejak nenek moyang kita menaklukan tanah ini."

Lawan bicaranya hanya mengeluarkan dengusan.

"Yah, bukan berarti aku mempercainya, namun mereka tampak sangat yakin jika pohon ini adalah pohon Narnian. Kau tahu, legenda tentang pohon yang bisa menari?"

Tawa terdengar dari lawan bicaranya, "Jangan katakan padaku jika kau percaya cerita itu. Narnian hanyalah makhluk-makhluk aneh yang biasa diceritakan pada anak-anak untuk menakut-nakuti mereka..."

Sosok itu mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di depan pohon besar yang tampak sudah nyaris mati di pinggir alun-alun. Perlahan ia mengulurkan tangannya. Menyentuh batang pohon itu. Tanpa sadar setitik air mata membasahi pipinya.

"Gohenam, mellon-nen. Awarthannech ú-anírannem," (1) bisiknya.

Semilir angin membelai wajahnya, membawa bisikan tipis, "Ú-moe edaved, aran nín. Heniannem." (2)

Sosok itu menghela napas panjang, senyum tipis mulai terukir di wajahnya. Sebelah tangannya menghapus jejak air mata dari pipi putihnya, "Le hannon, mellon-nen." (3).

Suara langkah kaki yang terdengar lembut berjalan mendekati sosok bertudung itu. Sosok itu menarik napas, menjatuhkan tangannya dari batang pohon besar itu dan berbalik dengan perlahan. Mata birunya menatap tajam prajurit muda yang mendekatinya dari bawah tudungnya. Ia berani bertaruh prajurit tersebut baru mengalami delapan belas kali musim dingin, tidak lebih. Dengan susah payah ia menahan senyum yang terukir tipis di wajahnya saat ia melihat prajurit tersebut bergerak dengan tidak nyaman di bawah tatapan tajamnya. Ia bisa mendengar dengan jelas suara adik laki-lakinya mengucapkan kalimat yang sudah terlalu sering ia dengar, 'Demi Aslan, berhentilah menakut-nakuti orang lain dengan tatapanmu itu!'.

"My…"

"Berhenti," potong sosok itu dengan pelan, "Aku akan kembali ke kastil sebentar lagi. Masih ada urusan yang harus aku lakukan terlebih dahulu."

"Tapi, my lo…"

Senyuman kecil terbentuk di bibir sosok itu, 'Entah bagaimana caranya Caspian dapat meyakinkan para prajuritnya bahwa aku bukanlah seorang pengembara dari Archenland yang tersesat hingga ke sini', pikirnya. "Aku dapat menjaga diriku sendiri, prajurit. Dan kurasa aku tahu jalan untuk kembali ke kastil."

Sosok itu memutar badannya, namun sebelum ia melangkahkan kakinya ia menolehkan kepalanya pada prajurit itu, "Dan kumohon, jangan gunakan embel-embelku saat aku berada di luar kastil," pintanya.

Prajurit muda tersebut menggerakkan badannya dengan gelisah, "Baiklah," jawab prajurit itu, kemudian tanpa sadar menundukkan kepalanya singkat, sebelum ia membalikkan badannya dan meninggalkan sosok itu.

Sosok itu mengulum senyumnya, 'Aku tak tahu apa yang akan prajurit itu lakukan jika aku atau Caspian mengatakan siapa diriku sebenarnya', pikirnya. Sosok itu kemudian kembali berjalan, kali ini dengan langkah sedikit dipercepat, menuju ke istal.

Setibanya di dalam istal sosok itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Yakin ia tidak melihat seorang pun yang berada di istal, ia mengulurkan tangan membuka tudungnya, "Sir Filegaran."

Salah satu dari tiga ekor falcon yang bertengger di bagian atas istal terbang mendekati sosok itu dan hinggap pada salah satu kayu penyangga atap istal yang berada di dekat sosok tersebut. Filegaran menundukkan kepalanya singkat, "Aran Peter."

"Ci maer?" (4)

"Cuiam. Aran-nín," (5) jawabnya, "Apakah ada yang bisa kulakukan?"

"Sebenarnya," Peter mengeluarkan surat dari kantong jubahnya, "Bisakah aku meminta bantuanmu untuk mengirimkan surat ini untuk saudara-saudaraku?"

XXX

Langkah kaki sang Ratu Pemberani itu terhenti tepat di depan pintu rumah Professor Cornelius. Matanya menatap sosok Susan, yang mengarahkan pandangannya ke arah elang yang masih berputar-putar di angkasa. Mau tak mau Lucy kembali mengakui bahwa Susan tampak berbeda. Ia bukannya tidak memperhatikan Susan selama ini maupun tidak merasakan perubahannya. Tidak. Jika ia boleh jujur, ialah yang lebih dahulu merasakan perubahan sikap Susan. Malam hari sesaat sebelum mereka bertemu Caspian dan para Narnian, ia sudah merasakannya. Namun, ia tak mengerti apa alasannya.

Ia hanya menebak, fakta bahwa mereka harus menyesuaikan diri kembali menjadi anak-anak, setelah memimpin Narnia selama lima belas tahun-lah yang membuat Susan berubah. Dan tebaknya, kenyataan bahwa mereka kembali ke Narnia, setelah selama satu tahun mereka berusaha menyesuaikan diri kembali untuk menjalani kehidupan di Inggris, membuat Susan mulai kehilangan kepercayaannya. Lucy tidak bisa memungkiri, fakta bahwa 1300 tahun sudah berlalu di Narnia, walaupun hanya satu tahun yang sudah mereka lewati di Inggris, menjadi pukulan telak bagi mereka semua.

Namun, tidak. Ia tak pernah lebih salah daripada saat itu. Bukan itu penyebab Susan tampak tak sebahagia saudara-saudaranya untuk kembali ke Narnia. Dan percakapannya dengan Edmund tadi membuatnya semakin merasa buruk. Tanpa ia sadari kerutan mulai menghiasi keningnya. Tepukan ringan di bahunya membuat Lucy menolehkan kepala ke arah Edmund yang tersenyum masam.

"Are you alright, muinthel?" bisik Edmund.

"Yeah… aku hanya… entahlah, Ed, aku tak tahu apa yang harus aku rasakan," jawab Lucy pelan, sedikit bersyukur karena Susan berdiri jauh dari mereka.

Edmund meraih tangan Lucy dan meremas jemarinya lembut, "Kau sendiri yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, bukan? Percayalah pada perkataanmu sendiri, Lue."

Lucy hanya menampilkan seulas senyum terpaksa, kemudian melepaskan genggaman Edmund dari jemarinya. Setelah menghela napas, Lucy melangkah mendekati Susan.

"Sue…" perkataan Lucy terhenti, ia tak yakin apa yang harus ia katakan pada Susan.

"Lucy," Susan melemparkan senyum kecil ke arah Lucy, "apakah menurutmu elang itu membawa surat dari Peter?"

Lucy menelan ludah, berusaha menekan perasaan tidak enaknya saat ia melihat senyum yang diberikan Susan tidak tergambar di matanya, "Ya, Sue… kuharap begitu. Aku sangat merindukannya dan aku tidak sabar mengetahui berita apa yang ia tuliskan," ujarnya seraya bertukar pandang dengan Edmund yang sudah berdiri di sebelah Susan.

Susan mengangguk singkat, namun perhatiannya kini kembali terpusat pada elang yang kini mulai mendekat. Elang tersebut mendarat tidak di dekat kediaman Professor, namun sekitar dua kilometer dari kediaman Professor. Ketiga saudara tersebut saling bertukar pandang dengan cemas. Biasanya hal seperti itu hanya akan dilakukan apabila sang pembawa pesan merasa bahwa ia sudah diikuti oleh musuh.

Tak berapa lama kemudian seekor Tupai muncul dari balik pepohonan, sebuah gulungan tampak terikat di punggungnya. Tupai tersebut segera mendekati King and Queens of Old.

Edmund melangkah maju ke arah Tupai tersebut, meninggalkan Susan dan Lucy, "Amareth," sapa Edmund pelan dengan cemas, "Man le trasta?" (6)

"Aran Edmund, semua baik-baik saja. Namun King Peter telah berpesan agar kami berhati-hati, sangat berhati-hati, kalau boleh saya tambahkan, karena ia meminta Sir Filegaran untuk berputar-putar dan tidak langsung menuju ke tempat ini," jawab Amareth seraya melepaskan ikatan di dadanya. Pernyataan yang dilontarkan oleh Amareth membuat Edmund mengerutkan keningnya. "Sir Balthoron menerima surat ini dari Sir Filegaran beberapa saat yang lalu," ujarnya seraya mengulurkan gulungan kertas tersebut pada Edmund.

"Le hannon, mellon-nen, kau bisa kembali ke tempatmu."

Amareth membungkukkan badannya kemudian kembali berlari ke arah hutan. Edmund membalikkan badannya, menghadap kedua saudara perempuannya, "Semua baik-baik saja," ujarnya saat melihat kecemasan di wajah Susan dan Lucy. "Bagaimana kalau kita membaca surat dari Peter di dalam saja? Hari sudah mulai malam, dan, aku tak tahu dengan kalian, namun aku tidak bisa membaca surat ini dalam kegelapan," Edmund menampilkan cengirannya, berusaha mencairkan kecemasan di antara mereka.

Susan dan Lucy saling berpandangan dan tak lama kemudian suara tawa kecil keluar dari mulut kedua Ratu tersebut. "Tentu saja, Ed…"

Edmund mengulurkan tangannya, memberi tanda pada Susan dan Lucy untuk berjalan terlebih dahulu, "Ada yang harus kubicarakan dengan Glenstorm terlebih dahulu. Aku akan menyusul kalian," ujarnya yang dibalas dengan tatapan bingung oleh Lucy, namun tarikan lembut dari Susan membuat Lucy segera meninggalkan Edmund. Tertinggal beberapa langkah di belakang kedua saudaranya, Edmund memberi tanda pada Glenstorm untuk mendekat padanya.

"Berio i eryn. Tir or rain," (7) perintahnya.

Glenstorm mengangguk singkat kemudian berjalan menembus hutan. Edmund memandang sekilas pada sosok Glenstorm yang mulai menghilang di balik pepohonan kemudian mengusap wajahnya dengan letih dan menghela napas, "Semua baik-baik saja, Ed, kau hanya paranoid," bisiknya lalu melangkah menuju kediaman Professor.

"Everything's alright, Ed?" pertanyaan Susan menyambutnya saat ia membuka pintu.

"Ya, Sue, semua baik-baik saja," jawabnya lalu duduk di kursi, di antara Susan dan Lucy. Tangan lincahnya membuka segel Peter di surat tersebut dan membuka lipatannya. Huruf-huruf miring yang sudah familiar segera menyambut mereka.

"Well, let us see…


"My dearest siblings,

Pertama-tama aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyesal karena aku baru bisa menulis surat ini. Suasana yang menyambut kedatangan kami di kastil membuatku tidak bisa segera memberi kabar pada kalian. Tenanglah, Sue, semua sudah kami atasi (aku tahu kau memutar matamu saat membaca ini, Sue, tapi percayalah, semua sudah berhasil kami atasi)…

Perjalanan kami menuju ke kastil tidak menemui banyak hambatan. Dan aku sangat bersyukur karena tidak sekali pun kami bertemu dengan para pemberontak tersebut. Suasana di kota tidak begitu kondusif saat kami tiba. Beberapa warga berteriak marah saat mereka melihat Caspian, setiap perkataan Miraz bahwa Caspian adalah seorang pengkhianat tampaknya telah memengaruhi mereka. Bahkan beberapa prajurit berusaha untuk menangkap Caspian. Namun saat Caspian menunjukkan cincin di jarinya, mereka semua terdiam dan membiarkan kami melanjutkan perjalanan menuju kastil. Caspian menjelaskan bahwa cincin tersebut adalah lambang kepemerintahan raja, dan siapapun yang menggunakan cincin itu adalah raja, tak peduli apakah ia sudah dimahkotai secara resmi atau belum (ya, aku tahu, terdengar sangat konyol, bukan? Well, semua memang berbeda dengan apa yang kita lakukan dahulu).

Setibanya di kastil kami segera menyusun rencana untuk mengatasi pemberontakan (yang ternyata sudah terjadi jauh lebih parah daripada yang kita bayangkan). Pasukan yang Caspian kirimkan berhasil menangkap beberapa orang pemberontak dan kami telah menginterogasinya. Pemberontakan yang mereka lakukan didasari oleh rasa takut terhadap para Narnians. Mereka berpikir bahwa Miraz mengabaikan keamanan mereka dengan membiarkan Narnians hidup dengan bebas di Western Woods, dan mereka segera berusaha untuk membunuh setiap Narnians yang terlihat dengan tangan mereka sendiri. Syukurlah tidak ada satu Narnians pun yang terbunuh.

Hal ini jugalah yang membuatku tidak bergabung dengan pasukan untuk segera mengatasi pemberontakan ini. Fakta bahwa hampir semua prajurit Telmarine membenci Narnians membuatku kembali berpikir ulang mengenai keinginanku untuk diam-diam bergabung. Oh, diamlah, Ed, aku tahu apa yang ada di pikiranmu, "Apakah ini benar Peter, kakak kita?" Ya, ini benar-benar aku, Ed.

Caspian memberikan nama baru bagiku, Lord Trosemus. Aku bersumpah, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya saat ia memperkenalkanku dengan nama menggelikan itu di depan anggota parlemen Telmar. Yah, meskipun aku sudah diperkenalkan secara resmi, namun aku masih bisa merasakan tatapan-tatapan penuh curiga dan mendengar bisikan-bisikan yang mereka lontarkan di belakangku, bahwa aku sebenarnya adalah pengembara dari Archenland, dan Caspian membiarkanku tinggal di kastil karena ia takut bahwa aku akan memantrainya.

Aku memang tidak bergabung dengan pasukan yang mengatasi para pemberontak maupun menjadi bagian dari kelompok yang menginterogasi para tahanan, namun aku berusaha untuk tetap memasang telinga mengenai desas-desus yang terus berkembang di antara rakyat (entah mengapa aku mempunyai perasaan bahwa mereka mengetahui lebih banyak daripada apa yang diketahui oleh para anggota parlemen).

Secara singkat, situasi kini sudah lebih aman. Rakyat dan prajurit kini mulai memercayai Caspian dan apa yang ia katakan.

Hal ini jugalah yang membuatku berpikir mengenai kedatangan kalian ke kastil. Esok, aku dan kelompok pasukan pilihan Caspian, bersama dengan Jendral Glozelle (ya, ia memang telah mencoba untuk membunuh kita, namun ia sangat setia dengan penerus takhta Telmarine. Selama beberapa hari ini aku sudah mengamatinya, dan, Ed, kurasa kemampuanku tidak terlalu buruk, ia tampak sangat setia pada Caspian, dan sangat patuh pada setiap perkataannya) akan bergerak menuju Beruna. Aku rasa di situlah sebaiknya kita bertemu, kemudian kami akan mengawal kalian kembali ke kastil.

Berangkatlah dua hari setelah kalian mendapat surat ini. Ajaklah beberapa Narnians bersama dengan kalian. Dan jika saat kalian tiba di Beruna tidak ada tanda-tanda bahwa kami sudah berada di sana, JANGAN melanjutkan perjalanan menuju kastil. Tunggulah hingga kami tiba. Keadaan memang sudah lebih baik, namun kita tetap harus memertimbangkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi."


Edmund mengusap wajah dengan sebelah tangannya. Tangan lembut yang menyentuh bahunya membuat ia mengangkat pandangannya ke arah Susan yang tersenyum lembut. Jemari Edmund meraih tangan Susan yang berada di bahunya dan meremasnya dengan lembut.

"Kurasa sudah saatnya bagi kita untuk segera bersiap-siap," ujar Susan.

"Ya… ya… tentu saja, aku akan…"

"Ed," panggilan Susan memotong ocehan Edmund, "Kau dapat menceritakan pada kami apa yang membuatmu cemas, kau tahu?"

Edmund menghela napas panjang, tak berani untuk menatap mata Susan. Ia mungkin dapat menyembunyikan berbagai hal dari Peter maupun Lucy. Demi Aslan, ia bahkan bisa menyembunyikan berbagai hal dari Oreius maupun Philip, meskipun hal itu hanya ia lakukan sekali saja. Namun ia tahu, baik dirinya maupun Susan tidak akan bisa menyembunyikan apapun di antara mereka berdua. Dan ia tahu, jika Susan melihat ke dalam matanya, Susan akan tahu semua perasaan yang selama ini ia sembunyikan.

"Ed?" kini suara ringan Lucy yang menariknya kembali ke alam sadar. "Kau baik-baik saja?" kecemasan yang membalut bisikan Lucy membuatnya tersenyum pahit.

'Tidak, Lue, aku sangat jauh dari keadaan baik,' pikirnya masam. Edmund menghela napas sekali lagi kemudian berdiri menghadap kedua saudarinya, namun ia mengarahkan pandangannya ke dinding di belakang Susan. "Ya, aku baik-baik saja… kurasa aku hanya, sedikit lelah," dengusan lembut yang dikeluarkan oleh Susan menyatakan bahwa ia tidak memercayai perkataan Edmund.

"Lucy, bisakah kau menyiapkan sendiri barang-barang yang akan kita bawa? Aku akan membantumu sesaat lagi," pinta Susan.

"Tentu saja," ujar Lucy lalu berjalan menuju kamar Professor.

Segera setelah terdengar suara pintu yang ditutup, Susan meraih wajah Edmund dengan kedua tangannya. Sentuhan ringan namun tegas di wajahnya membuat Edmund mau tak mau memandang Susan.

"Ed…"

"Tidak, Susan. Aku tidak apa-apa," potong Edmund.

Susan mengangkat sebelah alisnya, tidak mengatakan apapun, dan rasa bersalah kembali muncul dalam diri Edmund. Dalam hati ia merutuki kemampuan Susan untuk membuat orang lain merasa bersalah tanpa mengatakan sepatah kata pun.

"Sue?"

"Hm?"

"Aku… saat Peter bertarung dengan Miraz ia menanyakan padaku satu hal. Dan aku tidak mampu menjawabnya," bisik Edmund.

"Pertanyaan? Apa yang ia tanyakan padamu, Ed?"

"Jika seandainya kita meninggal di Narnia, apa yang akan terjadi di Inggris?" Edmund memandang mata Susan, "Apakah kita akan menghilang begitu saja? Bagaimana dengan Mum dan Dad?" tanyanya, 'Apakah semua mimpi buruk kita yang terjadi di Narnia akan menghantui kita, seandainya kita kembali ke Inggris? Apakah mimpi buruk itu yang membuatmu menutup dirimu?' pikir Edmund masam.

"Oh, Ed… Kuharap aku dapat memberikan jawaban padamu… namun kurasa kekuatan Aslan jauh melampaui kemampuan kita untuk menerka," jawab Susan pelan, mengalihkan pandangannya dari mata Edmund.

Edmund menelan ludah dengan susah payah. Ia sudah tahu jawabannya. 'Ya, Sue. Kenangan itu masih terus menghantuimu, bahkan saat kita kembali ke Inggris.' Tanpa berpikir panjang, Edmund menarik Susan ke dalam pelukannya.

"Kau tahu bahwa kau bisa menceritakan semuanya padaku, kan?" tanya Susan lembut.

Edmund hanya mengangguk singkat. Setelah menghela napas, ia melepaskan pelukannya.

"Ed…"

"Aku akan menceritakannya saat aku siap, Sue…" potongnya dengan senyum tipis. "Kurasa sebaiknya aku mulai bersiap-siap juga," ujarnya lalu berjalan meninggalkan Susan.

Susan memerhatikan Edmund yang berjalan menjauh darinya. Saat Edmund sudah masuk ke ruang kerja Professor Cornelius, Susan menjatuhkan kepalanya ke tangan yang ia topangkan di atas kakinya. Selama beberapa saat hanya terdengar helaan napas darinya.

'Oh, Aslan… aku tidak bermaksud untuk membuat mereka kembali mengalami perasaan itu lagi…'

Suara langkah kaki membuat Susan segera mengangkat kepalanya, menghapuskan semua garis kegelisahan dari wajahnya, dan menegakkan postur tubuhnya seperti yang dahulu diajarkan oleh Mrs. Beaver sesaat sebelum mereka diangkat menjadi Raja dan Ratu Narnia. Senyum tipis terukir di bibirnya saat ia mengingat bagaimana Mrs. Beaver berulang kali memarahi Peter yang beberapa kali nyaris tertidur saat ia mengajarkan protokol tersebut.

"Apakah kau sudah selesai menyiapkan barangmu, Lue?" tanya Susan lalu menolehkan kepalanya, menghadap Lucy yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi terkejut di wajahnya.

"Aku tak akan pernah bisa mengagetkanmu, huh?" tanya Lucy seraya melipat tangan di dada. Susan tertawa kecil, membuat Lucy menggerutu pelan.

"Apa yang kau katakan, Lue?" tanya Susan seraya tersenyum jahil, memutuskan untuk berusaha, setidaknya, menghapuskan kekhawatiran yang sempat ia lihat sekilas di mata Lucy.

"Tidak, aku tidak mengatakan apapun," jawab Lucy cepat, segera memahami maksud Susan. 'Baiklah, Sue, aku akan berusaha untuk melupakan semuanya, untuk saat ini.'

Susan mengangkat sebelah alisnya. Ia tahu apa yang Lucy katakan, karena hal tersebut merupakan hal yang selalu dikeluhkan oleh ketiga saudaranya. Susan bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Lucy, "Kau tahu, bukan salahku jika Lady Narmeil tidak mengajarkannya pada kalian."

"Ya, ya, ya… aku tahu. Tapi tetap saja aku merasa itu tidak adil," ujar Lucy.

"Hei, kau dan Edmund yang terlebih dahulu menjadikan Lady Narmeil sebagai korban dari kejahilan kalian. Kurasa adil jika Lady Narmeil sangat berhati-hati jika berada di dekat kalian, terutama jika mengingat bagaimana kalian membuat salah satu Kapten dari Southern Patrol memiliki bulu yang berwarna hijau selama hampir seminggu."

"Kau tahu itu bukan salahku!" protes Lucy, "Aku hanya berada di dekat Edmund karena ia tiba-tiba memanggilku. Aku tidak tahu kalau ia yang sengaja menaruh ember yang berisi cairan hijau itu di atas pintu."

"Hmm… tapi kau ikut tertawa dengan Ed," jawaban Susan semakin membuat Lucy merengut. Melihat raut wajah Lucy yang semakin masam, Susan meraih bahu Lucy dan memeluknya singkat, "Baiklah, kita lupakan dahulu masalah itu, hm?"

Lucy hanya mendengus pelan.

"Kau sudah selesai menyiapkan barangmu, Lue?"

"Ya, semua sudah siap. Begitu juga dengan barangmu," jawab Lucy.

Susan tersenyum kecil, "Terima kasih, Lue."

"It's nothing…" ujar Lucy lalu menjatuhkan diri di kursi yang berada di sebelah Susan, "Kurasa kini yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai kita akan berangkat."

"Ya, Lue, hanya menunggu waktu," jawab Susan dengan nada sedikit menggoda.

Lucy mengerang, menutup wajahnya dengan telapak tangannya, "Kau tahu, kan, jika aku sangat membenci menunggu," keluhnya.

"Bagaimana jika…" Susan mengangkat tangan Lucy dan memandang adik perempuannya itu, "aku kembali mengajarimu bagaimana cara menggunakan busur dan panah yang baik?"

Perkataan Susan membuat Lucy tersenyum lebar, "Benarkah? Kau mau mengajariku lagi? Bisakah kita memulainya sekarang?"

Susan mengangguk singkat, tertawa melihat ketidaksabaran yang tergambar di wajah Lucy, "Tidak, Lue. Sekarang sudah terlalu gelap. Aku tidak ingin membahayakan siapapun dengan mengajarimu memanah saat ini."

Lucy mendengus, "Baiklah. Kalau begitu, bolehkahakubelajarmemanahdenganmenggunakanbusurdanpanahmu?" tanya Lucy dengan cepat.

"Apa?"

"Bolehkah aku belajar memanah dengan menggunakan busur dan panahmu?"

"Tidak, nona muda. Aku tahu kau bisa memanah, namun kau sudah sangat lama tidak mencobanya kembali. Aku akan meminta salah satu faun untuk membantuku membuat anak panah tumpul untukmu berlatih."

"Anak panah tumpul?" tanya Lucy tidak percaya, "Sue, aku bukan anak kecil lagi," rajuknya.

Susan hanya mengangkat sebelah alisnya.

"Baiklah… Tapi, bolehkah aku meminta Edmund untuk meletakkan apel di kepalanya sebagai sasaran?"

"Lucy!"


Translate :

Gohenam, mellon-nen. Awarthannech ú-anírannem : Forgive us, my friend. We did not mean to left you.

Ú-moe edaved, aran nín. Heniannem : There is nothing to forgive, my king. We understood.

Le hannon, mellon-nen : Thank you, my friend

Ci maer? : How are you?

Cuiam. Aran-nín : We are fine, my king.

Man le trasta? : What troubles you?

Berio i eryn. Tir or rain : Protect the woods. Keep watch over the borders.


So, this is it, the chapter 11. What do you think, guys? Please read and review :)